24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Potret Ikonis Singaraja dalam Cerpen

I Made Sujaya by I Made Sujaya
October 8, 2023
in Ulas Buku
Potret Ikonis Singaraja dalam Cerpen

Buku kumpulan cerpen Singa Raja Berkisah

Buku ini menghimpun 24 cerita pendek (cerpen) tentang Singaraja, kota di ujung utara Pulau Bali. Sebagian besar merupakan hasil lokakarya khusus yang digelar Lingkar Studi Sastra Denpasar sebagai bagian dari program “Membaca Kota Mengeja Kita” pada tahun 2022. Ditulis oleh para pengarang yang hampir semuanya lahir dan besar di Bali. Latar belakang pengalaman para pengarangnya di dunia sastra juga beragam. Ada yang sudah berpengalaman, bahkan karyanya sudah menembus arena sastra di tingkat nasional. Ada juga yang tampaknya masih terbilang pemula dalam menulis cerpen. Namun, dalam buku ini juga disertakan cerpen karya pengarang yang sudah mapan sekaligus menjadi mentor dalam program ini: Gde Aryantha Soethama dan Made Adnyana Ole.

Menghimpun cerpen dengan latar atau tema tentang suatu kota bukanlah hal yang baru dalam sastra Indonesia. Tahun 2003 pernah terbit antologi cerpen tentang Jakarta bertajuk Kota yang Bernama dan Tak Bernama[1]. Di Bali sendiri, pada tahun 2015, terbit kumpulan cerpen tentang Denpasar: Denpasar Kota Persimpangan Sanur Tetap Ramai[2]. Tak hanya cerpen, antologi puisi dengan latar atau tema khusus tentang suatu kota juga sesuatu yang jamak[3].

Kendati begitu, kehadiran buku kumpulan cerpen Singaraja ini tentu tetap penting dan karenanya patut diapresiasi. Melalui cerpen-cerpen dalam buku ini, pembaca tidak hanya dapat mengetahui potret wajah dan perkembangan Kota Singaraja pada suatu masa, tetapi juga tabiat kota melalui lukisan suasana batin warganya. Cerpen-cerpen dalam buku ini dapat diibaratkan sebuah “monumen kata-kata” yang senantiasa abadi. Monumen batu atau bangunan kota tua mungkin saja bisa hancur dimakan waktu, tapi “monumen kata-kata” dalam wujud karya sastra senantiasa ada hingga bisa “dikunjungi kembali” kapan saja, bahkan dari mana saja.

Latar Sebagai Kunci

Karena ditulis dalam rangka program tertentu, cerpen-cerpen dalam buku ini boleh dibilang sebagai karya dalam rangka atau karya pesanan. Namun, karya dalam rangka atau karya pesanan tidak selalu bermakna negatif. Pesanan dari penyelenggara mungkin terkesan membatasi, tetapi juga bisa menjadi tantangan kreatif bagi pengarang. Pengarang dalam berkarya kadang juga membutuhkan rangsangan untuk memantik lahirnya ide.

Namun, menghadirkan Singaraja dalam cerpen tidak selalu mudah. Pengarang tak hanya dituntut menghasilkan cerita yang menarik tetapi juga khas Singaraja. Cerpen Singaraja bukan semata cerpen dengan latar sebuah kota yang pernah menjadi ibukota Provinsi Bali, bahkan hingga Nusa Tenggara. Lebih dari itu, cerpen Singaraja mestilah unik yang tak didapatkan pembaca ketika membaca cerpen dengan latar berbeda.

Latar akhirnya memang menjadi kunci, unsur penting yang mesti mendapat perhatian pengarang atau sesuatu yang menonjol dalam cerpen-cerpen Singaraja. Latar yang khas biasanya disebut sebagai latar tipikal.[4] Latar jenis ini dibedakan dengan latar netral yang lebih bersifat umum. Jika latar netral bersifat universal karena bisa berlaku di mana saja, latar tipikal lebih mengesankan kelokalan. Karena itu, latar tipikal memiliki karakter lebih koherensif dan fungsional dengan unsur-unsur lain dalam cerita. Latar tipikal menjadi sesuatu yang tak tergantikan karena akan berpengaruh pada keutuhan cerita.

