15 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Leluhur | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
October 7, 2023
in Cerpen
Leluhur | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

KAMI menyebutnya leluhur, sesuatu yang ada dan menempel pada diri, pada raga dan mungkin juga jiwa. Yang kadang muncul menjadi bisikan lembut di dada, belaian sayang yang membayang. Atau memantul dan berbicara lewat bibir yang tersenyum di dalam cermin. Ya,, kami, aku dan dia menyebutnya leluhur, sesuatu yang dekat, sangat dekat, tetapi kadang tak terjangkau bahkan oleh kecerdasan pikiran.

Aku dan dia, memandang, memahami dan  menanggapi leluhur secara berbeda, bahkan nyaris bertolak belakang. Aku,  seperti namaku, Pertiwi, Bumi yang mematri semua yang di dalam, statis, diam tak kemana-mana, memahami, dan memandang leluhur sebagai manusia-manusia nyata dengan segala aturan tradisi tetek bengeknya yang membelengu, dan mengganggu.

Dia, namanya Dian, Agni,, seperti api terlempar dan menggelepar di luar lingkaran, menggapai-gapai kedalaman, mencari akar untuk bahan bakar, memandang dan memahami leluhur sebagai spirit yang selalu membantu dan menguatkan.

Maka, jadilah kami dua sosok berbeda yang bertolak belakang, tetapi disatukan dalam konteks “leluhur”.

Hentah siapa yang benar dan siapa yang salah menjadi tak penting lagi. Yang menarik adalah sesuatu yang kami  sepakati yang kami sebut leluhur yang wajib dan mesti dihormati.

Bagi Dian rasa hormat dan kewajiban itu ditunjukkan dengan mengikuti semua semua arahan leluhur, karena selalu benar, dan memang merupakan kebenaran itu sendiri.

“Aku dibuang, dipisahkan dari ayah, ibu, saudara-saudara dan lingkunganku. Nenek yang mengajak, menjaga, memelihara dan mendidikku. Nenek menjadi perantara kasih sayang leluhur-leluhurku. Bahkan saat nenek sudah meninggalpun, kasih sayangnya yang hadir dalam batinku, menyelamatkanku dari tiga kematian. Aku dihidupkan dari nafas kasih nenek dan leluhurku. Maka kujalani hidupku untuknya, untuk leluhurku!” Mata Dian berkaca-kaca, ada kenangan indah masa silam yang melintas-lintas dalam geraknya yang tanpa batas.

Aku terpana, merasa berbeda dan sangat berbeda.

Aku menghormati leluhur, karena kuanggap lebih tua. Ibu mengajariku untuk menghormati yang lebih tua, dan menyayangi yang lebih muda dan menghargai sesama.

Jadi rasa hormatku pada leluhur, lebih pada rasa hormatku pada nasehat ibu, yang kuyakini benar dan kebenaran itu sendiri.

Pada ibu, rasa hormatku tak kutunjukkan dengan mengikuti semua perkataannya, untuk yang kuanggap krusial aku sering membantah ibu, justru karena rasa hormatku padanya.

Ketika ibu sakit, beliau melarangku memijat kakinya, karena menganggap aku anaknya memiliki derajat yang lebih tinggi darinya.

“Lebih tinggi dari mana, sudah jelas aku lahir dari rahimnya, jangankan memijat kaki, kepalakupun  akan aku serahkan dengan senang hati agar bisa berada di bawah telapak kakinya!” Pendapatku itu tidak saja melawan permintaannya, tapi juga membuat keluarga lain tidak suka.

Membuat orang yang lebih tua tidak suka, marah bahkan benci, bukan berarti aku tak menghormati, tetapi rasa hormatku diletakkan pada keyakinan yang  kuanggap benar.

“Kamu tahu kenapa sampai sekarang kamu belum mendapatkan pasangan, itu karena aku pasang tembok yang sangat tinggi untuk mengurungmu.., ” kata sebuah suara di dalam dadaku. Ya, aku tahu itu suara bagian dari diriku, dalam darah, DNA leluhurku.

Aku terkekeh, bersilat lidah dengan yang ada di dalam diriku.

“Ya, tidak apa-apa, berarti pasanganku nanti adalah orang hebat, peloncat tinggi yang bisa meloncati tembok tinggi yang kalian buat.”

“Sejak dari dalam kandungan,  dari kecil kau kujaga, selalu kujaga, agar kau bisa melahirkan keturunan, yang mewarisi keagungan dan keluhuran leluhur kita!” Suara itu tegas dan jelas, sedikit marah.

Aku terkekeh.

“Ya, silahkan saja, kalau mau lahir dari aku silahkan saja, mau suamiku siapa kek ya lahir, lahir sajalah, mau orang asing atau siapa saja.”

Suara di dadaku kurasakan makin marah. Kemudian dia memberikan gambaran suami yang dijodohkan untukku. Seorang lelaki muda dan tampan, masih saudara yang juga teman SMA ku. Tentu saja aku makin terkekeh, yang membuatnya makin marah.

