4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mendaki Gunung Tempat Para Dewa Berstana

Jaswanto by Jaswanto
January 16, 2024
in Tualang
Mendaki Gunung Tempat Para Dewa Berstana

Jaswanto saat turun dari puncak Gunung Agung | Foto: Dok. Jaswanto

“DIRIKAN tenda di sini aja. Di atas jarang ada tempat lapang. Malam juga sudah larut. Sedangkan puncak masih jauh. Nanti, sekitar jam 2-an, kita mendaki sama-sama,” kata Awan. Angin malam berembus mengusap wajah kami, menyelinap di celah-celah batu, dan menggoyangkan vegetasi yang memaksa tumbuh di tanah gersang di lembah Gunung Agung.

Di sekeliling tak ada apa pun kecuali batu-batu besar, semak, dan pipa-pipa saluran air. Puncak masih jauh, tentu saja, meski kami sudah berjalan sekitar tiga jam dari Pura Pasar Agung, membelah belukar penuh duri yang nyaris tak tertembus, melintasi setapak sempit dengan jurang yang curam, susah-payah merunduk melewati bangkai pohon besar yang tumbang, dan dihantui khawatir akan ketersesatan.  

“Berarti kalian salah jalur,” ucap Awan dengan tawa yang mengejek. “Itu jalur lama. Sudah ditutup tiga tahun lalu, sejak erupsi tahun 2017.” Pantas saja. Jalur yang kami—saya, Dziky, Fikri, dan Rina—lewati sejak awal memang terasa janggal dan mengerikan. Selain hanya semak, rumput setinggi tubuh, dan banyak pohon tumbang, tak ada jejak alas kaki, putung rokok, atau bungkus permen. Itu pendakian pertama kami ke Gunung Agung.

Jaswanto berpose di puncak Gunung Agung / Foto: Dok. Jaswanto

Kami mendirikan tenda tepat di sebelah kiri Awan dan kedua temannya duduk sambil bercakap dengan bahasa yang tak kami mengerti. Mereka lebih dulu mendirikan tenda. Perbekalan kami keluarkan. Menyingkirkan kerikil dan menata bawaan. Malam kian larut. Menyelimuti alam Agung beserta isinya. Bayang-bayang batu menghitam seperti raksasa dalam mitologi yang menyeramkan dan penuh misteri. Udara semakin terasa dingin.

Awan dan dua temannya membantu menyalakan api. Pemuda yang baru kami kenal ini mengaku sudah tiga kali mendaki gunung yang disucikan itu. Ia terus saja bercerita tentang situasi darurat dan mencekam saat gunung ini muntah tahun 2017—tiga tahun sebelum kami memacak tenda di sana. Katanya, saat itu, ia dan keluarganya sedikit pun tak peduli dan kepikiran akan harta benda. “Saat itu aku sadar nyawa lebih penting daripada hp kreditan,” sambungnya sambari tertawa.

Mendengar cerita Awan, yang sedikitpun tak bisa saya bayangkan itu, mengingatkan saya akan hilir-mudik berita yang saya baca. Sekitar 122.500 orang dievakuasi dari rumah mereka yang berada di sekitar gunung. Badan Nasional Penanggulangan Bencana Indonesia mendeklarasikan zona eksklusi 12 km dari pusat bencana. Saat itu saya masih kuliah. Dan saya ikut menggalang dana bersama teman-teman mahasiswa lainnya.

Gunung Agung termasuk dalam barisan gunung api yang masih aktif di Indonesia. Jika tidak salah baca, jauh sebelum negara bernama Indonesia ini diproklamasikan, dalam bahasa purba Babad Gumi, Babad Tusan, dan Tattwa Batur Kalawasan, Gunung Agung diperkirakan pernah meletus pada Oktober 1710 sampai Februari 1711.

Letusan ini menjadi yang pertama tercatat dalam sejarah—walaupun dalam Babad Gunung Agung mencatat pertama kali Gunung Agung meletus pada candra sangkala rudira bumi tahun 11 Saka atau 89 Masehi.

