3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keris | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
August 13, 2022
in Cerpen
Keris | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

Temanku, Nengah Sukerta, sangat menyukai keris.

“Memiliki keris, lebih berharga dari mempunyai uang, membuat tidurku nyenyak!” Begitu kata Nengah Sukerta sambil tergelak tertawa.

Yah, tak jelas apa yang membuatnya tertawa, aku tak pernah tahu pasti. Entah apa yang dia harapkan dari keris-keris itu, aku tak pernah paham. 

“Pokoknya…. suka! Aku sangat menyukai keris, tak perlu alasan apa pun!” Kata-katanya selalu pedas kalau aku bertanya. 

Kalau dipikir-pikir boleh-boleh saja Nengah Sukerta sangat menyukai keris. Pada saat kondisi dunia sulit seperti saat ini, dagangan Nengah Sukarta semakin banyak, kekayaannya juga makin berlimpah. Ya, kaya raya begitu orang menyebutnya. 

Berbeda dengan orang kaya pada umumnya, Nengah Sukerta tidak menunjukkannya dengan memamerkan motor di garasenya. Ia juga tidak mencari banyak istri. Yang selalu ia cari adalah keris. Di manapun ia mendengar ada yang menjual keris angker, sakti, dikejarnya. Jatuh bangun ia mengejar sampai meninggalkan pekerjaan.

Di manapun ia mendengar ada orang yang pandai membuat keris bertuah, dicarinya. Diupah agar membuatkannya keris. Tetapi sekian lama aku berteman dengannya, begitu banyaknya Nengah Sukerta memiliki keris yang katanya sakti, tak ada yang aku lihat terbukti kesaktiannya. Secuil pun, tak pernah terbukti. Yang kudengar hanya sebatas sakti katanya, bisa begini, bisa begitu katanya. 

Kemarin malam, sekitar jam sebelas aku dijemput. 

“Yan, mari ikut pergi, ” katanya.

Aku belum sepakat, diseretnya tanganku. 

“Jangan lagi bilang begini begitu, kamu ikut saja, ada keris sakti sekali. Tetapi harus dimohonkan jam dua belas malam, baru akan muncul tuahnya,” kata Nengah Sukerta, sambil berbisik di telinga kananku. 

Seperti biasanya, aku hanya diam, tak memberi jawaban. Kubiarkan Nengah Sukerta bercerita berbusa-busa, menjelaskan kehebatan keris itu. 

“Keris itu bernama keris Nagapasha, dibuat oleh Mpu Bhaja dari Kerajaan Daha. Itu lho, jaman Erlangga menjadi raja di Kediri, kan kerajaannya dibelah dua menjadi Daha dan Jenggala. Keris ini katanya keris pusaka Raja Daha.” Semangat sekali Nengah Sukerta menjelaskan. 

Sambil menyetir mobil Hartop-nya, sepertinya sudah panjang lebar ia bercerita. Entah sampai di mana ceritanya, terdengar lagi, hilang lagi, terdengar lagi, hilang lagi. 

Aku kaget saat mobil berhenti. 

“Yan, bangun, sudah sampai,” kata Nengah Sukerta.

Telingaku terasa panas. Aku bangun mengusap-usap mata.  “Di mana ini, Bli, kenapa gelap gulita?” bisikku sambil meraba-raba. 

“Di kuburan Madura,” jawabnya.

Dari nada bicaranya, kutangkap ia merasa takut, seperti gemetar. 

“Lalu mencari siapa, Bli? Kenapa tak ada orang?” tanyaku halus, sambil tolah-toleh. Aku tak melihat siapa-siapa. Hanya ada pohon randu besar, dan daunnya yang bertumpukan hitam. 

“Yan, kamu turunlah dahulu!” Ia memberi perintah.

Aku pun turun dari mobil. 

“Kemarilah…!”

Lagi Nengah Sukerta memerintahkanku agar mendekati jendela mobil tempatnya duduk. Kudengar suara berisik. Dari bagian belakang mobilnya, ia mengeluarkan canang, daksina dan keris. 

“Ini tolong Bli, Yan. Ini keris Nagapasha itu, kudapatkan di Jawa, tapi sekarang hilang tuahnya karena tidak dirawat dan diupacarai. Sekarang beri sajian dan hidupkan ya. Bli tak berani!” Begitu kata Nengah Sukerta sambil menyerahkan banten dan keris itu.

Aku bingung tak bisa berkata apa-apa. Aku tak pernah melakukan  pekerjaan aneh seperti ini. Kalau sebatas melintas tengah malam di tengah kuburan aku pernah lakukan. Melewati tempat yang dikatakan angker aku tidaklah takut karena aku merasa tak pernah berniat buruk. Karena aku selalu ingat akan keberadaan Tuhan yang menciptakan  segala yang ada di dunia, yang baik maupun yang buruk. Tapi kalau diminta menghidupkan tuah keris dengan sarana canang dan daksina, yahh aku tak pernah. Merasa tidak bisa, tapi bukannya tidak berani. 

“Kumohon tolonglah, Yan!” Kembali Nengah Sukerta minta tolong dari dalam mobil. 

Kutenangkan diri. Bukannya aku tak mau menolong, tapi apa yang aku katakan, aku tidak bisa mengucapkan mantra. Kalau bicara seperti biasa aku bisa. 

