12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Luh Jalir | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
November 22, 2022
in Cerpen, Pilihan Editor
Luh Jalir | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari karya Satia Guna

Sejak mengetahui keberadaan diri sebagai perempuan, sejak itulah aku selalu berusaha agar aku tidak sampai disebut sebagai Luh Jalir atau Perempuan Jalang. Itu juga sebabnya aku tak terlalu perhatian terhadap pemuda-pemuda yang mendekat kepadaku. Setiap pemuda yang mendekat, pastilah kujadikan teman. Kalau ada yang ingin menjadikanku pacar, kutolak secara halus.    

“Aku ingin tekun belajar!” Begitu aku katakan kepada Bli Gede Parwata atau Kakak Gede Parwata. Ia adalah sepupuku yang selalu mengantarku ke sana-sini, sejak masih duduk di sekolah dasar. Walau kutahu Bli Gede mempunyai perasaan padaku, ia tak berani memaksa. Apalagi dia sangat tahu perangaiku yang keras kepala. Itu sebabnya sampai sekarang ia tak berani mengungkapkan perasaannnya, sampai kami menjadi mahasiswa pada universitas yang sama.

Sewaktu-waktu Bli Gede Parwata berkunjung ke fakultas, mengajak ke kantin, dan bercengkrama. Senang juga rasanya, karena teman-temanku yang laki-laki menyangka Bli Gede pacarku. Karena itulah tak ada laki-laki yang berani menggoda, mengajak pacaran.

Sejatinya aku tak memiliki rasa cinta seperti layaknya orang yang berpacaran pada Bli Gede. Rasa cintaku hanya sebatas cinta sebagai saudara, sebagai adik, sebagai teman. Tetapi kubiarkan saja teman-teman menganggapku berpacaran dengan Bli Gede. Kubiarkan saja, agar tak ada yang mengganggu, agar aku bisa cepat menamatkan kuliah.

“Besok-besok kalau sudah tamat dan sudah bekerja, barulah aku akan mencari pacar yang langsung kujadikan suami!” Begitu harapanku. Kalaa hanya sekali berpacaran lantas langsung menjadi suami istri, pasti tak akan ada yang menyebutku luh jalir atau perempuan jalang, seperti yang kerap disebutkan orang kepada ibuku.

Aku marah sekali kalau mendengar orang menyebutkan luh jalir, perempuan jalang, apalagi yang disebut-sebut namanya adalah ibuku, Luh Putri. Sejak kecil aku selalu dinasehati oleh Nenek dan Kakek agar tidak sampai menjadi luh jalir, perempuan jalang seperti Ibu, yang dikatakan selalu mengejar cinta lelaki, ke sana-sini mengobral cinta, sampai-sampai meninggalkan anak dan suami.

Luh Putri Jalir, Luh Putri Jalang, nama itu yang selalu meracuni pikiranku. Nama itu yang sejak dahulu ingin kulupakan, nama itu juga yang senantiasa mengejar perjalanan usiaku. Nama itu juga yang membuat aku tekun belajar dan tegar, tak mau berpacaran.

Sampai berumur duapuluh tahun, aku tak pernah mengenal wajah Ibu. Sesekali terbersit juga rasa ingin tahu, tetapi rasa benciku melampaui rasa ingin tahu, membuatku diam, tak berusaha mencari tahu di mana rumahnya, apalagi untuk bertemu. Suatu ketika ada juga rasa ingin bertemu, ingin  tahu bagaimana rupanya, sekaligus menunjukkan diri sebagai anak tanpa asuhan seorang ibu, sekaligus ingin memarahinya. Tetapi lagi-lagi aku berusaha menahan diri.

“Kalau sudah luh jalir, bagaimana caranya memarahi, dengan membenci tak akan bisa mengubahnya, apa gunanya membuang kata-kata,” kataku dalam hati. Kata-kata itu mampu menghalangi keinginanku untuk memarahi Ibu yang bernama Luh Putri itu.

