12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Senja di Akhir Luka | Cerpen Ni Wayan Sumiasih

Ni Wayan Sumiasih by Ni Wayan Sumiasih
June 3, 2023
in Cerpen
Senja di Akhir Luka | Cerpen Ni Wayan Sumiasih

Ilustrasi tatkala.co

HEMBUSAN UDARA DINGIN dari AC memenuhi dadaku. Dokter berbicara tanpa melihatku. Ekspresinya datar, seolah aku hanya tumpukan pekerjaan di mejanya. Ia Dokter Linda.

“Anda harus segera dioperasi! Kalau tidak  Anda akan lumpuh!”  Jarinya sibuk membolak-balik hasil MRI yang kuserahkan. “Kapan siap operasi?” Mata Dokter Linda menatapku dengan sorot yang tidak bisa kutebak.

Aku terkesiap, tubuhku bergetar, jiwaku terguncang mendengar ucapannya. Aku terhenyak. Wajahku telah penuh air mata tanpa bisa kubendung, mengalir dengan deras memenuhi wajahku. Apa tidak ada kata yang lebih halus, yang lebih humanis yang terlontar dari bibir tipisnya?

“Maaf, Bu Dokter, apakah harus operasi?”  tanyaku dengan suara bergetar. “Apa tidak ada cara lain untuk menyembuhkan sakit ini, tanpa harus operasi?” ucapku dengan suara terbata, sambil berusaha menahan air mata yang terus mengalir tanpa henti, tanpa bisa kubendung.

“Ya hanya operasi jalan satu-satunya,  kalau Anda mau sembuh!” jawabnya dengan nada datar tanpa ekspresi. “Waktunya maksimal enam bulan, kalau bisa lebih awal operasi itu lebih baik!”

Aku terdiam.

“Lewat dari itu bisa dipastikan Anda mengalami kelumpuhan. Kalau Anda sudah  siap operasi silakan datang lagi!” ucapnya dengan datar tanpa  menolehku, kemudian meminta suster untuk memanggil pasien berikutnya.

Duh Gusti, kuatkan jiwaku..

Aku tidak ingat kapan mulai sakitku, rasanya hampir setahun kesehatanku menurun. Kekuatan ototku  terbatas ketika kugerakkan. Jongkok sulit, berjalan pun hanya beberapa langkah saja. Alhasil, pergerakan tubuhku mesti dibantu tongkat. Tanganku pun terkadang kaku dan agak susah  untuk digerakkan.

Dalam sakitku, aku masih berusaha  olah raga ringan seperti gerakan Orhiba walau tak selincah sebelumnya.  Kegiatan menari yang dulu sering aku lakukan sebagai pengisi waktu senggangku saat tidak ada kegiatan kuliah, otomatis tak bisa kulakukan lagi.

Beberapa kali kunjungan ke dokter sudah kulakukan, mulai dari dokter umum, spesialis dalam, spesialis saraf , fisioterapi, dan pijat refleksi pun aku jalani. Beberapa dokter mengatakan kalau aku mengalami pelemahan masa otot. Puncaknya ketika aku melakukan MRI, Magnetic Resonance Imaging, yang merupakan pemeriksaan organ tubuh yang dilakukan dengan menggunakan teknologi magnet dan gelombang radio. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendapatkan hasil gambar organ, tulang, dan jaringan di dalam tubuh secara rinci dan mendalam. Pemeriksaan ini dilakukan sebagai alat bantu diagnosis dokter.

Kulakukan MRI atas rekomendasi Dokter Linda, karena ada kecurigaan terhadap saraf tulang leher belakang yang mengalami pelemahan masa otot. Di samping terbatasnya gerak ototku, yang membuatku tidak bisa beraktivitas secara normal, aku juga  sering merasa lelah dan tulang leher belakang sering terasa sakit.

Menurut Dokter Rudi  yang menagani saat MRI, berdasarkan hasil yang ada, seluruh organ dan jaringan tubuhku sehat dan tidak ada masalah. Aku pun punya pikiran yang sama dengan Dokter. Rudi. Usiaku masih sangat muda, rasanya mustahil  mengalami pelemahan masa otot. Hidupku teratur. Asupan gizi cukup bagus. Durasi tidurku 7-8 jam. Aku rajin olah raga  walau hanya sekadar jalan kaki  kurang lebih 30 menit setiap hari di sekitar perumahan.  

