23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gunung Batur yang Kesekian Kalinya

Jaswanto by Jaswanto
January 17, 2024
in Esai
Gunung Batur yang Kesekian Kalinya

Jaswanto bersama dua temannya di puncak Gunung Batur | Foto: Dok. Jaswanto

LIBUR Galungan dan Kuningan tahun 2018, di tengah aktivitas kampus yang padat dan terik bulan puasa, untuk pertama kalinya saya mendaki gunung itu.  Seorang teman meyakinkan saya bahwa mendaki gunung adalah aktivitas yang menyenangkan. Saya terpengaruh, meski awalnya sedikit gamang. “Ini gunung tidak tinggi, hanya seribuan mdpl. Cocok bagi pemula,” katanya, meyakinkan.

Waktu itu saya berangkat dengan bekal pengalaman yang minim—bahkan nyaris tak punya. Tapi beberapa teman memberi jaminan bahwa selama pendakian tidak akan ada hal buruk terjadi. “Percayalah,” ucap seorang teman.

Kami mendaki saat orang-orang sedang nyenyak bermimpi. Bintang bertebaran di langit, tapi malam tetap saja gulita. Saya seperti terperangkap di masa lampau, tanpa aliran listrik dan sinyal seluler. Tidak ada yang bisa dikerjakan selain terus berjalan dan bertukar cerita.

Jaswanto di puncak Gunung Batur tahun 2018 / Foto: Dok. Jaswanto

Setapak semakin terjal. Nyaris tak pernah landai. Pinggang Gunung Batur somplak dan berdebu, sementara tanjakannya penuh batu. Jurang dan kaki hanya dipisahkan oleh sejengkal jarak. Benar-benar sejengkal, tanpa pembatas pula. Begitu terjal hingga menuliskan kondisinya saja menguras tenaga.

Namun, anehnya, meski kaki terasa lumpuh, saat perjalanan mendaki menembus kegelapan malam di jalan setapak yang terjal, berpasir, berdebu, licin, berlubang, menanjak, seolah tak berujung telah terlewati, untuk pertama kalinya, saya merasakan sensasi yang hebat.

Saat sampai di puncak Gunung Batur, memotret atau berfoto dengan latar belakang sunrise yang indah, yang tak akan bisa saya lihat di tempat lain, menyatu dengan alam, seperti tak berjarak, di sebuah area yang berdinding kehampaan, merasa kecil, melebur, menggigil di dalam semak di sebuah cekungan lembah, di bawah naungan bintang-gemintang, di antara batu-batu dan rumput-rumput yang basah, dan jauh dari keramaian tentu saja, saya merasakan sebuah perasaan yang belum ternamakan sebelumnya—atau mungkin itulah yang disebut: ketenangan.

Batur adalah satu-satunya gunung di Bali yang saya kunjungi beberapa kali—nyaris tak terhitung bahkan. Meski tak setinggi Gunung Agung atau Gunung Abang, dalam kondisi tertentu, keindahan Batur tak perlu diragukan.

Beberapa pendaki berjalan di atas kaldera Batur tahun 2019 / Foto: Jaswanto

Jajaran kaldera yang menurut dugaan G. Marinelli dan H. Tazieff—dalam L’Ignimbrite et la Caldera de Batur (Bali, Indonesie) ( 1968)—terbentuk sekitar 22.000 tahun yang lalu itu, bagaikan lukisan Hindia Molek, gambaran haru-biru orang Eropa tentang eksotisme Timur.

Konon, pada 30.000 tahun yang lalu, gulungan bubur panas raksasa dari perut Gunung Batur menjalar pelan menuju arah selatan lebih dari 40 kilometer dari bibir puncaknya. Abunya merabunkan pandangan mata karena sangat tebal.

Sekarang, endapan bubur panas itu, juga batuan dan abunya, meninggalkan paras-paras halus di sekitaran Sukawati, hingga lekukan batuan indah di sepanjang Hidden Canyon, Desa Guwang, Kabupaten Gianyar. Jejak letusan Batur juga dapat dinikmati di dinding Tukad Ayung, Air Terjun Tegenungan.

Seorang Peneliti Kaldera Nusantara Badan Geologi Kementerian ESDM Antonius Ratdomopurbo membayangkan tebal dinding bubur panas itu mencapai ketinggian lebih dari 20 meter di Hidden Canyon. “Maka, ketinggian itu mampu menggambarkan betapa muntahan lava Batur tertinggi bisa diperkirakan lebih dari 400 meter,” katanya.

Suasana menjelang pagi di puncak Gunung Batur tahun 2019 / Foto: Jaswanto

Tinggalan Batur, tulis Ayu Sulistyowati dalam “Letusan Gunung Batur Melukis Alam Bali” (2020), yang berbeda dari letusan kaldera Nusantara lainnya adalah kehalusan warna dan tekstur paras atau bisa disebut padas. Di tebing-tebing Sungai Petanu, di Gianyar, tersaji dinding-dinding tebing batuan dengan warna krem kekuningan, terpotong lurus vertikal oleh mesin-mesin gergaji tambang batu.

Ketika sebagian rakyat Indonesia heboh dengan Debat Capres 2019—yang kemudian, seperti biasa, muncul ribut-ribut dan segera memenuhi timeline media sosial tentang perilaku kedua capres, pendapat, dan lain-lain—bersama tiga kawan saya memilih berkendara menuju Gunung Batur. Meninggalkan kota pada akhir pekan, mulai mendaki pada pagi buta. Beberapa bulan setelahnya, bersama teman-teman dari India, saya kembali menyambangi gundukan batu purba setinggi 1717 mdpl itu.

