12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Erich Fromm, Psikoanalisis, dan Zen Buddhisme: Eksegesis tentang Degradasi Egotistical dan De-Represi

Made Ferry Kurniawan by Made Ferry Kurniawan
October 28, 2023
in Esai
Erich Fromm, Psikoanalisis, dan Zen Buddhisme: Eksegesis tentang Degradasi Egotistical dan De-Represi

Erich Fromm | Foto: Logos Indonesia, diolah tatkala.co

ERICH FROMM (1900-1980) lahir di am Maim, Jerman. Ia adalah anak tunggal dari pasangan Naphtali Fromm dan Rosa Fromm (nee Krause). Sebagai seorang yang lahir dari keluarga penganut Yahudi Ortodoks, Erich Fromm menghabiskan sebagian besar masa mudanya untuk memelajari Talmud. Walaupun ia berhenti memelajari kitab suci dan secara total meninggalkan liturgi ke-Yahudi-an pada usia 26 tahun.

Kendati demikian, cara pandangnya tentang dunia, banyak dipengaruhi oleh horizon Yudaisme. Meminati studi etika dan hukum, memantik Fromm untuk masuk jurusan hukum di Universitas Frankfurt. Dan, pada tahun 1919 memelajari studi sosiologi di bawah bimbingan Alfred Weber (saudara Max Weber) di Heidelberg.

Minat psikoanalitik Fromm mulai terlihat ketika ia menyusun disertasi pada tahun 1922, dengan memahami secara total ide-ide Sigmund Freud. Di sinilah titik awalnya mulai mengembangkan teori, metode, dan cara pandang terhadap dunia sosial melalui instrumentasi psikoanalisis.

Pemikiran Erich Fromm banyak dinarasikan dalam bahasa Jerman. Untungnya, jejak kompendiumnya banyak diterjemahkan ke berbagai jenis bahasa, terutama ke dalam bahasa Inggris. Sehingga, pokok penting mengenai psikoanalisis, sosiologi atau teori sosial bisa dinikmati oleh akademisi non-Jerman dan yang hanya bisa berbahasa Inggris—seperti saya, misalnya.

Para pembelajar menaruh minat besar pada analisis Fromm tentang sosio-psikoanalitik, otoritarianisme, adagium ‘karakter pemasaran’, kekuatan produktif manusia yang meliputi akal, budi dan cita, internalisasi ide mengenai sikap humanistik, dan pemahaman seni hidup untuk mencapai ‘masyarakat yang waras’.

Mengenai ‘masyarakat yang waras’, Fromm mencoba memformulasikan dan menciptakan katalisator psikoanalisis, guna menghubungkan narasi neurotik dengan ajaran Zen Buddhisme. Hal tersebut dilakukan untuk membuat formula baru dalam mendistorsi ketidakbahagiaan, atau melakukan de-represi sebagai realitas psikotik masyarakat era ini.

Individu dan komunitas sosial saat ini, oleh Fromm digambarkan sebagai ‘keadaan yang terdegradasi’. Maksudnya, baik dalam skala mikro, meso, atau makro sosial, kita telah mengalami krisis eksistensi dan berada dalam pusaran krisis. Citra krisis tersebut digambarkan sebagai malaise, ennui, mal du siècle, ‘kelumpuhan hidup’, otomatisasi manusia, alienasi dari diri-sendiri, dari sesamanya dan dari alam.

Manusia dalam limitasinya, dipaksa untuk mengejar rasionalisme sampai pada titik kulminasi. Mengejar rasionalisme sampai titik tersebut diistilahkan dengan ‘hilangnya hakikat ke-diri-an manusia’ dan kepasitas nalar mereka telah menjadi ‘irasionalisme total’. Fromm melanjutkan penjelasannya dengan mengatakan, semenjak kelahiran filsafat modern—dipelopori oleh Descartes—manusia telah terpisah dari kemampuan afeksinya, hanya pikiran yang dianggap rasional, dan dimensi afeksi diasosiasikan irasional.

Cara berpikir rasional melahirkan entitas intelektual, yang berkuasa atas alam serta manusia dipaksa untuk memroduksi lebih banyak benda-benda—diinterpretasikan sebagai antroposentrisme, kapitalisme dan ‘ekonomi berbagi’. Dalam keadaan seperti itu, manusia tekah mengubah dirinya menjadi elemen subordinat, membiarkan keadaan corporeal yang didominasi oleh hasrat-hasrat untuk memiliki. Akumulasi dari keterkungkungan itu ‘menyeret’ manusia ke dalam keterpurukan dan keterlemparan pada situasi schizoid.

Schizoid adalah ketidakmampuan untuk memahami dan mengalami afeksi—dan karenanya, individu menjadi cemas, takut, terepresi dan putus asa. Meski mereka masih ‘berbasa-basi’ dengan tujuan hidup yang bahagia, inisitatif untuk bebas dari keterbelegguan, sebenarnya kita sama sekali tidak memiliki tujuan.

