2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (1) : Mengulang Pemuliaan Danau 104 Tahun Lalu

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
October 31, 2023
in Esai
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (1) : Mengulang Pemuliaan Danau 104 Tahun Lalu

Foto-foto: Panitia Karya Agung Danu Kerthi i Saka 1945/Warsa 2023

DESA Adat Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten pada Tilem Kapat, 14 Oktober 2023 yang lalu melaksanakan upacara danu kerthi di Gunung dan Danau Batur. Misi upacara tersebut adalah sebagai pemuliaan terhadap gunung, danau, dan mata air. Pada bahasa kultural sehari-hari, danu kerthi lebih dikenal sebagai bakti pakelem. Namun, di dalam teks Rajapurana Pura Ulun Danu Batur yang disucikan masyarakat Batur, ritual ini dituliskan sebagai abhiseka kr[ě]tti ring sagara alit.

Konsep bhakti pakelem, danu kerthi, atau abhiseka kr[ě]tti ring sagara alit pada prinsipnya bermuara pada makna yang sama: pemuliaan Danau Batur sebagai ibu yang telah memberi limpahan kasih. Pakelem merujuk pada pengertian “penenggelaman” berbagai kurban. “Penenggelaman” kurban tersebut tidak lain sebagai salah satu cara komunikasi leluhur Batur di masa silam untuk menghargai sumbangsih alam yang telah memberi manfaat bagi kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup.

Ritual abhiseka kr[ě]tti secara leksikaldapat diartikan sebagai “penobatan kemuliaan”. Abhiseka artinya ‘penobatan’,sedangkan kr[ě]tti (selanjutnya dieja sebagai kreti) berarti ‘pemuliaan’. Kata kreti termasuk dalam khazanah kosakata bahasa Jawa Kuno, yang dalam kehadiran awalnya terlebih dahulu diserap dari bahasa Sanskerta. Sementara itu, sagara alit berarti ‘lautan kecil’ yang merujuk pada danau, khususnya Danau Batur.

Kata kreti ‘pemuliaan’ belakangan lebih akrab dijumpai dalam bentuk kata kerthi. Perubahan kata kreti menjadi kerthi menunjukkan gejala metatesis atau pertukaran letak bunyi pada bahasa Bali sehari-hari. Kasus seperti ini sama dengan pelafalan kata amreta menjadi amerta atau kata kreta menjadi kerta. Tampaknya, lidah orang Bali memang lebih mudah melafalkan amerta, kerta, atau kerti dibandingkan amreta, kreta, atau kreti.

Belakangan penulisan kreti memang seolah-olah “dibakukan” sebagai kerthi. Situasi ini tidak terlepas dari keberadaan program pemerintah daerah, khususnya melalui visi Pembangunan Pemerintah Provinsi Bali, “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”. Atas alasan itu pula, melalui saran sejumlah birokrat, judul upacara yang dilaksanakan Desa Adat Batur mengikuti ejaan yang disepakati pemerintah: danu kerthi.

Panitia upacara tahun ini memberi judul upacara tersebut sebagai “Karya Agung Danu Kerthi, Tawur Agung Labuh Gentuh, Meras Danu lan Gunung, Bakti Pakelem ring Segara lan Puncak Gunung Batur, Mapaselang lan Mapadanan”. Disebut “karya agung” karena lingkup upacaranya yang besar dan kompleks. Penyematan frasa “karya agung” juga diharapkan dapat memberi ciri khusus terhadap ritual tersebut jika dibandingan dengan ritual pemuliaan danau dan gunung yang tiap bulan telah dilakukan oleh masyarakat adat Batur. Ritual-ritual pemuliaan danau dan gunung bulanan yang dimaksud termanifestasi sebagai pujawali; ngusaba; maupun caru insidentil ketika terjadi hal yang dianggap mengotori danau atau gunung.

Penyematan “karya agung” pada ritual tahun ini juga didasarkan pada pengambilan tingkatan upacara berupa tawur agung labuh gentuh. Tawur labuh gentuh adalah ritual caru besar dengan sarana-sarana binatang kurban tertentu di seluruh penjuru mata angin. Kurban-kurban tersebut antara lain berupa kerbau, sapi, menjangan, kijang, petu, kucit butuan, luwak, asu bangbungkem, dan berbagai jenis ayam dengan warna bulu berbeda-beda.

Sementara itu, ditinjau dari penggunaan wewalungan (kurban binatang) yang khusus ditenggelamkan ke danau, pakelem tahun ini juga lebih kompleks dibandingkan pakelem yang dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya. Pakelem tahun ini menggunakan 3 ekor kerbau dan seekor babi hitam seharga 1.000 kepeng. Empat kurban pakelem tersebut di luar kurban pakelem di Pura (Puncak) Kanginan dan Pura (Puncak) Kawanan Gunung Batur, di mana masing-masing dipersembahkan seekor kerbau.

