4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perpustakaan Sekolah dan Kekasihmu Sebelumnya | Cerpen Yoga Yolanda

Yoga Yolanda by Yoga Yolanda
August 12, 2023
in Cerpen
Perpustakaan Sekolah dan Kekasihmu Sebelumnya | Cerpen Yoga Yolanda

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

SABTU SIANG menjelang akhir tahun di sebuah kafe berornamen industrial. Muda-mudi berswafoto di sana-sini. Kebanyakan tampak di matamu sebagai sepasang kekasih. Beberapa lagi kau pastikan adalah keluarga kecil karena satu atau dua di antaranya adalah batita: bayi yang katamu lahir pada zaman yang tepat: tanpa kaget revolusi industri, tanpa trauma revolusi negeri, sebagaimana angkatanmu sendiri. Mereka tenang berlarian ke sana ke mari diawasi ibundanya. Keluarga kecil yang bagi matamu menyita: mengingatkanmu pada peluk keluargamu, mengenangkanmu pada suasana tenang di tempat asalmu, dan meyakinkanmu bahwa pulang adalah keputusan tepat dan tidak terburu-buru.

Kau sendiri datang bersama kekasihmu. Duduk terpisah sebuah meja kau memesan secangkir panas coffee latte dan ia sudah tenang dengan moccacino ice yang sejak sepuluh menit lalu tak berhenti dipotretnya. Tempat yang kata dia instagramable ini tentu sama sekali tak mencerminkan kepribadianmu, tapi ini adalah tempat kesukaannya, karenanya kau pun merasa harus selalu iya.

Sangat berbeda, dalam hatimu berkata. Jika kekasihmu yang sebelumnya adalah penyuka kesunyian, kekasihmu yang ini adalah sebaliknya. Katamu, tentu tak apa, mereka tetaplah sama: mencintaiku. Ah, mulai lagi, hatimu membanding-bandingkannya.

Tetapi begitulah, di mana pun tempatnya, kau masih sosok yang sama. Dengan siapa pun berada, kau pun tak berubah jadi berbeda, walaupun sekarang terbiasa dengan coffee latte dan tak canggung action di depan kamera.

Kau menjelma jadi anak kekinian, adaptasimu berjalan baik.  Meski begitu, idealismu terjaga, kegemaranmu bicara tentang isu-isu ketidakadilan negara tak pernah terganggu oleh muda-mudi yang menjalin cinta, oleh hiasan dinding dengan quote-quote berbahasa asing, atau oleh batitayang menangis karena terjatuh saat luput dari pengawasan ibundanya.

Itulah kehebatanmu, antusias kekasihmu pada topik itu adalah alasanmu bertahan. Cita-citamu untuk membuka matanya tentang sejarah yang penuh tangis dan kecewa; membuka telinganya tentang kesalahan di masa lalu serta harapan di masa depan; dan menghaluskan perasaan serta kepekaannya pada ketidakadilan membawamu berjalan jauh sampai sekarang.

Pada siang yang juga ramai dengan iringan musik pop ini kau pun merasa cukup. Cita-citamu itu kau rasakan tercapai. Kau akan menyudahinya. Memang kau yang meminta, tapi akhirnya menjadi keputusan berdua. Tak perlu ada sedih, tak perlu ada duka, katamu padanya. Ia mengangguk kecewa, tetapimerasa memang harus rela.

Mungkin karena penjelasanmu yang sangat perkasa, keputusan ini sama sekali tak ditentangnya. Kau bicara panjang lebar bahwa ini saatnya kembali ke tempat di mana kau seharusnya berada; tempat yang masih kau rindukan meski sepuluh tahun sudah kau meninggalkannya: sebuah perpustakaan sekolah negeri di kecamatan paling selatan sana.

Seperti penasaran, kekasihmu bertanya: mengapa kau pergi dari sana jika menurutmu di sanalah kau harusnya berada? Dengan redaksimu yang lugas seperti biasa, kau menjawabnya: seorang siswa mendatangiku, dikunjungan ketiganya ia menyatakan cinta, di kunjungan ke empatnya diam-diam membawaku pergi, aku juga suka padanya, tentu aku tak menolaknya. Ya, dialah orangnya, kekasihku sebelummu, kau mengenalnya. Ia menunduk lesu, hanya mata kameranya yang tetap tegak menyorot sesekali padamu dan segelas moccachino di meja. Tampak berat di raut wajahnya, tapi tegar adalah cara yang ia pilih untuk menerima.

Seperti yang kau ajarkan padanya, caranya lari dari kesedihan adalah dengan terus bertanya. Bertanya juga langkah politis yang efektif untuk lebih lama bersama. Seruputanmu pun tak kau buru-buru pada minuman berbahasa inggris yang kini hilang sudah panasnya.

