2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Jong Santiasa Putra | Ayam Tepung Sambel Wijen

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
December 31, 2022
in Puisi
Puisi-puisi Jong Santiasa Putra |  Ayam Tepung Sambel Wijen

Jong Santiasa Putra

AYAM TEPUNG SAMBEL WIJEN

Menjelang Nyepi 1944, malam mampir ke rumah
seluruh keramaian sudah kutitipkan
kepada pemuda-pemuda setengah kepayang di pinggir jalan
mereka sedang membakar waktu, satu persatu
isi kepalaku bisa jadi puisi, jika api sisa bakaran itu
menerangi penyap-panjang dan lengang.

“Lapar Jong? kami masak, tunggu saja sebentar,” kata ayahmu

Sepasang suami istri, menumis cemas di atas teplon
suami mengulek sambel wijen,
isiannya: 2 buah cabe-usahakan berwarna merah batu saga
sejumlah bawang putih bersih, tanpa bercak air hujan
sederet riuh gamelan sumbang, di kejauhan
lalu diulek, selaras langkah kecil Malika
meniru ogoh-ogoh dinosaurus warna hijau
memporak porandakan rumah-rumah di kota.

Setelah tepung selesai diadon, ibu menggoreng dengan seksama
memikirkan harga hidup, seperti daftar belanja setiap bulan
jika coklatnya sematamu, angkatlah lalu tiriskan
jangan lupa memotongnya-persekian detik
biarkan udara dipenuhi bumbu-bumbu
tetangga tidak akan protes,
mereka sedang menikmati peran
jadi turis tersesat di pantai kuta yang sepi

Aku menunggu di meja tamu
kursi kosong, dinding bergerak cepat pada menit-menit
meja sunyi tanpa basa basi,
anakmu sedang menari di udara, berkebaya putih
ia seperti peri lampu-lampu merkuri

Lika, tadi Om Jong melihat kata-kata tak berdaya di trotoar
mungkin mereka lupa makan, atau tak bawa bekal perjalanan
kamu kan peri, bisakah membuat keajaiban?

Semua hidangan sudah disaji
kami makan sambil larut
di atas piring masing-masing.

Maret 2022

RUMAH DAN MUNGKINAN DARIMU

Mungkin rumah terbaik itu adalah…
kamu yang berlari di atas garis lantai
memakai baju putri, warna merah muda
kemudian melompat ke atas sofa merah
berpura jadi manusia laba-laba
sedang mengintip nyamuk di atas kepalaku-bertengger.

Mungkin, rumah ternyaman itu adalah…
melihat kamu meniru tokoh kartun di televisi
bermain gitar tanpa dawai, membaca lirik terbata-bata
menyuruhku berpaling dengan cemberut
karena gerak gerikmu rahasia
seperti permainan petak umpet di sore hari
aku bersembunyi di matamu
kamu menyelinap di jendela
jadi bulir-bulir hujan, turun perlahan-sejuk

Sekali lagi, mungkin rumah terlucu itu adalah…
saat kami bertiga menerjemahkan senyum pagimu di atas meja makan
sambil mencari kesamaannya, antara nasi goreng bumbu ayam
atau macaroni bawang putih, bekal sekolahmu
aku bilang, senyummu kurang asin
lalu ayahmu menambahi gula,
ibumu mengurangi waktu tidurnya.

Pernah, kamu tidak di rumah
kami bertiga sibuk saja di atas kertas
menggambar kata-kata, mencurangi pekerjaan
tidak ada kemungkinan-kemungkinan yang terjadi
sebab asal pemungkinan itu selalu dari pipi mungilmu, Lika.

Maret 2022

3 IKAN DI DALAM BOTOL PLASTIK

Pada satu bulan yang penuh wajahmu
aku mengajak pergi mencari ikan-ikan kecil
Lala, Lulu dan Lele namanya
di dalam botol kecil, pengap dan gerah
aku yakin kamu belum pernah merasa tersesat dan hampa kan?
setiap hal yang kamu temui adalah pertanyaan
setiap pertanyaan adalah kejujuran
tapi kejujuran hanya milik ramalan, Lika
aku tak pernah diramal, seusiaku hidup terasa lebih nikmat
tanpa tanda seru, tanpa titik di ujung kalimat.

Di perjalanan pulang
kamu menghitung berapa jumlah awan di langit
jika hitungan salah, kamu cemberut
lalu mengigit pipiku tanpa aba-aba
begitu seterusnya, hingga kita menemukan satu kesimpulan
awan bisa menyatu dengan bentuk lain
makanya hitunganmu selalu salah,
dan pipiku sudah memerah.

