2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Citragopta, Citrakara, Prabangkara: Menelaah Asal-Muasal Seni Dalam Lontar Wiswakarma

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
January 4, 2024
in Esai
Citragopta, Citrakara, Prabangkara: Menelaah Asal-Muasal Seni Dalam Lontar Wiswakarma

Foto: Purwita Sukahet

TULISAN ini ringkas, ya memang diniatkan untuk ringkas. Isinya mengajak kita untuk kembali menelaah tentang terminologi, diksi, leksikografi seni, khususnya seni rupa pada kitab lontar berjudul Wiswakarma milik Griya Gede Delod Pasar, Intaran, Sanur.

Menariknya, membaca kalimat pembuka pada kitab ini kita dihadapkan pada asal-muasal kitab ini ditulis, berdasarkan kitab babonnya, yaitu Usana Jawa. Setelah itu prolog menjelaskan tentang dua dewata, yaitu Hyang Brahma dan Wisnu, yang menciptakan tiga manusia yakni manusia kdi (kedi), jalu, dan wadwan—mereka terus berkembang hingga menumbuhkan keturunan manusia yang banyak.

Manusia-manusia tersebut tidak tahu akan apa-apa, tidak tahu caranya mencari makan, tidak tahu caranya berbusana (asal-muasal ditemukannya fashion?), tidak tahu caranya bersosial, tidak tahu caranya membuat rumah sehingga hidupnya dibawah terik matahari, kadang-kadang di bawah pohon, dll.

Singkat kata, kemudian turunlah Hyang Wiswakarma ke dunia untuk mengajari para manusia ini untuk membuat rumah, membuat perabot rumah tangga yang tajam-tajam, tata cara membangun tempat suci, dll. Sehingga manusia dapat hidup dengan layak dan mengingat asal-muasal penciptaan manusia.

Selanjutnya oleh para manusia tersebut, apa yang diajarkan oleh Hyang Wiswakarma disebut sebagai Citragopta yang membawa ajaran tentang menatah, punggu (?), palu, kisa, membuat busana-pakaian yang dapat dipergunakan dengan layak.

Seturut kemudian, turunlah Hyang Citrakara dengan berbagai rupa yang kemudian bersatu menjadi hamrabangkara. Narasi ini kemudian ditutup dengan penjelasan bahwa begitulah para dewata ketika turun di dunia dengan membebaskan manusia dari kebodohan dengan Aji Sastra, mengetahui baik dan buruk, kurang dan lebih.

Secara ringkas pada bagian awal narasi kitab Wiswakarma ini menyajikan kosmologi, sebuah narasi tentang asal mula manusia, proses memahami akan ruang dan waktu pada alam yang evolutif hingga bagaimana keahlian diturunkan.

Yang hendak digaris bawahi adalah adanya tiga frasa kata yang berhubungan dengan keahlian manusia, yaitu citrakara, citragopta, dan prabangkara—tiga frasa ini sering dikaitkan dengan seni sebagaimana yang dipahami di Indonesia bahwa seni dipadankan dengan kata “art” (eng. Spesifik dimaknai khusus pada seni lukis, rupa, visual).

Seni di Indonesia dipergunakan untuk merangkum keseluruhan seni sekaligus ragam jenis-jenisnya, lahirlah kemudian seni rupa dan seni pertunjukan dengan berbagai cabangnya. Khusus pada seni rupa dibagi kembali menjadi seni rupa murni dan seni rupa terapan, tujuannya untuk mengklasifikasikan yang mana seni murni untuk ekspresi dengan kerajinan.

Sialnya, seni terapan tersebut dibelokan maknanya dengan kriya sekaligus kriya dipadankan pada bentuk-bentuk kerajinan tangan padahal pada kerajinan itu juga ada ekspresinya. Bahkan pada kitab Wiswakarma itu jelas tertulis tatah; hatatah-tatahnya.

Kata tatah bagi orang Bali dipahami dengan keterampilan tangan mengolah pahat dengan kulit, biasanya dipergunakan di dalam istilah pembuatan wayang atau mengukir dengan teknik tembus pada bidang dua dimensi.

Pada entri Jawa Kuna dalam bukunya Zoetmoelder & Robson pun menuliskan arti katanya sebagai memahat; pahat kecil; untuk anatah, tinatah juga dimaknai sebagai memberikan bentuk kepada sesuatu; merencanakan; mempersiapkan.

Dengan demikian, apakah asal-mula citra yang diartikan sebagai lukisan (term Jawa Kuna) dimulai dari hanatah/tinatah? Sebelum dipikirkan ulang ada baiknya kita kembali ke judul yaitu Citrakara, Citragopta, dan Prabangkara.

Yang pertama adalah Citrakara. Di dalam kitab Wiswakarma disebutkan dengan menambahkan kata Hyang di depannya sehingga menjadi Hyang Citrakara dan sejalan dengan itu, maka Hyang Citrakara adalah dewata pujaannya para pelukis, merujuk kepada term citrakāra pada Jawa Kuna diserap dari bahasa Sansekerta berarti pelukis.

Yang kedua adalah Citragopta, kata ini secara langsung tidak saya temukan dalam bukunya Zoetmulder & Robson. Terminologi ini ada sebagai diksi dari citraloka yang berarti penulisan yang mencatat apa yang terjadi di dunia ini, atau kita dapat membaginya dengan citra dan gopta, arti kata gopta merujuk kepada sesuatu yang sifatnya rahasia seperti ajaran, mungkin disakralkan(?).

Yang ketiga adalah Prabangkara dalam Jawa Kuna berarti matahari, dalam konteks yang lain berarti pelukis, seniman, artist. Prabangkara juga disamakan dengan Citrakara oleh Berg di dalam mengartikan kata ini dalam Kidung Sunda, “katur punang pĕṭa sang rajaputri dene si prabangkara”.

Kitab Wiswakarma tersebut medeskripsikan bahwa turunnya Hyang Citrakara dengan berbagai macam rupa (hamancarupa), berpadu kemudian hamrabangkara (melukiskan berbagai hal/mewujudkan berbagai bentuk kesenian).

Jadi, secara kosmologi, asal mula seni adalah pelajaran ilahiah berdasarkan pada Aji Sastra yang diturunkan oleh Hyang Citrakara, lekatnya pada ajaran Hyang Wiswakrma mengenai bagaimana konsep proses mencipta ala Bali.

Secara terminologi, citrakara, citragopta, dan prabangkara—acuan Kawi-nya—berasal dari kata citra atau citraka yang berarti lukisan, gambar, sketsa. Lantas bagaimana kalau hari-hari ini jika kita ingin menyatakan lukisan kita sebutkan dengan citraka? Atau justru kita lebih nyaman mempergunakan painting? Atau biarlah sebut lukisan saja biar tidak ribet?

Ah, apa pentingnya juga di masa kontemporer ini berbicara tentang terminologi? Rasanya hanya akan menambah beban hidup saja, bukan?[T]  

Pohmanis, 4 Januari 2024

Gaya Lukisan I Gusti Made Deblog dan Jalan Panjang Penetapan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda 2023
Tata Ruang Kota, Tiang dan Kabel-kabel, dan Persoalan Estetika
Seni Rupa Bali dan Persoalan Arsip
Kepekaan Estetika Kita dan Cagar Budaya Gedong Kirtya
Tags: kesenian balilontarSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bukit Ser, Tempat Terbaik untuk Menenangkan Diri

Next Post

Bilingualisme dan Diglosia di Lingkungan Keluarga

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Bilingualisme dan Diglosia di Lingkungan Keluarga

Bilingualisme dan Diglosia di Lingkungan Keluarga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co