2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Erich Fromm, Psikoanalisis, dan Zen Buddhisme: Eksegesis tentang Degradasi Egotistical dan De-Represi

Made Ferry Kurniawan by Made Ferry Kurniawan
October 28, 2023
in Esai
Erich Fromm, Psikoanalisis, dan Zen Buddhisme: Eksegesis tentang Degradasi Egotistical dan De-Represi

Erich Fromm | Foto: Logos Indonesia, diolah tatkala.co

ERICH FROMM (1900-1980) lahir di am Maim, Jerman. Ia adalah anak tunggal dari pasangan Naphtali Fromm dan Rosa Fromm (nee Krause). Sebagai seorang yang lahir dari keluarga penganut Yahudi Ortodoks, Erich Fromm menghabiskan sebagian besar masa mudanya untuk memelajari Talmud. Walaupun ia berhenti memelajari kitab suci dan secara total meninggalkan liturgi ke-Yahudi-an pada usia 26 tahun.

Kendati demikian, cara pandangnya tentang dunia, banyak dipengaruhi oleh horizon Yudaisme. Meminati studi etika dan hukum, memantik Fromm untuk masuk jurusan hukum di Universitas Frankfurt. Dan, pada tahun 1919 memelajari studi sosiologi di bawah bimbingan Alfred Weber (saudara Max Weber) di Heidelberg.

Minat psikoanalitik Fromm mulai terlihat ketika ia menyusun disertasi pada tahun 1922, dengan memahami secara total ide-ide Sigmund Freud. Di sinilah titik awalnya mulai mengembangkan teori, metode, dan cara pandang terhadap dunia sosial melalui instrumentasi psikoanalisis.

Pemikiran Erich Fromm banyak dinarasikan dalam bahasa Jerman. Untungnya, jejak kompendiumnya banyak diterjemahkan ke berbagai jenis bahasa, terutama ke dalam bahasa Inggris. Sehingga, pokok penting mengenai psikoanalisis, sosiologi atau teori sosial bisa dinikmati oleh akademisi non-Jerman dan yang hanya bisa berbahasa Inggris—seperti saya, misalnya.

Para pembelajar menaruh minat besar pada analisis Fromm tentang sosio-psikoanalitik, otoritarianisme, adagium ‘karakter pemasaran’, kekuatan produktif manusia yang meliputi akal, budi dan cita, internalisasi ide mengenai sikap humanistik, dan pemahaman seni hidup untuk mencapai ‘masyarakat yang waras’.

Mengenai ‘masyarakat yang waras’, Fromm mencoba memformulasikan dan menciptakan katalisator psikoanalisis, guna menghubungkan narasi neurotik dengan ajaran Zen Buddhisme. Hal tersebut dilakukan untuk membuat formula baru dalam mendistorsi ketidakbahagiaan, atau melakukan de-represi sebagai realitas psikotik masyarakat era ini.

Individu dan komunitas sosial saat ini, oleh Fromm digambarkan sebagai ‘keadaan yang terdegradasi’. Maksudnya, baik dalam skala mikro, meso, atau makro sosial, kita telah mengalami krisis eksistensi dan berada dalam pusaran krisis. Citra krisis tersebut digambarkan sebagai malaise, ennui, mal du siècle, ‘kelumpuhan hidup’, otomatisasi manusia, alienasi dari diri-sendiri, dari sesamanya dan dari alam.

Manusia dalam limitasinya, dipaksa untuk mengejar rasionalisme sampai pada titik kulminasi. Mengejar rasionalisme sampai titik tersebut diistilahkan dengan ‘hilangnya hakikat ke-diri-an manusia’ dan kepasitas nalar mereka telah menjadi ‘irasionalisme total’. Fromm melanjutkan penjelasannya dengan mengatakan, semenjak kelahiran filsafat modern—dipelopori oleh Descartes—manusia telah terpisah dari kemampuan afeksinya, hanya pikiran yang dianggap rasional, dan dimensi afeksi diasosiasikan irasional.

Cara berpikir rasional melahirkan entitas intelektual, yang berkuasa atas alam serta manusia dipaksa untuk memroduksi lebih banyak benda-benda—diinterpretasikan sebagai antroposentrisme, kapitalisme dan ‘ekonomi berbagi’. Dalam keadaan seperti itu, manusia tekah mengubah dirinya menjadi elemen subordinat, membiarkan keadaan corporeal yang didominasi oleh hasrat-hasrat untuk memiliki. Akumulasi dari keterkungkungan itu ‘menyeret’ manusia ke dalam keterpurukan dan keterlemparan pada situasi schizoid.

Schizoid adalah ketidakmampuan untuk memahami dan mengalami afeksi—dan karenanya, individu menjadi cemas, takut, terepresi dan putus asa. Meski mereka masih ‘berbasa-basi’ dengan tujuan hidup yang bahagia, inisitatif untuk bebas dari keterbelegguan, sebenarnya kita sama sekali tidak memiliki tujuan.

