24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Jong Santiasa Putra | Ayam Tepung Sambel Wijen

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
December 31, 2022
in Puisi
Puisi-puisi Jong Santiasa Putra |  Ayam Tepung Sambel Wijen

Jong Santiasa Putra

AYAM TEPUNG SAMBEL WIJEN

Menjelang Nyepi 1944, malam mampir ke rumah
seluruh keramaian sudah kutitipkan
kepada pemuda-pemuda setengah kepayang di pinggir jalan
mereka sedang membakar waktu, satu persatu
isi kepalaku bisa jadi puisi, jika api sisa bakaran itu
menerangi penyap-panjang dan lengang.

“Lapar Jong? kami masak, tunggu saja sebentar,” kata ayahmu

Sepasang suami istri, menumis cemas di atas teplon
suami mengulek sambel wijen,
isiannya: 2 buah cabe-usahakan berwarna merah batu saga
sejumlah bawang putih bersih, tanpa bercak air hujan
sederet riuh gamelan sumbang, di kejauhan
lalu diulek, selaras langkah kecil Malika
meniru ogoh-ogoh dinosaurus warna hijau
memporak porandakan rumah-rumah di kota.

Setelah tepung selesai diadon, ibu menggoreng dengan seksama
memikirkan harga hidup, seperti daftar belanja setiap bulan
jika coklatnya sematamu, angkatlah lalu tiriskan
jangan lupa memotongnya-persekian detik
biarkan udara dipenuhi bumbu-bumbu
tetangga tidak akan protes,
mereka sedang menikmati peran
jadi turis tersesat di pantai kuta yang sepi

Aku menunggu di meja tamu
kursi kosong, dinding bergerak cepat pada menit-menit
meja sunyi tanpa basa basi,
anakmu sedang menari di udara, berkebaya putih
ia seperti peri lampu-lampu merkuri

Lika, tadi Om Jong melihat kata-kata tak berdaya di trotoar
mungkin mereka lupa makan, atau tak bawa bekal perjalanan
kamu kan peri, bisakah membuat keajaiban?

Semua hidangan sudah disaji
kami makan sambil larut
di atas piring masing-masing.

Maret 2022

RUMAH DAN MUNGKINAN DARIMU

Mungkin rumah terbaik itu adalah…
kamu yang berlari di atas garis lantai
memakai baju putri, warna merah muda
kemudian melompat ke atas sofa merah
berpura jadi manusia laba-laba
sedang mengintip nyamuk di atas kepalaku-bertengger.

Mungkin, rumah ternyaman itu adalah…
melihat kamu meniru tokoh kartun di televisi
bermain gitar tanpa dawai, membaca lirik terbata-bata
menyuruhku berpaling dengan cemberut
karena gerak gerikmu rahasia
seperti permainan petak umpet di sore hari
aku bersembunyi di matamu
kamu menyelinap di jendela
jadi bulir-bulir hujan, turun perlahan-sejuk

Sekali lagi, mungkin rumah terlucu itu adalah…
saat kami bertiga menerjemahkan senyum pagimu di atas meja makan
sambil mencari kesamaannya, antara nasi goreng bumbu ayam
atau macaroni bawang putih, bekal sekolahmu
aku bilang, senyummu kurang asin
lalu ayahmu menambahi gula,
ibumu mengurangi waktu tidurnya.

Pernah, kamu tidak di rumah
kami bertiga sibuk saja di atas kertas
menggambar kata-kata, mencurangi pekerjaan
tidak ada kemungkinan-kemungkinan yang terjadi
sebab asal pemungkinan itu selalu dari pipi mungilmu, Lika.

Maret 2022

3 IKAN DI DALAM BOTOL PLASTIK

Pada satu bulan yang penuh wajahmu
aku mengajak pergi mencari ikan-ikan kecil
Lala, Lulu dan Lele namanya
di dalam botol kecil, pengap dan gerah
aku yakin kamu belum pernah merasa tersesat dan hampa kan?
setiap hal yang kamu temui adalah pertanyaan
setiap pertanyaan adalah kejujuran
tapi kejujuran hanya milik ramalan, Lika
aku tak pernah diramal, seusiaku hidup terasa lebih nikmat
tanpa tanda seru, tanpa titik di ujung kalimat.

