12 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aristokrasi Übermensch: Nietzsche Vs Politik Haus Kekuasaan

Onessimus Febryan Ambun by Onessimus Febryan Ambun
March 3, 2023
in Opini
Aristokrasi Übermensch: Nietzsche Vs Politik Haus Kekuasaan

Friedrich W. Nietzsche

MEGALOMANIA ATAU GANGGUAN KEJIWAAN yang menyebabkan orang sangat menginginkan kekuasaan ternyata telah menjangkiti pemimpin-pemimpin kita di negara ini. Berbagai macam kasus yang saat ini sedang membumi merupakan contoh konkret ruwetnya kehidupan politik bangsa Indonesia.

Kisruh yang saat ini sedang meledak ke permukaan soal masa jabatan kepala desa hingga sembilan (9) tahun adalah salah satu bukti kuat hausnya para pemimpin kita akan kekuasaan.

Persoalan yang sangat memprihatinkan ini bermula dari aksi demonstrasi Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Persatuan Perangkat Desa Seluruh Indonesia (PPDI) yang pada tanggal 21 Januari lalu mengajukan sejumlah tuntutan kepada Mendes PDTT (Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi).

Melansir Kompas (26/1/23), poin-poin utama yang menjadi tuntutan lembaga tersebut di antaranya adalah masa jabatan kepala desa harus diperpanjang menjadi 9 tahun dan boleh maju dalam 3 periode. Dengan demikian, total masa jabatan kepala desa menjadi 27 tahun. Hampir sama dengan masa jabatan Suharto sebagai presiden beberapa dekade lalu.

Persoalan politik di atas hanyalah satu dari sekian banyak persoalan-persoalan lain yang membingkai kehidupan politik bangsa kita. Fenomena haus kekuasaan merupakan suatu hal yang lumrah. Bukan saja para kepala desa, pejabat-pejabat tinggi di daerah maupun di pusat dengan segala cara juga ingin merengkuh dan mempertahankan singgasana kekuasaannya. Berbagai hal dilakukan agar rasa hausnya akan kekuasaan dapat terpuaskan, bahkan dengan cara-cara kotor sekalipun.

Tercatat berbagai macam kasus telah menjerat pejabat-pejabat yang rakus kekuasaan ke balik jeruji besi akibat pemilu yang curang. Di tahun-tahun belakangan, terutama tahun pemilu 2019, terhitung pelanggaran pidana kecurangan pemilu mencapai sekitar 582 kasus, belum terhitung pelanggaran administrasi, pelanggaran kode etik, dan pelanggaran-pelanggaran lain sebagainya yang jumlahnya ribuan (Bawaslu, 2019). Kecurangan-kecurangan tersebut sejatinya mempunyai satu tujuan khusus, yaitu untuk meraih kekuasaan dan melanggengkan kekuasaan.

Sungguh kenyataan yang sangat memilukan melihat bagaimana para pemimpin kita terobsesi dengan kekuasaan. Kekuasaan bagaikan satu-satunya harta yang harus dimiliki untuk mencapai kebahagiaan. Dengan kata lain, kunci untuk mencapai kebahagiaan adalah kekuasaan. Hal ini pada ghalibnya bukanlah suatu fenomena baru.

Sejak dahulu manusia telah saling berebut kekuasaan. Keinginan manusia untuk mendapatkan kekuasaan bukanlah sebuah teka-teki lagi, melainkan sebuah fakta tak terbantahkan. Sifat manusia yang haus kekuasaan ini telah menjadi suatu fenomena umum dalam kehidupannya sehari-hari.

Nietzsche Vs Politik (Haus Kekuasaan)

Menurut Friedrich W. Nietzsche, seorang filsuf besar asal Jerman, manusia-manusia yang haus kekuasaan inilah yang membuat politik menjadi kotor seperti lumpur yang tak dapat dibersihkan (Nietzsche, 1883:105).

Bagi Nietzsche, politik pada awal mulanya murni dari kenajisan-kenajisan semacam itu. Namun, dengan semakin berkembangnya zaman, semakin berkembang pula keinginan manusia. Sehingga, sering kali kekuasaan politik dijadikan alat oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Maka, dengan cara itulah kekuasaan menjadi semakin menarik di mata manusia.