Itu sebabnya, latar tipikal menuntut deskripsi yang teliti dan detil sehingga mesti dilukiskan secara hati-hati. Tak hanya menyangkut deskripsi tempat yang tampak faktual, namun juga gambaran waktu dan lingkungan sosial budaya yang sesuai. Untuk menghadirkan latar tipikal, pengarang mesti mempertimbangkan bagaimana pembaca bisa menginterpretasikannya dengan suatu tempat, waktu dan sosial budaya tertentu di dunia nyata. “Matias Akankari” karya Gerson Poyk dapat dianggap sebagai contoh cerpen dengan gambaran latar tipikal yang kuat. Cerpen menghadirkan latar yang kontras, yakni hutan lebat di pedalaman Papua dan keramaian di Kota Jakarta. Selain mampu menggambarkan kedua tempat itu dengan cermat sehingga tampak faktual, pengarang juga berhasil melukiskan aspek waktu dan lingkungan sosial budaya yang mendukung karakterisasi tokoh dan konflik cerita.

Latar tipikal bisa juga tidak faktual karena tempat yang dimunculkan bersifat imajinatif. Namun, pembaca bisa menginterpretasikan latar sebagai suatu metafora atas suatu keadaan di suatu tempat dan suatu waktu tertentu. Novel Incest karya I Wayan Artika menggunakan latar Desa Jelungkap yang imajinatif[5]. Namun, deskripsi tempat cerita itu tetap mampu merepresentasikan keadaan suatu desa tua di Bali dengan adat dan tradisi yang ketat. Jelungkap juga dapat dibaca sebagai metafora dari keadaan Bali mutakhir yang tidak pernah lepas dari tegangan antara nilai-nilai tradisional dan nilai-nilai modern.

Singaraja dalam Sastra Indonesia

Singaraja potensial menghadirkan latar tipikal karena memang kota ini memiliki kekhasan, terutama dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Bali. Citra menonjol tentang Singaraja tentu saja “Bali yang lain”. Pasalnya, di kabupaten yang memiliki wilayah terluas dan penduduk terbanyak di Bali ini ditemukan sejumlah perbedaan mencolok dengan wajah Bali di bagian selatan dan timur. Mulai dari perbedaan pandangan tentang penanda arah kaja (utara) dan kelod (selatan) hingga karakter orang-orang Buleleng yang dicitrakan egaliter, multikultural, namun juga keras, bahkan kasar[6].

Sebagai latar cerita, Singaraja sudah mewarnai sastra Indonesia setidaknya mulai tahun 1930-an. Tahun 1932, terbit novel Kintamani karya Imam Soepardi, seorang pengarang sekaligus wartawan berlatar belakang etnis Jawa yang pernah berkunjung ke Bali. Dalam novel ini digambarkan keberadaan Pelabuhan Buleleng yang kala itu menjadi pintu masuk utama Bali.

Pukul 7 malam di Buleleng.

Di tepi Pelabuhan agak ramai, karena pukul 5 petang tadi ada berlabuh kapal muatan barang dari Surabaja. Banjak saudagar yang membawa barang dagangannja, sedang kembalinja kapal itu mengangkut sapi dari Pelabuhan itu jang hendak dibawanja ke Malaka.

Kuli-kuli bekerdja dengan radjinnja, sedang orang jang empunja milik, rebut mengatur barang dagangannja, djangan sampai ada yang ketinggalan.

Kian malam, keadaan itu kian sunji. Ditepi kantor pabean, jang tadinja banjak orang jang duduk dan mondar-mandir, sekarang djuga mulai sunji. Hanja ada seorang dua sadja jang lalu lintas disitu. [7]

Pada masa penjajahan Belanda, Singaraja memang menjadi pintu masuk utama Pulau Bali. Pelabuhan Buleleng merupakan gerbangnya. Pascakemerdekaan, terlebih setelah dipindahkannya ibukota Provinsi Bali dari Singaraja ke Denpasar, keberadaan Pelabuhan Buleleng pun meredup, bahkan praktis tak berfungsi lagi. Orang-orang yang ingin mengetahui geliat Pelabuhan Buleleng di masa lalu kini tidak hanya bisa menelusuri dari foto-foto atau rekaman video lama, namun juga dari deskripsi dan narasi dalam teks-teks karya sastra.