Di perjalanan pulang
kamu menghitung berapa jumlah awan di langit
jika hitungan salah, kamu cemberut
lalu mengigit pipiku tanpa aba-aba
begitu seterusnya, hingga kita menemukan satu kesimpulan
awan bisa menyatu dengan bentuk lain
makanya hitunganmu selalu salah,
dan pipiku sudah memerah.

3 ikan masih di dasbord mobil
kita berjanji akan melepasnya ke sungai dekat rumah
tapi kamu takut ia tidak mampu berenang mengikuti arus
atau ikan yang lebih besar akan memakan mereka
tenang saja, ada batu-batu melindungi mereka
batu besar yang selalu menunggu si pemancing
Seseorang selalu datang, menatap sungai
menghitung lompatan ikan-ikan,
di hari tertentu ia juga ikut berenang
menjadi ikan kuning bersirip tajam
saat bulan purnama penuh di wajahmu
seseorang itu tidak pernah datang lagi.

Katamu, ia sudah bertemu Lala, Lulu dan Lele
menjadi ayah yang baik bagi mereka.

Mei 2022

SEBAGIAN PUISIKU SALAH ALAMAT

Ibumu selalu rajin mengirim video atau pesan suaramu
“Om jooooong, jalan-jalan ke mana?”
Satu pesan suara kuuingat, saat itu aku sedang melaju
mencari sebagian puisi- sengaja ku kirim lewat jasa pengiriman barang
tapi aku lupa, untuk siapa sebagian puisi itu dialamatkan.

Tidak mungkin aku menjawab
“Om Jong sedang jalan-jalan mencari puisi yang salah alamat”
suatu saat nanti pasti kamu paham maksudnya
belum sekarang, waktu masih di tangan untukmu.

Saat itu hampir semua teman aku kabari
apakah ada paket untuk mereka,
tiba dengan sepucuk bunga layu di depan amplop
belum ada yang membalas pesan,
rupanya siang ini orang-orang sedang bekerja
aku tidak tahu kunci kepala mereka
untuk membuka pintu, perlu lebih dari satu kunci.

Kemudian ibumu mengirim fotomu lagi
berjongkok bermain tanah, dengan baju warna jingga
sejengkal bayang pohon jatuh di samping
seiring matahari bergerak, bayang itu memintas di rambutmu
mata kecil memicing, alisnya mengerjit, mulutnya protes
“Tidak adakah matahari tanpa bayangan?”

Aku jadi ingat, puisi-puisi memiliki bayangan
ia jatuh di lembar berikutnya, saat puisi pertama selesai ditulis
biasanya aku selalu mengikuti bentuknya,
menebalkan dengan pulpen warna merah
setiap jejak, beda bentuk, sampai-sampai aku lupa
puisiku tidak lagi berupa kata-kata, hanya bayangan.

“Ika mau ke Balizoo, mau belenang, mau pergi banyak-banyak, om jong mau ikut?”
Pesan suaramu lantang
sayang aku lagi sibuk mencari alamat
besok, jika sebagian puisi sudah kutemukan
kubawakan sepasir putih dari sanur
rumah rumput laut menyembunyikan anak-anak kepiting
tempat perahu-perahu nelayan ditambatkan
saat aku dan beberapa kawan ayahmu,
menanyakan laut dan ombak yang tidak selalu sepakat.