“Mohon saja kehadapan Sanghyang Pasupati yang berstana di sini agar tuah keris ini kembali seperti sedia kala,” seru Nengah Sukerta

Aku mengangguk. Anggukanku pasti tak jelas dilihat oleh Nengah Sukerta. Kuheningkan pikiran dan perasaan, menghaturkan daksina juga canang dan meletakan keris itu di sampingnya. 

Apapun yang diperintahkan oleh Nengah Sukerta kuikuti. Tetapi sebelum mengucapkan permohonan aku minta maaf terlebih dahulu karena hanya membantu Nengah Sukerta. 

“Tuhan ampunilah kebodohan hamba, hamba mohon pengampunan atas kebodohan hamba. Hamba hanya utusan yang dimintakan untuk memohon agar isi dan kekuatan keris Nagapasha ini kembali seperti semula!” Demikian permohonan bodohku. 

Ada tiga puluh menit aku bertahan di atas gundukan tanah tempat pembakaran mayat di kuburan itu. Kalau ada yang lewat pasti aku akan disangka sedang mempraktekkan  ilmu hitam. Kakiku terasa pegal. Aku menoleh. Nengah Sukerta hanya diam, seperti bisu tuli. Aku sudah merasa capek bersila di gundukan pembakaran mayat itu, ya akhirnya kuputuskan sendiri untuk permisi, memohon diri dan berterima kasih. Ya, kuanggap saja permohonan Nengah Sukerta yang aku wakili diterima. Nengah Sukerta kaget melihat aku kembali ke mobil. 

“Yah sudah selesai Yan, kok cepat sekali?” tanya Nengah Sukerta. 

“Sudah, Bli, sudah dari tadi. Kenapa juga lama-lama, kan permintaannya sedikit, bantennya juga sedikit, ” jawabku.

Sejatinya aku hanya ingin cepat pulang, di mata terbayang tempat tidurku. Mataku terasa berat, sangat mengantuk, ya jangan-jangan mimpiku sudah hadir di sana.

Pulang dari kuburan, aku langsung diantar pulang. Suara Nengah Sukerta yang berkali-kali mengucapkan terima kasih, tak kuhiraukan. Yang kuinginkan hanya satu. Tidur dan berkelana ke alam mimpi. 

Matahari makin panas, menusuk kaca jendela kamar. Baru saja aku berusaha membuka mata, kudengar suara Nengah Sukerta. 

“Yan, keluarlah, ada yang ingin Bli tanyakan,” katanya tergesa.

Aku bangun, membuka pintu. Baru sebelah kakiku ke luar pintu, seketika bersujud Nengah Sukerta di kakiku. 

“Aduh, Yan, kamu tidak apa-apa kan? Benar-benar sakti keris itu. Kemarin saat kembali dari mengantar kamu, Bli baru saja bersiap tidur. Seketika keris itu hidup, bersinar, terang benderang, setelah itu keris berubah menjadi ular. Bli hampir dipatuk. Karena teramat takut, agar Bli tidak dipatuk, lantas Bli katakan saja kalau Wayan yang menghidupkan keris itu, agar Wayan yang dicari. Lantas ular itu pergi. Keris itu juga hilang. Apa Wayan tidak dicari?  Aduh, Wayan, maafkanlah kesalahan Bli!” Demikian kata Nengah Sukerta sambil menangis minta maaf.

Aku bingung, sesak, dadaku terasa penuh. Sudah mau menolong, malah bisa kena celaka. Kubiarkan Nengah Sukerta menguras air matanya di kakiku. 

“Bli takut sekali, mulai sekarang Bli tak lagi mencari keris yang benar-benar sakti, lebih baik Bli menjadi pedagang keris antik saja,” janji Nengah Sukerta. 

Sesudah Nengah Sukerta pulang, aku kembali masuk kamar, bukannya aku ingin tidur lagi. Aku hanya ingin mengingat-ngingat kembali mimpiku semalam. Kedua tangan kulipat di atas bantal, lalu kujadikan alas kepala. Lama kelamaan kurasakan keanehan, bantalku kasar dan keras. Seperti ada yang menonjol di sana. Kuraba-raba. Kupegang, kukeluarkan. Aku kaget, keris Nagapasha itu ada di bawah bantalku.[T]

  • Catatan: Cerpen ini adalah terjemahan dari cerpen berbahasa Bali yang berjudul Keris, diambil dari buku Luh Jalir yang diterbitkan Pustaka Tarukan Agung (2008). Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Made Adnyana Ole

_____

Baca cerpen-cerpen lain

Mahar Nikah Paling Mahal | Cerpen Ni Wayan Wijayanti
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Ni Wayan Kristina | Lenyap, Sudut Jendela Surga

Next Post

SMAN 1 Singaraja Juara | Bupati Suradnyana: Lanjutkan Tradisi Gerak Jalan 45 Kilometer

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
SMAN 1 Singaraja Juara | Bupati Suradnyana: Lanjutkan Tradisi Gerak Jalan 45 Kilometer

SMAN 1 Singaraja Juara | Bupati Suradnyana: Lanjutkan Tradisi Gerak Jalan 45 Kilometer

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co