Sebagaimana gunung di Bali pada umumnya, Batur juga dianggap sebagai tempat suci. Menurut keyakinan setempat, gunung purba ini sering disebut “ibu” dari Gunung Agung. Namun, berbeda dengan anggapan tersebut, dalam lontar Candi Supralingga Bhuana—sebagaimana disampaikan I Ketut Sumarta dalam Batur Jantung Peradaban Air Bali (2015)—Agung dan Batur justru dianggap “pasangan”.

Jaswanto bersama teman-teman India-nya di puncak Gunung Batur / Foto: Dok. Jaswanto

Agung adalah purusha (laki-laki) dan Batur adalah pradana (perempuan). Purusha-pradana dalam Agung-Batur senantiasa bersinergi untuk melahirkan kesuburan dan menciptakan kesejahteraan masyarakat. Keduanya menyatu sebagai dwi lingga giri (dwi = dua, lingga = tempat, giri = gunung). Terlepas dari anggapan tersebut, yang jelas, keduanya adalah gunung api (volcano) yang berada dalam lingkaran atau rangkaian Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire).

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, sebagaimana kita ketahui, Gunung Batur adalah tempat tujuan pendakian yang paling diminati di Bali berdasarkan jumlah wisatawan. Setidaknya ada empat sampai enam jalur pendakian dari desa-desa di kakinya. Tapi yang paling dikenal dan umum adalah starting point dari area Pura Jati yang terletak di pinggang Gunung Batur.

Bali telah lama terjerumus ke dalam mangkok salad pariwisata. Sejak Walter Spies melukis pemandangan sebuah pulau yang indah dan eksotis pada tahun 1930-an, sebagaimana ditulis Edward Speirs dalam “Coming to Terms with Change in Bali (and of Bali)” (2022), reputasi sebagai surga telah membayangi Bali.

Berkat alamnya yang asri, sejak dulu Bali masuk radar turis—bahkan pria Meksiko bernama Covarrubias menjulukinya sebagai “the last paradise”. Selain alam, Bali punya ajang kebudayaan dan kesenian yang selalu ramai bukan kepalang. “Kita tidak mungkin melarang orang untuk datang ke sini,” jawab seorang tour guide dengan tenang dan diplomatis. Berbeda dengan Ciptagelar, misalnya, Bali sangat sudi menjadi objek wisata.

Jaswanto bersama kedua sahabatnya di sabana Batur / Foto: Dok. Jaswanto

Namun, jika keindahan adalah sumber daya Bali, kata Speirs, maka itu juga kutukannya. “Kecantikan adalah daya pikat yang otentik namun sekaligus menjadi korban: ‘Cantik itu Luka’, seperti yang dikatakan oleh penulis Indonesia Eka Kurniawan,” sambungnya.

Kintamani, tempat Batur berdiri, tak luput dari radar. Dalam banyak hal, popularitas Kintamani bahkan melebihi Bangli itu sendiri. Bahkan, saking tersohornya, pada 1970-an beredar film berjudul “Kabut di Kintamani” karya Kurnaen Suhardiman. Sedangkan musisi legendaris Indonesia Ebiet G.Ade dengan romantik menulis “…sejuk lembut angin di bukit Kintamani…” pada lirik lagu “Nyanyian Rindu” tahun 1980.

Beberapa orang menyebut puncak kejayaan pariwisata di Kintamani terjadi pada tahun 80-an, saat perpaduan antara pariwisata dan budaya mulai digagas Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Ketika itu dapat melihat kaldera Batur dengan paduan budaya dan tradisi adalah pengalaman yang luar biasa. Namun, seiring waktu berlari, wisata-budaya di Batur mulai ditinggalkan.

Jaswanto sedang memotret di atas kaldera Batur / Foto: Dok. Jaswanto

Wisata kebudayaan di Kintamani kini telah memudar. Mereka tidak lagi lestari. Mereka telah modern. Tetapi, bagaimana mungkin sebuah kebudayaan bisa dilestarikan sementara ia adalah entitas yang terus bergerak? Batur tampaknya terlalu tua dan lelah untuk menjawab.

Sebelum pandemi memorak-porandakan banyak tatanan, bersama beberapa teman, saya kembali mendaki Gunung Batur. Meski tak sampai puncak, saya tetap merasakan sensasi yang hebat, seperti pertama kali mengunjunginya. Sabananya, batuan purbanya, embun paginya, asap belerangnya, adalah bagian sedikit keindahannya. Bali mungkin telah berubah, tapi Batur barangkali akan tetap suci dalam hati dan pikiran masyarakat sekitarnya.[T]

Mendaki Gunung Tempat Para Dewa Berstana
Ke Trunyan Kami Mendaki: Melepaskan Beban, Mengeratkan Hubungan
Pendakian Gunung Abang 2.151 Mdpl: Kita Tidak Pantas Mati di Tempat Tidur!
Tags: baliBangliGunung AgungGunung BaturKintamani
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengenal Lebih Dekat Desa Adat Pinge, Desa Wisata Berbasis Tri Hita Karana

Next Post

Penciptaan Gending Selonding untuk Selonding Batur

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Penciptaan Gending Selonding untuk Selonding Batur

Penciptaan Gending Selonding untuk Selonding Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co