Semakin hari, manusia semakin tidak bisa menahan diri. Ia ingin agar kekuasaan itu berada di dalam genggamannya. Ia melakukan segala cara. Dan segala cara ia halalkan, termasuk cara-cara yang sebenarnya haram.

Dalam magnum opus karya Nietzsche, yakni Thus Spoke Zarathustra, yang terbit pertama kali tahun 1883, Nietzsche mencaci para pemuja kekuasaan tersebut dengan keras:

Lihat, mereka yang berlebihan itu! Kekayaan mereka dapatkan, tapi justru mereka semakin miskin. Kekuasaan yang mereka cari, dan yang terutama mereka cari adalah tuas kekuasaan, uang dalam jumlah yang banyak – ya, mereka yang impoten ini … Lihat, mereka memanjat, kera-kera yang lincah ini! Mereka memanjat dan menginjak-injak satu sama lain, dan bertengkar sampai ke dalam lumpur kotor dan jurang tak berdasar …Mereka semua berlomba merengkuh singgasana: itulah kegilaan mereka – seolah sang kebahagiaan duduk di atas singgasana! Yang sering kali duduk di atas singgasana adalah kotoran – dan sering kali pula singgasana duduk di atas kotoran … Orang gila, demikian tampaknya mereka bagiku, seperti kera-kera yang sedang memanjat dengan terlalu bernafsu. Bau busuk dari berhala mereka itu bagiku, yaitu sang monster dingin: bau busuk dari mereka semua itu bagiku, para pengikut dan pemuja berhala ini. (Nietzsche, 1883:105)

Bagi Nietzsche, manusia-manusia yang gila kekuasaan adalah mereka yang juga gila akan harta. Jika kekuasaan telah direngkuh, maka harta akan mudah didapatkan. Dalam makiannya di atas, secara implisit Nietzsche mengingatkan para pembacanya tentang fenomena-fenomena yang berkaitan dengan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan untuk mengeruk harta sebanyak-banyaknya.

Hal itu terlihat jelas dalam kalimat “Kekayaan mereka dapatkan, tapi justru mereka semakin miskin. Kekuasaan yang mereka cari, dan yang terutama mereka cari adalah tuas kekuasaan, uang dalam jumlah yang banyak”.

Ketajaman pikiran Nietzsche benar-benar tidak dapat diragukan. Ia mengatakan bahwa semakin banyak harta yang dikumpulkan melalui kekuasaan, semakin miskinlah seseorang dan bukan semakin kaya. Kemiskinan yang dimaksud oleh Nietzsche sebenarnya adalah kemiskinan hati nurani.

Lebih lanjut, kera-kera yang saling menginjak satu sama lain seperti yang ada dalam kutipan di atas adalah personifikasi dari orang-orang yang haus kekuasaan menurut Nietzsche. Kera-kera itu saling menginjak satu sama lain. Mereka saling menginjak untuk berebut kekuasaan. Mereka menginjak semuanya. Entah itu sesama politikus atau juga rakyat kebanyakan.

Namun, korban yang paling menderita pastilah rakyat. Rakyat tak dapat berbuat banyak karena merekalah yang berada di lapisan paling bawah dalam sistem sosial dan politik kita. Rakyat adalah korban sebenarnya dari politik haus kekuasaan.

Selain itu, sebagaimana dalam sindirannya di atas, Nietzsche juga menyindir manusia yang berlomba-lomba meraih kekuasaan sebagai suatu kegilaan. Seolah-olah sang kebahagiaan duduk di atas tahta kekuasaan. Manusia sudah kehilangan akalnya. Ia mendambakan singgasana untuk mencapai kebahagiaan.

Bagi Nietzsche, mereka yang haus kekuasaan tersebut adalah para pemuja berhala. Mereka memuja kekuasaan lebih dari segala sesuatu. Politik di mata Nietzsche oleh karena itu adalah sebuah rumah sakit jiwa. Dipenuhi oleh pasien-pasien yang haus kekuasaan. Mereka semua mengalami kegilaan – gila akan kuasa. Hal ini identik dengan megalomania, sejenis penyakit kejiwaan. Menarik bahwa Nietzsche pada zamannya sudah lebih dahulu mengenali penyakit sejenis ini sebelum munculnya ilmu-ilmu kejiwaan.