Kemunculan Singaraja sebagai latar dalam sastra Indonesia terutama lebih menonjol pada karya-karya Anak Agung Pandji Tisna, pengarang Indonesia asal Buleleng. Novelnya yang terkenal, Sukreni Gadis Bali (1935) dan I Made Widiadi (Kembali Kepada Tuhan) (1957) secara eksplisit menggunakan Singaraja sebagai landas tumpu cerita. Tradisi penulisan Singaraja sebagai latar cerita ini terus dilanjutkan oleh pengarang lain yang lahir atau tinggal di Singaraja, seperti Sunaryono Basuki Ks, Gede Dharna, Gde Winnyana hingga Kadek Sonia Piscayanti.

Singaraja tak hanya ditulis oleh sastrawan yang lahir dan tinggal di Bali, namun juga ditulis oleh sastrawan Indonesia dari luar Bali. Mereka antara lain Nur St. Iskandar yang menulis novel Djangir Bali, Bre Redana dalam cerpen “Lovina Junction”, serta Erwin Arnada dalam novel Rumah di Seribu Ombak (2011). Djangir Bali merupakan roman kisah cinta perempuan Bali dan lelaki bangsawan Madura dengan latar Singaraja. Sementara Rumah di Seribu Ombak berupa kisah persahabatan anak-anak Hindu dan Muslim di kawasan Desa Kalidukuh, Singaraja.

Dalam berbagai karya sastra Indonesia itu, Singaraja direpresentasikan dengan tiga citra utama, yakni dari dimensi historis, sosiologis, dan turistik. Secara historis, Singaraja kerap ditulis dalam jejak kejayaan masa silam sebagai kota pelabuhan penting pada abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20 serta mitologi Singa Ambara Raja.

Pada dimensi sosiologis, Singaraja dicitrakan sebagai kota dengan karakteristik multietnis, multiagama, dan multikultural yang kuat. Novel-novel Pandji Tisna dan Sunaryono Basuki Ks konsisten menggambarkan wajah multikultural Singaraja. Selain itu, Singaraja juga direpresentasikan secara turistik sebagai destinasi wisata penting di bagian utara Bali dengan Pantai Lovina sebagai ikon.

Namun, ada kecenderungan Singaraja sebatas dihadirkan sebagai latar cerita. Karya-karya itu belum memperlihatkan gambaran problematika kota Singaraja yang khas dan ikonis sehingga dengan membaca karya sastra tentang Singaraja pembaca bisa mendapatkan pengalaman estetik bercita rasa Singaraja. Karena itu, Singaraja dalam sastra Indonesia masih menyisakan ruang kosong yang memberikan tantangan kreatif bagi para sastrawan.

Potret Ikonis Singaraja

Ruang kosong inilah yang tampaknya mencoba diisi oleh cerpen-cerpen Singaraja dalam buku ini. Terlebih lagi, sebelum menulis cerpen Singaraja, sebagian pengarang terlebih dulu mengikuti workshop penulisan yang diberikan cerpenis Gde Aryantha Soethama dan Made Adnyana Ole. Keduanya mengingatkan tentang pentingnya menggarap kisah-kisah yang khas dan bercita rasa Singaraja. Itu artinya, para pengarang ini berangkat dari kesadaran untuk menghadirkan cerita yang, seperti istilah Gde Aryantha Soethama, “unik dan otentik Singaraja”[8].

Cerpen-cerpen dalam buku ini memperlihatkan usaha keras para pengarangnya untuk menghadirkan potret ikonis Singaraja. Selain citra sebagai destinasi wisata bahari, khususnya kawasan Pantai Lovina dengan ciri khas atraksi lumba-lumba, muncul juga wajah ikonis lain Singaraja yang selama ini belum banyak digarap, seperti siobak sebagai makanan khas Singaraja, eks Pelabuhan Buleleng, warung patokan atau dagang kopi cantik (dakocan) di sepanjang jalur Pantai Utara Bali, kota pendidikan serta Gedong Kirtya sebagai gudang pustaka lontar Bali.

