10 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pisah Ranjang | Cerpen AG Pramono

AG Pramono by AG Pramono
March 4, 2023
in Cerpen
Pisah Ranjang | Cerpen AG Pramono

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

DI TENGAH-TENGAH masyarakat sedang membutuhkannya, Sukar malah memilih tidur di pos kamling. Kebiasaannya tidur di pos kamling mulai sering dilakukan sejak pisah ranjang dengan istrinya. Istrinya tak kuat lagi dengan prinsip hidupnya. Kebiasaannya banyak membantu masyarakat kecil dan miskin sampai ke pelosok desa ternyata tidak sejalan dengan pola pikir istrinya.

Perbedaan pola pikir antara mereka makin lama makin meruncing. Istrinya berharap, bila membantu masyarakat, jangan terlalu berlebihan dan gembar-gembor. Namun, Sukar tak mau dan berprinsip lain. Dia ingin kehendaknya sendiri yang jalan, tanpa menghiraukan pendapat yang lain. Berapa saja yang ada dalam sakunya, sejumlah itulah uang tersebut mengalir kepada masyarakat di depan hidungnya. Dia tak ingin ada perencanaan, bila ingin membantu masyarakat. Apa yang melekat di tubuhnya, itulah yang diberikan kepada mereka yang sangat membutuhkan. Dia tak ingin diboncengi dengan maksud-maksud kepentingan politik tertentu.

 Sejak perbedaan pola pikir itu, ranjang mereka pun ikut berpisah. Istrinya memilih tidur di rumah, sedangkan Sukar memilih tidur di pos kamling. Pilihannya tidur di pos kamling karena dia mulai enggan pulang ke rumah. Dia memilih luntang-lantung di jalan.

Sang dermawan itu masih terlelap di pos kamling. Semula, masyarakat tak percaya bahwa Sukar, yang diagung-agungkan sebagai penyelamat nasib orang miskin, kini tidurnya di pos kamling. Masyarakat yang kebetulan melintas di depan pos kamling sempat berhenti dan berusaha membangunkan Sukar. Meskipun tubuhnya digerak-gerakkan, lelaki gemuk itu tetap saja tertidur. Masyarakat mengira dia meninggal. Tetapi, ketika diperiksa, nadi dan jantungnya masih berdenyut normal.

Beberapa tetangganya silih berganti menengokinya ke pos kamling. Bahkan, orang-orang yang sangat berharap bantuan Sukar, mau berjam-jam menunggu di sampingnya. Warga di desa itu mulai terheran-heran, kenapa orang yang dianggap dermawan selama ini tidurnya begitu panjang.

Tubuh Sukar kembali digerak-gerakkan, tapi tetap tak bergeser sedikit pun. Karena tak mampu lagi dibangunkan, kepala desa memerintah warganya agar tubuh Sukar disiram dengan air. Perintah itu langsung disikapi warga. Orang-orang langsung bergegas mengambil air di sungai. Sekitar sepuluh timba disiramkan ke tubuh Sukar. Namun, apa yang terjadi? Matanya tak juga melek, meskipun seluruh tubuhnya sudah basah kuyup.

Pak kepala desa jengkel. Karena tak juga bangun, tubuh Sukar hendak diangkat untuk dibawa ke rumahnya. Namun, upaya itu tak juga berhasil. Tubuhnya seperti batu raksasa yang tak mudah diangkat. Kepala desa langsung mengerahkan puluhan warganya untuk mengangkat tubuh Sukar kembali. Tetapi, sia-sia, tubuhnya tak juga bisa terangkat. Pak kepala desa, pak RT, serta orang-orang yang berada di pos kamling hanya bisa terpaku melihat tubuh Sukar yang terlelap tidur sampai seharian.

Hingga hari semakin senja, lelaki tambun itu tak juga terbangun dari tidurnya. Pak kepala desa dan pak RT memilih pulang meninggalkan lokasi pos kamling. Orang-orang yang berharap Sukar bangun, satu per satu mulai meninggalkan pos kamling.

