2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Polemik Tentang Sains, Agama dan Filsafat antara GM dan AS Laksana – Sebuah Perbandingan

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
June 15, 2020
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Mengapa judul tulisan ini saya isi dengan kata perbandingan?

Begini. Hari hari ini dunia medis sedang dalam tekanan. Di satu sisi pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda menyurut, sisi lainnya kepercayaan masyarakat terhadap kami, petugas medis, dalam menangani situasi ini juga mulai tergerogoti. Banyak faktor yang mungkin bisa jadi penyebabnya. Kelesuan ekonomi, ketidakpastian hari esok apalagi masa depan adalah beberapa diantaranya.

Tapi yang sangat disayangkan adalah adanya pihak pihak yang bersuara miring tentang situasi ini, termasuk  atas kinerja kami dalam usaha ikut menanggulangi pandemi ini. Mulai dari tudingan konspirasi global, hingga usaha mencari keuntungan dari pihak rumah sakit termasuk dokter dengan menunggangi kesulitan yang tengah dihadapi masyarakat.

Dan saat yang menyuarakan itu adalah tokoh “publik” dengan penggemar yang cukup banyak, maka hal ini terasa mengganggu, seperti sebuah kampanye negatif terhadap usaha kita bersama untuk bisa segera lepas dari situasi ini. Wacana konspirasi global yang didengungkan sang tokoh, sepintas mengingatkan saya akan ide yang nyaris sejenis. “Indonesia bubar di tahun sekian”, kata tokoh lain  saat hangatnya persaingan kursi presiden di pilpres kemarin. Yang setelah ditelusuri, ide itu didapat dari sebuah cerita fiksi karangan orang asing, yang menyinggung negara kita.

Ide konspirasi ini pun saya dengar, termuat di sebuah novel karya penulis Eropa Timur yang kemungkinan dibaca sang tokoh, dan disandingkan dengan situasi  saat ini, yang mungkin menurut imajinasi liarnya adalah sesuatu yang sebangun. Kesimpulannya saat sebuah wacana didasarkan pada sebuah imajinasi ataupun cerita fiksi, mestikah kita membuang banyak energi untuk membahasnya, hingga kita melupakan apa yang semestinya kita lakukan sebagai sebuah bangsa?

Saya tak ingin membahas lebih lama tentang polemik itu. Pemakaian bahasa yang kasar, argumentasi yang dangkal tak berdasar. Seakan mengejek kewarasan kita sebagai orang yang berpendidikan.

Untungnya, pada saat-saat yang sama kita disibukkan dengan adu pikiran yang berwibawa antara dua tokoh yang kita kenal produktif berkarya di kancah penulisan tanah air. Goenawan mohhamad sang penulis catatan pinggir dan mantan pemimpin redaksi majalah Tempo, beradu pendapat secara elegan dengan sang penulis muda dari Jawa timur AS Laksana, seorang penulis cerpen dan esai yang juga terkenal di Indonesia.

Polemik ini diawali oleh AS Laksana, dengan mengkritisi pilihan sikap GM terkait peran sains dalam kehidupan sehari hari kita yang disampaikan GM dalam sebuah seminar, dipadupadankan dengan yang beliau tulis di media selama masa pandemi ini. Saya menangkap sikap GM ini dilandasi oleh kegemasan beliau melihat perkembangan penanganan pandemi Covid 19 ini oleh pihak pihak yang berwenang, dalam hal ini bidang kesehatan, yang notabene adalah bagian tak terpisahkan dari sains.

GM sampai merasa perlu menunjukkan kepada kita  kisah penanganan pandemi dimasa lalu , saat dr Cipto Mangunkusumo mengatasi pandemi Pes di sebuah kota di Jawa. Polemik yang diawali oleh kedua tokoh tadi, dalam perjalanannya kemudian di ramaikan oleh beberapa penulis lainnya, yang merasa tertantang untuk ikut unjuk pengetahuan mereka. Hingga kemudian kita bisa melihat dua kutub yang terbentuk. GM dan Ullil Absar Abdalla di satu sisi , sisi lainnya Sulak dan Nirwan Ahmad Arsuka. Kemudian beberapa nama yang ikut menyemangati mereka, antara lain Budi Hardiman, Taufiqurrahman, Saut Situmorang dan lainnya.

Saya tak ingin masuk ke materi, ataupun essensi dari perdebatan mereka. Karena saya merasa tak  mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal ini. Sains, agama apalagi filsafat memang selama ini adalah domain beberapa orang atau kelompok saja yang berkhidmat disana. Sebuah dunia yang menantang, menggairahkan, namun tak cukup dekat untuk bisa kita jangkau. Saya hanya ingin menunjukkkan apa yang pernah saya baca dan saya ingat tentang hubungan unik dan menarik diantara para pelaku polemik ini.

Goenawan Mohhamad kita kenal adalah salah satu penulis produktif di tanah air. Dia menulis sejak usia dini. Saat terjadi polemik kebudayaan di tahun 65 antara sastrawan kiri yang tergabung dengan lekra melawan para penentangnya. Dia adalah salah satu sastrawan yang ikut menandatangani Manifest Kebudayaan (Manikebu ) sebagai tandingan ide sastra sebagai panglima yang diajukan oleh Lekra.

Dalam Catatan Pinggir yang dia tulis, dia sering menyinggung tentang polemik sastra yang terjadi lebih awal, saat STA berpolemik dengan beberapa sastrawan terkait sastra Indonesia modern. Jadi tak diragukan lagi kemampuan dan kedewasaan beliau dalam menghadapi perbedaan pemahaman yang diajukan oleh lawannnya saat  berpolemik. AS Laksana bukanlah penulis kemarin sore. Banyak tulisannya menginspirasi para penulis muda.

