2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keris | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
August 13, 2022
in Cerpen
Keris | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

Temanku, Nengah Sukerta, sangat menyukai keris.

“Memiliki keris, lebih berharga dari mempunyai uang, membuat tidurku nyenyak!” Begitu kata Nengah Sukerta sambil tergelak tertawa.

Yah, tak jelas apa yang membuatnya tertawa, aku tak pernah tahu pasti. Entah apa yang dia harapkan dari keris-keris itu, aku tak pernah paham. 

“Pokoknya…. suka! Aku sangat menyukai keris, tak perlu alasan apa pun!” Kata-katanya selalu pedas kalau aku bertanya. 

Kalau dipikir-pikir boleh-boleh saja Nengah Sukerta sangat menyukai keris. Pada saat kondisi dunia sulit seperti saat ini, dagangan Nengah Sukarta semakin banyak, kekayaannya juga makin berlimpah. Ya, kaya raya begitu orang menyebutnya. 

Berbeda dengan orang kaya pada umumnya, Nengah Sukerta tidak menunjukkannya dengan memamerkan motor di garasenya. Ia juga tidak mencari banyak istri. Yang selalu ia cari adalah keris. Di manapun ia mendengar ada yang menjual keris angker, sakti, dikejarnya. Jatuh bangun ia mengejar sampai meninggalkan pekerjaan.

Di manapun ia mendengar ada orang yang pandai membuat keris bertuah, dicarinya. Diupah agar membuatkannya keris. Tetapi sekian lama aku berteman dengannya, begitu banyaknya Nengah Sukerta memiliki keris yang katanya sakti, tak ada yang aku lihat terbukti kesaktiannya. Secuil pun, tak pernah terbukti. Yang kudengar hanya sebatas sakti katanya, bisa begini, bisa begitu katanya. 

Kemarin malam, sekitar jam sebelas aku dijemput. 

“Yan, mari ikut pergi, ” katanya.

Aku belum sepakat, diseretnya tanganku. 

“Jangan lagi bilang begini begitu, kamu ikut saja, ada keris sakti sekali. Tetapi harus dimohonkan jam dua belas malam, baru akan muncul tuahnya,” kata Nengah Sukerta, sambil berbisik di telinga kananku. 

Seperti biasanya, aku hanya diam, tak memberi jawaban. Kubiarkan Nengah Sukerta bercerita berbusa-busa, menjelaskan kehebatan keris itu. 

“Keris itu bernama keris Nagapasha, dibuat oleh Mpu Bhaja dari Kerajaan Daha. Itu lho, jaman Erlangga menjadi raja di Kediri, kan kerajaannya dibelah dua menjadi Daha dan Jenggala. Keris ini katanya keris pusaka Raja Daha.” Semangat sekali Nengah Sukerta menjelaskan. 

Sambil menyetir mobil Hartop-nya, sepertinya sudah panjang lebar ia bercerita. Entah sampai di mana ceritanya, terdengar lagi, hilang lagi, terdengar lagi, hilang lagi. 

Aku kaget saat mobil berhenti. 

“Yan, bangun, sudah sampai,” kata Nengah Sukerta.

Telingaku terasa panas. Aku bangun mengusap-usap mata.  “Di mana ini, Bli, kenapa gelap gulita?” bisikku sambil meraba-raba. 

“Di kuburan Madura,” jawabnya.

Dari nada bicaranya, kutangkap ia merasa takut, seperti gemetar. 

“Lalu mencari siapa, Bli? Kenapa tak ada orang?” tanyaku halus, sambil tolah-toleh. Aku tak melihat siapa-siapa. Hanya ada pohon randu besar, dan daunnya yang bertumpukan hitam. 

“Yan, kamu turunlah dahulu!” Ia memberi perintah.

Aku pun turun dari mobil. 

“Kemarilah…!”

Lagi Nengah Sukerta memerintahkanku agar mendekati jendela mobil tempatnya duduk. Kudengar suara berisik. Dari bagian belakang mobilnya, ia mengeluarkan canang, daksina dan keris. 

“Ini tolong Bli, Yan. Ini keris Nagapasha itu, kudapatkan di Jawa, tapi sekarang hilang tuahnya karena tidak dirawat dan diupacarai. Sekarang beri sajian dan hidupkan ya. Bli tak berani!” Begitu kata Nengah Sukerta sambil menyerahkan banten dan keris itu.

Aku bingung tak bisa berkata apa-apa. Aku tak pernah melakukan  pekerjaan aneh seperti ini. Kalau sebatas melintas tengah malam di tengah kuburan aku pernah lakukan. Melewati tempat yang dikatakan angker aku tidaklah takut karena aku merasa tak pernah berniat buruk. Karena aku selalu ingat akan keberadaan Tuhan yang menciptakan  segala yang ada di dunia, yang baik maupun yang buruk. Tapi kalau diminta menghidupkan tuah keris dengan sarana canang dan daksina, yahh aku tak pernah. Merasa tidak bisa, tapi bukannya tidak berani. 

“Kumohon tolonglah, Yan!” Kembali Nengah Sukerta minta tolong dari dalam mobil. 

Kutenangkan diri. Bukannya aku tak mau menolong, tapi apa yang aku katakan, aku tidak bisa mengucapkan mantra. Kalau bicara seperti biasa aku bisa. 