Keadaan-keadaan yang menekan itu tentu menghambat penciptaan ‘masyarakat yang waras’, sehingga dibutuhkan formula khusus untuk melakukan de-represi atas keadaan tersebut. Disinilah Fromm banyak menggunakan kompendium Zen Buddhisme sebagai ‘jembatan psikoanalisis’ dalam menciptakan ‘kewarasan sosial’.

Fromm melihat bahwa Zen Buddhisme berkontribusi besar dalam menciptakan ‘kewarasan sosial’ karena Zen mengajarkan tentang realisme unggul—bagi pemikir Barat, pemikiran Zen dan Buddhisme jauh lebih rumit dari konsepsi Heraclitus, Meister Eckhart atau Heidegger. Ia dan ajaran Buddha mampu melihat manusia secara realistis dan objektif. Dikatakan bahwa, manusia tidak memiliki seseorang atau siapapun kecuali dirinya sendiri. Ke-diri-an itu akan bangkit dan membimbingnya.

Zen menuntun manusia untuk menemukan jawaban atas pertanyaan eksistensi, dan tidak serta merta bertentangan dengan rasionalitas, realisme, dan independensi yang menjadi capaian berharga bagi manusia modern. Fromm melihat, esensi Zen dan linieritasnya dengan psikoanalisis adalah seni untuk memahami hakikat keberadaan diri, juga orang lain—menunjukkan jalan keluar dari keterbelengguan menuju kebebasan.

Keterbelengguan diartikan sebagai kegilaan serta kelumpuhan. Sedangkan, kebebasan menjadi inti dari penjelasan psikoanalisis untuk menciptakan dorongan kreatif yang secara inheren ada dalam setiap diri individu. Dengan ini, manusia memiliki kapasitas untuk membuat diri mereka bahagia secara utuh—kondisi de-represi. Di sini bisa kita pahami bahwa Fromm dan Zen Buddhisme melahirkan kanonisme tentang indepndensi, social emphatic, dan berkontribusi besar membentuk karakter diri.

Selain itu, melalui ajaran Zen, Fromm berupaya melahirkan ‘radical humanism’ atau manusia yang secara intelektual memahami tujuan hidup dan akar eskatologisnya (Durkin, 2023; Wilde, 2015). Fromm mencoba memahami keadaan problematik yang merepresi manusia, ia menegaskan bahwa tiap individu harus menyadari partikularitas sekaligus dependensinya dengan orang lain. Dengan demikian, mereka bisa memosisikan diri kapan menjalani hakikat sebagai individum dan kapan menjalani esensi sebagai socius.

Melalui perkawinan psikoanalisis dan ajaran Zen, Fromm berhasil membangun psychotherapy, menyeimbangkan antara kebutuhan diri dan kolektivisme (Alexander, 2021; Harris, 2019). Inilah jalan fundamental menuju ‘masyarakat yang waras’, di mana individu mampu mengikis egotistical, ‘mengosongkan diri’ dan menyongsong kebangkitan penuh dari kepribadian total menuju kenyataan.

Dengan mengombinasikan narasi psikoanalitik dan Buddhisme, Fromm menyatakan, manusia yang mampu mengikis egotistical dan telah ter-de-represi, mengalami kebangkitan penuh akan realitas. Maksudnya, individu tersebut mampu mencapai ‘orientasi produktif’ seutuhnya.

Dalam keadaan ‘orientasi produktif’, mereka tidak lagi menghubungkan diri sendiri dengan dunia secara represif, eksploitatif, tertimbun oleh orientasi materialistik atau pasar. Melainkan, secara kreatif dan aktif membangun produktivitas penuh bahwa tidak ada tabir yang memisahkan antara Aku dan bukan-Aku, objek bukan lagi objek, dan objek itu sendiri tidak bertentangan, melainkan menyertaiku. Dalam mode perseptual semacam ini, tidak ada lagi distorsi parataksis sama sekali.

Aku mengalaminya secara intens—namun objek dunia dibiarkan apa adanya. Aku menghidupinya, dan objek itupun menghidupiku. Melalui pernyataan itu, Fromm ingin menjelaskan bahwa manusia bukanlan entitas superior, ia harus menurunkan egosektoralnya. Dengan mendegradasi ego itu, kebehagiaan dan depresi bisa diminimalisir. Ia juga menegaskan tentang efek lain dari rasionalitas. Rasionalitas dipandang sebagai sumber penderitaan, karena mengharuskan manusia mendefinisikan setiap fenomena, dan proses penciptaan sebuah terminologi berimbas pada keangkuhan serta tingkat depresi yang luar biasa.

Maka dari pada itu, menurut Fromm (dengan menyadur pemikiran Zen), manusia harus ditempatkan dalam sebuah dilema, yang darinya ia harus melarikan diri, tidak melalui logika, tetapi melalui pikiran yang lebih tinggi. Inilah sisi positif dan tujuan etis Zen, yang dalam psikoanalisis diartikan sebagai cara untuk mencapai totalitas ketenteraman dan keberanian, agar dapat beranjak dari keterbelengguan/kemelekatan menuju kebebasan.

