2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Diskursus Dongeng Sesuap Nasi

Ikrom F. by Ikrom F.
June 3, 2023
in Esai
Diskursus Dongeng Sesuap Nasi

Ilustrasi tatkala.co

SAAT MEMBACA berita mengenai peran pemuda dalam menjaga lingkungan di Kompas, saya segera teringat pada salah satu kumpulan esai karya M. Faizi yang terbit dengan judul Merusak Bumi Dari Meja Makan (2021).

Tulisan esai itu begitu sejuk dan serat akan ilmu pengetahuan soal masalah sampah dan bagaimana manusia menghadapinya. Satu-satunya tulisan yang mungkin berbau kultur budaya desa atau dongeng adalah dalam paragraf ini:

“Ketika saya kecil, saya tinggal bersama nenek. Beliau akan murka jika piring yang saya gunakan untuk makan tidak dalam keadaan bersih seperti dipel ketika saya meninggalkannya untuk cuci tangan.

“Bersihkan! Jangan sisakan sebutir pun butiran dipiringmu akan menangis kalau dibiarkan begitu! demikian pesan nenek.

Beliau tidak menjelaskan motif apa pun di balik perintah itu, termasuk adanya motivasi sunah nabi, dan sebagainya. Perintahnya malah mirip dongeng, bahwa setiap butiran nasi turut berzikir, dan sebagainya. Perintahnya malah mirip dongeng, bahwa butiran-butiran itu akan menangis jika tidak ikut dimakan manusia dan hanya berakhir di tempat sampah”.

K. M. Faizi menulis itu untuk menggambarkan pada kita seperti apa dunia desa membikin alam ini tak tercemar kotoran manusia. Tak pernah terbayangkan, kita (yang hidup dari desa) mungkin lazim mendengar petuah-petuah itu dari orang tua. Kita tidak mau bertanya soal motif apapun di balik perintah itu. Tapi justru dengan petuah itu, kita sama sekali tidak punya kesempatan agar membuang-buang makanan.

Hal sama terjadi ketika ada ajaran soal berbakti pada orang tua. Di sekolah dasar, kita mengenal cerita ikonik tentang Malin Kundang yang dikutuk jadi sebuah batu. Menurut berita yang beredar, Kutukan itu berasal dari ibunya, sebab maling kundang tak mau mengakui sang ibu di depan istirnya yang bangsawan. 

Dengan itu pikiran kita bisa tahu bahwa pembahasaan anak yang durhaka adalah hal tabu dan perlu disampaikan pada generasi selanjutnya. Tanpa ada dongeng Malin Kundang misalnya, cerita seorang anak yang dikutuk itu mungkin takkan pernah terjadi dan sialnya kita sulit memberikan pemahampan pada anak-anak apalagi kepada orang dewasa.

Pemahaman melalui dongeng ini saya kira menjadi alternatif agar proses penyampaian pitutur dari seorang sesepuh masih terjalin sekalipun dunia sudah serba cepat. Kita tahu, tantangan ke depan agar merawat alam dan lingkungan tidak hanya berupa gerakan peduli lingkungan, video pendek atau cinematik alam belaka. tapi juga dilakukan studi literasi lewat dongeng tadi.

Kita mengerti dongeng adalah sebuah cerita yang kebenarannya tak bisa dipertanggung jawabkan. Dongeng dengan segala versinya, pasti mengandung unsur kebohongan dan kesengajaan sekaligus manfaat tersendiri.

Buktinya, semenjak manusia mengenal digital dan berita, orang mulai menerjemahkan kembali apa saja yang terdapat di dalam dongeng, baik tempat, waktu, nama, dan latar belakangan yang lain.

Hanya saja kita belum mencari manfaat apa yang didapat dalam dongeng tersebut. kita juga tidak tahu bahwa dongeng tak hanya sebuah cerita, tapi dia akan terus populer sampai dunia ini berakhir, baik dalam versi sekolah, keluarga, maupun suku.

