13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gunung Batur yang Kesekian Kalinya

Jaswanto by Jaswanto
January 17, 2024
in Esai
Gunung Batur yang Kesekian Kalinya

Jaswanto bersama dua temannya di puncak Gunung Batur | Foto: Dok. Jaswanto

LIBUR Galungan dan Kuningan tahun 2018, di tengah aktivitas kampus yang padat dan terik bulan puasa, untuk pertama kalinya saya mendaki gunung itu.  Seorang teman meyakinkan saya bahwa mendaki gunung adalah aktivitas yang menyenangkan. Saya terpengaruh, meski awalnya sedikit gamang. “Ini gunung tidak tinggi, hanya seribuan mdpl. Cocok bagi pemula,” katanya, meyakinkan.

Waktu itu saya berangkat dengan bekal pengalaman yang minim—bahkan nyaris tak punya. Tapi beberapa teman memberi jaminan bahwa selama pendakian tidak akan ada hal buruk terjadi. “Percayalah,” ucap seorang teman.

Kami mendaki saat orang-orang sedang nyenyak bermimpi. Bintang bertebaran di langit, tapi malam tetap saja gulita. Saya seperti terperangkap di masa lampau, tanpa aliran listrik dan sinyal seluler. Tidak ada yang bisa dikerjakan selain terus berjalan dan bertukar cerita.

Jaswanto di puncak Gunung Batur tahun 2018 / Foto: Dok. Jaswanto

Setapak semakin terjal. Nyaris tak pernah landai. Pinggang Gunung Batur somplak dan berdebu, sementara tanjakannya penuh batu. Jurang dan kaki hanya dipisahkan oleh sejengkal jarak. Benar-benar sejengkal, tanpa pembatas pula. Begitu terjal hingga menuliskan kondisinya saja menguras tenaga.

Namun, anehnya, meski kaki terasa lumpuh, saat perjalanan mendaki menembus kegelapan malam di jalan setapak yang terjal, berpasir, berdebu, licin, berlubang, menanjak, seolah tak berujung telah terlewati, untuk pertama kalinya, saya merasakan sensasi yang hebat.

Saat sampai di puncak Gunung Batur, memotret atau berfoto dengan latar belakang sunrise yang indah, yang tak akan bisa saya lihat di tempat lain, menyatu dengan alam, seperti tak berjarak, di sebuah area yang berdinding kehampaan, merasa kecil, melebur, menggigil di dalam semak di sebuah cekungan lembah, di bawah naungan bintang-gemintang, di antara batu-batu dan rumput-rumput yang basah, dan jauh dari keramaian tentu saja, saya merasakan sebuah perasaan yang belum ternamakan sebelumnya—atau mungkin itulah yang disebut: ketenangan.

Batur adalah satu-satunya gunung di Bali yang saya kunjungi beberapa kali—nyaris tak terhitung bahkan. Meski tak setinggi Gunung Agung atau Gunung Abang, dalam kondisi tertentu, keindahan Batur tak perlu diragukan.

Beberapa pendaki berjalan di atas kaldera Batur tahun 2019 / Foto: Jaswanto

Jajaran kaldera yang menurut dugaan G. Marinelli dan H. Tazieff—dalam L’Ignimbrite et la Caldera de Batur (Bali, Indonesie) ( 1968)—terbentuk sekitar 22.000 tahun yang lalu itu, bagaikan lukisan Hindia Molek, gambaran haru-biru orang Eropa tentang eksotisme Timur.

Konon, pada 30.000 tahun yang lalu, gulungan bubur panas raksasa dari perut Gunung Batur menjalar pelan menuju arah selatan lebih dari 40 kilometer dari bibir puncaknya. Abunya merabunkan pandangan mata karena sangat tebal.

Sekarang, endapan bubur panas itu, juga batuan dan abunya, meninggalkan paras-paras halus di sekitaran Sukawati, hingga lekukan batuan indah di sepanjang Hidden Canyon, Desa Guwang, Kabupaten Gianyar. Jejak letusan Batur juga dapat dinikmati di dinding Tukad Ayung, Air Terjun Tegenungan.

Seorang Peneliti Kaldera Nusantara Badan Geologi Kementerian ESDM Antonius Ratdomopurbo membayangkan tebal dinding bubur panas itu mencapai ketinggian lebih dari 20 meter di Hidden Canyon. “Maka, ketinggian itu mampu menggambarkan betapa muntahan lava Batur tertinggi bisa diperkirakan lebih dari 400 meter,” katanya.

Suasana menjelang pagi di puncak Gunung Batur tahun 2019 / Foto: Jaswanto

Tinggalan Batur, tulis Ayu Sulistyowati dalam “Letusan Gunung Batur Melukis Alam Bali” (2020), yang berbeda dari letusan kaldera Nusantara lainnya adalah kehalusan warna dan tekstur paras atau bisa disebut padas. Di tebing-tebing Sungai Petanu, di Gianyar, tersaji dinding-dinding tebing batuan dengan warna krem kekuningan, terpotong lurus vertikal oleh mesin-mesin gergaji tambang batu.

Ketika sebagian rakyat Indonesia heboh dengan Debat Capres 2019—yang kemudian, seperti biasa, muncul ribut-ribut dan segera memenuhi timeline media sosial tentang perilaku kedua capres, pendapat, dan lain-lain—bersama tiga kawan saya memilih berkendara menuju Gunung Batur. Meninggalkan kota pada akhir pekan, mulai mendaki pada pagi buta. Beberapa bulan setelahnya, bersama teman-teman dari India, saya kembali menyambangi gundukan batu purba setinggi 1717 mdpl itu.

