14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jon Fosse, Nobel Sastra, dan Karya Minimalismenya

Jaswanto by Jaswanto
October 7, 2023
in Persona
Jon Fosse, Nobel Sastra, dan Karya Minimalismenya

Penulis Jon Fosse di Frekhaug, Norwegia | Foto: Dok. The New York Times

HARDANGERFJORD, fjord terbesar kedua di Norwegia, membentang dari Laut Utara hingga pegunungan Vestland yang jauh. Sekitar setengah jalan menuju fjord, di mana cahaya di pantainya gelap, dan airnya berwarna keperakan karena cahaya, terletak di Desa Strandebarm. Ini adalah rumah bagi Fosse Foundation, sebuah organisasi yang didedikasikan untuk Jon Fosse—novelis, penulis esai, dan salah satu penulis drama kontemporer yang paling banyak diproduksi di Eropa—yang lahir di sana, pada tahun 1959.

Para anggota yayasan bertemu di sebuah rumah doa kecil berwarna abu-abu yang menghadap ke lekukan pelabuhan; air terjun mengalir menuruni permukaan batu hitam di belakangnya. Di ujung jalan dari yayasan terdapat dua rumah berwarna putih: rumah tempat Fosse dibesarkan, tempat ibunya masih tinggal, dan rumah milik kakek-neneknya.

Paragraf di atas ditulis oleh Merve Emre—kontributor di The New Yorker dan Profesor Penulisan Kreatif dan Kritik Shapiro-Silverberg di Universitas Wesleyan—dalam artikel wawancara berjudul Pencarian Perdamaian Jon Fosse yang terbit di The New Yorker pada 2022 silam.

Menurut Emre, Fosse merupakan penulis Norwegia yang telah menghabiskan waktu puluhan tahun untuk menghasilkan karya yang aneh sekaligus dihormati. “Tapi dia masih belum tahu dari mana asal tulisan itu,” kata Emre.

Tahun ini, novelis dari Norwegia yang senang mengangkat tema penuaan, kematian, cinta, dan seni itu, dianugerahi Hadiah Nobel Sastra, sebagaimana yang tertulis di The New York Times, “atas karya drama dan prosa inovatifnya yang menyuarakan hal-hal yang tidak dapat diungkapkan.”

Sementara itu, di laman Kompas.id, Tatang Mulyana Sinagajon membuka artikelnya dengan kalimat “Fosse sedikit mati rasa saat mengetahui dirinya memenangi Nobel Sastra 2023. Ia tidak menyangka akan menerima penghargaan atas karya-karya inovatifnya yang menyuarakan hal-hal yang tidak dapat diungkapkan.”

Fosse sedang mengemudi di sebuah perdesaan di pantai barat Norwegia, kata Tatang, saat Sekretaris Akademi Swedia Mats Malm menghubunginya untuk memberitahunya sebagai pemenang Nobel Sastra, Kamis (5/10/2023). Percakapan berlangsung singkat karena Fosse harus fokus mengemudi dalam perjalanan pulang ke rumah.

Dalam sebuah pernyataan yang dikirim melalui penerbitnya di Norwegia, Fosse, 64, mengatakan dia “sangat senang sekaligus terkejut” menerima penghargaan tersebut. “Saya telah menjadi salah satu favorit selama 10 tahun, dan merasa yakin bahwa saya tidak akan pernah mendapatkan hadiah tersebut,” katanya. “Saya benar-benar tidak bisa mempercayainya.”

Dalam menerima apa yang secara luas dipandang sebagai penghargaan paling bergengsi dalam bidang sastra, Fosse (yang namanya diucapkan Yune FOSS-eh, menurut penerjemahnya) bergabung dengan daftar pemenang termasuk Toni Morrison, Kazuo Ishiguro, dan Annie Ernaux .

