24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sisir Itu | Cerpen IGA Emma Suryani

IGA Emma Suryani by IGA Emma Suryani
March 25, 2023
in Cerpen
Sisir Itu | Cerpen IGA Emma Suryani

Ilustrasi: Putu Rendhi Kusuma Artha

PAGI ITU langit biru cerah. Pohon ketapang masih berdiri tegak menyapa anak-anak berseragam putih-biru. Hilir mudik kendaraan menurunkan satu per satu siswa berseragam. Langkah ringan mereka disapa oleh gerbang kokoh putih bersih. Gerbang pengantar cita-cita mereka. Cita-cita yang digantungkan setinggi langit. Begitulah yang didengungkan di telinga mereka sedari kecil.

“Ming, sini sebentar!”

Suara Bapak menghentikan langkahku yang tinggal separuh mencapai gerbang. Dia mengeluarkan sisir mungilnya. Sisir andalan yang selalu berada di saku kemejanya yang lusuh dimakan usia. Sama seperti wajahnya yang penuh guratan menandakan asam garam yang sudah lama dia kecap. Terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya. Menunjukkan betapa keras perjuangannya selama ini. Tapi aku, setiap kali aku melihat sisir itu, hatiku menciut.

“Sudahlah, Pak. Aku sudah rapi, tak perlu disisir lagi!” Aku mengelak dengan halus.

“Ah sedikit saja. Ini ponimu berantakan!” tukasnya.

Dengan lembut Bapak menata poniku yang berterbangan tadi sewaktu aku berboncengan.

Bapak selalu mengeluarkan sisir kecil berwarna hijau yang cukup masuk ke dalam sakunya itu. Sejak aku mulai mengenal sekolah, ia selalu menata rambutku sebelum aku berjumpa dengan teman ataupun guru. Jika sisir itu belum keluar dari sakunya, seolah-olah ada yang kurang dalam penampilanku di sekolah.

Ya, Bapak memang selalu mengatur semuanya. Di rumah, ia mulai menyiapkan seragamku, menata bekal makan siangku, hingga membimbing tugas rumahku. Tapi, kadang aku risi. Aku sekarang sudah kelas 1 SMP. Tanda-tanda kegadisanku mulai muncul. Aku bisa menata sendiri penampilanku.

Dan, rasa ini mulai berwarna-warni muncul dalam benakku. Terkadang pandangan-pandangan teman atau orang yang lalu-lalang di hadapan kami membuatku tidak nyaman. Apa salahnya, seorang bapak menyisir rambut anak perempuannya? Seolah ingin menjawab lirikan-lirikan mereka. Apakah hanya seorang ibu yang pantas menyisir anak perempuan.

Ah, menyebut ibu rasanya lidahku kelu. Ibu yang kuharapkan sangat jarang bisa kutemui. Semenjak kepergiannya ke luar negeri untuk membiayai pendidikan kami, bapaklah yang berupaya sekuat tenaga dan pikiran untuk membimbing kami. Dia yang terbangun sebelum mentari.

Dia yang berkutat dengan panci dan wajan di dapur kecil kami sekadar menggoreng telur atau tempe. Namun, sarapan itulah yang mampu memberi kami tenaga sampai bel pulang berbunyi. Dia pulalah yang menyiapkan perlengkapan seragamku dan adikku. Sebelum kami tergesa-gesa keluar dari kamar mandi dan berpakaian. Dia pula yang setia mengantarku menuju gerbang sekolah ini dan berusaha untuk menjemputku tepat waktu.

Aku adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Kakak tertuaku kini di bangku perguruan tinggi jurusan ekonomi. Dia berencana untuk menjadi wiraswastawan yang sukses dan bisa membantu perekonomian keluarga kelak. Kakak keduaku memilih sekolah kejuruan.

Dia berpikir dengan mengambil jurusan teknik, dia bisa membuka usaha bengkel setamat sekolah nanti dan mampu mendatangkan rupiah. Belum terpikirkan olehku apa cita-citaku nanti. Pernah terbesit keinginanku untuk mencari sekolah perhotelan nanti. Tapi aku ingat ibu. Dia yang pergi meninggalkan kami untuk meraup dollar di belahan dunia sana. Meninggalkan keluarga. Niatku kuurungkan.

