14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (3) : Pasu Yadnya Pengingat Manusia

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
October 31, 2023
in Esai
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (3) : Pasu Yadnya Pengingat Manusia

Foto-foto: Panitia Karya Agung Danu Kerthi i Saka 1945/Warsa 2023

BUDA Kliwon Matal, 11 Oktober 2023 menjadi hari pembuka rangkaian ritual inti Karya Agung Danu Kerthi tahun 2023. Pada hari itu dilaksanakan bakti pangodal, melasti, serta pamendak lantaran kebo di Jaba Pura Jati. Selama sembilan hari terhitung dari pagi itu, mantra-mantra pemuliaan kepada Ida Bhatara Sakti Batur dirapalkan lebih sering dari biasanya. Para binatang kurban mengambil peran. Mereka mengorbankan diri sebagai pasu yadnya untuk menjaga keseimbangan alam.

Bakti pangodal adalah ritual menurunkan (ngodal/ngamedalang) arca-arca/pralingga Ida Bhatari. Sekitar pukul 06.00 WITA, arca/pralingga yang sebelumnya disimpan di meru dan palinggih-palinggih di Pura Ulun Danu Batur diturunkan. Bakti pangodal dilakukan oleh pemangku, dibantu pemuda adat yang tergabung di dalam Tempek Roban dan Daha Bunga Desa Adat Batur.

Setelah arca-arca perwujudan turun, seorang Jero Kraman Bedanginan mempersembahkan bakti panyamleh. Seekor ayam hitam mengambil peran sebagai kurban. Mantra-mantra panyupatan mengantarkan, berharap roh ayam itu akan pulang ke alam yang lebih sempurna. Sesaat setelah golok sudamala memisahkan kepala dari leher ayam darah segar pun bercucuran di lantai pura. Demikianlah pengorbanan seekor ayam pagi itu untuk dunia.

Setelah dipersembahkan bakti panyamleh, arca-arca utama ditempatkan di jempana-jempana. Jempana adalah tandu yang akan digunakan untuk mengusung arca-arca tersebut. Penempatan arca disesuaikan dengan tata lungguh (tatanan duduk menurut urutan) Ida Bhatara-Bhatari. Tata lungguh menentukan urutan tinggi-rendahnya entitas Bhatara-Bhatara.Tata lungguh menentukan arcamana yang lebih dulu berjalan dalam iring-iringan. Tata lungguh juga menjadi tanda bagi pemangku-pemangku pangemong yang merupakan representasi sakala Ida Bhatara tersebut untuk duduk ketika mengantarkan ritual di Desa Adat Batur.

Tata lungguh dimulai dari kanan sebagai tanda Ida Bhatara tertinggi. Paling kanan adalah Ida Bhatara Gde Gunung Agung, disusul secara berturut-turut ke arah kiri yakni Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh, Ida Bhatara Sakti Maduwe Gumi, Ida Bhatara Aji Gurun, Ida Bhatara Dalem Waturenggong, Ida Bhatara Sakti Bujangga Luwih, Ida Bhatara Ngurah Manik Astagina, Ida Bhatara Rajapurana, Ida Bhatara Gde Kepasekan, Ida Bhatara Ngurah Balingkang, dan Ida Bhatara Pasar Agung. Selain itu juga terdapat pralingga berupa senjata dan bende suci yang sama-sama dihormati dan disucikan.

Pada waktu yang sama, arca-arca Ida Bhatara Pura Alas Arum Batur, Pura Gunung Menak, dan Pura Pande Batur juga telah hadir di utama mandala Pura Ulun Danu Batur. Mereka akan turut mengiringi perjalanan Ida Bhatari Sakti Batur. Secara tradisi, Ida Bhataradari tiga pura tersebut memang harus ikut serta apabila Ida Bhatara Sakti Batur tedun kabeh malelungan. Khusus Ida Ratu Pande akan mengiringi apabila Ida Bhatara Sakti Batur lunga ke luar desa.

Menurut tuturan panglingsir, semestinya ada satu lagi arca Ida Bhatara yang harus menyertai apabila Ida Bhatara Sakti Batur lunga. Ida Bhatara yang dimaksud adalah Ida Bhatara Ngurah Cempaga yang berstana di Pura Cempaga Tampurhyang Batur. Namun, belakangan arca/pralingga dari pura tersebut tidak mengiringi. Meskipun demikian, kehadiran Ida Bhatara Cempaga tetap dimohon dalam bentuk tapakan palinggih pranamya bersama dengan Bhatara-Bhatari yang tidak berarca.

Perjalanan palelungan yang akan keluar wilayah desa dilengkapi dengan ritual ngidukang. Ritual ini hanya dan harus dipimpin oleh Jero Gede Batur. Ritual ngidukang semacam persembahan awal ke hadapan Ida Bhatara-Bhatari guna memohon izin akan melaksanakan palelungan. Selepas ngidukang, satu per satu arca/pralingga diusung dari utama mandala ke jaba tengah Pura Ulun Danu Batur melewati kori agung tingkat sembilan.

