24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lelaki Dalam Kamar Pacarnya  | Cerpen Depri Ajopan

Depri Ajopan by Depri Ajopan
October 29, 2023
in Cerpen
Lelaki Dalam Kamar Pacarnya  | Cerpen Depri Ajopan

Ilustrasi tatkala.co

AKU mengecup keningnya dalam kamar itu. Nafsuku yang brutal mulai bergejolak. Apalagi setelah aku melihat cinta di matanya. Diriku jadi rusuh. Aku suruh ia berbaring, lalu mendekapnya erat. Aku tidak mau ia pergi. Aku ingin ia selalu ada dalam pelukanku.

“Apa yang kamu tidak sukai dari aku,” tanyanya. Matanya menatap ke atas loteng.

“Hal yang tidak aku sukai dari kamu, ketika kamu tidak lagi menyukai aku,” jawabku.

Ia belum juga membalas pelukanku. Tanganku yang gatal menjelajah ke bagian tubuhnya yang lain, sampai aku menyentuh auratnya paling aurat, lalu menjalar lagi berhenti pas di bagian susunya.

Ia hanya menggigit bibirnya, pelan-pelan ia menyingkirkan tanganku yang menempel di dadanya.

“Aku tidak mau kau  memperlakukan aku berlebihan seperti ini, perbuatan tidak benar. Jika aku menerimamu sebagai pacar, dan menyeretmu dalam kamarku ini untuk tidur bersama, bukan berarti aku siap dicicipi, cukup kau memelukku. Kau jangan memandang rendah diriku sebagai seorang perempuan, kau tidak boleh macam-macam!”

Aku tak mengerti, kenapa tiba-tiba ia merongrongku seperti itu. Aku memperlakukannya seperti seorang kekasih yang baru bertemu setelah lama menunggu. Dan memang aku dan dia sudah lama tidak bertemu.

Selama ini ia kuliah di luar negeri. Tiga hari setelah kedatangannya, tiba-tiba ayah dan ibunya ada keperluan ke luar kota, tinggal ia sendiri di rumah. Aku begitu merindukannya selama ini. Sebelum ia datang, aku juga pernah bilang berkali-kali, aku harus mencium dan memelukmu, bahkan lebih dari itu.

Aku yakin ia mengerti maksudku. Dan ia jawab, aku yang duluan memelukmu nanti. Dan akhirnya terjadi peperangan seperti ini.

 “Aku tidak mau kalau kau hanya mencintai tubuhku, tapi tidak dengan hatiku!”

Kenapa ia menuduhku sejauh itu. Dulu juga aku pernah memperlakukan dia lebih dari ini, tapi ia diam, tak ada berkoar sepatah kata pun. Kenapa ia sekarang berubah seperti ini? Dan ia bilang, ia mengajakku ke dalam kamarnya berduaan untuk berbagi cerita.

“Kalau sekadar memeluk, cium kening dan pipi silakan, lebih dari itu jangan!” ucapnya menatapku tajam.

 “Sekali lagi kukatakan, jika kau  ingin melakukan kemesraan denganku, cukup peluk, dan kau boleh memegang kedua tanganku, sambil mencium keningku, tapi ingat tak lebih dari itu, tak lebih dari itu!”

Dari situ aku baru tahu, apa syaratnya supaya aku boleh masuk dalam kamarnya ini.

“Kenapa waktu itu ketika aku meminta akan memelukmu, dan memperlakukanmu lebih dari itu,  kau mengindahkannya?” kataku.

Aku harus memperjelas kenapa ia memperlakukanku seperti ini.

 “Karena aku merasa kaulah yang akan menjadi suamiku nanti,” jawabnya.

“Maksudmu? Bukankah aku sudah melakukannya denganmu?”

 “Saat itu aku yakin, suatu saat kau akan jadi suamiku!”

 “Sekarang?”

 “Tidak.”

Aku terkejut mendengar pengakuannya. “Kenapa?”

Ia terdiam, sepertinya ada yang ingin ia sampaikan, tapi mungkin belum saat yang tepat jika ia utarakan sekarang. Sebelum aku menanggapi pernyataan tidaknya itu, ia sudah mendahuluiku.

“Kau seorang ustaz, tak mungkin mau melakukan hal buruk seperti itu, ternyata aku salah!”

Aku tidak tahu apa maksud dari kata-katanya itu, yang jelas aku lulusan pondok pesantren, dihancurkannya nuraniku. Bukankah dari dulu aku melakukannya, kenapa baru sekarang ia persoalkan. Dadaku serasa retak mendengar ungkapannya itu.

 “Kalau saja aku menuruti kemauanmu bisa jadi kau melucutiku di sini, tak seharusnya kau melakukan itu, kau seorang ustaz!”

Lagi-lagi ia menyinggungku. Aku malu pada diriku, malu pada wanita itu, dan entah malu pada Tuhan. Kalau saja aku malu pada Tuhan, tak mungkin aku berani menerobos masuk ke dalam kamar seorang perempuan yang belum halal melepas kerinduanku dengan pelukan. Harusnya kupingku tak harus panas mendengar nasihat-nasihatnya untukku.

“Bukankah kau sering bilang padaku, kau tidak suka melihat perempuan yang tidak bisa menjaga harga dirinya?”

Aku teringat obrolan yang panjang waktu itu sampai larut malam. Dan ia menangis mendengar wejanganku, seolah ia perempuan yang sudah tercederai sekujur tubuhnya. Aku bangkit dari tempat tidur, minta izin pergi.

 “Kau di sini saja, tidurlah bersamaku sampai datang waktu pagi. Tapi ingat, kau tidak boleh macam-macam!”