Mei 2022

SEPERTI DI AWAL

Lika, kamu percis ibumu
suka menata barang dengan presisi, komposisi yang sismetris
Ibumu pernah memindahkan bantal tidurku
saat bantal itu aku tinggal sebentar
untuk meminjam mimpi penjaga gerbang perumahan
mimpi itu sudah di tangan, tapi bantalku tersusun rapi ke tempatnya
akhirnya aku tidur di karpet depan tv
sambil melihat-lihat apakah mimpi digenggamanku-bisa kugunakan
ada matanya yang sayu, kulitnya hitam perak,
tubuhnya terkulai begitu saja di lantai pos jaga.

Pernah kamu menata mainan di atas sofa
ada jagung, wortel, telur, kursi, meja, boneka, pisau
potongan lego, serta benda-benda kecil warna-warni
aku datang mengambil satu wortel
katamu: tidak ada yang bisa mencuri wortel, selain rabbit
berkaki empat, melompat bagai kilat.

Wortel kamu tata lagi, sesuai tempat awalnya
berulangkali tanganmu tampak cemas,
aku akan memindahkan mainanmu ke tempat lain
lebih baik diam saja, sambil melihatmu mengucapkan mantra
entah itu percakapan, monolog, jelasnya matamu berbinar
saat boneka berhasil meminum teh racikan crayon ungu
dan gula yang jatuh dari lentik bulu matamu.

Kemudian aku membuat satu lakon
tentang anak babi yang ingin pergi jalan-jalan
Aku lupa, kamu memerankan apa?
kita berdua menjadi kecil di kamar si babi
mencakapkan pertemuan, berkenalan,
lalu ngeloyor memasak kentang goreng
untuk kudapan tamu sepertiku.

Si babi pulang, kembali lagi kita berdua jadi pendongeng
mengisahkan ia yang baru saja bertemu naga di tengah perjalanan
suaraku seperti naga mengaum, kamu ketakutan
berlari ke meja makan, menjadi patung-patung mainan
pementasan kecil itu selesai,
kita merapikan barang berdua
sesuai tempat awal, tanpa miring sedikitpun.

Persis ibumu.

SEDANG MENCUCI

Sabun berbusa putih di wastafel
baju ungu dan kamu tenggelam jadi buih
ini bantalan sepatu kotor
di cuci segera, agar kutu-kutu tak bersarang.

Ayahmu juga mencuci kerangka sepeda
kerak-kerak dipuas agar kinclong silau
warna perak seperti superhero
sepeda untuk mengayuh bulan
bukankah kamu suka bintang-bintang
saat tidur kita sering menghitungnya
tapi kamu selalu lupa bintang mana yang jatuh
bulan mana yang tidak pernah sembunyi di rambutmu.

Ibu juga sedang mencuci,
piring, sendok, garpu, asbak dan perih
luka di tangan, tangis bergumpal-gumpal
di pipa-pipa pembuangan.
busa ibu tidak putih, tapi agak coklat
tubuhnya dari tanah, rambutnya dari padi
kamu jadi burung-burung,
beranak pinak di atas kepalanya.

Lika sedang mencuci kaki
mau tidur, seekor panda berbaring di bantal
apakah matanya sudah menghitam?
pohon bambu menderu sore-sore
apakah bulunya masih putih?
jika belum, Lika mau mencucinya di wastafel.

Juni 2022

MEJA BIRU TENGAH HARI

Di atas meja biru, Lika minum teh
ada boneka warna ping, ada bentuk Beruang
aku berperan sebagai boneka Gajah

Wortel kuning, telur asin–sarapan Ayah
ayam goreng, kentang rebus–makan siang Ibu
kita berdua sudah memasak malam
merebus awan-awan jadi hidangan penutup.

Jemari kecilmu melompat seperti kelinci
kata-kata ragu dari bibir mungil,
mengucapkan selamat tidur kepada setiap orang
aku tetap jadi Gajah
sambil mengibaskan hidung ke langit-langit
mencium aroma asing, dari seorang tamu.

Kata Lika, itu Om Ika jadi kunang-kunang
Om Bolon seperti kupu-kupu
tapi siapa ini? laron-laron seperti kereta api
ujung lubang tembok semut merah
mereka menawar malam,
agar datang dua hari sekali.

