25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aristokrasi Übermensch: Nietzsche Vs Politik Haus Kekuasaan

Onessimus Febryan Ambun by Onessimus Febryan Ambun
March 3, 2023
in Opini
Aristokrasi Übermensch: Nietzsche Vs Politik Haus Kekuasaan

Friedrich W. Nietzsche

MEGALOMANIA ATAU GANGGUAN KEJIWAAN yang menyebabkan orang sangat menginginkan kekuasaan ternyata telah menjangkiti pemimpin-pemimpin kita di negara ini. Berbagai macam kasus yang saat ini sedang membumi merupakan contoh konkret ruwetnya kehidupan politik bangsa Indonesia.

Kisruh yang saat ini sedang meledak ke permukaan soal masa jabatan kepala desa hingga sembilan (9) tahun adalah salah satu bukti kuat hausnya para pemimpin kita akan kekuasaan.

Persoalan yang sangat memprihatinkan ini bermula dari aksi demonstrasi Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Persatuan Perangkat Desa Seluruh Indonesia (PPDI) yang pada tanggal 21 Januari lalu mengajukan sejumlah tuntutan kepada Mendes PDTT (Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi).

Melansir Kompas (26/1/23), poin-poin utama yang menjadi tuntutan lembaga tersebut di antaranya adalah masa jabatan kepala desa harus diperpanjang menjadi 9 tahun dan boleh maju dalam 3 periode. Dengan demikian, total masa jabatan kepala desa menjadi 27 tahun. Hampir sama dengan masa jabatan Suharto sebagai presiden beberapa dekade lalu.

Persoalan politik di atas hanyalah satu dari sekian banyak persoalan-persoalan lain yang membingkai kehidupan politik bangsa kita. Fenomena haus kekuasaan merupakan suatu hal yang lumrah. Bukan saja para kepala desa, pejabat-pejabat tinggi di daerah maupun di pusat dengan segala cara juga ingin merengkuh dan mempertahankan singgasana kekuasaannya. Berbagai hal dilakukan agar rasa hausnya akan kekuasaan dapat terpuaskan, bahkan dengan cara-cara kotor sekalipun.

Tercatat berbagai macam kasus telah menjerat pejabat-pejabat yang rakus kekuasaan ke balik jeruji besi akibat pemilu yang curang. Di tahun-tahun belakangan, terutama tahun pemilu 2019, terhitung pelanggaran pidana kecurangan pemilu mencapai sekitar 582 kasus, belum terhitung pelanggaran administrasi, pelanggaran kode etik, dan pelanggaran-pelanggaran lain sebagainya yang jumlahnya ribuan (Bawaslu, 2019). Kecurangan-kecurangan tersebut sejatinya mempunyai satu tujuan khusus, yaitu untuk meraih kekuasaan dan melanggengkan kekuasaan.

Sungguh kenyataan yang sangat memilukan melihat bagaimana para pemimpin kita terobsesi dengan kekuasaan. Kekuasaan bagaikan satu-satunya harta yang harus dimiliki untuk mencapai kebahagiaan. Dengan kata lain, kunci untuk mencapai kebahagiaan adalah kekuasaan. Hal ini pada ghalibnya bukanlah suatu fenomena baru.

Sejak dahulu manusia telah saling berebut kekuasaan. Keinginan manusia untuk mendapatkan kekuasaan bukanlah sebuah teka-teki lagi, melainkan sebuah fakta tak terbantahkan. Sifat manusia yang haus kekuasaan ini telah menjadi suatu fenomena umum dalam kehidupannya sehari-hari.

Nietzsche Vs Politik (Haus Kekuasaan)

Menurut Friedrich W. Nietzsche, seorang filsuf besar asal Jerman, manusia-manusia yang haus kekuasaan inilah yang membuat politik menjadi kotor seperti lumpur yang tak dapat dibersihkan (Nietzsche, 1883:105).

Bagi Nietzsche, politik pada awal mulanya murni dari kenajisan-kenajisan semacam itu. Namun, dengan semakin berkembangnya zaman, semakin berkembang pula keinginan manusia. Sehingga, sering kali kekuasaan politik dijadikan alat oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Maka, dengan cara itulah kekuasaan menjadi semakin menarik di mata manusia.