Bisa dibayangkan, seandainya kita mempunyai sebuah dongeng tentang soal sesuap nasi bisa merusak alam, mungkin itulah sekian ribu cara agar kita memahami kondisi semesta saat ini.

Dari dongeng sesuap nasi kita bisa ceritakan pada anak-anak saat mereka ingin beranjak tidur. Tentu anak-anak ini nanti, akan diceritakan ulang pada teman-temannya sehingga dongeng itu berhasil terekspos secara cepat.

Membuat dongeng alam tentu tak harus berdasarkan sifat asli cerita. Latar belakang dan tokoh legenda bisa kita buat-buat, asalkan dampaknya bisa mengenai pembaca.

Berita, misalnya tidak akan pernah dibaca oleh semua kalangan jika tak bisa menunjukkan human interest yang tepat. Sebaliknya berita dapat laku sebab pemberitaan berjalan sesuai keinginan publik.

Faktor keinginan ini yang kemudian layak dikonsumsi oleh publik. Publik begitu sudah memuncak rasa ingin tahunya, maka boleh dikata mereka pasti mengejar sampai keingintahuan itu tercapai. Logikanya sebuah toko tak akan pernah laku di mata pembeli ketika menu yang disajikan tidak bisa memenuhi hasrat.

Dari sini, Erich Fromm dalam buku To Have or To Be (2019) yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, menuliskan risalah panjang bagaimana seseorang bisa mengada sekaligus punya rasa memiliki.

Dalam modus mengada, kata Erich, tidak dapat dipisahkan terhadap soal keyakinan. Bahkan keyakinan adalah unsur yang patut diperhitungkan sedari awal.

“Jelas, tanpa keyakinan, kita menjadi hampa, putus asa, takut hingga ke dasar keberadaan.”

Diskursus soal Dongeng Sesuap Nasi tadi juga bentuk dari yang awalnya mengada. Bentuk mengada ini nantinya menjadi simbol holistik terhadap pembacaan masyarakat kita.

Tentu bukan perkara mudah, berbicara dongeng sebelum tidur seperti ini. Tapi di saat orang mulai percaya terhadap serial Maling Kundang, Bawang Merah dan Putih atau Si Kancil Mencuri Timun, kita mendapat kesempatan untuk membikin yang lebih baik.

Sejak serial dongeng perlahan-lahan mulai habis, kita seolah-olah ingin mengembalikan kembali citra nusantara melalui budayanya. Salah satu budaya yang dari dulu sudah terbentuk dan terbukti hanyalah dongeng tadi. Tapi dongeng akhirnya gagal bersaing dengan majunya teknologi, yang ingin mengubah dunia dengan satu kedipan mata. 

Keniscayaan tetaplah jadi produk kita. Sehebat apa pun canggihnya tekonolgi, legenda masih gagah dan relevan untuk dibicarakan. Tapi, kata Goenawan Muhammad, sang pahlawan sebaiknya mati. Sebab revolusi tak pernah sama dengan dongeng yang sempurna.

Sekalipun tak sempurna, dongeng adalah legenda yang memikat. Ia tetap jadi pitutur yang tabu dan syahdu.[T]

Mengapa Kita Perlu Dongeng dan Mendongeng?
Dongeng Kayu, Metode Kreatif Mengasuh Anak
Pentingnya Dongeng bagi Pembentukan Karakter Anak
Tags: dongengdongeng pendidikanpembelajaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Senja di Akhir Luka | Cerpen Ni Wayan Sumiasih

Next Post

Dendam pada Musuh yang Imaginer

Ikrom F.

Ikrom F.

Pemuda kelahiran Jember. Saat ini sedang mengabdi di pondok pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Aktif di beberapa komunitas, seperti Komunitas Penulis Kreatif (KPK) Iksaj, IPJ, LPM Fajar dan PMII. IG @ikrom_f1234.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Dendam pada Musuh yang Imaginer

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co