Meja biru tengah hari
Lika sendiri di kamar, lampu pendar
bayang-bayang hutan rumah si Beruang
Ping ingin ikut memanjat pohon
melihat laut dari ujung ranting
apakah kita selalu merasa kita?

Ia bangun menuju ruang tengah
menegurku untuk menyiapkan teh di meja
tapi hari ini giliran Ayah, bukan Ibu
siapa itu di balik pintu?
mengendap jejak-jejak cicak
kehilangan anak-anaknya.

Juni 2022

MIE PANGSIT AWAL BULAN, DI ATOOM BARU

Tiga pangsit di atas mie
kuah bening warisan keluarga
kaldu-kaldu di mulut kami melintas
seperti sejarah panjang jalan Gajah Mada

Lika melahap satu penuh
tusuk di ujung sumpit merah
mie panjang halus, ditiup-tiup agar cepat dingin
tak ada angin di depan trotoar
seorang nenek berwarna sephia tersenyum
melihat gedung merubuh di atas tangannya.

Si kecil berlari kecil, ubin-ubin memantul bayangan
Rak kayu keriput, mata uang china dan bulir hitung sempoa
Kita bertiga adalah patung-patung keramik pajangan
Diam, melihat seluruh waktu di dinding
berputar saling berkejaran
siapa yang menangkap, siapa yang kalah?

Barangkali pada dasar mangkok pesanan
tak ada lagi wajah kita
lantas apakah nasib-nasib harus digadai terlebih dahulu
agar anakmu paham, di toko ada yang tertinggal
dari deru bemo roda tiga dan suara ringkih kuda hitam.

“Om Jong, gelas-gelas ini imut sekali, Lika mau” katamu

Semua gelas dan pigura menyusut seukuran kelingking
agar yang menunggu dari kemarin dapat membawanya di saku
kita semua sedang bergegas, melampaui rasa di atas kaldu

Tiga pangsit di atas mie
doa-doa liar dari mulutku
apakah aku bisa berkunjung ke lantai tiga?
seorang riang menghampiri kita
menunggulah sesaat, kalian pula akan jadi lalu.

Juni 2022

SETELAH MEMBELI TELUR

Baju piyama pink, sepatu boat hijau
klatak-klotok-klatak-klotok
kita beli telur ayam 20 ribu
yupi donat-2 bungkus
setoples matahari di atas lollipop.

Lika, lihat ada yang dapat ikan
2 ikan sekaligus, masuk ke ember bekas cat
pemancing tersenyum melihatmu
hari ini air sungai deras, hujan di hutan
ikan-ikan mengajak anak mereka pindah rumah
apakah di kamarmu ada Kasur kosong?
atau mereka bisa tidur di sofa mungkin?

Telur ayam segera di masak
Ibu tidak sabaran-anak-anak menetas dari cangkang
mencari makan di bawah pohon jambu.

Di tangan Lika, ada 1 permen tiup warna biru
bukanlah lebih baik di tiup?
kita perlu kejutan untuk ulang tahunmu.

Tidak perlu, kita perlu pulang dulu.

Perjalanan pulang, klatak klotok klatak klotok-tak mau jalan
minta digendong di pundak, akan tidur
Lika menghitung kerikil dengan kaki
siapa tahu ada kelereng atau bola-bola.

Di depan rumah tetangga, ada yang bermain bulu tangkis
bola nyangkut di rambutmu, tidak mau lepas
segera ambil sepeda, panjatlah tubuhmu sendiri
tapi sepeda hanya roda dua, dulu empat roda
di kira rusak, takut jatuh karena kayuhan belum seimbang.