Ia menarik tanganku, meletaknya di atas dadanya, menyuruhku memeluknya erat dalam selimut itu, aku mengikuti perintahnya. Dan tak lama kemudian ia pun tertidur membelakangiku.       

 * ***

Pagi yang cerah, aku melangkah meninggalkan rumah itu. Diam-diam aku pergi tanpa sepengetahuan Niken, pacarku itu. Sesampai di rumah, aku ditelepon. Ia tanya kenapa aku pulang sementara ia tidak dibangunkan.

 “Aku ingin selama orang tuaku masih di luar kota, aku maunya kamu tidur di kamarku, ini kesempatan untuk kita bersmesraan,” pintanya pada obrolan lewat telpon itu.

Aku diam.

 “Kau marah ya, dengan kata-kataku tadi malam?”

Mendengar aku diam ia tahu aku menyimpan sesuatu dalam hati.

 “Sekarang kamu boleh memperlakukan aku lebih dari sekadar pelukan!”

Aku tidak senang lagi mendengar kata-katanya. Kelakuannya malam itu membuatku punya pemikiran aneh pada dirinya, yang mebuatku resah. Ia memandang diriku lelaki bobrok yang hanya mencintai tubuhnya semata, tidak dengan hatinya. Kuakui, dalam memerangi hawa nafsu malam itu, aku kalah dan terpatahkan setan. Aku pernah diajarkan seorang guru, jika seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berduaan dalam tempat yang mengundang sahwat, apalagi dalam kamar, yang ketiganya adalah setan. Aku melihat setan itu dalam diriku malam itu.

Setan itu sedang tertawa renyai melihatku memeluk seorang wanita yang belum halal untukku, dan selama ini aku tidak pernah melakukannya pada perempuan mana pun, kecuali pada Niken. Setan menang, dan aku terkalahkan.

Tapi setelah perempuan itu mengeluarkan kata-kata yang menyayat hatiku, setan mulai ketakutan, ia khawatir aksinya yang menjerumuskanku dan perempuan itu pada perzinaan paling puncak gagal. Dari ucapannya yang membabi buta itu, aku menyimpulkan ia menganggapku laki-laki yang kehadirannya hanya untuk menggores tubuhnya yang lembut, dan setelah itu aku akan pergi meninggalkannya yang sudah terludahi kesuciannya.

 “Aku tidak bisa lagi datang ke rumahmu, apalagi masuk ke dalam kamarmu,” ucapku sambil menutup telepon.

Setan keparat yang terus mengikutiku itu pun menangis. Sesampai di rumah aku siap-siap mandi, terus berangkat ke tempat kerja di sebuah hotel dekat dari bandara Sultan Syarif Kasim. Aku baru dapat pekerjaan freelence, sebagai seorang pelayan di hotel itu. Jika ada acara saja aku bekerja, itu pun jika aku menolak karena ada kesibukan lain, dan itu tidak masalah. Ini sebagai pekerjaan tambahan saja, selain sehari-hari aku jadi teknisi lepas untuk service AC di rumah-rumah.

Mengenai pekerjaan baruku ini sengaja aku tidak cerita sama Niken. Aku memakai baju putih lengan panjang, ditutup dengan rompi hitam, dan memakai celana dengan warna yang sama, sepatu juga wajib warna hitam. Acara pertemuan para pengusaha itu di lantai dua. Aku sibuk mempersiapkan segalanya, meletakkan meja, menyusun kursi, dan mengangkat piring-piring, meletakkannya rapi di atas meja itu setelah dilap.

Waktu aku masih sibuk, dan acara hampir dimulai, tak sengaja aku menoleh ke kiri bertemu dengan teman lama yang sudah sukses. Aku ingin menyapanya, tapi terpaksa aku urungkan niat, setelah melihat teman lamaku itu bersama Niken. Mereka bergandengan tangan menunjukkan kemesraan pada orang-orang layaknya suami istri.

Aku yang terlanjur sakit hati sudah berpikir jauh, di depan keramaian saja mereka bermesraan. Apalagi ketika berduaan. Aku yakin mereka akan tidur di hotel ini berduaan. Ia bukan saja memeluk Niken, tapi sudah melakukan yang lebih intim. Aku tahu Niken juga mencintaiku dengan perasaannya, tapi mungkin sebagai cadangan untuk menemani hari-harinya jika dibutuhkan.

Ternyata inilah jawabannya, kenapa ia berubah. Dalam persaingan cinta ini, aku pasti kalah. Bukan kerena kurang tampan, tapi tidak bermodal. Sekuat apapun kau mencintai seorang perempuan, kau biasanya akan tersingkir seperti bangkai busuk oleh lawan mainmu jika hartanya lebih melimpah dari kamu.

Aku tidak fokus lagi bekerja pada hari pertama itu. Aku terpaksa menyelip-nyelipkan diri, agar mereka tidak melihatku. Tapi aku tidak berhasil, aku disuruh mengantar makanan ke atas meja mereka. [T]      

  • BACA CERPEN-CERPEN LAIN
Saklon | Cerpen Sonhaji Abdullah
Cinta dan Ilusi | Cerpen Ikrom F.
Perempuan di Bawah Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten

   

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Rusdy Ulu | Keruh, Gelisah, Propaganda

Next Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (1) : Mengulang Pemuliaan Danau 104 Tahun Lalu

Depri Ajopan

Depri Ajopan

Menyelesaikan S-1 Prodi Sastra Indonesia di UNP. Sudah menulis beberapa karya fiksi dan sudah diterbitkan. Cerpennya pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Sekarang penulis aktif di Komunitas Suku Seni Riau.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (1) : Mengulang Pemuliaan Danau 104 Tahun Lalu

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (1) : Mengulang Pemuliaan Danau 104 Tahun Lalu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co