25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mendaki Gunung Tempat Para Dewa Berstana

Jaswanto by Jaswanto
January 16, 2024
in Tualang
Mendaki Gunung Tempat Para Dewa Berstana

Jaswanto saat turun dari puncak Gunung Agung | Foto: Dok. Jaswanto

“DIRIKAN tenda di sini aja. Di atas jarang ada tempat lapang. Malam juga sudah larut. Sedangkan puncak masih jauh. Nanti, sekitar jam 2-an, kita mendaki sama-sama,” kata Awan. Angin malam berembus mengusap wajah kami, menyelinap di celah-celah batu, dan menggoyangkan vegetasi yang memaksa tumbuh di tanah gersang di lembah Gunung Agung.

Di sekeliling tak ada apa pun kecuali batu-batu besar, semak, dan pipa-pipa saluran air. Puncak masih jauh, tentu saja, meski kami sudah berjalan sekitar tiga jam dari Pura Pasar Agung, membelah belukar penuh duri yang nyaris tak tertembus, melintasi setapak sempit dengan jurang yang curam, susah-payah merunduk melewati bangkai pohon besar yang tumbang, dan dihantui khawatir akan ketersesatan.  

“Berarti kalian salah jalur,” ucap Awan dengan tawa yang mengejek. “Itu jalur lama. Sudah ditutup tiga tahun lalu, sejak erupsi tahun 2017.” Pantas saja. Jalur yang kami—saya, Dziky, Fikri, dan Rina—lewati sejak awal memang terasa janggal dan mengerikan. Selain hanya semak, rumput setinggi tubuh, dan banyak pohon tumbang, tak ada jejak alas kaki, putung rokok, atau bungkus permen. Itu pendakian pertama kami ke Gunung Agung.

Jaswanto berpose di puncak Gunung Agung / Foto: Dok. Jaswanto

Kami mendirikan tenda tepat di sebelah kiri Awan dan kedua temannya duduk sambil bercakap dengan bahasa yang tak kami mengerti. Mereka lebih dulu mendirikan tenda. Perbekalan kami keluarkan. Menyingkirkan kerikil dan menata bawaan. Malam kian larut. Menyelimuti alam Agung beserta isinya. Bayang-bayang batu menghitam seperti raksasa dalam mitologi yang menyeramkan dan penuh misteri. Udara semakin terasa dingin.

Awan dan dua temannya membantu menyalakan api. Pemuda yang baru kami kenal ini mengaku sudah tiga kali mendaki gunung yang disucikan itu. Ia terus saja bercerita tentang situasi darurat dan mencekam saat gunung ini muntah tahun 2017—tiga tahun sebelum kami memacak tenda di sana. Katanya, saat itu, ia dan keluarganya sedikit pun tak peduli dan kepikiran akan harta benda. “Saat itu aku sadar nyawa lebih penting daripada hp kreditan,” sambungnya sambari tertawa.

Mendengar cerita Awan, yang sedikitpun tak bisa saya bayangkan itu, mengingatkan saya akan hilir-mudik berita yang saya baca. Sekitar 122.500 orang dievakuasi dari rumah mereka yang berada di sekitar gunung. Badan Nasional Penanggulangan Bencana Indonesia mendeklarasikan zona eksklusi 12 km dari pusat bencana. Saat itu saya masih kuliah. Dan saya ikut menggalang dana bersama teman-teman mahasiswa lainnya.

Gunung Agung termasuk dalam barisan gunung api yang masih aktif di Indonesia. Jika tidak salah baca, jauh sebelum negara bernama Indonesia ini diproklamasikan, dalam bahasa purba Babad Gumi, Babad Tusan, dan Tattwa Batur Kalawasan, Gunung Agung diperkirakan pernah meletus pada Oktober 1710 sampai Februari 1711.

Letusan ini menjadi yang pertama tercatat dalam sejarah—walaupun dalam Babad Gunung Agung mencatat pertama kali Gunung Agung meletus pada candra sangkala rudira bumi tahun 11 Saka atau 89 Masehi.

