3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Luh Jalir | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
November 22, 2022
in Cerpen, Pilihan Editor
Luh Jalir | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari karya Satia Guna

Sejak mengetahui keberadaan diri sebagai perempuan, sejak itulah aku selalu berusaha agar aku tidak sampai disebut sebagai Luh Jalir atau Perempuan Jalang. Itu juga sebabnya aku tak terlalu perhatian terhadap pemuda-pemuda yang mendekat kepadaku. Setiap pemuda yang mendekat, pastilah kujadikan teman. Kalau ada yang ingin menjadikanku pacar, kutolak secara halus.    

“Aku ingin tekun belajar!” Begitu aku katakan kepada Bli Gede Parwata atau Kakak Gede Parwata. Ia adalah sepupuku yang selalu mengantarku ke sana-sini, sejak masih duduk di sekolah dasar. Walau kutahu Bli Gede mempunyai perasaan padaku, ia tak berani memaksa. Apalagi dia sangat tahu perangaiku yang keras kepala. Itu sebabnya sampai sekarang ia tak berani mengungkapkan perasaannnya, sampai kami menjadi mahasiswa pada universitas yang sama.

Sewaktu-waktu Bli Gede Parwata berkunjung ke fakultas, mengajak ke kantin, dan bercengkrama. Senang juga rasanya, karena teman-temanku yang laki-laki menyangka Bli Gede pacarku. Karena itulah tak ada laki-laki yang berani menggoda, mengajak pacaran.

Sejatinya aku tak memiliki rasa cinta seperti layaknya orang yang berpacaran pada Bli Gede. Rasa cintaku hanya sebatas cinta sebagai saudara, sebagai adik, sebagai teman. Tetapi kubiarkan saja teman-teman menganggapku berpacaran dengan Bli Gede. Kubiarkan saja, agar tak ada yang mengganggu, agar aku bisa cepat menamatkan kuliah.

“Besok-besok kalau sudah tamat dan sudah bekerja, barulah aku akan mencari pacar yang langsung kujadikan suami!” Begitu harapanku. Kalaa hanya sekali berpacaran lantas langsung menjadi suami istri, pasti tak akan ada yang menyebutku luh jalir atau perempuan jalang, seperti yang kerap disebutkan orang kepada ibuku.

Aku marah sekali kalau mendengar orang menyebutkan luh jalir, perempuan jalang, apalagi yang disebut-sebut namanya adalah ibuku, Luh Putri. Sejak kecil aku selalu dinasehati oleh Nenek dan Kakek agar tidak sampai menjadi luh jalir, perempuan jalang seperti Ibu, yang dikatakan selalu mengejar cinta lelaki, ke sana-sini mengobral cinta, sampai-sampai meninggalkan anak dan suami.

Luh Putri Jalir, Luh Putri Jalang, nama itu yang selalu meracuni pikiranku. Nama itu yang sejak dahulu ingin kulupakan, nama itu juga yang senantiasa mengejar perjalanan usiaku. Nama itu juga yang membuat aku tekun belajar dan tegar, tak mau berpacaran.

Sampai berumur duapuluh tahun, aku tak pernah mengenal wajah Ibu. Sesekali terbersit juga rasa ingin tahu, tetapi rasa benciku melampaui rasa ingin tahu, membuatku diam, tak berusaha mencari tahu di mana rumahnya, apalagi untuk bertemu. Suatu ketika ada juga rasa ingin bertemu, ingin  tahu bagaimana rupanya, sekaligus menunjukkan diri sebagai anak tanpa asuhan seorang ibu, sekaligus ingin memarahinya. Tetapi lagi-lagi aku berusaha menahan diri.

“Kalau sudah luh jalir, bagaimana caranya memarahi, dengan membenci tak akan bisa mengubahnya, apa gunanya membuang kata-kata,” kataku dalam hati. Kata-kata itu mampu menghalangi keinginanku untuk memarahi Ibu yang bernama Luh Putri itu.

