2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saklon | Cerpen Sonhaji Abdullah

Son Lomri by Son Lomri
October 28, 2023
in Cerpen
Saklon | Cerpen Sonhaji Abdullah

Ilustrasi tatkala.co

SEORANG laki-laki, dengan rekor sepuluh kali bercinta dalam sehari, enggan memiliki anak, bahkan satu anak sekali pun. Bahkan petisi penolakan telah dikirimnya melalui doa-doa khawatir kepada Tuhan saat bertempur sengit di atas ranjang. Namun, barangkali Tuhan tidak mendengar omong kosong itu dan tetap memberinya seorang anak di tahun kedua pernikahannya dengan Rodiah.

Apa yang dikhawatirkan lelaki itu terus terang memang terjadi betulan dan Tuhan mungkin paling terlibat dalam hal ini karena tidak mengabulkan petisinya. Bagaimana kemiskinan menurutnya hanyalah warisan yang akan terjadi kepada orang kecil di negeri ini.

Sementara keran derita pada bocah yang telah telanjur dilahirkan tanpa keberuntungan itu tidak terduga lebih lama takdir membawanya kepada umur 89 tahun dengan berbagai macam kesengsaraan dalam hidup. Selama itu juga jembut tak terhitung kepada anak itu yang tumbuh bahkan belum lagi helai-helai yang rontok karena penyakit gudik di area pler di waktu remajanya: sama banyaknya dengan nasib buruk yang sudah datang atau masih antre di hari tuanya yang sekarang.

Keran derita mengocor deras. Pori-pori hidup semakin terbuka di punggungnya saat masih kecil. Tetapi satu per satu mulai menyempit setelah bapaknya mati terkena angin duduk selepas pulang dari sawah menangkap katak dan ular kobra untuk dijual. Ia mati ketika bocah itu berumur sepuluh tahun. Sebab mati, sedikitnya ia terbebas dari sabetan apapun jika nakal menangkap katak dan ular tanpa pengawasan si bapak.

Setelah menjadi janda, ibunya juga menghilang. Tetapi tidak mati. Justru pergi bekerja dengan laki-laki lain ke Jambi mengikuti program transmigrasi ala Orba saat ia berumur lima belas tahun. Semenjak itu pula anak itu tak pernah lagi melihat ibunya memasak atau sekadar memarahinya untuk tidak datang ke dapur mencuri tempe atau goreng katak tanpa izin si ibu.

Ibunya tidak pernah pulang. Bukan karena ia kesal kepada anaknya yang sedikit tolol dan sakit-sakitan, tetapi memang untuk memutus rantai kemiskinan dan beban hidup. Sebagai alasan yang magis, orang-orang bilang sudah digondol kolong wewe di Jambi untuk selama-lamanya, untuk menghindari dari pertanyaan ruwet si bocah, “Kemana Ibuku pergi?”

Seorang nenek renta kemudian mengambil hak asuh dan si nenek mati setelah umur anak malang itu 21 tahun.

***

Dua minggu setelah Lebaran adalah hari ulang tahunnya yang ke-89. Bulan bagus ini barangkali hanyalah kebetulan saja atau sebuah kemungkinan ini adalah kado terbaik dari Tuhan karena merasa bersalah telah mengirimnya ke rahim keluarga bencana. Dalam fenomena ini, ia mengaku pernah merayu Tuhan agar hari raya disamakan saja dengan hari ulang tahunnya, sebagaimana perayaan mesti banyak orang dan dirayakan oleh banyak orang pula. Karena itu ia mengakali doa untuk hari raya dan ulang tahunnya disamakan saja.  

Tetapi rupanya setelah Lebaran berlalu dua minggu, rasaanya tetap hambar. Tradisi maaf-memaafkan, bertanya kabar, menangis dan mengalah, terasa biasa. Merayakan hari ulang tahun di rumahnya, bertemu tamu dan lainnya seakan sudah hambar untuk dilakukan oleh orang-orang yang datang ke sana. Termasuk ucapan selamat ulang tahun untuknya dari para tetangga yang masih menaruh rasa iba sedikit demi sedikit tidak lagi terdengar melalui pagar atau jendela.

