14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Senja di Akhir Luka | Cerpen Ni Wayan Sumiasih

Ni Wayan Sumiasih by Ni Wayan Sumiasih
June 3, 2023
in Cerpen
Senja di Akhir Luka | Cerpen Ni Wayan Sumiasih

Ilustrasi tatkala.co

HEMBUSAN UDARA DINGIN dari AC memenuhi dadaku. Dokter berbicara tanpa melihatku. Ekspresinya datar, seolah aku hanya tumpukan pekerjaan di mejanya. Ia Dokter Linda.

“Anda harus segera dioperasi! Kalau tidak  Anda akan lumpuh!”  Jarinya sibuk membolak-balik hasil MRI yang kuserahkan. “Kapan siap operasi?” Mata Dokter Linda menatapku dengan sorot yang tidak bisa kutebak.

Aku terkesiap, tubuhku bergetar, jiwaku terguncang mendengar ucapannya. Aku terhenyak. Wajahku telah penuh air mata tanpa bisa kubendung, mengalir dengan deras memenuhi wajahku. Apa tidak ada kata yang lebih halus, yang lebih humanis yang terlontar dari bibir tipisnya?

“Maaf, Bu Dokter, apakah harus operasi?”  tanyaku dengan suara bergetar. “Apa tidak ada cara lain untuk menyembuhkan sakit ini, tanpa harus operasi?” ucapku dengan suara terbata, sambil berusaha menahan air mata yang terus mengalir tanpa henti, tanpa bisa kubendung.

“Ya hanya operasi jalan satu-satunya,  kalau Anda mau sembuh!” jawabnya dengan nada datar tanpa ekspresi. “Waktunya maksimal enam bulan, kalau bisa lebih awal operasi itu lebih baik!”

Aku terdiam.

“Lewat dari itu bisa dipastikan Anda mengalami kelumpuhan. Kalau Anda sudah  siap operasi silakan datang lagi!” ucapnya dengan datar tanpa  menolehku, kemudian meminta suster untuk memanggil pasien berikutnya.

Duh Gusti, kuatkan jiwaku..

Aku tidak ingat kapan mulai sakitku, rasanya hampir setahun kesehatanku menurun. Kekuatan ototku  terbatas ketika kugerakkan. Jongkok sulit, berjalan pun hanya beberapa langkah saja. Alhasil, pergerakan tubuhku mesti dibantu tongkat. Tanganku pun terkadang kaku dan agak susah  untuk digerakkan.

Dalam sakitku, aku masih berusaha  olah raga ringan seperti gerakan Orhiba walau tak selincah sebelumnya.  Kegiatan menari yang dulu sering aku lakukan sebagai pengisi waktu senggangku saat tidak ada kegiatan kuliah, otomatis tak bisa kulakukan lagi.

Beberapa kali kunjungan ke dokter sudah kulakukan, mulai dari dokter umum, spesialis dalam, spesialis saraf , fisioterapi, dan pijat refleksi pun aku jalani. Beberapa dokter mengatakan kalau aku mengalami pelemahan masa otot. Puncaknya ketika aku melakukan MRI, Magnetic Resonance Imaging, yang merupakan pemeriksaan organ tubuh yang dilakukan dengan menggunakan teknologi magnet dan gelombang radio. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendapatkan hasil gambar organ, tulang, dan jaringan di dalam tubuh secara rinci dan mendalam. Pemeriksaan ini dilakukan sebagai alat bantu diagnosis dokter.

Kulakukan MRI atas rekomendasi Dokter Linda, karena ada kecurigaan terhadap saraf tulang leher belakang yang mengalami pelemahan masa otot. Di samping terbatasnya gerak ototku, yang membuatku tidak bisa beraktivitas secara normal, aku juga  sering merasa lelah dan tulang leher belakang sering terasa sakit.

Menurut Dokter Rudi  yang menagani saat MRI, berdasarkan hasil yang ada, seluruh organ dan jaringan tubuhku sehat dan tidak ada masalah. Aku pun punya pikiran yang sama dengan Dokter. Rudi. Usiaku masih sangat muda, rasanya mustahil  mengalami pelemahan masa otot. Hidupku teratur. Asupan gizi cukup bagus. Durasi tidurku 7-8 jam. Aku rajin olah raga  walau hanya sekadar jalan kaki  kurang lebih 30 menit setiap hari di sekitar perumahan.  