Konon aku ditinggalkan oleh Ibu saat berumur dua tahun. Lantas Bapak menikah lagi dengan perempuan cantik bernama Ketut Sriasih, tetapi tak mempunyai anak. Entah bagaimana ceritanya  Bapak dengan Ketut Sriasih akhirnya berpisah. Setelah Ketut Sriasih, Bapak menikahi Ni Made Dwi Mayani. Dari ibu tiriku itu, aku mempunyai dua adik, bernama Made Adi Putra dan Ketut Puspanjali.

Sekarang Made Adi Putra sudah duduk di kelas enam Sekolah Dasar dan Ketut Puspanjali baru kelas tiga. Aku sangat mencintai adik-adikku itu, juga ibu tiriku, Ni Made Dwi Mayani. Itu sebabnya aku kaget saat mendengar kabar Bapak akan bercerai dengan ibu tiriku itu.

Kabar itu kuketahui saat pulang Sabtu dua hari lalu. Kulihat adikku, Adi Putra dan Puspanjali, menangis tersedu-sedu. Kupeluk mereka, kupikir mereka telah dimarahi. Kuhibur mereka.

“Kak, Ibu dan Bapak cerai, sudah dua bulan Ibu tidak pulang!”  Adi Putra mengadu.

Aku bengong, tak mampu bicara apa-apa.

Benar sudah lima bulan aku tidak pulang karena sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Selain itu aku juga masih marah dengan Bapak yang datang ke kampus dan melarangku bergaul dengan dosen-dosen, terutama dengan Pembantu Dekan Bagian Kemahasiswaan, Ibu  L.P Tirtawati.

“Bapak aneh-aneh saja, dulu Bapak melarangku masuk jurusan Antropologi, sekarang tak boleh berhubungan terlalu dekat dengan dosen-dosen di sini, terlalu dekat bagaimana maksudnya? Tenang saja, Pak, aku sudah besar, tahu yang mana benar dan yang mana salah,” sahutku kesal lantas meninggalkan Bapak.

Tak kupedulikan wajah Bapak yang berubah merah, matanya menyala. Aku berani melawannya karena aku merasa tak pernah berbuat salah. Walaupun dekat dengan dosen-dosen, itu hanya untuk urusan kuliah dan kegiatan kampus. Kebetulan aku suka ikut kegiatan di senat mahasiswa. Kendati sibuk, nilai-nilai kuliahku selalu bagus, jadi tak ada alasan untuk tak mempercayaiku.

Sekarang lagi kudengar kabar buruk, mendengar kabar Bapak dan Ibu akan bercerai.

“Ini pasti karena Bapak terlalu curiga pada Ibu, yang membuat Ibu ngambek. Sama seperti cara Bapak mencurigai kedekatanku dengan dosen-dosenku di kampus,” pikirku.

“Ya, Adi dan Puspa tenang saja, Kakak akan bicara dengan Bapak, agar jangan sampai Ibu dan Bapak bercerai,” kataku sambal mengusap-usap kepala kedua adikku itu.

Sampai malam Bapak kutunggu, ia tak kunjung datang juga. Kalau ingat dengan kesedihan adik-adik, terasa kosong ragaku. Tetapi kupaksakan diri agar bisa menaiki motor dengan tenang dan selanat sampai di Denpasar.

Malam itu mata tak bisa kupejamkan. Kepalaku panas memikirkan cara agar Ibu dan Bapak tak sampai berpisah. Kucari-cari di mana kurang lebihnya Ibu dan Bapak. Di mana kira-kira akar masalahnya. Kupikir-pikir, kuingat-ingat perilaku Ibu dan Bapak.

“Bukankah Ibu, Ni Made Dwi Mayani, adalah istri Bapak yang ketiga. Bapak adalah suami pertama Ibu. Apakah mungkin karena Ibu yang umurnya jauh lebih  muda dari Bapak berniat mencari bujangan, apakah mungkin Bapak cemburu karena memiliki istri muda dan cantik?” Beraneka macam pertanyaan dalam hati yang tak bisa kujawab sendiri.

Pagi-pagi aku bangun tergesa-gesa, takut terlambat untuk mengikuti diskusi. Hari ini ada mata kuliah seminar yang kusuka. Mata kuliah yang selalu kutunggu-tunggu, akan kujadikan pegangan pada saat menyusun skripsi.  Usai mata kuliah seminar aku suntuk mengikuti diskusi dengan kakak-kakak kelas. Tanpa kusadari cepatnya perjalanan waktu, sampai siang, sampai kampus sepi. Hanya ada Ketut Raka dan Made Budiasih yang tertinggal, paling akhir denganku keluar dari aula. Sambil menutup pintu aula, kulihat ada mobil sedan Bapak. Aku tersenyum.

