12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rahasia Gambuh | Cerpen Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
December 31, 2022
in Cerpen
Rahasia Gambuh | Cerpen Made Adnyana Ole

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

Sigra, sigra…
Medal sira sang prabu Rewana
Tan ana waneh
Sigra, sigra…

PANGGUNG menyala. Tubuh Rahwana, dari belahan tabir, terlontar ke tengah arena. Hentakan tarian Rahwana begitu keras, pesona kesaktiannya menyihir mata penonton yang tatapannya menyembur ke tengah arena. Mata penonton pun menyala bagai lubang tungku.

“Aku tidak bisa! Aku tidak bisa memperkosanya! Iiihhh…!”

Suara Rahwana bagai bulan terperosok. Buuummm…!

Para raksasa, yang sejak tadi sibuk berdiskusi tentang rencana kerusuhan, tiba-tiba terkesiap seperti pantat tersengat semut. Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin raja raksasa, arsitek dari segala strategi kejahatan itu tak bisa memperkosa seorang wanita?

Ah, alangkah mujurnya Dewi Sita!

Panggung menyala. Seluruh mata raksasa padam. Gamelan merintih. Hati penonton berdesir seakan merasakan bibit-bibit bencana merayap dalam aliran darah.

“Betapa tak tega, betapa tak tega aku memperkosa Sita. Lagipula kenapa harus kuperkosa, toh dia akan jadi istriku! Iiihhh…!”

“Istri? Ah, paduka teramat yakin. Padahal perang belum lagi dimulai!”

“Iiihhh…! Kalian ragu, ah?” Rahwana marah. “Apa para raksasa sangsi pada kesaktianku? Apa artinya Rama bagiku? Apa artinya Laksmana? Apa artinya Hanoman, apa artinya pasukan kera, pasukan kera-kera kere yang hanya memiliki suara-suara? Iiihhh…!”

Panggung menyala. Bagai lubang tungku, tatapan para penonton kembali menyala. Begitulah. Ketika Rama, Laksmana, Hanoman dan pasukan kera menyerbu ke tengah Kota Alengka, ternyata Rahwana tetap tenang. Ia begitu andal pada kesaktiannya.

“Bagaimana mungkin suara-suara bisa membunuhku! Iiihhh…!”

Panggung menyala. Dan penonton segera tahu, Rahwana terdesak oleh suara-suara kera, lantas Rama, dengan gaya seorang ksatria sejati, memasang anak panah di lengkung busurnya.

“Ihhh…! Rama, betapa hinanya kau! Jika aku mati, malam bakal terang. Lalu apa gunanya siang? Matahari bakal percuma, dan bulan berkabung. Dunia melongo, dan kau akan meratapi kekeliruanmu seumur hidup. Aku, aku sang raja raksasa. Para dewata menugasiku bikin onar, menculik, menggarong, korupsi, kolusi, merancang kerusuhan, merongrong kekayaan negara, memperkosa istri orang, memperkosa hak rakyat. Bagaimana kau bisa menyalahkan aku? Bahkan istrimu, istrimu yang mempesona itu, masih belum tega kuperkosa padahal sudah seharusnya kulakukan!”

Panggung menyala. Tatapan mata Rama, yang semula meruncing di ujung panah, tiba-tiba redup. Dan hati penonton berdesir seakan merasakan bibit-bibit bencana berkembang biak dalam dirinya.

Panggung menyala. Tubuh Rama ambruk di tengah arena. Panggung menyala. Tawa Rahwana lantas bergema. Bergema seperti lagu pesta berjuta-juta raksasa.

*

DUNIA menyala. Mata Wak Miki memang menyala, tapi sinarnya buram seperti lampu teplok. Maklum, umurnya 60 tahun. Berarti telah begitu sering ia memperalat matanya untuk mengupas rahasia-rahasia perkembangan alam.

Apalagi pagi itu. Lihatlah. Dalam pusaran hawa segar, tubuh Wak Miki ternyata menggeliat seperti sinar matahari senja. Gesekan badannya lamban, seakan tak rela. Sementara tangan bututnya tampak merayap berkali-kali di keningnya. Gelisah.

“Kenapa Rahwana kau biarkan hidup?”

