24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lukisan Senja | Cerpen Ni Wayan Sumiasih

Ni Wayan Sumiasih by Ni Wayan Sumiasih
June 6, 2022
in Cerpen
Lukisan Senja | Cerpen Ni Wayan Sumiasih

Penulis: Ni Wayan Sumiasih

 “Namaku Winda. Aku sedang  hamil! Kau kenal Aditya? Ia pacarku, dan sekarang aku sedang mengandung anaknya! Kudengar kau pacaran dengannya!”

Seketika mata gadis itu merah melotot seperti hendak menelan tubuhku yang terpaku. Mulutnya gemetar, tangan mengepal, dengan napas satu-satu, bahu terguncang, separuh bajunya basah oleh keringat dan air mata.

Matahari seolah berhenti menyapa. Kurasa jantungku meloncat dari jiwaku. Rohku pun berhenti mengalirkan nadi yang mencipta raga berdenyut. Ini yang namanya petir di siang bolong? Tubuhku tergetar, membeku menatap gadis yang berdiri di hadapanku.

Kupandang gadis di depanku. Wajah yang tak pernah kukenal. Aku baru bertemu dengannya hari ini. Namanya pun baru kuketahui saat ini, saat dia dengan suara lantang, berteriak melengking memperkenalkan dirinnya. Wajah kusut dan mata yang sembab, terlihat seperti menahan beban yang teramat berat.

Kulirik perutnya yang sudah membucit. Kutaksir gadis ini masih muda, mungkin   lebih muda usianya dariku sekitar dua tahun. Kulitnya putih bersih dan memiliki wajah yang cukup cantik. Rambut ikal sebahu terlhat indah walau  kusut tanpa disisir.

Mungkin bajunya pun tak terganti  seminggu. Ia terlihat sangat kumal. Ritual mandi mungkin menjadi hal yang aneh baginya. Bau tubuhnya agak mengusikku. Namun hal itu tak mengurangi gurat cantik wajahnya.

***

Ya, Aditya nama yang indah bagiku. Ia teman sekelas di satu SMA. Kami bertemu pertama kali saat pendaftaran di sekolah favorit di kotaku. Saat itu kami menunggu untuk daftar ulang di aula sekolah. Kami duduk berdekatan pada deretan bangku yang disediakan panita penerimaan siswa baru.  Dia mengulurkan tanganya.

”Perkenalkan namaku Aditya.”

Aku gelagapan karena aku tak menyangka kalau momen itu terjadi. Kutatap matanya. Wow, mata hitam bulat bening dengan senyumnya yang menawan. Kulitnya coklat bersih dengan tubuhnya yang atletis. Pasti gemar olah raga, pikirku. Dengan ragu kuulurkan tanganku,

”Dinda”

Gengamannya terasa hangat dan darahku berdesir. Jantungku berdebar karena tatapan matanya.

“Dinda, nama yang manis, semanis orangnya.”

Uup.. kuyakin pipiku merona merah saat mendengar celetukannya. Segera kutarik tanganku dari genggamannya. Belum sempat kutata rasaku, terdengar namaku dipanggil panitia

“Dinda Ayuningtyas.” Aku bergegas menuju meja panitia  tanpa menoleh padanya.

Aku berlari kecil menuju kelasku, semoga tidak terlambat. Kulirik jam tangan hadiah ulang tahunku  yang ke-18. Masih ada waktu 5  menit sampai terdengar bunyi bel sekolah. Ini hari pertamaku mulai sekolah lagi, setelah  liburan semester. Menggunakan seragam putih abu hanya  tinggal menghitung minggu. Ujian kelulusan tinggal beberapa bulan lagi.

Aku  menyusuri koridor. Terlihat beberapa foto siswa berprestasi yang terpajang dengan bangga atau mungkin dengan angkuh. Fotoku juga terbingkai di sana saat memenangkan lomba penulisan karya ilmiah tingkat Nasional.  Tuti dan Aditya mengapitku yang kala itu mengacungkan piala kemenangan. Bangga bisa mempersembahkan yang terbaik untuk sekolah tercinta.

Kami bertiga sahabat karib. Walau hobi kami berbeda, kami sering dipertemukan dalam kelompok belajar penulisan karya ilmiah. Kedekatan itu pun bertahan karena kami  satu kelas selama tiga tahun. Jadi, tiada hari tanpa kebersamaan yang kami lalui. Kebersamaan penuh cerita canda. Kadang terjadi pertengkaran kecil  yang lebih melekatkan kebersamaan kami.