Dengan demikian, kini kita sudah melihat bagaimana kritik Nietzsche atas politik yang hancur akibat fenomena haus kekuasaan. Dengan makiannya yang sangat keras, ia begitu jitu menghancurkan para megalomaniak dengan kata-katanya yang sangat menohok.

Namun, apakah usaha Nietzsche hanya sebatas kritik saja? Dapatkah ia memberikan solusi yang bisa memulihkan politik ke statusnya yang amat mulia? Ataukah kritikan Nietzsche itu hanya sebatas omong kosong belaka?

Aristokrasi Übermensch: Solusi Tepat Menghadapi Politik Haus Kekuasaan

Dari sekian banyak gagasan yang ia lahirkan selama hidupnya sebagai seorang filsuf, Übermensch adalah salah satu gagasan dasar yang amat penting dalam filsafat Nietzsche.

Ajaran Nietzsche tentang Übermensch ini diperkenalkan lewat mulut tokoh Zarathustra. Zarathustra dalam pengertian Nietzsche ini bukanlah sosok nabi dalam agama Zoroaster di Persia yang mewartakan adanya peperangan rohani antara kebaikan dan kejahatan; antara Ahura Mazda dan Angra Mainyu, melainkan seorang figur pembaharu yang mengajarkan makna dari dunia:

Lihatlah, aku mengajarkan Übermensch kepadamu!

Übermensch adalah makna dunia ini.

Biarlah kehendakmu berseru:

Hendaknya Übermensch menjadi makna dunia ini (Nietzsche, 1883:3).

Dalam buku Thus Spoke Zarathustra, bagi Nietzsche, kebutuhan manusia yang paling mendesak adalah soal pemaknaan. Dia melihat, nilai-nilai yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita telah runtuh.

Karena itu, melalui tokoh Zarathustra, Nietzsche mengajarkan Übermensch kepada kita. Übermensch adalah cara manusia memberikan nilai pada dirinya sendiri dan tidak bergantung pada apapun (Sunardi, 2011:147). Itu berarti, Übermensch adalah manusia yang melampaui.

Dalam bahasa Goenawan Mohamad, Übermensch berarti Adimanusia.  Ia adalah “manusia atas” yang tidak bergantung pada apapun. Ia mandiri, dapat memberi nilai pada dirinya sendiri, dan tak pernah ikut-ikutan layaknya kawanan domba. Ubermensh adalah seseorang yang memiliki karakter aristokrasi dalam dirinya. Singkatnya, ia adalah tuan. Tuan atas dirinya sendiri.

Übermensch ala Nietzsche pada ghalibnya didasarkan pada pokok utama pemikirannya, yaitu “Kehendak untuk Berkuasa” (Der Wille Zur Macht). Gagasannya ini sama sekali tidak terkait dengan kekuasaan seperti yang kita kenal dalam dunia politik, tetapi kehendak untuk berkuasa berarti kehendak untuk mencipta. Itu berarti Übermensch pada hakikatnya adalah suatu kreativitas.

Adimanusia atau Übermensch karena itu menurut Nietzsche adalah suatu proses di mana manusia dapat menciptakan makna bagi dirinya sendiri dan menolak konformitas. Konformitas sendiri dimengerti sebagai sikap ikut-ikutan. Ikut-ikutan ini dalam arti asal ikut saja nilai-nilai tradisi, budaya, agama, dan bahkan tren-tren yang sedang berkembang.

Karena itu, dalam buku Genealogy of Morals, Nietzsche membedakan dua moralitas manusia. Yang pertama, Moralitas Tuan. Dan yang kedua, Moralitas Budak atau Moralitas Kawanan. Menurut Nietzsche, Übermensch memakai moralitas yang pertama, yaitu Moralitas Tuan yang bersifat aristokratik, sedangkan manusia yang hidup ikut-ikutan adalah mereka yang memakai Moralitas Budak atau Moralitas Kawanan. Mereka tidak bisa berpikir dan mencipta. (Nietzsche: 1887)

Melalui tokoh Zarathustra dalam karyanya, Nietzsche mengajak kita semua untuk menjadi tuan atas diri kita sendiri atau Übermensch. Itu berarti, kita harus memakai Moralitas Tuan. Kita harus bisa mengembangkan sikap kreatif dan dapat berpikir sendiri. Nietzsche sangat anti dengan sikap banal di mana kita hanya berpikiran dangkal atau bahkan tidak bisa berpikir sama sekali untuk diri kita sendiri.