Kadang kalau  ada waktu aku suka mendaki gunung  dengan teman-teman kelompok belajarku. Beberapa gunung pernah kujelajahi seperti Gunung Batur, Gunung Batukaru dan yang terakhir Gunung Agung kujelajahi setahun lalu. Mendaki sangat mengasyikan, terasa lepas bebas, bertemu lepas dengan semesta, berpeluk dengan Ibu Pertiwi.

Kubolaik-balik lembaran hasil MRI. Kubaca berkali-kali  banyak istilah yang tak kupahami artinya. Kata Dokter Rudi, aku tidak perlu operasi. Akan tetapi, Dokter Linda mengharuskan operasi, bahkan ada batas waktunya. Batinku bimbang. Ada ketakutan dan kecemasan yang kurasakan untuk melakukan operasi. Walau Dokter Linda memberi jaminan kalau ini operasi ringan dan kecil dan tidak perlu dicemaskan. Banyak pasien yang mengalami sakit yang sama sudah sembuh dengan operasi.

Kuhembuskan napas dengan berat. Kulipat hasil MRI dengan rapi. Kumasukkan ke  dalam dompet Guci coklat hadiah ulang tahunku yang ke-22. Kulangkahkan kaki meninggalkan rumah sakit dengan perasaan campur aduk menuju parkir di bawah pohon flamboyan.

 Hembusan angin semesta memeluk tubuhku,  membelai  pipiku  dengan lembut, mengusap rambutku yang panjang bergelombang seolah menenangkan kegundahan batinku. Bunga flamboyan menari dengan liukkan tubuhnya hendak menghiburku.  Mereka menebarkan  wangi segar, dengan taburan bunga yang jatuh di kepalaku. Sesaat mampu menenangkan batinku.

Duh, Gusti. 

***

Halaman rumah ini  terlihat  asri. Beberapa bunga mawar berjejer warna-warni. Beberapa anggrek terpajang di dinding tembok pagar kayu, dan yang paling kusuka  bunga margot putih yang sedang berbunga seolah menyambutku dengan senyuman. Pohon kemuning berdiri dengan rimbun menambah sejuk suasana.

Sesaat datang seorang wanita dari balik pintu. Sangat  anggun, kulitnya putih bersih, rambut digelung ke atas. Senyum manis menghias bibirnya. Ia menggunakan kain kebaya hitam berselendang merah  kamben putih. Tampak serasi di tubuhnya yang tinggi ramping.

“Ayu Sukma.” Kuulurkan tangan sambil menyebut namaku untuk memperkenalkan diri.

“Mari silakan masuk.” sambutnya dengan ramah. Ia bernama Bu Citra.

“Kita duduk di balai saja ya, biar lebih sejuk,” ucapnya sambil melangkah di depanku. Kutaksir usianya sekitar 40-45 tahun. Atau lebih tua, entahlah.

Aku mengikuti ayun tubuhnya dari belakang menuju balai yang ada di belakang rumah utama. Ada beberapa pohon kamboja, cempaka, dan pohon flamboyan yang sedang berbunga. Beberapa gamelan terlihat   berjejer.

“Setiap hari Rabu dan Sabtu  saya kumpulkan anak-anak  muda untuk latihan megambel dan menari,” ucapnya saat melihat tatapan mataku tertuju pada gamelan. Pantesan tubuhnya gemulai ternyata  penari, batinku kagum dengan keanggunannya.

 Aku pun sangat suka menari. Hampir semua tari Bali bisa kutarikan.  Aku sering menari di sanggar, bahkan di depan tamu asing. Misalnya saat Raka temanku  yang guide mengajak beberapa tamunya menginap di hotel daerah Lovina. Aku paling suka menari tarian Wiranata, tari yang menggambarkan kesan gagah dari seorang penari serta cocok sekali dalam melukiskan seorang yang punya pengaruh dan wibawa seperti seorang raja. Namun akhir-akhir ini semua kegiatan itu tidak bisa lagi kulakukan. Penyakit yang kuderita membatasi segala gerakku.

