8 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filsafat Pendidikan Emansipatif Jacques Ranciére

Onessimus Febryan Ambun by Onessimus Febryan Ambun
July 14, 2023
in Opini
Filsafat Pendidikan Emansipatif Jacques Ranciére

Gambar oleh Onessimus Febryan Ambun

Pendahuluan

Akhir-akhir ini, gerakan emansipasi di berbagai bidang seolah-olah telah menjadi primadona dan semakin meningkat kuantitasnya. Aksi-aksi yang sering terdengar di berbagai media terutama tentang gerakan feminis, gerakan hak sipil, gerakan anti-rasisme, gerakan LGBT, gerakan hak pekerja, dsb, merupakan aksi-aksi yang pada umumnya menyuarakan emansipasi. Tak dapat dimungkiri, di tengah dunia yang masih saja mengalami berbagai macam penindasan dan ketidakadilan di pelbagai aspek kehidupannya, gerakan emansipasi sangat mutlak dibutuhkan. Gerakan emansipasi itu sendiri adalah suatu perjuangan atau usaha untuk mencapai kesetaraan, kebebasan, dan pembebasan dari segala bentuk penindasan, ketidakadilan, diskriminasi, atau ketergantungan yang dialami oleh kelompok tertentu dalam masyarakat.  

Di antara berbagai kampanye emansipasi yang sering digemakan oleh berbagai gerakan akhir-akhir ini, emansipasi di bidang pendidikan merupakan salah satu ide yang cukup menarik perhatian. Salah seorang aktivis gerakan emansipasi hak-hak buruh sekaligus filsuf terkenal asal Prancis, Jacques Rancière, berpandangan bahwa akar dari segala jenis ketimpangan yang masih terus berlanjut hingga saat ini sejatinya disebabkan oleh sistem pendidikan dunia yang tidak adil. Rancière berpendapat bahwa dunia pendidikan sangat butuh untuk diemansipasikan. Namun, pada dasarnya Rancière menawarkan konsep emansipasi yang berbeda dari pandangan tradisional. Menurutnya, emansipasi bukanlah sekadar pemberian kebebasan atau pembebasan dari penindasan eksternal, tetapi juga melibatkan pembebasan diri dari kondisi yang membuat seseorang dianggap sebagai “tidak kompeten” atau “tidak berdaya”.[1]

Dalam bidang pendidikan, Rancière menggambarkan emansipasi sebagai sebuah proses yang terkait dengan kesetaraan dan kebebasan intelektual. Dia menentang pembagian yang otoriter dalam masyarakat antara mereka yang memiliki pengetahuan, dan mereka yang dianggap “tidak tahu”.[2] Rancière berpendapat bahwa setiap individu memiliki kemauan dan kapasitas untuk berpikir dan belajar, tanpa memandang status sosial, latar belakang, atau tingkat pendidikan mereka. Namun, sebelum berlangkah lebih jauh, akan disajikan biografi singkat aktivis sekaligus filsuf hebat ini dan latar belakang pemikirannya.

Biografi

Jacques Rancière adalah seorang filsuf Perancis kontemporer kelahiran Aljazair pada tahun 1940. Setelah  ayahnya meninggal, ia bersama ibunya pindah ke Marseille – Perancis. Kemudian, ia menghabiskan masa kecil serta studinya di Paris. Selanjutnya ia belajar filsafat di École Normale Supérieure di Paris di bawah bimbingan filsuf Marxis strukturalis, Louis Althusser. Pada tahun 1969 ia bergabung dengan fakultas filsafat di Centre Universitaire Expérimental de Vincennes yang baru dibentuk, yang menjadi Universitas Paris VIII pada tahun 1971. Ia tetap di sana hingga pensiun sebagai profesor emeritus pada tahun 2000. Ia juga menjabat sebagai profesor filsafat di Eropa Graduate School di Saas-Fee, Swiss.[3]