Pakelem di danau didasarkan pada wacana Rajapurana Pura Ulun Danu Batur, khususnya yang termuat dalam lontar Pratekaning Usana Siwa Sasana. Pada teks ini dijelaskan bahwa jika ingin melaksanakan upacara abhiseka kreti ring segara alit, pelaksanaanritualwajib dilaksanakan secara kolaboratif oleh pemimpin negara, para patih Bali, ksatria, arya, dan kalangan brahmana. Adapun sarananya adalah 3 ekor kerbau serta seekor babi seharga 1.000 yang ditenggelamkan di arah barat.

Ketika menemukan penjelasan upacara tersebut di dalam Rajapurana Pura Ulun Danu Batur, kami belum berani mengambil keputusan untuk menerapkannya. Kami menyadari bahwa pakelem di Danau Batur terkait dengan kemaslahatan seluruh Pulau Dewata, sehingga upacara yang digelar tidak boleh dilaksanakan sembarangan. Berlandaskan pemikiran itu, kami terus berupaya melakukan pendalaman terhadap wacana-wacana tentang pelaksanaan pakelem, hingga akhirnya bertemulah dengan sebuah catatan tertanggal 12 Desember 1919 atau dalam penanggalan Bali jatuh pada Sukra Umanis Ukir, Pananggal ke-4 Sasih Kanem, Isaka 1841.

Data yang memuat keterangan tersebut disimpan oleh salah seorang panglingsir Batur, Wayan Sukadia. Wayan Sukadia memang salah satu panglingsir yang perhatian dengan data-data, termasuk sering kali mengumpulkan dan mewacanakan kembali data-data yang dikumpulkan dalam tulisan-tulisan sederhana. Adapun data tersebut konon diterima olehnya dari salah seorang peneliti yang pernah melakukan penelitian subak dan jejaring air di Pura Ulun Danu Batur.

Catatan yang sesungguhnya hanya terdiri atas 2 halaman ini menjadi catatan berharga bagi panitia. Data ini memberikan informasi yang lengkap terkait tata cara pelaksanaan upacara pakelem, termasuk sarana-sarana yang digunakan. Meskipun berusia 104 tahun, catatan tersebut memuat dengan rinci sarana banten yang digunakan dalam ritual, baik yang dipersembahkan di sanggar tawang, di panggungan yadnya, maupun sarana upacara yang ditenggelamkan ke danau.

Secara khusus, pada bagian akhir catatan tersebut menjelaskan sarana wewalungan (binatang) yang akan ditenggelamkan ke danau. Kurban-kurban itu dibentuk dengan pola nyatur (mengambil posisi menurut arah mata angin) di danau. Di arah timur dipersembahkan seekor kebo yosbrana bertanduk emas yang hidungnya belum dicucuk diikuti masing-masing seekor babi, bebek, ayam, kambing, dan uang 10.100 kepeng. Di arah selatan dipersembahkan seekor kebo sabulu bertanduk emas yang hidungnya belum dicucuk diikuti masing-masing seekor babi, kambing, bebek, ayam, dan uang sebanyak 1.700 kepeng.

Kurban yang ditenggelamkan di arah barat adalah seekor babi seharga 1.000 kepeng. Kurban tersebut diikuti masing-masing seekor bebek, kambing, ayam dan uang kepeng sebanyak 1.100. Terakhir, di arah utara dipersembahkan seekor kebo cemeng (kerbau hitam yang beranak kerbau putih, kemudian kembali beranak hitam) dengan tanduk emas dan hidung belum dicucuk, diikuti masing-masing seekor babi, kambing, bebek, dan ayam, serta uang kepeng sebanyak 160.000 kepeng. Menurut catatan ini, uang kepeng di utara bisa dikurangi, tetapi diganti dengan besi yang dibentuk seperti peralatan manusia berupa sabit, badik, pahat, dsb.

Menanggapi catatan yang demikian detail tersebut, akhirnya Pangemong Pura Ulun Danu Batur memastikan langkah untuk melaksanakan upacara dengan mengikuti petunjuk yang ada. Hanya saja, realisasi kegiatan upacaranya tetap disesuaikan dengan kondisi, khususnya terkait wewalungan yang mengiringi kurban kerbau di tiap mata angin serta uang kepeng yang menyertainya. Setelah berkoordinasi dengan sulinggih Ida Pedanda Istri Karang dari Griya Sibetan, Karangasem disepakati wewalungan yang mengiringi empat kurban utamatersebutdiambil sekali ke tengah. Wewalungan pangiring tersebut berupa kambing hitam, bebek hitam, ayam hitam, dan angsa, serta uang kepeng sebanyak 10.000 kepeng yang ditenggelamkan di madya (tengah). [T][bersambung]

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (2): Bersatunya Air Suci dari Tiga Pulau di Danau Batur
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (3) : Pasu Yadnya Pengingat Manusia
Tags: BaturDanau Baturdanu kertihPura Batur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lelaki Dalam Kamar Pacarnya  | Cerpen Depri Ajopan

Next Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (2): Bersatunya Air Suci dari Tiga Pulau di Danau Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (2): Bersatunya Air Suci dari Tiga Pulau di Danau Batur

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (2): Bersatunya Air Suci dari Tiga Pulau di Danau Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co