13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ida Waluh di Lereng Gunung Agung

Gde Aryantha Soethama by Gde Aryantha Soethama
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Yusuf Susilo Hartono (sebagaimana dimuat di Kompas, 26 November 2017)

 

Cerpen: Gde Aryantha Soethama

SUDAH larut malam, barak pengungsi itu dipagut sepi. Mereka saling pandang ketika hendak memutuskan siapa akan menjemput Ida Waluh di lereng Gunung Agung. Perjalanan kurang dari tiga jam, tapi penuh mara bahaya, jika gunung yang dalam keadaan awas itu tiba-tiba meletus.

“Saya bersedia,” ujar seorang anak muda mengacungkan tangan tiba-tiba setelah sekian lama suasana bisu beku.

Semua memandangnya dengan seksama. Dia tamatan institut teknologi informasi, bekerja di penyedia jasa web design di Jimbaran. Ia yatim piatu, kuliah ditanggung bibinya yang tidak menikah, hidup dari menjual sembako di pasar kecamatan. Sejak warga dusunnya, Desa Kesimpar, di lereng Gunung Agung mengungsi ke Swecapura, Ananta selalu bermalam bersama mereka. Saban hari ia ulang-alik Swecapura-Jimbaran menempuh dua jam bermotor.

“Kalau begitu, saya ikut,” usul laki-laki bersarung, mengenakan kemeja endek.

“Biar saya sendiri saja, Pak Losen. Bapak dibutuhkan di sini menyambut kunjungan pejabat dan menemani para pembawa sumbangan untuk selfi. Tak ada yang bersedih kalau saya tak kembali. Ayah, ibu, pacar, saya tak punya. Saya cuma titip bibi.”

Losen anggota DPRD Kabupaten Karangasem, mendulang banyak suara berkat bantuan para bebotoh judi sabung ayam. Berulang Losen menyampaikan, ia bercita-cita jadi bupati bahkan gubernur, karena dengan menjadi kepala daerah ia yakin bisa mensejahterakan Desa Kesimpar.

Menjelang subuh Ananta berangkat ke Kesimpar naik motor. Para pengungsi melepasnya dengan pelukan dan tepukan bahu. Ibu-ibu terisak seperti melepas putra mereka ke medan perang dan tak akan kembali. Kakek-nenek mengusap-usap kepalanya, komat-kamit mengucap doa semoga ia kembali selamat utuh bersama Ida Waluh.

Bibinya justru tegar, memberi semangat. “Kamu penyelamat dusun kita, An.”

“Kasi hadiah nanti ya, kalau saya berhasil.”

Si bibi tersenyum, menyodok lembut dada keponakannya dengan bangga.

Melewati bukit Kahang-kahang, Ananta mulai merasakan getaran gempa. Selepas Desa Datah, gempa itu kian keras dan semakin kerap. Memasuki Desa Kesimpar, gempa semakin kuat, tanah tak cuma bergoyang, juga terguncang, dan bumi bagai hendak terbelah. Pohon terhuyung-huyung, gesekan semak-semak menimbulkan suara berderak- derak, seakan sebentar lagi Gunung Agung meletus. Tak ada burung melintas, juga tidak unggas dan anjing. Sapi-sapi sudah diungsikan. Desa Kesimpar menjadi dusun mati seperti disambar naga.

Ananta memasuki Pura Desa tempat Ida Waluh. Beberapa bagian tembok pura retak, atap-atap bangunan miring digoyang ratusan kali gempa sepanjang hari sejak dua pekan terakhir. Ia berhenti tepekur di depan sebuah meru tumpang tiga beratap ijuk tempat Ida Waluh berada. Dengan kunci yang ia ambil dari tas pinggang, perlahan ia membuka pintu dengan dada berdebar, semakin berdebar oleh getaran gempa yang mengguncang setiap dua menit.

Ida Waluh duduk bersimpuh, menatap teduh Ananta yang mencakupkan tangan di dada, sebelum dengan takzim membopongnya ke balai piasan, tempat yang dipenuhi sesaji jika upacara piodalan digelar.

Rambut Ida Waluh tergulung memanjang ke belakang, ujungnya melingkar. Dari kemaluannya menyembul bunga waluh menutup pusar dan sebagian kedua pahanya. Tubuhnya condong ke belakang, kedua tangan bertumpu menyangga bunga waluh yang besar.

Warga Desa Kesimpar sangat yakin, rambut yang memanjang adalah lingga, alat kelamin tanda kelaki-lakian Dewa Siwa, dan waluh adalah yoni, kelamin perempuan. Ida Waluh diyakini sebagai perujudan lingga-yoni simbol kesuburan, pemberi kesejahteraan dan kedamaian. Warga menjaganya dengan tidur makemit saban malam di Pura Desa, sejak beberapa tahun lalu, ketika puluhan patung suci pretima di desa-desa kaki Gunung Agung disatroni maling.

