22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama

Gde Aryantha Soethama by Gde Aryantha Soethama
August 12, 2023
in Cerpen
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

AYAH dan anak itu berpelukan erat di Bandara Ngurah Rai. Mereka tersedak haru, air mata mengambang, ayah harus melepas anak lanangnya ke Turki untuk bekerja di rumah makan.

“Kasihan Bapak sekarang mengurus rumah sendiri,” ujar si anak. “Belum lagi Bapak sudah keluar banyak uang untuk ongkos saya berangkat, bayar paspor dan surat-surat. Saya ganti nanti, Pak, kalau sudah gajian.”

“Tak usah dipikir itu, yang penting kita selamat dan sehat. Rajin-rajin menabung, jangan boros, biar kamu punya cukup modal buat berusaha, bersaing dengan para pedagang yang kebanyakan pendatang itu. Bangunlah usaha di Bali sini, sambil menjaga dan merawat tanah kawitan, agar tidak terus tergerus dikuasai orang luar.”

“Berat sekarang tugas Bapak. Jaga kesehatan ya Pak. “

“Ada dua adikmu bisa membantu.”

Anak laki-laki itu tersenyum getir, melepas pelukan. “Mereka masih bocah, Pak, justru mereka harus diurus. Kakek juga sudah renta, Bapak harus merawatnya.”

Si ayah menghela nafas. “Berangkatlah dengan tenang, Nak. Segera berkabar kalau sudah sampai.”

Si anak berpikir, kalau ibunya masih ada tentu tak seberat sekarang tugas sehari-hari si bapak yang membiayai keluarga dengan menjadi tukang bangunan. Si ibu meninggal dua tahun silam, urusan rumah tangga pun dilakoni anak laki itu. Tamat SMK jurusan tata boga, ia bercita-cita bekerja di restoran luar negeri. Dia terkesan jika setiap hari Kuningan si ibu memasak nasi kuning, dikukus, tidak mau pakai magic jar. Bagi anak laki-laki itu, Kuningan menjadi istimewa karena ada nasi kuningnya, sehingga baginya lebih khas Kuningan dibanding Galungan.

Setelah si ibu tiada, anak lelaki itu mengambil tugas-tugas merayakan Galungan dan Kuningan. Sejak kecil ia sering disuguhi cerita tentang Galungan-Kuningan oleh kakek. Kakek bilang, Galungan dan Kuningan adalah hari buat mengenang dan memuja leluhur. Jika Galungan leluhur datang ke Bumi menyambangi anak-cucu-kumpi, saat Kuningan mereka balik ke Kahyangan. Keturunan mereka di Bumi mengantarnya dengan sesaji dan persembahan.

Si ibu selalu berkisah, para leluhur itu kembali ke kahyangan berbekal nasi kuning. “Karena itu, nasi kuning harus selalu kita suguhkan ketika Kuningan.”

Si kakek yang mendengar alasan itu terkekeh. Si anak malah sangat yakin akan kisah itu.

“Yang dibawa ke kahyangan itu tidak nasi kuning seperti yang kita santap,” jelas si kakek. “Mereka menghisap sari-sarinya.”

Menurut si kakek, orang Bali setelah meninggal menjadi atman, akan datang ketika Galungan menjenguk keturunannya, kembali ke kahyangan ketika Kuningan.

“Kakek juga akan begitu kalau sudah meninggal?”

Si kakek mengangguk. “Kamu juga, cucuku. Kelak kamu akan menjadi jiwa yang kekal, ruhmu akan datang ke Bumi ketika Galungan, dan balik ke kahyangan saat Kuningan.”

“Berbekal nasi kuning juga?”

“Tentu, sari-sari nasi kuning.”

Dari Turki di Hari Kuningan anak lanang itu melakukan video call dengan ayah dan kakeknya. Ia minta maaf tidak bisa ikut ngalawar dan membuat nasi kuning. “Kasihan ibu kembali ke kahyangan tidak berbekal nasi kuning,” sapa anak lanang itu.

Si ayah menjelaskan, mereka tetap masak nasi kuning, tapi tidak dikukus seperti yang biasa dilakukan si anak dan ibunya. “Kami memasaknya dengan magic jar. Nasi kuningnya lembek, tidak pulen seperti kalau dikukus. Kanggoang,” jelas si ayah.

“Di Turki sini saya buat sesaji dengan nasi kuning, Pak. Siapa tahu Ibu datang menjenguk. Biar saya bahagia bisa memberi bekal buat Ibu kembali ke kahyangan.”

“Jika kamu berdoa meminta ibumu datang ke Turki, dia akan datang,” jelas Kakek. “Bukankah Kakek sering ceritakan, ruh itu bisa ada di mana-mana, gampang ke mana mereka suka. Harus kita rayakan Galungan dan Kuningan ketika berada di mana pun, karena kawitan akan berkunjung. Berdoalah, ibumu pasti datang.”

“Saya menghaturkan sesaji nasi kuning sambil mendengar tabuh lelambatan “Galang Kangin” dan “Semaran Dhana” dari Spotify, doa jadi khusuk. Bapak dan Kakek tahu Spotify kan?”

Bapak mengangguk-angguk pelan, berbasa-basi seakan paham, Kakek geleng-geleng kepala.

“Buat apa mendengar gamelan dari jagat maya, jika di sini bisa menikmati langsung, menyaksikan gending-gending itu ditabuh  kerabat kita?”

Giliran si anak lanang yang manggut-manggut, tersenyum bahagia. “Ya ya.… iya ya?”

Di Turki nun di sana, anak lanang itu merasa ikut merayakan Hari Kuningan, turut mengantar ibu yang sangat ia kasihi kembali ke kahyangan, berbekal nasi kuning, diiringi tabuh lelambatan. [T]

  • BACA esai dan cerpen-cerpen lain dari penulis GDE ARYANTHA SOETHAMA
Palus Bukit Jambul | Cerpen Gde Aryantha Soethama
Ida Waluh di Lereng Gunung Agung
Orang Bali Senang Berputar-putar
Tags: CerpenKuningan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perpustakaan Sekolah dan Kekasihmu Sebelumnya | Cerpen Yoga Yolanda

Next Post

Yang Menyalakan Aksara Sepanjang Jalan: Obituari Kecil IDK Raka Kusuma

Gde Aryantha Soethama

Gde Aryantha Soethama

Dikenal sebagai wartawan kawakan, penulis esai dan cerpen. Bukunya Bolak Balik Bali ditetapkan sebagai buku nonfiksi terbaik oleh Pusat Bahasa (2006). Kumpulan cerpennya Mandi Api meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award (2006). Tahun 2016 diberi penghargaan Kesetiaan Berkarya oleh Kompas.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Bukan Liyan, Lebur Tiada Jarak:  Faisal Baraas dalam Leak

Yang Menyalakan Aksara Sepanjang Jalan: Obituari Kecil IDK Raka Kusuma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co