Kutahu Aditya menaruh hati padaku, namun kutampik dengan halus. Perhatian, tingkah laku, dan sorot matanya, menyiratkan rasa sayang dan cinta yang didambakan setiap gadis di bumi ini.

Kujingkrakkan kaki seperti penari salsa. Sesekali kuputar tubuhku menirukan penari balet sambil bersenandung lagu Do Re Mi. Seekor kupu-kupu terbang menari mengitari dan mendahului langkahku. Desiran angin mengelus wajah, mengusap lenganku seolah menyambut dan mengucapkan salam.

Kubergegas menaiki tangga menuju ruang kelasku. Kelasku ada di lantai dua. Bel berbunyi saat langkah kakiku mencapai ruang kelas. Terdengar suara  di belakangku.

“Dasar penari!” Tangan Aditya mendekap pundakku dengan hangat.

Oups, langkahku terhenti.  Dadaku deg deggan. Ada rasa kangen yang membucah, yang ingin bergelayut di hatinya. Kerinduan mengalir di setiap aliran  nadi darahku. Tatapan, senyuman, dan suara yang selalu kurindu dalam diam. Tubuhku bergetar membeku.

”Semakin cantik,”  bisiknya dengan senyum dikulum melepas tangannya dari pundakku menuju bangkunya.

Duh Gusti, malunya aku. Ternyata dia di belakangku tanpa kusadari. Jadi dia melihat apa yang kulakukan? Ah, masa bodo. Sedari kecil aku suka menari, setiap ada acara ulang tahun sekolah, atau acara pelepasan siswa. Aku selalu terpilih. Aku paling suka menarikan tari Oleg Tamulilingan. Tarian ini sangat indah. Tarian yang melukiskan  gerak gerik seekor kumbang yang sedang bermain-main dan bermersa-mesraan dengan sekuntum bunga di sebuah taman. Tubuhku tinggi semampai, memiliki wajah yang putih bersih serta senyum yang manis mendukung gerakku menarikan tari Oleg Tamulilingan.

Belum sempat kuhempaskan tubuhku di kursi, Guru Wali  telah berdiri di kelas. Pertemuan  diisi dengan nasihat persiapan menghadapi ujian sekolah yang tinggal beberapa bulan lagi.  Para guru berharap semua siswa lulus dengan nilai terbaik bahkan sempurna. Ocehan wali kelasku berlalu tanpa kuhiraukan. Pikiranku masih terbayang peristiwa pagi ini. Aditya tak pernah lelah mendekatiku. Kadang di saat tertentu aku nyerah, ingin membalas cintanya, selalu ada debaran halus menghampiri dadaku setiap beradu pandang.

Temanku Tuti menyenggolku, “Hai Din,  baru hari pertama sekolah dah melamun, bahaya lho  anak gadis pagi-pagi bengong, nanti ayam tetangga mati,” ledeknya.

Tuti temanku dari Sekolah Dasar,  sampai sekarang pun bisa satu sekolah  bahkan sekelas. Tuti suka bercanda. Kami selalu memeroleh ranking di kelas. Ia sangat suka basket. Tubuhnya yang tinggi langsing sangat mendukung hobinya. Bahkan saat ini dia menjadi team inti pemain basket. Walau hobi kami berbeda, namun di sisi lain, banyak hal sehati kami lakukan. Kulitnya agak coklat, mungkin karena sering di lapangan. Senyumnya manis dengan deretan giginya yang putih tersusun rapi. Aku hanya menatap dia sekilas tanpa peduli dengan ledekannya.

Bel sekolah berbunyi tiga kali. Itu pertanda pelajaran telah usai. Para siswa berhamburan keluar saling mendahului. Mungkin karena perut mereka minta diisi, sama seperti yang kurasakan.

“Din kau dijemput sopir?” tanya Tuti dengan napas terengah mengejarku.

“Kau kenapa sih, jalan seperti dikejar setan?” matanya tajam menatapku.

“Ya aku lari biar ngak ketemu dengan setan Aditya,” gumamku dalam hati. Entahlah aku hanya ingin menghindarinya. Aku takut dengan perasaan yang kurasa.

