23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bukit Ser, Tempat Terbaik untuk Menenangkan Diri

Jaswanto by Jaswanto
January 3, 2024
in Tualang
Bukit Ser, Tempat Terbaik untuk Menenangkan Diri

Sunrise di Bukit Ser | Foto: Jaswanto

SEJAUH ini boleh dibilang, sebagaimana telah dituliskan Purwanto Setiadi dalam “Sepeda, Mesin, Kebisingan” (2019), hubungan antara kebisingan dan stres sudah seterang siang di musim kemarau. Begitu pula fakta bahwa sumber keingar-bingaran di luar ruang, di mana pun di dunia ini, adalah mesin—termasuk di dalamnya sistem transportasi, kendaraan bermotor, pesawat terbang, dan kereta. Tapi tampaknya masih banyak orang yang justru tak peduli batapa sebenarnya polusi suara itu membuat hidup ini terganggu.

Menepi di tempat-tempat yang sepi termasuk di antara sedikit hal yang membantu saya menyadari kenyataan yang dituliskan oleh Purwanto di atas. Dan yang membuat saya seperti tiba-tiba terjaga dari tidur adalah momen ketika saya berjalan di lokasi yang jauh dari hiruk-pikuk lalu lintas yang padat. Di bukit-bukit kecil yang terpencil seperti Bukit Ser di Pemuteran, Gerokgak, itu misalnya.

Jauh dari hiruk-pikuk artinya saya hanya mendengar suara-suara yang berasal dari percakapan orang, suara satwa, bunyi dedaunan yang diterpa angin, atau hanya sekadar desau angin yang bersiul di telinga. Betapa berbeda suasana yang relatif “natural” itu, kata Purwanto. Tentu saja, di perkotaan, suasana semacam itu jarang bisa dijumpai.

Jaswanto di puncak Bukit Ser / Foto: Hendra

Saya sedang jatuh cinta. Objek asmara saya bukan seorang perempuan atau bahkan seorang manusia. Dia adalah sebuah bukit kecil, Bukit Ser, namanya, di Pemuteran, yang saya kunjungi—untuk pertama kalinya—pada tahun 2020, sekira tiga tahun silam itu. Saya mencintainya. Saya mencintai bagaimana angin berbisik lembut dan bagaimana perahu bergerak di antara ombak, muncul tenggelam dengan begitu anggunnya.

Saya mencintai bukit ini dengan sunrise dan sunset segar yang berwarna seperti kue croissant, serta laut biru dengan hidangan perahu nelayan, biota laut, dan ombak yang anggun. Saya menyukai pura kecil di atas punggungnya. Saya mencintai pohon-pohonnya.

Saya mencintai bagaimana kicau burung beradu (atau kolaborasi?) dengan deru mesin perahu nelayan—perahu-perahu kecil yang muncul dengan ajaibnya di bawah kaki bukit itu. Benar. Selama nyaris 24 jam di bukit kecil itu, mata saya setidaknya menangkap 10 jenis burung yang berbeda-beda. Dari pola makan mereka saya kelompokkan lagi menjadi empat jenis.

Kelompok burung itu adalah pemakan buah (frugivora), pemakan biji-bijian (granivora), pemakan serangga (insectivora), dan penghisap madu (nectivora).

Golongan pemakan buah terdiri dari burung kutilang, trucukan, dan cabai jawa, yang terkenal paling ribut dibanding teman-temannya—juga warna orange di kepala dan lehernya yang indah membuat saya takjub.

Sementara burung pemakan biji adalah perkutut, tekukur, bondol jawa, dan burung gereja yang kerap mencari makan rerumputan di sekitar pekarangan pura, di bawah rerimbunan pohon bidara, pohon pilang, dan di antara semak belukar.

Di Bukit Ser banyak terdapat pohon bidara dan beberapa flamboyan. Tentu saja, pohon-pohon itu memberikan sumber makanan bagi burung madu sriganti—burung kecil yang lehernya berwarna biru dan kuning di bagian dadanya. Tak heran bila si pengisap nektar ini sering singgah pada bunga pohon buah-buahan tersebut dan membantu peyerbukannya, sehingga buahnya dapat dinikmati ketika musim buah tiba.

Menunggu sunrise di Bukit Ser / Foto: Jaswanto

Serangga yang beterbangan di sana menarik perhatian burung cipoh kacat dan cinenen kelabu—atau prenjak. Sesekali terlihat burung-burung tersebut menyambar dan memakan serangga yang sedang terbang. Ditambah lagi burung sikatan jawa dengan ligat menyambar serangga dari udara bagaikan manufer pesawat tempur dengan ekornya yang mengembang seperti kipas.

Melihat bagaimana burung-burung itu terbang dengan bebas, saya berpikir, cara terbaik memeliharanya adalah dengan menanam pohon di pekarangan, bukan menangkap dan mengurungnya di dalam sangkar—karena “karma” burung itu bebas.

Menurut saya, tidak ada salahnya kita mulai mencoba memelihara burung di alam bebas—dan mengurangi memelihara burung dalam sangkar. Dan ibarat investasi kenyamanan, tak ada salahnya juga mulai memilih tanaman atau pohon yang mampu memikat para burung untuk singgah di pekarangan rumah.

Membiarkan burung terbang bebas dan mendengar kicauannya langsung dari alam adalah bagian dari harmonisasi alam di sekitar kita. Sedangkan menanam pohon, merupakan salah satu langkah untuk mengurangi dampak pemanasan global, karena pohon mampu menyerap dan menyimpan karbon. “Tanam saja,” kata Nosstress.

