22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lukisan Senja | Cerpen Ni Wayan Sumiasih

Ni Wayan Sumiasih by Ni Wayan Sumiasih
June 6, 2022
in Cerpen
Lukisan Senja | Cerpen Ni Wayan Sumiasih

Penulis: Ni Wayan Sumiasih

 “Namaku Winda. Aku sedang  hamil! Kau kenal Aditya? Ia pacarku, dan sekarang aku sedang mengandung anaknya! Kudengar kau pacaran dengannya!”

Seketika mata gadis itu merah melotot seperti hendak menelan tubuhku yang terpaku. Mulutnya gemetar, tangan mengepal, dengan napas satu-satu, bahu terguncang, separuh bajunya basah oleh keringat dan air mata.

Matahari seolah berhenti menyapa. Kurasa jantungku meloncat dari jiwaku. Rohku pun berhenti mengalirkan nadi yang mencipta raga berdenyut. Ini yang namanya petir di siang bolong? Tubuhku tergetar, membeku menatap gadis yang berdiri di hadapanku.

Kupandang gadis di depanku. Wajah yang tak pernah kukenal. Aku baru bertemu dengannya hari ini. Namanya pun baru kuketahui saat ini, saat dia dengan suara lantang, berteriak melengking memperkenalkan dirinnya. Wajah kusut dan mata yang sembab, terlihat seperti menahan beban yang teramat berat.

Kulirik perutnya yang sudah membucit. Kutaksir gadis ini masih muda, mungkin   lebih muda usianya dariku sekitar dua tahun. Kulitnya putih bersih dan memiliki wajah yang cukup cantik. Rambut ikal sebahu terlhat indah walau  kusut tanpa disisir.

Mungkin bajunya pun tak terganti  seminggu. Ia terlihat sangat kumal. Ritual mandi mungkin menjadi hal yang aneh baginya. Bau tubuhnya agak mengusikku. Namun hal itu tak mengurangi gurat cantik wajahnya.

***

Ya, Aditya nama yang indah bagiku. Ia teman sekelas di satu SMA. Kami bertemu pertama kali saat pendaftaran di sekolah favorit di kotaku. Saat itu kami menunggu untuk daftar ulang di aula sekolah. Kami duduk berdekatan pada deretan bangku yang disediakan panita penerimaan siswa baru.  Dia mengulurkan tanganya.

”Perkenalkan namaku Aditya.”

Aku gelagapan karena aku tak menyangka kalau momen itu terjadi. Kutatap matanya. Wow, mata hitam bulat bening dengan senyumnya yang menawan. Kulitnya coklat bersih dengan tubuhnya yang atletis. Pasti gemar olah raga, pikirku. Dengan ragu kuulurkan tanganku,

”Dinda”

Gengamannya terasa hangat dan darahku berdesir. Jantungku berdebar karena tatapan matanya.

“Dinda, nama yang manis, semanis orangnya.”

Uup.. kuyakin pipiku merona merah saat mendengar celetukannya. Segera kutarik tanganku dari genggamannya. Belum sempat kutata rasaku, terdengar namaku dipanggil panitia

“Dinda Ayuningtyas.” Aku bergegas menuju meja panitia  tanpa menoleh padanya.

Aku berlari kecil menuju kelasku, semoga tidak terlambat. Kulirik jam tangan hadiah ulang tahunku  yang ke-18. Masih ada waktu 5  menit sampai terdengar bunyi bel sekolah. Ini hari pertamaku mulai sekolah lagi, setelah  liburan semester. Menggunakan seragam putih abu hanya  tinggal menghitung minggu. Ujian kelulusan tinggal beberapa bulan lagi.

Aku  menyusuri koridor. Terlihat beberapa foto siswa berprestasi yang terpajang dengan bangga atau mungkin dengan angkuh. Fotoku juga terbingkai di sana saat memenangkan lomba penulisan karya ilmiah tingkat Nasional.  Tuti dan Aditya mengapitku yang kala itu mengacungkan piala kemenangan. Bangga bisa mempersembahkan yang terbaik untuk sekolah tercinta.

Kami bertiga sahabat karib. Walau hobi kami berbeda, kami sering dipertemukan dalam kelompok belajar penulisan karya ilmiah. Kedekatan itu pun bertahan karena kami  satu kelas selama tiga tahun. Jadi, tiada hari tanpa kebersamaan yang kami lalui. Kebersamaan penuh cerita canda. Kadang terjadi pertengkaran kecil  yang lebih melekatkan kebersamaan kami.