Setelah hari raya tiada, orang-orang mulai meninggalkan wajah dan basa-basi tidak penting kepada sesamanya. Kembali kepada wajah aslinya yang bias dan mungkin bermoral anyir sebab perut lapar tidak boleh ditahan. Kepada pekerjaan. Orang-orang lebih banyak pergi ke sana. Melakukan hidup dengan sandiwara yang lebih menguntungkan dan tak jarang merupa diri seperti anjing, saling jilat-menjilati atau saling siasat-mensiasati jika bertemu di mana saja. Tetapi Pak Tua, setelah kembali kesepian, satu hari dirinya memilih untuk melamun dan sendiri di perapian dari pada pergi bekerja. Karena mungkin ini adalah masih suasana hari ulang tahunnya, hari istimewa.

Angin segar dari pohon-pohon dan semak belukar di belakang rumahnya masuk ke celah-celah lubang gedeg dan bilik ruang dapur. Menyejukkan. Membantu lamunan kian semakin sakral saat sore hari. Sebatang rokok yang ia hisap dalam-dalam membuat kenikmatan melamun menjadi lebih terasa. Kemudian mengakhirinya dengan ritual minum kopi sebelum akhirnya beranjak untuk mempersiapkan makan malam untuk dirinya sendiri.

Waktu berputar saat melamun memang seakan begitu cepat. Sedang malam. Cahaya bulan telah mengalahkan lampu-lampu lima watt yang bergelantungan di gubuk-gubuk kecil orang kecil, mengalahkan lamunannya juga. Sedang suara kodok, suara serangga serta lolongan anjing terus memuji-muji cahaya bulan dengan suara keras di atas bukit seolah tidak ada lagi cahaya lain. Nyaring! Mengusik untuk sebuah lamunan lanjutan. Separuh malam kemudian berubah menjadi waktu pertempuran Pak Tua untuk menyumpal mulut mereka agar tidak lagi memuji cahaya selain dari cahaya miliknya yang biasa digunakan untuk berburu: menangkap salah satu dari mereka untuk dijual.

Secara terpaksa lamunan ia tinggalkan selepas makan malam. Padahal dirinya telah berjanji pada sang pemilik waktu untuk melamun satu hari penuh dan tidak melakukan apa-apa di depan tungku, sampai api padam. Sampai malam tandas menjadi abu.

Cahaya agung dari seorang lelaki yang tak memiliki pekerjaan terhormat pula cinta. Seolah ini adalah hari terakhir penentuan sikap malam-malam. Perlahan-lahan lelaki tua itu mulai menyusuri jalan yang berbeda dari arah suara-suara bajingan yang didengarnya nyaring ingin disumpal. Tetapi dasar tua yang plin-plan, mudah sekali ia mengganti rasa ingin dalam membuktikan sesuatu yang lain, yang dianggapnya lebih jelas dan penting secara tiba-tiba. Katanya, lelah batin menuntun jalan hidup yang benar dan puas. Bukan lagi atas bisingnya suara binatang yang memuji cahaya bulan daripada cahaya di kepalanya sendiri. Persetan! Dan hanya sedikit pula untuk peduli pada itu dan dendam redup perlahan-lahan dalam hatinya. Tentu saja tidak sesuai dengan rencana awalnya yang jahat: menyekap dan menangkap. Dan menjualnya kepada tengkulak hewan. Atau, paling sadis ia panggang sendiri sebagai hidangan sarapan pagi esok.

Hutan kecil membawanya kepada hamparan sawah-sawah setelah membungkuk tertatih-tatih berjalan. Pertarungan yang sengit antara cahaya di kepalanya dengan cahaya bulan berebut lapak-lapak gelap di antara petak-petak sawah milik tuan tanah dan makelar. Sebuah saung tempat buruh tani beristirahat mulai terlihat dari kejauhan. Akhirnya. Ke sana ia berjalan menemui temannya bernama Saklon. Setelah melewati dua puluh petak sawah dan satu hutan kecil. Dengan dengusan yang boros, Pak Tua berjalan ke sana seperti orang yang akan kehabisan nafas. Bunyi jirigen kosong pun beradu dengan pinggangnya bercampur dengan rasa letih sedikit dendam. Disana ia merebahkan tubuh lelahnya kemudian sembari menanti sesuatu.

Ia mengalah pada cahaya bulan setelah tubuh merebah, senter dimatikan. Setelah beberapa menit mendiamkan diri mengatur nafas dengan tenang. Perlahan wajah jelek Saklon temannya itu mulai menampakan diri dari gulma dan kemudian melompat keatas daun yang cukup lebar.

