15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komang Ego | Kabur dari SD, Mengemis, Jual Gelang, Sekolah Lagi, Juara Olimpiade

Nyoman Nadiana by Nyoman Nadiana
June 23, 2021
in Khas
Komang Ego | Kabur dari SD, Mengemis, Jual Gelang, Sekolah Lagi, Juara Olimpiade

Komang Ego

Usianya sekira 7 tahun saat itu. Baru sebulan masuk SD, ia tiba-tiba kabur dari sekolah. Tanpa pulang ke rumah, ia langsung naik angkutan umum bersama empat temannya. Sempat singgah di Amlapura, lalu jenak di Klungkung. Di situ ia, bersama temannya, memulai pekerjaan baru; jadi gelandangan dan pengemis alias gepeng, dan tidur di sembarang tempat.

Dari Klungkung ia kemudian berpindah-pindah kota. Hingga seluruh kota di Bali (kecuali Negara) pernah ia jadikan tempat untuk mengemis. Sampai akhirnya ia mengadukan nasib kanak-kanaknya di wilayah Kuta. Dari Kuta, nasibnya kemudian berubah. Berubah, terus berubah.

Anak itu bernama I Komang Ego. Kini usianya sudah 21 tahun. Selama 21 tahun itu, ia mengalami lika-liku kehidupan yang mungkin tak banyak dialami anak-anak lain di desa lainnya.

Ia lahir Desa Tianyar Tengah, Pedahan Kelod, Karangasem. Tepatnya di Dusun Padang Sari. Kenal daerah itu? Desa ini berbatasan langsung dengan Desa Trunyan di Kintamani, Bangli. Memang sebagian wilayah Tianyar, Kecamatan Kubu, Karangasem, berbatasan langsung dengan wilayah Kintamani seperti Desa Trunyan dan Desa Songan.

Jadi, dengan menyebut nama-nama desa itu, bisa dibayangkan di titik mana Dusun Padang Sari itu berada.

***

Pada Minggu yang cerah, 20 Juni 2021, saya berkunjung ke rumah Komang Ego, di kampungnya di atas bebukitan itu. Saat menuju rumahnya, dari Jalan Raya Singaraja-Amlapura, saya melewati jalan hotmik. Saya pikir jalan semulus itu akan berujung di rumah Komang Ego, tapi tidak. Saya harus melewati jalan tanah terlebih dulu, berliku, dan kecil, dan tentu saja harus melewati tanjakan dan turunan.

Tiba di rumah Komang Ego, selain bertemu lelaki muda itu, saya juga bertemu sepasang suami istri, I Jero Budi dan Ni Jero Budi, sedang membuat gula lontar. Itu adalah orang tua Komang Ego. Pembuatan gula lontar masih menggunakan cara-cara tradisional khas petani gula dari Pedahan. Gula itu dibungkus kroso (anyaman daun lontar), hingga gula jadi padat dan langsung dipasarkan bersama pembungkus kroso. [Bagian gula kroso ini akan saya ceritakan nanti pada tulisan lain.]

Ibu Komang Ego membuat gula lontar

Ego anak ketiga dari enam bersaudara. Sejak lahir, sebagaimana juga warga yang lain, ia mengandalkan hidup dari air tadah hujan. Kehidupan yang tentu saja berbeda dengan banyak desa lain di Bali. Kemiskinan membuat liku-liku hidupnya penuh warna.

Untuk mengubah nasib, ia disekolahkan oleh orang tuanya. Apalagi, semua anggota keluarganya buta huruf, sehingga Komang Ego adalah andalan satu-satunya untuk bisa sekolah dan kelak mendapatkan pekerjaan yang layak.

Tapi, baru sebulan di sekolah, ia kabur untuk bertualang keliling Bali. Petualangan itu adalah awal dari liku-liku hidupnya yang penuh warna, suka-duka, pahit-manis.  

Petualangan menjadi gepeng ia jalani satu setengah tahun. Tidur di emper toko, diciduk Satpol PP, sudah biasa ia jalani. Sampai akhirnya, salah satu bibinya mengajak ia untuk menetap di Kuta, Badung. Jalanan masih saja menjadi tempat utama Komang Ego. Ia diajak bibinya jualan buah potong berkelilling di jalan dan pantai.

Berhenti jualan buah potong, Komang kecil menjual gelang souvenir untuk ditawarkan pada wisatawan. Semacam pedagang acung. Beberapa kali ia ditangkap petugas karena tak punya ijin berjualan. Ia sebenarnya tak kuat hidup semacam itu, tapi mau apa lagi.

Bertemu Turis Baik

Di tengah rasa putus asa, ia bertemu seorang warga Negara Hongkong, nama panggilannya Toni. Toni  yang biasa bolak -balik bali dan berlibur di Pantai Kuta .

