12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lelaki Dalam Kamar Pacarnya  | Cerpen Depri Ajopan

Depri Ajopan by Depri Ajopan
October 29, 2023
in Cerpen
Lelaki Dalam Kamar Pacarnya  | Cerpen Depri Ajopan

Ilustrasi tatkala.co

AKU mengecup keningnya dalam kamar itu. Nafsuku yang brutal mulai bergejolak. Apalagi setelah aku melihat cinta di matanya. Diriku jadi rusuh. Aku suruh ia berbaring, lalu mendekapnya erat. Aku tidak mau ia pergi. Aku ingin ia selalu ada dalam pelukanku.

“Apa yang kamu tidak sukai dari aku,” tanyanya. Matanya menatap ke atas loteng.

“Hal yang tidak aku sukai dari kamu, ketika kamu tidak lagi menyukai aku,” jawabku.

Ia belum juga membalas pelukanku. Tanganku yang gatal menjelajah ke bagian tubuhnya yang lain, sampai aku menyentuh auratnya paling aurat, lalu menjalar lagi berhenti pas di bagian susunya.

Ia hanya menggigit bibirnya, pelan-pelan ia menyingkirkan tanganku yang menempel di dadanya.

“Aku tidak mau kau  memperlakukan aku berlebihan seperti ini, perbuatan tidak benar. Jika aku menerimamu sebagai pacar, dan menyeretmu dalam kamarku ini untuk tidur bersama, bukan berarti aku siap dicicipi, cukup kau memelukku. Kau jangan memandang rendah diriku sebagai seorang perempuan, kau tidak boleh macam-macam!”

Aku tak mengerti, kenapa tiba-tiba ia merongrongku seperti itu. Aku memperlakukannya seperti seorang kekasih yang baru bertemu setelah lama menunggu. Dan memang aku dan dia sudah lama tidak bertemu.

Selama ini ia kuliah di luar negeri. Tiga hari setelah kedatangannya, tiba-tiba ayah dan ibunya ada keperluan ke luar kota, tinggal ia sendiri di rumah. Aku begitu merindukannya selama ini. Sebelum ia datang, aku juga pernah bilang berkali-kali, aku harus mencium dan memelukmu, bahkan lebih dari itu.

Aku yakin ia mengerti maksudku. Dan ia jawab, aku yang duluan memelukmu nanti. Dan akhirnya terjadi peperangan seperti ini.

 “Aku tidak mau kalau kau hanya mencintai tubuhku, tapi tidak dengan hatiku!”

Kenapa ia menuduhku sejauh itu. Dulu juga aku pernah memperlakukan dia lebih dari ini, tapi ia diam, tak ada berkoar sepatah kata pun. Kenapa ia sekarang berubah seperti ini? Dan ia bilang, ia mengajakku ke dalam kamarnya berduaan untuk berbagi cerita.

“Kalau sekadar memeluk, cium kening dan pipi silakan, lebih dari itu jangan!” ucapnya menatapku tajam.

 “Sekali lagi kukatakan, jika kau  ingin melakukan kemesraan denganku, cukup peluk, dan kau boleh memegang kedua tanganku, sambil mencium keningku, tapi ingat tak lebih dari itu, tak lebih dari itu!”

Dari situ aku baru tahu, apa syaratnya supaya aku boleh masuk dalam kamarnya ini.

“Kenapa waktu itu ketika aku meminta akan memelukmu, dan memperlakukanmu lebih dari itu,  kau mengindahkannya?” kataku.

Aku harus memperjelas kenapa ia memperlakukanku seperti ini.

 “Karena aku merasa kaulah yang akan menjadi suamiku nanti,” jawabnya.

“Maksudmu? Bukankah aku sudah melakukannya denganmu?”

 “Saat itu aku yakin, suatu saat kau akan jadi suamiku!”

 “Sekarang?”

 “Tidak.”

Aku terkejut mendengar pengakuannya. “Kenapa?”

Ia terdiam, sepertinya ada yang ingin ia sampaikan, tapi mungkin belum saat yang tepat jika ia utarakan sekarang. Sebelum aku menanggapi pernyataan tidaknya itu, ia sudah mendahuluiku.

“Kau seorang ustaz, tak mungkin mau melakukan hal buruk seperti itu, ternyata aku salah!”

Aku tidak tahu apa maksud dari kata-katanya itu, yang jelas aku lulusan pondok pesantren, dihancurkannya nuraniku. Bukankah dari dulu aku melakukannya, kenapa baru sekarang ia persoalkan. Dadaku serasa retak mendengar ungkapannya itu.

 “Kalau saja aku menuruti kemauanmu bisa jadi kau melucutiku di sini, tak seharusnya kau melakukan itu, kau seorang ustaz!”

Lagi-lagi ia menyinggungku. Aku malu pada diriku, malu pada wanita itu, dan entah malu pada Tuhan. Kalau saja aku malu pada Tuhan, tak mungkin aku berani menerobos masuk ke dalam kamar seorang perempuan yang belum halal melepas kerinduanku dengan pelukan. Harusnya kupingku tak harus panas mendengar nasihat-nasihatnya untukku.

“Bukankah kau sering bilang padaku, kau tidak suka melihat perempuan yang tidak bisa menjaga harga dirinya?”

Aku teringat obrolan yang panjang waktu itu sampai larut malam. Dan ia menangis mendengar wejanganku, seolah ia perempuan yang sudah tercederai sekujur tubuhnya. Aku bangkit dari tempat tidur, minta izin pergi.

 “Kau di sini saja, tidurlah bersamaku sampai datang waktu pagi. Tapi ingat, kau tidak boleh macam-macam!”