Semakin hari, manusia semakin tidak bisa menahan diri. Ia ingin agar kekuasaan itu berada di dalam genggamannya. Ia melakukan segala cara. Dan segala cara ia halalkan, termasuk cara-cara yang sebenarnya haram.

Dalam magnum opus karya Nietzsche, yakni Thus Spoke Zarathustra, yang terbit pertama kali tahun 1883, Nietzsche mencaci para pemuja kekuasaan tersebut dengan keras:

Lihat, mereka yang berlebihan itu! Kekayaan mereka dapatkan, tapi justru mereka semakin miskin. Kekuasaan yang mereka cari, dan yang terutama mereka cari adalah tuas kekuasaan, uang dalam jumlah yang banyak – ya, mereka yang impoten ini … Lihat, mereka memanjat, kera-kera yang lincah ini! Mereka memanjat dan menginjak-injak satu sama lain, dan bertengkar sampai ke dalam lumpur kotor dan jurang tak berdasar …Mereka semua berlomba merengkuh singgasana: itulah kegilaan mereka – seolah sang kebahagiaan duduk di atas singgasana! Yang sering kali duduk di atas singgasana adalah kotoran – dan sering kali pula singgasana duduk di atas kotoran … Orang gila, demikian tampaknya mereka bagiku, seperti kera-kera yang sedang memanjat dengan terlalu bernafsu. Bau busuk dari berhala mereka itu bagiku, yaitu sang monster dingin: bau busuk dari mereka semua itu bagiku, para pengikut dan pemuja berhala ini. (Nietzsche, 1883:105)

Bagi Nietzsche, manusia-manusia yang gila kekuasaan adalah mereka yang juga gila akan harta. Jika kekuasaan telah direngkuh, maka harta akan mudah didapatkan. Dalam makiannya di atas, secara implisit Nietzsche mengingatkan para pembacanya tentang fenomena-fenomena yang berkaitan dengan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan untuk mengeruk harta sebanyak-banyaknya.

Hal itu terlihat jelas dalam kalimat “Kekayaan mereka dapatkan, tapi justru mereka semakin miskin. Kekuasaan yang mereka cari, dan yang terutama mereka cari adalah tuas kekuasaan, uang dalam jumlah yang banyak”.

Ketajaman pikiran Nietzsche benar-benar tidak dapat diragukan. Ia mengatakan bahwa semakin banyak harta yang dikumpulkan melalui kekuasaan, semakin miskinlah seseorang dan bukan semakin kaya. Kemiskinan yang dimaksud oleh Nietzsche sebenarnya adalah kemiskinan hati nurani.

Lebih lanjut, kera-kera yang saling menginjak satu sama lain seperti yang ada dalam kutipan di atas adalah personifikasi dari orang-orang yang haus kekuasaan menurut Nietzsche. Kera-kera itu saling menginjak satu sama lain. Mereka saling menginjak untuk berebut kekuasaan. Mereka menginjak semuanya. Entah itu sesama politikus atau juga rakyat kebanyakan.

Namun, korban yang paling menderita pastilah rakyat. Rakyat tak dapat berbuat banyak karena merekalah yang berada di lapisan paling bawah dalam sistem sosial dan politik kita. Rakyat adalah korban sebenarnya dari politik haus kekuasaan.

Selain itu, sebagaimana dalam sindirannya di atas, Nietzsche juga menyindir manusia yang berlomba-lomba meraih kekuasaan sebagai suatu kegilaan. Seolah-olah sang kebahagiaan duduk di atas tahta kekuasaan. Manusia sudah kehilangan akalnya. Ia mendambakan singgasana untuk mencapai kebahagiaan.

Bagi Nietzsche, mereka yang haus kekuasaan tersebut adalah para pemuja berhala. Mereka memuja kekuasaan lebih dari segala sesuatu. Politik di mata Nietzsche oleh karena itu adalah sebuah rumah sakit jiwa. Dipenuhi oleh pasien-pasien yang haus kekuasaan. Mereka semua mengalami kegilaan – gila akan kuasa. Hal ini identik dengan megalomania, sejenis penyakit kejiwaan. Menarik bahwa Nietzsche pada zamannya sudah lebih dahulu mengenali penyakit sejenis ini sebelum munculnya ilmu-ilmu kejiwaan.

