11 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lelaki Dalam Kamar Pacarnya  | Cerpen Depri Ajopan

Depri Ajopan by Depri Ajopan
October 29, 2023
in Cerpen
Lelaki Dalam Kamar Pacarnya  | Cerpen Depri Ajopan

Ilustrasi tatkala.co

AKU mengecup keningnya dalam kamar itu. Nafsuku yang brutal mulai bergejolak. Apalagi setelah aku melihat cinta di matanya. Diriku jadi rusuh. Aku suruh ia berbaring, lalu mendekapnya erat. Aku tidak mau ia pergi. Aku ingin ia selalu ada dalam pelukanku.

“Apa yang kamu tidak sukai dari aku,” tanyanya. Matanya menatap ke atas loteng.

“Hal yang tidak aku sukai dari kamu, ketika kamu tidak lagi menyukai aku,” jawabku.

Ia belum juga membalas pelukanku. Tanganku yang gatal menjelajah ke bagian tubuhnya yang lain, sampai aku menyentuh auratnya paling aurat, lalu menjalar lagi berhenti pas di bagian susunya.

Ia hanya menggigit bibirnya, pelan-pelan ia menyingkirkan tanganku yang menempel di dadanya.

“Aku tidak mau kau  memperlakukan aku berlebihan seperti ini, perbuatan tidak benar. Jika aku menerimamu sebagai pacar, dan menyeretmu dalam kamarku ini untuk tidur bersama, bukan berarti aku siap dicicipi, cukup kau memelukku. Kau jangan memandang rendah diriku sebagai seorang perempuan, kau tidak boleh macam-macam!”

Aku tak mengerti, kenapa tiba-tiba ia merongrongku seperti itu. Aku memperlakukannya seperti seorang kekasih yang baru bertemu setelah lama menunggu. Dan memang aku dan dia sudah lama tidak bertemu.

Selama ini ia kuliah di luar negeri. Tiga hari setelah kedatangannya, tiba-tiba ayah dan ibunya ada keperluan ke luar kota, tinggal ia sendiri di rumah. Aku begitu merindukannya selama ini. Sebelum ia datang, aku juga pernah bilang berkali-kali, aku harus mencium dan memelukmu, bahkan lebih dari itu.

Aku yakin ia mengerti maksudku. Dan ia jawab, aku yang duluan memelukmu nanti. Dan akhirnya terjadi peperangan seperti ini.

 “Aku tidak mau kalau kau hanya mencintai tubuhku, tapi tidak dengan hatiku!”

Kenapa ia menuduhku sejauh itu. Dulu juga aku pernah memperlakukan dia lebih dari ini, tapi ia diam, tak ada berkoar sepatah kata pun. Kenapa ia sekarang berubah seperti ini? Dan ia bilang, ia mengajakku ke dalam kamarnya berduaan untuk berbagi cerita.

“Kalau sekadar memeluk, cium kening dan pipi silakan, lebih dari itu jangan!” ucapnya menatapku tajam.

 “Sekali lagi kukatakan, jika kau  ingin melakukan kemesraan denganku, cukup peluk, dan kau boleh memegang kedua tanganku, sambil mencium keningku, tapi ingat tak lebih dari itu, tak lebih dari itu!”

Dari situ aku baru tahu, apa syaratnya supaya aku boleh masuk dalam kamarnya ini.

“Kenapa waktu itu ketika aku meminta akan memelukmu, dan memperlakukanmu lebih dari itu,  kau mengindahkannya?” kataku.

Aku harus memperjelas kenapa ia memperlakukanku seperti ini.

 “Karena aku merasa kaulah yang akan menjadi suamiku nanti,” jawabnya.

“Maksudmu? Bukankah aku sudah melakukannya denganmu?”

 “Saat itu aku yakin, suatu saat kau akan jadi suamiku!”

 “Sekarang?”

 “Tidak.”

Aku terkejut mendengar pengakuannya. “Kenapa?”

Ia terdiam, sepertinya ada yang ingin ia sampaikan, tapi mungkin belum saat yang tepat jika ia utarakan sekarang. Sebelum aku menanggapi pernyataan tidaknya itu, ia sudah mendahuluiku.

“Kau seorang ustaz, tak mungkin mau melakukan hal buruk seperti itu, ternyata aku salah!”