 “Halo!! Pak Tua. Bagaimana kabarmu?” sapa Saklon.

Sementara gundukan hitam mulai merayapi kepada mereka dan nyaris merusak tatapan mereka ketika awan tebal yang datang dari arah Selat Sunda menutupi cahaya bulan untuk menerpa penuh di beberapa sawah di bagian timur, khususnya di saung kecil tempat mereka bertemu yang menjadi gelap. Sehingga kembali Pak Tua menyalakan senternya di kepala untuk menatap Saklon agar lebih terlihat. Tetapi senter yang ia gunakan hanya sebentar menghasilkan cahaya, habis baterai dan kemudian mati seketika.

Daripada senter dan bulan, justru kunang-kunang yang menyelamatkan mereka dari kegelapan sehingga obrolan terselamatkan menyala di antara mereka. “Hai!! Kabarku baik. Maafkan aku baru menemuimu sekarang, Kawan!”

“Tidak mengapa, Pak Tua. Aku tahu kau sedang sibuk merayakan hari gembira. Aku mendengar kalian menyebut nama Tuhan dari pengeras suara akhir-akhir ini. Apakah kalian sedang melakukan perayaan hari raya?”

“Ya. Kami juga menyebutnya sebagai hari kemenangan. Hari dimana orang-orang harus meminta maaf dan saling memaafkan. Mengalah dan bergembira, termasuk aku.  Sebagai penjahat kecil, aku mesti meminta maaf juga kepadamu. Karena di selatan, teman-temanmu banyak aku tangkap untuk dijual. Karena itu aku datang. Ini adalah hari istimewa untuk datang,”

“Aku menyukai pengakuanmu sebagai penjahat kecil. Tapi, berapa katak yang sudah kamu tangkap malam ini?”

“Terima kasih, Kawan. Ah, tidak ada! Aku tidak akan menangkap Saklon manapun malam ini dan sampai minggu depan. Ini masih dalam suasana hari raya sebab emuanya harus bergembira dan menang!”

Saklon hanya terheran-heran karena sulit untuk dipercaya bagaimana bisa seorang sepuh yang ahli dalam menangkap katak sejak kecil, kadal dan ular, dan beredar pula cerita jahatnya di kalangan binatang yang lain menurut leluhur mereka, tidak menangkap seekorpun secara buas malam ini kecuali seratus kunang-kunang didalam jirigen.

“Lantas untuk apa kau membawa jirigen ini?” tanya Saklon merasa aneh.

“Tidak untuk apa. Aku memang senang saja membawanya sedari dulu. Ini menandakan bahwa ini adalah aku. Yaa.. ini adalah aku dan tidak berubah…!”

 “Hoahhh…” ucapnya datar dan muak. “O, iya, aku sempat mendengar kabar dari angin timur arah kota. Tidak lama lagi sebuah kelompok dari bangsamu akan memotong bukit di Selatan; melubanginya sampai dalam dan menyulap panas bumi menjadi sumber cahaya. Mengambil air sebanyak-banyaknya. Apakah kau pernah mendengar itu dan atau termasuk di antara mereka sebagai pion?”

Pak Tua itu melepas jirigen dari tubuhnya dengan perlahan. Memperkirakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah ia dengar. Dahinya yang sudah mengkerut oleh usia semakin mengkerut saja ketika dipaksa berfikir keras. Mulailah ia menelisik kembali ingatan apakah pernah mendengar atau adalah bagian dari mereka sebagai pion. “Aku tidak tahu! Darimana kau tahu tentang hal ini?”

“Dasar tua yang tolol dan tidak berubah! Makanya nasibmu hanya menjadi penjahat kecil dan tidak punya cinta. Sudah kukatakan tadi, dari angin timur arah kota!” [T]

  • BACA CERPEN-CERPEN LAIN
Cinta dan Ilusi | Cerpen Ikrom F.
Perempuan di Bawah Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Betapa Pekat Asap di Puncak Semeru | Cerpen Arnata Pakangraras
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Gilang Sakti Ramadhan | Anggaran Perubahan Daerah

Next Post

“Gema Ladang”: Nyanyian Ladang dan Ratapan dari Flores Timur

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
“Gema Ladang”: Nyanyian Ladang dan Ratapan dari Flores Timur

“Gema Ladang”: Nyanyian Ladang dan Ratapan dari Flores Timur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co