1 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“My Document”, Alejandro Zambra | Bagaimana Cara Menceritakan Kisah-kisah Kecil?

Komang Adnyana by Komang Adnyana
June 24, 2021
in Ulasan
“My Document”, Alejandro Zambra | Bagaimana Cara Menceritakan Kisah-kisah Kecil?

Buku “My Document”, Alejandro Zambra | Amazon.com

Mari sedikit berhahahihi. Itu pun kalau bisa membuat hahahihi. Melucu bukan bakat saya, memang. Tapi baiklah, kita mulai saja.

Jadi begini. Ketika awal pandemi tahun lalu, banyak orang seperti punya hobi pengalihan baru untuk membunuh entah itu rasa bosan, rasa cemas, rasa gundah, dan rasa-rasa lainnya. Bonsai salah satunya. Saya termasuk orang yang kepincut dengan tanaman yang dikerdilkan ini. Bukan bonsai mewah tentunya. Bonsai kelapa (bonkla), yang sederhana dan bibitnya mudah didapatkan.

Saya ingat itu bulan Maret. Sebutir kelapa gading sisa daksina teronggok di salah satu sudut rumah. Pelepah daunnya sudah empat, cukup terlambat sebenarnya untuk menjadikannya bonsai. Akarnya sudah mencuat menerobos serabutnya dan begitu diangkat, ada aroma tanah basah yang menguar menembus hidung. Sekaligus aroma rayap yang bersarang di sana-sini.

Tapi karena saking ngebetnya ingin punya bonsai kelapa buatan sendiri, pelan-pelan saya bersihkan kelapa itu. Dari batoknya yang masih tersisa bekas-bekas serabutnya, memotong pelepah yang tua, hingga melakukan sayatan-sayatan di bagian pelepah yang satu dengan yang lain. Agar tunas yang tumbuh berikutnya bisa mengembang, dan agak menjuntai ke samping serupa bonsai pada umumnya. Sebuah pot kecil saya siapkan. Dan terwujudlah bonsai itu, yang meski masih harus menunggu waktu beberapa lama untuk memastikan pertumbuhannya.

Lalu saya ingat Alejandro Zambra, dengan novel pendeknya Bonsai. Beberapa kali saya mencoba memesannya secara online, namun stoknya kosong. Beruntung juga. Membeli buku pada masa pandemi jadi urutan kesekian setelah daftar kebutuhan utama. Saya coba-coba googling (tanpa bermaksud melegalkannya), mencoba mencari file pdf-nya. Ternyata nihil. Yang ada hanya berupa versi aslinya dalam bahasa Spanyol, bukan yang terjemahan ke Inggris. (Ketahuan sudah kalau sering memanfaatkan pencarian pdf di google, tapi tolong, demi gerakan literasi yang sesungguhnya, belilah aslinya, hargai jerih payah penulis dan penerbitnya).

Entah karena niat yang menggebu-gebu ketika itu, saya bahkan menyiapkan rencana untuk membuat esai kecil tentang bonsai ini. Judulnya pun sudah ada. Alejandro Zambra dan Bonkla Pertama Saya. Begitulah kira-kira judulnya nanti. Lalu saya akan memperlihatkan potret bonsai pertama saya itu, dengan pelepah menjuntai yang sudah mengalami pecah daun, hijau dan subur, dan akar coklatnya yang kemerahan terekspos di atas media tanam, bersanding dengan novel Bonsai Alejandro Zambra.

Sungguh, ini bukan sinisme, sindiran atau semacamnya, hanya menertawai kekonyolan diri sendiri. Percayalah, sesederhana-sederhananya manusia, naluri narsisistiknya kadang muncul juga. Serupa kanak-kanak yang tidak sabaran. Pada ending tulisan itu saya akan akhiri dengan kesimpulan: beginilah kira-kira kalau saya memaksakan menulis dua hal yang sejatinya tidak ada hubungannya sama sekali. Menyiksa si penulis sendiri sekaligus si pembaca bukan?  

Lalu apa hubungannya dengan My Document? Kumpulan cerpen pertama Zambra ini ternyata didapat lebih dulu. Dan akhirnya dibaca lebih dulu. Kumcer ini menjadi buku keempat Zambra yang diterjemahkan ke bahasa Inggris pada 2015. Begitulah barangkali, dunia penerbitan, kalau sudah buku-buku sebelumnya diterjemahkan menjadi milik internasional, buku-buku berikutnya seolah tinggal menunggu waktu saja. Tapi tunggu dulu. Jangan berprasangka dulu.  