Kadang kalau  ada waktu aku suka mendaki gunung  dengan teman-teman kelompok belajarku. Beberapa gunung pernah kujelajahi seperti Gunung Batur, Gunung Batukaru dan yang terakhir Gunung Agung kujelajahi setahun lalu. Mendaki sangat mengasyikan, terasa lepas bebas, bertemu lepas dengan semesta, berpeluk dengan Ibu Pertiwi.

Kubolaik-balik lembaran hasil MRI. Kubaca berkali-kali  banyak istilah yang tak kupahami artinya. Kata Dokter Rudi, aku tidak perlu operasi. Akan tetapi, Dokter Linda mengharuskan operasi, bahkan ada batas waktunya. Batinku bimbang. Ada ketakutan dan kecemasan yang kurasakan untuk melakukan operasi. Walau Dokter Linda memberi jaminan kalau ini operasi ringan dan kecil dan tidak perlu dicemaskan. Banyak pasien yang mengalami sakit yang sama sudah sembuh dengan operasi.

Kuhembuskan napas dengan berat. Kulipat hasil MRI dengan rapi. Kumasukkan ke  dalam dompet Guci coklat hadiah ulang tahunku yang ke-22. Kulangkahkan kaki meninggalkan rumah sakit dengan perasaan campur aduk menuju parkir di bawah pohon flamboyan.

 Hembusan angin semesta memeluk tubuhku,  membelai  pipiku  dengan lembut, mengusap rambutku yang panjang bergelombang seolah menenangkan kegundahan batinku. Bunga flamboyan menari dengan liukkan tubuhnya hendak menghiburku.  Mereka menebarkan  wangi segar, dengan taburan bunga yang jatuh di kepalaku. Sesaat mampu menenangkan batinku.

Duh, Gusti. 

***

Halaman rumah ini  terlihat  asri. Beberapa bunga mawar berjejer warna-warni. Beberapa anggrek terpajang di dinding tembok pagar kayu, dan yang paling kusuka  bunga margot putih yang sedang berbunga seolah menyambutku dengan senyuman. Pohon kemuning berdiri dengan rimbun menambah sejuk suasana.

Sesaat datang seorang wanita dari balik pintu. Sangat  anggun, kulitnya putih bersih, rambut digelung ke atas. Senyum manis menghias bibirnya. Ia menggunakan kain kebaya hitam berselendang merah  kamben putih. Tampak serasi di tubuhnya yang tinggi ramping.

“Ayu Sukma.” Kuulurkan tangan sambil menyebut namaku untuk memperkenalkan diri.

“Mari silakan masuk.” sambutnya dengan ramah. Ia bernama Bu Citra.

“Kita duduk di balai saja ya, biar lebih sejuk,” ucapnya sambil melangkah di depanku. Kutaksir usianya sekitar 40-45 tahun. Atau lebih tua, entahlah.

Aku mengikuti ayun tubuhnya dari belakang menuju balai yang ada di belakang rumah utama. Ada beberapa pohon kamboja, cempaka, dan pohon flamboyan yang sedang berbunga. Beberapa gamelan terlihat   berjejer.

“Setiap hari Rabu dan Sabtu  saya kumpulkan anak-anak  muda untuk latihan megambel dan menari,” ucapnya saat melihat tatapan mataku tertuju pada gamelan. Pantesan tubuhnya gemulai ternyata  penari, batinku kagum dengan keanggunannya.

 Aku pun sangat suka menari. Hampir semua tari Bali bisa kutarikan.  Aku sering menari di sanggar, bahkan di depan tamu asing. Misalnya saat Raka temanku  yang guide mengajak beberapa tamunya menginap di hotel daerah Lovina. Aku paling suka menari tarian Wiranata, tari yang menggambarkan kesan gagah dari seorang penari serta cocok sekali dalam melukiskan seorang yang punya pengaruh dan wibawa seperti seorang raja. Namun akhir-akhir ini semua kegiatan itu tidak bisa lagi kulakukan. Penyakit yang kuderita membatasi segala gerakku.

