15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mendaki Gunung Tempat Para Dewa Berstana

Jaswanto by Jaswanto
January 16, 2024
in Tualang
Mendaki Gunung Tempat Para Dewa Berstana

Jaswanto saat turun dari puncak Gunung Agung | Foto: Dok. Jaswanto

“DIRIKAN tenda di sini aja. Di atas jarang ada tempat lapang. Malam juga sudah larut. Sedangkan puncak masih jauh. Nanti, sekitar jam 2-an, kita mendaki sama-sama,” kata Awan. Angin malam berembus mengusap wajah kami, menyelinap di celah-celah batu, dan menggoyangkan vegetasi yang memaksa tumbuh di tanah gersang di lembah Gunung Agung.

Di sekeliling tak ada apa pun kecuali batu-batu besar, semak, dan pipa-pipa saluran air. Puncak masih jauh, tentu saja, meski kami sudah berjalan sekitar tiga jam dari Pura Pasar Agung, membelah belukar penuh duri yang nyaris tak tertembus, melintasi setapak sempit dengan jurang yang curam, susah-payah merunduk melewati bangkai pohon besar yang tumbang, dan dihantui khawatir akan ketersesatan.  

“Berarti kalian salah jalur,” ucap Awan dengan tawa yang mengejek. “Itu jalur lama. Sudah ditutup tiga tahun lalu, sejak erupsi tahun 2017.” Pantas saja. Jalur yang kami—saya, Dziky, Fikri, dan Rina—lewati sejak awal memang terasa janggal dan mengerikan. Selain hanya semak, rumput setinggi tubuh, dan banyak pohon tumbang, tak ada jejak alas kaki, putung rokok, atau bungkus permen. Itu pendakian pertama kami ke Gunung Agung.

Jaswanto berpose di puncak Gunung Agung / Foto: Dok. Jaswanto

Kami mendirikan tenda tepat di sebelah kiri Awan dan kedua temannya duduk sambil bercakap dengan bahasa yang tak kami mengerti. Mereka lebih dulu mendirikan tenda. Perbekalan kami keluarkan. Menyingkirkan kerikil dan menata bawaan. Malam kian larut. Menyelimuti alam Agung beserta isinya. Bayang-bayang batu menghitam seperti raksasa dalam mitologi yang menyeramkan dan penuh misteri. Udara semakin terasa dingin.

Awan dan dua temannya membantu menyalakan api. Pemuda yang baru kami kenal ini mengaku sudah tiga kali mendaki gunung yang disucikan itu. Ia terus saja bercerita tentang situasi darurat dan mencekam saat gunung ini muntah tahun 2017—tiga tahun sebelum kami memacak tenda di sana. Katanya, saat itu, ia dan keluarganya sedikit pun tak peduli dan kepikiran akan harta benda. “Saat itu aku sadar nyawa lebih penting daripada hp kreditan,” sambungnya sambari tertawa.

Mendengar cerita Awan, yang sedikitpun tak bisa saya bayangkan itu, mengingatkan saya akan hilir-mudik berita yang saya baca. Sekitar 122.500 orang dievakuasi dari rumah mereka yang berada di sekitar gunung. Badan Nasional Penanggulangan Bencana Indonesia mendeklarasikan zona eksklusi 12 km dari pusat bencana. Saat itu saya masih kuliah. Dan saya ikut menggalang dana bersama teman-teman mahasiswa lainnya.

Gunung Agung termasuk dalam barisan gunung api yang masih aktif di Indonesia. Jika tidak salah baca, jauh sebelum negara bernama Indonesia ini diproklamasikan, dalam bahasa purba Babad Gumi, Babad Tusan, dan Tattwa Batur Kalawasan, Gunung Agung diperkirakan pernah meletus pada Oktober 1710 sampai Februari 1711.

Letusan ini menjadi yang pertama tercatat dalam sejarah—walaupun dalam Babad Gunung Agung mencatat pertama kali Gunung Agung meletus pada candra sangkala rudira bumi tahun 11 Saka atau 89 Masehi.