3 ikan masih di dasbord mobil
kita berjanji akan melepasnya ke sungai dekat rumah
tapi kamu takut ia tidak mampu berenang mengikuti arus
atau ikan yang lebih besar akan memakan mereka
tenang saja, ada batu-batu melindungi mereka
batu besar yang selalu menunggu si pemancing
Seseorang selalu datang, menatap sungai
menghitung lompatan ikan-ikan,
di hari tertentu ia juga ikut berenang
menjadi ikan kuning bersirip tajam
saat bulan purnama penuh di wajahmu
seseorang itu tidak pernah datang lagi.

Katamu, ia sudah bertemu Lala, Lulu dan Lele
menjadi ayah yang baik bagi mereka.

Mei 2022

SEBAGIAN PUISIKU SALAH ALAMAT

Ibumu selalu rajin mengirim video atau pesan suaramu
“Om jooooong, jalan-jalan ke mana?”
Satu pesan suara kuuingat, saat itu aku sedang melaju
mencari sebagian puisi- sengaja ku kirim lewat jasa pengiriman barang
tapi aku lupa, untuk siapa sebagian puisi itu dialamatkan.

Tidak mungkin aku menjawab
“Om Jong sedang jalan-jalan mencari puisi yang salah alamat”
suatu saat nanti pasti kamu paham maksudnya
belum sekarang, waktu masih di tangan untukmu.

Saat itu hampir semua teman aku kabari
apakah ada paket untuk mereka,
tiba dengan sepucuk bunga layu di depan amplop
belum ada yang membalas pesan,
rupanya siang ini orang-orang sedang bekerja
aku tidak tahu kunci kepala mereka
untuk membuka pintu, perlu lebih dari satu kunci.

Kemudian ibumu mengirim fotomu lagi
berjongkok bermain tanah, dengan baju warna jingga
sejengkal bayang pohon jatuh di samping
seiring matahari bergerak, bayang itu memintas di rambutmu
mata kecil memicing, alisnya mengerjit, mulutnya protes
“Tidak adakah matahari tanpa bayangan?”

Aku jadi ingat, puisi-puisi memiliki bayangan
ia jatuh di lembar berikutnya, saat puisi pertama selesai ditulis
biasanya aku selalu mengikuti bentuknya,
menebalkan dengan pulpen warna merah
setiap jejak, beda bentuk, sampai-sampai aku lupa
puisiku tidak lagi berupa kata-kata, hanya bayangan.

“Ika mau ke Balizoo, mau belenang, mau pergi banyak-banyak, om jong mau ikut?”
Pesan suaramu lantang
sayang aku lagi sibuk mencari alamat
besok, jika sebagian puisi sudah kutemukan
kubawakan sepasir putih dari sanur
rumah rumput laut menyembunyikan anak-anak kepiting
tempat perahu-perahu nelayan ditambatkan
saat aku dan beberapa kawan ayahmu,
menanyakan laut dan ombak yang tidak selalu sepakat.

Mei 2022

SEPERTI DI AWAL

Lika, kamu percis ibumu
suka menata barang dengan presisi, komposisi yang sismetris
Ibumu pernah memindahkan bantal tidurku
saat bantal itu aku tinggal sebentar
untuk meminjam mimpi penjaga gerbang perumahan
mimpi itu sudah di tangan, tapi bantalku tersusun rapi ke tempatnya
akhirnya aku tidur di karpet depan tv
sambil melihat-lihat apakah mimpi digenggamanku-bisa kugunakan
ada matanya yang sayu, kulitnya hitam perak,
tubuhnya terkulai begitu saja di lantai pos jaga.

Pernah kamu menata mainan di atas sofa
ada jagung, wortel, telur, kursi, meja, boneka, pisau
potongan lego, serta benda-benda kecil warna-warni
aku datang mengambil satu wortel
katamu: tidak ada yang bisa mencuri wortel, selain rabbit
berkaki empat, melompat bagai kilat.

Wortel kamu tata lagi, sesuai tempat awalnya
berulangkali tanganmu tampak cemas,
aku akan memindahkan mainanmu ke tempat lain
lebih baik diam saja, sambil melihatmu mengucapkan mantra
entah itu percakapan, monolog, jelasnya matamu berbinar
saat boneka berhasil meminum teh racikan crayon ungu
dan gula yang jatuh dari lentik bulu matamu.

Kemudian aku membuat satu lakon
tentang anak babi yang ingin pergi jalan-jalan
Aku lupa, kamu memerankan apa?
kita berdua menjadi kecil di kamar si babi
mencakapkan pertemuan, berkenalan,
lalu ngeloyor memasak kentang goreng
untuk kudapan tamu sepertiku.