Warga Hongkong itu meminta Komang sekolah lagi. Komang pun menurut. Komang pun melanjutkan sekolahnya di SD Prashanti Nilayam Kuta sambil terus berjualan sepulang sekolah. Biaya sekolah dibantu warga Hongkong itu.

Tapi kegetiran kembali hinggap dalam hidupnya. Ketika hendak naik ke kelas lima, ia kehilangan kontak dengan Toni, warga Hongkong yang membantu biaya sekolahnya. Ia bingung, apakah melanjutkan ke kelas lima atau putus sekolah lagi.  

Akhirnya ia bertekad untuk tetap sekolah, bagaimana pun caranya. Timbullah ide membuat gelang sendiri dan menjualnya. Jika dulu ia mengambil gelang di tempat lain, lalu dijual, kini dia membikin gelang sendiri agar hasilnya bisa lebih banyak untuk biaya sekolah. Dengan tekad yang besar, ia akhirnya tamat SD.

Komang Ego (berdiri)

Tamat SD, tiba akhirnya ia pulang kampung, hidup kembali bersama ayah-ibu, dan tentu saja untuk melanjutkan ke SMP. Di kampungnya, ia sekolah di SMPN Satap (Satu Atap) Tianyar Tengah. Di SMP ini ia mulai menunjukkan kecerdasannya. Mungkin kecerdasannya terpupuk oleh pengalaman hidup yang begitu keras, sehingga beberapa kali ia menjadi juara dalam ajang OSN (Olimpiade Sains Nasional), kini disebut KSN (Kompetisi Sains Nasional), terutama di bidang ekonomi dan akuntansi.

Ketika kelas 7 SMP  tahun 2014, ia sukses ikut OSN IPS di Palu Sulteng dan di kelas 8 ia ikut OSN di Palembang, Sumsel. Atas prestasinya itu, Komang Ego diterima melanjutkan pendidikan ke SMA Bali Mandara tahun 2017 Jurusan IPS dengan biaya sepenuhnya ditanggung pemerintah. Usianya tentu lebih tua dari teman-teman sekolahnya, karena hidupnya banyak dihabiskan di jalanan.

Prestasi Berlanjut

Prestasinya di SMA Bali Mandara berlanjut. Ia berhasil mengikuti beberapa lomba   ekonomi tingkat nasional  di UGM  dan  ikut OSN Ekonomi di Manado. Wajahnya sempat terpampang di sebuah surat kabar lokal sebagai “peraih juara 1 lomba cerdas cermat bergengsi bidang ekonomi”.

Ia tamat SMA Bali Mandara tahun 2020, lalu diterima melalui program bidikmisi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana. Ia pun mulai kuliah, tapi perjuangan hidupnya yang penuh tantangan ternyata belum berhenti.

Pada saat pandemi, masa pengenalan kampus dan kuliah dilakukan secara daring. Nah, masalah baru pun muncul. Di desanya yang terpencil dan berbukit itu amat susah mendapatkan sinyal internet sehingga program pengenalan kampus tak bisa diikuti dengan lancar.

Ayah Komang Ego memelihara sapi

Untuk mendapatkan sinyal internet, ia harus membangun semacam kubu beratap klangsah di sebuah tempat yang sinyal internetnya cukup kuat. Tapi upaya itu tetap tak berjalan lancar karena sinyal di tempat itu tetap saja terputus-putus.

Ia hampir putus asa dan hampir memutuskan untuk tak jadi kuliah. Untung ia bertemu guru SMA-nya di Bali Mandara. Ia diberi kekuatan untuk tetap kuliah. Seorang teman kemudian memberinya sejumlah bantuan perangkat agar tugas-tugas kuliahnya bisa diselesaikan dengan mulus.

Dan syukurnya, hingga kini ia tetap bisa kuliah dari rumah, dan tetap bisa membantu pekerjaan keluarga.

“Anak-anak di sini (di Pedahan dan sekitarnya) tidak sekolah karena dipaksa oleh keadaan, bukan ingin!” kata Komang Ego seakan memberi kesimpulan dari seluruh cerita tentang dirinya. [T][Editor: Adnyana Ole]

Tags: gelandangan dan pengemiskarangasemkemiskinanPendidikanSMAN Bali Mandara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Misteri “Tapa Mentas” di Nusa Penida | Mitos atau Fakta?

Next Post

“My Document”, Alejandro Zambra | Bagaimana Cara Menceritakan Kisah-kisah Kecil?

Nyoman Nadiana

Nyoman Nadiana

Anak dari pelosok utara Bali. Suka ke semua penjuru arah mata angin menemukenali semua hal tentang hidup dan kehidupan lewat cerita-cerita

Related Posts

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

Read moreDetails

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

Read moreDetails

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
0
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

Read moreDetails

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails
Next Post
“My Document”, Alejandro Zambra | Bagaimana Cara Menceritakan Kisah-kisah Kecil?

“My Document”, Alejandro Zambra | Bagaimana Cara Menceritakan Kisah-kisah Kecil?

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co