Seperti judulnya, My Document ibarat membuka folder bernama kenangan dalam sebuah komputer. Disana berderet beberapa judul serupa catatan harian yang menawarkan berbagai cerita. Kelihatannya datar, ringan, dan nyaris tanpa gejolak. Nyaris tanpa ledakan dan gaya berceritanya pun biasa-biasa saja. Kisahnya tak jauh-jauh dari kehidupan anak kecil, remaja dengan musik-musik 80-an, teman sekolah, sepakbola, pemuda dan percintaanya, suami istri berpisah, penulis serta cara pandangnya menghadapi kehidupan sehari-hari dan situasinya ketika itu.

Barangkali entah karena terpesona kepada pujian-pujian terhadap Bonsai, begitu juga dua novelnya yang lain, The Private Lives of Trees dan Ways of Going Home, saya melanjutkan membacanya, dari yang awalnya merasa bosan dan jemu. Dan benar saja, bercerita itu ternyata tak melulu soal gaya. Tak melulu harus penuh konflik yang pelik. Apakah persepsi saya sendiri yang sebenarnya sudah tak obyektif karena terditraksi oleh si Bonsai dan naluri narsisistik?

Cerpen-cerpen dalam kumcer ini memang awalnya terkesan datar. Namun menulis cerita yang terkesan ringan untuk menangkap suasana zaman dan masa yang tidak ringan ketika itu, barangkali juga perlu teknik khusus. Bagaimana caranya menceritakan kisah-kisah kecil macam cara menilai pribadi ayah, ibu, nenek dan juga anggota keluarga lain ketika bersentuhan dengan religiusitas agama (My Document), seorang teman masa kecil yang mengajarkan beberapa hal kocak dan nyeleneh termasuk menonton sepakbola, membandingkan Alexis Sanchez lebih baik dari Lionel Messi (Camilo), alienasi masa muda dengan pencarian jati diri dan relasi sosialnya (Long Distance), dengan tanpa konflik atau ketegangan yang berapi-api tapi tetap menarik?

Bagaimana kemudian cerita-cerita yang datar dan ditulis dengan nuansa agak bercanda itu menjadi solid meski kita beranggapan seolah tidak ada daya ungkap yang membuat masalahnya jadi terkesan urgen di dalamnya?

Menyampaikan yang berat dengan menyatukannya dalam keringanan. Barangkali itulah kelebihan Zambra dengan cerita-ceritanya. Dia benar-benar menangkap momen-momen dari sudut pandang orang yang seolah-olah sedang membuka memorinya, nyaris menyerupai gaya bercerita otobiografis, yang dekat dan akrab. Di saat bersamaan berbaur juga kreasi dan invensi-invensi yang sulit dibedakan dengan kenangan nyata yang sesungguhnya. Jarak inilah yang sekaligus menjadi keunikan tersendiri karena di satu sisi cerita-cerita ini seolah dekat, tapi di sisi lain bisa disadari bahwa apa yang dituliskannya bukan semata-mata sebuah upaya seseorang membongkar dokumen kenangannya yang tersimpan rapi dalam memori komputernya.

Kalau ada konflik-konflik zaman dan nuansa politik penguasa diktator yang tersirat di dalamnya, setelah atau selama era Pinochet, Zambra bermain dari sisi dampak personalnya melalui karakter-karakter tokohnya, yang bervariasi dari rentang usia, dan dalam skala kehidupan serta profesi mereka masing-masing, tanpa memaksakannya seperti sebuah tempelan atau gugatan belaka. Dia seperti meneropong kejadian yang telah berlalu lama, namun mendekatkannya dengan mengembalikannya lewat memutar ulang memori itu. Sesungguhnya dia perekam yang sangat ulung sekaligus pemutar yang terampil.

Salah satu cerpen favorit saya dari kumcer ini, True or False misalnya. Yang dibicarakannya pada intinya soal kesendirian. Pasca memutuskan berpisah, mantan sepasang suami istri harus mengasuh anaknya secara bergiliran. Si anak harus pindah dari rumah si ibu ke rumah si bapak secara bergantian. Dan ceritanya justru beranjak dari seekor kucing yang beranak, yang kemudian ujung-ujungnya jadi rebutan juga. Dialog-dialognya sangat apa adanya namun kuat. Kocak. Sesekali membuat tersipu sekaligus ironik.