Sebagaimana gunung di Bali pada umumnya, Batur juga dianggap sebagai tempat suci. Menurut keyakinan setempat, gunung purba ini sering disebut “ibu” dari Gunung Agung. Namun, berbeda dengan anggapan tersebut, dalam lontar Candi Supralingga Bhuana—sebagaimana disampaikan I Ketut Sumarta dalam Batur Jantung Peradaban Air Bali (2015)—Agung dan Batur justru dianggap “pasangan”.

Jaswanto bersama teman-teman India-nya di puncak Gunung Batur / Foto: Dok. Jaswanto

Agung adalah purusha (laki-laki) dan Batur adalah pradana (perempuan). Purusha-pradana dalam Agung-Batur senantiasa bersinergi untuk melahirkan kesuburan dan menciptakan kesejahteraan masyarakat. Keduanya menyatu sebagai dwi lingga giri (dwi = dua, lingga = tempat, giri = gunung). Terlepas dari anggapan tersebut, yang jelas, keduanya adalah gunung api (volcano) yang berada dalam lingkaran atau rangkaian Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire).

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, sebagaimana kita ketahui, Gunung Batur adalah tempat tujuan pendakian yang paling diminati di Bali berdasarkan jumlah wisatawan. Setidaknya ada empat sampai enam jalur pendakian dari desa-desa di kakinya. Tapi yang paling dikenal dan umum adalah starting point dari area Pura Jati yang terletak di pinggang Gunung Batur.

Bali telah lama terjerumus ke dalam mangkok salad pariwisata. Sejak Walter Spies melukis pemandangan sebuah pulau yang indah dan eksotis pada tahun 1930-an, sebagaimana ditulis Edward Speirs dalam “Coming to Terms with Change in Bali (and of Bali)” (2022), reputasi sebagai surga telah membayangi Bali.

Berkat alamnya yang asri, sejak dulu Bali masuk radar turis—bahkan pria Meksiko bernama Covarrubias menjulukinya sebagai “the last paradise”. Selain alam, Bali punya ajang kebudayaan dan kesenian yang selalu ramai bukan kepalang. “Kita tidak mungkin melarang orang untuk datang ke sini,” jawab seorang tour guide dengan tenang dan diplomatis. Berbeda dengan Ciptagelar, misalnya, Bali sangat sudi menjadi objek wisata.

Jaswanto bersama kedua sahabatnya di sabana Batur / Foto: Dok. Jaswanto

Namun, jika keindahan adalah sumber daya Bali, kata Speirs, maka itu juga kutukannya. “Kecantikan adalah daya pikat yang otentik namun sekaligus menjadi korban: ‘Cantik itu Luka’, seperti yang dikatakan oleh penulis Indonesia Eka Kurniawan,” sambungnya.

Kintamani, tempat Batur berdiri, tak luput dari radar. Dalam banyak hal, popularitas Kintamani bahkan melebihi Bangli itu sendiri. Bahkan, saking tersohornya, pada 1970-an beredar film berjudul “Kabut di Kintamani” karya Kurnaen Suhardiman. Sedangkan musisi legendaris Indonesia Ebiet G.Ade dengan romantik menulis “…sejuk lembut angin di bukit Kintamani…” pada lirik lagu “Nyanyian Rindu” tahun 1980.

Beberapa orang menyebut puncak kejayaan pariwisata di Kintamani terjadi pada tahun 80-an, saat perpaduan antara pariwisata dan budaya mulai digagas Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Ketika itu dapat melihat kaldera Batur dengan paduan budaya dan tradisi adalah pengalaman yang luar biasa. Namun, seiring waktu berlari, wisata-budaya di Batur mulai ditinggalkan.

Jaswanto sedang memotret di atas kaldera Batur / Foto: Dok. Jaswanto

Wisata kebudayaan di Kintamani kini telah memudar. Mereka tidak lagi lestari. Mereka telah modern. Tetapi, bagaimana mungkin sebuah kebudayaan bisa dilestarikan sementara ia adalah entitas yang terus bergerak? Batur tampaknya terlalu tua dan lelah untuk menjawab.

Sebelum pandemi memorak-porandakan banyak tatanan, bersama beberapa teman, saya kembali mendaki Gunung Batur. Meski tak sampai puncak, saya tetap merasakan sensasi yang hebat, seperti pertama kali mengunjunginya. Sabananya, batuan purbanya, embun paginya, asap belerangnya, adalah bagian sedikit keindahannya. Bali mungkin telah berubah, tapi Batur barangkali akan tetap suci dalam hati dan pikiran masyarakat sekitarnya.[T]

Mendaki Gunung Tempat Para Dewa Berstana
Ke Trunyan Kami Mendaki: Melepaskan Beban, Mengeratkan Hubungan
Pendakian Gunung Abang 2.151 Mdpl: Kita Tidak Pantas Mati di Tempat Tidur!
Tags: baliBangliGunung AgungGunung BaturKintamani
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengenal Lebih Dekat Desa Adat Pinge, Desa Wisata Berbasis Tri Hita Karana

Next Post

Penciptaan Gending Selonding untuk Selonding Batur

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Penciptaan Gending Selonding untuk Selonding Batur

Penciptaan Gending Selonding untuk Selonding Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co