14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebaya | Cerpen Ikrom F.

Ikrom F. by Ikrom F.
February 18, 2023
in Cerpen
Kebaya | Cerpen Ikrom F.

Ilustrasi tatkala.co | IB Pandit

BAHKAN AIR HUJAN pun tidak bisa mengubah takdir anakku.

“Tapi, ia bisa mengenakan baju kebayamu, bukan?” Begitu kata ibu di telepon. “Jadi bagaimana? Sore ini kau ada di rumah, ya?”

Demi meyakinkan ia bahwa aku menyetujui tawarannya, maka kukatakan, “Ya.”

Sore itu hujan cukup deras, nyaris aku tak mendengar ketukan di pintu. Seperti apa dia sekarang? Sudah lima bulan kami tak bertegur sapa. Mau bagaimana lagi? Perselisihan itu demikian hebatnya. Aku mengikuti keinginan anakku dan ibu tak setuju. Ternyata begitulah; sebagai makhluk dengan banyak dimensi, ibu tahu tentang banyak hal tentang rahasia dunia. Termasuk kebohonganku dan kebiasaan buruk anakku. Dan ia tak bisa mengatakan kepada anaknya yang tetap saja menjalani pilihan hidupnya. Ia terus bertengkar dengan dirinya demi masalah sepele; Ia tak mengijinkan cucunya untuk meninggalkan sifat perempuan desa.

“Aku sudah hidup sebelum waktu berubah!” Begitu keluhnya, “Baru kali ini aku harus menghadapi persoalan seberat ini.” Lalu ia berdecak. “Sudahlah.”

Dan kini ia berdiri di depan pintuku. Air menetes dari rambut yang terurai panjang, dan sebagian celananya tampak basah. Jarak dari tempat ia memakir mobil ke rumahku (aku tak punya garasi) cukup membuatnya basah kuyub dan ibu tidak pernah bergegas. Ia ada sepanjang masa dan tentunya abadi. Untuk apa ia bergegas?

Sebenarnya kami tak akan pernah tahu lagi alasan mengapa kami dulu bertengkar; setidaknya aku merasa tak seharusnya bertindak seperti itu. Ibuku kembali ke wujud aslinya dalam kehidupan sehari-hari, kalau ia tidak sedang bertugas, ia lebih suka tenggelam dalam televisi dan dapur. Ia sungguh menyukai sinetron.

Kalau sudah begitu, seluruh dunia seperti harus menunggu perhatian darinya. Ia tak pernah memperhatikan apa pun ketika tenggelam dalam sinetron di layar televisi. Di televisi misalnya, tentulah ia tidak mencari drama asmara remaja; seperti halnya orang lain, ia menyukai tayangan soal masalah pertengkaran, kejahatan dan perselingkuhan.

Ada kebiasaan ibu yang kusuka tiap kali ia selesai menonton sinetron, terutama masalah film yang ia cintai. Ia akan menyorongkan bibir bawahnya ke depan, mencibir, lalu menggumam.

“Huh. Kenapa dia tak berani melawan? Dan mengapa harus menangis? Jika aku sendiri yang mengalami, pastilah aku pukul orang itu, sampai babak belur kalau perlu.”

Ia sendiri tak pernah mau banyak bicara soal pekerjaannya. Sejak ayah meninggal, ia tak pernah bercerita, apalagi kepada anak satu-satunya.

“Urusan menyiapkan makanan dari dapur dan mencuci baju itu hanya sebagian kecil dari pekerjaanku!” Begitu ia pernah berkata dengan emak-emak saat sedang berkumpul di teras rumah, jauh sebelum pertengkaran tentang kelakuan buruk cucunya. Ia mengusap wajahnya yang berkeringat dengan serbet, yang sebetulnya untuk mengusap piring.

“Kalau kau ingin mau dianggap sebagai perempuan desa, maka kau hanya perlu meniru perilaku layaknya orang-orang desa pada umumnya.” Ia berkata sambil menunjuk sebuah baju kebaya yang tergantung di lemari dengan tangannya.  

“Supaya kau tidak terlihat seperti orang asing, maka kau memerlukan baju-baju khas orang desa yang terjual di pasar. Harganya murah. Dan aku yakin suatu saat, anak cucumu nanti akan menyukainya. Terutama suamimu. Karena itu lebih sopan dibandingkan yang lain.”

Ia lantas mengambil kebaya dari gantungan bajunya. “Ini.” Ia berkata sambil menatapku dengan pandangan yang cemas.

Dan ia hanya menghembuskan nafas.

Aku mengangkat bahu. Tingkah ibu selalu membuatku pusing.

Ibu lalu melanjutkan pekerjannya melipat baju.

“Nak, mungkin aku yang selalu merasa khawatir terhadap kehidupan keluargamu kelak. Aku tidak tahu sampai kapan hidup ini tak ada yang perlu dicemaskan. Ayahmu mungkin akan menertawakanku di sana. Bahwa ibumu belum bisa belajar menerima kenyataan. Jadi, ibu memang perlu memperhatikanmu lebih dalam lagi. Kita perlu membangun janji agar ibu bisa lega. Kehidupan ini selalu diisi oleh orang-orang yang penuh janji,” katanya.

“Barangkali ibumu benar, Da. Di masa depan, kita tidak tahu seperti apa wajah dunia,” kata emak yang lain ikut-ikutan menimpali pesan ibuku.

Dan kini ia berdiri di depanku. Matanya sekilas berkilat merah seperti batu rubi, tapi kemudian kembali menjadi mata manusia biasa. Di tangannya ia meneteng kantong besar warna merah berisi kebaya.