Lika menangis enggan menyentuh sepeda

“Kami berdua sering jatuh, karena itu kami hidup,”ucap ayahmu

Juni 2022

LUKISAN-LUKISAN DI DINDING

Ada Om Jong jadi garis merah
wajahnya bulat tak beraturan
tangannya kecil, suka menari di atas rumput

Bunga daun satu, tumbuh di belakang televisi
nanti dipetik, saat rumahmu usai bising dari kita

Rumah atap hijau, ulat memanjat atap
Lika dan ibu bergandeng, menyemai kegembiraan
luka-luka perlu di tanam
suka-suka di pupuk di jendela
pagi menyisir dinding,
gambar crayon hilang kenanga
di kertas putih, Lika memudar hijau
di tumpuk merah, dan putih
katamu : itu bunga yang tumbuh di atas kasurmu setiap malam
saat mimpi-mimpi sembunyi di bawah bantal.

Cap jemari kecil mungil milikmu
Ibu dan ayah seperti bilik labirin
siapa yang hendak lepas
harus kemudian menjawab,
apakah semua hidup berawal dari kematian
atau jangan-jangan hidup dan mati tak memiliki pendahuluan.

Lukisan selanjutnya adalah di tubuh ayahmu
membuat garis senyum berulang kali
sampai bosan, garis tidak menyerupai bentuk
tapi seperti batasan usia yang tak pernah paham
kita yang ingin berhenti di sini

Di kertas, Dinosaurus menyemburkan lidahnya
bukan api, tapi apa dan bagaimana?
Lika, menyuruhnya berhenti menakuti orang
jadilah penyayang seperti kasih langit pada daun

Sementara aku, ayahmu sedang asik
menawar bunyi, menakar kata, mencabik ingatan
keji di teras rumah, sungkur tidur
Lika, gambarmu hari ini adalah bunga-bunga layu
di vas bunga Ibu kan?

Juni 2022

Catatan :

Puisi-puisi ini dibuat, saat saya sering mengajak Lika bermain. Saban waktu ke rumahnya – mencari ibu atau ayahnya, kadang juga bekerja semalam suntuk di sana. Bahkan sebelum keluarga ini bangun, saya sudah nangkring di meja tamu, tenggelam di layar laptop. Beberapa kali saya senang mengajak Lika bermain, ke taman bermain, ke rumah, ke pantai, atau mengajak ia turut mengambil peran dalam pementasan.

Selalu menebar senyum ya, Ika, agar kami yang tua-tua ini tidak lupa senyum.

[][][]

KLIK untuk BACA puisi-puisi lain

Puisi-puisi Jang Sukmanbrata Bagi Soni Farid Maulana
Puisi-puisi Santi Dewi | Di Bawah Pohon Hujan
Puisi-puisi Ketut Yuliarsa | Air Danau Gunung
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rahasia Gambuh | Cerpen Made Adnyana Ole

Next Post

Mengintip Benny Santoso Membuat “Ini Tempe”: Inilah Tempe Artisan dari Bali yang Kaya Substansi

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

by IBW Widiasa Keniten
April 5, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

by Made Bryan Mahararta
April 4, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

by Iwan Setiawan
March 28, 2026
0
Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

SENJA YANG TERSESAT DI RAMBUT SEORANG PEREMPUAN Puisi ini aku dedikasikan untuk Lea Kathe Ritonga di rambutnya, senja tersesat seperti...

Read moreDetails

Puisi-puisi Alfiansyah Bayu Wardhana | Taman yang Diam-diam Bersemi

by Alfiansyah Bayu Wardhana
March 27, 2026
0
Puisi-puisi Alfiansyah Bayu Wardhana | Taman yang Diam-diam Bersemi

Taman yang Diam-diam Bersemi Maka pada suatu pagi yang heningkutemukan namamu tumbuh di dalam hatiku,sebagaimana benih yang lama tersembunyitiba-tiba mengenal...

Read moreDetails
Next Post
Mengintip Benny Santoso Membuat “Ini Tempe”: Inilah Tempe Artisan dari Bali yang Kaya Substansi

Mengintip Benny Santoso Membuat “Ini Tempe”: Inilah Tempe Artisan dari Bali yang Kaya Substansi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co