23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Golf Hanya Untuk Orang Kaya dan Orang yang Ngebet Kaya

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
March 3, 2023
in Esai
Golf Hanya Untuk Orang Kaya dan Orang yang Ngebet Kaya

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

KALAU NGOMONGIN golf, maka yang langsung muncul di kepala saya adalah, “Saya pernah punya bola golf dan enggak tahu digunakan untuk apa!”  Seingat saya, selain pernah punya bolanya, golf juga pernah menemani masa kecil saya dalam bentuk permainan di gawai.

Jadi, saya kenal golf, tapi tak pernah tahu bagaimana permainan golf itu sesungguhnya. Tentu karena golf bukan olahraga yang dekat dengan masa kecil anak-anak desa seperti saya. Sehingga cukup wajar ketika saya tiba-tiba berada pada pusaran olahraga ini secara agak lebih jauh ke dalam.

Bersama senior dan beberapa teman di organisasi, saya ikut menjadi panitia yang dibentuk untuk menyelenggarakan sebuah turnamen. Ya, itu, turnamen golf.

Olahraga golf, dalam pandangan saya, identik dengan permainan kalangan elit, eits bukan ekonomi sulit, tapi, ya, itu, memang benar-benar ditekuni oleh orang yang memiliki kemapanan secara finansial.

Saya pikir pernyataan saya barusan adalah hal yang masuk akal, mengingat biaya pendaftaran turnamen, yang saya jadi salah satu panitianya ini, sebesar Rp. 2,7 juta. Buat anak-anak perantauan seperti saya uang sebesar itu bisa buat hidup selama satu bulan.  

Nama turnamennya adalah Tridatu Golf Tournament 2023 dengan tema “Games for Earth and Humanity”. Ya sesuai dengan tema, jadi turnamen ini sebenarnya adalah sebuah gerakan penggalangan dana.

Terus dana yang terkumpul nanti dibuat apa? Pasti pertanyaan seperti itu sempat terlintas di kepala kalian.  Jangan curiga. Dana yang terkumpul itu nantinya akan digunakan untuk beasiswa pendidikan, juga ada untuk perbaikan rumah ibadah, dan terakhir untuk bantuan kemanusiaan—ya seperti kita ketahui kalau Indonesia adalah sebuah negara yang kapan saja bisa terjadi bencana alam.

Jadi secara tidak langsung para golfer—sebutan untuk para pemain golf—juga ikut membantu di tiga aktivitas kemanusiaan itu.

Jadi Tridatu Golf Tournament ini sudah memasuki penyelenggaraan ketiga, sebelumnya dilaksanakan di tahun 2019 dan 2020—semua dilakukan sebelum Covid-19 menerjang. Dan dana yang terkumpul sudah dirasakan manfaatnya oleh banyak orang, seperti lima orang yang sudah disekolahkan di tingkat magister—saya salah satunya. Hehe.

Lalu, sudah ada juga pendistribusian bantuan kemanusiaan di beberapa titik bencana, seperti gempa bumi di Lombok tahun 2018, kemudian gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi di Palu di tahun yang sama, dan masih banyak lagi.

Oke, cukup panjang saya ngelantur. Mari lanjut ke topik utama, yaitu golf.

Selain biaya pendaftaran yang cukup bikin pusing kepala, ternyata harga peralatannya pun bisa bikin saya nempelin koyo di kedua sisi pelipis saya. Jadi wajar kalau saya katakan olahraga ini hanya untuk orang-orang kaya.

Tapi harga yang bikin kepala pusing itu ternyata cukup menjanjikan, karena setelah saya perhatikan orang-orang yang ikut dalam turnamen dimana saya ikut menjadi panitia adalah orang dengan posisi strategis di perusahaannya. Ada yang jadi direktur, komisaris, pengusaha muda, manajer, dan jabatan mentereng lainnya. Naa, di sini saya bilang kalau selain orang kaya, golf juga olahraga buat orang yang ingin kaya.