Kritikus membandingkan drama Fosse dengan karya dua pemenang Nobel lainnya: Harold Pinter dan Samuel Beckett. Ia juga dijuluki “Ibsen baru”, diambil dari nama penulis drama terkenal asal Norwegia, Henrik Ibsen.

Sebelum Fosse, penerima Nobel Sastra Norwegia terakhir adalah Sigrid Undset, seorang penulis fiksi sejarah yang menerima hadiah tersebut pada tahun 1928, dan Knut Hamsun pada tahun 1920.

Dalam beberapa tahun terakhir, Akademi Swedia, yang menyelenggarakan penghargaan tersebut, telah mencoba meningkatkan keberagaman penulis setelah menghadapi kritik bahwa hanya 17 peraih Nobel adalah perempuan, dan sebagian besar berasal dari Eropa atau Amerika Utara. Pilihan Fosse kemungkinan besar akan ditafsirkan sebagai langkah mundur dari upaya tersebut.

Sebelum pengumuman hari Kamis, pada konferensi pers di Stockholm, Fosse termasuk di antara favorit, meskipun Can Xue, seorang penulis Tiongkok yang sering menulis cerita pendek surealis dan eksperimental, juga masuk dalam nominasi, begitu pula Haruki Murakami ; Salman Rushdie; dan Ngugi wa Thiong’o, seorang novelis dan penulis drama Kenya.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis melalui penerbitnya di Norwegia pada hari Kamis, Fosse mengatakan dia “kewalahan dan agak takut.”

Ketika ditanya hampir satu dekade yang lalu tentang harapannya untuk memenangkan Nobel, dia mengatakan bahwa meskipun dia “tentu saja” ingin menerimanya, dia juga khawatir dengan beban ekspektasi yang akan ditimbulkannya.

“Biasanya, mereka memberikannya kepada penulis yang sangat tua, dan ada hikmahnya,” katanya dalam wawancara dengan The Guardian. “Anda menerimanya ketika itu tidak mempengaruhi tulisan Anda.”

Evolusi Fosse: Dari Ateis ke Katolik

Seperti yang telah disiarkan The New York Times—beberapa jam setelah pengumuman Hadiah Nobel Sastra 2023 dibacakan—Jon Fosse dilahirkan pada tahun 1959 di Haugesund. Ia dibesarkan di Norwegia bagian barat, di sebuah pertanian kecil di Strandebarm.

Fosse mengaku mulai menulis puisi dan cerita pada usia 12 tahun, dan mengatakan bahwa dia menganggap menulis sebagai bentuk pelarian. “Saya menciptakan ruang saya sendiri di dunia, tempat di mana saya merasa aman,” katanya kepada The Guardian pada tahun 2014.

Sebagai seorang pemuda, sebagaimana artikel Alex Marshall dan Alexandra Alter di The New York Times, Fosse adalah seorang komunis dan anarkis. Ia belajar sastra komparatif di Universitas Bergen.

Fosse menulis dalam bahasa Nynorsk, bahasa minoritas, bukan Bokmål, bahasa Norwegia yang lebih banyak digunakan untuk sastra. Meskipun beberapa orang menafsirkan penggunaan Nynorsk sebagai pernyataan politik, Fosse mengatakan itu hanyalah bahasa yang ia gunakan saat tumbuh dewasa.

“Itu hanya bahasa saya,” katanya. “Itulah yang saya pelajari sejak hari pertama saya di sekolah hingga saya keluar, selama 12 atau 13 tahun. Itu bahasa minoritas, dan itu hanya keuntungan bagi saya sebagai penulis. Kata ini hampir tidak pernah digunakan dalam iklan atau bisnis seperti yang digunakan dalam dunia akademis, sastra, dan gereja.”

Pada tahun 1983, ia menerbitkan novel debutnya yang berjudul Raudt, Svart. Sejak saat itulah ia memulai kariernya yang sangat produktif. Karyanya seperti novel Melancholia I (1995) dan II (1996)—yang menyelidiki pikiran seorang pelukis yang mengalami gangguan mental—menjadi yang paling terkenal.