Ida Waluh memang rawan diculik, karena persis di belahan dadanya terbenam permata hijau lumut sebesar ibu jari tangan. Tersebar kabar ke seluruh desa dan kota, permata itu sangat bertuah dan murah hati. Banyak tokoh yang turut pemilihan kepala daerah atau anggota DPRD mohon restu di Pura Desa Kesimpar, mohon petunjuk dan restu memenangkan pertarungan politik. Mereka yakin anugerah permata hijau lumut itu menyiramkan wibawa dan pengaruh bagi siapa saja yang memohon pada Ida Waluh, yang diyakini percikan dari Ida Sang Hyang Widhi.

Ananta menyarankan tidak perlu makemit jika Ida Waluh selalu bersama GPS tracker untuk melacak dan memberi alarm jika diculik atau dipindahkan. GPS dipasang di atas lempengan baja yang menyatu dengan kayu, yang menjadi alas duduk Ida Waluh.

Tapi warga tidak pernah yakin, tak pernah tenang. Laki-laki dusun tidak semangat mengurus kebun, setiap saat dihantui perasaan was-was dan bersalah jika Ida Waluh diculik. Orang-orang kampung itu meragukan teknologi, karena teknologi hebat bisa dilawan dengan yang lebih canggih. Teknologi itu gampang disiasati dan dikibuli. Beberapa hari setelah pemasangan GPS, tiga wanita kesurupan meminta warga makemit kembali, bermalam di pura. Ida Waluh memperoleh dua perlindungan: digital dan manual. Dari tempat kosnya di Jimbaran, dengan smart phone Ananta bisa memantau Ida Waluh karena GPS tracker tetap terpasang.

Kesurupan kini berulang di pengungsian, dialami enam perempuan. Selepas petang anak-anak menangis menjerit-jerit tanpa sebab. Para orang tua bingung, inguh, gelisah. Orang-orang dewasa cuma tidur-tiduran tidak karuan, bermalas-malasan. Mereka merasa tidak nyaman dan ingin segera kembali ke Kesimpar, namun takut disergap lahar dan terjebak awan panas. Ketika itulah mereka sadar, Ida Waluh semestinya hadir untuk menjaga ketenangan dan kenyamanan. Mereka sepakat menjemput Ida Waluh untuk bersama tinggal di barak.

Hari menjelang sore tatkala dengan sangat hati-hati Ananta membopong Ida Waluh, setelah membungkusnya dengan kain kasa kuning yang ia dapatkan di sudut balai-balai. Gempa mengguncang-guncang semakin sering dan kian kuat. Kadang Ananta mendengar suara gemuruh seakan gunung meledak. Waktu terasa berjalan sangat lamban ketika ia bergegas jalan kaki melewati Tukad Gerudug yang dipenuhi batu muntahan letusan Gunung Agung tahun 1963.

Ananta bergegas menghidupkan motor yang ia parkir di bawah mohon jambu mete. Ida Waluh ia tempatkan di depan dada, tidak di boncengan, karena kuwalat memunggungi sosok suci. Apalagi tanpa disadari kadang ia kentut kalau naik motor. Dengan menempatkannya di depan, ia merasa seakan dipeluk Ida Waluh. Ia menjadi sangat tenang, tidak gentar akan bunyi-bunyi aneh alam sekitar karena gempa yang berulang.

Para pengungsi baru menyelesaikan makan malam ketika Ananta tiba di pengungsian Swecapura. Ia disambut seperti pahlawan, dielu-elukan, dipeluk penuh haru, dicubit-cubit ibu-ibu. Gadis-gadis mencium pipinya dengan bangga dan penuh suka cita. Tempat pengungsian itu menjadi riuh ketika Ida Waluh diarak ke ujung barak, ditempatkan dengan khidmat di atas tumpukan kardus-kardus bekas mi dan biskuit sumbangan. Sesaji dihaturkan, mereka menembangkan kidung wargasari, tirta dipercikkan.

Sejak itu orang-orang Kesimpar di pengungsian menjadi tenang. Tak ada lagi yang kesurupan. Anak-anak meminjam buku dongeng dari perpustakaan keliling. Untuk para kakek dan nenek, mereka membaca buku Mendongeng Lima Menit yang dikumpulkan Made Taro. Kali ini anak muda yang mendongeng untuk orang tua. Meski Gunung Agung dikabarkan kritis siap meletus, mereka di barak tidur nyenyak. Anak-anak makan banyak, bayi menetek susu ibunya dengan lahap.

Sampai suatu hari lewat tengah malam ponsel Ananta berdering. Tat-tit-tut-tet-tet-tet…

Ananta yang sedang duduk-duduk di barak pengungsi lain, tak harus menunggu dering ketiga, ia menyambar ponselnya. Ia kaget ketika menatap layar, ikon Ida Waluh bergerak ke luar barak. Ananta membangunkan orang-orang, mengajak mereka menatap layar selebar telapak tangan itu.

Belasan orang bergegas mengikuti ikon yang bergerak semakin cepat di layar. Mereka memasuki sawah yang sedang ditumbuhi kedele. Mereka meloncati selokan tempat mereka mandi dan buang air di tengah sawah. Layar di ikon semakin jauh dan kian bergegas menerobos sawah. Mereka mengikuti Ananta, yang bagai menjadi komando dari sebuah pasukan tempur. Ponsel di genggamannya seperti sebuah senjata otomatis siap menyalak. Matanya tak lepas-lepas dari ponsel, silih berganti mengikuti arah pematang di depan agar ia tidak terperosok.