Walaupun begitu, masih ada sejumlah cerpen yang hanya meminjam latar Singaraja, sedangkan ceritanya tidak secara khusus menggambarkan problematika khas Singaraja, namun sesuatu yang lumrah terjadi di banyak tempat lain. Cerpen “Berputar-putar Sampah” karya Gading Ganesha, “Ditipu Bapak di Taman Kota” karya Geg Ary Suharsani serta “Kardus Lama di Kolong Tempat Tidur” tak lebih sebagai cerita urban yang bisa ditemukan di tempat lain.

Cerpen “Gigir Malam Bulan Oktober” karya Supartika juga tak terasa sebagai cerpen khas Singaraja karena tema tragedi 1965 jamak ditemukan di banyak tempat. Sungguh menarik jika cerita pembunuhan orang-orang PKI yang digarap merupakan cerita lokal Singaraja yang berbeda dengan kecenderungan cerita serupa di tempat lain. Namun, cerpen “Gigir Malam Bulan Oktober” memperlihatkan penggarapan alur dan konflik yang kuat sehingga tetap memikat. Dengan tempo yang cepat dan dialog yang padat, cerpen ini mengingatkan pada cerpen Supartika di Kompas tahun 2020, “Brewok” yang juga berkisah tentang jagal tahun 1965.

Ada juga kisah misteri di Kota Singaraja dalam “Krincing-krincing Tiga Dokar” karya Devy Gita serta kisah hubungan sesama jenis dengan latar dalam “Pecah Seribu, Dungu” karya Indah Fay. Keanekaragaman tema mengindikasikan keanekaragaman pemaknaan pengarang terhadap wajah dan tabiat Kota Singaraja.

Pantai Lovina tampaknya paling banyak dipilih sebagai latar dalam cerpen-cerpen di buku ini. Cerpen “Kati di Lubuk Laut Lovina” karya Lina PW berkisah tentang hilangnya seorang wisatawan saat snorkeling di laut Lovina, sedangkan cerpen “Wasiat Pengasuh Lumba-lumba” karya Putu Agus Phebi Rosadi bercerita tentang persahabatan intim manusia dan lumba-lumba. Dua cerpen tentang Lovina ini menghadirkan sisi-sisi humanis gemerlap turisme Lovina.

Secara umum, latar Singaraja dalam cerpen-cerpen di buku ini dibalut dalam kisah cinta. Ada kisah cinta remaja yang ringan-ringan, seperti “50.000 di Penimbangan” karya Ni Luh Putu Rastiti Era Agustini, ada juga kisah cinta mahasiswa dalam cerpen “Lamun-lamun Pantai Penimbangan” karya Gde Aries Pidrawan.

Cerpen “Lontar Cantik Made Cenik” karya Dian Suryantini dan “Asmara Margaret di Jalan Gajah Mada” karya Wayan Agus Wiratama juga cerita cinta tetapi mengandung elemen ikonis Singaraja yang menarik. Dalam “Lontar Cantik Made Cenik”, kisah cinta tokoh cerita berlatar Gedong Kirtya Singaraja, sedangkan dalam “Asmara Margaret di Jalan Gajah Mada”, pengarang tak hanya menyuguhkan romantika orang asing dan orang lokal tapi juga menyampaikan kritik mengenai makin lenyapnya situs bangunan tua di Kota Singaraja akibat perkembangan pembangunan.

Cerpen “Candu Baru” karya Manik Sukadana juga merupakan kisah cinta tokoh Kacrek dan Luh Asih berlatar Singaraja saat musim panen cengkeh. Kisah cinta keduanya kandas karena Luh Asih diceritakan bunuh diri karena beban persoalan di keluarganya. Namun, ada hal yang sedikit mengganggu dalam cerpen ini, yakni adegan Luh Asih memberitahu Kacrek mengenai keinginannya bunuh diri tetapi Kacrek tak melakukan apa-apa. Selain melemahkan aspek kejutan di akhir cerita, adegan itu juga terasa kurang masuk akal.

Masih berkaitan dengan elemen percintaan, cerpen-cerpen yang mengisahkan romantika para pedagang kopi cantik (dakocan) di sepanjang jalur Pantai Utara Singaraja menarik dicermati. Dakocan atau warung patokan memang menjadi salah satu ikon lain Buleleng. Bahkan, keberadaan dakocan ini juga diabadikan dalam lagu-lagu pop Bali yang sangat disukai orang Bali, terutam di kampung-kampung.