Pada tahun itu digambarkan air panas merusak desa-desa seperti Bukit, Caukcuk, Bantas, Kayuaya, Kayupetak, Tanjung, Rijasa, Mandala, Pagametan, serta wilayah lainnya seperti Tamblingan dan sekitarnya.

Seorang ahli botani dari Swiss Heinrich Zollinger mencatat, Gunung Agung kembali meletus pada tahun 1843. Katanya, sebelum meletus, didahului sejumlah gempa bumi, kemudian memuntahkan abu vulkanik, pasir, dan batu apung.

“Setelah lama tidak aktif, tahun ini gunung itu mulai hidup kembali. Pada hari-hari pertama kegiatan, guncangan gempa terasa setelah itu diikuti dengan keluarnya abu, pasir, dan batu,” tulis Heinrich.

Satu abad setelah kematian Heinrich, pada 18 Februari 1963, penduduk lokal mendengar suara letusan keras dan melihat asap tebal keluar secara vertikal dari puncak Gunung Agung. Letusan ini mengeluarkan abu panas dan gas setinggi hampir 20.000 meter. Empat hari setelahnya, lava mulai mengalir turun dari bagian utara gunung. Lava terus mengalir selama 20 hari dan mencapai kejauhan hingga 7 km.

Jaswanto saat perjalanan turun dari puncak Gunung Agung / Foto: Dok. Jaswanto

Pada 17 Maret 1963, Gunung Agung meletus dengan Indeks Letusan sebesar VEI 5 (setara letusan Gunung Vesuvius) dan kembali meletus pada tanggal 17 Mei 1963. Jumlah kematian yang disebabkan seluruh proses letusan Gunung Agung mencapai 1.148 orang dengan 296 orang luka-luka.

Letusan ini dicatat oleh Ida Pedanda Made Sidemen dalam kolopon lontar ‘Pūjā Pañambutan’ yang disalinnya dengan pangéling-éling (pesan pengingat) tentang letusan Gunung Agung tahun 1963, yang diikuti kekacauan politik tahun 1965. Agung, sebuah bisul besar yang memicu kiamat kecil.

“Tapi harus diakui, bahwa Gunung Agung juga berkah bagi kami,” kata teman Awan, memecah kesunyian. Kami semua tersenyum. “Kami percaya, sebagaimana orang tua kami, Gunung Agung adalah tempat suci, tempat para dewa berstana,” katanya lagi. Untuk kalimat yang terakhir ini, dia terlihat bersungguh-sungguh.

Mereka bertiga adalah pemuda Hindu yang lahir pada abad ke-20, di mana dunia sedang menuju peradaban rasional, materialis, dan pragmatis. Namun, meski beberapa filsuf Barat berbuih-buih menolak pernyataan-pernyataan metafisik dan menganggapnya tidak bermakna (non sense), itu sama sekali tidak menggoyahkan kepercayaan mereka atas apa yang telah diajarkan dan diyakini nenek moyangnya dari dulu.

Dalam sejarah peradaban manusia, penyucian gunung tak hanya dilakukan umat Hindu di Bali, bangsa Yunani menganggap Gunung Olimpia sebagai tempat suci, begitu pula Haraberezaiti yang disucikan bangsa Iran, atau Gerizim disucikan bangsa Palestina, dan Golgota di Yerusalem yang disucikan oleh umat Kristiani.

Jaswanto saat perjalanan turun dari puncak Gunung Agung / Foto: Dok. Jaswanto

Api tinggal menyisakan bara yang berada di batas nyala. Asap membumbung seperti Agung yang hendak meletus. Menyatu dengan kepulan tembakau bakar dari mulut kami. Entah berapa batang yang sudah kami hisap. Malam begitu sunyi, seolah tak seekor pun serangga malam berani menggesek sayap.

Meninggalkan Awan dan kedua temannya, saya masuk tenda untuk tidur barang sejenak, sebelum kembali mendaki dini hari nanti. Fikri beranjak sambil menyalakan senter. “Pipis dulu,” katanya. Dia berjalan menjauh dari tempat kami mendirikan tenda. Gelap telah menelannya, hanya terlihat samar cahaya bergerak-gerak di balik batu besar di pinggir jurang.