Pada tahun itu digambarkan air panas merusak desa-desa seperti Bukit, Caukcuk, Bantas, Kayuaya, Kayupetak, Tanjung, Rijasa, Mandala, Pagametan, serta wilayah lainnya seperti Tamblingan dan sekitarnya.

Seorang ahli botani dari Swiss Heinrich Zollinger mencatat, Gunung Agung kembali meletus pada tahun 1843. Katanya, sebelum meletus, didahului sejumlah gempa bumi, kemudian memuntahkan abu vulkanik, pasir, dan batu apung.

“Setelah lama tidak aktif, tahun ini gunung itu mulai hidup kembali. Pada hari-hari pertama kegiatan, guncangan gempa terasa setelah itu diikuti dengan keluarnya abu, pasir, dan batu,” tulis Heinrich.

Satu abad setelah kematian Heinrich, pada 18 Februari 1963, penduduk lokal mendengar suara letusan keras dan melihat asap tebal keluar secara vertikal dari puncak Gunung Agung. Letusan ini mengeluarkan abu panas dan gas setinggi hampir 20.000 meter. Empat hari setelahnya, lava mulai mengalir turun dari bagian utara gunung. Lava terus mengalir selama 20 hari dan mencapai kejauhan hingga 7 km.

Jaswanto saat perjalanan turun dari puncak Gunung Agung / Foto: Dok. Jaswanto

Pada 17 Maret 1963, Gunung Agung meletus dengan Indeks Letusan sebesar VEI 5 (setara letusan Gunung Vesuvius) dan kembali meletus pada tanggal 17 Mei 1963. Jumlah kematian yang disebabkan seluruh proses letusan Gunung Agung mencapai 1.148 orang dengan 296 orang luka-luka.

Letusan ini dicatat oleh Ida Pedanda Made Sidemen dalam kolopon lontar ‘Pūjā Pañambutan’ yang disalinnya dengan pangéling-éling (pesan pengingat) tentang letusan Gunung Agung tahun 1963, yang diikuti kekacauan politik tahun 1965. Agung, sebuah bisul besar yang memicu kiamat kecil.

“Tapi harus diakui, bahwa Gunung Agung juga berkah bagi kami,” kata teman Awan, memecah kesunyian. Kami semua tersenyum. “Kami percaya, sebagaimana orang tua kami, Gunung Agung adalah tempat suci, tempat para dewa berstana,” katanya lagi. Untuk kalimat yang terakhir ini, dia terlihat bersungguh-sungguh.

Mereka bertiga adalah pemuda Hindu yang lahir pada abad ke-20, di mana dunia sedang menuju peradaban rasional, materialis, dan pragmatis. Namun, meski beberapa filsuf Barat berbuih-buih menolak pernyataan-pernyataan metafisik dan menganggapnya tidak bermakna (non sense), itu sama sekali tidak menggoyahkan kepercayaan mereka atas apa yang telah diajarkan dan diyakini nenek moyangnya dari dulu.

Dalam sejarah peradaban manusia, penyucian gunung tak hanya dilakukan umat Hindu di Bali, bangsa Yunani menganggap Gunung Olimpia sebagai tempat suci, begitu pula Haraberezaiti yang disucikan bangsa Iran, atau Gerizim disucikan bangsa Palestina, dan Golgota di Yerusalem yang disucikan oleh umat Kristiani.

Jaswanto saat perjalanan turun dari puncak Gunung Agung / Foto: Dok. Jaswanto

Api tinggal menyisakan bara yang berada di batas nyala. Asap membumbung seperti Agung yang hendak meletus. Menyatu dengan kepulan tembakau bakar dari mulut kami. Entah berapa batang yang sudah kami hisap. Malam begitu sunyi, seolah tak seekor pun serangga malam berani menggesek sayap.

Meninggalkan Awan dan kedua temannya, saya masuk tenda untuk tidur barang sejenak, sebelum kembali mendaki dini hari nanti. Fikri beranjak sambil menyalakan senter. “Pipis dulu,” katanya. Dia berjalan menjauh dari tempat kami mendirikan tenda. Gelap telah menelannya, hanya terlihat samar cahaya bergerak-gerak di balik batu besar di pinggir jurang.