Si babi pulang, kembali lagi kita berdua jadi pendongeng
mengisahkan ia yang baru saja bertemu naga di tengah perjalanan
suaraku seperti naga mengaum, kamu ketakutan
berlari ke meja makan, menjadi patung-patung mainan
pementasan kecil itu selesai,
kita merapikan barang berdua
sesuai tempat awal, tanpa miring sedikitpun.

Persis ibumu.

SEDANG MENCUCI

Sabun berbusa putih di wastafel
baju ungu dan kamu tenggelam jadi buih
ini bantalan sepatu kotor
di cuci segera, agar kutu-kutu tak bersarang.

Ayahmu juga mencuci kerangka sepeda
kerak-kerak dipuas agar kinclong silau
warna perak seperti superhero
sepeda untuk mengayuh bulan
bukankah kamu suka bintang-bintang
saat tidur kita sering menghitungnya
tapi kamu selalu lupa bintang mana yang jatuh
bulan mana yang tidak pernah sembunyi di rambutmu.

Ibu juga sedang mencuci,
piring, sendok, garpu, asbak dan perih
luka di tangan, tangis bergumpal-gumpal
di pipa-pipa pembuangan.
busa ibu tidak putih, tapi agak coklat
tubuhnya dari tanah, rambutnya dari padi
kamu jadi burung-burung,
beranak pinak di atas kepalanya.

Lika sedang mencuci kaki
mau tidur, seekor panda berbaring di bantal
apakah matanya sudah menghitam?
pohon bambu menderu sore-sore
apakah bulunya masih putih?
jika belum, Lika mau mencucinya di wastafel.

Juni 2022

MEJA BIRU TENGAH HARI

Di atas meja biru, Lika minum teh
ada boneka warna ping, ada bentuk Beruang
aku berperan sebagai boneka Gajah

Wortel kuning, telur asin–sarapan Ayah
ayam goreng, kentang rebus–makan siang Ibu
kita berdua sudah memasak malam
merebus awan-awan jadi hidangan penutup.

Jemari kecilmu melompat seperti kelinci
kata-kata ragu dari bibir mungil,
mengucapkan selamat tidur kepada setiap orang
aku tetap jadi Gajah
sambil mengibaskan hidung ke langit-langit
mencium aroma asing, dari seorang tamu.

Kata Lika, itu Om Ika jadi kunang-kunang
Om Bolon seperti kupu-kupu
tapi siapa ini? laron-laron seperti kereta api
ujung lubang tembok semut merah
mereka menawar malam,
agar datang dua hari sekali.

Meja biru tengah hari
Lika sendiri di kamar, lampu pendar
bayang-bayang hutan rumah si Beruang
Ping ingin ikut memanjat pohon
melihat laut dari ujung ranting
apakah kita selalu merasa kita?

Ia bangun menuju ruang tengah
menegurku untuk menyiapkan teh di meja
tapi hari ini giliran Ayah, bukan Ibu
siapa itu di balik pintu?
mengendap jejak-jejak cicak
kehilangan anak-anaknya.

Juni 2022

MIE PANGSIT AWAL BULAN, DI ATOOM BARU

Tiga pangsit di atas mie
kuah bening warisan keluarga
kaldu-kaldu di mulut kami melintas
seperti sejarah panjang jalan Gajah Mada

Lika melahap satu penuh
tusuk di ujung sumpit merah
mie panjang halus, ditiup-tiup agar cepat dingin
tak ada angin di depan trotoar
seorang nenek berwarna sephia tersenyum
melihat gedung merubuh di atas tangannya.

Si kecil berlari kecil, ubin-ubin memantul bayangan
Rak kayu keriput, mata uang china dan bulir hitung sempoa
Kita bertiga adalah patung-patung keramik pajangan
Diam, melihat seluruh waktu di dinding
berputar saling berkejaran
siapa yang menangkap, siapa yang kalah?

Barangkali pada dasar mangkok pesanan
tak ada lagi wajah kita
lantas apakah nasib-nasib harus digadai terlebih dahulu
agar anakmu paham, di toko ada yang tertinggal
dari deru bemo roda tiga dan suara ringkih kuda hitam.

“Om Jong, gelas-gelas ini imut sekali, Lika mau” katamu

Semua gelas dan pigura menyusut seukuran kelingking
agar yang menunggu dari kemarin dapat membawanya di saku
kita semua sedang bergegas, melampaui rasa di atas kaldu

Tiga pangsit di atas mie
doa-doa liar dari mulutku
apakah aku bisa berkunjung ke lantai tiga?
seorang riang menghampiri kita
menunggulah sesaat, kalian pula akan jadi lalu.

