2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gunung Batur yang Kesekian Kalinya

Jaswanto by Jaswanto
January 17, 2024
in Esai
Gunung Batur yang Kesekian Kalinya

Jaswanto bersama dua temannya di puncak Gunung Batur | Foto: Dok. Jaswanto

LIBUR Galungan dan Kuningan tahun 2018, di tengah aktivitas kampus yang padat dan terik bulan puasa, untuk pertama kalinya saya mendaki gunung itu.  Seorang teman meyakinkan saya bahwa mendaki gunung adalah aktivitas yang menyenangkan. Saya terpengaruh, meski awalnya sedikit gamang. “Ini gunung tidak tinggi, hanya seribuan mdpl. Cocok bagi pemula,” katanya, meyakinkan.

Waktu itu saya berangkat dengan bekal pengalaman yang minim—bahkan nyaris tak punya. Tapi beberapa teman memberi jaminan bahwa selama pendakian tidak akan ada hal buruk terjadi. “Percayalah,” ucap seorang teman.

Kami mendaki saat orang-orang sedang nyenyak bermimpi. Bintang bertebaran di langit, tapi malam tetap saja gulita. Saya seperti terperangkap di masa lampau, tanpa aliran listrik dan sinyal seluler. Tidak ada yang bisa dikerjakan selain terus berjalan dan bertukar cerita.

Jaswanto di puncak Gunung Batur tahun 2018 / Foto: Dok. Jaswanto

Setapak semakin terjal. Nyaris tak pernah landai. Pinggang Gunung Batur somplak dan berdebu, sementara tanjakannya penuh batu. Jurang dan kaki hanya dipisahkan oleh sejengkal jarak. Benar-benar sejengkal, tanpa pembatas pula. Begitu terjal hingga menuliskan kondisinya saja menguras tenaga.

Namun, anehnya, meski kaki terasa lumpuh, saat perjalanan mendaki menembus kegelapan malam di jalan setapak yang terjal, berpasir, berdebu, licin, berlubang, menanjak, seolah tak berujung telah terlewati, untuk pertama kalinya, saya merasakan sensasi yang hebat.

Saat sampai di puncak Gunung Batur, memotret atau berfoto dengan latar belakang sunrise yang indah, yang tak akan bisa saya lihat di tempat lain, menyatu dengan alam, seperti tak berjarak, di sebuah area yang berdinding kehampaan, merasa kecil, melebur, menggigil di dalam semak di sebuah cekungan lembah, di bawah naungan bintang-gemintang, di antara batu-batu dan rumput-rumput yang basah, dan jauh dari keramaian tentu saja, saya merasakan sebuah perasaan yang belum ternamakan sebelumnya—atau mungkin itulah yang disebut: ketenangan.

Batur adalah satu-satunya gunung di Bali yang saya kunjungi beberapa kali—nyaris tak terhitung bahkan. Meski tak setinggi Gunung Agung atau Gunung Abang, dalam kondisi tertentu, keindahan Batur tak perlu diragukan.

Beberapa pendaki berjalan di atas kaldera Batur tahun 2019 / Foto: Jaswanto

Jajaran kaldera yang menurut dugaan G. Marinelli dan H. Tazieff—dalam L’Ignimbrite et la Caldera de Batur (Bali, Indonesie) ( 1968)—terbentuk sekitar 22.000 tahun yang lalu itu, bagaikan lukisan Hindia Molek, gambaran haru-biru orang Eropa tentang eksotisme Timur.

Konon, pada 30.000 tahun yang lalu, gulungan bubur panas raksasa dari perut Gunung Batur menjalar pelan menuju arah selatan lebih dari 40 kilometer dari bibir puncaknya. Abunya merabunkan pandangan mata karena sangat tebal.

Sekarang, endapan bubur panas itu, juga batuan dan abunya, meninggalkan paras-paras halus di sekitaran Sukawati, hingga lekukan batuan indah di sepanjang Hidden Canyon, Desa Guwang, Kabupaten Gianyar. Jejak letusan Batur juga dapat dinikmati di dinding Tukad Ayung, Air Terjun Tegenungan.

Seorang Peneliti Kaldera Nusantara Badan Geologi Kementerian ESDM Antonius Ratdomopurbo membayangkan tebal dinding bubur panas itu mencapai ketinggian lebih dari 20 meter di Hidden Canyon. “Maka, ketinggian itu mampu menggambarkan betapa muntahan lava Batur tertinggi bisa diperkirakan lebih dari 400 meter,” katanya.

Suasana menjelang pagi di puncak Gunung Batur tahun 2019 / Foto: Jaswanto

Tinggalan Batur, tulis Ayu Sulistyowati dalam “Letusan Gunung Batur Melukis Alam Bali” (2020), yang berbeda dari letusan kaldera Nusantara lainnya adalah kehalusan warna dan tekstur paras atau bisa disebut padas. Di tebing-tebing Sungai Petanu, di Gianyar, tersaji dinding-dinding tebing batuan dengan warna krem kekuningan, terpotong lurus vertikal oleh mesin-mesin gergaji tambang batu.

Ketika sebagian rakyat Indonesia heboh dengan Debat Capres 2019—yang kemudian, seperti biasa, muncul ribut-ribut dan segera memenuhi timeline media sosial tentang perilaku kedua capres, pendapat, dan lain-lain—bersama tiga kawan saya memilih berkendara menuju Gunung Batur. Meninggalkan kota pada akhir pekan, mulai mendaki pada pagi buta. Beberapa bulan setelahnya, bersama teman-teman dari India, saya kembali menyambangi gundukan batu purba setinggi 1717 mdpl itu.

