11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aristokrasi Übermensch: Nietzsche Vs Politik Haus Kekuasaan

Onessimus Febryan Ambun by Onessimus Febryan Ambun
March 3, 2023
in Opini
Aristokrasi Übermensch: Nietzsche Vs Politik Haus Kekuasaan

Friedrich W. Nietzsche

MEGALOMANIA ATAU GANGGUAN KEJIWAAN yang menyebabkan orang sangat menginginkan kekuasaan ternyata telah menjangkiti pemimpin-pemimpin kita di negara ini. Berbagai macam kasus yang saat ini sedang membumi merupakan contoh konkret ruwetnya kehidupan politik bangsa Indonesia.

Kisruh yang saat ini sedang meledak ke permukaan soal masa jabatan kepala desa hingga sembilan (9) tahun adalah salah satu bukti kuat hausnya para pemimpin kita akan kekuasaan.

Persoalan yang sangat memprihatinkan ini bermula dari aksi demonstrasi Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Persatuan Perangkat Desa Seluruh Indonesia (PPDI) yang pada tanggal 21 Januari lalu mengajukan sejumlah tuntutan kepada Mendes PDTT (Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi).

Melansir Kompas (26/1/23), poin-poin utama yang menjadi tuntutan lembaga tersebut di antaranya adalah masa jabatan kepala desa harus diperpanjang menjadi 9 tahun dan boleh maju dalam 3 periode. Dengan demikian, total masa jabatan kepala desa menjadi 27 tahun. Hampir sama dengan masa jabatan Suharto sebagai presiden beberapa dekade lalu.

Persoalan politik di atas hanyalah satu dari sekian banyak persoalan-persoalan lain yang membingkai kehidupan politik bangsa kita. Fenomena haus kekuasaan merupakan suatu hal yang lumrah. Bukan saja para kepala desa, pejabat-pejabat tinggi di daerah maupun di pusat dengan segala cara juga ingin merengkuh dan mempertahankan singgasana kekuasaannya. Berbagai hal dilakukan agar rasa hausnya akan kekuasaan dapat terpuaskan, bahkan dengan cara-cara kotor sekalipun.

Tercatat berbagai macam kasus telah menjerat pejabat-pejabat yang rakus kekuasaan ke balik jeruji besi akibat pemilu yang curang. Di tahun-tahun belakangan, terutama tahun pemilu 2019, terhitung pelanggaran pidana kecurangan pemilu mencapai sekitar 582 kasus, belum terhitung pelanggaran administrasi, pelanggaran kode etik, dan pelanggaran-pelanggaran lain sebagainya yang jumlahnya ribuan (Bawaslu, 2019). Kecurangan-kecurangan tersebut sejatinya mempunyai satu tujuan khusus, yaitu untuk meraih kekuasaan dan melanggengkan kekuasaan.

Sungguh kenyataan yang sangat memilukan melihat bagaimana para pemimpin kita terobsesi dengan kekuasaan. Kekuasaan bagaikan satu-satunya harta yang harus dimiliki untuk mencapai kebahagiaan. Dengan kata lain, kunci untuk mencapai kebahagiaan adalah kekuasaan. Hal ini pada ghalibnya bukanlah suatu fenomena baru.

Sejak dahulu manusia telah saling berebut kekuasaan. Keinginan manusia untuk mendapatkan kekuasaan bukanlah sebuah teka-teki lagi, melainkan sebuah fakta tak terbantahkan. Sifat manusia yang haus kekuasaan ini telah menjadi suatu fenomena umum dalam kehidupannya sehari-hari.

Nietzsche Vs Politik (Haus Kekuasaan)

Menurut Friedrich W. Nietzsche, seorang filsuf besar asal Jerman, manusia-manusia yang haus kekuasaan inilah yang membuat politik menjadi kotor seperti lumpur yang tak dapat dibersihkan (Nietzsche, 1883:105).

Bagi Nietzsche, politik pada awal mulanya murni dari kenajisan-kenajisan semacam itu. Namun, dengan semakin berkembangnya zaman, semakin berkembang pula keinginan manusia. Sehingga, sering kali kekuasaan politik dijadikan alat oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Maka, dengan cara itulah kekuasaan menjadi semakin menarik di mata manusia.