Aku tidak tahu apa maksud dari kata-katanya itu, yang jelas aku lulusan pondok pesantren, dihancurkannya nuraniku. Bukankah dari dulu aku melakukannya, kenapa baru sekarang ia persoalkan. Dadaku serasa retak mendengar ungkapannya itu.

 “Kalau saja aku menuruti kemauanmu bisa jadi kau melucutiku di sini, tak seharusnya kau melakukan itu, kau seorang ustaz!”

Lagi-lagi ia menyinggungku. Aku malu pada diriku, malu pada wanita itu, dan entah malu pada Tuhan. Kalau saja aku malu pada Tuhan, tak mungkin aku berani menerobos masuk ke dalam kamar seorang perempuan yang belum halal melepas kerinduanku dengan pelukan. Harusnya kupingku tak harus panas mendengar nasihat-nasihatnya untukku.

“Bukankah kau sering bilang padaku, kau tidak suka melihat perempuan yang tidak bisa menjaga harga dirinya?”

Aku teringat obrolan yang panjang waktu itu sampai larut malam. Dan ia menangis mendengar wejanganku, seolah ia perempuan yang sudah tercederai sekujur tubuhnya. Aku bangkit dari tempat tidur, minta izin pergi.

 “Kau di sini saja, tidurlah bersamaku sampai datang waktu pagi. Tapi ingat, kau tidak boleh macam-macam!”

Ia menarik tanganku, meletaknya di atas dadanya, menyuruhku memeluknya erat dalam selimut itu, aku mengikuti perintahnya. Dan tak lama kemudian ia pun tertidur membelakangiku.       

 * ***

Pagi yang cerah, aku melangkah meninggalkan rumah itu. Diam-diam aku pergi tanpa sepengetahuan Niken, pacarku itu. Sesampai di rumah, aku ditelepon. Ia tanya kenapa aku pulang sementara ia tidak dibangunkan.

 “Aku ingin selama orang tuaku masih di luar kota, aku maunya kamu tidur di kamarku, ini kesempatan untuk kita bersmesraan,” pintanya pada obrolan lewat telpon itu.

Aku diam.

 “Kau marah ya, dengan kata-kataku tadi malam?”

Mendengar aku diam ia tahu aku menyimpan sesuatu dalam hati.

 “Sekarang kamu boleh memperlakukan aku lebih dari sekadar pelukan!”

Aku tidak senang lagi mendengar kata-katanya. Kelakuannya malam itu membuatku punya pemikiran aneh pada dirinya, yang mebuatku resah. Ia memandang diriku lelaki bobrok yang hanya mencintai tubuhnya semata, tidak dengan hatinya. Kuakui, dalam memerangi hawa nafsu malam itu, aku kalah dan terpatahkan setan. Aku pernah diajarkan seorang guru, jika seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berduaan dalam tempat yang mengundang sahwat, apalagi dalam kamar, yang ketiganya adalah setan. Aku melihat setan itu dalam diriku malam itu.

Setan itu sedang tertawa renyai melihatku memeluk seorang wanita yang belum halal untukku, dan selama ini aku tidak pernah melakukannya pada perempuan mana pun, kecuali pada Niken. Setan menang, dan aku terkalahkan.

Tapi setelah perempuan itu mengeluarkan kata-kata yang menyayat hatiku, setan mulai ketakutan, ia khawatir aksinya yang menjerumuskanku dan perempuan itu pada perzinaan paling puncak gagal. Dari ucapannya yang membabi buta itu, aku menyimpulkan ia menganggapku laki-laki yang kehadirannya hanya untuk menggores tubuhnya yang lembut, dan setelah itu aku akan pergi meninggalkannya yang sudah terludahi kesuciannya.

 “Aku tidak bisa lagi datang ke rumahmu, apalagi masuk ke dalam kamarmu,” ucapku sambil menutup telepon.

Setan keparat yang terus mengikutiku itu pun menangis. Sesampai di rumah aku siap-siap mandi, terus berangkat ke tempat kerja di sebuah hotel dekat dari bandara Sultan Syarif Kasim. Aku baru dapat pekerjaan freelence, sebagai seorang pelayan di hotel itu. Jika ada acara saja aku bekerja, itu pun jika aku menolak karena ada kesibukan lain, dan itu tidak masalah. Ini sebagai pekerjaan tambahan saja, selain sehari-hari aku jadi teknisi lepas untuk service AC di rumah-rumah.