Pertanyaan itu seakan mengadilinya. Sebagai kelian sekeha sekaligus pemeran tokoh Rahwana dalam gambuh yang dipentaskannya tadi malam, atau pada malam-malam sebelumnya, ia sesungguhnya berhak acuh tak acuh. Atau, jika mau, ia bisa menjawab dengan ketus, “Aku yang berkuasa dalam kelompok kesenian ini, aku yang berkuasa mengubah jalan cerita, lantas apa maumu?”

Tapi Wak Miki tak bisa. Sebab sebelum pertanyaan itu meluncur dari mulut penduduk Desa Galuh, tempat di mana Wak Wiki lahir dan tumbuh, sekaligus tempat kesenian gambuh itu sekarang, ia sesungguhnya telah lama mengadili dirinya sendiri, kenapa Rahwana dibiarkan hidup?

“Kenapa Rahwana kau biarkan hidup?”

Pertanyaan itu kian melimpah. Tadi, pagi-pagi sekali ia didatangi kelian desa adat. Datang dengan mata nyalang, kelian itu cuma bertanya kenapa Rahwana, dalam setiap pementasan gambuh selalu dibiarkan hidup.

“Filsafat wayang itu luhur, Wak! Jangan main-main! Orang-orang di desa kita, kau tahu, penghayatan agamanya sangat kuat. Mereka telah nyaman, mereka khusuk, jangan kau kacaukan!”

Besar dan beratnya suara kelian desa adat memaksa kuping Wak Miki untuk mengembang, sehingga lelaki tua itu berkali-kali menggeleng seakan mau melontarkan daun telinganya, yang beratnya terasa seperti anting-anting batu karang, ke atas bumi. Ya, mau berbuat apa lagi? Kalimat yang lugas untuk menyanggah, atau cara lain untuk menyatakan setuju, tidak ia temukan di balik otaknya yang tercilik sekalipun. Apalagi, jika berterus terang, ia sesungguhnya juga tak bisa mengerti tentang apa yang telah ia kerjakan di dunia seni tradisional yang, oleh penduduk desa, telah dianggap bagai dewa itu. Maka, ketika orang yang ia hormati itu nyerocos, hati Wak Miki seakan makecos, meloncat-loncat entah ke mana.

Sampai kelian desa adat itu permisi, dapat diduga, Wak Miki cuma gasar-geser pantat. Ambiennya mendadak kumat. Namun saat tubuh tetua adat itu menghilang di tikungan jalan, ia merasa menyesal juga, kenapa dari mulutnya tak tumbuh sepotong kalimat pun. Apakah ia memang pantas tidak membela diri? Ia cemas, jangan-jangan tingkahnya membikin Pak Kelian marah. Padahal kelian desa adat yang sepatunya berkilat-kilat bagai pejabat birokrat itu mengayun langkah dengan rasa lega. Demi menyaksikan geming Wak Miki, beliau berpikir, bagaimana mungkin seniman desa yang lugu itu tak bakal menghiraukan petuahnya. Mana berani dia. Sebab beliau merasa, dengan agak sombong, wibawa suaranya sudah dipasang sedemikian dahsyatnya.

Ah, dunia memang menyala. Tapi alam pikiran manusia seperti semak hutan, seperti kayonan, seperti gunungan, penuh pohon, penuh ranting, penuh bayangannya.

*

PANGGUNG menyala. Di tengah arena, raung Rahwana berserakan hingga ke sudut-sudut panggung yang kasat mata. Dan mata penonton, yang tatapannya membidik ke tengah arena, juga menyala bagai tungku terbakar.

“Aku tak paham, aku tak paham kenapa suara-suara kera bisa memojokkan raja raksasa, raja raksasa yang sakti mandraguna sekaliber aku! Iiihhh…!”

Panggung menyala. Seluruh mata kera bersinar. Gamelan merintih. Dan hati penonton berdesir seakan merasakan pohon bencana tumbuh dalam dirinya.

“Apa karena aku tak begitu peduli dengan suara-suara? Sebesar apapun gaungnya? Iiihhh…!”

Pasukan kera bersorak. “Ya, seperti itulah, raja serakah! Seperti itulah nyatanya!”

Panggung menyala. Gemuruh sorak pasukan kera mulai membanting-banting telinga Rahwana. Dan penonton segera tahu, ketika Rahwana kebingungan, lantas Rama, dengan gaya seorang ksatria sejati, memasang anak panah di lengkung busurnya. Rahwana terpesona. Dan, ya ampun, raja raksasa itu lagi-lagi memelas.

