13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ke Trunyan Kami Mendaki: Melepaskan Beban, Mengeratkan Hubungan

Jaswanto by Jaswanto
January 4, 2024
in Tualang
Ke Trunyan Kami Mendaki: Melepaskan Beban, Mengeratkan Hubungan

Jaswanto dan Tasya berpose di atas Bukit Trunyan | Foto: Dok. Jaswanto

KATA WEINER, seperti yang sering saya kutip, “tempat-tempat tertentu bagaikan keluarga”. Tempat-tempat itu terus menerus membuat kita merasa terganggu, terutama pada hari-hari libur. Kita kembali lagi karena kita tahu, di lubuk hati kita, bahwa takdir kita saling terkait. Dan bagi saya, tempat itu adalah gunung—barangkali juga hutan yang rindang yang belum banyak dijamah manusia.

Tetapi sebenarnya saya membencinya meski juga sangat mencintainya. Tidak secara bergantian, tapi secara bersamaan. Saya membencinya sebab tidak selamanya bisa mengunjungginya. Dan saya mencintainya sebab setiapkali mendakinya saya merasa bahagia.

Saya sadar, bahwa kehidupan di kota sangat berbeda dengan kehidupan di gunung—atau di hutan, di desa, di tempat mana pun yang jauh dari kota. Keduanya adalah dunia yang terpisah, seperti dua planet yang berbeda—bahkan dua galaksi yang berbeda.

Kehidupan di kota bagaikan angin topan. Kekuatan mahadahsyat, yang mengisap saya masuk ke pusarannya dan memutar saya dengan amat cepat hingga saya merasa waktu seakan berjalan lebih cepat dari napas manusia.

Di kota, selalu ada orang di sekeliling saya yang tak bisa saya hindari. Ingar-bingar lalu lintas, proyek-proyek pembangunan, orang bertengkar dengan keluarga sendiri karena masalah uang, kesetiaan, dan patah hati. Dan semuanya. Waktu rasanya tak pernah cukup.

Jaswanto dan Tasya berpose di atas Bukit Trunyan / Foto: Dok. Jaswanto

Saya memang tidak menyalahkan masyarakat yang berbudaya nyaman. Namun, saya tetap merasa ada sesuatu yang tidak benar, sesuatu yang hilang. Dengan memandang sekeliling saya mendapat kesan bahwa orang lain juga merasakan hal yang sama.

Tentu saja tidak semua buruk. Kota menawarkan kenyamanan dan kemewahan: air panas yang tak ada habisnya, toko swalayan dengan begitu banyak pilihan barang, listrik, telpon, internet, jaminan kesehatan, dan banyak lagi.

Meski begitu, di saat-saat tertentu, saya merindukan kehidupan di atas gunung atau di dalam hutan—keheningan dan kedamaiannya. Juga ini, setiap kali saya mendaki gunung, dalam hati timbul sensasi kebebasan yang menyenangkan, bahwa hidup begitu ringkas, hanya seukuran ransel yang saya sandang di pundak. Saya merasa akan selamat dan tak akan menderita hanya dengan mengandalkan hidup saya pada satu ransel yang melekat di tubuh saya.

Namun, sudah sekian lama saya melupakan gunung—sebagaimana Mumu Aloha juga menuliskannya dalam “Ke Pantai, Ke Pantai, Aku Kembali….” (2018). Masa muda dengan flanel hijau kotak-kotak, kompor parafin, dan aroma pucuk-pucuk edelweis yang mekar di pagi hari, mengharumkan embun dan batu-batu yang basah menghampar di jalan setapak menjelang puncak.

Gunung. Rasanya sudah lama sekali. Kibaran syal di leher, dan lagu-lagu slow rock. Malam yang panjang. Langkah yang seolah tak berujung. “Usia telah mendamparkanku pada tahun-tahun yang kehilangan rindu. Entah, suatu saat mungkin aku akan kembali,” kata Mumu.

Tapi, seperti Mumu, saya tidak yakin. Yang tersisa kini hanya ingatan samar pada bintang-bintang yang begitu rendah di atas kepala, dan bayangan pohon-pohon menghitam bagaikan raksasa yang kedinginan dalam kegelapan. Dan ingatan itu melempar saya pada bulan Mei 2022, saat saya bersama Tasya (calon istri saya) dan beberapa teman Tasya, mendaki Bukit Trunyan yang terletak di Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, itu.

