2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon Waru Teluk Selat Bali | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
March 11, 2023
in Cerpen
Pohon Waru Teluk Selat Bali | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co

POHON WARU yang cukup besar seperti menari-nari saat diterpa angin, daun-daun yang berguguran membuat angina dan tanah berbahagia akan hari itu. Di sisi teluk, tepat di Selat Bali, dari kejauhan kapal-kapal ferry terlihat lalu-lalang. Kapal-kapal itu terlihat lumayan kecil dari pohon waru.

Senja juga sudah menampakkan keindahannya. Namun tak seindah perasaan dua orang yang sedang duduk di bawah pohon itu. Mereka tidak mengucapkan sepatah katapun. Setiap hari memang ada saja orang-orang yang sengaja menyendiri, sedang membuat janji atau sedang menangis dan duduk bersandar di bawah pohon itu. Mereka mencurahkan suka dukanya pada batang pohon, pada akar, atau pada daun-daunnya yang rimbun. 

Pohon itu tumbuh sendiri, di sekitarnya hanya ada padang savana. Di teluk itu, pohon waru tumbuh di atas karang yang dihiasi lumut-lumut.

Tak jarang para nelayan dan beberapa orang singgah hanya untuk berteduh di bawahnya. Kadang saat air laut pasang, akar-akar pohon itu selalu dipenuhi air. Kadang pohon itu seperti ingin terbawa arus air. Tetapi, untungnya karang-karang ini selalu setia menjaga. Beberapa kali ombak pasang menerjang, kadang membawa pasir-pasir laut sehingga menutupi karang di bawahnya lalu ditumbuhi rumput-rumput liar.

Saat karang tepat di depannya hilang ditelan pasir, setelahnya orang-orang datang berbondong-bondong untuk duduk di bawah pohon waru itu. Daun yang rimbun seakan membawa harap untuk mereka, menikmati senja dan seakan melepas kepergian seseorang.

Dari orang-orang yang datang ke sini, kedua orang itu selalu datang setiap hari. Mereka kadang bahagia, tertawa dan selalu bercanda, lalu pulang dengan rasa bahagia. Kadang salah satunya bersedih entah kenapa tepat saat duduk di bawah pohon waru. Mereka adalah orang yang paling sering berkunjung ke sana. 

Tapi saat ini, suasana tampak tak begitu mengenakkan. Mereka berdua biasanya terlihat baik-baik saja, bercengkrama, tertawa lalu berlarian di sekitaran padang rumput di atas karang sana lalu kembali duduk di bawah pohon waru. Tapi kali ini, isak tangis mereka berdua seakan mengalahkan bunyi-bunyi kapal dan jukung yang berlayar entah ke mana. 

“Jadi mau bagaimana, Ingkar? Aku tak dapat memaksa lagi,” ucap pria itu sembari menunduk.

“Tak ada yang pernah memaksa, Raga. Kita berdua saja yang berusaha memaksa hubungan ini,” ucap Ingkar menangis.

“Aku memaksa, Ingkar. Memaksa kebahagiaanmu yang seharusnya dimiliki lelaki yang pantas.”

“Kau lelaki yang pantas itu.”

“Iya bagi dirimu, tidak bagi orang tuamu.”

Raga menahan tangisnya yang sedari tadi seperti ingin ia keluarkan, sedangkan Ingkar masih saja terisak-isak. Mereka tak saling bercakap kembali. Raga lalu memandang laut Selat Bali, linangan air terlihat sangat jelas di matanya. Napasnya juga tak beraturan, seperti sesak yang tak kunjung usai. 

“Entah kapan lagi kita akan menikmati senja yang indah ini, Ingkar,” ucap Raga membuka percakapan kembali.

Ingkar tak menyahuti perkataan Raga, ia masih saja tenggelam dalam tangisannya.

“Kita sudah tidak bisa lagi bersama, jika ayah dan ibumu juga tak menginginkan aku, Ingkar.”

“Aku juga tak merestui perjodohan ini, Raga. Aku mengutuk mereka!”

“Itu keputusan orang tuamu. Jangan membuat karmamu sendiri, Ingkar.”

“Mereka yang membuat karma itu. Bukan aku, bukan aku!” teriak Ingkar dalam isaknya.

Setelah percakapan yang melelahkan dan tangis yang tak kunjung usai, mereka saling memeluk satu sama lain. Sembari mengelus kepala Ingkar, Raga akhirnya menangis. Menangis di dalam pelukan Ingkar yang hangat, untuk terakhir kalinya.