“Oke, oke, gini aja, aku hanya akan menikah dengan orang yang kucintai dan mencintai aku. Jadi kalau kau ingin aku menikah dengannya, tolong buat aku mencintainya dan dia mencintai aku, ” kataku akhirnya.

Suara di dadaku makin marah, mengumpat-umpat dan mengancam-mengancam, mengatakan apa saja yang sudah dilakukan untukku selama ini, yang dianggapnya percuma karena aku tak mau mengikuti perintahnya.

Setelah itu sungguh kurasakan sangat tidak nyaman. Seminggu aku merasakan jiwaku tak berada di dalam ragaku, hidupku serasa kosong. Tapi saat seperti itu, pikiran-pikiran nakalku tentang kematian berlompatan. Kalau seandainya aku mati, aku ingin teman-temanku sedikit tahu tentang cerita kematianku. Maka ku telpon teman-teman dekatku, kunikmati berbagai jawaban yang mereka berikan.

“Aduh, jangan seperti itu, jangan melawan leluhur, minta maaflah, ” kata seorang teman yang dikenal sangat ahli dalam adat dan budaya Bali.

“Wah Kingkong lu lawan,” kata teman satunya yang terkenal santai.

“Wah gitu ya, hati-hati,” kata teman sedikit cuek

Berbagai jawaban teman-teman mampu sedikit meredakan debar di dadaku,sekaligus memberiku  pemahaman yang lebih dalam tentang teman-temanku.

Ketika kemudian adikku meninggal, aku masih berusaha melupakan perdebatan dengan yang kuanggap leluhur itu, dan berkeyakinan bahwa persoalan hidup dan mati ada dalam kemahakuasaan Tuhan, juga jodoh dan cinta.

Jalanku menghormati leluhur adalah jalan pembangkangan dan pemberontakan terhadap apa yang kunilai keliru. Kupahami kini, leluhur atau, siapapun, atau apapun itu yang hadir sebagai penghalang, penghambat, pengganggu bahkan pengancam, hadir semata untuk menguji keyakinan kita, pada Tuhan, pada kebenaran yang satu, yang sebenar-benarnya.

Leluhur menjadi salah satu jalan menuju hakekat. Hentah jalan darat, laut maupun udara.

Di udara bagi Dian, diri adalah ketelanjangan yang memerlukan baju-baju duaniawi dari leluhur untuk perlindungan dan rasa aman.

Sampai bisa menemukan baju-baju keyakinan pada Tuhan untuk menjadi benar-benar telanjang dan menyatu dengan semesta. Menjadi semesta.

Di Bali, tubuh kita seperti pohon pisang, yang hatinya diselubungi berlapis-lapis pelepah, yang menjadi pelindung inti. Lapis-lapis yang menjadi batang pohon pisang itu seperti lapis-lapis keluarga, leluhur, lingkungan, adat dan tradisi yang menutupi kesejatian yang kita cari.  Hanya dengan melepas kelopak pisang satu-satu, melewati perih luka dan koyakan, akan mendapatkan inti. [T]

  • BACA cerpen lain
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Fête De La Musique | Cerpen Santos Philipus
Undangan Pernikahan | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Reza Ramadhan | Amelia

Next Post

Jon Fosse, Nobel Sastra, dan Karya Minimalismenya

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails
Next Post
Jon Fosse, Nobel Sastra, dan Karya Minimalismenya

Jon Fosse, Nobel Sastra, dan Karya Minimalismenya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca
Esai

Bangsa yang Kehilangan Waktu untuk Membaca

BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa....

by Ahmad Fatoni
June 15, 2026
Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng
Pemerintahan

Lantik 123 PNS Formasi 2024, Bupati Sutjidra: Junjung Tinggi Nilai BerAKHLAKdan Pelayan Terbaik bagi Masyarakat Buleleng

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra secara resmi mengambil sumpah/janji serta menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Formasi...

by tatkala
June 15, 2026
Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens...

by Ingga Adelia
June 15, 2026
Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif
Pendidikan

Perkuat Kompetensi Berbahasa Indonesia, 449 Siswa SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Ikuti UKBI Adaptif

JARI-jari mereka bergerak cepat di atas layar gawai dan laptop. Di beberapa ruang kelas SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam),...

by Dede Putra Wiguna
June 15, 2026
Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I
Panggung

Lomba Mewarnai di Pesta Kesenian Bali 2026 —Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta Juara I

ANAK-anak ini tampak tenang dan santai. Mereka duduk manis di atas karpet di teras Museum Taman Budaya, Art Center Provinsi...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan
Pemerintahan

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna Sampaikan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Om Swastyastu, Atas nama Pemerintah Kabupaten Buleleng dan pribadi, kami I Nyoman Sutjidra, Bupati Buleleng, bersama Gede Supriatna, Wakil Bupati...

by tatkala
June 15, 2026
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali
Panggung

Peed Aya PKB 2026, Seni Keberlanjutan

PEMENTASAN Peed Aya serangkaian dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu ada yang baru, dan pastinya menarik. Arak-arakan barisan yang...

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026
Ulas Pentas

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali
Ulas Rupa

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

by Oka Rusmini
June 15, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa...

by Chusmeru
June 15, 2026
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
Puisi

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co