Mengenai pekerjaan baruku ini sengaja aku tidak cerita sama Niken. Aku memakai baju putih lengan panjang, ditutup dengan rompi hitam, dan memakai celana dengan warna yang sama, sepatu juga wajib warna hitam. Acara pertemuan para pengusaha itu di lantai dua. Aku sibuk mempersiapkan segalanya, meletakkan meja, menyusun kursi, dan mengangkat piring-piring, meletakkannya rapi di atas meja itu setelah dilap.

Waktu aku masih sibuk, dan acara hampir dimulai, tak sengaja aku menoleh ke kiri bertemu dengan teman lama yang sudah sukses. Aku ingin menyapanya, tapi terpaksa aku urungkan niat, setelah melihat teman lamaku itu bersama Niken. Mereka bergandengan tangan menunjukkan kemesraan pada orang-orang layaknya suami istri.

Aku yang terlanjur sakit hati sudah berpikir jauh, di depan keramaian saja mereka bermesraan. Apalagi ketika berduaan. Aku yakin mereka akan tidur di hotel ini berduaan. Ia bukan saja memeluk Niken, tapi sudah melakukan yang lebih intim. Aku tahu Niken juga mencintaiku dengan perasaannya, tapi mungkin sebagai cadangan untuk menemani hari-harinya jika dibutuhkan.

Ternyata inilah jawabannya, kenapa ia berubah. Dalam persaingan cinta ini, aku pasti kalah. Bukan kerena kurang tampan, tapi tidak bermodal. Sekuat apapun kau mencintai seorang perempuan, kau biasanya akan tersingkir seperti bangkai busuk oleh lawan mainmu jika hartanya lebih melimpah dari kamu.

Aku tidak fokus lagi bekerja pada hari pertama itu. Aku terpaksa menyelip-nyelipkan diri, agar mereka tidak melihatku. Tapi aku tidak berhasil, aku disuruh mengantar makanan ke atas meja mereka. [T]      

  • BACA CERPEN-CERPEN LAIN
Saklon | Cerpen Sonhaji Abdullah
Cinta dan Ilusi | Cerpen Ikrom F.
Perempuan di Bawah Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten

   

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Rusdy Ulu | Keruh, Gelisah, Propaganda

Next Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (1) : Mengulang Pemuliaan Danau 104 Tahun Lalu

Depri Ajopan

Depri Ajopan

Menyelesaikan S-1 Prodi Sastra Indonesia di UNP. Sudah menulis beberapa karya fiksi dan sudah diterbitkan. Cerpennya pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Sekarang penulis aktif di Komunitas Suku Seni Riau.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (1) : Mengulang Pemuliaan Danau 104 Tahun Lalu

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (1) : Mengulang Pemuliaan Danau 104 Tahun Lalu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali
Bahasa

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

by I Made Sudiana
August 11, 2026
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas
Esai

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta
Ulas Rupa

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

by Hartanto
August 11, 2026
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu
Ulas Rupa

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7...

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026
Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka
Esai

Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

"Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai...

by Agung Sudarsa
August 11, 2026
Telenovela
Esai

Manusia Bukan Unggahan Terakhirnya

SETIAP kali saya mengunggah tulisan yang agak muram di media sosial, ada saja saudara atau kerabat yang kemudian mengirim pesan...

by Angga Wijaya
August 11, 2026
‘Bajang Care Adine’, Debut Rejuna Koplo di Belantika Musik Bali
Pop

‘Bajang Care Adine’, Debut Rejuna Koplo di Belantika Musik Bali

Sube tawang, bajang care adine Mepayas seksi, ngalih bapak medasi Dini ditu setate ngaku perawan Nanging mare cobak, hey… jeg...

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026
Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli
Panggung

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

GERAKANNYA ritmis dan begitu indah. Ekspresinya hidup karena setiap gerakan ditarikan dengan penuh penjiwaan. Musik seolah menyatu dalam gerak, menghadirkan...

by Nyoman Budarsana
August 11, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan
Tualang

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co