“Ihhh…! Rama, betapa hinanya kau! Aku telah mati sebelum ujung anak panahmu menembus dadaku. Apa kau tak sungkan? Aku memang kalah. Tapi sesungguhnya kau lebih kalah, karena suara-suara kera ternyata lebih sakti dari senjata klasikmu itu. Ah, betapa terhinanya ujung runcing panahmu jika harus menembus dada raksasa yang tak berdaya, yang sudah tak berdaya oleh suara kera! Iiihhh…!”

Panggung menyala. Tatapan mata Rama, yang semula terpusat di runcing panah, tiba-tiba redup. Dan hati penonton berdesir seakan merasakan pohon bencana bercabang dalam dirinya.

Panggung menyala. Tubuh Rama roboh di tengah arena.

Panggung menyala. Tawa Rahwana lantas bergema. Bergema seperti lagu pesta bermiliar-miliar raksasa.

*

DUNIA menyala.

“Kenapa Rahwana masih kau biarkan hidup?”

Wak Miki masih belum menjawab. Bahkan ketika Ratu Pedanda dari Griya Margarana juga menusuknya dengan pertanyaan serupa, ia cuma menunduk seperti membuang kepalanya hingga menggelinding di atas bumi. Sebab ia juga tak mampu membaca pikirannya sendiri. Fantasinya sedemikian galak. Bahkan teramat galak sehingga ia sendiri merasa diterkam bertubi-tubi.

“Dunia wayang itu dunia kehidupan kita, Wak! Ceritanya adalah cerita kita. Hanya orang suci yang berhak mengubahnya! Kau jangan congkak, kau jangan ciptakan cerita kehidupan yang baru dengan mengacaukan tatanan cerita lama! Bisa-bisa ceritamu malah membikin umat manusia jadi rapuh. Ya, rapuh! Karena pegangannya telah kau jungkirbalikkan!”

Kali ini Wak Miki benar-benar ingin mencopot kepalanya, lalu melemparkannya sampai tertimbun di bak sampah. Baginya, Ratu Pedanda, pendeta brahmana yang pengetahuan agamanya melimpah seakan memenuhi buana itu adalah manusia setengah dewa. Ia menghormatinya, seperti menghormati dewa. Apalagi, secara formal, meski tak pernah tercatat, Ratu Pedanda, oleh penduduk desa telah dianggap sesepuh sekaha gambuh yang dipimpinnya.

Dari kesaktian Ratu Pedanda itulah riwayat gambuh di Desa Galuh bisa dilacak, lalu dilestarikan hingga kini. Dalam sebuah upacara suci Ratu Pedanda melakukan puja semadi agar secara gaib sejarah kesenian gambuh itu bisa diketahui. Usai semadi, Ratu Pedanda menceritakan gambuh itu telah ada sejak Desa Galuh berdiri, ketika alam masih polos seperti gadis perawan telanjang. Lekukan sungai, danau dan gunungnya masih mulus dan suci. Pokoknya, meski dihitung dengan hitungan abad, usia gambuh itu tak bisa disebutkan, seperti menghitung pasir di pantai lepas.

“Para Dewa menciptakan kesenian bagi kita. Seperti menciptakan cermin untuk kita bersuluh!” kata Ratu Pedanda dengan nada suara bagai dewa.

Proses regenerasi dan pelestarian kesenian gambuh itu sendiri cukup aneh. Semuanya bertopang pada kekuatan gaib. Jika kelian sekeha meninggal, maka pas sebelum menghembuskan napas terakhir, dari mulutnya akan merembes semacam busa bening berbau harum. Busa itu kemudian dihirup oleh seorang penduduk, seseorang yang sebelumnya telah ditunjuk oleh tokoh-tokoh adat dan tokoh-tokoh agama Desa Galuh melalui musyawarah. Atau jika penggantinya tak ditemukan dangan cara musyawarah, .warga akan melakukan upacara nyanjan untuk minta petunjuk atau wangsit para dewa. Pasti, mereka akan mengikuti wangsit itu. Biasanya, wangsit disampaikan oleh penari yang kerauhan saat menari dalam upacara nyanjan. Jika seorang sudah ditemukan, maka orang itu akan menghirup busa yang keluar dari mulut kelian sekaha yang sudah meregang dalam sakratul maut. Orang itu otomatis akan terbaptis menjadi kelian sekeha dan sekaligus bakal tiba-tiba saja bisa menari dan memerankan tokoh Rahwana dalam pementasan gambuh. Jika tokoh Rahwana telah ditentukan, maka menentuka tokoh lain biasanya jauh lebih mudah.