Pagi itu hatiku ceria. Aku ke sekolah menggendong tasku tanpa beban. Seperti biasa sebelum aku mencapai gerbang. Bapak memanggil dan menyisir poniku. Aku pasrah membiarkannya dengan kebiasaannya. Mungkin dengan itu, bapak akan lebih ringan melepasku.

Setelah itu dia pun berlalu. Bapak berangkat ke tempatnya bekerja. Tempatnya tak jauh dari sekolahku. Sehingga dia bisa menjemputku kembali sepulang sekolah. Atasan di tempatnya bekerja tentu sangat berbaik hati. Ia bisa mengijinkan pekerjanya bolak-balik ke luar kantor untuk mengerjakan urusan pribadi. Hasil kerja bapak memang jauh berbeda dari penghasilan ibu. Tapi, bapak menekuni pekerjaan itu. Dan, aku mengaguminya.

Memasuki ruangan yang menampung 30 siswa itu, aku merasa ganjil. Pandangan beberapa teman seolah sedang menggunjingkanku. Tapi aku tak menggubrisnya. Kuletakkan tasku di kolong bangku. Teman dudukku tersenyum menyapa.

“Hai, diantar Bapak tadi?”

Belum sempat kumenjawab pertanyaan temanku. Temanku yang lain bergumam.

“Itu lho anak papa!”

Aku terkesiap. Baru kali ini Dewi menudingku seperti itu. “Kenapa Wi?” tanyaku dengan menahan gemuruh di dada.

“Tak ada. Anak papa sering diantar dan disisir papa!” kata Dewi.

“Apa salahnya dengan itu?” Aku tak tahan lagi.

Sri sahabatku menarikku kembali ke bangkuku. “Sudah jangan diladeni, Mang!”

Aku menentramkan napasku. Sekejap kemudian bu guru memasuki kelas kami yang sempat menegang tadi. Aku kerahkan konsentrasiku menyimak pelajaran guru. Aku tak ingin menyia-nyiakan harapan orang tuaku.

Kami harus terbiasa dengan ketiadaan ibu di rumah selama kurang lebih delapan bulan lamanya. Aku tak menyalahkan ibu. Aku terkadang iri melihat kebersamaan ibu dan anak, bahkan aku pernah merasa benci ketika aku melihat ibu dan anak berpakaian serasi dan mereka berusaha menyamakan diri hingga ke pernak-pernik kecil.

Aku terkadang berpura-pura mendengarkan ketika teman-temanku membicarakan ibunya. Lalu, apa yang harus kuceritakan kepada temanku tentang sosok ibu. Dia yang hanya beberapa kali menelepon dalam sebulan. Dia yang mengantarkan salam dollarnya setelah beberapa bulan. Dia yang berkabar melalui foto dari akun media sosial kakak tertuaku.

Aku yang kecewa tak bisa memberikan sesuatu atau memeluknya di Hari Ibu atau di ulang tahunnya. Ah, rasa ini begitu mendera. Tapi ibu adalah pahlawan kami. Karena ibu, dapur kami selalu bisa mengepul. Karena ia pulalah, kakakku bisa mengenyam pendidikan yang layak.

Aku tak pantas marah kepada Dewi tadi pagi di sekolah. Dia benar. Bahwa aku anak papa. Dia hanya melihatku selalu bersama bapak. Bahkan dia mengamatiku diam-diam di gerbang sekolah. Beberapa dari temanku beranggapan aku tak punya ibu. Ingin aku berteriak. Hai, teman-teman. Ibuku sedang berjuang menghidupi keluarga kami.

Ia memeras keringat di negara lain untuk membiayai sekolahku. Ia banyak berkorban demi kami. Ahh, untuk apa, mereka tak peduli. Ada bulir bening mengalir dari sela mataku. Aku menyekanya. Tiba-tiba rinduku pada ibu melanda. Aku ingin memeluknya dan kutumpahkan segala rasa di dadanya. Jika semua itu kulimpahkan pada bapak, apakah dia mampu.