Rancière yang juga dikenal sebagai murid Louis Althusser, turut menyumbang artikel dalam buku suntingan Althusser yang berjudul Lire le Capital (1965). Buku ini hingga saat ini masih sangat berpengaruh dalam pemikiran Marxis. Dari sana Rancière mulai mendalami Marx secara kritis dan dari sana pula ia meninggalkan Marxisme, dengan menolak Althusserianisme atas Marxisme ilmiahnya. Rancière mengubah arah teoritisnya dari filsafat Marxisme ke filsafat egalitarianisme yang merupakan bentuk baru dari perkembangan teori-teori emansipasi yang bercirikan penghindaran segala macam bentuk tendensi ekonomi-politik, sebagaimana telah menjadi ciri khas dari filsafat Althusser dan Marx.[4]

Berangkat dari pengalamannya bersama Althusser, juga pada saat yang sama dalam usahanya untuk meneliti proses emansipasi kelas pekerja di abad ke-19, sekitar tahun 1980-an Rancière menulis buku (novel) hasil riset tentang pendidikan yang merupakan bentuk penolakannya atas kesenjangan intelektual dalam lingkup pendidikan. Dari risetnya itu, Rancière lantas menyejajarkan proses emansipasi kaum buruh dengan proses emansipasi intellektual.[5] Di situ, ia mengangkat kisah tentang Jean-Joseph Jacotot (1770-1840) seorang guru bahasa Perancis yang bekerja di Belanda. Berjudul Le Maître Ignorant (1987), buku ini berkisah tentang pengalaman mengajar dari Jacotot yang memperaktikan metode pendidikan yang emansipatif.

Kisah Le Maître Ignorant

Dalam bukunya, Ranciére mengisahkan bahwa sekali waktu, Jean-Joseph Jacotot (1770-1840), orang Perancis, pernah mengajarkan bahasa Perancis kepada murid-muridnya di Belanda yang berbahasa Belanda. Namun permasalahannya, Jacotot sendiri tidak dapat berbicara bahasa Belanda. Ia kebingungan untuk mengajari para siswanya berbahasa Perancis. Ia kemudian bereksperimen dengan meminta murid-muridnya membaca novel bilingual (dua bahasa) Perancis-Belanda, “Télémaque” hingga setengah habis, mengulanginya dari awal lagi, dan mencoba menuliskan sesuatu dalam bahasa Perancis. Betapa terkejutnya ia mendapati mereka telah mampu menguasai bahasa Perancis dasar tanpa dirinya perlu menjelaskan sesuatu sama sekali.[6]

Peristiwa kecil ini sejatinya sangat menjungkirbalikkan pikiran Jacotot yang besar dalam tradisi pencerahan. Ia meminta murid-muridnya menulis dalam bahasa Prancis apa-apa yang mereka ingat dari buku yang telah dibaca. Karena bahasa Prancis begitu rumit, bisa dipahami bahwa Jacotot tidak berharap banyak untuk keberhasilan anak didiknya mengerjakan yang ia minta. Pasti akan banyak faute d’ortographe (kesalahan tulis), barbarisme (penggunaan bahasa yang salah kaprah), dan segala kekeliruan lain yang mengerikan, apalagi karena selama proses pengajaran ini Jacotot tidak pernah menjelaskan apa pun tentang tata bahasa atau konyugasi kata-kata bahasa Prancis.[7]

Namun, pada akhirnya anak-anak Belanda itu mampu belajar bahasa Prancis tanpa diberi penjelasan. Pengalaman ini menyadarkan Jacotot bahwa “kemauan” belajar bahasa Prancis ternyata begitu menentukan bagaimana anak-anak itu akhirnya “mampu” berbahasa Prancis. Lebih dari itu, Jacotot mulai berpikir bahwa semua manusia memiliki kemampuan yang sama untuk memahami apa yang juga dipahami dan dilakukan oleh sesamanya. Inilah yang menjadi inti argumentasi Rancière tentang kesetaran dalam bidang pendidikan atau emansipasi pendidikan. Bahwasannya, melalui metode “Pengajaran Universal Alamiah“, semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pengetahuan tanpa adanya sistem hierarkis di mana guru berperan sebagai “bank“ yang menyalurkan segala pengetahuan dengan metode penjelasannya yang sia-sia dan tidak emansipatoris.  