Dengan demikian, kini kita sudah melihat bagaimana kritik Nietzsche atas politik yang hancur akibat fenomena haus kekuasaan. Dengan makiannya yang sangat keras, ia begitu jitu menghancurkan para megalomaniak dengan kata-katanya yang sangat menohok.

Namun, apakah usaha Nietzsche hanya sebatas kritik saja? Dapatkah ia memberikan solusi yang bisa memulihkan politik ke statusnya yang amat mulia? Ataukah kritikan Nietzsche itu hanya sebatas omong kosong belaka?

Aristokrasi Übermensch: Solusi Tepat Menghadapi Politik Haus Kekuasaan

Dari sekian banyak gagasan yang ia lahirkan selama hidupnya sebagai seorang filsuf, Übermensch adalah salah satu gagasan dasar yang amat penting dalam filsafat Nietzsche.

Ajaran Nietzsche tentang Übermensch ini diperkenalkan lewat mulut tokoh Zarathustra. Zarathustra dalam pengertian Nietzsche ini bukanlah sosok nabi dalam agama Zoroaster di Persia yang mewartakan adanya peperangan rohani antara kebaikan dan kejahatan; antara Ahura Mazda dan Angra Mainyu, melainkan seorang figur pembaharu yang mengajarkan makna dari dunia:

Lihatlah, aku mengajarkan Übermensch kepadamu!

Übermensch adalah makna dunia ini.

Biarlah kehendakmu berseru:

Hendaknya Übermensch menjadi makna dunia ini (Nietzsche, 1883:3).

Dalam buku Thus Spoke Zarathustra, bagi Nietzsche, kebutuhan manusia yang paling mendesak adalah soal pemaknaan. Dia melihat, nilai-nilai yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita telah runtuh.

Karena itu, melalui tokoh Zarathustra, Nietzsche mengajarkan Übermensch kepada kita. Übermensch adalah cara manusia memberikan nilai pada dirinya sendiri dan tidak bergantung pada apapun (Sunardi, 2011:147). Itu berarti, Übermensch adalah manusia yang melampaui.

Dalam bahasa Goenawan Mohamad, Übermensch berarti Adimanusia.  Ia adalah “manusia atas” yang tidak bergantung pada apapun. Ia mandiri, dapat memberi nilai pada dirinya sendiri, dan tak pernah ikut-ikutan layaknya kawanan domba. Ubermensh adalah seseorang yang memiliki karakter aristokrasi dalam dirinya. Singkatnya, ia adalah tuan. Tuan atas dirinya sendiri.

Übermensch ala Nietzsche pada ghalibnya didasarkan pada pokok utama pemikirannya, yaitu “Kehendak untuk Berkuasa” (Der Wille Zur Macht). Gagasannya ini sama sekali tidak terkait dengan kekuasaan seperti yang kita kenal dalam dunia politik, tetapi kehendak untuk berkuasa berarti kehendak untuk mencipta. Itu berarti Übermensch pada hakikatnya adalah suatu kreativitas.

Adimanusia atau Übermensch karena itu menurut Nietzsche adalah suatu proses di mana manusia dapat menciptakan makna bagi dirinya sendiri dan menolak konformitas. Konformitas sendiri dimengerti sebagai sikap ikut-ikutan. Ikut-ikutan ini dalam arti asal ikut saja nilai-nilai tradisi, budaya, agama, dan bahkan tren-tren yang sedang berkembang.