Cerpen “Pedagang Kopi Cantik Terbunuh di Sangsit” karya Gede Satria Aditya Wibawa dan “Warung Patokan Desa A” karya Komang Mudita berupaya menghadirkan ikon itu dengan mengukuhkan citra buram para perempuan yang terjun menjadi pedagang kopi atau penjaga warung patokan. Dalam cerpen “Warung Patokan Desa A”, menjadi dakocan atau penjaga warung patokan merupakan aib dan bagian dari masa lalu yang telah dilupakan.

Sejak itu gadis-gadis Desa A berbondong-bondong menjadi perantau. Adik-adik mereka kemudian disekolahkan, dibiayai sampai perguruan tinggi, hingga ada yang menjadi guru, bekerja di peternakan di Jepang, di kapal pesiar. Desa itu menjadi riuh dan ramai kalau hari raya. Di desa yang ditumbuhi lebat pohon durian dan rambutan itu, warung patokan cuma masa lalu.

Cerpen “Wayan Buduh” karya Eka Prasetya terbilang berhasil mengenalkan sudut-sudut Kota Singaraja. Pengarang tampak cerdik menggunakan karakter tokoh Wayan Buduh untuk mengajak pembaca menjelajahi tempat-tempat ikonis Singaraja.

Ikonis Singaraja tak hanya ditampilkan melalui latar tetapi juga gaya bahasa. Citra orang Singaraja dengan bahasa yang vulgar bahkan terkesan kasar mencoba disuguhkan Luh Ayu Dian Lestari dalam cerpen “Rok Mini Taman Limpit”. Dalam cerpen ini bertebaran kata-kata umpatan khas Singaraja, seperti cicing, nani, naskeleng. Penggunaan umpatan itu juga fungsional dengan karakter dan konflik cerita tentang dunia malam Kota Singaraja.

Karena ingin menghadirkan latar Singaraja, hampir semua cerpen dalam buku ini bergaya realis. Namun, ada satu cerpen bergaya absurd, yaitu “Kisah dari Negeri Tanpa Singa” karya Kadek Sonia Piscayanti. Cerpen ini menghadirkan aspek mitologi Singa Ambararaja yang menjadi lambang Kabupaten Buleleng. Cerpen ini tampaknya kelanjutan dari cerpen Sonia Piscayanti sebelumnya bertajuk “Kisah Ajaib dari Negeri Singa” yang dimuat dalam buku Karena Saya Ingin Berlari (2007) dan “Kisah (Masih) Ajaib dari Negeri Singa” yang termuat dalam cerpen “Perempuan Tanpa Nama”. Tak ada latar Singaraja atau Buleleng yang eksplisit dalam cerpen ini, tetapi pembaca dapat segera mengasosiasikan cerita ini sebagai lukisan absurd tentang Singaraja. Hilangnya patung Singa di tengah kota merupakan simbolisasi lenyapnya spirit Singaraja yang diikhtiarkan para pendirinya. Karena itu, cerpen “Kisah dari Negeri Tanpa Singa” dapat dibaca sebagai cara lain pengarang mengkritik perkembangan Singaraja, kota kelahiran yang sangat dicintainya. 

Memang, secara struktur, cerpen-cerpen dalam buku ini memperlihatkan kesenjangan antara satu pengarang dan pengarang lain dalam hal kemampuan mengolah dan mengembangkan cerita. Beberapa cerpen mampu menggarap penokohan dan konflik dengan baik sehingga pembaca bisa mendapatkan elemen penting sebuah cerpen, yakni suspense dan surprise. Namun, ada juga cerpen yang penokohan dan plot ceritanya kurang tergarap sehingga cerita tak hanya sudah selesai saat pembaca membaca bagian awal cerita, namun juga menyisakan kejanggalan-kejanggalan. Tentu ini erat kaitannya dengan pengalaman para pengarangnya, tak hanya jam terbang dalam mengarang tapi juga persentuhan dengan karya-karya terbaik.

Sastra Boga

Kendati begitu, cerpen-cerpen Singaraja dalam buku ini juga menunjukkan hal-hal menarik. Cerpen tentang siobak menarik untuk diperhatikan karena selain menghadirkan wajah ikonis Singaraja sekaligus juga memberi warna gastronomi sastra atau sastra boga dalam buku ini.