Olahraga ini otomatis menciptakan sebuah lingkaran pertemanan yang dalam asumsi saya akan cukup membangun. Saya membayangkan kalau hal-hal yang dibicarakan di dalamnya adalah project ke depan, relasi yang dimiliki, sampai berbagi peluang usaha yang bisa dikerjakan bersama. Berangkat dari sana, tentu peluang untuk bergerak maju dan jadi kaya terbuka lebar dong? Hehe.

Tapi, ya, itu tadi, memang untuk mendapatkan lingkar pertemanan seperti itu, modal yang harus dikeluarkan di awal bisa dibilang tidak sedikit.

Tidak hanya itu saja, bahkan saat sudah berada di lapangan, untuk membunuh rasa bosan pada saat menunggu giliran, mereka akan bertaruh untuk hal-hal yang menarik bagi mereka. Jangan tanya nominalnya, pasti juga besar—itu saya dengar dari salah satu senior saya yang juga seorang golfer.

Selain keluar untuk hal-hal yang bersifat teknis permainan, uang dari seorang golfer biasanya juga untuk memberi tip kepada para caddy—petugas yang bertugas untuk mengantarkan para pemain ke setiap hole (lapangan), dan memberi, dan membersihkan stik golf para pemain.

Bahkan, teman saya yang bertugas mengambil gambar sempat mendapat uang Rp. 100 ribu dari salah seorang golfer.

Sampai lupa, Tridatu Golf Tournament 2023 yang berlangsung di Imperial Golf Lippo Karawaci, Tangerang, Banten, ini berhasil mendatangkan 117 golfer. Banyak bukan? Padahal biaya pendaftarannya terbilang mahal. Hadiahnya pun tidak main-main. Ada motor listrik, sepeda listrik, TV, steam pencuci motor, gawai, baju golf, topi golf, sarung tangan golf, dan uang tunai.

Jadi total hadiahnya pun bikin pusing juga. Hahaha. Sudah terbayang berapa anggaran yang harus dikeluarkan untuk menyelenggarakan sebuah turnamen golf?

Terlibatnya saya dalam kepanitiaan sebuah turnamen golf ini memperlihatkan kepada saya begitu banyak realita. Mulai dari citra olahraga ini, kemudian lingkar pertemanan yang bisa tercipta dalam olahraga ini, kemudian dunia-dunia gelap olahraga ini pun sempat saya saksikan, dan jujur bikin saya geleng-geleng kepala.

Satu sisi tidak menyangka, satu sisi lagi ada rasa memaklumi—meski persentasenya tidak banyak-banyak amat. Tentu sebagai panitia saya sangat bahagia, karena kegiatan ini berakhir dengan senyum kesuksesan, namun di sisi lain fakta-fakta dalam olahraga ini masih membuat saya tidak habis pikir.

Kaget-kaget dengan dunia golf sepertinya belum berhenti sampai tulisan ini selesai—sepertinya akan ada tulisan lain menyoal golf yang menyusul. Pasti masih ada hal-hal yang belum saya ketahui soal salah satu olahraga mentereng ini. Apa kalian punya cerita lain soal olahraga ini? Bisa dibagikan juga ya! [T]

BACA artikel lain dari penulis TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA

A Letter to World Leaders
Mengintip Benny Santoso Membuat “Ini Tempe”: Inilah Tempe Artisan dari Bali yang Kaya Substansi
Macam-macam Usaha Sukses Orang Buleleng di Denpasar: Siobak, Rujak, Kopi dan Advertising
Tags: golferolahragaolahraga golforang kaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ya Kuliah, Ya Kerja | Tips Membagi Waktu Kuliah Sambil Bekerja

Next Post

Aristokrasi Übermensch: Nietzsche Vs Politik Haus Kekuasaan

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Aristokrasi Übermensch: Nietzsche Vs Politik Haus Kekuasaan

Aristokrasi Übermensch: Nietzsche Vs Politik Haus Kekuasaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co