12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Betapa Pekat Asap di Puncak Semeru | Cerpen Arnata Pakangraras

Arnata Pakangraras by Arnata Pakangraras
March 18, 2023
in Cerpen
Betapa Pekat Asap di Puncak Semeru | Cerpen Arnata Pakangraras

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

SEMAK BELUKAR, perdu-perdu liar hangus. Deretan sengon di seberang sungai Besuk Lanang meranggas. Kulit kayunya lepuh.

Seolah tanpa peringatan, kecuali dentuman keras yang terdengar dua, tiga atau empat kali. Abu panas seturut arah angin, menyebar cepat ke pedusunan di lereng. Teriakan pilu minta tolong terdengar dari segala arah. Beberapa anak sesenggukan, mencari-cari ibunya. Seorang lelaki bercaping kumal menggendong seekor anak kambing. Luka lecet melebar di punggungnya. Orang-orang berwajah gelisah berkerumun di badan jalan. Waktu seperti tak berpihak walau sekadar untuk mengatur napas. Dentuman susulan memaksa mereka kembali berlari, terus berlari, menghindar sejauh mungkin.

***

Bagaskara berdiri kaku. Di hadapannya sebuah rumah kusam tak asing baginya. Ia tahu persis kapan pohon jambu kristal yang kini mengering di halaman samping itu ditanam. Ia ingat betul, ada dua lukisan : bunga mawar dan kucing tiduran, terpajang di dinding ruang tamu. Ia hafal ada lorong kecil yang langsung tembus ke dapur.

Atap genteng tertutup abu tebal, melorot tak beraturan. Jendela setengah terbuka. Pintu depan menganga, bagian bawahnya terkubur beberapa sentimeter. Satu sangkar burung, melompong, tergantung miring di teras. Satunya lagi tergeletak di dekat pintu besi pagar pekarangan. Mengusap dada, ia mundur beberapa langkah. Menarik napas lebih panjang.

Terpisah jarak, ada rindu tumbuh bahkan subur di hatinya. Rindu kokok ayam jantan memecah hening subuh. Merdu alunan azan dari surau tua di perbatasan dusun. Rumput berembun sepanjang pematang. Desau angin di daun padi di mana anak capung pulas berayun-ayun. Rindu menghidu hangat wedang jahe seduhan ibu. Menikmati setiap teguknya. Kue lupis bertabur kelapa parut, bersiram gula merah. Dan, tentu saja, rindu kepada Manika.

Ya, Manika, gadis periang yang tiba-tiba kehilangan senyum ketika Bagaskara pamit, setahun lalu. Matanya sembab, menyadari diri tak punya cukup keberanian untuk menentang apalagi mencegah. Tapi alih-alih mengiyakan, ia justru memilih diam. Menunduk, menyembunyikan setiap tetes air mata. Bagaskara sejatinya tak ingin perpisahan ini terjadi. Minimnya peluang kerja di desa memaksanya untuk mengambil keputusan : merantau.

Melepas peci, dikibaskan dari debu. Bagaskara duduk di bangku kayu panjang.  Merapikan rambut yang dimainkan angin dengan jemari tangan. Melirik ke samping : pohon-pohon pisang bertumbangan di kebun. Pelepah daun koyak. Bertandan-tandan buahnya menghitam. Ia bangkit sebentar lalu duduk kembali. Bangkit lagi, duduk lagi. Dirogohnya kotak mungil dari saku baju. Agak ragu, kotak warna merah itu dibuka akhirnya. Sebuah cincin emas bergrafir simbol dua hati diusap pelan. Ia tersenyum sembari menutup kembali. Kini pandangannya menerawang. Jauh!

***

Memasuki gerbang desa, sepulang dari resepsi pernikahan teman di kota Lumajang, Bagaskara memperlambat laju motornya. Menepi, parkir di depan sebuah warung. Rindangnya pohon waru cukup menaungi dari terik siang itu. Sebotol teh dingin rasa melati segera disodorkan ke Manika yang duduk menyamping di jok motor.

“Wah, tahu saja lagi haus. Matur suwun, Mas.”

Sensasi dingin segar mengaliri kerongkongannya. Saat sedang minum, Bagaskara sempat melirik leher jenjang Manika.

 “Lho, kok minumnya sedikit, katanya haus?”

 “Ya, cukup tapi camilannya mana?” seloroh Manika sambil mengembalikan botol minuman. Bagaskara menempelkan botol dingin itu ke dahi, menggaruk kepala tak gatal. Sungguh, ia lupa kacang sukro kesukaan Manika.

“Sebentar, aku ambilkan.”

“Oh, tak usah, Mas. Aku mung guyon. Tadi kan sudah nasi goreng di sana. Tambah bakso lagi. Belum eskrim durennya.”

