13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Gema Ladang”: Nyanyian Ladang dan Ratapan dari Flores Timur

Jaswanto by Jaswanto
October 28, 2023
in Ulas Pentas
“Gema Ladang”: Nyanyian Ladang dan Ratapan dari Flores Timur

Adegan dalam pertunjukan "Gema Ladang" / Foto: Jaswan

LIMA perempuan berbusana Flores sedang memilah dan membersihkan jagung di nyiru masing-masing. Sesekali mereka menampi, menggoyangnya, menghentakkannya ke atas ke bawah—dan itu membuat debu yang menempel di bulir jagung, beterbangan. Sementara mereka sibuk membersihkan jagung dari kerikil dan kotoran lainnya, datang seorang laki-laki berpakaian asing, bersepatu, dan berwajah angkuh.

Lelaki tambun dengan kepala plontos itu membawa secontong beras di tangan kirinya lalu menebarkannya ke seluruh lantai pertunjukkan. Tak hanya itu, lelaki itu juga memasukkan beras ke dalam nyiru para perempuan Flores yang berisi jagung.

Dua potongan adegan tersebut berasal dari pertunjukan bertajuk Gema Ladang karya Silvester Petara Hurit. Karya ini digelar di Black Box Studio Produksi Film Negara pada Rabu (25/10/2023) sore pada gelaran Pekan Kebudayaan Nasional 2023. Di dalam karya ini, Silvester bekerja dengan Ipung Bethan (penata musik); Mance Ratu Loli (penata artistik); dan para aktor, yakni Zaeni Boli, Hero Atamara, John da Silva, Rin Letizia, Ina Sabu, Enn Hurit, Elisa Kehi, dan Beatris Aran.     

Adegan dalam pertunjukan “Gema Ladang” / Foto: Jaswan

Pada karya Gema Ladang, Silvester berangkat dari keadaan di sekitarnya, yakni mengangkat khazanah lokal, nyanyian khas yang membangkitkan gairah berladang, syukuran panen, juga ratapan kepedihan tatkala beras “memaksa” masuk ke Flores dan menggantikan jagung sebagai makanan pokok.

Benar. Beras-isasi pada masa pemerintahan Orde Baru sedikit banyak memengaruhi sejarah keberagaman pangan masyarakat lokal di Indonesia. Beras menggusur sorgum dan jagung di Nusa Tenggara Timur (NTT), menggantikan sagu di Papua. Dan itu berlangsung sampai hari ini. Bahkan, kemudian lahir stigma bahwa hanya orang miskin dan tertinggal saja yang masih mengonsumsi jagung. Orang kaya, orang bermartabat, memakan nasi putih.

Inferioritas Pangan Lokal

Kami sebenarnya bertekad hanya mengonsumsi pangan lokal selama perjalanan mendokumentasikan keragaman pangan di Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagaimana bagian dari peliputan sistem pangan di pulau-pulau kecil. Namun, apa daya kami harus bertahan dengan beras yang mesti didatangkan dari luar pulau.

Warung dengan menu masakan Padang dan masakan Jawa mendominasi hingga pelosok perkampungan, yang tentu saja karbohidratnya beras putih, selain warung bakso dengan mie gandum. Selama dua pekan perjalanan di NTT, kami kesulitan menemukan warung makan yang menyajikan bahan pangan lokal yang diolah dengan cara tradisional.

Adegan dalam pertunjukan “Gema Ladang” / Foto: Jaswan

Dua paragraf di atas saya ambil dari laporan Ahmad Arif dan Frans Pati Herin di Kompas (11/10/2023). Narasi di atas sangat jelas menyampaikan bagaimana beras telah benar-benar menggantikan pangan lokal seperti jagung atau sorgum di NTT. Hal tersebut mengingatkan saya pada dekade 1970 hingga 1980-an, semasa Orde Baru.

Pada masa itu, pemerintah menerapkan “strategi kembar” yang meliputi jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek berupa stabilisasi harga beras pada tingkat yang terjangkau, sedangkan jangka panjang yakni mencanangkan target swasembada mutlak.

Padahal, masa itu, di NTT, misalnya, sorgum menjadi makanan pokok di musim paceklik era 70-an. Sejak orang NTT pintar bercocok tanam padi, secara perlahan sorgum mulai dilupakan. Nilai sorgum juga berubah, manusia makan beras, sementara jagung dan sorgum jadi pakan hewan ternak atau burung liar. Ini menjadikan pangan lokal menjadi sangat inferior.