Waktu bergerak secepat rusa berlari. Pukul dua dinihari, Dziky membangunkan saya. Tampaknya dia sudah mengemas bawaan. Sesaat sebelum rombongan bule beserta guide-nya melintas, kami telah menggulung tenda. Mereka menyapa kami dengan nada berat yang seolah dipaksa, kemudian raib di balik bebatuan besar yang mungkin didiami arwah petapa suci yang moksa.

Selesai berberes, kami berjalan menerabas batu-batu muntahan Agung. Sejak keluar dari hutan, jalur Pura Pasar Agung hanya menyisakan sabana kering, tanah dan pasir hitam, gundukan batu-batu botak. Kehidupan seolah lenyap ditelan lava. Waktu bagai degup jantung yang terus berderu. “Masih lama?” Rina bertanya kepada Awan, pemuda dari Selat yang merantau ke Denpasar dan bekerja sebagai sales.

“Tenang, sebentar lagi sampai,” jawab Awan, tentu tidak sungguh-sungguh. Kelar istirahat sebentar, perjalanan dilanjutkan. “Ini belum setengah jalan,” kata teman Awan. Fisik kembali diuji. Fikri dan Rina memilih berhenti, tak melanjutkan pendakian. Kami meminta mereka untuk menunggu di tempat di mana kami terakhir berbincang.

Atas-bawah: Kawah Gunung Agung; Gumpalan awan di leher Gunung Agung / Foto: Jaswanto

Apa yang dicari seseorang di puncak gunung? Saya masih bertanya. Belasan jam kami menggasak langkah, memaksa tenaga. Seorang pendaki tidak akan mengeluh hanya karena letih, kata Awan mengoceh.

Kami meniti jalan setapak yang berdebu dan menanjak. Jurang-jurang dan batu yang terjal, membuat kami merasa was-was. Tanjakan makin terjal, kabut dan embun mulai saling bertengkar menutupi jarak pandang. Napas saya mulai sesak.

Dziky tertinggal jauh di belakang sana. Sedangkan saya tertinggal jauh oleh rombongan Awan. Sendirian saya berjalan di tengah dunia asing yang tak berpenghuni—dengan batu-batu, pasir, dan suasana purba yang menyelimutinya. Dua jam berselang. Langit berubah terang. Awan putih menggumpal di leher Gunung Agung. Tak ada pohon, tak ada rumput, tak ada edelweiss yang mekar.

Saya berdiri mematung, memunggungi kawah berpasir dan berasap. Angin sangat kencang. Di timur yang jauh, seperti kata Fatris, Rinjani bagai perempuan yang menopang dagu dengan kabut tipis melingkari lehernya. Berteriak, saya memanggil Dziky yang berlari mendekati puncak.

Sebelum turun, sekelebat saya teringat perkataan teman Awan, “Gunung Agung adalah tempat suci, tempat para dewa berstana.” Gumpalan-gumpalan putih—seperti kapas—berarak indah mengelilingi leher Agung. Di sanakah istana para dewa? Saya sudah lelah bertanya.[T]

Ke Trunyan Kami Mendaki: Melepaskan Beban, Mengeratkan Hubungan
Pendakian Gunung Abang 2.151 Mdpl: Kita Tidak Pantas Mati di Tempat Tidur!
Gunung Argo Lasem dan Daun Pisang yang Bergerak Sendiri
Menikmati Gegeni di Desa Ngadiwono di Lereng Bromo
Tags: baliGunung Agungkarangasempetualangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prof Wayan Rai Berpulang, Karya-karya Besarnya Akan Terus Jadi Bahan Pelajaran

Next Post

Mengarungi Lautan Indonesia: Menapaki Surga Banda Neira

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post
Mengarungi Lautan Indonesia: Menapaki Surga Banda Neira

Mengarungi Lautan Indonesia: Menapaki Surga Banda Neira

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co