Kutahu Aditya menaruh hati padaku, namun kutampik dengan halus. Perhatian, tingkah laku, dan sorot matanya, menyiratkan rasa sayang dan cinta yang didambakan setiap gadis di bumi ini.

Kujingkrakkan kaki seperti penari salsa. Sesekali kuputar tubuhku menirukan penari balet sambil bersenandung lagu Do Re Mi. Seekor kupu-kupu terbang menari mengitari dan mendahului langkahku. Desiran angin mengelus wajah, mengusap lenganku seolah menyambut dan mengucapkan salam.

Kubergegas menaiki tangga menuju ruang kelasku. Kelasku ada di lantai dua. Bel berbunyi saat langkah kakiku mencapai ruang kelas. Terdengar suara  di belakangku.

“Dasar penari!” Tangan Aditya mendekap pundakku dengan hangat.

Oups, langkahku terhenti.  Dadaku deg deggan. Ada rasa kangen yang membucah, yang ingin bergelayut di hatinya. Kerinduan mengalir di setiap aliran  nadi darahku. Tatapan, senyuman, dan suara yang selalu kurindu dalam diam. Tubuhku bergetar membeku.

”Semakin cantik,”  bisiknya dengan senyum dikulum melepas tangannya dari pundakku menuju bangkunya.

Duh Gusti, malunya aku. Ternyata dia di belakangku tanpa kusadari. Jadi dia melihat apa yang kulakukan? Ah, masa bodo. Sedari kecil aku suka menari, setiap ada acara ulang tahun sekolah, atau acara pelepasan siswa. Aku selalu terpilih. Aku paling suka menarikan tari Oleg Tamulilingan. Tarian ini sangat indah. Tarian yang melukiskan  gerak gerik seekor kumbang yang sedang bermain-main dan bermersa-mesraan dengan sekuntum bunga di sebuah taman. Tubuhku tinggi semampai, memiliki wajah yang putih bersih serta senyum yang manis mendukung gerakku menarikan tari Oleg Tamulilingan.

Belum sempat kuhempaskan tubuhku di kursi, Guru Wali  telah berdiri di kelas. Pertemuan  diisi dengan nasihat persiapan menghadapi ujian sekolah yang tinggal beberapa bulan lagi.  Para guru berharap semua siswa lulus dengan nilai terbaik bahkan sempurna. Ocehan wali kelasku berlalu tanpa kuhiraukan. Pikiranku masih terbayang peristiwa pagi ini. Aditya tak pernah lelah mendekatiku. Kadang di saat tertentu aku nyerah, ingin membalas cintanya, selalu ada debaran halus menghampiri dadaku setiap beradu pandang.

Temanku Tuti menyenggolku, “Hai Din,  baru hari pertama sekolah dah melamun, bahaya lho  anak gadis pagi-pagi bengong, nanti ayam tetangga mati,” ledeknya.

Tuti temanku dari Sekolah Dasar,  sampai sekarang pun bisa satu sekolah  bahkan sekelas. Tuti suka bercanda. Kami selalu memeroleh ranking di kelas. Ia sangat suka basket. Tubuhnya yang tinggi langsing sangat mendukung hobinya. Bahkan saat ini dia menjadi team inti pemain basket. Walau hobi kami berbeda, namun di sisi lain, banyak hal sehati kami lakukan. Kulitnya agak coklat, mungkin karena sering di lapangan. Senyumnya manis dengan deretan giginya yang putih tersusun rapi. Aku hanya menatap dia sekilas tanpa peduli dengan ledekannya.

Bel sekolah berbunyi tiga kali. Itu pertanda pelajaran telah usai. Para siswa berhamburan keluar saling mendahului. Mungkin karena perut mereka minta diisi, sama seperti yang kurasakan.

“Din kau dijemput sopir?” tanya Tuti dengan napas terengah mengejarku.

“Kau kenapa sih, jalan seperti dikejar setan?” matanya tajam menatapku.

“Ya aku lari biar ngak ketemu dengan setan Aditya,” gumamku dalam hati. Entahlah aku hanya ingin menghindarinya. Aku takut dengan perasaan yang kurasa.

