2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Leluhur | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
October 7, 2023
in Cerpen
Leluhur | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

KAMI menyebutnya leluhur, sesuatu yang ada dan menempel pada diri, pada raga dan mungkin juga jiwa. Yang kadang muncul menjadi bisikan lembut di dada, belaian sayang yang membayang. Atau memantul dan berbicara lewat bibir yang tersenyum di dalam cermin. Ya,, kami, aku dan dia menyebutnya leluhur, sesuatu yang dekat, sangat dekat, tetapi kadang tak terjangkau bahkan oleh kecerdasan pikiran.

Aku dan dia, memandang, memahami dan  menanggapi leluhur secara berbeda, bahkan nyaris bertolak belakang. Aku,  seperti namaku, Pertiwi, Bumi yang mematri semua yang di dalam, statis, diam tak kemana-mana, memahami, dan memandang leluhur sebagai manusia-manusia nyata dengan segala aturan tradisi tetek bengeknya yang membelengu, dan mengganggu.

Dia, namanya Dian, Agni,, seperti api terlempar dan menggelepar di luar lingkaran, menggapai-gapai kedalaman, mencari akar untuk bahan bakar, memandang dan memahami leluhur sebagai spirit yang selalu membantu dan menguatkan.

Maka, jadilah kami dua sosok berbeda yang bertolak belakang, tetapi disatukan dalam konteks “leluhur”.

Hentah siapa yang benar dan siapa yang salah menjadi tak penting lagi. Yang menarik adalah sesuatu yang kami  sepakati yang kami sebut leluhur yang wajib dan mesti dihormati.

Bagi Dian rasa hormat dan kewajiban itu ditunjukkan dengan mengikuti semua semua arahan leluhur, karena selalu benar, dan memang merupakan kebenaran itu sendiri.

“Aku dibuang, dipisahkan dari ayah, ibu, saudara-saudara dan lingkunganku. Nenek yang mengajak, menjaga, memelihara dan mendidikku. Nenek menjadi perantara kasih sayang leluhur-leluhurku. Bahkan saat nenek sudah meninggalpun, kasih sayangnya yang hadir dalam batinku, menyelamatkanku dari tiga kematian. Aku dihidupkan dari nafas kasih nenek dan leluhurku. Maka kujalani hidupku untuknya, untuk leluhurku!” Mata Dian berkaca-kaca, ada kenangan indah masa silam yang melintas-lintas dalam geraknya yang tanpa batas.

Aku terpana, merasa berbeda dan sangat berbeda.

Aku menghormati leluhur, karena kuanggap lebih tua. Ibu mengajariku untuk menghormati yang lebih tua, dan menyayangi yang lebih muda dan menghargai sesama.

Jadi rasa hormatku pada leluhur, lebih pada rasa hormatku pada nasehat ibu, yang kuyakini benar dan kebenaran itu sendiri.

Pada ibu, rasa hormatku tak kutunjukkan dengan mengikuti semua perkataannya, untuk yang kuanggap krusial aku sering membantah ibu, justru karena rasa hormatku padanya.

Ketika ibu sakit, beliau melarangku memijat kakinya, karena menganggap aku anaknya memiliki derajat yang lebih tinggi darinya.

“Lebih tinggi dari mana, sudah jelas aku lahir dari rahimnya, jangankan memijat kaki, kepalakupun  akan aku serahkan dengan senang hati agar bisa berada di bawah telapak kakinya!” Pendapatku itu tidak saja melawan permintaannya, tapi juga membuat keluarga lain tidak suka.

Membuat orang yang lebih tua tidak suka, marah bahkan benci, bukan berarti aku tak menghormati, tetapi rasa hormatku diletakkan pada keyakinan yang  kuanggap benar.

“Kamu tahu kenapa sampai sekarang kamu belum mendapatkan pasangan, itu karena aku pasang tembok yang sangat tinggi untuk mengurungmu.., ” kata sebuah suara di dalam dadaku. Ya, aku tahu itu suara bagian dari diriku, dalam darah, DNA leluhurku.

Aku terkekeh, bersilat lidah dengan yang ada di dalam diriku.

“Ya, tidak apa-apa, berarti pasanganku nanti adalah orang hebat, peloncat tinggi yang bisa meloncati tembok tinggi yang kalian buat.”

