2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bukit Ser, Tempat Terbaik untuk Menenangkan Diri

Jaswanto by Jaswanto
January 3, 2024
in Tualang
Bukit Ser, Tempat Terbaik untuk Menenangkan Diri

Sunrise di Bukit Ser | Foto: Jaswanto

SEJAUH ini boleh dibilang, sebagaimana telah dituliskan Purwanto Setiadi dalam “Sepeda, Mesin, Kebisingan” (2019), hubungan antara kebisingan dan stres sudah seterang siang di musim kemarau. Begitu pula fakta bahwa sumber keingar-bingaran di luar ruang, di mana pun di dunia ini, adalah mesin—termasuk di dalamnya sistem transportasi, kendaraan bermotor, pesawat terbang, dan kereta. Tapi tampaknya masih banyak orang yang justru tak peduli batapa sebenarnya polusi suara itu membuat hidup ini terganggu.

Menepi di tempat-tempat yang sepi termasuk di antara sedikit hal yang membantu saya menyadari kenyataan yang dituliskan oleh Purwanto di atas. Dan yang membuat saya seperti tiba-tiba terjaga dari tidur adalah momen ketika saya berjalan di lokasi yang jauh dari hiruk-pikuk lalu lintas yang padat. Di bukit-bukit kecil yang terpencil seperti Bukit Ser di Pemuteran, Gerokgak, itu misalnya.

Jauh dari hiruk-pikuk artinya saya hanya mendengar suara-suara yang berasal dari percakapan orang, suara satwa, bunyi dedaunan yang diterpa angin, atau hanya sekadar desau angin yang bersiul di telinga. Betapa berbeda suasana yang relatif “natural” itu, kata Purwanto. Tentu saja, di perkotaan, suasana semacam itu jarang bisa dijumpai.

Jaswanto di puncak Bukit Ser / Foto: Hendra

Saya sedang jatuh cinta. Objek asmara saya bukan seorang perempuan atau bahkan seorang manusia. Dia adalah sebuah bukit kecil, Bukit Ser, namanya, di Pemuteran, yang saya kunjungi—untuk pertama kalinya—pada tahun 2020, sekira tiga tahun silam itu. Saya mencintainya. Saya mencintai bagaimana angin berbisik lembut dan bagaimana perahu bergerak di antara ombak, muncul tenggelam dengan begitu anggunnya.

Saya mencintai bukit ini dengan sunrise dan sunset segar yang berwarna seperti kue croissant, serta laut biru dengan hidangan perahu nelayan, biota laut, dan ombak yang anggun. Saya menyukai pura kecil di atas punggungnya. Saya mencintai pohon-pohonnya.

Saya mencintai bagaimana kicau burung beradu (atau kolaborasi?) dengan deru mesin perahu nelayan—perahu-perahu kecil yang muncul dengan ajaibnya di bawah kaki bukit itu. Benar. Selama nyaris 24 jam di bukit kecil itu, mata saya setidaknya menangkap 10 jenis burung yang berbeda-beda. Dari pola makan mereka saya kelompokkan lagi menjadi empat jenis.

Kelompok burung itu adalah pemakan buah (frugivora), pemakan biji-bijian (granivora), pemakan serangga (insectivora), dan penghisap madu (nectivora).

Golongan pemakan buah terdiri dari burung kutilang, trucukan, dan cabai jawa, yang terkenal paling ribut dibanding teman-temannya—juga warna orange di kepala dan lehernya yang indah membuat saya takjub.

Sementara burung pemakan biji adalah perkutut, tekukur, bondol jawa, dan burung gereja yang kerap mencari makan rerumputan di sekitar pekarangan pura, di bawah rerimbunan pohon bidara, pohon pilang, dan di antara semak belukar.

Di Bukit Ser banyak terdapat pohon bidara dan beberapa flamboyan. Tentu saja, pohon-pohon itu memberikan sumber makanan bagi burung madu sriganti—burung kecil yang lehernya berwarna biru dan kuning di bagian dadanya. Tak heran bila si pengisap nektar ini sering singgah pada bunga pohon buah-buahan tersebut dan membantu peyerbukannya, sehingga buahnya dapat dinikmati ketika musim buah tiba.

Menunggu sunrise di Bukit Ser / Foto: Jaswanto

Serangga yang beterbangan di sana menarik perhatian burung cipoh kacat dan cinenen kelabu—atau prenjak. Sesekali terlihat burung-burung tersebut menyambar dan memakan serangga yang sedang terbang. Ditambah lagi burung sikatan jawa dengan ligat menyambar serangga dari udara bagaikan manufer pesawat tempur dengan ekornya yang mengembang seperti kipas.

Melihat bagaimana burung-burung itu terbang dengan bebas, saya berpikir, cara terbaik memeliharanya adalah dengan menanam pohon di pekarangan, bukan menangkap dan mengurungnya di dalam sangkar—karena “karma” burung itu bebas.

Menurut saya, tidak ada salahnya kita mulai mencoba memelihara burung di alam bebas—dan mengurangi memelihara burung dalam sangkar. Dan ibarat investasi kenyamanan, tak ada salahnya juga mulai memilih tanaman atau pohon yang mampu memikat para burung untuk singgah di pekarangan rumah.

Membiarkan burung terbang bebas dan mendengar kicauannya langsung dari alam adalah bagian dari harmonisasi alam di sekitar kita. Sedangkan menanam pohon, merupakan salah satu langkah untuk mengurangi dampak pemanasan global, karena pohon mampu menyerap dan menyimpan karbon. “Tanam saja,” kata Nosstress.

