12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Misteri “Tapa Mentas” di Nusa Penida | Mitos atau Fakta?

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
June 23, 2021
in Opini
Misteri “Tapa Mentas” di Nusa Penida | Mitos atau Fakta?

Sungai menjadi arena “tapa mentas” di Nusa Penida. | Foto: I Ketut Serawan

Era 90-an ke bawah, momen hujan bagi anak-anak di kampung saya mengundang dua tafsir rasa yang kontradiktif yaitu kesenangan dan ketakutan. Kesenangan, karena anak-anak dapat bebas bermain hujan-hujanan. Ketakutan, karena hujan dijadikan momen oleh “tapa” (perwujudan naga) untuk melintasi sungai-sungai di Nusa Penida. “Tapa” ini sering meminta korban manusia (pengiring) sebagai pengikutnya. Konon, korbannya terhipnotis begitu saja lalu menceburkan diri ke sungai dan terseret arus deras bersama sang “tapa”.

Menurut almarhum Kakek Kamasan (kakek saya), “tapa” adalah seekor naga besar. Seluruh permukaan kulitnya dipenuhi dengan sisik berwarna kuning keemasan. Bahkan, gelung atau mahkotanya pun mengkilap berwarna keemasan.

Konon, “tapa” itu adalah manifestasi atau perwujudan seorang pertapa yang hendak naik kasta ke bangsa dewa. Sebelum sempurna “meraga” (berwujud) dewa, maka sang pertapa harus melewati proses panjang yakni bertapa di Puncak Bukit Mundi, puncak tertinggi di Nusa Penida.

Salah satu tahapan proses yang harus dilewati oleh sang pertapa adalah perubahan fisik. Ya, mungkin semacam metamorfosis fisik. Entah hitungan hari ke berapa, tubuh sang pertapa berubah menjadi seekor naga besar.

Selanjutnya, naga emas ini menunggu momen “mentas” (turun gunung/ bukit). Momen mentas ini tidak boleh sembarangan. Jika sembarangan, maka prosesi “mentas” dari sang “tapa” bisa jadi gagal total.

Dulu sekali, konon pernah ada kejadian “tapa” gagal “mentas”. Ketika “mentas” dari Puncak Bukit Mundi, di tengah perjalanan badan sang “tapa” dalam kondisi kandasan. Air sungai tidak cukup dalam dan kekuatan arusnya lemah. Hal ini membuat tubuh sang ”tapa” tersangkut di suatu tempat tertentu dan tidak berhasil mencapai lautan.

Prosesi “mentas” seperti itu dianggap gagal. Artinya, peluang sang pertapa untuk naik kasta ke bangsa dewa dipastikan gagal. Sia-sialah proses pertapaan yang dilakukan oleh sang pertapa selama berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bertahun-tahun di Puncak Bukit Mundi.

Karena itu, momen “mentas” oleh sang “tapa” harus betul-betul mempertimbangkan kondisi alam. Setidak-tidaknya, harus memperhatikan dua faktor penting yaitu kedalaman air sungai dan kekuatan arusnya. Tubuh naga yang besar harus dipastikan dapat terdorong atau terseret oleh arus air sungai. Tidak boleh ada benda-benda lain yang bisa menghambat laju tubuh naga itu.

Tubuh naga harus melaju melewati setiap lekuk sungai hingga mencapai titik terakhir yaitu laut. Ya, lautan! Atas pertimbangan ini, maka konon sang “tapa” lebih memilih “mentas” pada saat blabar agung (banjir besar). Bisa dibayangkan volume dan kekuatan air sungainya. Pasti dalam dan deras. Kondisi ini akan mempercepat dan memuluskan perjalanan sang “tapa” mencapai tujuan (baca: lautan).

Selain kelancaran prosesi “mentas”, konon sang “tapa” juga membutuhkan pengiring (pengikut) untuk mendampingi perjalanannya menuju lautan. Pengikut itu bisa hewan seperti sapi, babi, anjing dan termasuk manusia. Korban manusia inilah yang terdengar paling mengerikan, terutama di telinga anak-anak.

Karena itu, anak-anak tahun 90-an ke bawah sangat patuh dan tunduk dengan cerita sang “tapa” tersebut. Para orang tua melarang anak-anaknya bermain hujan-hujanan jika hujan turun dengan lebat. Apalagi hujan lebat itu turun seharian atau berhari-hari. Anak-anak harus tinggal di rumah. Tidak boleh bermain ke luar, apalagi sampai mendekati sungai. Terlebih lagi melintasi sungai. Tidak boleh!

Misteri Cerita “Tapa”

Cerita “tapa” melekat dan membentuk imaji yang begitu kuat di otak bawah sadar anak-anak. Hujan deras selalu menyimpan keraguan bagi anak-anak. Di satu sisi, ada keinginan kuat untuk keluar bermain hujan-hujanan. Di sisi lain, bayang-bayang “tapa mentas” setiap saat membangunkan memori ketakutan mereka.