Melalui Zen, Fromm menambahkan bahwa pemikiran Buddhisme berkontribusi besar dalam psikoanalisis karena adanya penegasan karakter dan non-intelektualitas, yang semua masalah hidup tidak cukup diselesaikan dengan akal budi, di mana rasonalitas kerap kali memenjarakan manusia pada keegoisan serta penderitaan. Sejauh mana manusia bisa melepaskan diri dari realitas material dan filter sosial (bahasa serta logika), mampu mengalami dirinya secara universal, sejauh itu pula represi dapat diminimalkan.

Jika represi dapat diminimalkan, maka tidak ada lagi pertentangan antara bawah sadar dengan kesadaran. Kesadaran yang digapai dengan keterbukaan diri, atau demi melonggarkan filter sosial, beragam kontradiksi akan lenyap. Lenyapnya kontradiksi akan menghadirkan pengalaman sadar secara langsung, tak-terefleksi atau jenis pengalaman yang hadir tanpa inteleksi.

Terakhir, dalam pengalaman yang hadir tanpa inteleksi, manusia mengalami penggapaian langsung. Ia sebagai ‘seniman kreatif kehidupan’, mampu mengekspresikan orisinalitas, kreativitas dan sisi kepribadian yang hidup. Tidak ada konvensionalitas, konformitas, dan tidak ada sesuatu yang menghambat.

Mereka tidak lagi memiliki jati diri yang terbungkus dalam eksistensi ego-sentris. Individu yang telah membersihkan dirinya dari ‘interferensi inteleksi’, dapat mewujudkan kehidupan bebas, spontan dan keberadaan perasaan yang mengganggu (ketakutan, kecemasan atau ketidaknyamanan) tak memiliki ruang untuk menyerangnya.

Dari narasi di atas, bisa dilihat bahwa Fromm memformulasikan kembali aras pemikiran Zen sebagai basis konstruksi simbolik dalam membangun pemahaman human psyche dan socio-analysis. Dengan tepat menarasikan human character untuk menghindarkan manusia dari beragam jenis kecemasan ataupun alienasi (Cheliotis, 2011; Durkin & Braune, 2021; Friedman, 2014).

Inilah ulasan panjang Zen yang coba dinarasikan ulang oleh Fromm tentang upaya menciptakan individu waras di tengah geliat ‘kegilaan sosial’.[T]

Daftar Pustaka

  • Alexander, J. C. (2021). The Prescience and Paradox of Erich Fromm: A Note on the Performative Contradictions of Critical Theory. Thesis Eleven, 165(1), 3–9. https://doi.org/10.1177/07255136211032830
  • Cheliotis, L. K. (2011). For a Freudo-Marxist Critique of Social Domination: Rediscovering Erich Fromm Through the Mirror of Pierre Bourdieu. Journal of Classical Sociology, 11(4), 438–461. https://doi.org/10.1177/1468795X11415133
  • Durkin, K. (2023). Book Review: Neil McLaughlin, Erich Fromm and Global Public Sociology. Sociology, 57(1), 253–254. https://doi.org/10.1177/00380385221081396
  • Durkin, K., & Braune, J. (2021). Book Review: Erich Fromm’s Critical Theory: Hope, Humanism, and the Future. European Journal of Social Theory, 24(1), 165–169. https://doi.org/10.1177/1368431020942496
  • Friedman, L. J. (2014). Book Essay on The Lives of Erich Fromm: Love’s Prophet. Journal of the American Psychoanalytic Association, 62(3), 503–519. https://doi.org/10.1177/0003065114536613
  • Harris, N. (2019). Reconstructing Erich Fromm’s ‘Pathology of Normalcy’: Transcending the Recognition-Cognitive Paradigm in the Diagnosis of Social Pathologies. Social Science Information, 58(4), 714–733. https://doi.org/10.1177/0539018419881403
  • Wilde, L. (2015). The Radical Humanism of Erich Fromm. Political Theory, 13(4), 565–566. https://doi.org/10.1111/1478-9302.12101
Fyodor Dostoyevsky: Prolegomena tentang Penderitaan, Kegilaan, dan Kekonyolan
Pemikiran Soedjatmoko tentang Pendidikan Abad ke-21 dan Masa yang akan Datang
Catatan Dari Meja Rene Descartes | Seri Pertama Soal Being
Filsafat Pendidikan Emansipatif Jacques Ranciére
Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein
Tags: esaifilsafatPsikologitokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gema Ladang”: Nyanyian Ladang dan Ratapan dari Flores Timur

Next Post

Bulan Bahasa: Momen Refleksi Diri dalam Penggunaan Bahasa

Made Ferry Kurniawan

Made Ferry Kurniawan

Mahasiswa S2 Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Bahasa: Momen Refleksi Diri dalam Penggunaan Bahasa

Bulan Bahasa: Momen Refleksi Diri dalam Penggunaan Bahasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co