Selain itu, novel Pagi dan Sore—yang dibuka dengan momen kelahiran sang protagonis dan diakhiri dengan hari terakhir hidupnya—atau karya tujuh jilid A New Name: Septology VI-VII (2022)—sebuah karya yang panjangnya lebih dari 1.000 halaman dan berkisah tentang dua seniman tua yang mungkin adalah orang yang sama: Yang satu telah mencapai kesuksesan, sementara yang lain menjadi pecandu alkohol (Septology menjadi finalis National Book Critics Circle Award in Fiction 2023)—juga telah membawa namanya ke dalam barisan novelis besar Norwegia.

Mengenai karya-karya Fosse, seorang Jacques Testard, pendiri Fitzcarraldo Editions, penerbit Fosse di Inggris, mengatakan karya Fosse menyentuh tema “cinta, seni, kematian, duka, dan persahabatan” sementara “lanskap fjord Barat dekat Bergen tempat ia dibesarkan” hampir merupakan sebuah karakter dalam dirinya sendiri.

Meskipun Fosse memulai karirnya sebagai penyair dan novelis, tapi ia menjadi terkenal sebagai penulis drama. Ia memperoleh pengakuan internasional pada akhir tahun 1990-an dengan produksi drama pertamanya di Paris, Someone Is Going to Come, tentang seorang pria dan seorang wanita yang mencari kesendirian di rumah terpencil di tepi pantai. Fosse mengatakan dia menulisnya dalam empat atau lima hari—dan tidak merevisinya, katanya.

Selama 15 tahun, ia fokus pada teater, dan sering bepergian ke produksi drama internasional. Tapi kemudian dia memutuskan untuk kembali ke dunia fiksi, berhenti bepergian, berhenti minum alkohol, dan masuk Katolik.

Seorang mantan ateis yang kemudian menemukan agama, Fosse menggambarkan menulis sebagai bentuk persekutuan mistik.

Dalam sebuah wawancara dengan Los Angeles Review of Books pada tahun 2022, Jon Fosse berbicara tentang evolusinya sebagai seorang penulis, hubungannya dengan Tuhan dan mistisisme, dan bagaimana ia mencoba dalam tulisannya untuk mendorong batas-batas dari apa yang dapat ditimbulkan oleh bahasa.

“Ketika saya berhasil menulis dengan baik, ada bahasa kedua yang diam,” ujarnya. “Bahasa diam ini menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ini bukan ceritanya, tapi Anda bisa mendengar sesuatu di baliknya—suara pelan yang berbicara.”

Minimalisme Fosse

Sebagaimana telah disampaikan CNN Indonesia, karya-karya Fosse memiliki karakter khas yang melekat dalam setiap tulisannya. Menurut Nobel Prize, Fosse menulis novel dengan gaya yang kemudian dikenal sebagai “minimalisme Fosse”.

Ia kerap menawarkan cerita dengan tema yang kuat, seperti momen kritis dari sebuah ketidakpastian. Jon Fosse juga dikenal kerap menggambarkan situasi sehari-hari yang dekat dengan kehidupan masyarakat pada umumnya.

Fosse sering dipuji karena karyanya yang minimalis dan introspektif, dan karena menghindari dramatisme yang berlebihan, Fosse sering dianggap sebagai penerus Ibsen yang layak. Misalnya, seperti yang disampaikan The Economic Times, dalam drama berjudul Someone Is Going To Come dan Dreams Of Autumn, Fosse memastikan nadanya tidak cengeng, namun menjaga bahasanya tetap jernih, tanpa menyerah pada keinginan familiar untuk menjadikannya lebih ornamen atau bertele-tele.

Meskipun karya Fosse kadang-kadang bersifat eksperimental secara formal—“Septology,” misalnya, terungkap sebagai satu kalimat narasi aliran kesadaran —sering kali karya tersebut terasa mendalam dan mencekam. Menulis selama puluhan tahun telah mengajarkan Fosse kerendahan hati, dan mengesampingkan ekspektasi, katanya dalam wawancara email dengan The New York Times pada Kamis, (5/10/2023).