 “Pak, bangun Pak, kami lagi susah, orang-orang di sini lagi kena penyakit lapar, perlu bantuan bapak,” keluh salah seorang lelaki tua sambil memeluk tubuh Sukar.

Namun, tubuh tambun itu tak juga tergerak. Aneh, sungguh aneh. Sudah sehari penuh, pahlawan desa itu masih tertidur. Banyak yang mengira Sukar sudah meninggal. Namun, ada juga yang berkata lain. Ada yang menganggap Sukar hanya pura-pura tidur.

 “Pak, jangan pura-pura tidur, kami lagi membutuhkanmu. Kalau Bapak melek, pasti akan merasa iba melihat kondisi kami. Jadi, jangan terlalu lama tidur ya, nanti kami anggap bapak hanya berpura-pura, padahal bapak tidak sedang berpura-pura kan?” ujar seorang ibu yang tampaknya kurang sehat. Sambil batuk-batuk, dia menepuk-nepuk tubuh Sukar.

 Hari makin larut, satu per satu, masyarakat mulai meninggalkan pos kamling. Tubuh Sukar masih terbujur sendiri di pos kamling. Lolongan anjing lamat-lamat memecah keheningan malam. Suara burung hantu mulai terdengar pula. Desir angin meniup pepohonan, dingin menusuk tulang.

Tiba-tiba, di keheningan malam, tubuh Sukar yang masih terlelap dibekap tiga orang dengan menutup wajahnya dengan sarung seperti ninja. Seorang di antaranya langsung membungkam mulut Sukar, seorang lagi merogoh seluruh saku di celana dan bajunya. Sedangkan seorang lagi berjaga-jaga memantau keadaan di sekitar pos kamling sambil membawa sebilah golok. Namun, meski seluruh saku dan dompet dirogoh-rogoh, tiga garong itu tidak menemukan satu sen pun uang di saku Sukar.

 “Sial, kita dibohongi. Menurut warga di sini, laki-laki yang tidur di pos kamling ini orang kaya raya, bahkan milioner. Kurang ajar, laki-laki gemuk ini tidak bawa uang!” ujar salah seorang garong itu.

 “Jangan-jangan, kita dibohongi warga di sini. Atau, jangan-jangan orang ini gembel. Tubuhnya gemuk mungkin karena banyak makan angin,” ujar garong lainnya.

 “Mungkin juga. Kita sudah ditipu. Ayo kabur,” ujar garong yang tubuhnya paling pendek.

Belum lagi kaki tiga garong itu melangkah pergi meninggalkan pos kamling, dari balik semak-semak tak jauh dari pos ronda, muncul segerombolan orang yang sudah siap dengan segala macam alat pemukul. Bukan hanya laki-laki, di antara gerombolan itu juga ada ibu-ibu dengan tangan mengepal. Bahkan, ada yang memegang batu seukuran bola plastik anak-anak. Mereka adalah warga desa. Mereka mencurigai gelagat tiga garong tersebut.

Kecurigaan warga ternyata benar. Melihat tubuh penyelamat desa itu digarong, warga langsung naik pitam. Wajah puluhan warga bertambah garang. Nyali tiga garong itu pun makin ciut. Sambil menelan ludah, seorang di antaranya mulai gemetaran. Garong yang memegang golok berusaha membela diri sambil mengacungkan goloknya. Warga makin geram. Tiga garong itu pelan-pelan melangkah mundur. Warga ramai-ramai menggertak, menyuruh tiga garong tersebut menyerah dan membuka topeng sarung yang mereka kenakan.

Namun, tiga garong itu tak mau menyerah, bahkan ikut menggertak dan berusaha menerobos kepungan warga. Tak mau tiga orang itu kabur, warga merangsek. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba puluhan warga tersebut menyerbu. Garong-garong itu berusaha melawan dan menangkis serangan warga. Batu dan alat pemukul lain melayang ke arah kepala garong-garong itu. Golok yang dipegang salah seorang garong tersebut terjatuh.