Kejahatan Atas Nama Kemajuan

Mengenai kebijakan pemerintah yang “semena-mena”, saya teringat perkataan Butet Manurung dalam kata pengantarnya untuk buku Yang Menyublim di Sela Hujan (2017) karya Fawaz. Dalam buku tersebut Butet menulis, saat kita datang ke suatu tempat kemudian di detik pertama kita langsung menerjemahkan pengalaman kasat mata dengan bergumam “kasihan”, “liar”, “miskin”, “bodoh”, “kotor”, “telanjang”, dan sebagainya, sebenarnya kita sedang melakukan kejahatan karena seolah kita berkata paada mereka bahwa diri kita “lebih bahagia”, “beradab”, “kaya”, “pintar”, “bersih”, dan “sopan”.

Adegan dalam pertunjukan “Gema Ladang” / Foto: Jaswan

Hal tersebut, lanjut Butet, berlaku juga ketika kita datang dengan niat untuk membantu. Setulus apa pun bantuan kita, tetapi pikiran-pikiran seperti itu berbahaya jika kita belum tahu betul situasi sebenarnya di lapangan. Pikiran kita akan mewarnai bantuan atau program yang akan diberikan. Jika sebuah program atau bantuan didasarkan pada persepsi sepihak, maka yang terjadi adalah penaklukan—karena kita memaksakan kepada mereka untuk memakai ukuran-ukuran kita. Hati-hati, niat baik saja tidak cukup!

Situasi yang tidak menguntungkan di atas tersampaikan dengan cukup baik dalam pertunjukan Gema Ladang.  Di samping adegan-adegan yang penuh keceriaan melalui nyanyian-nyanyian ladang, Silvester juga menampilkan kemarahan, kesedihan, dan ketidakberdayaan atas kebijakan pemerintah yang seolah acuh terhadap kondisi geografis wilayah timur.

Orang timur “dipaksa” makan beras. Mereka harus meninggalkan ubi-ubian, sorgum, dan jagung sebagai makanan pokok atas nama kemajuan dan status sosial yang lebih tinggi. Bertahun-tahun, wilayah timur Indonesia disebut sebagai daerah tertinggal, terdepan, terluar, dan ter ter lainnya.

Ketidakberdayaan orang timur atas datangnya beras tercermin dalam adegan saat seorang laki-laki timur dipaksa membuang biji jagung yang—dengan susah payah—ia kumpulkan dalam wadah anyaman terbuat dari daun lontar. Orang yang memaksa itu, lelaki plontos berwajah angkuh, berpakaian asing dan bersepatu, mengguyurkan jagung ke tubuh lelaki timur yang sudah tak berdaya.

Dari sini Silvester berhasil memperlihatkan “kejahatan” yang diperbuat atas nama kemajuan. Persoalannya hal tersebut terus diproduksi secara massal. Padahal di balik itu semua, pemerintah (kita) telah menyematkan pelbagai persepsi negatif kepada mereka.

Adegan dalam pertunjukan “Gema Ladang” / Foto: Jaswan

Lantas pemerintah (kita) merasa menjadi juru selamat ketika “menarik” mereka dari ketertinggalan dengan cara memaksa mereka dengan pola pikir kita. Seperti kata Butet Manurung, “Jika sebuah program atau bantuan didasarkan pada persepsi sepihak, maka yang terjadi adalah penaklukan—karena kita memaksakan kepada mereka untuk memakai ukuran-ukuran kita. Hati-hati, niat baik saja tidak cukup!”

Di daerah timur, musik dan tari berjalan bersamaan. Dalam Gema Ladang, melalui tari dan nyanyian, mereka berbicara, dan sudah seyogianya kita lihat, dengar, dan perhatikan lebih.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

BACA artikel lain terkait PEKAN KEBUDAYAAN NASIONAL 2023 atau artikel lain yang ditulis JASWANTO

“Dapur Bangsa”: Eksplorasi Kekayaan Kuliner Nusantara
“Membaca Sanghyang”: Tentang Ritual, Arsip, Posisi Perempuan, dan Pertanian
“Nge-GLITCH?”: Pertempuran antara Tubuh Digital dan Tubuh Manusia
Tags: FloresFlores Timurpekan kebudayaan nasionalseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saklon | Cerpen Sonhaji Abdullah

Next Post

Erich Fromm, Psikoanalisis, dan Zen Buddhisme: Eksegesis tentang Degradasi Egotistical dan De-Represi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails
Next Post
Erich Fromm, Psikoanalisis, dan Zen Buddhisme: Eksegesis tentang Degradasi Egotistical dan De-Represi

Erich Fromm, Psikoanalisis, dan Zen Buddhisme: Eksegesis tentang Degradasi Egotistical dan De-Represi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co