Karena itu, dalam buku Genealogy of Morals, Nietzsche membedakan dua moralitas manusia. Yang pertama, Moralitas Tuan. Dan yang kedua, Moralitas Budak atau Moralitas Kawanan. Menurut Nietzsche, Übermensch memakai moralitas yang pertama, yaitu Moralitas Tuan yang bersifat aristokratik, sedangkan manusia yang hidup ikut-ikutan adalah mereka yang memakai Moralitas Budak atau Moralitas Kawanan. Mereka tidak bisa berpikir dan mencipta. (Nietzsche: 1887)

Melalui tokoh Zarathustra dalam karyanya, Nietzsche mengajak kita semua untuk menjadi tuan atas diri kita sendiri atau Übermensch. Itu berarti, kita harus memakai Moralitas Tuan. Kita harus bisa mengembangkan sikap kreatif dan dapat berpikir sendiri. Nietzsche sangat anti dengan sikap banal di mana kita hanya berpikiran dangkal atau bahkan tidak bisa berpikir sama sekali untuk diri kita sendiri.

Dalam gagasan-gagasannya, Nietzsche berharap agar kita bisa memimpin diri kita sendiri dengan nilai-nilai yang kita ciptakan sendiri sama seperti Übermensch. Aristokrasi yang termuat dalam Übermensch adalah sebuah contoh di mana kita bisa menimba inspirasi untuk menolak setiap kecenderungan dalam diri atau kecenderungan yang ada dalam masyarakat terutama kecenderungan dalam dunia politik kita yang sangat berambisi untuk merengkuh singgasana layaknya kera-kera yang saling menginjak-injak satu sama lain untuk berebut pisang.

Jadilah Tuan Atas Dirimu Sendiri, Jangan ikut-ikutan

Telah kita ketahui, dewasa ini telah berkembang sebuah tren politik di mana manusia sangat terikat dengan kecenderungan-kecenderungan jahatnya untuk menggapai kekuasaan. Seolah-olah kekuasaan adalah segala-galanya.

Bagi Nietzsche, nilai aristokrasi dalam Übermensch adalah solusi terbaik menghadapi patologi-patologi politik seperti megalomania. Megalomania atau penyakit haus kekuasaan adalah salah satu biang kerok rusaknya kehidupan politik bangsa kita.

Nietzsche dengan sangat jelas memperingatkan betapa berbahayanya para megalomaniak tersebut dalam politik. Mereka bagaikan kera gila yang saling menginjak-injak untuk berebut pisang yang dapat mengenyangkan perut mereka.

Karena itu, kita harus bersikap hati-hati terhadap tuntutan para kepala desa yang baru-baru ini meminta kenaikan masa jabatan. Bisa saja para pemimpin adalah para megalomaniak yang sangat mendambakan kekuasaan. Begitu pula dengan para calon legislatif atau para calon pemimpin di daerah dan pusat yang sering kali ber-money politic atau sering kali melakukan kecurangan lain dalam pemilu, jangan sampai kita semua akhirnya terlibat dalam tipu muslihat mereka untuk merengkuh tahta kotoran seperti yang disindir oleh Nietzsche.

Kiranya, para pembaca tulisan ini, yaitu para calon pemimpin di negeri kita dapat berguru pada Nietzsche tentang bagaimana menjadi seorang Übermensch.

Bagi Nietzsche, untuk menjadi Übermensch, resepnya sederhana: “Jadilah tuan atas dirimu sendiri. Jangan ikut-ikutan. Ciptakan sendiri nilai-nilaimu dan beranilah berpikir sendiri. Tolaklah tren-tren dan kecenderungan-kecenderungan yang membuat dirimu sendiri hancur, seperti ambisi yang tidak sehat pada kekuasaan.” [T]

Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein
Polemik Tentang Sains, Agama dan Filsafat antara GM dan AS Laksana – Sebuah Perbandingan
Curangologi: Filsafat Curang Seri 1 – Gambar Umbul
Tags: filsafatFriedrich W. Nietzscheilmu filsafatNietzschePolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Golf Hanya Untuk Orang Kaya dan Orang yang Ngebet Kaya

Next Post

Pemilu Setahun Lagi, Anak-anak SMPN 2 Sawan Justru Sudah Gunakan Hak Pilihnya

Onessimus Febryan Ambun

Onessimus Febryan Ambun

Mahasiswa Prodi Filsafat IFTK Ledalero

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Pemilu Setahun Lagi, Anak-anak SMPN 2 Sawan Justru Sudah Gunakan Hak Pilihnya

Pemilu Setahun Lagi, Anak-anak SMPN 2 Sawan Justru Sudah Gunakan Hak Pilihnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co