Terbayang di mataku, bagaimana kakakku Linda harus berhenti sekolah karena pacaran melewati batas, sehingga dia hamil. Ibuku pingsan saat guru BK datang ke rumahku untuk menanyakan keberadaan Linda yang sering alpa bahkan sudah tidak pernah datang ke sekolah. Saking sedihnya, ibuku sampai  opname beberapa bulan di Rumah Sakit karena penyakit jantungnya kambuh. Ayahku sangat marah dan terpukul karena peristiwa itu. Linda merupakan anak kesayangan, penerus harapannya untuk menjadi seorang pengacara. Sekarang harapan itu terbeban di pundakku. Segala gerakku diawasi dan dibatasi. Demi kebahagian orang tua, aku turuti keinginan mereka untuk tidak pacaran selama sekolah.

Akhirnya Ujian Sekolah telah terlewati, setelah sekian bulan terbenam dalam buku dan laptop yang melelahkan. Tinggal menunggu pengumuman hari kelulusan.

“Dinda, tunggu.” Terdengar suara yang tak asing ditelingaku. Aku menahan langkahku, Aditya berlari kecil menghampiriku. ”Kita ke kantin yuk, Din. Aku haus nih, lapar juga, belum sarapan.”

Belum sempat kujawab, ia menarik tanganku menuju kantin sekolah. Kantin tampak sepi karena belum jam istirahat. Kupilih kursi yang paling pojok, yang biasa kita gunakan bertiga kalau ada acara ritual ke kantin. Kali ini Tuti tidak ke sekolah karena ada upacara adat, begitu tadi isi suratnya untuk wali kelas.

Kualihkan pandanganku dari tatapan Aditya yang terlihat sangat serius. Aku gelagapan dengan tingkahnya. Ia memegang pipiku, agar menatapnya.

“Dinda, aku mau berkata serius padamu. Setelah ribuan hari kupendam rasa ini.”

Hatiku berdebar menunggu kalimat selanjutnya.

“Din, berikan aku kesempatan untuk menunjukkan  kalau aku serius denganmu. Aku sangat mencintaimu, tak perlu banyak kata, akan aku buktikan cintaku padamu.” Katanya sambil mengusap-usap punggung tanganku, lalu menaruhnya di dadanya. Aku kaget, darahku tersirap, menahan gejolak di dada. Jujur, aku pun mencintainya. Kuberanikan diri menatap bola bening matanya.

”Aditya, rasa kita sama, namun perjalanan kita masih jauh, banyak asa yang perlu kugenggam. Ada harapan yang mesti kudekap, berbagai  cerita yang mesti kuselami.”

Belum selesai kalimatku, Aditya langsung melompat, menarik tanganku dan memelukku sambil  berteriak kegirangan.

”Jadi kau menerima cintaku kan Din?” Aku hanya bisa mengganggukkan kepalaku sambil tersipu.

                      ***

Sekarang di hadapanku, seorang gadis bernama Winda, dengan perut buncit  menatapku dengan sorot tajam.

Kilatan mata Winda menyiratkan amarah luar biasa, penuh nafsu ingin merebut kembali yang sudah merasa menjadi haknya. Kutarik napas yang dalam, kutahan dan kuhembuskan perlahan. Berusaha kutenangkan diri. Kupersilakan Winda duduk.

“Duduklah, Winda, kita bicarakan dengan tenang!”

Dengan kasar dihempaskan tubuhnya di sofa. Kusuguhi dia air minum.

“Silakan minum dulu!”

Matanya masih merah menyala menahan marah yang belum reda. Diliriknya air yang kusuguhkan dengan penuh curiga. Bibirnya yang mungil menyeroscos berujar, kalau dia sudah pacaran dengan Aditya selama dua tahun, mulai dari kelas IX. Mereka satu desa. Bisa dikatakan masih ada hubungan kekerabatan. Jadi sekarang baru kelas X dan pacaran kebablasan. Pemecatan dari sekolah menakutkan baginya. Yang lebih dia cemaskan adalah apabila Aditya meninggalkannya. Tangisnya pecah sesenggukkan. Tubuhnya terguncang  dalam kepiluan. Aku elus rambutnya yang ikal, tangisnya semakin membuncah sambil memelukku dengan sangat erat. Aku bisikkan di telinganya.

”Percayalah, Aditya milikmu selamanya.”

Kutahan kelopak mataku, agar tiada butiran bening tumpah. Desir angin membelai-belai rambutku memelukku dalam lukisan senja. [T]

_____

KLIK UNTUK BACA CERPEN LAIN

Rahim yang Kelu | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: CerpenTatkala May May May 2022
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perang Ukraina, Tantangan Buat Indonesia

Next Post

Mari Menua Dengan Bahagia

Ni Wayan Sumiasih

Ni Wayan Sumiasih

Guru yang suka menulis

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Mari Menua Dengan Bahagia

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co