3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebaya | Cerpen Ikrom F.

Ikrom F. by Ikrom F.
February 18, 2023
in Cerpen
Kebaya | Cerpen Ikrom F.

Ilustrasi tatkala.co | IB Pandit

BAHKAN AIR HUJAN pun tidak bisa mengubah takdir anakku.

“Tapi, ia bisa mengenakan baju kebayamu, bukan?” Begitu kata ibu di telepon. “Jadi bagaimana? Sore ini kau ada di rumah, ya?”

Demi meyakinkan ia bahwa aku menyetujui tawarannya, maka kukatakan, “Ya.”

Sore itu hujan cukup deras, nyaris aku tak mendengar ketukan di pintu. Seperti apa dia sekarang? Sudah lima bulan kami tak bertegur sapa. Mau bagaimana lagi? Perselisihan itu demikian hebatnya. Aku mengikuti keinginan anakku dan ibu tak setuju. Ternyata begitulah; sebagai makhluk dengan banyak dimensi, ibu tahu tentang banyak hal tentang rahasia dunia. Termasuk kebohonganku dan kebiasaan buruk anakku. Dan ia tak bisa mengatakan kepada anaknya yang tetap saja menjalani pilihan hidupnya. Ia terus bertengkar dengan dirinya demi masalah sepele; Ia tak mengijinkan cucunya untuk meninggalkan sifat perempuan desa.

“Aku sudah hidup sebelum waktu berubah!” Begitu keluhnya, “Baru kali ini aku harus menghadapi persoalan seberat ini.” Lalu ia berdecak. “Sudahlah.”

Dan kini ia berdiri di depan pintuku. Air menetes dari rambut yang terurai panjang, dan sebagian celananya tampak basah. Jarak dari tempat ia memakir mobil ke rumahku (aku tak punya garasi) cukup membuatnya basah kuyub dan ibu tidak pernah bergegas. Ia ada sepanjang masa dan tentunya abadi. Untuk apa ia bergegas?

Sebenarnya kami tak akan pernah tahu lagi alasan mengapa kami dulu bertengkar; setidaknya aku merasa tak seharusnya bertindak seperti itu. Ibuku kembali ke wujud aslinya dalam kehidupan sehari-hari, kalau ia tidak sedang bertugas, ia lebih suka tenggelam dalam televisi dan dapur. Ia sungguh menyukai sinetron.

Kalau sudah begitu, seluruh dunia seperti harus menunggu perhatian darinya. Ia tak pernah memperhatikan apa pun ketika tenggelam dalam sinetron di layar televisi. Di televisi misalnya, tentulah ia tidak mencari drama asmara remaja; seperti halnya orang lain, ia menyukai tayangan soal masalah pertengkaran, kejahatan dan perselingkuhan.

Ada kebiasaan ibu yang kusuka tiap kali ia selesai menonton sinetron, terutama masalah film yang ia cintai. Ia akan menyorongkan bibir bawahnya ke depan, mencibir, lalu menggumam.

“Huh. Kenapa dia tak berani melawan? Dan mengapa harus menangis? Jika aku sendiri yang mengalami, pastilah aku pukul orang itu, sampai babak belur kalau perlu.”

Ia sendiri tak pernah mau banyak bicara soal pekerjaannya. Sejak ayah meninggal, ia tak pernah bercerita, apalagi kepada anak satu-satunya.

“Urusan menyiapkan makanan dari dapur dan mencuci baju itu hanya sebagian kecil dari pekerjaanku!” Begitu ia pernah berkata dengan emak-emak saat sedang berkumpul di teras rumah, jauh sebelum pertengkaran tentang kelakuan buruk cucunya. Ia mengusap wajahnya yang berkeringat dengan serbet, yang sebetulnya untuk mengusap piring.

“Kalau kau ingin mau dianggap sebagai perempuan desa, maka kau hanya perlu meniru perilaku layaknya orang-orang desa pada umumnya.” Ia berkata sambil menunjuk sebuah baju kebaya yang tergantung di lemari dengan tangannya.  

“Supaya kau tidak terlihat seperti orang asing, maka kau memerlukan baju-baju khas orang desa yang terjual di pasar. Harganya murah. Dan aku yakin suatu saat, anak cucumu nanti akan menyukainya. Terutama suamimu. Karena itu lebih sopan dibandingkan yang lain.”

Ia lantas mengambil kebaya dari gantungan bajunya. “Ini.” Ia berkata sambil menatapku dengan pandangan yang cemas.

Dan ia hanya menghembuskan nafas.

Aku mengangkat bahu. Tingkah ibu selalu membuatku pusing.

Ibu lalu melanjutkan pekerjannya melipat baju.

“Nak, mungkin aku yang selalu merasa khawatir terhadap kehidupan keluargamu kelak. Aku tidak tahu sampai kapan hidup ini tak ada yang perlu dicemaskan. Ayahmu mungkin akan menertawakanku di sana. Bahwa ibumu belum bisa belajar menerima kenyataan. Jadi, ibu memang perlu memperhatikanmu lebih dalam lagi. Kita perlu membangun janji agar ibu bisa lega. Kehidupan ini selalu diisi oleh orang-orang yang penuh janji,” katanya.

“Barangkali ibumu benar, Da. Di masa depan, kita tidak tahu seperti apa wajah dunia,” kata emak yang lain ikut-ikutan menimpali pesan ibuku.

Dan kini ia berdiri di depanku. Matanya sekilas berkilat merah seperti batu rubi, tapi kemudian kembali menjadi mata manusia biasa. Di tangannya ia meneteng kantong besar warna merah berisi kebaya.

