22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (1) : Mengulang Pemuliaan Danau 104 Tahun Lalu

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
October 31, 2023
in Esai
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (1) : Mengulang Pemuliaan Danau 104 Tahun Lalu

Foto-foto: Panitia Karya Agung Danu Kerthi i Saka 1945/Warsa 2023

DESA Adat Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten pada Tilem Kapat, 14 Oktober 2023 yang lalu melaksanakan upacara danu kerthi di Gunung dan Danau Batur. Misi upacara tersebut adalah sebagai pemuliaan terhadap gunung, danau, dan mata air. Pada bahasa kultural sehari-hari, danu kerthi lebih dikenal sebagai bakti pakelem. Namun, di dalam teks Rajapurana Pura Ulun Danu Batur yang disucikan masyarakat Batur, ritual ini dituliskan sebagai abhiseka kr[ě]tti ring sagara alit.

Konsep bhakti pakelem, danu kerthi, atau abhiseka kr[ě]tti ring sagara alit pada prinsipnya bermuara pada makna yang sama: pemuliaan Danau Batur sebagai ibu yang telah memberi limpahan kasih. Pakelem merujuk pada pengertian “penenggelaman” berbagai kurban. “Penenggelaman” kurban tersebut tidak lain sebagai salah satu cara komunikasi leluhur Batur di masa silam untuk menghargai sumbangsih alam yang telah memberi manfaat bagi kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup.

Ritual abhiseka kr[ě]tti secara leksikaldapat diartikan sebagai “penobatan kemuliaan”. Abhiseka artinya ‘penobatan’,sedangkan kr[ě]tti (selanjutnya dieja sebagai kreti) berarti ‘pemuliaan’. Kata kreti termasuk dalam khazanah kosakata bahasa Jawa Kuno, yang dalam kehadiran awalnya terlebih dahulu diserap dari bahasa Sanskerta. Sementara itu, sagara alit berarti ‘lautan kecil’ yang merujuk pada danau, khususnya Danau Batur.

Kata kreti ‘pemuliaan’ belakangan lebih akrab dijumpai dalam bentuk kata kerthi. Perubahan kata kreti menjadi kerthi menunjukkan gejala metatesis atau pertukaran letak bunyi pada bahasa Bali sehari-hari. Kasus seperti ini sama dengan pelafalan kata amreta menjadi amerta atau kata kreta menjadi kerta. Tampaknya, lidah orang Bali memang lebih mudah melafalkan amerta, kerta, atau kerti dibandingkan amreta, kreta, atau kreti.

Belakangan penulisan kreti memang seolah-olah “dibakukan” sebagai kerthi. Situasi ini tidak terlepas dari keberadaan program pemerintah daerah, khususnya melalui visi Pembangunan Pemerintah Provinsi Bali, “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”. Atas alasan itu pula, melalui saran sejumlah birokrat, judul upacara yang dilaksanakan Desa Adat Batur mengikuti ejaan yang disepakati pemerintah: danu kerthi.

Panitia upacara tahun ini memberi judul upacara tersebut sebagai “Karya Agung Danu Kerthi, Tawur Agung Labuh Gentuh, Meras Danu lan Gunung, Bakti Pakelem ring Segara lan Puncak Gunung Batur, Mapaselang lan Mapadanan”. Disebut “karya agung” karena lingkup upacaranya yang besar dan kompleks. Penyematan frasa “karya agung” juga diharapkan dapat memberi ciri khusus terhadap ritual tersebut jika dibandingan dengan ritual pemuliaan danau dan gunung yang tiap bulan telah dilakukan oleh masyarakat adat Batur. Ritual-ritual pemuliaan danau dan gunung bulanan yang dimaksud termanifestasi sebagai pujawali; ngusaba; maupun caru insidentil ketika terjadi hal yang dianggap mengotori danau atau gunung.

Penyematan “karya agung” pada ritual tahun ini juga didasarkan pada pengambilan tingkatan upacara berupa tawur agung labuh gentuh. Tawur labuh gentuh adalah ritual caru besar dengan sarana-sarana binatang kurban tertentu di seluruh penjuru mata angin. Kurban-kurban tersebut antara lain berupa kerbau, sapi, menjangan, kijang, petu, kucit butuan, luwak, asu bangbungkem, dan berbagai jenis ayam dengan warna bulu berbeda-beda.

Sementara itu, ditinjau dari penggunaan wewalungan (kurban binatang) yang khusus ditenggelamkan ke danau, pakelem tahun ini juga lebih kompleks dibandingkan pakelem yang dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya. Pakelem tahun ini menggunakan 3 ekor kerbau dan seekor babi hitam seharga 1.000 kepeng. Empat kurban pakelem tersebut di luar kurban pakelem di Pura (Puncak) Kanginan dan Pura (Puncak) Kawanan Gunung Batur, di mana masing-masing dipersembahkan seekor kerbau.