Warga makin beringas memukuli tiga orang itu hingga tubuh mereka babak belur. Tak lama kemudian, kepala desa, aparat desa, serta polisi datang dan berusaha melerai. Meski pengeroyokan itu dapat dilerai, tubuh mereka sudah babak belur. Mereka terkapar di tanah. Warga diminta bubar, lalu tiga garong itu diangkut ke puskesmas.

Anehnya, meski ada keributan di depan pos ronda, Sukar masih saja lelap tertidur. Keributan yang merusak keheningan malam itu seolah tidak pernah terjadi. Tubuhnya masih membujur hingga matahari terbit di ufuk timur. Warga yang semalam mengeroyok tiga garong di depan pos ronda bergegas melihat keadaannya. Mereka tercengang, tubuh Sukar masih terbujur dalam posisi tidak berubah. Cepat-cepat warga melapor kepada kepala desa. Beberapa warga lainnya mendatangi orang pintar. Mereka pikir, bisa jadi orang yang selama ini sangat dermawan di desanya itu kemasukan roh jahat.

Pos ronda di ujung jalan itu kembali ramai dikunjungi warga desa. Pak kepala desa dan pamong lainnya turut datang melihat kondisi kesehatan lelaki tersebut setelah dua hari tidak terbangun dari tidur. Orang pintar yang diundang warga tiba di pos kamling dengan didampingi pengikutnya.

Orang pintar yang dianggap hebat di desanya itu pun mempersiapkan upacara ritual dengan beberapa sesaji. Asap menebar di sekitar pos kamling. Paranormal tersebut komat-kamit, entah apa yang dilafalkannya. Semula, hanya beberapa orang yang menyaksikan orang pintar itu membangunkan Sukar.

Prosesi pengusiran roh jahat yang hingga di tubuh Sukar berjalan selama lima jam. Selama itu, belum terlihat ada tanda-tanda sang dermawan desa akan terbangun dari tidurnya. Masyarakat makin ramai. Menjelang siang, orang-orang kian berjubel dan berdesakan. Melihat orang-orang kian banyak, orang pintar tersebut mulai khawatir pasien yang ditanganinya itu tidak bisa terbangun dari mimpinya. Gengsi dikatakan dukun kacangan, orang pintar tersebut mengeluarkan seluruh mantra yang dihafalnya. Namun, tubuh Sukar tetap tak bergeser sedikit pun.

 “Sial, roh yang menunggangi bapak ini sangat kuat. Tapi, aku tidak akan menyerah. Nih, rasakan! Ciaaat!” ujar dukun itu sambil memukul-mukul tubuh Sukar dengan selendang. Hingga seluruh tubuhnya dipecut pakai selendang, sang dermawan tak bergerak sedikit pun.

 “Ah, aku tak sanggup, aku tak sanggup! Setan apa yang melekat di tubuh orang gemuk ini. Aduh, aduh,” ujar si dukun sambil memegang dadanya lalu kabur menerobos kerumunan orang yang mengelilingi pos kamling.

Pak kepala desa, pamong desa, prajuru adat, dan puluhan warga di sana terkejut melihat kejadian itu. Mereka tidak menyangka dukun yang terbilang ampuh di desanya tersebut terbirit-birit, tidak mampu melawan tubuh Sukar yang amat gemuk itu.

 “Bagaimana Pak Kades, apa yang kita lakukan sekarang?” ujar salah seorang tokoh masyarakat kepada kepala desa. “Kita sudah pakai segala cara, tapi tubuh Pak Sukar tidak juga bisa dibangunkan,” kata kepala desa.

 “Bagaimana kalau kita panggil dokter atau ambulans,” saran warga lain.