“Ada yang bisa saya bantu, Ayu?” sapa  Bu  Citra dengan senyum yang masih menghiasi wajah cantiknya.  Membuyarkan lamunannku.

 Kuceritakan semua masalah sakit yang sudah hampir setahun menimpaku, juga beberapa pengobatan yang telah aku lakukan.

Bu Citra mendengar dengan sangat serius  tentang kondisi kesehatan  yang kuceritakan. Sambil  manggut-manggut tanda paham dan mungkin bisa merasakan kondsi yang kualami. Ia permisi sebentar untuk ke kamar suci, tempat ia biasa melakukan puja setiap hari. Tak sampai lima menit ia keluar dengan membawa kotak hitam yang terukir bunga padma. Pasti di dalamnya kartu tarot, batinku.

Dari beberapa cerita yang kudengar dari teman-teman, ia sangat pintar  dan ahli memainkan kartu tarot. Aku ingin mencari jawaban atas kekhawatiran tentang kondisiku. Kuyakini kalau kartu tarot bisa membantu menambah wasasan baru yang membantuku mengambil keputusan yang lebih tepat.

 Walau kuyakini kartu tarot tidak dapat memprediksi masa depan, namun  kuberharap kartu tarot dapat membantuku bagaimana  langkah selanjutnya yang akan kuambil.

Jari-jari lentik Bu Citra menyusun tarot, mengocoknya, dan  mengambil sembilan kartu kemudian membukanya dan menaruhnya di atas meja  yang terukir bunga padma merah muda. Lama Bu Citra menatap kartu yang keluar, kemudian sejenak memandangku tepat di bola mataku. Jantungku berdegup menungggu kalimat yang akan keluar dari bibirnya.

”Jawabannya air,” katanya tanpa kumengerti maksud ucapannya.

“Apakah sakit yang akan kuderita akan berlangsung lama, Bu Jero? Atau apa yang mesti aku lakukan agar bisa segera pulih?” tanyaku agak terbata.

Tanpa menjawab pertanyaanku, tangannya sibuk merapikan kartu tarot dan memulai lagi menyusun mengocoknya berkali-kali serta mengeluarkan sembilan kartu tarot lagi.

“Jawabannya air lagi.” Bu Citra memperlihatkan kartu tarot itu ke hadapanku. Kulihat gambar seperti samudera luas, ya memang gambar air, tapi tidak kumengerti maknanya.

Bu Citra menatapku dengan tersenyum penuh misteri. Aku tidak paham apa arti senyuman itu.

“Duh Gusti, semoga Engkau menunjukkan yang terbaik untuk hidupku!” batinku.

Hampir setahun telah kulalui, tubuhku ringkih menahan sakit. Kupejamkan mata  sambil menahan butiran bening menetes di pipi. Aku harus kuat,  tegar, harus optimis, dan yakin dengan kasih Tuhan kalau semua ini pasti berlalu.

Bu Citra meraih tanganku, seolah memberi kekuatan.

“Ayu yang sabar ya, harus kuat dan optimis. Semua penyakit bisa disembuhkan,” katanya menghiburku.

Bu Citra menjelaskan hasil membaca kartu tarot tadi. Tiada batas waktu yang terbaca kapan sakitku akan pergi dari tubuhku. Sesaat roh dan jiwaku serasa melayang meninggalkan ragaku. Aku terkulai lemas mendengar penjelasannya. Direngkuhnya tubuhku ke dalam pelukannya sambil mengusap rambutku yang hitam lebat. Kutenangkan diriku sambil merapikan rambut yang basah karena keringat dan air mata.

Selanjutnya Bu Citra menjelaskan makna air yang terdapat dalam kartu tarot.

”Ayu harus lebih sering terhubung dengan air, dan air adalah jawaban penyembuhan sakitmu,” ucapnya sambil mengusap-usap pundakku.

Hari telah siang saat kutinggalkan rumah  Bu Citra, terlihat beberapa orang yang mengantri menunggu giliran mencari jawaban  atas kekhawatirannya, masalah percintaan, karir, dan lain sebagainya.