Topik perpisahan yang sama tersaji dalam Memories of a Personal Computer. Benar saja, ceritanya memang dimulai dari sejarah kepemilikan komputer si karakter utama. Setelah beberapa halaman berkutat dengan komputer, awal-awal masa kemunculannya pada 2000-an, lengkap dengan internet yang mulai berkembang, hubungannya dengan seorang gadis, ternyata bukan disitu letak persoalan yang diceritakan. Zambra mengungkap kealfaan akan sebuah hubungan dengan cara penulisan yang memang menunjukkan kealfaan itu sendiri.

Caranya sederhana saja dan dimaklum-maklumkan saja. Setelah nyaris dalam delapan halaman tak sedikit pun disinggung, si tokoh kecil ini tiba-tiba dimunculkan di saat tokoh utama Max dan Claudia membuat akun profil baru di komputernya.

Deskripsinya kurang lebih cukup begini: …dan bahkan akun simbolis ketiga, atas permintaan Claudia, untuk Sebastian, putra Max. Iya, ini sungguhan, seharusnya dia muncul lebih awal – bahkan ini sudah berlalu lebih dari dua ribu kata baru dia muncul – tapi memang, Max seringkali lupa dengan keberadaan anak ini: dalam beberapa tahun ini dia hanya menemuinya sekali, itu pun hanya selama dua hari. Kurang datar apa coba?Sementara buat para penyuka satire sekaligus tragik komedi, dua cerpen terakhir boleh jadi pilihan, Family Life dan Artist’s Rendition.

Lantas bagaimana nasib bonsai kelapa saya dan Bonsai-nya Zambra kemudian?

Saya tetap belum membaca novel pendek yang katanya bagus ini dan cikal bakal masuknya Zambra dalam peta sastra Chili, bahkan dunia. Sementara untuk bonsai kelapa pertama saya, setelah sekitar sembilan bulan, tanpa sempat mengalami pecah daun, berakhir juga dengan menjadi penghuni tegalan bersama sampah lainnya. Tunasnya awalnya layu, kekuningan, lalu berubah merah, mengering, diikuti daun-daun pada pelepah lainnya, yang juga mengering, kecoklatan.

Akarnya mengisut, kering, meski sudah saya coba siram-siram dan semprot-semprot, tetap tak berhasil. Berikutnya sebelum seluruh daun dan pelepah-pelepahnya kering kerontang, pokok batangnya yang harusnya menempel ke ujung batok kelapa tempat awal tunas kecil itu tumbuh, juga terlepas. Potel. Pokok pohon dan batok kelapanya terpisah, dan tidak bisa diselamatkan lagi. Akar-akarnya pun tak berdaya, makin mengisut, mengisut hingga benar-benar kehilangan daya hidup. Lalu mati.

Barangkali bonsai ini mengerti, pemiliknya masih teramat sangat narsisistik. Jadi dia memilih mengorbankan dirinya demi menyadarkan si pemilik. Amboi, sungguh pengandaian yang baperan kata anak sekarang. Tapi bisa jadi sungguhan. Lihat saja ulasan My Document-nya sendiri hanya sembilan paragraf. Apa yang hendak saya ceritakan sebenarnya? Ketergesa-gesaan? Hahahihi? [T]

Tags: Alejandro ZambrabonsaiBukuceritaCerpenresensi bukusastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Komang Ego | Kabur dari SD, Mengemis, Jual Gelang, Sekolah Lagi, Juara Olimpiade

Next Post

Hidup Made Parti untuk Ikan Hias | Menyelam di Laut Desa Les, Menyelam di Wakatobi

Komang Adnyana

Komang Adnyana

Penikmat cerita, yang belajar lagi menulis cerita.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Hidup Made Parti untuk Ikan Hias | Menyelam di Laut Desa Les, Menyelam di Wakatobi

Hidup Made Parti untuk Ikan Hias | Menyelam di Laut Desa Les, Menyelam di Wakatobi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia
Bahasa

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

by I Made Sudiana
April 29, 2026
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025
Budaya

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles
Esai

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak
Pop

“Sing Nyidang Ngomong”, Saat Mr. Rayen Bicara tentang Luka Rumah Tangga dari Sudut Pandang Anak

PADA banyak lagu tentang perselingkuhan, yang kita dengar biasanya hanya dua suara, mereka yang terlibat, mereka yang saling menyakiti. Jarang...

by Angga Wijaya
April 29, 2026
Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro
Panggung

Diseminasi dan Penayangan Perdana Film Dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”: Menelusuri Laku Kesenian Bali melalui Sosok Maestro

CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film...

by Dede Putra Wiguna
April 29, 2026
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026
Khas

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co