Dalam gagasan-gagasannya, Nietzsche berharap agar kita bisa memimpin diri kita sendiri dengan nilai-nilai yang kita ciptakan sendiri sama seperti Übermensch. Aristokrasi yang termuat dalam Übermensch adalah sebuah contoh di mana kita bisa menimba inspirasi untuk menolak setiap kecenderungan dalam diri atau kecenderungan yang ada dalam masyarakat terutama kecenderungan dalam dunia politik kita yang sangat berambisi untuk merengkuh singgasana layaknya kera-kera yang saling menginjak-injak satu sama lain untuk berebut pisang.

Jadilah Tuan Atas Dirimu Sendiri, Jangan ikut-ikutan

Telah kita ketahui, dewasa ini telah berkembang sebuah tren politik di mana manusia sangat terikat dengan kecenderungan-kecenderungan jahatnya untuk menggapai kekuasaan. Seolah-olah kekuasaan adalah segala-galanya.

Bagi Nietzsche, nilai aristokrasi dalam Übermensch adalah solusi terbaik menghadapi patologi-patologi politik seperti megalomania. Megalomania atau penyakit haus kekuasaan adalah salah satu biang kerok rusaknya kehidupan politik bangsa kita.

Nietzsche dengan sangat jelas memperingatkan betapa berbahayanya para megalomaniak tersebut dalam politik. Mereka bagaikan kera gila yang saling menginjak-injak untuk berebut pisang yang dapat mengenyangkan perut mereka.

Karena itu, kita harus bersikap hati-hati terhadap tuntutan para kepala desa yang baru-baru ini meminta kenaikan masa jabatan. Bisa saja para pemimpin adalah para megalomaniak yang sangat mendambakan kekuasaan. Begitu pula dengan para calon legislatif atau para calon pemimpin di daerah dan pusat yang sering kali ber-money politic atau sering kali melakukan kecurangan lain dalam pemilu, jangan sampai kita semua akhirnya terlibat dalam tipu muslihat mereka untuk merengkuh tahta kotoran seperti yang disindir oleh Nietzsche.

Kiranya, para pembaca tulisan ini, yaitu para calon pemimpin di negeri kita dapat berguru pada Nietzsche tentang bagaimana menjadi seorang Übermensch.

Bagi Nietzsche, untuk menjadi Übermensch, resepnya sederhana: “Jadilah tuan atas dirimu sendiri. Jangan ikut-ikutan. Ciptakan sendiri nilai-nilaimu dan beranilah berpikir sendiri. Tolaklah tren-tren dan kecenderungan-kecenderungan yang membuat dirimu sendiri hancur, seperti ambisi yang tidak sehat pada kekuasaan.” [T]

Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein
Polemik Tentang Sains, Agama dan Filsafat antara GM dan AS Laksana – Sebuah Perbandingan
Curangologi: Filsafat Curang Seri 1 – Gambar Umbul
Tags: filsafatFriedrich W. Nietzscheilmu filsafatNietzschePolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Golf Hanya Untuk Orang Kaya dan Orang yang Ngebet Kaya

Next Post

Pemilu Setahun Lagi, Anak-anak SMPN 2 Sawan Justru Sudah Gunakan Hak Pilihnya

Onessimus Febryan Ambun

Onessimus Febryan Ambun

Mahasiswa Prodi Filsafat IFTK Ledalero

Related Posts

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails
Next Post
Pemilu Setahun Lagi, Anak-anak SMPN 2 Sawan Justru Sudah Gunakan Hak Pilihnya

Pemilu Setahun Lagi, Anak-anak SMPN 2 Sawan Justru Sudah Gunakan Hak Pilihnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co