12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fyodor Dostoyevsky: Prolegomena tentang Penderitaan, Kegilaan, dan Kekonyolan

Made Ferry Kurniawan by Made Ferry Kurniawan
October 11, 2023
in Esai
Fyodor Dostoyevsky: Prolegomena tentang Penderitaan, Kegilaan, dan Kekonyolan

Fyodor Dostoyevsky

MEMPELAJARI Fyodor Dostoyevsky, seorang novelis terkenal asal Rusia, memerlukan ketekunan mendalam. Hal ini dikarenakan gaya berbahasa dan diksi yang digunakan dalam untaian narasinya bersifat satire, aforistik, anakronistik—bahkan “berbenturan” antara wacana satu dengan wacana lainnya.

Selingkung yang dihadirkan Dostoyevsky—dengan tendensi rumit—tidak lepas dari realitas hidup yang ia alami. Mulai dari pergumulan dengan sang ayah sampai rekaman memori tentang keadaan menyedihkan Rusia di masa lalu.

Fyodor Dostoyevsky memiliki nama lengkap Fyodor Mikhailovich Dostoyevsky. Ia lahir di Moskow, pada 30 Oktober 1821. Ayahnya berprofesi sebagai dokter tentara, sementara ibunya berasal dari keluarga pengusaha kaya.

Sejak usia remaja, Dostoyevsky mengalami kegelisahan karena melihat tabiat buruk sang ayah. Sebagai seorang dokter tentara, ayah Dostoyevsky menunjukkan sifat paradoks. Ia suka mabuk, bahkan suka bermain perempuan.

Sampai pada momen akhir, ayahnya meninggal karena dibunuh oleh para pekerja perkebunannya sendiri. Peristiwa itu “menubuh” dalam kedirian Dostoyevsky, sampai pengalaman tidak menyenangkan itu, terbawa dan mengilhami setiap tulisan-tulisannya.

Dalam rangka melakukan sublimasi atas memori buruk tersebut, ia mencari “pelampiasan” di luar rumah.

Pengalihan emosi itu dimulai dengan melihat penderitaan masyarakat Rusia yang mengalami kemiskinan, buta huruf, dan beragam penderitaan—dia tergerak untuk mengubah keadaan. Langkah pertama yang dilakukan ialah bergabung dengan Petrashevsky, sebuah kelompok revolusioner berhaluan kiri dan berkiblat pada pemikiran Charles Fourier.

Antitesa Chernyshevsky

Untuk memahami jalinan berpikir dan “simpul” paradigma Fyodor Dostoyevsky, ada beberapa karya yang harus dibaca. Beruntung, setelah kematiannya, karya-karya Dostoyevsky banyak diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Sehingga, saya yang hanya bisa berbahasa Inggris dan tidak bisa berbahasa Rusia, bisa menikmati setiap diksi penyair Rusia itu.

Beberapa karyanya antara lain: Insulted and Injured (1860), House of the Dead (1860), Notes from Underground (1864), The Brothers Karamazov (1878-1880), Crime and Punishment (1866), The Gambler (1866) dan The Idiot (1886-1869).

Karya-karya di atas cukup sulit untuk diakses, baik melalui libgen.rs atau beberapa kanal online lainnya. Dari ketujuh novel itu, hanya bisa diakses melalui toko buku berbahasa Inggris: Periplus.

Ciri khas Dostoyevsky yang ditampilkan melalui gaya bahasanya, memiliki kecendurangan untuk melihat dunia dengan kegelisahan. Sehingga, ia dapat dikatakan sebagai pemikir Rusia yang “hidup” di era modern. Fyodor Dostoyevsky menjadi antitesa dari Chernyshevsky (1828-1889).

Chernyshevsky melalui karyanya berjudul What Is Be Done? (1863) membangun argumentasi serta melakukan glorifikasi rasionalitas Eropa Barat, juga mentotalisasi mengenai karakter perfectibility manusia modern. Manusia modern yang berakal dan memaksimalisasi rasionalitasnya, dianggap sebagai “manusia ugahari dan ajeg”.

Untuk menggugat Chernyshevsky, Dostoyevsky menulis karya lain berjudul ‘The Dream of a Ridiculous Man, isinya berkaitan tentang falsifikasi, atau cara berpikir alternatif untuk menegasi glorifikasi rasioalitas.

Ia (Dostoyevsky) menawarkan cara berpikir untuk kembali pada knowledge tradition of Russia—tradisi berpikir yang mengarah pada anggapan bahwa rasionalitas tidak selalu menjadi jalan keluar atas suatu masalah, tetapi masalah dan penderitaan harus diafirmasi, karena melalui itu setiap manusia menjadi entitas reflektif.

Memaknai Penderitaan, Kegilaan, dan Kekonyolan

Fyodor Dostoyevsky melalui selingkung knowledge tradition of Russia, menekankan tentang arti penting penderitaan dan kegilaan. Baginya, penderitaan atau kegilaan bukanlah entitas yang harus dihindari. Entitas itu hadir, melekat dan inheren dalam realitas sosial manusia. Bahkan, term tentang suffering memiliki esensi edukatif.

Dostoyevsky menekankan bahwa untuk membangun “manusia yang ajeg”, bukan diawali dari sisi rasionalitasnya (kritik atas egoisme rasionalis Chernyshevsky), tetapi dari dimensi resiliensi. Bagaimana setiap individu mampu memaknai, menginterpretasi, dan menginternalisasikan kesulitan hidup.

Kemampuan berpikir atau akal sehat tidak selalu membuat manusia bahagia, justru rasionalitas menyebabkan penderitaan/keputusasaan. Daya tahan banting serta pembiasaan akan penderitaan atau kegilaan lebih bermakna—karena menciptakan kesadaran reflektif atas sesuatu yang terletak di jantung penderitaan.