Meski kau tahu kekasihmu hanya mengulur-ulur waktu, kau menjawab satu per satu pertanyaannya seperti seorang guru. Kau selalu mengingatkan, kau harus segera kembali ke sana, tempat itu adalah rumah, meski kenyataannya kau hanya bekerja, yang tugasnya membantu siswa: para syuhada yang kau anggap keluarga.

“Pekerjaan macam apa? mengapa aku tidak pernah mendengarnya?”

Kekasihmu yang kau yakini sebenarnya tahu semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya sendiri itu memasang muka curiga. Kau pun dengan gayamu saat berdeklamasi di pentas-pentas seni, atau saat berorasi di depan pagar duri, perlahan menjelaskan bahwa pekerjaan itu datang demi keadilan, demi terhapusnya penindasan, juga pembodohan.”

“Jika sepenting itu tujuan kau dipekerjakan, mengapa perpustakaan, di antara banyak tempat, banyak ruang?”

“Ya, benar. Memang perpustakaan bukan tempat yang digemari. Tepat sekali. Tapi, perpustakaan, meski letaknya seringkali sebuah ruang kecil atau ruang sisa di pojok-pojokan, yang bahkan dikatai sering menjadi tempat bersarangnya setan, adalah ujung tombak, mata panah, atau garda terdepan sekolah, ia adalah tempat di mana siswa bisa kulihat akan menjadi apa nantinya, ia adalah ibu yang melahirkan pemikir-pemikir yang menyelamatkan negeri di mana sekolah itu berada.”

Kekasihmu tercenung. Memang tak ada yang bisa dilakukannya selain menurut pada keinginanmu. Apa kau sudah selesai, tanyamu sembari kau kecup bibir cangkir di hadapanmu.

“Aku perlu tahu bagaimana caraku membuatmu bisa kembali ke sana. Aku sanggup mengambilmu, tetapi tidak dengan mengembalikanmu,” nadanya bergetar, “Pertanyaan ini serius, bukan karena aku tak ingin kau pergi.”

Meski tangannya masih lincah menjepret sana-sini. Nada itu tak kuasa sembunyikan sembulan air matanya.

Kekasihmu yang satu ini memang mengambilmu diam-diam dari kekasihmu sebelumnya, ia tak menampiknya, dan saat itu kau juga tertarik padanya: seseorang dengan perspektif luar biasa mengenai politik dan kemanusiaan. Kau pun tak kuasa menolak untuk pergi dengannya.

Dengan kejelianmu kauungkap strategi untuk bisa kembali ke asalmu. Kekasihmu, meski kecewa dengan kematangan idemu, memahaminya dengan baik. Namun, kekasih lamamu yang sering kau singgung dalam strategimu mengundang tanya baru.

“Kuharap ini adalah pertanyaan terakhir dariku, mengapa kau mau diajaknya pergi dari sana?” cemburu menguasai hatinya.

“Layaknya barang ilegal yang tak bisa beredar di pasaran, sebuah aturan tak mengizinkan aku untuk berkeliaran. Karena itu, akulah yang memaksa dibawanya pergi diam-diam. Tapi, ketahuilah, perasaanku padanya sama seperti perasaanku padamu. Kini, dia sudah jadi apa yg kuinginkan, kau pun demikian. Kita sudah khatam. Maka, keputusan yang tepat untukku adalah pulang,” kau kini menatapnya tajam, “Banyak orang menganggapku memuakkan, tapi, tidak demikian denganmu. Maka, kembalikan aku diam-diam. Biarkan aku menua di sana atau bertemu dengan orang-orang sepertimu berikutnya.”

Puisi berjudul 12 Mei, 1998 dan Doa-Doa Orang Kubangan adalah cerita penutup yang ia ingin untuk kau narasikan lagi. Jepretan terakhir pada wajahmu yang bersanding dengan seperempat gelas moccacino ice menjadi kenangan yang akan dipandanginya selepas ini. Titik-titik air pada dinding gelas yang di antaranya telah mengalir membasahi sampulmu tak membuat risih sama sekali.

Kalian pun bergegas. Sebuah angkot biru mengangkut hingga terminal Baruga. Seonggok bus tak layak jalan dengan kepulan asap hitam mengantar sampai ke alun-alun kecamatan paling tenggara. Ojek online menurunkan tepat di depan gerbang sekolah yang dicinta. Strategi berjalan lancar meski pelan. Kau pun berhasil menyelinap kembali ke sela-sela buku tua seusia, yang sebagian telah terepro sampulnya, yang debunya terasa sama meski setelah sepuluh tahun lamanya. Tak seklasifikasi memang, tapi terselip di antara Nyanyian Akar Rumput dan Orang-Orang Persimpangan Kiri Jalan membuatkau merasa bahagia: merekalah keluarga. Rak usang, bernonor, yang pincang karena tak lurus lagi kaki-kakinya tak sedikit pun membuatmu berduka.