“Ada yang bisa saya bantu, Ayu?” sapa  Bu  Citra dengan senyum yang masih menghiasi wajah cantiknya.  Membuyarkan lamunannku.

 Kuceritakan semua masalah sakit yang sudah hampir setahun menimpaku, juga beberapa pengobatan yang telah aku lakukan.

Bu Citra mendengar dengan sangat serius  tentang kondisi kesehatan  yang kuceritakan. Sambil  manggut-manggut tanda paham dan mungkin bisa merasakan kondsi yang kualami. Ia permisi sebentar untuk ke kamar suci, tempat ia biasa melakukan puja setiap hari. Tak sampai lima menit ia keluar dengan membawa kotak hitam yang terukir bunga padma. Pasti di dalamnya kartu tarot, batinku.

Dari beberapa cerita yang kudengar dari teman-teman, ia sangat pintar  dan ahli memainkan kartu tarot. Aku ingin mencari jawaban atas kekhawatiran tentang kondisiku. Kuyakini kalau kartu tarot bisa membantu menambah wasasan baru yang membantuku mengambil keputusan yang lebih tepat.

 Walau kuyakini kartu tarot tidak dapat memprediksi masa depan, namun  kuberharap kartu tarot dapat membantuku bagaimana  langkah selanjutnya yang akan kuambil.

Jari-jari lentik Bu Citra menyusun tarot, mengocoknya, dan  mengambil sembilan kartu kemudian membukanya dan menaruhnya di atas meja  yang terukir bunga padma merah muda. Lama Bu Citra menatap kartu yang keluar, kemudian sejenak memandangku tepat di bola mataku. Jantungku berdegup menungggu kalimat yang akan keluar dari bibirnya.

”Jawabannya air,” katanya tanpa kumengerti maksud ucapannya.

“Apakah sakit yang akan kuderita akan berlangsung lama, Bu Jero? Atau apa yang mesti aku lakukan agar bisa segera pulih?” tanyaku agak terbata.

Tanpa menjawab pertanyaanku, tangannya sibuk merapikan kartu tarot dan memulai lagi menyusun mengocoknya berkali-kali serta mengeluarkan sembilan kartu tarot lagi.

“Jawabannya air lagi.” Bu Citra memperlihatkan kartu tarot itu ke hadapanku. Kulihat gambar seperti samudera luas, ya memang gambar air, tapi tidak kumengerti maknanya.

Bu Citra menatapku dengan tersenyum penuh misteri. Aku tidak paham apa arti senyuman itu.

“Duh Gusti, semoga Engkau menunjukkan yang terbaik untuk hidupku!” batinku.

Hampir setahun telah kulalui, tubuhku ringkih menahan sakit. Kupejamkan mata  sambil menahan butiran bening menetes di pipi. Aku harus kuat,  tegar, harus optimis, dan yakin dengan kasih Tuhan kalau semua ini pasti berlalu.

Bu Citra meraih tanganku, seolah memberi kekuatan.

“Ayu yang sabar ya, harus kuat dan optimis. Semua penyakit bisa disembuhkan,” katanya menghiburku.

Bu Citra menjelaskan hasil membaca kartu tarot tadi. Tiada batas waktu yang terbaca kapan sakitku akan pergi dari tubuhku. Sesaat roh dan jiwaku serasa melayang meninggalkan ragaku. Aku terkulai lemas mendengar penjelasannya. Direngkuhnya tubuhku ke dalam pelukannya sambil mengusap rambutku yang hitam lebat. Kutenangkan diriku sambil merapikan rambut yang basah karena keringat dan air mata.

Selanjutnya Bu Citra menjelaskan makna air yang terdapat dalam kartu tarot.

”Ayu harus lebih sering terhubung dengan air, dan air adalah jawaban penyembuhan sakitmu,” ucapnya sambil mengusap-usap pundakku.

Hari telah siang saat kutinggalkan rumah  Bu Citra, terlihat beberapa orang yang mengantri menunggu giliran mencari jawaban  atas kekhawatirannya, masalah percintaan, karir, dan lain sebagainya.