Waktu bergerak secepat rusa berlari. Pukul dua dinihari, Dziky membangunkan saya. Tampaknya dia sudah mengemas bawaan. Sesaat sebelum rombongan bule beserta guide-nya melintas, kami telah menggulung tenda. Mereka menyapa kami dengan nada berat yang seolah dipaksa, kemudian raib di balik bebatuan besar yang mungkin didiami arwah petapa suci yang moksa.

Selesai berberes, kami berjalan menerabas batu-batu muntahan Agung. Sejak keluar dari hutan, jalur Pura Pasar Agung hanya menyisakan sabana kering, tanah dan pasir hitam, gundukan batu-batu botak. Kehidupan seolah lenyap ditelan lava. Waktu bagai degup jantung yang terus berderu. “Masih lama?” Rina bertanya kepada Awan, pemuda dari Selat yang merantau ke Denpasar dan bekerja sebagai sales.

“Tenang, sebentar lagi sampai,” jawab Awan, tentu tidak sungguh-sungguh. Kelar istirahat sebentar, perjalanan dilanjutkan. “Ini belum setengah jalan,” kata teman Awan. Fisik kembali diuji. Fikri dan Rina memilih berhenti, tak melanjutkan pendakian. Kami meminta mereka untuk menunggu di tempat di mana kami terakhir berbincang.

Atas-bawah: Kawah Gunung Agung; Gumpalan awan di leher Gunung Agung / Foto: Jaswanto

Apa yang dicari seseorang di puncak gunung? Saya masih bertanya. Belasan jam kami menggasak langkah, memaksa tenaga. Seorang pendaki tidak akan mengeluh hanya karena letih, kata Awan mengoceh.

Kami meniti jalan setapak yang berdebu dan menanjak. Jurang-jurang dan batu yang terjal, membuat kami merasa was-was. Tanjakan makin terjal, kabut dan embun mulai saling bertengkar menutupi jarak pandang. Napas saya mulai sesak.

Dziky tertinggal jauh di belakang sana. Sedangkan saya tertinggal jauh oleh rombongan Awan. Sendirian saya berjalan di tengah dunia asing yang tak berpenghuni—dengan batu-batu, pasir, dan suasana purba yang menyelimutinya. Dua jam berselang. Langit berubah terang. Awan putih menggumpal di leher Gunung Agung. Tak ada pohon, tak ada rumput, tak ada edelweiss yang mekar.

Saya berdiri mematung, memunggungi kawah berpasir dan berasap. Angin sangat kencang. Di timur yang jauh, seperti kata Fatris, Rinjani bagai perempuan yang menopang dagu dengan kabut tipis melingkari lehernya. Berteriak, saya memanggil Dziky yang berlari mendekati puncak.

Sebelum turun, sekelebat saya teringat perkataan teman Awan, “Gunung Agung adalah tempat suci, tempat para dewa berstana.” Gumpalan-gumpalan putih—seperti kapas—berarak indah mengelilingi leher Agung. Di sanakah istana para dewa? Saya sudah lelah bertanya.[T]

Ke Trunyan Kami Mendaki: Melepaskan Beban, Mengeratkan Hubungan
Pendakian Gunung Abang 2.151 Mdpl: Kita Tidak Pantas Mati di Tempat Tidur!
Gunung Argo Lasem dan Daun Pisang yang Bergerak Sendiri
Menikmati Gegeni di Desa Ngadiwono di Lereng Bromo
Tags: baliGunung Agungkarangasempetualangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prof Wayan Rai Berpulang, Karya-karya Besarnya Akan Terus Jadi Bahan Pelajaran

Next Post

Mengarungi Lautan Indonesia: Menapaki Surga Banda Neira

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails
Next Post
Mengarungi Lautan Indonesia: Menapaki Surga Banda Neira

Mengarungi Lautan Indonesia: Menapaki Surga Banda Neira

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co