Perang keraguan tersebut seolah-olah menjadi pertarungan batin bagi anak-anak. Bahkan, tanpa disadari sudah mendarah daging. Namun, bukan berarti riak-riak perlawanan itu nihil. Ketika saya SD kelas 5 (tahun 1991), riak perlawanan atau pengingkaran mulai muncul cukup kuat. Entah dari mana datangnya. Dalam hati, pokoknya saya kurang meyakini kejadian cerita itu sebagai realitas.

Mungkin karena selama masa kanak-kanak hingga saya SD, tidak pernah saya dengar lagi masyarakat mengalami seperti yang dituturkan oleh Kakek Kamasan. Faktor ini perlahan-lahan mengikis keyakinan saya terhadap cerita “tapa” itu. Sampai akhirnya, saya berkesimpulan bahwa cerita “tapa” itu hanya hayalan (fiksi) belaka.

Namun, belum “sempurna bulat” pengingkaran saya terhadap cerita “tapa” itu, kakak sepupu saya membobolnya dengan realitas. Sekitar tahun 1992, ia hampir menjadi pengiring sang “tapa”—kalau tidak diselamatkan oleh Nenek Semi (istri dari kakak kakek saya).

Kejadiannya kira-kira pukul 18.00 sore. Ketika menyeberangi Tukad Lanjang, persis di atas jembatan, kakak sepupu saya tiba-tiba berhenti. Ia setengah berteriak kepada Nenek Semi, ketika di depannya (sebelah barat) melintas seekor naga emas. Kakak sepupu saya yang masih remaja waktu itu, tiba-tiba hendak menceburkan diri ke sungai.

Dengan kekuatan penuh, kedua tangan Nenek Semi memegang kuat lengan kakak sepupu saya, lalu menyeretnya melewati jembatan tersebut. Sempat terjadi adegan tarik-menarik antara Nenek Semi dan kakak sepupu saya, dalam hitungan beberapa menit. Namun, adegan itu dimenangkan oleh Nenek Semi.

Entah kekuatan apa yang merasuki Nenek Semi. Padahal, secara umur, fisik dan tenaga Nenek Semi jauh di bawah kakak sepupu saya. Ajaibnya, Nenek Semi berhasil menarik dan menggiring kakak sepupu saya berjalan hingga selamat sampai ke rumah (dimel).

Sebetulnya, perjalanan mereka tidak mendapat restu dari keluarga di jumah desa. Keluarga jumah desa sudah melarang mereka pulang ke rumah (kamel, ke kubu), sebab hujan deras terjadi dari malam dini hari hingga keesokan harinya. Kemudian, hujan mereda menjelang sore harinya.

Karena dianggap sudah reda, kakak sepupu saya dan Nenek Semi nekad jalan kaki pulang ke rumah. Tindakan nekad ini hampir berujung maut pada kakak sepupu saya. Beruntung, Tuhan (melalui tangan Nenek Semi) berhasil menyelamatkan kakak sepupu saya dari tragedi maut itu.

Kejadian ini membuat gempar warga di kampung saya. Orang-orang pakrimik  (ngegosip) menceritakan kejadian itu secara estafet, dari satu mulut ke mulut yang lainnya, dari rumah ke rumah, dari ladang ke ladang hingga tempat pergumulan sosial. Aura cerita ini membuat anak-anak kembali pada ketakutan purba. Mereka meyakini eksistensi “tapa” itu nyata adanya. Tak ada celah penyangkalan.

Sebaliknya, para orang tua berusaha mencari celah penyangkalan atas kejadian tersebut. Andai saja kejadian itu dialami oleh anak-anak, mereka yakin cerita itu hanya bualan semata. Akan tetapi, kejadian ini dialami oleh seorang gadis dan seorang nenek. Dari sini, warga menjadi bimbang. Karena sangat kecil peluangnya seorang Nenek Semi (istri Jro Mangku) membuat cerita rekayasa.

Orang-orang di kampung saya menjadi tunduk. Beberapa yang hendak menyangkal, hanya bergumam dalam hati. Mereka biarkan pertanyaan-pertanyaan penyangkalannya mengendap dalam sanubarinya masing-masing. Sebagian lagi, membiarkan rasa keraguannya berhembus bersama angin esok yang terus bergerak. Hingga waktu meninggalkan cerita itu hampir 29 tahun lamanya.

Modernisasi kian menggerus kampung saya. Cerita “tapa” yang dialami kakak sepupu saya semakin tenggelam dari permukaan. Tak laku untuk diceritakan karena kalah jauh dengan cerita-cerita di dunia maya (medsos), yang setiap detik bisa berubah kisah.

Meskipun demikian, cerita “tapa” dari kakek saya dan kejadian yang dialami oleh kakak sepupu saya tetap saja menyimpan misteri hingga sekarang. Bahkan, misteri yang dikandungnya cukup unik. Ganda. Bukan hanya cerita tapa-nya, melainkan kejadian yang dialami kakak sepupu saya, juga menyimpan misteri yang menarik.

Aspek misterius inilah yang mungkin membuat mitos selalu menarik untuk diceritakan. Namun celakanya, seringkali masyarakat sekarang membenturkan mitos (cerita) dengan fakta. Pernah mendengar ungkapan “Mitos atau fakta?” Dalam konteks ini, mitos seolah-olah dianggap sebagai pecundang, tidak benar, bohong, tidak masuk akal (halu).