“Maklum gratisan,” timpal Bagaskara enteng. Mereka tersenyum, saling pandang lalu tertawa lepas.

“Oya, tadi kedua mempelai ceria sekali, ya? Menebar senyum kiri kanan. Kelihatan senang, gitu.  Para undangan antre memberi ucapan selamat,” sambung Bagaskara.

Manika hanya mengangguk.

“Alangkah bahagianya menjadi pengantin,” kata Bagaskara lagi, sambil menatap Manika.

Manika kembali hanya mengangguk. Tanpa komentar sekata pun.

Bising suara truk lewat menjeda percakapan. Lima truk beriringan, bergerak lambat karena beban muatan. Truk pasir terakhir berhenti dengan mesin masih menyala. Sopir berkaca mata hitam turun. Ada tato kalajengking di lengan kanannya. Membeli sebungkus rokok, kacang kulit rebus dan air mineral botol besar.

Penambangan pasir adalah mata pencaharian sebagian warga sejak lama. Pemandangan rutin bila setiap hari puluhan truk melintasi jalan desa. Mereka memasok pasir ke daerah sekitar bahkan ke luar daerah. Tak dipungkiri, aktivitas penambangan telah memutar roda perekonomian warga.

Memang paradoks. Letusan vulkanik Semeru menjadi kabar gembira bagi penambang. Sebab pasca letusan, cadangan pasir dan batu akan melimpah kembali. Apa yang disebut bencana oleh orang-orang justru rejeki bagi mereka. Ribuan ton pasir dikeruk setiap hari dari sungai di beberapa titik area tambang. Di sisi lain, kerusakan infrastruktur jalan dan lingkungan adalah fakta yang tak terbantahkan.

 “Boleh saja mereka lalu lalang. Setiap menit sekali pun! Ora urus…” Bagaskara meneguk habis sisa teh dingin. Botol kosong dipelintir lalu dihentak kuat-kuat hingga tutupnya terlontar ke seberang jalan.  

***

Sabtu datang. Melalui percakapan WhatsApp, mereka sepakat bertemu di konser dangdut, nanti malam. Kabar beredar, sebuah grup dangdut yang pernah viral dari kawasan pantura Banyuwangi akan menutup rangkaian acara syukuran hari ulang tahun desa.  

Bagaskara menunggu di pinggir lapangan desa. Langit di atas kepalanya bermendung. Bulan sabit pudar. Udara dingin. Akankah malam ini hujan lagi seperti malam-malam sebelumnya?  

“Suwe ngenteni? Maaf terlambat!”

 “Ah, tidak. Ora popo. Demi ning seorang, jangankan setengah jam, sejam, sehari pun siap!” Manika tertawa renyah mendengar celoteh Bagaskara.

“Aduh!” Bagaskara meringis, mengusap-usap lengan kiri. Bekas cubitan memerah di permukaan kulit. Manika tahu lelaki di hadapannya hanya pura-pura kesakitan. Gimik saja! Tapi sejujurnya ia suka. Cubitan kembali mendarat. Kini lebih keras.

Mereka bergegas membaur dengan penonton. Merangsek ke depan hingga berjarak sekitar satu meter dengan tepi panggung. Manika manut saja meski agak risih. Apalagi suara loudspeaker berkapasitas watts besar memekakkan telinga.

Seorang biduanita muda bernyanyi dengan cengkok khas dangdut. Bergoyang lincah seirama tepakan gendang. Penonton ikut bernyanyi, ikut bergoyang.

“Ayo, gerakkan tubuhmu, goyangkan pinggulmu!” Bibir Bagaskara nyaris menyentuh telinga Manika mengucapkan itu. Napasnya memburu. Manika mencoba tapi terlihat kaku. Ia tak mahir bergoyang.

Penyanyi selanjutnya, berkostum ketat, seksi. Bibirnya pink menebar senyum. Ia sangat menguasai panggung. Interaksi verbal dengan penonton intens dan hangat. Kadang disertai gerakan sensual. Sorot lampu melumat habis lekuk tubuhnya.

Warna-warni cahaya silang menyilang, berputar-putar ke arah penonton. Sontak disambut siulan serta riuh tepuk tangan. Larut dalam kegembiraan, gerimis yang mulai turun justru menambah semangat mereka.

Melewati beberapa lagu, hujan pun menderas. Dentuman keras terdengar menyusul kilatan petir di langit. Dalam hitungan menit, angin kencang merobohkan tenda dan baliho sponsor acara. Penonton ambyar. Manika menarik paksa Bagaskara agar segera meninggalkan tempat. Dalam langkah terburu, ia sempat menoleh, masih ada bertahan seperti tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Basah kuyup, Bagaskara mengantar Manika ke rumah yang jaraknya tidak jauh. Ke arah utara dari lapangan. Meski agak redup, lampu penerang jalan menuntun kaki mereka, menghindari setiap genangan.  Bagaskara menggenggam tangan kekasihnya, dingin. Manika buru-buru melepaskan. Beberapa langkah saja, Bagaskara kembali meraihnya. Menggengamnya lagi. Lebih erat. Ia memandang butiran hujan jatuh dari ujung hidung yang bangir. Manika melotot. Bagaskara cekikikan.