Pada tahun itu digambarkan air panas merusak desa-desa seperti Bukit, Caukcuk, Bantas, Kayuaya, Kayupetak, Tanjung, Rijasa, Mandala, Pagametan, serta wilayah lainnya seperti Tamblingan dan sekitarnya.

Seorang ahli botani dari Swiss Heinrich Zollinger mencatat, Gunung Agung kembali meletus pada tahun 1843. Katanya, sebelum meletus, didahului sejumlah gempa bumi, kemudian memuntahkan abu vulkanik, pasir, dan batu apung.

“Setelah lama tidak aktif, tahun ini gunung itu mulai hidup kembali. Pada hari-hari pertama kegiatan, guncangan gempa terasa setelah itu diikuti dengan keluarnya abu, pasir, dan batu,” tulis Heinrich.

Satu abad setelah kematian Heinrich, pada 18 Februari 1963, penduduk lokal mendengar suara letusan keras dan melihat asap tebal keluar secara vertikal dari puncak Gunung Agung. Letusan ini mengeluarkan abu panas dan gas setinggi hampir 20.000 meter. Empat hari setelahnya, lava mulai mengalir turun dari bagian utara gunung. Lava terus mengalir selama 20 hari dan mencapai kejauhan hingga 7 km.

Jaswanto saat perjalanan turun dari puncak Gunung Agung / Foto: Dok. Jaswanto

Pada 17 Maret 1963, Gunung Agung meletus dengan Indeks Letusan sebesar VEI 5 (setara letusan Gunung Vesuvius) dan kembali meletus pada tanggal 17 Mei 1963. Jumlah kematian yang disebabkan seluruh proses letusan Gunung Agung mencapai 1.148 orang dengan 296 orang luka-luka.

Letusan ini dicatat oleh Ida Pedanda Made Sidemen dalam kolopon lontar ‘Pūjā Pañambutan’ yang disalinnya dengan pangéling-éling (pesan pengingat) tentang letusan Gunung Agung tahun 1963, yang diikuti kekacauan politik tahun 1965. Agung, sebuah bisul besar yang memicu kiamat kecil.

“Tapi harus diakui, bahwa Gunung Agung juga berkah bagi kami,” kata teman Awan, memecah kesunyian. Kami semua tersenyum. “Kami percaya, sebagaimana orang tua kami, Gunung Agung adalah tempat suci, tempat para dewa berstana,” katanya lagi. Untuk kalimat yang terakhir ini, dia terlihat bersungguh-sungguh.

Mereka bertiga adalah pemuda Hindu yang lahir pada abad ke-20, di mana dunia sedang menuju peradaban rasional, materialis, dan pragmatis. Namun, meski beberapa filsuf Barat berbuih-buih menolak pernyataan-pernyataan metafisik dan menganggapnya tidak bermakna (non sense), itu sama sekali tidak menggoyahkan kepercayaan mereka atas apa yang telah diajarkan dan diyakini nenek moyangnya dari dulu.

Dalam sejarah peradaban manusia, penyucian gunung tak hanya dilakukan umat Hindu di Bali, bangsa Yunani menganggap Gunung Olimpia sebagai tempat suci, begitu pula Haraberezaiti yang disucikan bangsa Iran, atau Gerizim disucikan bangsa Palestina, dan Golgota di Yerusalem yang disucikan oleh umat Kristiani.

Jaswanto saat perjalanan turun dari puncak Gunung Agung / Foto: Dok. Jaswanto

Api tinggal menyisakan bara yang berada di batas nyala. Asap membumbung seperti Agung yang hendak meletus. Menyatu dengan kepulan tembakau bakar dari mulut kami. Entah berapa batang yang sudah kami hisap. Malam begitu sunyi, seolah tak seekor pun serangga malam berani menggesek sayap.

Meninggalkan Awan dan kedua temannya, saya masuk tenda untuk tidur barang sejenak, sebelum kembali mendaki dini hari nanti. Fikri beranjak sambil menyalakan senter. “Pipis dulu,” katanya. Dia berjalan menjauh dari tempat kami mendirikan tenda. Gelap telah menelannya, hanya terlihat samar cahaya bergerak-gerak di balik batu besar di pinggir jurang.