“Setelah ini kita tak lagi bertemu, Ingkar,” ucap Raga sembari memeluk Ingkar.

“Sampai kapanpun kita tak terpisahkan, Raga. Tak akan. Apapun yang terjadi setelah ini.”

“Tapi bagaimana dengan orang tuamu itu?”  Raga melepas pelukannya.

“Aku tak perduli lagi. Biarlah mereka tersiksa nasib.”

“Tapi kau harus turun kasta jika bersamaku. Itu akan memunculkan amarah keluarga besarmu.”

“Aku tegaskan lagi, Raga! Kita tak akan terpisahkan!” ucap Ingkar dengan muka yang sangat tegas kala itu.

Matahari semakin terbenam, mereka tak juga kunjung beranjak. Tak ada penerangan, hanya cahaya bulan yang segera menerangi mereka. Raga dan Ingkar mulai meredam tangis, mereka menari dalam kegelapan yang indah kala itu. Mereka menari, saling memeluk, kadang mereka tertidur di bawah pohon itu, kadang Raga menari di atas Ingkar begitu sebaliknya.

Mereka memuaskan setiap cinta untuk terakhir kalinya. Tanpa terlewat sedikitpun. Setiap cengkraman cinta-cinta itu ditumpahkan di bawah pohon Waru.

Pohon waru yang kokoh itu daunnya mulai bergoyang diterpa angin malam dari arah laut, seperti ikut menari bersama mereka. Dua orang yang menuntaskan cintanya dan pohon waru yang ikut senang dengan mereka. Tak lama kemudian, Ingkar kembali menangis. Ia menangis terisak di atas badan Raga. 

“Kita tak akan berpisah, Raga!” kata Ingkar sembari menangis.

“Mari tuntaskan, Ingkar.”

“Kita tak akan terpisah.”

“Ya! Aku tahu. Kita tak akan terpisah,” kata Raga.

Ingkar masih terisak dalam tangis, kemudian Raga mencoba menenangkannya. Sembari mengelus rambut lusuh Ingkar, Raga kembali mengungkapkan cintanya. Mereka kembali menari-nari dalam bayang bulan yang sedemikian terang. Angin bertiup semakin kencang, Pohon waru itu melambai ke sana kemari seperti mengikuti tarian Raga dan Ingkar. Mereka masih menari, menarikan cinta-cinta mereka. Hingga malam tak terasa semakin larut. 

Jukung-jukung nelayan terlihat dari kejauhan dengan lampu kunang-kunangnya. Ada yang sudah mulai menjala dan baru berangkat dari tepian. Saat fajar sudah mulai menampakkan dirinya, nelayan-nelayan itu bergegas menarik jala dan mengarahkan jukung-jukungnya untuk kembali ke tepi. Membawa sedikit harap agar ikan-ikan yang ditangkap bisa dijual setelahnya.

Beberapa nelayan juga tak langsung pulang ke rumah, tapi ada yang ingin bercengkrama dengan nelayan lainnya di bawah pohon waru. Karena dari sana, mereka dapat melihat keindahan teluk dan Selat Bali yang selalu mereka hampiri untuk menjala.

Pagi itu, salah seorang nelayan heran karena banyak orang berkerumun di sekitar pohon Waru itu. Tak seperti biasanya pohon itu dikerumuni banyak orang, biasanya hanya satu atau dua orang saja. Nelayan itu mendekat ke kerumunan.

Sampai di sana ia terkejut, seorang pria dan wanita sudah tergantung lemas di pohon waru itu. Mereka masih saling berpegangan tangan sangat erat dan tak memakai sehelai pakaianpun.

Dari kejadian yang menggemparkan itu, pohon waru yang kokoh di sisi teluk dipotong oleh nelayan karena dianggap sudah leteh. Tak ada lagi tempat untuk menikmati keindahan teluk senja dan Selat Bali. Tak ada lagi pohon untuk nelayan berteduh dan tidak ada lagi pohon Raga dan Ingkar untuk menikmati cinta. [T]

KLIK untuk BACA cerpen-cerpen lain

Pisah Ranjang | Cerpen AG Pramono
Rembulan di Bukit Asah | Cerpen Gede Aries Pidrawan
Kebaya | Cerpen Ikrom F.
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemilu 2019, Ada Pelajaran

Next Post

Kisah Tiga Dadong , Nasabah Prioritas Bank Sampah Galang Panji di Buleleng

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Tiga Dadong , Nasabah Prioritas Bank Sampah Galang Panji di Buleleng

Kisah Tiga Dadong , Nasabah Prioritas Bank Sampah Galang Panji di Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co