Terbayang di mataku, bagaimana kakakku Linda harus berhenti sekolah karena pacaran melewati batas, sehingga dia hamil. Ibuku pingsan saat guru BK datang ke rumahku untuk menanyakan keberadaan Linda yang sering alpa bahkan sudah tidak pernah datang ke sekolah. Saking sedihnya, ibuku sampai  opname beberapa bulan di Rumah Sakit karena penyakit jantungnya kambuh. Ayahku sangat marah dan terpukul karena peristiwa itu. Linda merupakan anak kesayangan, penerus harapannya untuk menjadi seorang pengacara. Sekarang harapan itu terbeban di pundakku. Segala gerakku diawasi dan dibatasi. Demi kebahagian orang tua, aku turuti keinginan mereka untuk tidak pacaran selama sekolah.

Akhirnya Ujian Sekolah telah terlewati, setelah sekian bulan terbenam dalam buku dan laptop yang melelahkan. Tinggal menunggu pengumuman hari kelulusan.

“Dinda, tunggu.” Terdengar suara yang tak asing ditelingaku. Aku menahan langkahku, Aditya berlari kecil menghampiriku. ”Kita ke kantin yuk, Din. Aku haus nih, lapar juga, belum sarapan.”

Belum sempat kujawab, ia menarik tanganku menuju kantin sekolah. Kantin tampak sepi karena belum jam istirahat. Kupilih kursi yang paling pojok, yang biasa kita gunakan bertiga kalau ada acara ritual ke kantin. Kali ini Tuti tidak ke sekolah karena ada upacara adat, begitu tadi isi suratnya untuk wali kelas.

Kualihkan pandanganku dari tatapan Aditya yang terlihat sangat serius. Aku gelagapan dengan tingkahnya. Ia memegang pipiku, agar menatapnya.

“Dinda, aku mau berkata serius padamu. Setelah ribuan hari kupendam rasa ini.”

Hatiku berdebar menunggu kalimat selanjutnya.

“Din, berikan aku kesempatan untuk menunjukkan  kalau aku serius denganmu. Aku sangat mencintaimu, tak perlu banyak kata, akan aku buktikan cintaku padamu.” Katanya sambil mengusap-usap punggung tanganku, lalu menaruhnya di dadanya. Aku kaget, darahku tersirap, menahan gejolak di dada. Jujur, aku pun mencintainya. Kuberanikan diri menatap bola bening matanya.

”Aditya, rasa kita sama, namun perjalanan kita masih jauh, banyak asa yang perlu kugenggam. Ada harapan yang mesti kudekap, berbagai  cerita yang mesti kuselami.”

Belum selesai kalimatku, Aditya langsung melompat, menarik tanganku dan memelukku sambil  berteriak kegirangan.

”Jadi kau menerima cintaku kan Din?” Aku hanya bisa mengganggukkan kepalaku sambil tersipu.

                      ***

Sekarang di hadapanku, seorang gadis bernama Winda, dengan perut buncit  menatapku dengan sorot tajam.

Kilatan mata Winda menyiratkan amarah luar biasa, penuh nafsu ingin merebut kembali yang sudah merasa menjadi haknya. Kutarik napas yang dalam, kutahan dan kuhembuskan perlahan. Berusaha kutenangkan diri. Kupersilakan Winda duduk.

“Duduklah, Winda, kita bicarakan dengan tenang!”

Dengan kasar dihempaskan tubuhnya di sofa. Kusuguhi dia air minum.

“Silakan minum dulu!”

Matanya masih merah menyala menahan marah yang belum reda. Diliriknya air yang kusuguhkan dengan penuh curiga. Bibirnya yang mungil menyeroscos berujar, kalau dia sudah pacaran dengan Aditya selama dua tahun, mulai dari kelas IX. Mereka satu desa. Bisa dikatakan masih ada hubungan kekerabatan. Jadi sekarang baru kelas X dan pacaran kebablasan. Pemecatan dari sekolah menakutkan baginya. Yang lebih dia cemaskan adalah apabila Aditya meninggalkannya. Tangisnya pecah sesenggukkan. Tubuhnya terguncang  dalam kepiluan. Aku elus rambutnya yang ikal, tangisnya semakin membuncah sambil memelukku dengan sangat erat. Aku bisikkan di telinganya.

”Percayalah, Aditya milikmu selamanya.”

Kutahan kelopak mataku, agar tiada butiran bening tumpah. Desir angin membelai-belai rambutku memelukku dalam lukisan senja. [T]

_____

KLIK UNTUK BACA CERPEN LAIN

Rahim yang Kelu | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: CerpenTatkala May May May 2022
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perang Ukraina, Tantangan Buat Indonesia

Next Post

Mari Menua Dengan Bahagia

Ni Wayan Sumiasih

Ni Wayan Sumiasih

Guru yang suka menulis

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Mari Menua Dengan Bahagia

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co