Waktu bergerak secepat rusa berlari. Pukul dua dinihari, Dziky membangunkan saya. Tampaknya dia sudah mengemas bawaan. Sesaat sebelum rombongan bule beserta guide-nya melintas, kami telah menggulung tenda. Mereka menyapa kami dengan nada berat yang seolah dipaksa, kemudian raib di balik bebatuan besar yang mungkin didiami arwah petapa suci yang moksa.

Selesai berberes, kami berjalan menerabas batu-batu muntahan Agung. Sejak keluar dari hutan, jalur Pura Pasar Agung hanya menyisakan sabana kering, tanah dan pasir hitam, gundukan batu-batu botak. Kehidupan seolah lenyap ditelan lava. Waktu bagai degup jantung yang terus berderu. “Masih lama?” Rina bertanya kepada Awan, pemuda dari Selat yang merantau ke Denpasar dan bekerja sebagai sales.

“Tenang, sebentar lagi sampai,” jawab Awan, tentu tidak sungguh-sungguh. Kelar istirahat sebentar, perjalanan dilanjutkan. “Ini belum setengah jalan,” kata teman Awan. Fisik kembali diuji. Fikri dan Rina memilih berhenti, tak melanjutkan pendakian. Kami meminta mereka untuk menunggu di tempat di mana kami terakhir berbincang.

Atas-bawah: Kawah Gunung Agung; Gumpalan awan di leher Gunung Agung / Foto: Jaswanto

Apa yang dicari seseorang di puncak gunung? Saya masih bertanya. Belasan jam kami menggasak langkah, memaksa tenaga. Seorang pendaki tidak akan mengeluh hanya karena letih, kata Awan mengoceh.

Kami meniti jalan setapak yang berdebu dan menanjak. Jurang-jurang dan batu yang terjal, membuat kami merasa was-was. Tanjakan makin terjal, kabut dan embun mulai saling bertengkar menutupi jarak pandang. Napas saya mulai sesak.

Dziky tertinggal jauh di belakang sana. Sedangkan saya tertinggal jauh oleh rombongan Awan. Sendirian saya berjalan di tengah dunia asing yang tak berpenghuni—dengan batu-batu, pasir, dan suasana purba yang menyelimutinya. Dua jam berselang. Langit berubah terang. Awan putih menggumpal di leher Gunung Agung. Tak ada pohon, tak ada rumput, tak ada edelweiss yang mekar.

Saya berdiri mematung, memunggungi kawah berpasir dan berasap. Angin sangat kencang. Di timur yang jauh, seperti kata Fatris, Rinjani bagai perempuan yang menopang dagu dengan kabut tipis melingkari lehernya. Berteriak, saya memanggil Dziky yang berlari mendekati puncak.

Sebelum turun, sekelebat saya teringat perkataan teman Awan, “Gunung Agung adalah tempat suci, tempat para dewa berstana.” Gumpalan-gumpalan putih—seperti kapas—berarak indah mengelilingi leher Agung. Di sanakah istana para dewa? Saya sudah lelah bertanya.[T]

Ke Trunyan Kami Mendaki: Melepaskan Beban, Mengeratkan Hubungan
Pendakian Gunung Abang 2.151 Mdpl: Kita Tidak Pantas Mati di Tempat Tidur!
Gunung Argo Lasem dan Daun Pisang yang Bergerak Sendiri
Menikmati Gegeni di Desa Ngadiwono di Lereng Bromo
Tags: baliGunung Agungkarangasempetualangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prof Wayan Rai Berpulang, Karya-karya Besarnya Akan Terus Jadi Bahan Pelajaran

Next Post

Mengarungi Lautan Indonesia: Menapaki Surga Banda Neira

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails
Next Post
Mengarungi Lautan Indonesia: Menapaki Surga Banda Neira

Mengarungi Lautan Indonesia: Menapaki Surga Banda Neira

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co