“Sejak dari dalam kandungan,  dari kecil kau kujaga, selalu kujaga, agar kau bisa melahirkan keturunan, yang mewarisi keagungan dan keluhuran leluhur kita!” Suara itu tegas dan jelas, sedikit marah.

Aku terkekeh.

“Ya, silahkan saja, kalau mau lahir dari aku silahkan saja, mau suamiku siapa kek ya lahir, lahir sajalah, mau orang asing atau siapa saja.”

Suara di dadaku kurasakan makin marah. Kemudian dia memberikan gambaran suami yang dijodohkan untukku. Seorang lelaki muda dan tampan, masih saudara yang juga teman SMA ku. Tentu saja aku makin terkekeh, yang membuatnya makin marah.

“Oke, oke, gini aja, aku hanya akan menikah dengan orang yang kucintai dan mencintai aku. Jadi kalau kau ingin aku menikah dengannya, tolong buat aku mencintainya dan dia mencintai aku, ” kataku akhirnya.

Suara di dadaku makin marah, mengumpat-umpat dan mengancam-mengancam, mengatakan apa saja yang sudah dilakukan untukku selama ini, yang dianggapnya percuma karena aku tak mau mengikuti perintahnya.

Setelah itu sungguh kurasakan sangat tidak nyaman. Seminggu aku merasakan jiwaku tak berada di dalam ragaku, hidupku serasa kosong. Tapi saat seperti itu, pikiran-pikiran nakalku tentang kematian berlompatan. Kalau seandainya aku mati, aku ingin teman-temanku sedikit tahu tentang cerita kematianku. Maka ku telpon teman-teman dekatku, kunikmati berbagai jawaban yang mereka berikan.

“Aduh, jangan seperti itu, jangan melawan leluhur, minta maaflah, ” kata seorang teman yang dikenal sangat ahli dalam adat dan budaya Bali.

“Wah Kingkong lu lawan,” kata teman satunya yang terkenal santai.

“Wah gitu ya, hati-hati,” kata teman sedikit cuek

Berbagai jawaban teman-teman mampu sedikit meredakan debar di dadaku,sekaligus memberiku  pemahaman yang lebih dalam tentang teman-temanku.

Ketika kemudian adikku meninggal, aku masih berusaha melupakan perdebatan dengan yang kuanggap leluhur itu, dan berkeyakinan bahwa persoalan hidup dan mati ada dalam kemahakuasaan Tuhan, juga jodoh dan cinta.

Jalanku menghormati leluhur adalah jalan pembangkangan dan pemberontakan terhadap apa yang kunilai keliru. Kupahami kini, leluhur atau, siapapun, atau apapun itu yang hadir sebagai penghalang, penghambat, pengganggu bahkan pengancam, hadir semata untuk menguji keyakinan kita, pada Tuhan, pada kebenaran yang satu, yang sebenar-benarnya.

Leluhur menjadi salah satu jalan menuju hakekat. Hentah jalan darat, laut maupun udara.

Di udara bagi Dian, diri adalah ketelanjangan yang memerlukan baju-baju duaniawi dari leluhur untuk perlindungan dan rasa aman.

Sampai bisa menemukan baju-baju keyakinan pada Tuhan untuk menjadi benar-benar telanjang dan menyatu dengan semesta. Menjadi semesta.

Di Bali, tubuh kita seperti pohon pisang, yang hatinya diselubungi berlapis-lapis pelepah, yang menjadi pelindung inti. Lapis-lapis yang menjadi batang pohon pisang itu seperti lapis-lapis keluarga, leluhur, lingkungan, adat dan tradisi yang menutupi kesejatian yang kita cari.  Hanya dengan melepas kelopak pisang satu-satu, melewati perih luka dan koyakan, akan mendapatkan inti. [T]

  • BACA cerpen lain
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Fête De La Musique | Cerpen Santos Philipus
Undangan Pernikahan | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Reza Ramadhan | Amelia

Next Post

Jon Fosse, Nobel Sastra, dan Karya Minimalismenya

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Jon Fosse, Nobel Sastra, dan Karya Minimalismenya

Jon Fosse, Nobel Sastra, dan Karya Minimalismenya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co