Keadaan-keadaan yang menekan itu tentu menghambat penciptaan ‘masyarakat yang waras’, sehingga dibutuhkan formula khusus untuk melakukan de-represi atas keadaan tersebut. Disinilah Fromm banyak menggunakan kompendium Zen Buddhisme sebagai ‘jembatan psikoanalisis’ dalam menciptakan ‘kewarasan sosial’.

Fromm melihat bahwa Zen Buddhisme berkontribusi besar dalam menciptakan ‘kewarasan sosial’ karena Zen mengajarkan tentang realisme unggul—bagi pemikir Barat, pemikiran Zen dan Buddhisme jauh lebih rumit dari konsepsi Heraclitus, Meister Eckhart atau Heidegger. Ia dan ajaran Buddha mampu melihat manusia secara realistis dan objektif. Dikatakan bahwa, manusia tidak memiliki seseorang atau siapapun kecuali dirinya sendiri. Ke-diri-an itu akan bangkit dan membimbingnya.

Zen menuntun manusia untuk menemukan jawaban atas pertanyaan eksistensi, dan tidak serta merta bertentangan dengan rasionalitas, realisme, dan independensi yang menjadi capaian berharga bagi manusia modern. Fromm melihat, esensi Zen dan linieritasnya dengan psikoanalisis adalah seni untuk memahami hakikat keberadaan diri, juga orang lain—menunjukkan jalan keluar dari keterbelengguan menuju kebebasan.

Keterbelengguan diartikan sebagai kegilaan serta kelumpuhan. Sedangkan, kebebasan menjadi inti dari penjelasan psikoanalisis untuk menciptakan dorongan kreatif yang secara inheren ada dalam setiap diri individu. Dengan ini, manusia memiliki kapasitas untuk membuat diri mereka bahagia secara utuh—kondisi de-represi. Di sini bisa kita pahami bahwa Fromm dan Zen Buddhisme melahirkan kanonisme tentang indepndensi, social emphatic, dan berkontribusi besar membentuk karakter diri.

Selain itu, melalui ajaran Zen, Fromm berupaya melahirkan ‘radical humanism’ atau manusia yang secara intelektual memahami tujuan hidup dan akar eskatologisnya (Durkin, 2023; Wilde, 2015). Fromm mencoba memahami keadaan problematik yang merepresi manusia, ia menegaskan bahwa tiap individu harus menyadari partikularitas sekaligus dependensinya dengan orang lain. Dengan demikian, mereka bisa memosisikan diri kapan menjalani hakikat sebagai individum dan kapan menjalani esensi sebagai socius.

Melalui perkawinan psikoanalisis dan ajaran Zen, Fromm berhasil membangun psychotherapy, menyeimbangkan antara kebutuhan diri dan kolektivisme (Alexander, 2021; Harris, 2019). Inilah jalan fundamental menuju ‘masyarakat yang waras’, di mana individu mampu mengikis egotistical, ‘mengosongkan diri’ dan menyongsong kebangkitan penuh dari kepribadian total menuju kenyataan.

Dengan mengombinasikan narasi psikoanalitik dan Buddhisme, Fromm menyatakan, manusia yang mampu mengikis egotistical dan telah ter-de-represi, mengalami kebangkitan penuh akan realitas. Maksudnya, individu tersebut mampu mencapai ‘orientasi produktif’ seutuhnya.

Dalam keadaan ‘orientasi produktif’, mereka tidak lagi menghubungkan diri sendiri dengan dunia secara represif, eksploitatif, tertimbun oleh orientasi materialistik atau pasar. Melainkan, secara kreatif dan aktif membangun produktivitas penuh bahwa tidak ada tabir yang memisahkan antara Aku dan bukan-Aku, objek bukan lagi objek, dan objek itu sendiri tidak bertentangan, melainkan menyertaiku. Dalam mode perseptual semacam ini, tidak ada lagi distorsi parataksis sama sekali.

Aku mengalaminya secara intens—namun objek dunia dibiarkan apa adanya. Aku menghidupinya, dan objek itupun menghidupiku. Melalui pernyataan itu, Fromm ingin menjelaskan bahwa manusia bukanlan entitas superior, ia harus menurunkan egosektoralnya. Dengan mendegradasi ego itu, kebehagiaan dan depresi bisa diminimalisir. Ia juga menegaskan tentang efek lain dari rasionalitas. Rasionalitas dipandang sebagai sumber penderitaan, karena mengharuskan manusia mendefinisikan setiap fenomena, dan proses penciptaan sebuah terminologi berimbas pada keangkuhan serta tingkat depresi yang luar biasa.

Maka dari pada itu, menurut Fromm (dengan menyadur pemikiran Zen), manusia harus ditempatkan dalam sebuah dilema, yang darinya ia harus melarikan diri, tidak melalui logika, tetapi melalui pikiran yang lebih tinggi. Inilah sisi positif dan tujuan etis Zen, yang dalam psikoanalisis diartikan sebagai cara untuk mencapai totalitas ketenteraman dan keberanian, agar dapat beranjak dari keterbelengguan/kemelekatan menuju kebebasan.