“Menari itu sebuah kesaktian, seperti kesaktian Rama atau Rahwana, Wak! Ia bisa memainkan dunia. Kalau perlu, ia bisa membalikkan arah matahari!”

Wak Miki tak pernah tahu, dan tak pernah ingin bertanya, generasi kelian ke berapakah yang ia pangku saat ini. Yang ia ingat, 30 tahun lalu ia telah menghirup busa yang memancar dari mulut Wak Yasa, pamannya sendiri. Dan yang ia herankan, sungguh, saat ini, saat ia memimpin sekeha itu, cerita wayangnya yang telah dipertahankan masyarakat Desa Galuh selama bertahun-tahun tak mampu ia kendalikan. Cerita itu liar, dan ia tak bisa menjinakkannya.

Ah, betapa gundah batin Wak Miki!

“Itu karena bukan kau yang memainkan dunia, Wak. Bukan kau yang membalikkan arah matahari, tapi kau sendiri telah dipermainkan dunia!” Ratu Pedanda memandang Wak Miki dengan mata aneh. “Jadi, hati-hati, Wak!”

Wak Miki menggulung-gulung ujung sarungnya yang putih kumal dengan tangannya yang butut, dan ia merasa hatinya dipilih-pilih: nyeri bercampur malu.

*

PANGGUNG menyala. Rahwana ternyata masih hidup. Gema tawanya seperti lagu pesta di negeri yang dipenuhi raksasa.

*

DUNIA menyala.

“Wak Miki, keluar kau!”

Terdengar pintu digedor. Wak Miki sebenarnya mendengar gedoran itu, tapi ia enggan bangun. Tubuhnya teramat letih.

“Kalau tak mau keluar, kami dobrak pintu ini! Ayo, keluar, Wak Miki! Keluar kau!”

Pintu didobrak. Daun pintu yang sesungguhnya sudah rombeng itu rebah tak berdaya.

“Bangun, Wak, bangun! Kau terpaksa diamankan!”

Wak Miki gelagapan. Bangkit dengan tubuh yang amat letih. “Apa salah saya?”

“Kau telah menyebarkan ajaran sesat! Jika ini dibiarkan masyarakat bisa resah. Jadi terpaksa kau diamankan!”

“Ajaran yang mana?”

“Ah, jangan mangkir! Gambuh yang kau pentaskan tadi malam itu mengandung ajaran sesat. Masa kau bikin Rama bertekuk lutut di hadapan Rahwana yang jelas-jelas jahat?! Itu sesat, tahu?”

Wak Miki dengan tubuh letih berupaya membela diri, tapi petugas berpakaian ketat itu tak memberinya kesempatan. “Nanti jelaskan di kantor,” kata seorang petugas membentak.

Dunia menyala. Tubuh Wak Miki yang keropos itu dilemparkan ke bak truk yang kumuh dan tak pernah dicuci. Wak Miki merintih seperti suara gamelan yang rapuh. Tapi ketika meluncur di jalan desa yang berbatu, truk tiba-tiba dicegat sekawanan kera di tengah jalan. Sekawanan kera liar itu begitu saja menerobos dari hutan di pinggir desa, lantas menyerang petugas-petugas berbaju ketat itu dengan beringas. Suaranya bising. Para petugas menjerit, kemudian lari lintang pukang meninggalkan Wak Miki yang masih meringkuk dalam bak truk.

Wak Miki kemudian tersenyum. Ia seolah-olah mengerti dan memahami tentang peristiwa yang baru saja dilihatnya. Ia mendesah sembari memperhatikan punggung-punggung sekawan kera yang kembali menerobos masuk hutan. “Ribuan kera, di dunia yang menyala tak ingin kehilangan teman. Ribuan kera di panggung yang menyala tak ingin kehilangan musuh,” bisiknya.

Betapa aneh. Dunia memang seperti gunungan, rumit penuh bayangan.

*

PANGGUNG menyala. Masih seperti biasa. Tubuh Rahwana meluncur ke tengah arena. Dan mata penonton, yang tatapannya membidik ke tengah arena, semakin menyala seperti lubang tungku meledak.