***

Pada pendakian kali ini, untuk pertama kalinya, saya tidak mengajak teman-teman dekat saya—yang sering saya sebut dalam beberapa tulisan—seperti Dziky, Aan, atau Rahman. Saya tak mengajak mereka bukan karena faktor kesengajaan, tapi karena memang tidak mungkin. Waktu itu Dziky sudah sibuk menjadi wartawan di kota kelahirannya, dan Rahman tentu karena ia tinggal jauh di Solo sana. Sedangkan Aan… dia sudah meninggalkan kami semua beberapa tahun yang lalu karena sebuah insiden kecelakaan lalu lintas.

Oleh karena itu, dalam lubuk hati yang paling dalam, sebenarnya saya merasakan ada yang kurang—walaupun rasa itu tidak lebih dominan daripada rasa bahagia sebab akhirnya saya bisa mendaki bersama orang yang saya cintai.

Awalnya saya sempat ragu saat Tasya mengatakan akan mendaki bersama teman-temannya—yang beberapa orang tak punya pengalaman dan pengetahuan apa-apa soal pendakian. Keraguan saya muncul karena saya teringat pengalaman saat mendaki ke Gunung Batukaru di Tabanan. Saat itu, bersama beberapa teman yang, katakanlah, amatir, saya merasa kerepotan mengurusi mereka. Lain kali saya ceritakan.

Tapi waktu itu saya berpikir ini bukan ke Batukaru. Ini hanya ke Bukit Trunyan, yang tingginya hanya 1.834 mdpl, sedikit lebih tinggi dari Gunung Batur yang hanya 1.717 mdpl. Maka, jadilah saya ikut. Selain karena belum pernah dan sedang suntuk karena tugas akhir kuliah (tahun itu saya sedang berjuang menyelesaikan skripsi), juga tidak berani menolak ajakan Tasya—atau lebih tepatnya untuk menghindari pertengkaran yang bisa jadi menyebabkan hal-hal yang lebih buruk daripada mendaki bersama para pemula.

Gunung Batur dan Danau Batur difoto dari Bukit Trunyan / Foto: Jaswanto

Tak mengada-ada memang, beberapa teman Tasya yang ikut mendaki waktu itu, sama sekali tak punya pengalaman atau pengetahuan apa-apa soal pendakian. Mereka ikut dan ingin mendaki karena mungkin aktivitas ini, beberapa tahun belakangan, sedang tren di kalangan anak muda.

Sejak misalnya—untuk menyebut beberapa nama—seperti Fiersa Besari, Wira Negara, atau Zawin Nur, dan maraknya akun pendakian di media sosial yang menampilkan keindahan pemandangan di atas gunung, menggerakkan anak-anak muda labil itu untuk, seperti yang sering mereka umbar, “menaklukkan gunung-gunung itu!”

Ah, “menaklukkan”?

Gunung, sebagaimana bumi dengan segala isinya, adalah bagian dari semesta alam. Sumber dari kehidupan, kearifan. Juga, semestinya, mereka menjadi sahabat manusia. Ya, semestinya. Di situ saya melihat ironi. Bagaimana kita bisa bersahabat kalau dalam persoalan bahasa saja kesan yang kerap timbul justru alam adalah subordinat manusia?

Frasa-frasa seperti yang diucapkan oleh banyak orang, seperti “menaklukkan gunung”, atau berbagai variannya adalah bagian dari keseharian diksi kita. Baik secara verbal maupun tulisan.

Padahal, jika ditanya, “apa sebenarnya yang kita taklukkan?” Toh gunung-gunung tak lantas berkurang seinci pun ketinggiannya hanya karena ada ribuan orang menjejakkan kaki di puncak-puncak mereka. Gunung telah ada di sana ribuan tahun dan akan tetap di sana selamanya—mungkin sampai malaikat meniup sangkakalanya.

Sementara orang-orang tadi, sang “penakluk”, atau bahkan kita semua, bakal menua, sakit-sakitan, sebelum kemudian berakhir eksistensinya. Dan, ingat! Sebaliknya, hanya sekali letusan gunung, segala yang ada di bawahnya bakal lenyap saat itu juga. Sebagaimana Titanic yang dibikin katanya kebal terhadap berbagai kemungkinan masalah tumbang di pelayaran pertama karena gumpalan es di bawah laut.

Ya. Saya punya keyakinan, barangkali, tanpa kita sadari, beragam diksi yang terkesan merendahkan seperti itu dapat mempengaruhi sikap kita terhadap alam. Kita menjadi begitu abai, tak ambil pusing terhadap perusakan alam. Yang dilakukan oleh negara, korporasi, maupun individu.

Jaswanto berpose di atas Bukit Trunyan / Foto: Tasya

“Kesombongan” berbahasa, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang, sedikit banyak, menjadi bagian dari sikap umum yang menganggap gunung, laut, atau hutan seolah hanya halaman depan atau belakang rumah yang suatu saat bisa kita taklukkan, bisa kita tundukkan sesuka hati.