Para peneliti sastra memaknai gastronomi sastra atau sastra boga sebagai pemaknaan makanan dari perspektif karya sastra[9]. Tak sebatas sebagai wujud material dan fisikal dalam cerita, makanan dalam gastronomi sastra juga berfungsi mengembangkan karakter tokoh dan alur cerita. Bahkan juga makanan sebagai representasi identitas tokoh cerita. Sederhananya, makanan menjadi penggerak cerita, bukan sekadar tempelan.

Dari 24 cerpen, dua di antaranya menggarap kuliner siobak sebagai tema cerita. Kedua cerpen itu, yakni “Ling Siobak Poleng” karya Bli Dodi alias I Wayan Dodi Putra Artawan dan “Perang Siobak”, cerpen karya mentor program ini, Gde Aryantha Soethama.

Dalam cerpen “Ling Siobak Poleng”, siobak dibalut dalam kisah cinta tokoh Komang Ling dan Ko Bagus. Ketika dihadapkan pada pilihan antara pergi merantau ke Denpasar bersama sang pujaan hati atau tetap tinggal bersama keluarga di Singaraja melanjutkan pekerjaan sang ayah sebagai penjual siobak, tokoh Komang Ling memilih bertahan di Singaraja. Keputusan yang juga didorong keinginan melanjutkan usaha warisan keluarganya, yakni warung siobak poleng. Sebuah pesan yang kuat dari pengarang tentang harapan masa depan yang lebih baik tidak mesti harus meninggalkan kampung kelahiran. Ini cerpen tentang kecintaan kepada keluarga dan Singaraja sebagai kota kelahiran. Namun, kurangnya penggarapan elemen konflik dan karakterisasi menjadikan cerpen ini terasa datar.   

Pada cerpen “Perang Siobak”, siobak Singaraja hadir sebagai unsur yang luruh dalam keutuhan cerita. Siobak Singaraja bukan hanya sebagai pokok cerita, tetapi juga menggerakkan konflik cerita. Persaingan usaha menjadi tema mayor cerpen ini. Melalui karakterisasi tokoh-tokoh cerita, pengarang berhasil memantulkan potret tabiat orang-orang kota dengan batas yang demikian tipis antara kawan dan lawan, antara penolong dan penyolong. Cerpen yang sudah dimuat di Kompas, 30 Oktober 2022 dan dimuat kembali dalam buku Malam Pertama Calon Pendeta (2023) bolehlah dijadikan model cerpen Singaraja yang “unik dan otentik”.

Cerpen “Damun” karya Juli Sastrawan dan cerpen “Panak Nyonyah dari Kota Pabean” karya Putu Arya Nugraha juga mengandung anasir-anasir kuliner khas Singaraja. Selain siobak, dalam “Damun”, pengarang menghadirkan kuliner lain yang identik dengan identitas Kota Singaraja, yakni blayag dan sudang lepet. Begitu juga dalam “Panak Nyonyah dari Kota Pabean”, pembaca disuguhi sajian bakpao khas Singaraja. Sayangnya, pengarang tampaknya tak berminat mengeksplorasi aspek kuliner ini.

Masih ada satu cerpen kuliner lagi, yaitu “Simpang Tiga Perang Karapan” karya Wulan Dewi Saraswati. Cerpen ini berkisah tentang tokoh Cak Man, perantau dari Madura yang sukses berjualan kepiting saus mentega di Kota Singaraja. Memang, kepiting saus mentega bukanlah kuliner khas Singaraja, tetapi cerpen ini merepresentasikan wajah multikultural Singaraja dengan sikap warganya yang terbuka menerima pendatang, termasuk kuliner jenis baru yang dibawanya. Dimensi multikultural juga tercermin dalam cerpen “Panak Nyonyah dari Kota Paben” menyajikan kisah cinta beda etnis antara lelaki berlatar belakang etnis Bali dan etnis Tionghoa.

Siobak pun sejatinya representasi wajah muktikultural Singaraja. Makanan berbahan utama daging babi rebus yang diiris tipis-tipis dan dilumuri saus berwarna coklat itu tak lain sebagai perpaduan antara budaya kuliner Tionghoa dan selera orang Bali. Multikultural hadir dalam sajian di meja makan orang Singaraja.