Konsep Pendidikan Emansipatif menurut Rancière

Dalam buku Le Maître Ignorant, sebagaimana telah dijelaskan, Rancière memperkenalkan konsep “emansipasi intelektual”. Menurut Rancière, emansipasi intelektual adalah proses di mana individu diberikan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan menggunakan kemampuan mereka untuk berpikir secara mandiri dan kreatif. Emansipasi intelektual juga membebaskan individu dari struktur hierarki yang ada dalam masyarakat, Rancière percaya bahwa pendidikan yang terbaik adalah pendidikan yang memberikan kesempatan pada individu untuk belajar mandiri dan mengembangkan kemampuan mereka.

Rancière menyatakan bahwa pendidikan harus membebaskan siswa dari struktur hierarki dan memberikan kesempatan pada siswa untuk memperoleh pengetahuan dengan bebas tanpa bayang-bayang seorang guru dengan sistem pendidikan gaya bank. Yang mana hal ini juga akan menghasilkan kesenjangan antara siswa yang berprestasi dengan siswa yang kurang berprestasi, karena kurikulum formal cenderung mengabaikan perbedaan individu dalam belajar.[8] Ia mengusulkan sebuah model pendidikan yang ia sebut “metode Jacotot” yang mengedepankan prinsip penghapusan hierarki antara guru dan murid.[9] Dalam metode ini, guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan siswa belajar secara mandiri dengan menggunakan sumber daya yang tersedia seperti buku dan media lainnya.

Di sini, Rancière mengajarkan tentang “Pengajaran Universal Alamiah“ di mana secara sederhana konsep ini dimengerti bahwa setiap individu dapat belajar tanpa memerlukan penjelasan dan instruksi panjang lebar. Dalam sebuah artikelnya tentang Rancière di Majalah Basis, Setyo Wibowo mengambil contoh sederhana tentang Metode Pengajaran Universal Alamiah ini dengan usaha seorang bayi untuk mempelajari bahasa ibunya atau tentang anak-anak yang mempelajari para Lamafa (pemburu ikan paus di Lamalera) dalam menangkap seekor paus. Mereka bisa mempelajari hal-hal tersebut dengan baik tanpa pelajaran formal atau bahkan tanpa penjelasan apapun.[10]

Pendekatan pendidikan yang diajarkan oleh Rancière dalam Le Maître Ignorant sangat kontras dengan pendekatan pendidikan tradisional. Pendekatan Rancière menekankan pada kesetaraan antara guru dan murid, sehingga membuka ruang bagi siswa untuk memperoleh pengetahuan secara mandiri dan kreatif. Rancière sangat menekankan egalitarianisme pedagogis. Menurutnya, “qui enseigne sans émanciper abrutit”, “siapa yang mengajar tanpa mengemansipasikan yang diajar berarti membodohkan (membebalkan)“.[11] Di sini, dalam pandangan Rancière, guru haruslah menjadi fasilitator dari sistem pendidikan yang emansipatoris, di mana sang guru tersebut mesti menghargai kemampuan serta kemauan yang dimiliki para murid sebagaimana dalam metode Jacotot yang egalitarian. Dalam metode Jacotot, siswa dianggap sebagai subjek yang aktif dalam proses belajar, ia bukanlah objek yang pasif yang hanya menerima pengetahuan dari guru. Inilah yang menjadi landasan pendidikan emansipatif ala Rancière.

Penutup

Dalam kesimpulannya, tak dapat dimungkiri bahwa pandangan Jacques Rancière tentang pendidikan yang terungkap dalam bukunya “Le maître ignorant” merupakan sebuah kontribusi yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Pandangan ini menekankan pada pentingnya emansipasi intelektual, penghapusan hierarki dalam pendidikan, dan pemberdayaan siswa untuk belajar secara mandiri dan kreatif. Metode Jacotot yang diajarkan oleh Rancière sejatinya dapat membantu mengatasi masalah ketidaksetaraan dalam pendidikan dan keterbelakangan intelektual. Meskipun demikian, pandangan Rancière tentang pendidikan juga memiliki beberapa kelemahan, seperti kebutuhan akan guru yang sangat terampil dan waktu yang lebih lama dalam memperoleh pengetahuan.