Melalui Zen, Fromm menambahkan bahwa pemikiran Buddhisme berkontribusi besar dalam psikoanalisis karena adanya penegasan karakter dan non-intelektualitas, yang semua masalah hidup tidak cukup diselesaikan dengan akal budi, di mana rasonalitas kerap kali memenjarakan manusia pada keegoisan serta penderitaan. Sejauh mana manusia bisa melepaskan diri dari realitas material dan filter sosial (bahasa serta logika), mampu mengalami dirinya secara universal, sejauh itu pula represi dapat diminimalkan.

Jika represi dapat diminimalkan, maka tidak ada lagi pertentangan antara bawah sadar dengan kesadaran. Kesadaran yang digapai dengan keterbukaan diri, atau demi melonggarkan filter sosial, beragam kontradiksi akan lenyap. Lenyapnya kontradiksi akan menghadirkan pengalaman sadar secara langsung, tak-terefleksi atau jenis pengalaman yang hadir tanpa inteleksi.

Terakhir, dalam pengalaman yang hadir tanpa inteleksi, manusia mengalami penggapaian langsung. Ia sebagai ‘seniman kreatif kehidupan’, mampu mengekspresikan orisinalitas, kreativitas dan sisi kepribadian yang hidup. Tidak ada konvensionalitas, konformitas, dan tidak ada sesuatu yang menghambat.

Mereka tidak lagi memiliki jati diri yang terbungkus dalam eksistensi ego-sentris. Individu yang telah membersihkan dirinya dari ‘interferensi inteleksi’, dapat mewujudkan kehidupan bebas, spontan dan keberadaan perasaan yang mengganggu (ketakutan, kecemasan atau ketidaknyamanan) tak memiliki ruang untuk menyerangnya.

Dari narasi di atas, bisa dilihat bahwa Fromm memformulasikan kembali aras pemikiran Zen sebagai basis konstruksi simbolik dalam membangun pemahaman human psyche dan socio-analysis. Dengan tepat menarasikan human character untuk menghindarkan manusia dari beragam jenis kecemasan ataupun alienasi (Cheliotis, 2011; Durkin & Braune, 2021; Friedman, 2014).

Inilah ulasan panjang Zen yang coba dinarasikan ulang oleh Fromm tentang upaya menciptakan individu waras di tengah geliat ‘kegilaan sosial’.[T]

Daftar Pustaka

  • Alexander, J. C. (2021). The Prescience and Paradox of Erich Fromm: A Note on the Performative Contradictions of Critical Theory. Thesis Eleven, 165(1), 3–9. https://doi.org/10.1177/07255136211032830
  • Cheliotis, L. K. (2011). For a Freudo-Marxist Critique of Social Domination: Rediscovering Erich Fromm Through the Mirror of Pierre Bourdieu. Journal of Classical Sociology, 11(4), 438–461. https://doi.org/10.1177/1468795X11415133
  • Durkin, K. (2023). Book Review: Neil McLaughlin, Erich Fromm and Global Public Sociology. Sociology, 57(1), 253–254. https://doi.org/10.1177/00380385221081396
  • Durkin, K., & Braune, J. (2021). Book Review: Erich Fromm’s Critical Theory: Hope, Humanism, and the Future. European Journal of Social Theory, 24(1), 165–169. https://doi.org/10.1177/1368431020942496
  • Friedman, L. J. (2014). Book Essay on The Lives of Erich Fromm: Love’s Prophet. Journal of the American Psychoanalytic Association, 62(3), 503–519. https://doi.org/10.1177/0003065114536613
  • Harris, N. (2019). Reconstructing Erich Fromm’s ‘Pathology of Normalcy’: Transcending the Recognition-Cognitive Paradigm in the Diagnosis of Social Pathologies. Social Science Information, 58(4), 714–733. https://doi.org/10.1177/0539018419881403
  • Wilde, L. (2015). The Radical Humanism of Erich Fromm. Political Theory, 13(4), 565–566. https://doi.org/10.1111/1478-9302.12101
Fyodor Dostoyevsky: Prolegomena tentang Penderitaan, Kegilaan, dan Kekonyolan
Pemikiran Soedjatmoko tentang Pendidikan Abad ke-21 dan Masa yang akan Datang
Catatan Dari Meja Rene Descartes | Seri Pertama Soal Being
Filsafat Pendidikan Emansipatif Jacques Ranciére
Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein
Tags: esaifilsafatPsikologitokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gema Ladang”: Nyanyian Ladang dan Ratapan dari Flores Timur

Next Post

Bulan Bahasa: Momen Refleksi Diri dalam Penggunaan Bahasa

Made Ferry Kurniawan

Made Ferry Kurniawan

Mahasiswa S2 Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Bahasa: Momen Refleksi Diri dalam Penggunaan Bahasa

Bulan Bahasa: Momen Refleksi Diri dalam Penggunaan Bahasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co