Sebagaimana gunung di Bali pada umumnya, Batur juga dianggap sebagai tempat suci. Menurut keyakinan setempat, gunung purba ini sering disebut “ibu” dari Gunung Agung. Namun, berbeda dengan anggapan tersebut, dalam lontar Candi Supralingga Bhuana—sebagaimana disampaikan I Ketut Sumarta dalam Batur Jantung Peradaban Air Bali (2015)—Agung dan Batur justru dianggap “pasangan”.

Jaswanto bersama teman-teman India-nya di puncak Gunung Batur / Foto: Dok. Jaswanto

Agung adalah purusha (laki-laki) dan Batur adalah pradana (perempuan). Purusha-pradana dalam Agung-Batur senantiasa bersinergi untuk melahirkan kesuburan dan menciptakan kesejahteraan masyarakat. Keduanya menyatu sebagai dwi lingga giri (dwi = dua, lingga = tempat, giri = gunung). Terlepas dari anggapan tersebut, yang jelas, keduanya adalah gunung api (volcano) yang berada dalam lingkaran atau rangkaian Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire).

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, sebagaimana kita ketahui, Gunung Batur adalah tempat tujuan pendakian yang paling diminati di Bali berdasarkan jumlah wisatawan. Setidaknya ada empat sampai enam jalur pendakian dari desa-desa di kakinya. Tapi yang paling dikenal dan umum adalah starting point dari area Pura Jati yang terletak di pinggang Gunung Batur.

Bali telah lama terjerumus ke dalam mangkok salad pariwisata. Sejak Walter Spies melukis pemandangan sebuah pulau yang indah dan eksotis pada tahun 1930-an, sebagaimana ditulis Edward Speirs dalam “Coming to Terms with Change in Bali (and of Bali)” (2022), reputasi sebagai surga telah membayangi Bali.

Berkat alamnya yang asri, sejak dulu Bali masuk radar turis—bahkan pria Meksiko bernama Covarrubias menjulukinya sebagai “the last paradise”. Selain alam, Bali punya ajang kebudayaan dan kesenian yang selalu ramai bukan kepalang. “Kita tidak mungkin melarang orang untuk datang ke sini,” jawab seorang tour guide dengan tenang dan diplomatis. Berbeda dengan Ciptagelar, misalnya, Bali sangat sudi menjadi objek wisata.

Jaswanto bersama kedua sahabatnya di sabana Batur / Foto: Dok. Jaswanto

Namun, jika keindahan adalah sumber daya Bali, kata Speirs, maka itu juga kutukannya. “Kecantikan adalah daya pikat yang otentik namun sekaligus menjadi korban: ‘Cantik itu Luka’, seperti yang dikatakan oleh penulis Indonesia Eka Kurniawan,” sambungnya.

Kintamani, tempat Batur berdiri, tak luput dari radar. Dalam banyak hal, popularitas Kintamani bahkan melebihi Bangli itu sendiri. Bahkan, saking tersohornya, pada 1970-an beredar film berjudul “Kabut di Kintamani” karya Kurnaen Suhardiman. Sedangkan musisi legendaris Indonesia Ebiet G.Ade dengan romantik menulis “…sejuk lembut angin di bukit Kintamani…” pada lirik lagu “Nyanyian Rindu” tahun 1980.

Beberapa orang menyebut puncak kejayaan pariwisata di Kintamani terjadi pada tahun 80-an, saat perpaduan antara pariwisata dan budaya mulai digagas Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Ketika itu dapat melihat kaldera Batur dengan paduan budaya dan tradisi adalah pengalaman yang luar biasa. Namun, seiring waktu berlari, wisata-budaya di Batur mulai ditinggalkan.

Jaswanto sedang memotret di atas kaldera Batur / Foto: Dok. Jaswanto

Wisata kebudayaan di Kintamani kini telah memudar. Mereka tidak lagi lestari. Mereka telah modern. Tetapi, bagaimana mungkin sebuah kebudayaan bisa dilestarikan sementara ia adalah entitas yang terus bergerak? Batur tampaknya terlalu tua dan lelah untuk menjawab.

Sebelum pandemi memorak-porandakan banyak tatanan, bersama beberapa teman, saya kembali mendaki Gunung Batur. Meski tak sampai puncak, saya tetap merasakan sensasi yang hebat, seperti pertama kali mengunjunginya. Sabananya, batuan purbanya, embun paginya, asap belerangnya, adalah bagian sedikit keindahannya. Bali mungkin telah berubah, tapi Batur barangkali akan tetap suci dalam hati dan pikiran masyarakat sekitarnya.[T]

Mendaki Gunung Tempat Para Dewa Berstana
Ke Trunyan Kami Mendaki: Melepaskan Beban, Mengeratkan Hubungan
Pendakian Gunung Abang 2.151 Mdpl: Kita Tidak Pantas Mati di Tempat Tidur!
Tags: baliBangliGunung AgungGunung BaturKintamani
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengenal Lebih Dekat Desa Adat Pinge, Desa Wisata Berbasis Tri Hita Karana

Next Post

Penciptaan Gending Selonding untuk Selonding Batur

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Penciptaan Gending Selonding untuk Selonding Batur

Penciptaan Gending Selonding untuk Selonding Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co