Bintang laut di pantai Bukit Ser / Foto: Jaswanto

Selain banyak burung, pada saat laut surut, di sana, Anda dapat melihat dan memegang bintang laut yang cantik. Air yang surut meninggalkan mereka di balik-balik batu berlumut. Ada juga kerang, ikan-ikan kecil, kepiting, dan siput laut yang berjalan sangat lambat.

Ah, saya memang sedang diliputi dorongan untuk tinggal di Bukit Ser selamanya, di atasnya atau di kakinya atau di pinggir pantainya dan mana saja. Tidak penting benar. Saya dapat bahagia di sini, di atas bukit kecil ini.

***

Tetapi saya tidak bisa seperti ini selamanya. Dan saya juga tidak begitu yakin selalu bahagia hidup di atas bukit kecil ini—yang jika persediaan air minum Anda habis, Anda harus turun dan mengiba kepada penduduk sekitar. Saya yakin rasa bosan itu ada. Dan rasa bosan itu menakutkan.

Filsuf Martin Heidegger suatu ketika mendefinisikan kebosanan sebagai “napas kekosongan di tenggorokan kita”. Di beberapa tempat, napas panas itu terasa sekali. Terdapat di udara. Lain halnya di Swiss. Orang Swiss telah mengolah kebosanan seperti halnya orang Prancis mengolah anggur dan orang Jerman mengolah bir: menyempurnakannya, memproduksinya secara masal.

Kehidupan Swiss mengurangi kehidupan. Mereka bersenandung, merasa puas, tidak pernah turun sampai level bawah tertentu, tetapi juga tidak pernah mencapai puncak. Orang Swiss tidak pernah menggambarkan sesuatu sebagai mengagumkan atau super, tetapi hanya c’est pas mal, lumayan.

“Itukah rahasia kebahagiaan?” Tanya Eric Weiner dalam bukunya “The Geography of BlissThe” (2019) . “Atau mungkin orang Swiss benar-benar menemukan banyak aspek kehidupan mengagumkan tapi tahu pada suatu tingkat bawah sadar bahwa tingkat superelatif akan mengurangi pengalaman tersebut. Gambarkan sesuatu sebagai mengagumkan, dan hal itu tidak lagi mengagumkan.”

Sekilas saya ingin seperti orang Swiss. Yang mengolah kebosanan menjadi kebahagiaan. Yang biasa-biasa saja. Lebih baik hidup di rentang tengah daripada terus-menerus berayun dari titik tertinggi dan titik terendah. Tidak seperti Amerika yang suka pamer. Cara Amerika adalah: Anda punya, pamerkan. Cara Swiss adalah: Anda punya, sembunyikan.

Pemandangan dari atas Bukit Ser / Foto: Jaswanto

Tetapi dunia ini paradoks. Meskipun orang-orang Swiss tampak santai, nyatanya mereka tidak punya selera humor yang baik. Negeri macam apa itu? Betapa membosankannya negeri tanpa humor. Pasti negeri semacam itu tak bagus bagi saya yang pemurung—yang selalu ingin mendapat humor yang lebih.

Bukit Ser. Entah mengapa setiap kali saya ke bukit kecil ini, dalam hati timbul sensasi kebebasan yang menyenangkan, bahwa hidup begitu ringkas, hanya seukuran ransel yang saya sandang di pundak. Saya merasa akan selamat dan tak akan menderita hanya dengan mengandalkan hidup saya pada satu ransel yang melekat di tubuh saya.

Dan di tempat ini pula, saya dapat bertanya-tanya tentang “apa yang membuat manusia merasa menjadi makhluk yang paling sempurna di jagat raya?” Saya tidak tahu alasannya secara masuk akal. Kita dan seekor ayam atau sapi, misalnya, sama-sama ada, sama-sama mengisi ruang keberadaan.

Apa yang membuat kita harus merasa lebih tinggi derajatnya daripada seekor sapi? Belum tentu sapi lebih menderita daripada diri kita dan kita lebih bahagia daripadanya?

Tampaknya menjadi manusia bukanlah prestasi yang harus dibangga-banggakan. Kita pun tidak tahu kenapa kita menjadi manusia, bukannya sapi, ayam, atau kerbau. Kita tak bisa memilih lahir sebagai manusia. Kita hanya menjalani takdir sebagai manusia. Sapi pun hanya menjalani takdirnya sebagai sapi. Bagaimana bisa kita mesti merasa bangga?

Ah, memang beberapa tempat tertentu bagaikan keluarga, kata Eric. Tempat-tempat itu terus menerus membuat kita merasa terganggu, terutama pada hari-hari libur. Kita ingin kembali lagi karena kita tahu, di lubuk hati kita, bahwa takdir kita saling terkait. Dan bagi saya, Bukit Ser—tempat terbaik untuk menenangkan diri—termasuk salah satunya, juga gunung-gunung dan hutan yang rindang yang belum banyak dijamah manusia.[T]

Pedawa: Kebahagiaan Adalah Kekeluargaan
Ke Songgon, Kami Mencari Ketenangan: Sebuah Kenangan Perjalanan
Pendakian Gunung Abang 2.151 Mdpl: Kita Tidak Pantas Mati di Tempat Tidur!
Pulau Merah: Surga di Selatan Banyuwangi
Tags: baliDesa PemuteranGerokgakSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memelopori Gerakan Ecobrick Art di Bali

Next Post

Citragopta, Citrakara, Prabangkara: Menelaah Asal-Muasal Seni Dalam Lontar Wiswakarma

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails
Next Post
Citragopta, Citrakara, Prabangkara: Menelaah Asal-Muasal Seni Dalam Lontar Wiswakarma

Citragopta, Citrakara, Prabangkara: Menelaah Asal-Muasal Seni Dalam Lontar Wiswakarma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co