Sesaat sebelum keluar kori agung, pajenengan (senjata)Ida Bhatara Gde Gunung Agung dan Ida Bhatari Dewi Danuh yang berupa pedang dan pecut dihunuskan, kemudian diayunkan sebanyak tiga kali. Di jaba tengah, Ida Bhatara-Bhatari kembali dipersembahkan bakti panyamleh. Seekor ayam hitam kembali menjadi persembahan. Darah segarnya yang mengalir adalah pengantar perjalanan suci Ida Bhatari Sakti. Setelah bakti panyamleh selesai, arca melewati kori agung tingkat sebelas. Kala itu ritual mengayunkan senjata kembali dilakukan.

Ritual melasti Ida Bhatara-Bhatari menggunakan kendaraan truk. Metode ini diambil untuk efisiensi perjalanan tanpa mengurangi makna ritual. Meskipun demikian, iring-iringan Ida Bhatari tetap mengharuskan pelaksanaan rekayasa lalu lintas, sehingga sejak jauh-jauh hari panitia telah memohon permakluman kepada pengguna jalan, termasuk berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Di Segara Watuklotok arca perwujudan Ida Bhatara-bhatari disucikan (mawangsuh). Prosesi akhir di Segara Watuklotok adalah pakelem yangdiiringi memohon (nuwur) tirta amreta di tengah laut. Seekor kerbau menjadi kurban pakelem di tengah laut. Pada proses nuwur tirta amreta, Bhatara Segara memberikan kami anugerahnya. Botol yang ditutup dan dilem dengan rapat kini penuhu tirtha amreta. Bhatara Tirta Amreta itu pun sama-sama diusung dan disatukan dengan 29 Bhatara Tirta dari tiga pulau yang sebelumnya telah distanakan di Pura Ulun Danu Batur.

Rombongan tiba di Pura Jati sekira pukul 19.00 WITA. Kala itu suasana sudah mulai gelap. Di jaba Pura Jati dipersembahkan ritual pamendak lantaran kebo. Saya mengamati ritual ini sarat dengan konsepsi Siwaisme. Doa-doa diantarkan beriring denting bajra sang sulinggih. Arca-arca yang diusung oleh para pemangku dan pemuda adat kemudian melalui lantaran kebo dan diharuskan menginjak bagian kepala kerbau. Kurban kerbau itu pun menjelma bak karpet penyambutan yang digelar khusus bagi Ida Bhatara-Bhatari.

Ritual pamendak lantaran kebo mengingatkan saya pada cerita Durga Mahesasura Mardini. Kisah tersebut mewartakan keberhasilan Bhatari Durga membunuh Mahisasura, sosok raksasa berkepala kerbau, demi mengupayakan keseimbangan kosmis. Visualnya dapat ditemukan pada sejumlah candi Siwa di Jawa. Di Candi Prambanan, arca itu secara tradisi dinarasikan sebagai Roro Jongrang. Maka, sependek dan prematur pemahaman saya, praktik ini mengindikasikan bahkan menguatkan hidupnya ajaran Siwaisme, khususnya konsep pemujaan Sakti, di Batur.

Tanggal 13 Oktober 2023 dilaksanakan pepada wewalungan. Semua binatang kurban yang akan digunakan dalam upacara disucikan melalui upacara ini. Setelah diperciki tirta, binatang-binatang itu diarak berkeliling pura searah jarum jam (purwa daksina) sebanyak tiga kali. Pada akhir ritual, Jero Kraman Bedanginan nuwek wewalungan (menusuk binatang kurban) dengan keris pajenengan Ki Lebur Geni. Keris ini adalah keris yang ditempa khusus di Pura Prapen Pingit Batur.

Saya yang ketika itu ditugaskan memasangi binatang kurban karawista merasakan perubahan prilaku dari para binatang kurban. Binatang-binatang kurban yang awalnya cukup agresif perlahan menjadi lebih tenang setelah diperciki tirta dan di-tuek dengan keris. Mereka seolah-olah telah siap untuk menapaki siklus hidup baru di semesta yang lebih mulia. Itulah pengorbanan para binatang untuk dunia yang seolah dimiliki hanya oleh umat manusia. Mereka jelas lebih ikhlas dari kita, yang setia mengurbankan hidupnya untuk keharmonisan dunia.

Puncak upacara Danu Kerthi berlangsung pada Tilem Kapat, 14 Oktober 2023. Suasana demikian ramai dan semarak. Binatang-binatang kurban telah disembelih, diolah, serta ditempatkan pada posisi menurut arah mata angin. Mereka siap kembali pada penciptanya masing-masing, mengisi kembali energi alam yang kurang dan mengurangi energi alam yang berlebih.