Ananta memberi aba-aba agar orang-orang berhenti ketika ikon di layar diam, cuma berkedip-kedip perlahan. Mereka memandang sekitar, gelap sekali, sawah cuma diterangi cahaya bintang. Mereka mengendap-endap menuju titik ikon Ida Waluh berhenti.

Ananta memandang lurus ke arah ikon yang semakin dekat. Matanya tak lepas-lepas dari layar ponsel. Ia menatap sebuah gubuk kecil beratap alang-alang, dikitari tanaman jagung yang baru berbunga. Dengan dagunya ia menunjuk ke gubuk itu. Dan mereka serentak bergerak.

“Serbuuuuu…..!”

Mereka menerobos gubuk, mendapati seseorang duduk di atas tumpukan jerami. Gelap sekali dalam gubuk ketika orang itu dihujani pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Erangan dan jeritan kesakitan kalah oleh deru hantaman dan bising gerakan lengan.

Gubuk itu roboh karena tak sanggup menahan belasan orang. Atapnya beterbangan menghantam batang-batang jagung. Ketika itulah mereka menemukan Ida Waluh terduduk di sudut gubuk. Mereka segera mengambil pretima, patung suci dari kayu cendana setinggi tiga puluh senti itu, dan menjunjungnya ramai-ramai ke barak. Kecuali Ananta, tak seorang pun peduli sama pencuri itu yang tertelungkup.

Dada Ananta berdegup kencang ketika ia membalik tubuh orang itu, dan menatap wajahnya yang dikenal semua orang Kesimpar.

“Pak Losen. Pak…. Pak Losen.” Ananta menggoyang-goyang tubuh lunglai itu.

Losen perlahan membuka mata yang digenangi darah. “Sejak lama saya ingin memiliki permata ini, An,” ujarnya sembari merogoh saku celana dan mengeluarkan permata hijau lumut yang tadi masih tertancap di dada Ida Waluh, yang bercahaya lembut memantulkan cahaya bintang-bintang.

Ananta tak percaya, ketika orang-orang membawa Ida Waluh ke barak, ia masih melihat jelas permata itu berada di tempatnya.

“Yang itu palsu, An, saya mencungkilnya tadi, menggantinya. Yang ini asli. Saya cuma ingin permata ini, tidak patungnya. Akan saya kembalikan patung itu setelah berhasil menguasai permata lumut ini, agar saya bisa jadi bupati atau gubernur.”

“Bapak yakin?”

“Kamu kenal almarhum Pan Buyar?”

“Semua orang Kesimpar mengenalnya.”

“Pan Buyar itu kakekku, pakar batu mulia. Ia kerap menerima berkah batu bertuah di lereng Gunung Agung, tapi semua untuk penolak bala, tak ada buat membangun wibawa. Kakekku bilang, permata lumut ini bisa membuat pemiliknya jadi pemimpin nomor satu.”

Losen menggenggam tangan Ananta, mencoba memindahkan permata hijau lumut itu ke genggamannya. Ananta terperanjat, menggeleng, menarik tangannya. Tubuhnya merinding, sesuatu berdesing dalam dadanya. Ia menggigil.

“Takdir benda ini milikmu, An, ambillah,” suara Losen melemah. “Rawatlah dengan baik, kelak kamu bisa jadi bupati atau gubernur.”

Losen terengah-engah, tangannya berayun lemah memasukkan permata hijau lumut itu ke saku baju Ananta. Setelah itu ia tak bergerak. Wajahnya bengkak tengadah menatap langit, sekujur badannya berdarah. Orang-orang itu meremukkan tubuhnya, mematahkan rusuk dan betisnya. Beberapa kali bunyi krok-krok-krok meluncur dari tenggorokannya, kemudian diam, benar-benar diam.

Di barak orang-orang mengumandangkan kidung wargasari, menyambut kembali Ida Waluh yang sempat menerebos tanaman kedele dan jagung. Kidung itu terdengar sayup ke gubuk, seakan sekalian menjadi nyanyian mengantar keberangkatan Losen.

Sebentar lagi pagi tiba. (T)

Catatan: Cerpen ini dimuat pertama kali di Kompas, Minggu, 26 November 2017. 

 

Share29TweetSendShareSend
Previous Post

Pentas Palawara: Tragedi Karma Bumi – Drama Musikal yang Beda

Next Post

Gunung Agung: Hal-hal yang Membingungkan, Hal-hal yang Dipelajari

Gde Aryantha Soethama

Gde Aryantha Soethama

Dikenal sebagai wartawan kawakan, penulis esai dan cerpen. Bukunya Bolak Balik Bali ditetapkan sebagai buku nonfiksi terbaik oleh Pusat Bahasa (2006). Kumpulan cerpennya Mandi Api meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award (2006). Tahun 2016 diberi penghargaan Kesetiaan Berkarya oleh Kompas.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post

Gunung Agung: Hal-hal yang Membingungkan, Hal-hal yang Dipelajari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co