***

Minggu, langit cerah. Puncak Semeru serupa tumpeng raksasa di kejauhan. Balutan awan tipis menyempurnakan keindahannya. Dari jendela terbuka, udara pagi menerpa wajah Bagaskara. Kedua tangan dibentangkan ke samping lalu ke atas dalam satu genggaman. Sekarang tangan di pinggang. Memiringkan kepala ke kiri ke kanan mirip gerakan senam. Krek! Terdengar bunyi dari batang lehernya.

Duduk di teras. Diteguknya air putih, menyisakan setengah di gelas. “Manika gadis baik,” batinnya. Ah, ia tak pernah bisa menolak, selalu membiarkan gadis itu menari-nari di pelupuk mata. Seperti hari ini. Sepagi ini!

Memang, belum ada badai antara mereka. Hubungan mereka baik-baik saja.  Di mata Manika, Bagaskara adalah sosok bertanggung jawab.  Lelaki yang tak mudah ngapusi, mengumbar janji apalagi apriori.   Perbedaan pendapat misalnya, selalu ada titik temu tanpa saling menggurui, tanpa saling melukai.

***  

“Kamu yakin sudah siap?” Ibunya menelisik ketika Bagaskara meniatkan untuk meminang Manika, suatu hari. “Lahir batin, Le!” imbuhnya dengan mimik serius.

“Dipikir sing tenang sak durunge mutusno. Ojo grusa grusu!” Ayahnya menimpali seusai menandaskan kopi hitam. Menit-menit berikutnya ; nasihat, nasihat dan nasihat  mengalir deras ke telinga Bagaskara. Ia lebih banyak manggut-manggut daripada bertanya lebih jauh. Sesekali ditatap ayah ibunya. Kerut-kerut penuaan semakin jelas menggurat wajah mereka.

Dalam keluarga, sebagai anak bungsu, hanya dirinya yang belum menikah. Kakak pertamanya perempuan, menikah dengan orang Solo dan memberi dua cucu. Kakak ke dua juga perempuan, berjodoh dengan seorang guru Madrasah dari desa tetangga. Setahun lalu memberi satu cucu lanang.

***

“Menikah?” Manika bertanya balik, meyakinkan apa yang barusan terucap dari bibir Bagaskara. Menikah? Kata itu seakan bergema panjang di ruang hatinya.

“Ya, kita menikah!”

Manika binar menatap. Anggukan pasti Bagaskara, melegakan.  Penantiannya selama ini sampai pada ujungnya. Sebuah cincin mungil melingkari jari manisnya. Mata cincin putih bening, berkilau dalam terpaan cahaya.

Ia menyandarkan kepala ke dada Bagaskara. Ingin rasanya berlama-lama agar terus mendengar detak jantung lelaki yang tak lelah menyemai harapan. Walau, ia tak sanggup membantah bahwa harapan hanyalah gelembung sabun. Melambung lalu pecah di udara.

Mata Manika menguncup pelan., ia merasakan tubuhnya ringan kapas. Telapak kaki terangkat tak lagi menyentuh tanah. Sepasang sayap tumbuh di punggungnya. Sayap itu mengembang, mengepak berulang-ulang.  Manika terbang, melayang tinggi, semakin tinggi.

Bagaskara lunglai. Dengan sisa-sisa tenaga menyeru nama Manika. Ia masih terus menyeru ketika dua orang petugas SAR memapahnya menjauh dari rumah kekasihnya. [T]

[] BACA cerpen-cerpen lain

Pohon Waru Teluk Selat Bali | Cerpen Satria Aditya
Pisah Ranjang | Cerpen AG Pramono
Rembulan di Bukit Asah | Cerpen Gede Aries Pidrawan
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pendidikan Seks untuk Anak Usia Dini, Tabu atau Perlu?

Next Post

Puisi-puisi Mettarini | Sebentar Lagi Gelap Gulita

Arnata Pakangraras

Arnata Pakangraras

Lahir di Gianyar 24 Februari 1967. Saat SMA puisi-puisinya tersebar di halaman apresiasi sekaligus ikut “kompetisi puisi” yang disuh Umbu Landu Paranggi di Bali Post Minggu. Kini tinggal di Jakarta

Related Posts

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Mettarini | Sebentar Lagi Gelap Gulita

Puisi-puisi Mettarini | Sebentar Lagi Gelap Gulita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co