Semakin hari, manusia semakin tidak bisa menahan diri. Ia ingin agar kekuasaan itu berada di dalam genggamannya. Ia melakukan segala cara. Dan segala cara ia halalkan, termasuk cara-cara yang sebenarnya haram.

Dalam magnum opus karya Nietzsche, yakni Thus Spoke Zarathustra, yang terbit pertama kali tahun 1883, Nietzsche mencaci para pemuja kekuasaan tersebut dengan keras:

Lihat, mereka yang berlebihan itu! Kekayaan mereka dapatkan, tapi justru mereka semakin miskin. Kekuasaan yang mereka cari, dan yang terutama mereka cari adalah tuas kekuasaan, uang dalam jumlah yang banyak – ya, mereka yang impoten ini … Lihat, mereka memanjat, kera-kera yang lincah ini! Mereka memanjat dan menginjak-injak satu sama lain, dan bertengkar sampai ke dalam lumpur kotor dan jurang tak berdasar …Mereka semua berlomba merengkuh singgasana: itulah kegilaan mereka – seolah sang kebahagiaan duduk di atas singgasana! Yang sering kali duduk di atas singgasana adalah kotoran – dan sering kali pula singgasana duduk di atas kotoran … Orang gila, demikian tampaknya mereka bagiku, seperti kera-kera yang sedang memanjat dengan terlalu bernafsu. Bau busuk dari berhala mereka itu bagiku, yaitu sang monster dingin: bau busuk dari mereka semua itu bagiku, para pengikut dan pemuja berhala ini. (Nietzsche, 1883:105)

Bagi Nietzsche, manusia-manusia yang gila kekuasaan adalah mereka yang juga gila akan harta. Jika kekuasaan telah direngkuh, maka harta akan mudah didapatkan. Dalam makiannya di atas, secara implisit Nietzsche mengingatkan para pembacanya tentang fenomena-fenomena yang berkaitan dengan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan untuk mengeruk harta sebanyak-banyaknya.

Hal itu terlihat jelas dalam kalimat “Kekayaan mereka dapatkan, tapi justru mereka semakin miskin. Kekuasaan yang mereka cari, dan yang terutama mereka cari adalah tuas kekuasaan, uang dalam jumlah yang banyak”.

Ketajaman pikiran Nietzsche benar-benar tidak dapat diragukan. Ia mengatakan bahwa semakin banyak harta yang dikumpulkan melalui kekuasaan, semakin miskinlah seseorang dan bukan semakin kaya. Kemiskinan yang dimaksud oleh Nietzsche sebenarnya adalah kemiskinan hati nurani.

Lebih lanjut, kera-kera yang saling menginjak satu sama lain seperti yang ada dalam kutipan di atas adalah personifikasi dari orang-orang yang haus kekuasaan menurut Nietzsche. Kera-kera itu saling menginjak satu sama lain. Mereka saling menginjak untuk berebut kekuasaan. Mereka menginjak semuanya. Entah itu sesama politikus atau juga rakyat kebanyakan.

Namun, korban yang paling menderita pastilah rakyat. Rakyat tak dapat berbuat banyak karena merekalah yang berada di lapisan paling bawah dalam sistem sosial dan politik kita. Rakyat adalah korban sebenarnya dari politik haus kekuasaan.

Selain itu, sebagaimana dalam sindirannya di atas, Nietzsche juga menyindir manusia yang berlomba-lomba meraih kekuasaan sebagai suatu kegilaan. Seolah-olah sang kebahagiaan duduk di atas tahta kekuasaan. Manusia sudah kehilangan akalnya. Ia mendambakan singgasana untuk mencapai kebahagiaan.

Bagi Nietzsche, mereka yang haus kekuasaan tersebut adalah para pemuja berhala. Mereka memuja kekuasaan lebih dari segala sesuatu. Politik di mata Nietzsche oleh karena itu adalah sebuah rumah sakit jiwa. Dipenuhi oleh pasien-pasien yang haus kekuasaan. Mereka semua mengalami kegilaan – gila akan kuasa. Hal ini identik dengan megalomania, sejenis penyakit kejiwaan. Menarik bahwa Nietzsche pada zamannya sudah lebih dahulu mengenali penyakit sejenis ini sebelum munculnya ilmu-ilmu kejiwaan.

