3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Polemik Tentang Sains, Agama dan Filsafat antara GM dan AS Laksana – Sebuah Perbandingan

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
June 15, 2020
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Mengapa judul tulisan ini saya isi dengan kata perbandingan?

Begini. Hari hari ini dunia medis sedang dalam tekanan. Di satu sisi pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda menyurut, sisi lainnya kepercayaan masyarakat terhadap kami, petugas medis, dalam menangani situasi ini juga mulai tergerogoti. Banyak faktor yang mungkin bisa jadi penyebabnya. Kelesuan ekonomi, ketidakpastian hari esok apalagi masa depan adalah beberapa diantaranya.

Tapi yang sangat disayangkan adalah adanya pihak pihak yang bersuara miring tentang situasi ini, termasuk  atas kinerja kami dalam usaha ikut menanggulangi pandemi ini. Mulai dari tudingan konspirasi global, hingga usaha mencari keuntungan dari pihak rumah sakit termasuk dokter dengan menunggangi kesulitan yang tengah dihadapi masyarakat.

Dan saat yang menyuarakan itu adalah tokoh “publik” dengan penggemar yang cukup banyak, maka hal ini terasa mengganggu, seperti sebuah kampanye negatif terhadap usaha kita bersama untuk bisa segera lepas dari situasi ini. Wacana konspirasi global yang didengungkan sang tokoh, sepintas mengingatkan saya akan ide yang nyaris sejenis. “Indonesia bubar di tahun sekian”, kata tokoh lain  saat hangatnya persaingan kursi presiden di pilpres kemarin. Yang setelah ditelusuri, ide itu didapat dari sebuah cerita fiksi karangan orang asing, yang menyinggung negara kita.

Ide konspirasi ini pun saya dengar, termuat di sebuah novel karya penulis Eropa Timur yang kemungkinan dibaca sang tokoh, dan disandingkan dengan situasi  saat ini, yang mungkin menurut imajinasi liarnya adalah sesuatu yang sebangun. Kesimpulannya saat sebuah wacana didasarkan pada sebuah imajinasi ataupun cerita fiksi, mestikah kita membuang banyak energi untuk membahasnya, hingga kita melupakan apa yang semestinya kita lakukan sebagai sebuah bangsa?

Saya tak ingin membahas lebih lama tentang polemik itu. Pemakaian bahasa yang kasar, argumentasi yang dangkal tak berdasar. Seakan mengejek kewarasan kita sebagai orang yang berpendidikan.

Untungnya, pada saat-saat yang sama kita disibukkan dengan adu pikiran yang berwibawa antara dua tokoh yang kita kenal produktif berkarya di kancah penulisan tanah air. Goenawan mohhamad sang penulis catatan pinggir dan mantan pemimpin redaksi majalah Tempo, beradu pendapat secara elegan dengan sang penulis muda dari Jawa timur AS Laksana, seorang penulis cerpen dan esai yang juga terkenal di Indonesia.

Polemik ini diawali oleh AS Laksana, dengan mengkritisi pilihan sikap GM terkait peran sains dalam kehidupan sehari hari kita yang disampaikan GM dalam sebuah seminar, dipadupadankan dengan yang beliau tulis di media selama masa pandemi ini. Saya menangkap sikap GM ini dilandasi oleh kegemasan beliau melihat perkembangan penanganan pandemi Covid 19 ini oleh pihak pihak yang berwenang, dalam hal ini bidang kesehatan, yang notabene adalah bagian tak terpisahkan dari sains.

GM sampai merasa perlu menunjukkan kepada kita  kisah penanganan pandemi dimasa lalu , saat dr Cipto Mangunkusumo mengatasi pandemi Pes di sebuah kota di Jawa. Polemik yang diawali oleh kedua tokoh tadi, dalam perjalanannya kemudian di ramaikan oleh beberapa penulis lainnya, yang merasa tertantang untuk ikut unjuk pengetahuan mereka. Hingga kemudian kita bisa melihat dua kutub yang terbentuk. GM dan Ullil Absar Abdalla di satu sisi , sisi lainnya Sulak dan Nirwan Ahmad Arsuka. Kemudian beberapa nama yang ikut menyemangati mereka, antara lain Budi Hardiman, Taufiqurrahman, Saut Situmorang dan lainnya.

Saya tak ingin masuk ke materi, ataupun essensi dari perdebatan mereka. Karena saya merasa tak  mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal ini. Sains, agama apalagi filsafat memang selama ini adalah domain beberapa orang atau kelompok saja yang berkhidmat disana. Sebuah dunia yang menantang, menggairahkan, namun tak cukup dekat untuk bisa kita jangkau. Saya hanya ingin menunjukkkan apa yang pernah saya baca dan saya ingat tentang hubungan unik dan menarik diantara para pelaku polemik ini.

Goenawan Mohhamad kita kenal adalah salah satu penulis produktif di tanah air. Dia menulis sejak usia dini. Saat terjadi polemik kebudayaan di tahun 65 antara sastrawan kiri yang tergabung dengan lekra melawan para penentangnya. Dia adalah salah satu sastrawan yang ikut menandatangani Manifest Kebudayaan (Manikebu ) sebagai tandingan ide sastra sebagai panglima yang diajukan oleh Lekra.

Dalam Catatan Pinggir yang dia tulis, dia sering menyinggung tentang polemik sastra yang terjadi lebih awal, saat STA berpolemik dengan beberapa sastrawan terkait sastra Indonesia modern. Jadi tak diragukan lagi kemampuan dan kedewasaan beliau dalam menghadapi perbedaan pemahaman yang diajukan oleh lawannnya saat  berpolemik. AS Laksana bukanlah penulis kemarin sore. Banyak tulisannya menginspirasi para penulis muda.