Aku hanya terdiam ketika wali kelasku menanyakan kehadiran ibu atau bapakku dalam pertemuan orang tua siswa beberapa bulan lalu. Kuminta bapak memenuhi kehadirannya dalam rapat orang tua siswa. Tapi, ia harus rela korannya tak terjual dalam sehari itu. Hingga akhirnya aku harus memohon maaf atas absennya orang tuaku. Aku hanya menunduk. Ibu wali kelas berharap besar kali ini orang tuaku tak absen.

“Ibu harap orang tuamu meluangkan waktu untuk pertemuan kali ini. Sekaligus ada yang ingin ibu bicarakan secara pribadi!”

Bu Guru menyodoriku secarik surat.

“Baik, Bu, akan saya sampaikan.”

Hari itu, Bapak bersiap-siap seperti kebiasaannya mengantarku ke sekolah. Jam di dinding belum menunjukkan pukul enam. Dia masih memastikan perlengkapan sekolahku siap dibawa. Aku memandang cermin 50 centimeter itu dan terpaku seperti ia terpaku di dinding. Beralih pada sisir tergantung di sebelahnya. Bapak, batinku menyebut. Inilah saatnya aku mengharapkannya. Setidaknya aku menyampaikan keinginanku. Mungkin saja ia mau memenuhi keinginanku dan menghadiri undangan sekolah.

Aku menghambur ke dapur kami yang sederhana. Dia berkonsentrasi pada gorengan di wajannya.

“Bapak, bisakah aku meminta sesuatu?”

Bapak mematikan kompornya dan meniriskan gorengannya. “Ya, ada apa Ming?”

Kata demi kata terangkai dalam benakku. Aku tak mau membebaninya lagi. Hidup kami sudah pekat seperti minyak gorengan dalam wajan itu.

“Minggu depan ada pertemuan orang tua di sekolah, apa Bapak bersedia datang ke sekolah?”

Aku tak mau dahinya mengkerut seperti gorengan itu.

“Bapak akan usahakan Ming, pertemuan tentang apa ya?”

Seketika itu aku ingin melonjak senang. “Sepertinya tentang program baru sekolah dan uang komite, Pak. Wali kelas komang juga ingin membicarakan sesuatu!”

“Baiklah, tidak masalah. Bapak akan mohon izin nanti kepada manager pemasaran.”

“Makasi ya Pak.” Aku memeluknya. Sutil di genggamannya hampir saja terlepas.

“Lho, ada apa ini? Sepertinya kita lama tak berjumpa!”

“Tidak, Bapak, aku kira Bapak tidak bisa menghadirinya.”

“Tenang saja Bapak akan selalu ada untuk kalian. Jadi Ibu pun Bapak siap!”

Hatiku  tersenyum. Aku harus bisa menerima keadaan ini apa adanya. Dan, aku tak ragu lagi sisir Bapak menyisiri helai demi helai rambut ini. Menguatkanku bahwa di sisir itu ada kelembutan ibu di sana. [T]

  • Catatan: Cerpen ini diambil dari buku antologi cerpen Bintang Berpijar terbitan Mahima Institute Indonesia (2019)

[][][]

KLIK untuk BACA cerpen lain

Betapa Pekat Asap di Puncak Semeru | Cerpen Arnata Pakangraras
Pohon Waru Teluk Selat Bali | Cerpen Satria Aditya
Pisah Ranjang | Cerpen AG Pramono
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketua DPRD, Pj. Bupati dan Sekda Buleleng Berlomba Makan Buah Lokal

Next Post

Puisi-puisi Thomas Elisa | Tamu Masa Lalu

IGA Emma Suryani

IGA Emma Suryani

I Gusti Ayu Emma Suryani, S.Pd., ibu rumah tangga yang juga mengabdikan diri dalam pendidikan di sekolah pinggiran.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Thomas Elisa | Tamu Masa Lalu

Puisi-puisi Thomas Elisa | Tamu Masa Lalu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co