Juni 2022

SETELAH MEMBELI TELUR

Baju piyama pink, sepatu boat hijau
klatak-klotok-klatak-klotok
kita beli telur ayam 20 ribu
yupi donat-2 bungkus
setoples matahari di atas lollipop.

Lika, lihat ada yang dapat ikan
2 ikan sekaligus, masuk ke ember bekas cat
pemancing tersenyum melihatmu
hari ini air sungai deras, hujan di hutan
ikan-ikan mengajak anak mereka pindah rumah
apakah di kamarmu ada Kasur kosong?
atau mereka bisa tidur di sofa mungkin?

Telur ayam segera di masak
Ibu tidak sabaran-anak-anak menetas dari cangkang
mencari makan di bawah pohon jambu.

Di tangan Lika, ada 1 permen tiup warna biru
bukanlah lebih baik di tiup?
kita perlu kejutan untuk ulang tahunmu.

Tidak perlu, kita perlu pulang dulu.

Perjalanan pulang, klatak klotok klatak klotok-tak mau jalan
minta digendong di pundak, akan tidur
Lika menghitung kerikil dengan kaki
siapa tahu ada kelereng atau bola-bola.

Di depan rumah tetangga, ada yang bermain bulu tangkis
bola nyangkut di rambutmu, tidak mau lepas
segera ambil sepeda, panjatlah tubuhmu sendiri
tapi sepeda hanya roda dua, dulu empat roda
di kira rusak, takut jatuh karena kayuhan belum seimbang.

Lika menangis enggan menyentuh sepeda

“Kami berdua sering jatuh, karena itu kami hidup,”ucap ayahmu

Juni 2022

LUKISAN-LUKISAN DI DINDING

Ada Om Jong jadi garis merah
wajahnya bulat tak beraturan
tangannya kecil, suka menari di atas rumput

Bunga daun satu, tumbuh di belakang televisi
nanti dipetik, saat rumahmu usai bising dari kita

Rumah atap hijau, ulat memanjat atap
Lika dan ibu bergandeng, menyemai kegembiraan
luka-luka perlu di tanam
suka-suka di pupuk di jendela
pagi menyisir dinding,
gambar crayon hilang kenanga
di kertas putih, Lika memudar hijau
di tumpuk merah, dan putih
katamu : itu bunga yang tumbuh di atas kasurmu setiap malam
saat mimpi-mimpi sembunyi di bawah bantal.

Cap jemari kecil mungil milikmu
Ibu dan ayah seperti bilik labirin
siapa yang hendak lepas
harus kemudian menjawab,
apakah semua hidup berawal dari kematian
atau jangan-jangan hidup dan mati tak memiliki pendahuluan.

Lukisan selanjutnya adalah di tubuh ayahmu
membuat garis senyum berulang kali
sampai bosan, garis tidak menyerupai bentuk
tapi seperti batasan usia yang tak pernah paham
kita yang ingin berhenti di sini

Di kertas, Dinosaurus menyemburkan lidahnya
bukan api, tapi apa dan bagaimana?
Lika, menyuruhnya berhenti menakuti orang
jadilah penyayang seperti kasih langit pada daun

Sementara aku, ayahmu sedang asik
menawar bunyi, menakar kata, mencabik ingatan
keji di teras rumah, sungkur tidur
Lika, gambarmu hari ini adalah bunga-bunga layu
di vas bunga Ibu kan?

Juni 2022

Catatan :

Puisi-puisi ini dibuat, saat saya sering mengajak Lika bermain. Saban waktu ke rumahnya – mencari ibu atau ayahnya, kadang juga bekerja semalam suntuk di sana. Bahkan sebelum keluarga ini bangun, saya sudah nangkring di meja tamu, tenggelam di layar laptop. Beberapa kali saya senang mengajak Lika bermain, ke taman bermain, ke rumah, ke pantai, atau mengajak ia turut mengambil peran dalam pementasan.

Selalu menebar senyum ya, Ika, agar kami yang tua-tua ini tidak lupa senyum.

[][][]

KLIK untuk BACA puisi-puisi lain

Puisi-puisi Jang Sukmanbrata Bagi Soni Farid Maulana
Puisi-puisi Santi Dewi | Di Bawah Pohon Hujan
Puisi-puisi Ketut Yuliarsa | Air Danau Gunung
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rahasia Gambuh | Cerpen Made Adnyana Ole

Next Post

Mengintip Benny Santoso Membuat “Ini Tempe”: Inilah Tempe Artisan dari Bali yang Kaya Substansi

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Mengintip Benny Santoso Membuat “Ini Tempe”: Inilah Tempe Artisan dari Bali yang Kaya Substansi

Mengintip Benny Santoso Membuat “Ini Tempe”: Inilah Tempe Artisan dari Bali yang Kaya Substansi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co