***

Baju kebayaku basah karena keringat. Cuaca sangat panas, matahari sangat terik bersinar. Walau ada beberapa pohon pinus, cemara, ketapang, dan beberapa flamboyan namun semua terkalahkan oleh  teriknya sinar mentari. Napasku ngos-ngosan menaiki tangga. Kulayangkan pandanganku ke depan. Masih ada beberapa anak tangga yang harus kulewati, mungkin puluhan  anak tangga sebelum sampai di tempat tujuan.  Kedua tangannku penuh membawa sesajen yang akan kupersembahkan sebagai sarana sembahyang dan melukat.

Orang pintar yang kudatangi pun menyarankan diriku untuk lebih sering melukat, dan lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Hal itu sejalan pula dengan jawaban dari kartu tarot yang terbaca, bahwa air penyembuh sakitku. Semua itu secara logika bisa kuterima dan telah kulakukan dengan sepenuh hati. Melukat bagiku adalah ritual menyucikan atau membersihan diri  dengan air suci  untuk memperoleh kebaikan dan menjauhkan  dari unsur-unsur negatif.

Tanpa terasa hampir dua tahun kudatangi tempat-tempat sumber mata air, entah itu sumber mata air di laut, sungai, di kaki bukit, dan  di beberapa tempat suci yang ada sumber mata air.

Kakiku ringan melangkah menapaki puluhan tangga tanpa terasa lelah. Panasnya cuaca  tak aku pedulikan. Badan terasa melayang menuju puncak tangga. Kuingin segera sampai ke pancuran. Kuliukkan tubuhku menyambut beningnya air yang mengelus-elus tubuhku, memelukku dengan mesra sambil mengusap seluruh tubuh mungilku.  Terasa segar mengaliri seluruh pori-pori  tubuhku. Jiwaku  berbisik mengucap syukur pada semesta. Air mengikis deritaku, membersihkan segala kotoran yang melekat dalam tubuhku. Kubasuh wajahku, rambutku dan kuteguk beberapa kali air yang mengalir di pancuran.

Aku menari, melayang dalam buaian air yang menyapaku dengan mesra, kubenamkan wajahku menggapai ke kedalaman samudera terdalam, mencari kedamaian yang selalu menyambutku dalam kesetiaan.

Ada bisik-bisik kudengar dari saudara, kalau ada yang tidak suka dengan keadaan keluargaku dengan mengirim ilmu hitam untuk mencelakai ayahku. Bahkan Tante Widya, adik dari ayahku berceloteh kalau dia sudah menanyakan ke beberapa orang pintar,  jawabnya sama.

“Ada yang iri. Sasaran sebenarnya adalah ayahmu, tapi karena kondisimu lebih lemah maka Ayu yang kena,” katanya sambil bibirnya sibuk mengunyah  kripik kulit ayam.

Namun aku abaikan semua  desas-desus yang tanpa bukti. Kupasrahkan semuanya pada Hyang Kuasa, pada pemilik semesta.

Jika kebencian bertunas, iri hati mengangkat topinya. Namun jika cinta kasih bertunas, kedamaian turun menetes bagaikan titik embun.

Di kejauhan kulihat matahari sudah tidak menyengat lagi. Ia terbenam ke arah laut. Air laut terlihat seperti garis yang menenggelamkan segala derita. Semuanya bagai lukisan. Lukisan senja yang telah mengakhiri kisah luka. Berganti rupa menjadi malam yang tenang, bersiap menyambut pagi. [T]

  • KLIK untuk BACA cerpen-cerpen lain
Komang | Cerpen Putu Arya Nugraha
Sisir Itu | Cerpen IGA Emma Suryani
Lukisan Senja | Cerpen Ni Wayan Sumiasih
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Azman H. Bahbereh | Cinta

Next Post

Diskursus Dongeng Sesuap Nasi

Ni Wayan Sumiasih

Ni Wayan Sumiasih

Guru yang suka menulis

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Diskursus Dongeng Sesuap Nasi

Diskursus Dongeng Sesuap Nasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co