“Mungkin Bapak sudah rindu padaku, mungkin marahnya sudah reda padaku.”

Ke sana-sini kucari Bapak tak kutemukan juga. Aku melewati ruangan Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan, L.P. Tirtawati. Pintunya sedikit terbuka. Iseng ingin kutengok. Di depan pintu aku diam, kudengar ada yang bercakap-cakap. Aku tersenyum sendiri merasa seperti pencuri yang mengintip dosenku itu. Pada saat hendak beranjak, terdengar namaku disebut-sebut.  

“Lupakan Luh Putu Yuliasih, dia tidak apa-apa tak punya ibu. Aku bisa mencarikan ia ibu yang lebih baik dari kamu, aku bisa memeliharanya lebih baik dari kamu. Jangan ganggu ia, kalau kamu mengganggunya, akan saya pindahkan ia dari sini!” Begitu kudengar kata-kata Bapak. Aku diam, tak mengerti makna kata-kata itu.

“Tidak bisa, Luh Putu Yuliasih itu putriku. Sembilan bulan aku mengandungnya, kulahirkan, kenapa aku tak boleh mengakuinya sebagai anak?  Sudah sembilan belas tahun kamu mencuri anakku, sudah sembilan belas tahun kamu dan keluargamu memfitnahku, mengata-ngatai aku sebagai perempuan busuk yang sampai hati meninggalkan anak dan suami. Serupa kamu telah membunuhku. Tetapi Luh Yuliasih sekarang sudah besar, tak bisa lagi kamu menutupi asap. Walaupun sekarang kamu bisa mengancamku, agar tak mengatakan bahwa ia adalah anakku, lama kelamaan ia pasti akan tahu!” Begitu kudengar Ibu L.P Tirtawati. Suaranya agak pelan. Mendengar hal itu, dadaku rasanya bergemuruh.

“Pokoknya tak banyak aku berkata-kata, kalau Luh Yuliasih sampai tahu siapa ibunya, pasti dari kamu, dari teman-teman dan saudara-saudaramu, tetapi ingat, kalau sampai ia tahu, kamu akan rasakan akibatnya. Bukan saja kamu akan disebut Luh Jalir, tetapi kamu akan saya penjarakan, orang tuamu, semua….!” suara Bapak keras.

“Saya tidak takut, dulu kamu memfitnahku berselingkuh, tetapi kamu yang sesungguhnya banyak punya selingkuhan. Tak henti-hentinya kamu menyakitiku, saya hanya diam, biar hukum karmanya saja yang berlaku, waktu akan membuktikannya!” Keras, tegas  dan kental suara Ibu Pembantu Dekan itu.

Suara L.P Tirtawati kurasakan seperti tindihan batu besar. Hatiku juga serasa dijatuhi batu besar. Sakit sekali. Kepalaku berputar-putar. Tanganku menggapai-gapai daun pintu. Kuperlebar bukaan pintu itu. Bapakku menoleh. L.P Tirtawati menoleh. Kedua wajah orang itu, orang tuaku itu, merah padam. Aku tak ingat apa-apa lagi. [T]

  • Catatan: Cerpen ini adalah terjemahan dari cerpen berbahasa Bali yang berjudul Luh Jalir, diambil dari buku berjudul Luh Jalir yang diterbitkan Pustaka Tarukan Agung (2008). Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Made Adnyana Ole

[][][]

BACA cerpen-cerpen lain

Keris | Cerpen Mas Ruscitadewi
Bom dan Bapak | Cerpen Surya Gemilang
Lelaki Tua Bersama Bunga-Bunga | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Tags: CerpenCerpen Terjemahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Jang Sukmanbrata | Lirik Gagak Rantauan

Next Post

Cara Polos Wayan Polos Menakwilkan KTT G-20

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Cara Polos Wayan Polos Menakwilkan KTT G-20

Cara Polos Wayan Polos Menakwilkan KTT G-20

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co