Satu yang unik, kumpulan cerita Sulak pernah terpilih sebagai karya terbaik pilihan majalah Tempo beberapa tahun silam. Dimana kita ketahui, majalah Tempo identik dengan nama GM sebagai pendiri awal dan pemimpin redaksi yang cukup lama. Perseteruan antara kedua tokoh ini terendus media saat Indonesia terpilih sebagai negara tamu dalam ajang pameran buku terbesar di dunia yang diadakan di kota Frankfurt Jeman kira-kira 6 tahun yang lalu.

Kebetulan GM terpilih sebagai ketua kurator karya sastra Indonesia yang bisa ditampilkan di ajang itu. Sulak mempertanyakan alasan GM memilih tema buku yang dibawa kesana, dan penulis mana yang bukunya dipamerkan disana. “Kenapa mesti memilih tema 65, dan menunjukkan aib kita kepada orang lain? tak adakah tema yang lebih menarik dari negeri dengan 13 ribu pulau ini?” begitu protes Sulak sengit.

Jawaban GM seminggu berikutnya di kolom yang sama kurang lebih seperti ini. Ide tentang peristiwa 65 datang dari publik Jerman selaku tuan rumah, artinya bagi mereka issue tersebut masih merupakan sesuatu yang sexy dan memancing rasa ingin tahu yang dalam. Dan kebetulan ada karya yang mewakili zaman itu  baru saja dipublikasikan. Tanpa beliau sebut, kita tahu ada novel Amba dan Pulang yang masing masing ditulis oleh dua penulis wanita kita. Laksmi Pamuncak dan Leila Ch Chudori. Jadi kalau peristiwa ini yang kemungkinan masih menjadi residu diantara hubungan mereka berdua, hanya mereka yang tahu.

Dua nama yang juga terlibat dalam polemik ini adalah Nirwan Arsuka dan Fx Budi Hardiman. Kebetulan saya mempunyai banyak buku GM, jadi saya tahu bahwa kedua orang ini pernah membuat endorsement, kata pengantar untuk kumpulan tulisan GM. Jadi terdengar aneh saat mereka yang dulunya memuji GM (kata pembuka biasanya bersifat subyektif, tapi secara umum isinya hal yang baik atau pujian) sekarang terlihat berseberangan pendapat dengannya. Apakah ini sebuah pengkhianatan intelektual? Mungkin itu yang terbersit di benak kita. Tapi saat membaca tulisan panjang lebar mereka berdua yang jernih, runut dengan argumentasi yang mumpuni. Kita tak pantas menganggapnya begitu. Disinilah kepiawaian mereka, orang orang yang kepalanya telah dipenuhi kebijaksanaan. Saat mereka berbeda pendapatpun, itu ditunjukkan dengan bermartabat. Hal yang tak kita temui dalam polemik tentang konspirasi global yang dilancarkan dengan protes terhadap penanganan Covid-19, yang terkesan menyerang membabi buta, miskin argumentasi dan menihilkan empati.

Satu yang perlu kita syukuri adalah polemik ini melibatkan orang orang dari hampir seluruh penjuru negeri. GM yang orang Jawa Tengah, Sulak Jawa Timur, Budi Hardiman yang mungkin dari Sunda, Nirwan Arsuka orang Makassar, Saut Situmorang orang Batak. Itu artinya keinginan untuk berpolemik secara kesatria sudah menyebar ke seantero negeri. Kasarnya, mereka yang pintar sudah ada dimana mana, bukan hanya di Jawa saja. Satu yang perlu ditunggu adalah , tulisan jernih sosiolog kita dari Kupang Ignas Kleden. Dan yang cukup membuat saya bergairah barangkali ada satu nama dari daerah asal saya Bali yang akan  turun gunung ke kancah ini, siapa tahu.

Kembali sedikit ke tema polemik ini. Mempertentangkan antara sains, agama dan filsafat di hari hari ini, terutama dalam situasi pandemi  dan ditengah usaha kita keluar dari krisis , mungkin tak cukup efektif. Tapi sebagai penyeimbang ditengah ujaran tak mengenakkan yang miskin harapan tadi, ini seperti oase penyejuk, tempat kita menarik nafas panjang sejenak di tengah  polusi pemikiran yang bersiponggang.

Terkait wabah seperti ini, suara agama (yang dulu diwakili gereja) sudah lama kita lupakan. Dan untuk filsafat, saya rasa juga belum waktunya, kita butuh sesuatu yang segera, terarah dan bisa kita nilai keberhasilan maupun kegagalannya. Satu satunya tempat kita bersandar saat ini mungkin hanya Sains. Tak ada salahnya kita mengingat pernyataan tak terbantahkan Wiston Churchill, mantan perdana menteri Inggris yang legendaris itu. Mungkin Demokrasi bukanlah pilihan yang paling sempurna untuk Dunia. Tetapi sampai detik ini, adakah yang lebih baik dari itu?

Kita tinggal mengganti kata demokrasi dengan sains.

Tags: covid 19pandemipolemiksains
Share44TweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Tim Kreatif Tak Lagi Kreatif

Next Post

IGB Sugriwa, Pengalir Mata Air Sastra ke Berbagai Telaga Zaman

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
IGB Sugriwa, Pengalir Mata Air Sastra ke Berbagai Telaga Zaman

IGB Sugriwa, Pengalir Mata Air Sastra ke Berbagai Telaga Zaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co