Dengan demikian, kini kita sudah melihat bagaimana kritik Nietzsche atas politik yang hancur akibat fenomena haus kekuasaan. Dengan makiannya yang sangat keras, ia begitu jitu menghancurkan para megalomaniak dengan kata-katanya yang sangat menohok.

Namun, apakah usaha Nietzsche hanya sebatas kritik saja? Dapatkah ia memberikan solusi yang bisa memulihkan politik ke statusnya yang amat mulia? Ataukah kritikan Nietzsche itu hanya sebatas omong kosong belaka?

Aristokrasi Übermensch: Solusi Tepat Menghadapi Politik Haus Kekuasaan

Dari sekian banyak gagasan yang ia lahirkan selama hidupnya sebagai seorang filsuf, Übermensch adalah salah satu gagasan dasar yang amat penting dalam filsafat Nietzsche.

Ajaran Nietzsche tentang Übermensch ini diperkenalkan lewat mulut tokoh Zarathustra. Zarathustra dalam pengertian Nietzsche ini bukanlah sosok nabi dalam agama Zoroaster di Persia yang mewartakan adanya peperangan rohani antara kebaikan dan kejahatan; antara Ahura Mazda dan Angra Mainyu, melainkan seorang figur pembaharu yang mengajarkan makna dari dunia:

Lihatlah, aku mengajarkan Übermensch kepadamu!

Übermensch adalah makna dunia ini.

Biarlah kehendakmu berseru:

Hendaknya Übermensch menjadi makna dunia ini (Nietzsche, 1883:3).

Dalam buku Thus Spoke Zarathustra, bagi Nietzsche, kebutuhan manusia yang paling mendesak adalah soal pemaknaan. Dia melihat, nilai-nilai yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita telah runtuh.

Karena itu, melalui tokoh Zarathustra, Nietzsche mengajarkan Übermensch kepada kita. Übermensch adalah cara manusia memberikan nilai pada dirinya sendiri dan tidak bergantung pada apapun (Sunardi, 2011:147). Itu berarti, Übermensch adalah manusia yang melampaui.

Dalam bahasa Goenawan Mohamad, Übermensch berarti Adimanusia.  Ia adalah “manusia atas” yang tidak bergantung pada apapun. Ia mandiri, dapat memberi nilai pada dirinya sendiri, dan tak pernah ikut-ikutan layaknya kawanan domba. Ubermensh adalah seseorang yang memiliki karakter aristokrasi dalam dirinya. Singkatnya, ia adalah tuan. Tuan atas dirinya sendiri.

Übermensch ala Nietzsche pada ghalibnya didasarkan pada pokok utama pemikirannya, yaitu “Kehendak untuk Berkuasa” (Der Wille Zur Macht). Gagasannya ini sama sekali tidak terkait dengan kekuasaan seperti yang kita kenal dalam dunia politik, tetapi kehendak untuk berkuasa berarti kehendak untuk mencipta. Itu berarti Übermensch pada hakikatnya adalah suatu kreativitas.

Adimanusia atau Übermensch karena itu menurut Nietzsche adalah suatu proses di mana manusia dapat menciptakan makna bagi dirinya sendiri dan menolak konformitas. Konformitas sendiri dimengerti sebagai sikap ikut-ikutan. Ikut-ikutan ini dalam arti asal ikut saja nilai-nilai tradisi, budaya, agama, dan bahkan tren-tren yang sedang berkembang.