Dengan menderita, kita mendekatkan diri pada realitas utuh, kompleksitas dan hakikat memanusiakan diri. Memahami derita atau kondisi gila menjadi jalan purgatorio dalam merekonfigurasi makna kemanusiaan diri, karena kondisi tidak menyenangkan memberikan pembelajaran seumur hidup, tidak peduli seberapa banyak hinaan, kesepiaan atau keterlemparan pada titik terendah.

Jalan purgatorio tidak diajarkan oleh egosime rasionalis, terutama pada era neoliberalisme. Hal ini disebabkan karena egoisme rasionalis mengajarkan manusia untuk bahagia dan “mencicipi” sedikit penderitaan. Menyecap derita dilakukan agar seolah-olah mereka merasa benar-benar hidup. Bagi Dostoyevsky ini adalah kekonyolan.

Penderitaan dan kegilaan adalah realitas enigmatik. Tetapi, kenyataan itu “menampar” manusia bahwa kehidupan yang sedang dijalani adalah perjalanan fana (tidak abadi) (Ivanists, 2008). “Tamparan” tersebut membawa manusia pada dimensi pencarian. Pencarian akan makna inilah membuat mereka menjadi mengetahui—mengetahui tentang naluri serta cara memelihara diri. Sekalipun enigma dari hasil perenungan tentang penderitaan atau kegilaan dapat merusak hidup dan ekspektasi.

Namun, kemampuan berpikir reflektif tersebut mengantarkan individu pada beragam probabilitas, kemungkinan baru tentang keberadaan dirinya dengan dunia sekitar. Manusia yang reflektif akan terus mengalami ketidaknyamanan, terombang-ambing, ketidakpastian serta sepenuhnya tidak akan pernah puas.

Definisi tentang “manusia ajeg” tidak lagi mengandalkan kemampuan bernalar, tetapi terus-menerus mencari makna dalam hidup, sekaligus memertimbangkan different voice intuisinya (Roberts, 2005).

Dostoyevsky menyadari bahwa kesadaran mendalam tidak hadir melalui kebahagiaan. Kesadaran itu hadir dari penderitaan dan tersandungnya manusia ketika mereka belajar untuk hidup. Kita harus sadar diri dalam keputusasaan, sadar akan kekurangan juga dengan kegagalan.

Dari hal di atas bisa dipahami tentang linieritas berpikir Dostoyevsky bahwa manusia pada dasarnya adalah entitas yang kesepian, mereka tidak mampu melarikan diri dari fakta bahwa antara individu dan kebenaran selalu berdiri di tengah masyarakat, sehingga terjadi relasi dialektis dalam kehidupan.

Dengan menderita, setiap individu mengalami kemunduran, demi mendapatkan kemendalaman hidup yang melangkah maju. Penderitaan mengandung arti proses formasi (bildung), membutuhkan interpretasi ulang dengan perspektif yang mencerahkan.

Selain itu, mengalami ketersiksaan menjadikan kita menerima liminalitas diri dalam memahami sesuatu yang unexplainable (Herbillon, 2020; Jones, 1971). Karena dengan merasakan ketidaknyamanan atau kegilaan, manusia mampu mencapai kemendalaman dan membentuk jenis “pertobatan baru”—memanipulasi emosi negatif ke dalam penerimaan, mendegradasi hasrat impulsif sekaligus persisten dalam mendeterminasi diri dengan keterpasrahan (Dostoevsky, 1958; Mitchell, 1975). Di sinilah untaian kebermaknaan penderitaan menurut Dostoyevsky.[T]

  • Daftar Pustaka
  • Dostoevsky, F. (1958). Fyodor Dostoevsky: Notes From Underground. American Behavioral Scientist, 1(6), 41–42. https://doi.org/10.1177/000276425800100614
  • Herbillon, M. (2020). Rewriting Dostoevsky: J. M. Coetzee’s The Master of Petersburg and The Perverted Truths of Biographical Fiction. Journal of Commonwealth Literature, 55(3), 391–405. https://doi.org/10.1177/0021989418823829
  • Ivanists, L. (2008). Dostoevsky and The Russian People (I (ed.)). Cambridge University Press.
  • Jones, M. (1971). Dostoevsky’ s Notebooks. Journal of European Studies, 2(3), 277–284. https://doi.org/10.1177/004724417200200305
  • Mitchell, J. (1975). Dostoevsky’s Image of Christ. The Expository Times, 86(7), 210–214. https://doi.org/10.1177/001452467508600710
  • Roberts, P. (2005). Freire and Dostoevsky: Uncertainty, Dialogue and Transformation. Journal of Transformative Education, 3(2), 126–139. https://doi.org/10.1177/1541344604273424
Sisi Lain D.N. Aidit: Tokoh PKI dan Aktivis Literasi
Jon Fosse, Nobel Sastra, dan Karya Minimalismenya
Pemikiran Soedjatmoko tentang Pendidikan Abad ke-21 dan Masa yang akan Datang
Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein
Aristokrasi Übermensch: Nietzsche Vs Politik Haus Kekuasaan
Filsafat Pendidikan Emansipatif Jacques Ranciére
Tags: filsafatRusiasastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sisi Lain D.N. Aidit: Tokoh PKI dan Aktivis Literasi

Next Post

Belajar dari Seorang Sopir: Jalanan Adalah Sekolah Terbaik

Made Ferry Kurniawan

Made Ferry Kurniawan

Mahasiswa S2 Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Belajar dari Seorang Sopir: Jalanan Adalah Sekolah Terbaik

Belajar dari Seorang Sopir: Jalanan Adalah Sekolah Terbaik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co