Bintang laut di pantai Bukit Ser / Foto: Jaswanto

Selain banyak burung, pada saat laut surut, di sana, Anda dapat melihat dan memegang bintang laut yang cantik. Air yang surut meninggalkan mereka di balik-balik batu berlumut. Ada juga kerang, ikan-ikan kecil, kepiting, dan siput laut yang berjalan sangat lambat.

Ah, saya memang sedang diliputi dorongan untuk tinggal di Bukit Ser selamanya, di atasnya atau di kakinya atau di pinggir pantainya dan mana saja. Tidak penting benar. Saya dapat bahagia di sini, di atas bukit kecil ini.

***

Tetapi saya tidak bisa seperti ini selamanya. Dan saya juga tidak begitu yakin selalu bahagia hidup di atas bukit kecil ini—yang jika persediaan air minum Anda habis, Anda harus turun dan mengiba kepada penduduk sekitar. Saya yakin rasa bosan itu ada. Dan rasa bosan itu menakutkan.

Filsuf Martin Heidegger suatu ketika mendefinisikan kebosanan sebagai “napas kekosongan di tenggorokan kita”. Di beberapa tempat, napas panas itu terasa sekali. Terdapat di udara. Lain halnya di Swiss. Orang Swiss telah mengolah kebosanan seperti halnya orang Prancis mengolah anggur dan orang Jerman mengolah bir: menyempurnakannya, memproduksinya secara masal.

Kehidupan Swiss mengurangi kehidupan. Mereka bersenandung, merasa puas, tidak pernah turun sampai level bawah tertentu, tetapi juga tidak pernah mencapai puncak. Orang Swiss tidak pernah menggambarkan sesuatu sebagai mengagumkan atau super, tetapi hanya c’est pas mal, lumayan.

“Itukah rahasia kebahagiaan?” Tanya Eric Weiner dalam bukunya “The Geography of BlissThe” (2019) . “Atau mungkin orang Swiss benar-benar menemukan banyak aspek kehidupan mengagumkan tapi tahu pada suatu tingkat bawah sadar bahwa tingkat superelatif akan mengurangi pengalaman tersebut. Gambarkan sesuatu sebagai mengagumkan, dan hal itu tidak lagi mengagumkan.”

Sekilas saya ingin seperti orang Swiss. Yang mengolah kebosanan menjadi kebahagiaan. Yang biasa-biasa saja. Lebih baik hidup di rentang tengah daripada terus-menerus berayun dari titik tertinggi dan titik terendah. Tidak seperti Amerika yang suka pamer. Cara Amerika adalah: Anda punya, pamerkan. Cara Swiss adalah: Anda punya, sembunyikan.

Pemandangan dari atas Bukit Ser / Foto: Jaswanto

Tetapi dunia ini paradoks. Meskipun orang-orang Swiss tampak santai, nyatanya mereka tidak punya selera humor yang baik. Negeri macam apa itu? Betapa membosankannya negeri tanpa humor. Pasti negeri semacam itu tak bagus bagi saya yang pemurung—yang selalu ingin mendapat humor yang lebih.

Bukit Ser. Entah mengapa setiap kali saya ke bukit kecil ini, dalam hati timbul sensasi kebebasan yang menyenangkan, bahwa hidup begitu ringkas, hanya seukuran ransel yang saya sandang di pundak. Saya merasa akan selamat dan tak akan menderita hanya dengan mengandalkan hidup saya pada satu ransel yang melekat di tubuh saya.

Dan di tempat ini pula, saya dapat bertanya-tanya tentang “apa yang membuat manusia merasa menjadi makhluk yang paling sempurna di jagat raya?” Saya tidak tahu alasannya secara masuk akal. Kita dan seekor ayam atau sapi, misalnya, sama-sama ada, sama-sama mengisi ruang keberadaan.

Apa yang membuat kita harus merasa lebih tinggi derajatnya daripada seekor sapi? Belum tentu sapi lebih menderita daripada diri kita dan kita lebih bahagia daripadanya?

Tampaknya menjadi manusia bukanlah prestasi yang harus dibangga-banggakan. Kita pun tidak tahu kenapa kita menjadi manusia, bukannya sapi, ayam, atau kerbau. Kita tak bisa memilih lahir sebagai manusia. Kita hanya menjalani takdir sebagai manusia. Sapi pun hanya menjalani takdirnya sebagai sapi. Bagaimana bisa kita mesti merasa bangga?

Ah, memang beberapa tempat tertentu bagaikan keluarga, kata Eric. Tempat-tempat itu terus menerus membuat kita merasa terganggu, terutama pada hari-hari libur. Kita ingin kembali lagi karena kita tahu, di lubuk hati kita, bahwa takdir kita saling terkait. Dan bagi saya, Bukit Ser—tempat terbaik untuk menenangkan diri—termasuk salah satunya, juga gunung-gunung dan hutan yang rindang yang belum banyak dijamah manusia.[T]

Pedawa: Kebahagiaan Adalah Kekeluargaan
Ke Songgon, Kami Mencari Ketenangan: Sebuah Kenangan Perjalanan
Pendakian Gunung Abang 2.151 Mdpl: Kita Tidak Pantas Mati di Tempat Tidur!
Pulau Merah: Surga di Selatan Banyuwangi
Tags: baliDesa PemuteranGerokgakSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memelopori Gerakan Ecobrick Art di Bali

Next Post

Citragopta, Citrakara, Prabangkara: Menelaah Asal-Muasal Seni Dalam Lontar Wiswakarma

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Citragopta, Citrakara, Prabangkara: Menelaah Asal-Muasal Seni Dalam Lontar Wiswakarma

Citragopta, Citrakara, Prabangkara: Menelaah Asal-Muasal Seni Dalam Lontar Wiswakarma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co