23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Citragopta, Citrakara, Prabangkara: Menelaah Asal-Muasal Seni Dalam Lontar Wiswakarma

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
January 4, 2024
in Esai
Citragopta, Citrakara, Prabangkara: Menelaah Asal-Muasal Seni Dalam Lontar Wiswakarma

Foto: Purwita Sukahet

TULISAN ini ringkas, ya memang diniatkan untuk ringkas. Isinya mengajak kita untuk kembali menelaah tentang terminologi, diksi, leksikografi seni, khususnya seni rupa pada kitab lontar berjudul Wiswakarma milik Griya Gede Delod Pasar, Intaran, Sanur.

Menariknya, membaca kalimat pembuka pada kitab ini kita dihadapkan pada asal-muasal kitab ini ditulis, berdasarkan kitab babonnya, yaitu Usana Jawa. Setelah itu prolog menjelaskan tentang dua dewata, yaitu Hyang Brahma dan Wisnu, yang menciptakan tiga manusia yakni manusia kdi (kedi), jalu, dan wadwan—mereka terus berkembang hingga menumbuhkan keturunan manusia yang banyak.

Manusia-manusia tersebut tidak tahu akan apa-apa, tidak tahu caranya mencari makan, tidak tahu caranya berbusana (asal-muasal ditemukannya fashion?), tidak tahu caranya bersosial, tidak tahu caranya membuat rumah sehingga hidupnya dibawah terik matahari, kadang-kadang di bawah pohon, dll.

Singkat kata, kemudian turunlah Hyang Wiswakarma ke dunia untuk mengajari para manusia ini untuk membuat rumah, membuat perabot rumah tangga yang tajam-tajam, tata cara membangun tempat suci, dll. Sehingga manusia dapat hidup dengan layak dan mengingat asal-muasal penciptaan manusia.

Selanjutnya oleh para manusia tersebut, apa yang diajarkan oleh Hyang Wiswakarma disebut sebagai Citragopta yang membawa ajaran tentang menatah, punggu (?), palu, kisa, membuat busana-pakaian yang dapat dipergunakan dengan layak.

Seturut kemudian, turunlah Hyang Citrakara dengan berbagai rupa yang kemudian bersatu menjadi hamrabangkara. Narasi ini kemudian ditutup dengan penjelasan bahwa begitulah para dewata ketika turun di dunia dengan membebaskan manusia dari kebodohan dengan Aji Sastra, mengetahui baik dan buruk, kurang dan lebih.

Secara ringkas pada bagian awal narasi kitab Wiswakarma ini menyajikan kosmologi, sebuah narasi tentang asal mula manusia, proses memahami akan ruang dan waktu pada alam yang evolutif hingga bagaimana keahlian diturunkan.

Yang hendak digaris bawahi adalah adanya tiga frasa kata yang berhubungan dengan keahlian manusia, yaitu citrakara, citragopta, dan prabangkara—tiga frasa ini sering dikaitkan dengan seni sebagaimana yang dipahami di Indonesia bahwa seni dipadankan dengan kata “art” (eng. Spesifik dimaknai khusus pada seni lukis, rupa, visual).

Seni di Indonesia dipergunakan untuk merangkum keseluruhan seni sekaligus ragam jenis-jenisnya, lahirlah kemudian seni rupa dan seni pertunjukan dengan berbagai cabangnya. Khusus pada seni rupa dibagi kembali menjadi seni rupa murni dan seni rupa terapan, tujuannya untuk mengklasifikasikan yang mana seni murni untuk ekspresi dengan kerajinan.

Sialnya, seni terapan tersebut dibelokan maknanya dengan kriya sekaligus kriya dipadankan pada bentuk-bentuk kerajinan tangan padahal pada kerajinan itu juga ada ekspresinya. Bahkan pada kitab Wiswakarma itu jelas tertulis tatah; hatatah-tatahnya.

Kata tatah bagi orang Bali dipahami dengan keterampilan tangan mengolah pahat dengan kulit, biasanya dipergunakan di dalam istilah pembuatan wayang atau mengukir dengan teknik tembus pada bidang dua dimensi.

Pada entri Jawa Kuna dalam bukunya Zoetmoelder & Robson pun menuliskan arti katanya sebagai memahat; pahat kecil; untuk anatah, tinatah juga dimaknai sebagai memberikan bentuk kepada sesuatu; merencanakan; mempersiapkan.

Dengan demikian, apakah asal-mula citra yang diartikan sebagai lukisan (term Jawa Kuna) dimulai dari hanatah/tinatah? Sebelum dipikirkan ulang ada baiknya kita kembali ke judul yaitu Citrakara, Citragopta, dan Prabangkara.

Yang pertama adalah Citrakara. Di dalam kitab Wiswakarma disebutkan dengan menambahkan kata Hyang di depannya sehingga menjadi Hyang Citrakara dan sejalan dengan itu, maka Hyang Citrakara adalah dewata pujaannya para pelukis, merujuk kepada term citrakāra pada Jawa Kuna diserap dari bahasa Sansekerta berarti pelukis.

Yang kedua adalah Citragopta, kata ini secara langsung tidak saya temukan dalam bukunya Zoetmulder & Robson. Terminologi ini ada sebagai diksi dari citraloka yang berarti penulisan yang mencatat apa yang terjadi di dunia ini, atau kita dapat membaginya dengan citra dan gopta, arti kata gopta merujuk kepada sesuatu yang sifatnya rahasia seperti ajaran, mungkin disakralkan(?).

Yang ketiga adalah Prabangkara dalam Jawa Kuna berarti matahari, dalam konteks yang lain berarti pelukis, seniman, artist. Prabangkara juga disamakan dengan Citrakara oleh Berg di dalam mengartikan kata ini dalam Kidung Sunda, “katur punang pĕṭa sang rajaputri dene si prabangkara”.

Kitab Wiswakarma tersebut medeskripsikan bahwa turunnya Hyang Citrakara dengan berbagai macam rupa (hamancarupa), berpadu kemudian hamrabangkara (melukiskan berbagai hal/mewujudkan berbagai bentuk kesenian).

Jadi, secara kosmologi, asal mula seni adalah pelajaran ilahiah berdasarkan pada Aji Sastra yang diturunkan oleh Hyang Citrakara, lekatnya pada ajaran Hyang Wiswakrma mengenai bagaimana konsep proses mencipta ala Bali.

Secara terminologi, citrakara, citragopta, dan prabangkara—acuan Kawi-nya—berasal dari kata citra atau citraka yang berarti lukisan, gambar, sketsa. Lantas bagaimana kalau hari-hari ini jika kita ingin menyatakan lukisan kita sebutkan dengan citraka? Atau justru kita lebih nyaman mempergunakan painting? Atau biarlah sebut lukisan saja biar tidak ribet?

Ah, apa pentingnya juga di masa kontemporer ini berbicara tentang terminologi? Rasanya hanya akan menambah beban hidup saja, bukan?[T]  

Pohmanis, 4 Januari 2024

Gaya Lukisan I Gusti Made Deblog dan Jalan Panjang Penetapan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda 2023
Tata Ruang Kota, Tiang dan Kabel-kabel, dan Persoalan Estetika
Seni Rupa Bali dan Persoalan Arsip
Kepekaan Estetika Kita dan Cagar Budaya Gedong Kirtya
Tags: kesenian balilontarSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bukit Ser, Tempat Terbaik untuk Menenangkan Diri

Next Post

Bilingualisme dan Diglosia di Lingkungan Keluarga

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Bilingualisme dan Diglosia di Lingkungan Keluarga

Bilingualisme dan Diglosia di Lingkungan Keluarga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co