Suasana hanya sempat tenang ketika dilaksanakan prosesi majejiwan dalam rangkaian ritual mapaselang. Kala itu arca perwujudan Ida Bhatara diusung ke sanggar dan paselang. Pada balai yang dihias demikian indah itulah Ida Bhatari melakukan proses penciptaan dunia. Elemen purusa-pradhana muncul dominan pada proses ini.

Setelah tawur dan mapaselang usai, pakelem pun dimulai. Pakelem di Pucak Kanginan Gunung Batur dilaksanakan oleh Batun Sendi Batur yakni Desa Adat Sekardadi. Desa Sekardadi tahun ini menggantikan peran Desa Adat Bayunggede yang tengah mabrata. Sementara itu, di Pucak Kawanan Gunung Batur, pakelem dilaksanakan oleh Batun Sendi Batur lainnya, yakni Desa Adat Buahan.

Pada proses pakelem, Desa Adat Batur fokus di Segara Danu. Bersaranakan rakit yang dimotori 7 buah perahu, seluruh sarana upacara serta seperangkat gong digiring ke Ulun Danu atau Tengahing Segara, yakni bagian tengah Danau Batur. Ketika seluruh tepi danau terlihat—mengindikasikan posisi rakit telah berada di Tengahing Segara—kurban ditenggelamkan satu per satu. Itulah puncak pasu yadnya yang digelar layaknya kurban pada 104 tahun yang lalu. Lima ekor kerbau, 3 ekor kambing, seekor babi, 3 ekor ayam, 3 ekor bebek, dan 3 ekor angsa sekali lagi mengorbankan dirinya sebagai pakelem di puncak gunung dan danau untuk keharmonisan dunia.

Ketika seluruh sarana upacara ditenggelamkan, sebuah botol yang telah ditutup dan dilem dengan rapat kembali ditenggelamkan sebagai piranti memohon Tirta Amreta Tengahing Danu. Sekitar 15 menit kami menunggu, botol itu ditarik. Kami kembali menerima anugerah, botol itu telah berisi Tirta Amreta anugerah Ida Bhatari Tengahing Segara.

Tirta amreta di dalam botol disunggi hingga sampai ke daratan. Pj. Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya sempat menyungginya, diiringi oleh Dirjen Bimas Hindu dan sejumlah tokoh lain. Sampai di daratan, ritual panyamleh dipersembahkan ke Bhatara Tirta. Seekor ayam hitam kembali mengurbankan dirinya sebagai penyambut kehadiran Bhatara Tirta.

Prosesi hari itu usai setelah Bhatara Tirta distanakan. Esoknya kami hening. Nyepi karya. Seluruh aktivitas di Gunung dan Danau Batur, khususnya di lokasi upacara ditiadakan sehari. Semua tampak hening. Tidak ada gong, pasantian, maupun dentingan genta. Angin yang sehari sebelumnya berhembus demikian garang pada hari itu seolah turut tunduk hormat. Semuanya mengambil laku sepi dan hening. Hanya sekawanan angsa dan bebek yang tetap bersuara keras. Mereka mungkin sedang senang, sebab kawannya kini bertambah banyak.

Situasi kembali semarak pada tanggal 17 Oktober 2023. Hari itu adalah ritual mapadanan, momen di mana Ida Bhatara-Bhatari memberikan saripati kehidupan. Anugerah amreta dialirkan ke seluruh penjuru mata angin. Umat dari berbagai tempat ikut mamasar dan memperebutkan berbagai alat kebutuhan hidup yang telah digantung di bale padanan.

Tanggal 20 Oktober 2023 akhirnya tiba. Hari itu panyineban karya. Masyarakat Desa Adat Batur mempersembahkan prani. Panitia melaporkan pelaksanaan upacara, termasuk pemasukan dan pengeluaran selama karya agung digelar. Bhisama Ida Bhatari dikumandangkan melalui ritual matiti suara. Bagia-pulakerti di-tuek dan dipendam di meru, diiringi bakti patingkeb. Sekira pukul 18.00 WITA ritual selesai. Arca/pralingga diusung kembali ke Pura Ulun Danu Batur. Sembilan hari yang penuh pengorbanan para binatang itu pun berakhir, mengingatkan umat manusia untuk selalu mawas diri bahwa dunia bukan ruang hidupnya sendiri. [T] (bersambung)

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (1) : Mengulang Pemuliaan Danau 104 Tahun Lalu
Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (2): Bersatunya Air Suci dari Tiga Pulau di Danau Batur
Tags: Danau Baturdanu kertihDesa BaturGunung BaturPura Batur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengenal Jenis Bahan Sprei Paling Populer yang Bagus dan Adem

Next Post

Riwayat dan Prestasi Tim Bola Voli Padang Bulia Serta Persoalan yang Dihadapinya

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Riwayat dan Prestasi Tim Bola Voli Padang Bulia Serta Persoalan yang Dihadapinya

Riwayat dan Prestasi Tim Bola Voli Padang Bulia Serta Persoalan yang Dihadapinya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co