Berminggu-minggu di sana kau tak terjamah, kalah dengan majalah di rak muka, yang sebenarnya adalah kertas-kertas lebar agar dikatakan membaca, padahal menutupi gawai untuk menikmati wifi berkecepatan seribu kuda. Usia tuamu pun kini terasa, debu-debu tak hanya membuatmu batuk, tetapi juga menyamarkan judulmu yang sangat Indonesia. Hingga pada sebuah Selasa, kau mendengar suara.

“MAJOI,”katanya pada petugas di belakang meja.

“MA …. Apa?”

“Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia!”

“Oh, Taufiq Ismail?”

“Yap!”

Dengan arahan petugas itu ia melangkah tegas ke arahmu, menggapaimu, lalu menyemburkan udara dengan mulutnya, debu-debu menyingkir segera, membuka harapanmu padanya. Ia memulai pada halaman pertama, lalu membaca kata pengantar Kuntowijoyo yang dengan kacamata tebalnya menyoroti tubuhmu yang terpapar imaji visual dan konseptual tentang tragedi-tragedi kelam pascamerdeka. Ia tersenyum tenang, laki-laki ini, si penyuka kesunyian, memelukmu erat, membawamu pulang diam-diam, menaruhmu pada rak putih di sudut kamarnya, bersama buku-buku bersih dan tebal lainnya. [T]

[][][]

  • BACA cerpen-cerpen lain
Senja di Akhir Luka | Cerpen Ni Wayan Sumiasih
    Komang | Cerpen Putu Arya Nugraha
    Cinta dan Ilusi | Cerpen Ikrom F.
    Tags: Cerpen
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Puisi-puisi Andy Sri Wahyudi | Jejak Api, Melihat Ingatan

    Next Post

    Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama

    Yoga Yolanda

    Yoga Yolanda

    Dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Jember

    Related Posts

    Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

    by Khairul A. El Maliky
    June 28, 2026
    0
    Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

    HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

    Read moreDetails

    Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

    by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
    June 26, 2026
    0
    Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

    SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

    Read moreDetails

    Lubang | Cerpen Asmaran Dani

    by Asmaran Dani
    June 21, 2026
    0
    Lubang | Cerpen Asmaran Dani

    LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

    Read moreDetails

    Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

    by Aksara Caramellia
    June 20, 2026
    0
    Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

    DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

    Read moreDetails

    Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

    by Dodik Suprayogi
    June 14, 2026
    0
    Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

    TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

    Read moreDetails

    Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

    by Bella Paring Gusti
    June 13, 2026
    0
    Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

    “Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

    Read moreDetails

    Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

    by Krisogonus Kusman
    June 7, 2026
    0
    Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

    DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

    Read moreDetails

    Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

    by Ahmad Sihabudin
    June 6, 2026
    0
    Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

    KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

    Read moreDetails

    Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

    by Wayan Gde Yudane
    June 6, 2026
    0
    Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

    JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

    Read moreDetails

    Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

    by Ayu Ugie Pratiwi
    May 31, 2026
    0
    Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

    DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

    Read moreDetails
    Next Post
    Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama

    Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

      5 shares
      Share 5 Tweet 0
    • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

      43 shares
      Share 43 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
    Ulas Buku

    SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

    Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

    by IRZI
    August 3, 2026
    Presiden di Dalam Kepala Saya
    Esai

    Presiden di Dalam Kepala Saya

    "Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

    by Angga Wijaya
    August 3, 2026
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
    Esai

    Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

    KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

    by Chusmeru
    August 3, 2026
    Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
    Kritik Seni

    Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

    SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

    by Wayan Gde Yudane
    August 3, 2026
    ‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
    Ulas Musik

    ‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

    Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

    by Ahmad Sihabudin
    August 3, 2026
    “Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
    Pameran

    “Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

    DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

    by Nyoman Budarsana
    August 3, 2026
    Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
    Tualang

    Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

    SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

    by I Nyoman Tingkat
    August 2, 2026
    Mantra Visual Made Wiradana
    Ulas Rupa

    Mantra Visual Made Wiradana

    PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

    by Hartanto
    August 2, 2026
    Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
    Ulas Musik

    Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

    “Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

    by Mahesa Putra
    August 2, 2026
    Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
    Esai

    Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

    "Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

    by Tri Nugroho Adi
    August 2, 2026
    Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
    Esai

    Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

    CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

    by IGP Weda Adi Wangsa
    August 2, 2026
    Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
    Esai

    Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

    PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

    by Angga Wijaya
    August 2, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co