Ia menarik tanganku, meletaknya di atas dadanya, menyuruhku memeluknya erat dalam selimut itu, aku mengikuti perintahnya. Dan tak lama kemudian ia pun tertidur membelakangiku.       

 * ***

Pagi yang cerah, aku melangkah meninggalkan rumah itu. Diam-diam aku pergi tanpa sepengetahuan Niken, pacarku itu. Sesampai di rumah, aku ditelepon. Ia tanya kenapa aku pulang sementara ia tidak dibangunkan.

 “Aku ingin selama orang tuaku masih di luar kota, aku maunya kamu tidur di kamarku, ini kesempatan untuk kita bersmesraan,” pintanya pada obrolan lewat telpon itu.

Aku diam.

 “Kau marah ya, dengan kata-kataku tadi malam?”

Mendengar aku diam ia tahu aku menyimpan sesuatu dalam hati.

 “Sekarang kamu boleh memperlakukan aku lebih dari sekadar pelukan!”

Aku tidak senang lagi mendengar kata-katanya. Kelakuannya malam itu membuatku punya pemikiran aneh pada dirinya, yang mebuatku resah. Ia memandang diriku lelaki bobrok yang hanya mencintai tubuhnya semata, tidak dengan hatinya. Kuakui, dalam memerangi hawa nafsu malam itu, aku kalah dan terpatahkan setan. Aku pernah diajarkan seorang guru, jika seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berduaan dalam tempat yang mengundang sahwat, apalagi dalam kamar, yang ketiganya adalah setan. Aku melihat setan itu dalam diriku malam itu.

Setan itu sedang tertawa renyai melihatku memeluk seorang wanita yang belum halal untukku, dan selama ini aku tidak pernah melakukannya pada perempuan mana pun, kecuali pada Niken. Setan menang, dan aku terkalahkan.

Tapi setelah perempuan itu mengeluarkan kata-kata yang menyayat hatiku, setan mulai ketakutan, ia khawatir aksinya yang menjerumuskanku dan perempuan itu pada perzinaan paling puncak gagal. Dari ucapannya yang membabi buta itu, aku menyimpulkan ia menganggapku laki-laki yang kehadirannya hanya untuk menggores tubuhnya yang lembut, dan setelah itu aku akan pergi meninggalkannya yang sudah terludahi kesuciannya.

 “Aku tidak bisa lagi datang ke rumahmu, apalagi masuk ke dalam kamarmu,” ucapku sambil menutup telepon.

Setan keparat yang terus mengikutiku itu pun menangis. Sesampai di rumah aku siap-siap mandi, terus berangkat ke tempat kerja di sebuah hotel dekat dari bandara Sultan Syarif Kasim. Aku baru dapat pekerjaan freelence, sebagai seorang pelayan di hotel itu. Jika ada acara saja aku bekerja, itu pun jika aku menolak karena ada kesibukan lain, dan itu tidak masalah. Ini sebagai pekerjaan tambahan saja, selain sehari-hari aku jadi teknisi lepas untuk service AC di rumah-rumah.

Mengenai pekerjaan baruku ini sengaja aku tidak cerita sama Niken. Aku memakai baju putih lengan panjang, ditutup dengan rompi hitam, dan memakai celana dengan warna yang sama, sepatu juga wajib warna hitam. Acara pertemuan para pengusaha itu di lantai dua. Aku sibuk mempersiapkan segalanya, meletakkan meja, menyusun kursi, dan mengangkat piring-piring, meletakkannya rapi di atas meja itu setelah dilap.

Waktu aku masih sibuk, dan acara hampir dimulai, tak sengaja aku menoleh ke kiri bertemu dengan teman lama yang sudah sukses. Aku ingin menyapanya, tapi terpaksa aku urungkan niat, setelah melihat teman lamaku itu bersama Niken. Mereka bergandengan tangan menunjukkan kemesraan pada orang-orang layaknya suami istri.

Aku yang terlanjur sakit hati sudah berpikir jauh, di depan keramaian saja mereka bermesraan. Apalagi ketika berduaan. Aku yakin mereka akan tidur di hotel ini berduaan. Ia bukan saja memeluk Niken, tapi sudah melakukan yang lebih intim. Aku tahu Niken juga mencintaiku dengan perasaannya, tapi mungkin sebagai cadangan untuk menemani hari-harinya jika dibutuhkan.

Ternyata inilah jawabannya, kenapa ia berubah. Dalam persaingan cinta ini, aku pasti kalah. Bukan kerena kurang tampan, tapi tidak bermodal. Sekuat apapun kau mencintai seorang perempuan, kau biasanya akan tersingkir seperti bangkai busuk oleh lawan mainmu jika hartanya lebih melimpah dari kamu.

Aku tidak fokus lagi bekerja pada hari pertama itu. Aku terpaksa menyelip-nyelipkan diri, agar mereka tidak melihatku. Tapi aku tidak berhasil, aku disuruh mengantar makanan ke atas meja mereka. [T]      

  • BACA CERPEN-CERPEN LAIN
Saklon | Cerpen Sonhaji Abdullah
Cinta dan Ilusi | Cerpen Ikrom F.
Perempuan di Bawah Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten

   

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Rusdy Ulu | Keruh, Gelisah, Propaganda

Next Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (1) : Mengulang Pemuliaan Danau 104 Tahun Lalu

Depri Ajopan

Depri Ajopan

Menyelesaikan S-1 Prodi Sastra Indonesia di UNP. Sudah menulis beberapa karya fiksi dan sudah diterbitkan. Cerpennya pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Sekarang penulis aktif di Komunitas Suku Seni Riau.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (1) : Mengulang Pemuliaan Danau 104 Tahun Lalu

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (1) : Mengulang Pemuliaan Danau 104 Tahun Lalu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co