Karena itu, dalam buku Genealogy of Morals, Nietzsche membedakan dua moralitas manusia. Yang pertama, Moralitas Tuan. Dan yang kedua, Moralitas Budak atau Moralitas Kawanan. Menurut Nietzsche, Übermensch memakai moralitas yang pertama, yaitu Moralitas Tuan yang bersifat aristokratik, sedangkan manusia yang hidup ikut-ikutan adalah mereka yang memakai Moralitas Budak atau Moralitas Kawanan. Mereka tidak bisa berpikir dan mencipta. (Nietzsche: 1887)

Melalui tokoh Zarathustra dalam karyanya, Nietzsche mengajak kita semua untuk menjadi tuan atas diri kita sendiri atau Übermensch. Itu berarti, kita harus memakai Moralitas Tuan. Kita harus bisa mengembangkan sikap kreatif dan dapat berpikir sendiri. Nietzsche sangat anti dengan sikap banal di mana kita hanya berpikiran dangkal atau bahkan tidak bisa berpikir sama sekali untuk diri kita sendiri.

Dalam gagasan-gagasannya, Nietzsche berharap agar kita bisa memimpin diri kita sendiri dengan nilai-nilai yang kita ciptakan sendiri sama seperti Übermensch. Aristokrasi yang termuat dalam Übermensch adalah sebuah contoh di mana kita bisa menimba inspirasi untuk menolak setiap kecenderungan dalam diri atau kecenderungan yang ada dalam masyarakat terutama kecenderungan dalam dunia politik kita yang sangat berambisi untuk merengkuh singgasana layaknya kera-kera yang saling menginjak-injak satu sama lain untuk berebut pisang.

Jadilah Tuan Atas Dirimu Sendiri, Jangan ikut-ikutan

Telah kita ketahui, dewasa ini telah berkembang sebuah tren politik di mana manusia sangat terikat dengan kecenderungan-kecenderungan jahatnya untuk menggapai kekuasaan. Seolah-olah kekuasaan adalah segala-galanya.

Bagi Nietzsche, nilai aristokrasi dalam Übermensch adalah solusi terbaik menghadapi patologi-patologi politik seperti megalomania. Megalomania atau penyakit haus kekuasaan adalah salah satu biang kerok rusaknya kehidupan politik bangsa kita.

Nietzsche dengan sangat jelas memperingatkan betapa berbahayanya para megalomaniak tersebut dalam politik. Mereka bagaikan kera gila yang saling menginjak-injak untuk berebut pisang yang dapat mengenyangkan perut mereka.

Karena itu, kita harus bersikap hati-hati terhadap tuntutan para kepala desa yang baru-baru ini meminta kenaikan masa jabatan. Bisa saja para pemimpin adalah para megalomaniak yang sangat mendambakan kekuasaan. Begitu pula dengan para calon legislatif atau para calon pemimpin di daerah dan pusat yang sering kali ber-money politic atau sering kali melakukan kecurangan lain dalam pemilu, jangan sampai kita semua akhirnya terlibat dalam tipu muslihat mereka untuk merengkuh tahta kotoran seperti yang disindir oleh Nietzsche.

Kiranya, para pembaca tulisan ini, yaitu para calon pemimpin di negeri kita dapat berguru pada Nietzsche tentang bagaimana menjadi seorang Übermensch.

Bagi Nietzsche, untuk menjadi Übermensch, resepnya sederhana: “Jadilah tuan atas dirimu sendiri. Jangan ikut-ikutan. Ciptakan sendiri nilai-nilaimu dan beranilah berpikir sendiri. Tolaklah tren-tren dan kecenderungan-kecenderungan yang membuat dirimu sendiri hancur, seperti ambisi yang tidak sehat pada kekuasaan.” [T]

Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein
Polemik Tentang Sains, Agama dan Filsafat antara GM dan AS Laksana – Sebuah Perbandingan
Curangologi: Filsafat Curang Seri 1 – Gambar Umbul
Tags: filsafatFriedrich W. Nietzscheilmu filsafatNietzschePolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Golf Hanya Untuk Orang Kaya dan Orang yang Ngebet Kaya

Next Post

Pemilu Setahun Lagi, Anak-anak SMPN 2 Sawan Justru Sudah Gunakan Hak Pilihnya

Onessimus Febryan Ambun

Onessimus Febryan Ambun

Mahasiswa Prodi Filsafat IFTK Ledalero

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Pemilu Setahun Lagi, Anak-anak SMPN 2 Sawan Justru Sudah Gunakan Hak Pilihnya

Pemilu Setahun Lagi, Anak-anak SMPN 2 Sawan Justru Sudah Gunakan Hak Pilihnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co