Satu yang unik, kumpulan cerita Sulak pernah terpilih sebagai karya terbaik pilihan majalah Tempo beberapa tahun silam. Dimana kita ketahui, majalah Tempo identik dengan nama GM sebagai pendiri awal dan pemimpin redaksi yang cukup lama. Perseteruan antara kedua tokoh ini terendus media saat Indonesia terpilih sebagai negara tamu dalam ajang pameran buku terbesar di dunia yang diadakan di kota Frankfurt Jeman kira-kira 6 tahun yang lalu.

Kebetulan GM terpilih sebagai ketua kurator karya sastra Indonesia yang bisa ditampilkan di ajang itu. Sulak mempertanyakan alasan GM memilih tema buku yang dibawa kesana, dan penulis mana yang bukunya dipamerkan disana. “Kenapa mesti memilih tema 65, dan menunjukkan aib kita kepada orang lain? tak adakah tema yang lebih menarik dari negeri dengan 13 ribu pulau ini?” begitu protes Sulak sengit.

Jawaban GM seminggu berikutnya di kolom yang sama kurang lebih seperti ini. Ide tentang peristiwa 65 datang dari publik Jerman selaku tuan rumah, artinya bagi mereka issue tersebut masih merupakan sesuatu yang sexy dan memancing rasa ingin tahu yang dalam. Dan kebetulan ada karya yang mewakili zaman itu  baru saja dipublikasikan. Tanpa beliau sebut, kita tahu ada novel Amba dan Pulang yang masing masing ditulis oleh dua penulis wanita kita. Laksmi Pamuncak dan Leila Ch Chudori. Jadi kalau peristiwa ini yang kemungkinan masih menjadi residu diantara hubungan mereka berdua, hanya mereka yang tahu.

Dua nama yang juga terlibat dalam polemik ini adalah Nirwan Arsuka dan Fx Budi Hardiman. Kebetulan saya mempunyai banyak buku GM, jadi saya tahu bahwa kedua orang ini pernah membuat endorsement, kata pengantar untuk kumpulan tulisan GM. Jadi terdengar aneh saat mereka yang dulunya memuji GM (kata pembuka biasanya bersifat subyektif, tapi secara umum isinya hal yang baik atau pujian) sekarang terlihat berseberangan pendapat dengannya. Apakah ini sebuah pengkhianatan intelektual? Mungkin itu yang terbersit di benak kita. Tapi saat membaca tulisan panjang lebar mereka berdua yang jernih, runut dengan argumentasi yang mumpuni. Kita tak pantas menganggapnya begitu. Disinilah kepiawaian mereka, orang orang yang kepalanya telah dipenuhi kebijaksanaan. Saat mereka berbeda pendapatpun, itu ditunjukkan dengan bermartabat. Hal yang tak kita temui dalam polemik tentang konspirasi global yang dilancarkan dengan protes terhadap penanganan Covid-19, yang terkesan menyerang membabi buta, miskin argumentasi dan menihilkan empati.

Satu yang perlu kita syukuri adalah polemik ini melibatkan orang orang dari hampir seluruh penjuru negeri. GM yang orang Jawa Tengah, Sulak Jawa Timur, Budi Hardiman yang mungkin dari Sunda, Nirwan Arsuka orang Makassar, Saut Situmorang orang Batak. Itu artinya keinginan untuk berpolemik secara kesatria sudah menyebar ke seantero negeri. Kasarnya, mereka yang pintar sudah ada dimana mana, bukan hanya di Jawa saja. Satu yang perlu ditunggu adalah , tulisan jernih sosiolog kita dari Kupang Ignas Kleden. Dan yang cukup membuat saya bergairah barangkali ada satu nama dari daerah asal saya Bali yang akan  turun gunung ke kancah ini, siapa tahu.

Kembali sedikit ke tema polemik ini. Mempertentangkan antara sains, agama dan filsafat di hari hari ini, terutama dalam situasi pandemi  dan ditengah usaha kita keluar dari krisis , mungkin tak cukup efektif. Tapi sebagai penyeimbang ditengah ujaran tak mengenakkan yang miskin harapan tadi, ini seperti oase penyejuk, tempat kita menarik nafas panjang sejenak di tengah  polusi pemikiran yang bersiponggang.

Terkait wabah seperti ini, suara agama (yang dulu diwakili gereja) sudah lama kita lupakan. Dan untuk filsafat, saya rasa juga belum waktunya, kita butuh sesuatu yang segera, terarah dan bisa kita nilai keberhasilan maupun kegagalannya. Satu satunya tempat kita bersandar saat ini mungkin hanya Sains. Tak ada salahnya kita mengingat pernyataan tak terbantahkan Wiston Churchill, mantan perdana menteri Inggris yang legendaris itu. Mungkin Demokrasi bukanlah pilihan yang paling sempurna untuk Dunia. Tetapi sampai detik ini, adakah yang lebih baik dari itu?

Kita tinggal mengganti kata demokrasi dengan sains.

Tags: covid 19pandemipolemiksains
Share44TweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Tim Kreatif Tak Lagi Kreatif

Next Post

IGB Sugriwa, Pengalir Mata Air Sastra ke Berbagai Telaga Zaman

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
IGB Sugriwa, Pengalir Mata Air Sastra ke Berbagai Telaga Zaman

IGB Sugriwa, Pengalir Mata Air Sastra ke Berbagai Telaga Zaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co