“Aku tak terkalahkan! Tak terkalahkan! Lihat! Iiih…!”

Suara Rahwana bagai matahari pecah. Meletus. Pasukan Sang Rama, yang sejak tadi melongo dengan mulut dan mata kosong, tiba-tiba terkesiap seperti mata tertusuk panah. Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin raja raksasa, sumber dari segala sumber bencana itu tak bisa mereka kalahkan? Bukankah Rama dan sekutunya para titisan dewa? Bukankah senjatanya demikian sakti? Bukankah kebenaran mesti ditegakkan?

Ah, alangkah mujurnya kebatilan!

Panggung menyala. Seluruh mata dari seluruh pasukan Sang Rama seakan padam. Gamelan merintih. Sungguh-sungguh merintih seperti peri mematahkan sayap. Dan hati penonton berdesir seakan merasakan buah bencana jatuh dalam diri mereka.

Panggung menyala. Tawa Rahwana bergema. Bergema seperti lagu pesta di negeri raksasa.

Panggung menyala. Lalu, “Dooorrr! Dooorrr! Dooorrr!”

Beberapa kali terdengar letusan, seperti terdengar dari langit. Tiba-tiba, di tengah arena, tubuh Rahwana terkapar. Darah merah merayap di atas tubuhnya, di atas arena, di atas bilah-bilah gamelan, di atas tabir yang masih terbuka. Benar-benar darah. Darah merah.

*

DUNIA menyala. Tubuh Wak Miki yang sekarat berlumur darah dibaringkan di lantai kantor Balai Desa, tempat terdekat dari lokasi pementasan gambuh yang mengalami musibah mengerikan itu. Napas kelian sekaha yang dadanya bolong-bolong diterjang peluru panas itu terdengar masih berhembus, meski satu persatu, dan lamban.

“Cepat, siapkan generasi baru, sebelum Wak Miki melontarkan napasnya yang penghabisan!” pekik Kelian Adat dengan suara serak kebingungan. Orang-orang saling tunjuk, saling tuding, saling mengajukan diri, dan ada yang saling berkelit.

Tapi di tengah kegaduhan yang meruyak itu, seketika orang-orang dikagetkan oleh kejadian aneh. Sungguh aneh. Dari bibir Wak Miki yang kering dan keriput itu menjulang asap putih — jadi bukan semacam busa berbau harum seperti biasanya. Asap putih itu menggeliat. Menggeliat seperti asap panas yang melejit dari moncong pistol yang baru ditembakkan.

Asap itu terbang, merambat dan menyerbu segala ruangan. Tanpa sadar semua menghirupnya. Semua orang, tanpa mampu menghindar, menghirup asap putih itu. Semua orang, tidak saja orang-orang di Desa Galuh, tapi juga orang-orang di seluruh dunia.

Kemudian semua orang merasa jadi kelian sekeha gambuh, semua orang langsung bisa memainkan tokoh Rahwana. Dan sialnya, semua orang juga, seperti Wak Miki, tak mampu menjinakkan cerita yang galak, sehingga bertubi-tubi ingin menerkam diri mereka sendiri.

Denpasar, Mei 1997

Catatan:

Gambuh : seni pertunjukan klasik Bali, biasanya memainkan kisah-kisah panji dalam pementasannya, namun dalam cerpen ini gambuh direkayasa memainkan kisah pewayangan
Kelian sekaha : ketua group/kelompok
Kelian desa adat : ketua adat
Nyanjan : upacara suci, biasanya untuk memilih ketua adat dan sejenisnya melalui petunjuk gaib
Kerauhan : trance

*Cerpen ini diambil dari buku kumpulan cerpen Padi Dumadi (Buku Arti, 2007)

[][][]

KLIK untuk BACA cerpen-cerpen lain

Improvisasi Tokoh 1 | Cerpen Nyoman Sukaya Sukawati
“Sakit Gegaen Anak” | Cerpen Putu Arya Nugraha
Luh Jalir | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: CerpenMade Adnyana Ole
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Baik atau Buruk Nilai Rapor itu, Libur Panjang adalah Reward Bagi Semua Siswa

Next Post

Puisi-puisi Jong Santiasa Putra | Ayam Tepung Sambel Wijen

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Jong Santiasa Putra |  Ayam Tepung Sambel Wijen

Puisi-puisi Jong Santiasa Putra | Ayam Tepung Sambel Wijen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co