Padahal, saya rasa tak kurang orang-orang yang memberikan contoh penghormatan kepada alam lewat bahasa. Lewat khazanah seni dan sastra tanah air. Atau lewat untaian lirik, puisi, dan narasi juga berkelimpahan.

Mulai Chairil Anwar yang mengatakan “Beta Pattiradjawane, hutan pala, serta apa di pantai”; Ebiet G Ade tak mau kalah, yang mengajak kita “bertanya kepada rumput yang bergoyang”; hingga sastrawa besar abad ini, Eka Kurniawan yang membuka novel Lelaki Harimau dengan “senja, ikan-ikan di kolam, aroma asin di laut, batang kelapa, bunyi falsetto laut, badai jinak, ganggang, dadap, dan semak lantana”.

Orang-orang besar itu menempatkan alam begitu terhormat. Dekat, dan tentu saja, tetap menganggap alam sebagai kemisteriusan. Sebuah keajaiban yang agung. Dan yang paling penting, sama sekali tidak menganggap alam sebagai subordinat manusia.

Jadi, sudah sepatutnya kita menghormati alam, paling tidak menggunakan bahasa-bahasa yang tidak terkesan merendahkan. Berhenti untuk “menaklukkan”, lebih baik “menggapai”. Berhenti untuk “mengalahkan”, lebih baik “melewati” saja.

Ini menang terkesan agak berlebihan, akan tetapi, diksi-diksi ini adalah langkah kecil untuk mulai menghormati alam. Toh, bukankah pada akhirnya kita akan kembali ke alam juga? Seperti kata Chairil Anwar, “Di Karet, di Karet,” jauh sebelum dia dimakamkan di Pemakaman Karet Bivak.

Jadi, bukan gunung, laut, atau hutan yang sejatinya kita taklukkan. Bisa jadi kita yang ditaklukkan. Maka dari itu, lebih baik, kita menaklukkan diri kita sendiri. Sebab, kata Plato, “Mengalahkan diri sendiri adalah kemenangan yang paling agung”.

***

Lah, kenapa bisa ngelantur sampai ke Plato segala? Mohon maaf, saya terlalu asyik sendiri. Kembali ke Bukit Trunyan. Ya, seperti yang sudah Anda tebak, saya dan Tasya berangkat bersama mereka yang tak pernah—meski tak semua—mendaki gunung. Artinya, ini adalah pengalaman mereka yang pertama. Dan saya tak ambil pusing. Yang penting nanti tidak merepotkan, pikir saya.

Dan benar. Setelah kami mulai pendakian, tampaknya mereka cukup meyakinkan untuk tidak merepotkan teman—meskipun dilihat dari penampilan mereka, cara mereka membawa barang, atau sepatu yang mereka kenakan, cukup membuat seorang porter ketar-ketir. Tetapi, bukankah ada pepatah lama yang mengatakan “jangan melihat orang dari tampilannya?” Saya cukup yakin mereka tidak akan merepotkan.

Bukit Trunyan memiliki jalur tanah, menanjak, curam, dengan semak-belukar dan beberapa pohon di samping kanan-kirinya, tak jauh berbeda dengan jalur Gunung Abang atau Batukaru. Hanya saja, jalur ke Bukit Trunyan tak memiliki hutan lebat seperti jalur dua gunung yang terakhir disebut

Sependek ingatan saya, untuk jalur pendakian dari Desa Trunyan (Bukit Trunyan memiliki dua jalur, yaitu dari Desa Trunyan dan Tianyar), jalur yang kami lewati waktu itu, di beberapa jalur juga mirip dengan jalur Gunung Batur, berbatu dan penuh ilalang di lereng-lereng tebing.

Sepanjang perjalanan mendaki Bukit Trunyan, seperti yang banyak dituliskan di web-web travel secara bombastis, kami ditemani dengan keindahan alam yang memanjakan mata hingga lupa akan rasa lelah dan berat barang bawaan. Rumput hijau dengan pepohonan di sepanjang jalur pendakian adalah salah satu nikmat saat mendaki Bukit Trunyan. Saya sangat menikmatinya, meski harus bersabar karena Tasya menuntut lebih banyak istirahat daripada melanjutkan berjalan.

Tetapi saya tidak mempersoalkan itu. Sebab wajar saja, selain karena ia jarang mendaki dan melakukan aktivitas fisik, juga beban yang ada dipundakkan, jalur Bukit Trunyan juga tidak semudah yang kami kira. Jalur itu nyaris selalu menanjak, sedikit yang datar atau landai, seolah tak memberi kesempatan kami untuk bernapas barang sebentar.