“Saat saya mulai menulis, saya tidak pernah merasa yakin akan mampu menulis karya baru,” ujar Fosse. ”Saya tidak pernah merencanakan apa pun sebelumnya, saya hanya duduk dan mulai menulis. Dan pada titik tertentu, saya merasa karya tersebut sudah ditulis dan saya hanya perlu menuliskannya sebelum hilang.”

Menurut Adam Z. Levy dari penerbit Transit Books—sebuah pers kecil yang mulai menerbitkan karya Fosse di Amerika Serikat pada tahun 2020 dengan seri “Septology” pertamanya—karya Fosse tampak sederhana. “Dia sering menulis prosa yang sangat singkat dan sederhana, tetapi bukunya mengejutkan Anda. Mereka mengambil kualitas yang sangat mengharukan ini. Kalimat-kalimatnya berulang, berkelok-kelok, bermula di satu tempat, lalu kembali lagi ke sana, berputar ke luar,” ujarnya.

Damion Searls, salah satu penerjemah bahasa Inggris Fosse, mengatakan bahwa meskipun Fosse telah menulis dalam berbagai media, benang pemersatu dalam karyanya adalah perasaan tenang, itulah sebabnya karyanya sering digambarkan sebagai karya yang menghipnotis atau menggugah spiritual—pengalaman.

“Salah satu kata kunci yang dia gunakan untuk membicarakan fiksinya adalah perdamaian,” kata Searls, yang menerjemahkan karya Fosse dari bahasa Jerman, Norwegia, Prancis, dan Belanda. “Ada kedamaian yang nyata di dalamnya, meski banyak hal terjadi, ada yang meninggal, ada yang bercerai, tapi ketenangan ini terpancar di dalamnya.”

Ketua Komite Nobel Anders Olsson mengatakan Fosse adalah “seorang penulis yang luar biasa dalam banyak hal”. “Dia menyentuhmu begitu dalam ketika kamu membacanya, dan ketika kamu sudah membaca satu karya, kamu harus melanjutkannya,” ujarnya.

Berbagai karya Fosse membawa dirinya menjadi salah satu penulis Eropa paling berpengaruh pada era sekarang. Beberapa karya Fosse yang dikenal luas hingga kancah global, yakni Melancholia I (1995), Melancholia II (1996), Morgon og kveld (2000), Andvake (2007), hingga Olavs draumar (2012). Ia juga menulis sejumlah naskah pertunjukan, seperti Namnet (1995), Draum om hausten (1999), Eg er vinden (2007), hingga Desse auga (2009).

Dan jauh sebelum mendapatkan Hadiah Nobel Sastra, Fosse telah dianugerahi berbagai penghargaan, mulai dari Nynorsk Literature Prize 1998 dan 2003 serta Dobloug Prize 1999. Ia juga masuk dalam daftar 100 orang paling genius yang masih hidup versi The Daily Telegraph.

Ia berada di peringkat 83 dari 100 besar ranking tersebut. Sejak 2011, Fosse bahkan dianugerahi Grotten dari Raja Norwegia. Grotten merupakan kediaman kehormatan dari Norwegia yang terletak di lokasi Istana Kerajaan di pusat Kota Oslo.[T]

Baca juga artikel terkait  TOKOH  atau tulisan menarik lainnya  JASWANTO

Sumber: Diolah dari berbagai artikel tentang Jon Fosse di internet
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Tags: NobelNobel SastranovelPuisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Leluhur | Cerpen Mas Ruscitadewi

Next Post

Potret Ikonis Singaraja dalam Cerpen

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails
Next Post
Potret Ikonis Singaraja dalam Cerpen

Potret Ikonis Singaraja dalam Cerpen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co