Ia mengangkat kantong besar itu dan menyeringai bahagia.

“Dinda,” katanya, lirih dan hangat. Ini terasa seperti kalau engkau meminum segelas teh panas sesudah hujan-hujanan.

Ia memelukku erat. Dan aku pun sebaliknya. Sudah lima bulan. Aku tidak abadi, aku akan mati seperti manusia lain, itu pun kalau kematianku wajar (dan sialan, ibu tak mau memberitahuku perihal itu); aku akan mati karena usia tua, karena setiap organ dalam tubuhku gagal berfungsi. Lima bulan bagiku adalah waktu yang lama, tapi juga sebentar rasanya. Kadang lebih sebentar lagi jika aku berada bersama anakku yang kini entah di mana.

Sedangkan bagi ibuku lima bulan atau lima puluh bulan sudah tak berarti lagi. Aku tak tahu bagaimana rasanya hidup sepanjang masa.

“Percayalah, kau tak akan mau hidup selamanya.” Begitu ibuku kerap berkata padaku.

Soal keabadian bisa dibahas nanti. Kini tentu saja aku senang bahwa ibu datang. Tiba-tiba kusadari bahwa aku merindukannya dan ingin menceritakan kepadanya banyak hal.

Tapi pertama-tama tentu saja yang kudengar adalah suara terbahak-bahak ibu ketika ia masuk dan melihat kebaya yang lusuh seperti lama tak terpakai. Ada warna hitam kemerah-merahan yang pudar disetiap corak kebaya itu.

 “Kau benar-benar rindu ya,” katanya setelah tawanya reda.

Aku mengangguk. Ya, aku rindu, dan egoku sudah menghalang-halangi diriku untuk memanggilnya. Dan akhirnya, ketika seluruh duniaku seperti runtuh habis-habisan tadi malam, maka aku memanggil ibu. Apa yang akan kuceritakan padanya? Ibu pernah menghadiahi aku sebuah kebaya Jawa peninggalan nenek.

“Karena engkau harus mengenakannya sendiri,” katanya.

“Apapun itu. Aku bisa saja mendandanimu. Karena kau tak bisa bertata rias sebagaimana perempuan-perempuan desa. Sungguh beruntung nenekmu; ada yang masih menjaga kebiasaan keluarganya. Engkau dan anakmu, tak akan pernah seperti itu. Cobalah kau kenakan kebaya itu sekarang, aku ingin lihat.”

Dan tadi malam, kebaya yang sudah tersimpan di antara lemari lain itu aku cari-cari. Aku obrak-abrik seluruh kamarku. Aku jungkirbalikkan semua laci. Aku tak pernah membuang kebaya itu. Semua pemberiannya tak pernah kubuang, juga setelah kami bertengkar hebat tentang anakku.

Beberapa jam tentu saja kutemukan kebaya peninggalan nenek itu. Ia sudah lusuh dan berdebu. Warnanya pun sudah mulai pudar. Malah lebih pudar dengan punyaku juga anakku. Lalu aku seperti bisa mengerti bagaimana menjadi perempuan desa.

Aku baru ingat ketika pertama kali melihat ibu mengenakan kebaya.

“Cantik sekali. Di mana aku bisa mengenakannya, Bu?” Begitu tanyaku karena kebaya yang dipakainya sangat sesuai dengan fisiknya.

“Nanti ibu akan belikan di pasar. Sabar ya,” katanya.

Maka seperti anak kecil yang baru saja dapat baju lebaran, kebaya itu selalu dipandanginya dengan takjub. Sambil menunggu hari esok, ia mulai merenung dan sulit untuk beranjak tidur. Tidak sabar akan suatu hari di mana ia dilihat oleh orang-orang. Termasuk kecantikannya saat mengenakan baju kebaya.

Kini setelah aku mengenakannya kembali, aku tampak seperti gadis. Gila, sulit rasanya menemukan sesuatu yang baru dariku. Lalu kupanggil ibu dan rupanya ia tersenyum. Tapi matanya tetap cemas. Aku pun merasakan yang sama dengan ibu.

“Seandainya anakmu bisa melihat ini, Nak. Mungkin dia tidak akan sepeti itu jadinya,” katanya

Baru kali ini aku setuju dengan ibu. Ya, keburukan anakku adalah ia lebih memilih gaya yang disukainya daripada warisan keluarga. Bahkan air hujan pun tak bisa mengubah takdir anakku. Aku mengangguk dan mulai bercerita,

“Semuanya karena masa depan, Bu. Masa depan adalah wajah suram dan petaka bagi kita.” [T]

Lubangsa, 20 Desember 2022

BACA cerpen-cerpen lain

Rahasia Gambuh | Cerpen Made Adnyana Ole
Bom dan Bapak | Cerpen Surya Gemilang
Palus Bukit Jambul | Cerpen Gde Aryantha Soethama
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Wayan Redika | Pohon Airlangga, Alamat Bapa, Luka Jayadhrata

Next Post

Menjamin Hak Pilih Disabilitas Intelektual pada Pemilu 2024

Ikrom F.

Ikrom F.

Pemuda kelahiran Jember. Saat ini sedang mengabdi di pondok pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Aktif di beberapa komunitas, seperti Komunitas Penulis Kreatif (KPK) Iksaj, IPJ, LPM Fajar dan PMII. IG @ikrom_f1234.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Menjamin Hak Pilih Disabilitas Intelektual pada Pemilu 2024

Menjamin Hak Pilih Disabilitas Intelektual pada Pemilu 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co