Seingat saya, dengan jalan gremet seperti siput, setelah melewati tanjakan curam, tikungan, dan lembah-lembah misterius, setelah berjalan selama nyaris lima jam, akhirnya kami sampai di punggung Bukit Trunyan, hanya beberapa menit dari puncaknya. Padahal, menurut perhitungan saya, seandainya saya mendaki bersama Dziky atau Rahman, hanya membutuhkan 2 sampai 3 jam untuk sampai di puncak Bukit Trunyan.

Jaswanto dan Tasya berpose di atas Bukit Trunyan / Foto: Dok. Jaswanto

Waktu itu kami merasa cukup untuk mendirikan tenda di punggunya saja, meski hanya butuh beberapa menit berjalan untuk mencapai puncak. Toh, kami sampai sana senja sudah mulai habis, malam nyaris mendaulat bukit kecil dan indah itu. Dan benar, gelap benar-benar sudah melumat habis gundukan hijau itu dan merubahnya menjadi hitam seperti sosok raksasa yang misterius saat kami mulai mendirikan tenda untuk istirahat.

Ah, bintang-bintang itu berpendar cantik sekali. Atau lampu-lampu pemukiman di lembah Gunung Batur itu, juga lampu-lampu kendaraan, bergerak-gerak seperti kunang-kunang yang terperangkap dalam toples. Melihat romantisme itu, ada perasaan—perasaan yang belum ternamakan sebelumnya—yang tiba-tiba mendera dan membuat tubuh saya merasa aneh. Mungkin karena rasa senang sebab saya mendaki bersama Tasya, atau mungkin juga karena, untuk pertama kalinya, saya mendaki tanpa sahabat-sahabat saya, terutama Dziky. Sekali lagi mungkin.

Malam itu kami, beberapa lelaki, berbondong-bondong mengumpulkan kayu bakar. Ini sesuatu yang wajib. Bukan saja karena kemah tanpa api unggun itu seperti martabak telur tanpa acar, tapi udara dingin sudah mulai agak mengganggu. Sementara para lelaki mencari kayu atau lebih tepatnya ranting-ranting semak, Tasya dan teman perempuannya juga beberapa lelaki yang tersisa, menyiapkan hidangan makan malam. Sebuah kerja sama dan keakraban khas saat pendakian.  

Pagi hari, sebelum matahari benar-benar terbit, setelah melewati malam dengan obrolan panjang dan humor-humor garing yang agak memaksa, dan saya agak terganggu dengan pengeras suara yang mereka bawa, seperti biasa, kami kalap saat melihat pemandangan indah Bukit Trunyan. Tak ada kamera yang mati. Semua nyala. Semua aktif, memotret setiap sudut yang menurut kami wajib diabadikan—dan mungkin juga “dipamerkan” di media sosial, atau paling tidak menjadi bukti-penanda bahwa kami benar-benar pernah ke sana.

Saya dan Tasya tak mau ketinggalan. Kami berpose layaknya pasangan sedang prewedding menjelang pernikahan. Saya memegang tangannya, ia erat menggenggam tanggan saya. Kami tak peduli orang-orang sekitar, kami merasa itu hari kami, dan seolah semua ini diciptakan memang hanya untuk kami. Untuk itulah kami mengumbar kemesraan—tentu masih dalam batas wajar.

Saya merasa, saat itu, hubungan kami seperti dieratkan, ditegaskan, bahwa ia memang jodoh saya. Bahkan mungkin seperti takdir, kehadiran Tasya dalam hidup saya seperti tak dapat saya tolak dan hindari, meski sekuat apa pun saya berusaha melakukannya. Setidaknya sampai sejauh ini. Bukan begitu, Ayang?[T]

Bukit Ser, Tempat Terbaik untuk Menenangkan Diri
Pedawa: Kebahagiaan Adalah Kekeluargaan
Pulau Merah: Surga di Selatan Banyuwangi
Ke Songgon, Kami Mencari Ketenangan: Sebuah Kenangan Perjalanan
Pendakian Gunung Abang 2.151 Mdpl: Kita Tidak Pantas Mati di Tempat Tidur!
Tags: BangligunungKintamaniMendaki GunungpetualanganTrunyan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bilingualisme dan Diglosia di Lingkungan Keluarga

Next Post

Membaca Masa Depan Koster

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails
Next Post
Kekuatan Politik Baru Itu Bernama Majelis Desa Adat

Membaca Masa Depan Koster

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co