Pakelem di danau didasarkan pada wacana Rajapurana Pura Ulun Danu Batur, khususnya yang termuat dalam lontar Pratekaning Usana Siwa Sasana. Pada teks ini dijelaskan bahwa jika ingin melaksanakan upacara abhiseka kreti ring segara alit, pelaksanaanritualwajib dilaksanakan secara kolaboratif oleh pemimpin negara, para patih Bali, ksatria, arya, dan kalangan brahmana. Adapun sarananya adalah 3 ekor kerbau serta seekor babi seharga 1.000 yang ditenggelamkan di arah barat.

Ketika menemukan penjelasan upacara tersebut di dalam Rajapurana Pura Ulun Danu Batur, kami belum berani mengambil keputusan untuk menerapkannya. Kami menyadari bahwa pakelem di Danau Batur terkait dengan kemaslahatan seluruh Pulau Dewata, sehingga upacara yang digelar tidak boleh dilaksanakan sembarangan. Berlandaskan pemikiran itu, kami terus berupaya melakukan pendalaman terhadap wacana-wacana tentang pelaksanaan pakelem, hingga akhirnya bertemulah dengan sebuah catatan tertanggal 12 Desember 1919 atau dalam penanggalan Bali jatuh pada Sukra Umanis Ukir, Pananggal ke-4 Sasih Kanem, Isaka 1841.

Data yang memuat keterangan tersebut disimpan oleh salah seorang panglingsir Batur, Wayan Sukadia. Wayan Sukadia memang salah satu panglingsir yang perhatian dengan data-data, termasuk sering kali mengumpulkan dan mewacanakan kembali data-data yang dikumpulkan dalam tulisan-tulisan sederhana. Adapun data tersebut konon diterima olehnya dari salah seorang peneliti yang pernah melakukan penelitian subak dan jejaring air di Pura Ulun Danu Batur.

Catatan yang sesungguhnya hanya terdiri atas 2 halaman ini menjadi catatan berharga bagi panitia. Data ini memberikan informasi yang lengkap terkait tata cara pelaksanaan upacara pakelem, termasuk sarana-sarana yang digunakan. Meskipun berusia 104 tahun, catatan tersebut memuat dengan rinci sarana banten yang digunakan dalam ritual, baik yang dipersembahkan di sanggar tawang, di panggungan yadnya, maupun sarana upacara yang ditenggelamkan ke danau.

Secara khusus, pada bagian akhir catatan tersebut menjelaskan sarana wewalungan (binatang) yang akan ditenggelamkan ke danau. Kurban-kurban itu dibentuk dengan pola nyatur (mengambil posisi menurut arah mata angin) di danau. Di arah timur dipersembahkan seekor kebo yosbrana bertanduk emas yang hidungnya belum dicucuk diikuti masing-masing seekor babi, bebek, ayam, kambing, dan uang 10.100 kepeng. Di arah selatan dipersembahkan seekor kebo sabulu bertanduk emas yang hidungnya belum dicucuk diikuti masing-masing seekor babi, kambing, bebek, ayam, dan uang sebanyak 1.700 kepeng.

Kurban yang ditenggelamkan di arah barat adalah seekor babi seharga 1.000 kepeng. Kurban tersebut diikuti masing-masing seekor bebek, kambing, ayam dan uang kepeng sebanyak 1.100. Terakhir, di arah utara dipersembahkan seekor kebo cemeng (kerbau hitam yang beranak kerbau putih, kemudian kembali beranak hitam) dengan tanduk emas dan hidung belum dicucuk, diikuti masing-masing seekor babi, kambing, bebek, dan ayam, serta uang kepeng sebanyak 160.000 kepeng. Menurut catatan ini, uang kepeng di utara bisa dikurangi, tetapi diganti dengan besi yang dibentuk seperti peralatan manusia berupa sabit, badik, pahat, dsb.

Menanggapi catatan yang demikian detail tersebut, akhirnya Pangemong Pura Ulun Danu Batur memastikan langkah untuk melaksanakan upacara dengan mengikuti petunjuk yang ada. Hanya saja, realisasi kegiatan upacaranya tetap disesuaikan dengan kondisi, khususnya terkait wewalungan yang mengiringi kurban kerbau di tiap mata angin serta uang kepeng yang menyertainya. Setelah berkoordinasi dengan sulinggih Ida Pedanda Istri Karang dari Griya Sibetan, Karangasem disepakati wewalungan yang mengiringi empat kurban utamatersebutdiambil sekali ke tengah. Wewalungan pangiring tersebut berupa kambing hitam, bebek hitam, ayam hitam, dan angsa, serta uang kepeng sebanyak 10.000 kepeng yang ditenggelamkan di madya (tengah). [T][bersambung]

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (2): Bersatunya Air Suci dari Tiga Pulau di Danau Batur
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (3) : Pasu Yadnya Pengingat Manusia
Tags: BaturDanau Baturdanu kertihPura Batur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lelaki Dalam Kamar Pacarnya  | Cerpen Depri Ajopan

Next Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (2): Bersatunya Air Suci dari Tiga Pulau di Danau Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (2): Bersatunya Air Suci dari Tiga Pulau di Danau Batur

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (2): Bersatunya Air Suci dari Tiga Pulau di Danau Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co