Konon aku ditinggalkan oleh Ibu saat berumur dua tahun. Lantas Bapak menikah lagi dengan perempuan cantik bernama Ketut Sriasih, tetapi tak mempunyai anak. Entah bagaimana ceritanya  Bapak dengan Ketut Sriasih akhirnya berpisah. Setelah Ketut Sriasih, Bapak menikahi Ni Made Dwi Mayani. Dari ibu tiriku itu, aku mempunyai dua adik, bernama Made Adi Putra dan Ketut Puspanjali.

Sekarang Made Adi Putra sudah duduk di kelas enam Sekolah Dasar dan Ketut Puspanjali baru kelas tiga. Aku sangat mencintai adik-adikku itu, juga ibu tiriku, Ni Made Dwi Mayani. Itu sebabnya aku kaget saat mendengar kabar Bapak akan bercerai dengan ibu tiriku itu.

Kabar itu kuketahui saat pulang Sabtu dua hari lalu. Kulihat adikku, Adi Putra dan Puspanjali, menangis tersedu-sedu. Kupeluk mereka, kupikir mereka telah dimarahi. Kuhibur mereka.

“Kak, Ibu dan Bapak cerai, sudah dua bulan Ibu tidak pulang!”  Adi Putra mengadu.

Aku bengong, tak mampu bicara apa-apa.

Benar sudah lima bulan aku tidak pulang karena sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Selain itu aku juga masih marah dengan Bapak yang datang ke kampus dan melarangku bergaul dengan dosen-dosen, terutama dengan Pembantu Dekan Bagian Kemahasiswaan, Ibu  L.P Tirtawati.

“Bapak aneh-aneh saja, dulu Bapak melarangku masuk jurusan Antropologi, sekarang tak boleh berhubungan terlalu dekat dengan dosen-dosen di sini, terlalu dekat bagaimana maksudnya? Tenang saja, Pak, aku sudah besar, tahu yang mana benar dan yang mana salah,” sahutku kesal lantas meninggalkan Bapak.

Tak kupedulikan wajah Bapak yang berubah merah, matanya menyala. Aku berani melawannya karena aku merasa tak pernah berbuat salah. Walaupun dekat dengan dosen-dosen, itu hanya untuk urusan kuliah dan kegiatan kampus. Kebetulan aku suka ikut kegiatan di senat mahasiswa. Kendati sibuk, nilai-nilai kuliahku selalu bagus, jadi tak ada alasan untuk tak mempercayaiku.

Sekarang lagi kudengar kabar buruk, mendengar kabar Bapak dan Ibu akan bercerai.

“Ini pasti karena Bapak terlalu curiga pada Ibu, yang membuat Ibu ngambek. Sama seperti cara Bapak mencurigai kedekatanku dengan dosen-dosenku di kampus,” pikirku.

“Ya, Adi dan Puspa tenang saja, Kakak akan bicara dengan Bapak, agar jangan sampai Ibu dan Bapak bercerai,” kataku sambal mengusap-usap kepala kedua adikku itu.

Sampai malam Bapak kutunggu, ia tak kunjung datang juga. Kalau ingat dengan kesedihan adik-adik, terasa kosong ragaku. Tetapi kupaksakan diri agar bisa menaiki motor dengan tenang dan selanat sampai di Denpasar.

Malam itu mata tak bisa kupejamkan. Kepalaku panas memikirkan cara agar Ibu dan Bapak tak sampai berpisah. Kucari-cari di mana kurang lebihnya Ibu dan Bapak. Di mana kira-kira akar masalahnya. Kupikir-pikir, kuingat-ingat perilaku Ibu dan Bapak.

“Bukankah Ibu, Ni Made Dwi Mayani, adalah istri Bapak yang ketiga. Bapak adalah suami pertama Ibu. Apakah mungkin karena Ibu yang umurnya jauh lebih  muda dari Bapak berniat mencari bujangan, apakah mungkin Bapak cemburu karena memiliki istri muda dan cantik?” Beraneka macam pertanyaan dalam hati yang tak bisa kujawab sendiri.

Pagi-pagi aku bangun tergesa-gesa, takut terlambat untuk mengikuti diskusi. Hari ini ada mata kuliah seminar yang kusuka. Mata kuliah yang selalu kutunggu-tunggu, akan kujadikan pegangan pada saat menyusun skripsi.  Usai mata kuliah seminar aku suntuk mengikuti diskusi dengan kakak-kakak kelas. Tanpa kusadari cepatnya perjalanan waktu, sampai siang, sampai kampus sepi. Hanya ada Ketut Raka dan Made Budiasih yang tertinggal, paling akhir denganku keluar dari aula. Sambil menutup pintu aula, kulihat ada mobil sedan Bapak. Aku tersenyum.