Ia mengangkat kantong besar itu dan menyeringai bahagia.

“Dinda,” katanya, lirih dan hangat. Ini terasa seperti kalau engkau meminum segelas teh panas sesudah hujan-hujanan.

Ia memelukku erat. Dan aku pun sebaliknya. Sudah lima bulan. Aku tidak abadi, aku akan mati seperti manusia lain, itu pun kalau kematianku wajar (dan sialan, ibu tak mau memberitahuku perihal itu); aku akan mati karena usia tua, karena setiap organ dalam tubuhku gagal berfungsi. Lima bulan bagiku adalah waktu yang lama, tapi juga sebentar rasanya. Kadang lebih sebentar lagi jika aku berada bersama anakku yang kini entah di mana.

Sedangkan bagi ibuku lima bulan atau lima puluh bulan sudah tak berarti lagi. Aku tak tahu bagaimana rasanya hidup sepanjang masa.

“Percayalah, kau tak akan mau hidup selamanya.” Begitu ibuku kerap berkata padaku.

Soal keabadian bisa dibahas nanti. Kini tentu saja aku senang bahwa ibu datang. Tiba-tiba kusadari bahwa aku merindukannya dan ingin menceritakan kepadanya banyak hal.

Tapi pertama-tama tentu saja yang kudengar adalah suara terbahak-bahak ibu ketika ia masuk dan melihat kebaya yang lusuh seperti lama tak terpakai. Ada warna hitam kemerah-merahan yang pudar disetiap corak kebaya itu.

 “Kau benar-benar rindu ya,” katanya setelah tawanya reda.

Aku mengangguk. Ya, aku rindu, dan egoku sudah menghalang-halangi diriku untuk memanggilnya. Dan akhirnya, ketika seluruh duniaku seperti runtuh habis-habisan tadi malam, maka aku memanggil ibu. Apa yang akan kuceritakan padanya? Ibu pernah menghadiahi aku sebuah kebaya Jawa peninggalan nenek.

“Karena engkau harus mengenakannya sendiri,” katanya.

“Apapun itu. Aku bisa saja mendandanimu. Karena kau tak bisa bertata rias sebagaimana perempuan-perempuan desa. Sungguh beruntung nenekmu; ada yang masih menjaga kebiasaan keluarganya. Engkau dan anakmu, tak akan pernah seperti itu. Cobalah kau kenakan kebaya itu sekarang, aku ingin lihat.”

Dan tadi malam, kebaya yang sudah tersimpan di antara lemari lain itu aku cari-cari. Aku obrak-abrik seluruh kamarku. Aku jungkirbalikkan semua laci. Aku tak pernah membuang kebaya itu. Semua pemberiannya tak pernah kubuang, juga setelah kami bertengkar hebat tentang anakku.

Beberapa jam tentu saja kutemukan kebaya peninggalan nenek itu. Ia sudah lusuh dan berdebu. Warnanya pun sudah mulai pudar. Malah lebih pudar dengan punyaku juga anakku. Lalu aku seperti bisa mengerti bagaimana menjadi perempuan desa.

Aku baru ingat ketika pertama kali melihat ibu mengenakan kebaya.

“Cantik sekali. Di mana aku bisa mengenakannya, Bu?” Begitu tanyaku karena kebaya yang dipakainya sangat sesuai dengan fisiknya.

“Nanti ibu akan belikan di pasar. Sabar ya,” katanya.

Maka seperti anak kecil yang baru saja dapat baju lebaran, kebaya itu selalu dipandanginya dengan takjub. Sambil menunggu hari esok, ia mulai merenung dan sulit untuk beranjak tidur. Tidak sabar akan suatu hari di mana ia dilihat oleh orang-orang. Termasuk kecantikannya saat mengenakan baju kebaya.

Kini setelah aku mengenakannya kembali, aku tampak seperti gadis. Gila, sulit rasanya menemukan sesuatu yang baru dariku. Lalu kupanggil ibu dan rupanya ia tersenyum. Tapi matanya tetap cemas. Aku pun merasakan yang sama dengan ibu.

“Seandainya anakmu bisa melihat ini, Nak. Mungkin dia tidak akan sepeti itu jadinya,” katanya

Baru kali ini aku setuju dengan ibu. Ya, keburukan anakku adalah ia lebih memilih gaya yang disukainya daripada warisan keluarga. Bahkan air hujan pun tak bisa mengubah takdir anakku. Aku mengangguk dan mulai bercerita,

“Semuanya karena masa depan, Bu. Masa depan adalah wajah suram dan petaka bagi kita.” [T]

Lubangsa, 20 Desember 2022

BACA cerpen-cerpen lain

Rahasia Gambuh | Cerpen Made Adnyana Ole
Bom dan Bapak | Cerpen Surya Gemilang
Palus Bukit Jambul | Cerpen Gde Aryantha Soethama
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Wayan Redika | Pohon Airlangga, Alamat Bapa, Luka Jayadhrata

Next Post

Menjamin Hak Pilih Disabilitas Intelektual pada Pemilu 2024

Ikrom F.

Ikrom F.

Pemuda kelahiran Jember. Saat ini sedang mengabdi di pondok pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Aktif di beberapa komunitas, seperti Komunitas Penulis Kreatif (KPK) Iksaj, IPJ, LPM Fajar dan PMII. IG @ikrom_f1234.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Menjamin Hak Pilih Disabilitas Intelektual pada Pemilu 2024

Menjamin Hak Pilih Disabilitas Intelektual pada Pemilu 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co