Spirit Multikultural

Spirit multikultural memang terasa kuat gemanya dalam cerpen-cerpen Singaraja. Tak hanya dalam cerpen kuliner, juga pada cerpen-cerpen lain, seperti “Asmara Margaret di Jalan Gajah Mada” karya Wayan Agus Wiratama, “Lamun-lamun Pantai Penimbangan” karya Gde Aries Pidrawan, termasuk cerpen “Safir Tiba di Singaraja” karya Made Adnyana Ole.

Cerpen “Safir Tiba di Singaraja” menarik karena menggunakan latar Pelabuhan Sangsit, Buleleng. Memang, Buleleng memiliki sejarah sebagai pelabuhan utama Bali, terutama pada abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Namun, pascakemerdekaan, terutama setelah ibukota Provinsi Bali dipindahkan dari Singaraja ke Denpasar, Pelabuhan Buleleng meredup hingga tak lagi difungsikan. Namun, Buleleng masih memiliki Pelabuhan Sangsit yang terletak sekitar 6 km di sebelah timur Pelabuhan Buleleng. Tak seperti Pelabuhan Buleleng, Pelabuhan Sangsit hanya digunakan untuk penyeberangan barang. Pelabuhan Sangsit ini berhadapan dengan Pelabuhan Sapeken, Kepulauan Madura.

Meski begitu, dalam cerpen Adnyana Ole, Pelabuhan Sangsit digambarkan kerap dipilih untuk menyeberangkan orang-orang dari sejumlah pulau kecil di sekitar Madura. Bagi orang-orang itu, Pelabuhan Sangsit merupakan pintu gerbang utama untuk ke Singaraja. Mereka menempuh pendidikan bahkan mengadu nasib di Singaraja. Itu terjadi sejak lama sehingga mereka kemudian menetap dan menjadi warga Kota Singaraja.

“Di Singaraja kita seperti hidup di rumah sendiri, hanya saja kotanya jauh lebih ramai dari kampung kita. Banyak orang luar Bali tinggal di kota itu. Ada dari Banyuwangi, Lombok, Jember, Probolinggo, Tuban, Lamongan, Bugis, Flores, Papua, bahkan ada orang dari Timor Timur. Apalagi orang dari dari Kepulauan Madura, itu banyak. Saking berbaurnya warga dari berbagai suku di kota itu, orang Singaraja jarang bertanya-tanya kita dari mana, bahkan mungkin mereka tidak tahu ada sekumpulan orang dari Kepulauan Kangaen menumpang hidup di kota itu,” cerita Ainur sembari tersenyum.

Cerpen “Safir Tiba di Singaraja” serta cerpen-cerpen lain menangkap identitas Singaraja sebagai kota multietnik dan multibudaya. Ini tak terlepas dari sejarah Singaraja yang menjadi tempat pertemuan berbagai manusia dan tentu saja persamuhan beragam budaya dan nilai-nilai. Warga Singaraja terbuka dengan kedatangan berbagai budaya berbeda dan nilai-nilai baru, bahkan merangsang lahirnya budaya baru dengan karakteristik hibrid.

Sikap terbuka terhadap budaya berbeda dan nilai-nilai baru itu yang kemudian membuat Singaraja kerap menjadi lokomotif dalam pembaruan kesenian Bali. Dalam seni gong kebyar dan drama gong misalnya, Singaraja hadir memberi warna berbeda sehingga memperkaya keragaman gaya kesenian tersebut di Bali. Bahkan, Singarajalah yang menjadi tempat lahirnya seni gong kebyar sebelum berkembang ke Bali Selatan dan wilayah lainnya di Bali.

Tentu kita berharap Singaraja juga bisa menawarkan warna baru dalam sastra. Terlebih lagi Singaraja memiliki jejak kepeloporan dalam sastra tradisional maupun modern. Tengok saja cerita Jayaprana-Layonsari yang melegenda itu. Cerita rakyat bertipologi cerita Rome-Juliet itu tak hanya berlatar Singaraja, melainkan juga tumbuh dan berkembang dari kota pesisir utara Bali itu.

Dari Singaraja pula sastra modern di Bali lahir dan berkembang hingga seperti sekarang? Tak hanya dalam sastra berbahasa Indonesia melalui karya-karya Pandji Tisna, melainkan juga dalam sastra berbahasa Bali melalui karya-karya Made Pasek yang juga sebagai orang Buleleng[10].