“Mungkin Bapak sudah rindu padaku, mungkin marahnya sudah reda padaku.”

Ke sana-sini kucari Bapak tak kutemukan juga. Aku melewati ruangan Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan, L.P. Tirtawati. Pintunya sedikit terbuka. Iseng ingin kutengok. Di depan pintu aku diam, kudengar ada yang bercakap-cakap. Aku tersenyum sendiri merasa seperti pencuri yang mengintip dosenku itu. Pada saat hendak beranjak, terdengar namaku disebut-sebut.  

“Lupakan Luh Putu Yuliasih, dia tidak apa-apa tak punya ibu. Aku bisa mencarikan ia ibu yang lebih baik dari kamu, aku bisa memeliharanya lebih baik dari kamu. Jangan ganggu ia, kalau kamu mengganggunya, akan saya pindahkan ia dari sini!” Begitu kudengar kata-kata Bapak. Aku diam, tak mengerti makna kata-kata itu.

“Tidak bisa, Luh Putu Yuliasih itu putriku. Sembilan bulan aku mengandungnya, kulahirkan, kenapa aku tak boleh mengakuinya sebagai anak?  Sudah sembilan belas tahun kamu mencuri anakku, sudah sembilan belas tahun kamu dan keluargamu memfitnahku, mengata-ngatai aku sebagai perempuan busuk yang sampai hati meninggalkan anak dan suami. Serupa kamu telah membunuhku. Tetapi Luh Yuliasih sekarang sudah besar, tak bisa lagi kamu menutupi asap. Walaupun sekarang kamu bisa mengancamku, agar tak mengatakan bahwa ia adalah anakku, lama kelamaan ia pasti akan tahu!” Begitu kudengar Ibu L.P Tirtawati. Suaranya agak pelan. Mendengar hal itu, dadaku rasanya bergemuruh.

“Pokoknya tak banyak aku berkata-kata, kalau Luh Yuliasih sampai tahu siapa ibunya, pasti dari kamu, dari teman-teman dan saudara-saudaramu, tetapi ingat, kalau sampai ia tahu, kamu akan rasakan akibatnya. Bukan saja kamu akan disebut Luh Jalir, tetapi kamu akan saya penjarakan, orang tuamu, semua….!” suara Bapak keras.

“Saya tidak takut, dulu kamu memfitnahku berselingkuh, tetapi kamu yang sesungguhnya banyak punya selingkuhan. Tak henti-hentinya kamu menyakitiku, saya hanya diam, biar hukum karmanya saja yang berlaku, waktu akan membuktikannya!” Keras, tegas  dan kental suara Ibu Pembantu Dekan itu.

Suara L.P Tirtawati kurasakan seperti tindihan batu besar. Hatiku juga serasa dijatuhi batu besar. Sakit sekali. Kepalaku berputar-putar. Tanganku menggapai-gapai daun pintu. Kuperlebar bukaan pintu itu. Bapakku menoleh. L.P Tirtawati menoleh. Kedua wajah orang itu, orang tuaku itu, merah padam. Aku tak ingat apa-apa lagi. [T]

  • Catatan: Cerpen ini adalah terjemahan dari cerpen berbahasa Bali yang berjudul Luh Jalir, diambil dari buku berjudul Luh Jalir yang diterbitkan Pustaka Tarukan Agung (2008). Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Made Adnyana Ole

[][][]

BACA cerpen-cerpen lain

Keris | Cerpen Mas Ruscitadewi
Bom dan Bapak | Cerpen Surya Gemilang
Lelaki Tua Bersama Bunga-Bunga | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Tags: CerpenCerpen Terjemahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Jang Sukmanbrata | Lirik Gagak Rantauan

Next Post

Cara Polos Wayan Polos Menakwilkan KTT G-20

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails
Next Post
Cara Polos Wayan Polos Menakwilkan KTT G-20

Cara Polos Wayan Polos Menakwilkan KTT G-20

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co