“Mohon saja kehadapan Sanghyang Pasupati yang berstana di sini agar tuah keris ini kembali seperti sedia kala,” seru Nengah Sukerta

Aku mengangguk. Anggukanku pasti tak jelas dilihat oleh Nengah Sukerta. Kuheningkan pikiran dan perasaan, menghaturkan daksina juga canang dan meletakan keris itu di sampingnya. 

Apapun yang diperintahkan oleh Nengah Sukerta kuikuti. Tetapi sebelum mengucapkan permohonan aku minta maaf terlebih dahulu karena hanya membantu Nengah Sukerta. 

“Tuhan ampunilah kebodohan hamba, hamba mohon pengampunan atas kebodohan hamba. Hamba hanya utusan yang dimintakan untuk memohon agar isi dan kekuatan keris Nagapasha ini kembali seperti semula!” Demikian permohonan bodohku. 

Ada tiga puluh menit aku bertahan di atas gundukan tanah tempat pembakaran mayat di kuburan itu. Kalau ada yang lewat pasti aku akan disangka sedang mempraktekkan  ilmu hitam. Kakiku terasa pegal. Aku menoleh. Nengah Sukerta hanya diam, seperti bisu tuli. Aku sudah merasa capek bersila di gundukan pembakaran mayat itu, ya akhirnya kuputuskan sendiri untuk permisi, memohon diri dan berterima kasih. Ya, kuanggap saja permohonan Nengah Sukerta yang aku wakili diterima. Nengah Sukerta kaget melihat aku kembali ke mobil. 

“Yah sudah selesai Yan, kok cepat sekali?” tanya Nengah Sukerta. 

“Sudah, Bli, sudah dari tadi. Kenapa juga lama-lama, kan permintaannya sedikit, bantennya juga sedikit, ” jawabku.

Sejatinya aku hanya ingin cepat pulang, di mata terbayang tempat tidurku. Mataku terasa berat, sangat mengantuk, ya jangan-jangan mimpiku sudah hadir di sana.

Pulang dari kuburan, aku langsung diantar pulang. Suara Nengah Sukerta yang berkali-kali mengucapkan terima kasih, tak kuhiraukan. Yang kuinginkan hanya satu. Tidur dan berkelana ke alam mimpi. 

Matahari makin panas, menusuk kaca jendela kamar. Baru saja aku berusaha membuka mata, kudengar suara Nengah Sukerta. 

“Yan, keluarlah, ada yang ingin Bli tanyakan,” katanya tergesa.

Aku bangun, membuka pintu. Baru sebelah kakiku ke luar pintu, seketika bersujud Nengah Sukerta di kakiku. 

“Aduh, Yan, kamu tidak apa-apa kan? Benar-benar sakti keris itu. Kemarin saat kembali dari mengantar kamu, Bli baru saja bersiap tidur. Seketika keris itu hidup, bersinar, terang benderang, setelah itu keris berubah menjadi ular. Bli hampir dipatuk. Karena teramat takut, agar Bli tidak dipatuk, lantas Bli katakan saja kalau Wayan yang menghidupkan keris itu, agar Wayan yang dicari. Lantas ular itu pergi. Keris itu juga hilang. Apa Wayan tidak dicari?  Aduh, Wayan, maafkanlah kesalahan Bli!” Demikian kata Nengah Sukerta sambil menangis minta maaf.

Aku bingung, sesak, dadaku terasa penuh. Sudah mau menolong, malah bisa kena celaka. Kubiarkan Nengah Sukerta menguras air matanya di kakiku. 

“Bli takut sekali, mulai sekarang Bli tak lagi mencari keris yang benar-benar sakti, lebih baik Bli menjadi pedagang keris antik saja,” janji Nengah Sukerta. 

Sesudah Nengah Sukerta pulang, aku kembali masuk kamar, bukannya aku ingin tidur lagi. Aku hanya ingin mengingat-ngingat kembali mimpiku semalam. Kedua tangan kulipat di atas bantal, lalu kujadikan alas kepala. Lama kelamaan kurasakan keanehan, bantalku kasar dan keras. Seperti ada yang menonjol di sana. Kuraba-raba. Kupegang, kukeluarkan. Aku kaget, keris Nagapasha itu ada di bawah bantalku.[T]

  • Catatan: Cerpen ini adalah terjemahan dari cerpen berbahasa Bali yang berjudul Keris, diambil dari buku Luh Jalir yang diterbitkan Pustaka Tarukan Agung (2008). Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Made Adnyana Ole

_____

Baca cerpen-cerpen lain

Mahar Nikah Paling Mahal | Cerpen Ni Wayan Wijayanti
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Ni Wayan Kristina | Lenyap, Sudut Jendela Surga

Next Post

SMAN 1 Singaraja Juara | Bupati Suradnyana: Lanjutkan Tradisi Gerak Jalan 45 Kilometer

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
SMAN 1 Singaraja Juara | Bupati Suradnyana: Lanjutkan Tradisi Gerak Jalan 45 Kilometer

SMAN 1 Singaraja Juara | Bupati Suradnyana: Lanjutkan Tradisi Gerak Jalan 45 Kilometer

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co