Karena itu, tak berlebihan jika muncul gagasan menjadikan Singaraja sebagai kota sastra. Kota ini punya potensi, tak hanya dibuktikan melalui jejak-jejak historisnya, melainkan juga harapan masa depan, seperti diisyaratkan oleh cerpen-cerpen Singaraja dalam buku ini. [T]


[1] Buku antologi ini menghimpun 30 cerpen berlatar atau bertema Jakarta. Buku ini diterbitkan sehubungan dengan acara Temu Sastra Jakarta yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 19—21 Desember 2003. Selain antologi cerpen, pada saat itu juga diterbitkan antologi puisi Bisikan Kata, Teriakan Kota.

[2] Buku ini menghimpun 25 cerpen berlatar atau bertema Denpasar sejak tahun 1950-an hingga tahun 2014. Sebelumnya juga diterbitkan antologi puisi tentang Kota Denpasar, yakni Dendang Denpasar Nyiur Sanur (2012) yang merupakan antologi puisi berbahasa Indonesia serta Denpasar lan Don Pasar (2013) yang berupa antologi puisi berbahasa Bali.

[3] Klungkung, kota kecil di timur Bali, juga pernah menerbitkan buku antologi puisi tentang Klungkung, yakni antologi puisi berbahasa Bali Pupute Tan Sida Puput (2001) serta Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta (2016) dan Di Altar Catus Patta (2022) yang merupakan antologi puisi berbahasa Indonesia.

[4] Burhan Nurgiyantoro dalam buku Teori Pengkajian Fiksi (2013: 307).

[5] Awalnya, saat dimuat sebagai cerita bersambung di Bali Post, novel ini menggunakan latar faktual, yakni Desa Batungsel yang juga kampung kelahiran pengarangnya. Namun, karena sempat menimbulkan protes dari masyarakat desa itu hingga berdampak pada pengenaan sanksi adat kepada pengarangnya, saat diterbitkan di Yogyakarta sebagai novel, latarnya diganti menjadi Jelungkap, sebuah latar imajinatif.

[6] Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri saat memberikan paparan dalam seminar nasional Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, 100 tahun Bali Era Baru 2025—2125, Jumat, 5 Mei 2023 menyebut karakter khas orang Buleleng, yakni keras dan cenderung kasar. Ini menunjukkan karakter keras dan cenderung kasar menjadi stereotip orang Buleleng. Bukan saja bagi orang Bali di luar Buleleng, tetapi juga di mata orang luar Bali.

[7] Imam Supardi dalam novel Kintamani (1949:82)

[8] Laporan mengenai workshop ini dapat dibaca di tatkala.co: https://tatkala.co/2022/09/26/apa-dan-bagaimana-kota-singaraja-dalam-cerpen-dari-workhsop-cerpen-membaca-kota-mengeja-kita/

[9] Wulansari, Rosalina Ayuning. 2018. “Gastronomi Sastra: Manifestasi Kekayaan Boga dan Budaya Nusantara”. Tersedia secara daring di tautan https://www.academia.edu/45182306/GASTRONOMI_SASTRA_MANIFESTASI_KEKAYAAN_BOGA_DAN_BUDAYA_NUSANTARA

[10] Penelitian guru besar sastra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., menemukan karya-karya Made Pasek pada tahun 1910-an sebagai tonggak kelahiran sastra Bali modern. Baca buku Tonggak Baru Sastra Bali Modern (2012) serta Heterogenitas Sastra di Bali (2022).

Tags: BukuKomunitas MahimaLingkar Studi Sastra DenpasarSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jon Fosse, Nobel Sastra, dan Karya Minimalismenya

Next Post

Opini Masyarakat Mengenai “Singaraja Literary Festival” : Wadah Mengenal Seni yang Dinanti

I Made Sujaya

I Made Sujaya

Wartawan, sastrawan, dosen. Pengelola balisaja.com

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Opini Masyarakat Mengenai “Singaraja Literary Festival” : Wadah Mengenal Seni yang Dinanti

Opini Masyarakat Mengenai "Singaraja Literary Festival" : Wadah Mengenal Seni yang Dinanti

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co