 “Ah, saya rasa percuma. Pak Sukar sepertinya hanya tidur biasa, tapi mungkin terlalu lelap. Jangankan diperiksa, diangkat saja tubuhnya tidak bisa. Aneh, memang aneh,” keluh kepala desa.

Seluruh warga terdiam. Selang beberapa saat, muncul sesosok wanita membawa sebuah koper. Dia langsung memeluk tubuh Sukar. Puluhan warga yang mengerumuni pos kamling itu tercengang. Mereka tidak mencegah wanita itu masuk ke dalam kerumunan dan langsung memeluk tubuh sang dermawan. Tangisnya pecah. Air matanya mengalir. Pak kepala desa dan warga yang berada di sekeliling pos kamling hanya saling pandang.

 “Mas, kenapa harus seperti ini? Lebih baik bangun supaya bisa melihat kenyataan di sekeliling kita. Kau harus berani, berani, jangan berhati lembek,” ujar wanita cantik itu sambil mengguncang-guncang tubuh gemuk sang dermawan.

Beberapa warga yang berkerumun di sekitar pos kamling hendak beranjak untuk menghadang wanita itu, mencegahnya agar jangan mengguncang-guncang tubuh Sukar. Namun, keinginan sejumlah warga tersebut dicegah kepala desa.

Wanita itu lalu menciumnya dan memeluknya erat-erat. Dalam dekapan wanita itu, tiba-tiba Sukar terbangun dari tidur. Dia langsung tersenyum dan melambaikan tangan kepada seluruh warga yang berkerumun di sekitar pos kamling. Warga, kepala desa, dan aparat desa lain hanya terpaku melihat sang dermawan berpeluk mesra dengan seorang wanita cantik.

“Maaf, ini bukan istri saya,” ujar Sukar sambil menunjuk wanita cantik itu, yang masih saja memeluknya. [T]

Rembulan di Bukit Asah | Cerpen Gede Aries Pidrawan
Kebaya | Cerpen Ikrom F.
Kisah Singa dan Kucing Tua | Cerpen Kadek Susila Priangga
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penting, Menegakkan Nilai-Nilai Kesakralan dalam Pertunjukan Seni Calonarang

Next Post

Puisi-puisi Rai Sri Artini | Dokumentasi Minggu Pagi

AG Pramono

AG Pramono

Wartawan, sastrawan, tinggal di Negara, Bali

Related Posts

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Rai Sri Artini | Dokumentasi Minggu Pagi

Puisi-puisi Rai Sri Artini | Dokumentasi Minggu Pagi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan
Esai

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih...

by Agung Sudarsa
June 10, 2026
GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan
Esai

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis...

by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan
Ulas Pentas

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

by Rezky Chiki
June 9, 2026
Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  
Esai

Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni...

by I Nyoman Tingkat
June 9, 2026
Daya Tampung Mahasiswa Undiksha Naik —Bukan Profit Oriented, Tapi Demi Perluasan Akses Pendidikan
Pendidikan

Daya Tampung Mahasiswa Undiksha Naik —Bukan Profit Oriented, Tapi Demi Perluasan Akses Pendidikan

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tahun 2026 ini, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja menyediakan total daya tampung sebanyak 8.484 kursi untuk...

by Wahyu Mahaputra
June 9, 2026
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong
Esai

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

 “Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya. Di sampingnya,...

by Dede Putra Wiguna
June 9, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG

SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 9, 2026
‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa
Pendidikan

‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa

MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan...

by tatkala
June 8, 2026
Sihir Tiga Kode Huruf
Bahasa

Sihir Tiga Kode Huruf

PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara...

by I Made Sudiana
June 8, 2026
I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari
Panggung

I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne,...

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang Digelar BPD IHKA Bali Diikuti 500 Peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam
Pariwisata

International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang Digelar BPD IHKA Bali Diikuti 500 Peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam

Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau...

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co