***

Baju kebayaku basah karena keringat. Cuaca sangat panas, matahari sangat terik bersinar. Walau ada beberapa pohon pinus, cemara, ketapang, dan beberapa flamboyan namun semua terkalahkan oleh  teriknya sinar mentari. Napasku ngos-ngosan menaiki tangga. Kulayangkan pandanganku ke depan. Masih ada beberapa anak tangga yang harus kulewati, mungkin puluhan  anak tangga sebelum sampai di tempat tujuan.  Kedua tangannku penuh membawa sesajen yang akan kupersembahkan sebagai sarana sembahyang dan melukat.

Orang pintar yang kudatangi pun menyarankan diriku untuk lebih sering melukat, dan lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Hal itu sejalan pula dengan jawaban dari kartu tarot yang terbaca, bahwa air penyembuh sakitku. Semua itu secara logika bisa kuterima dan telah kulakukan dengan sepenuh hati. Melukat bagiku adalah ritual menyucikan atau membersihan diri  dengan air suci  untuk memperoleh kebaikan dan menjauhkan  dari unsur-unsur negatif.

Tanpa terasa hampir dua tahun kudatangi tempat-tempat sumber mata air, entah itu sumber mata air di laut, sungai, di kaki bukit, dan  di beberapa tempat suci yang ada sumber mata air.

Kakiku ringan melangkah menapaki puluhan tangga tanpa terasa lelah. Panasnya cuaca  tak aku pedulikan. Badan terasa melayang menuju puncak tangga. Kuingin segera sampai ke pancuran. Kuliukkan tubuhku menyambut beningnya air yang mengelus-elus tubuhku, memelukku dengan mesra sambil mengusap seluruh tubuh mungilku.  Terasa segar mengaliri seluruh pori-pori  tubuhku. Jiwaku  berbisik mengucap syukur pada semesta. Air mengikis deritaku, membersihkan segala kotoran yang melekat dalam tubuhku. Kubasuh wajahku, rambutku dan kuteguk beberapa kali air yang mengalir di pancuran.

Aku menari, melayang dalam buaian air yang menyapaku dengan mesra, kubenamkan wajahku menggapai ke kedalaman samudera terdalam, mencari kedamaian yang selalu menyambutku dalam kesetiaan.

Ada bisik-bisik kudengar dari saudara, kalau ada yang tidak suka dengan keadaan keluargaku dengan mengirim ilmu hitam untuk mencelakai ayahku. Bahkan Tante Widya, adik dari ayahku berceloteh kalau dia sudah menanyakan ke beberapa orang pintar,  jawabnya sama.

“Ada yang iri. Sasaran sebenarnya adalah ayahmu, tapi karena kondisimu lebih lemah maka Ayu yang kena,” katanya sambil bibirnya sibuk mengunyah  kripik kulit ayam.

Namun aku abaikan semua  desas-desus yang tanpa bukti. Kupasrahkan semuanya pada Hyang Kuasa, pada pemilik semesta.

Jika kebencian bertunas, iri hati mengangkat topinya. Namun jika cinta kasih bertunas, kedamaian turun menetes bagaikan titik embun.

Di kejauhan kulihat matahari sudah tidak menyengat lagi. Ia terbenam ke arah laut. Air laut terlihat seperti garis yang menenggelamkan segala derita. Semuanya bagai lukisan. Lukisan senja yang telah mengakhiri kisah luka. Berganti rupa menjadi malam yang tenang, bersiap menyambut pagi. [T]

  • KLIK untuk BACA cerpen-cerpen lain
Komang | Cerpen Putu Arya Nugraha
Sisir Itu | Cerpen IGA Emma Suryani
Lukisan Senja | Cerpen Ni Wayan Sumiasih
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Azman H. Bahbereh | Cinta

Next Post

Diskursus Dongeng Sesuap Nasi

Ni Wayan Sumiasih

Ni Wayan Sumiasih

Guru yang suka menulis

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Diskursus Dongeng Sesuap Nasi

Diskursus Dongeng Sesuap Nasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co