Padahal, sebagai sebuah karya sastra, mitos tidak lahir dari kekosongan sosial. Begitu juga dengan cerita “tapa”. Setidaknya, ia lahir dari denyut atau riuh sosial (masa lampau) yang pernah terjadi di Nusa Penida. Kemudian, riuh atau fakta-fakta sosial ini yang ditafsirkan dan diolah menjadi cerita (mitos) yang sarat pesan moral.

Saya menduga bahwa cerita “tapa” itu berkaitan dengan tragedi banjir besar yang memakan korban jiwa di NP. Bisa jadi (dulu) pernah ada kejadian orang NP terseret air sungai akibat banjir besar. Fakta ini sangat mungkin karena jembatan penyeberangan sungai zaman dulu tentu sangat sederhana, tidak secanggih sekarang.

Artinya, potensi orang hanyut atau diseret arus deras sungai sangat besar. Mengapa harus dikaitkan dengan hujan deras? Pertama, karena hujan deras menyebabkan volume air sungai menjadi bertambah tinggi. Kedua, sungai di NP termasuk sungai tadah hujan. Sungai akan terisi air apabila curah hujan cukup lebat. Kalau tidak, maka sungai menjadi kering kerontang.

Mengapa “tapa” disimbolkan dengan naga? Mungkin karena lekuk fisik sungai memang menyerupai ular. Panjang berkelok-kelok. Jika dilihat dari kejauhan, bentuk air sungai tak ubahnya seperti ular raksasa.

Pesan Moral Cerita “Tapa”

Lalu, pesan moral apa yang hendak disampaikan dalam cerita “tapa” itu? Pesan moral yang dikandungnya cukup jelas. Kejelasan pesan ini tampak dari sosok “tapa” itu sendiri. Dilihat dari esensi katanya, “tapa” merupakan bentuk dasar dari metapa (bertapa). “Tapa” bermakna kurang lebih menahan hawa nafsu/ keinginan.  

Lewat esensi tokoh “tapa”, cerita ini ingin mengedukasi masyarakat agar bertapa tatkala hujan deras. Maksudnya, masyarakat diharapkan menunda keingingan bepergian jika hujan turun deras, apalagi sampai menimbulkan banjir besar.

Pesan tersebut sangat rasional, karena hujan deras (banjir besar) sangat berbahaya bagi makhluk hidup seperti hewan dan termasuk manusia. Titik paling berbahaya ketika banjir besar tentu areal sungai. Sungai merupakan tempat berkumpulnya air hujan. Jika dalam kondisi begini, manusia tetap ingin menyeberangi, risiko diseret air sungai sangat besar.

Dari cerita “tapa” ini juga tersimpan pesan agar manusia dapat menjalin harmonisasi dengan alam. Manusia diharapkan menghargai proses kerja alam. Alam memiliki waktu dan cara tersendiri dalam menjaga keseimbangannya. Ketika daratan dipenuhi dengan air hujan, alam memiliki cara yakni mengirim debit air hujan ke laut melalui sungai. Cara kerja alam ini harus dihargai oleh manusia, dengan cara tidak bepergian melintasi sungai.

Selain itu, cerita “tapa” juga mengandung unsur alarm (peringatan) kepada generasi berikutnya bahwa pernah terjadi korban banjir ketika hujan lebat. Tragedi ini jangan sampai terulang lagi pada hari-hari mendatang. Kalau tidak nihil, minimal korban dapat diminalisasikan. Karena itu, sebaiknya batalkan rencana keinginan bepergian ketika hujan lebat (apalagi berefek banjir besar).

Jadi, cerita “tapa” merupakan tonggak peringatan bahaya dan sekaligus sebagai bel kewaspadaan. Dari cerita ini, masyarakat hendak disadarkan agar selalu eling terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh hujan lebat. Kewaspadaan adalah kunci penting agar selamat dari marabahaya banjir. Dan yang paling penting lagi yakni meredam ego bepergian dengan cara bertapa, menunda rencana bepergian ketika hujan lebat turun berhari-hari.

Karena itu, kepatuhan anak-anak tidak melampiaskan ego bermain hujan-hujanan ketika hujan lebat juga merupakan bentuk tapa. Tapa agar terhindar dari marabahaya. Biarkan hujan lebat menjadi pelampiasan abadi bagi sang “tapa” melintasi sungai sendirian, tanpa pengikut. Karena “tapa” sesungguhnya air sungai itu sendiri. [T]

___

BACA artikel lain tentang Nusa Penida dari penulis Ketut Serawan

Tags: balilingkunganmisterimitosNusa Penida
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gunung Argo Lasem dan Daun Pisang yang Bergerak Sendiri

Next Post

Komang Ego | Kabur dari SD, Mengemis, Jual Gelang, Sekolah Lagi, Juara Olimpiade

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Komang Ego | Kabur dari SD, Mengemis, Jual Gelang, Sekolah Lagi, Juara Olimpiade

Komang Ego | Kabur dari SD, Mengemis, Jual Gelang, Sekolah Lagi, Juara Olimpiade

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co