Namun demikian, pada dasarnya pandangan Rancière tentang pendidikan emansipatif tetap menjadi inspirasi bagi pengembangan metode dan kurikulum pendidikan yang lebih efektif dan relevan dalam konteks pendidikan modern dewasa ini yang sarat akan ketimpangan dan ketidakadilan. Rancière sendiri sebagaimana telah disinggung pernah menyejajarkan proses emansipasi kaum buruh dengan proses emansipasi intellektual. Dalam idenya tersebut, secara tersirat ia ingin mengatakan bahwa emansipasi intelektual adalah akses menuju emansipasi-emansipasi lain. Jika emansipasi kaum buruh saja harus melalui proses emansipasi intelektual, bukankah emansipasi intelektual atau emansipasi pendidikan adalah akses menuju masyarakat dunia yang bebas dari ketimpangan dan ketidakadilan? Hal ini sangat perlu untuk dicermati. [T]


[1] S. Indiyastutik, “Demokrasi Radikal Menurut Jacques Rancière ”, dalam Diskursus – Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara, Vol. 15, no. 2, Oct. 2016, https://journal.driyarkara.ac.id/index.php/diskursus/article/view/31, hlm. 154

[2] Ibid., hlm. 136.

[3] Brian Duignan,  “Jacques Rancière”, dalam Ensiklopedia Britannica , https://www.britannica.com/biography/Jacques-Rancière, diakses pada 15 Mei 2023.

[4] Martin Suryajaya, Alain Badiou dan Masa Depan Marxisme, (Yogyakarta: Resist Book, 2011), hlm. 75. Sebagaimana yang dikutip oleh Ayi Hambali & Rakhmat Hidayat, “Konsep Pedagogi Emansipatif Menurut Jacques Rancière”, Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis, 5.1, 2020, hlm. 3.

[5] A. Setyo Wibowo, “Pengajaran Universal Alamiah: Filsafat Pendidikan Jacques Rancière”, Majalah Basis, No. 11-12, tahun ke-62, 2013, hlm. 21.

[6]Jacques Rancière, Le maître ignorant, hlm. 7-8. Sebagaimana yang dikutip oleh Ibid., hlm. 23.

[7] Ibid., hlm. 24.

[8] Ibid., hlm. 28

[9] Ayi Hambali & Rakhmat Hidayat, Op. Cit., hlm. 5

[10] Bdk. A. Setyo Wibowo, Op. Cit., hlm. 1 dan hlm. 19.

[11] Jacques Rancière, Op. Cit., hlm. 38. Sebagaimana yang dikutip oleh Ibid., hlm. 27.

[][][]

  • BACA artikel lain dari penulis ONESSIMUS FEBRYAN AMBUN
Aristokrasi Übermensch: Nietzsche Vs Politik Haus Kekuasaan
Tags: filsafatilmu filsafatJacques RanciéreOnessimus Febryan AmbunPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Musik Pedesaan Thailand dari Mahasarakam University Collage of Music

Next Post

Pesan Komunikasi itu Bernama Puisi

Onessimus Febryan Ambun

Onessimus Febryan Ambun

Mahasiswa Prodi Filsafat IFTK Ledalero

Related Posts

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails
Next Post
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

Pesan Komunikasi itu Bernama Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis
Pendidikan

Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis

“J’aime atau je n’aime pas?” PERTANYAAN itu terdengar beberapa kali di LSPR Bali pada Senin, 28 September 2026. Saat itu,...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek
Buku Tatkala

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek

Judul: Permata Bali -- kumpulan cerita pendek Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Oka Sukanta ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
October 7, 2026
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co