14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa dan Bagaimana Kota Singaraja Dalam Cerpen | Dari Workshop Cerpen Membaca Kota Mengeja Kita

Dian Pratiwi by Dian Pratiwi
September 30, 2022
in Budaya, Pilihan Editor
Apa dan Bagaimana Kota Singaraja Dalam Cerpen | Dari Workshop Cerpen Membaca Kota Mengeja Kita

Gde Aryantha Soethama saat memberikan arahan pada workshop menulis cerpen Membaca Kota Mengeja Kita di Komunitas Mahima Singaraja, Bali

Pagi, Sabtu, 24 September 2022, di Singaraja. Kota cerah. Sekitar 20 penulis cerpen, alias cerpenis, berkumpul di Komunitas Mahima, Jalan Pantai Indah. Ada cerpenis pemula, ada cerpenis muda berbakat, ada cerpenis kawakan.

Mereka diskusi santai dalam workshop penulisan cerpen Membaca Kota Mengeja Kita. Masing-masing cerpenis itu sebelumnya sudah menulis mamsing-masing satu cerpen dengan mengekplorasi tema-tema yang berkaitan dengan Kota Singaraja, Kabupatan Buleleng, Bali.

Masing-masing cerpen itulah kemudian didiskusikan satu per satu. Mentornya adalah cerpenis kawakan Gde Aryantha Soethama yang cerpen-cerpennya sudah termuat sejak tahun 1980-an di media-media nasional. Ia juga pemenang Katulistiwa Literary Award (KLA)  tahun 2006 lewat kumpulan cerpennya “Mandi Api” terbitan Buku Kompas.

Mentor lain, cerpoenis Made Adnyana Ole dan akademisi Gde Made Metera yang dikenal sebagai Rektor Unipas Singaraja. Diskusi berlangsung sangat santai, penuh tawa, dan tentu saja serius.

Program ini merupakan program yang diinisiasi Lingkar Studi Sastra Denpasar (LSD)  sebagai 1 dari 8 lembaga yang lolos Open Call Jakarta International Literary Festival, Komite Sastra, Dewan Kesenian Jakarta, sebagai penyelenggara kegiatan yang berkaitan dengan kota-kota di Indonesia. Sejumlah cerpenis yang karya-karya sudah banyak bertebaran di media massa nasional juga hadir, antara lain Putu Supartika dan Lina PW.

Apa dan Bagaimana Singaraja dalam Cerpen?

Cerita-cerita serta beberapa tempat yang menarik hati di Kota Singaraja, dalam cerpen-cerpen yang ditulis peserta workshop, tentu saja menjadi bagian dari sebuah ingatan. Gambaran tentang Kota Singaraja tak harus soal tempat bersejarah, tenpat terkenal, atau tempat paling ramai.

Tempat itu bisa saja tempat yang biasa-biasa saja, tapi bagaimana seorang cerpenis memberi nilai pada tempat itu sehingga tempat itu benar-benar sebagai penanda kota yang tak tergantikan oleh tempat-tempat lain di kota lain.

Sejumlah peserta workshop cerpen Membaca Kota Mengeja Kita di Komunitas Mahima, Singaraja

Sekitar 20 orang dengan 20 cerpen, masing-masing memiliki cerita tersendiri mengenai kota Singaraja. Mulai tentang kondisi Pasar Anyar Singaraja, tentang kenangan di Pantai Penimbangan, tentang museum, tentang persoalan sampah dengan bank sampah, tentang sebutan lain dari Kota Singaraja, serta tentang kisah romansa di Pelabuhan Tua Buleleng.

Dari 20 cerpen yang terkumpul itu, masing-masing memiliki keunikan serta alur yang berbeda. Meski ada kesamaan tema, namun cara penggarapan mereka berbeda-beda.

Gde Aryantha Soethama mengatakan, dalam program menulis cerpen tentang Kota Singaraja ini sudah ditentukan apa-apa yang harus ditulis, yakni tentang Kota Singaraja. “Apa”-nya itu bisa bermacam-macam, tapi tetap harus jeli menentukan agar “apa” itu menjadi unik dan autentik.

Unik adalah sesuatu yang langka dan tidak lumrah. Namun ysesuatu ang kita anggap unik di Kota Singaraja mungkin saja terdapat juga di kota lain. Jadi, yang unik belum tentu autentik. Untuk menjadikan autentik—bahwa hal itu hanya ada di Singaraja—dan benar-benar sebagai penanda kota yang tak tergantikan, maka seorang cerpenis dituntut memiliki kepekaan yang tinggi, naluri yang tajam dan cara penggarapan yang matang untuk bisa menggambarkan keautentikan Kota Singaraja itu.  

“Gambaran Kota Singaraja itu harus unik dan otentik. Kalau tidak begitu maka tulisannya akan ditinggalkan, tidak dibaca,” ujar Gde Aryantha Soetama.

Sejatinya menulis cerita pendek adalah ruang kebebasan bagi penulis. Penulis bebas dan dengan leluasa menuangkan ekspresinya dalam sebuah alur cerita. Akan tetapi pada program ini, cerpen-cerpen yang terkumpul harus memenuhi ketentuan yang menyinggung soal Singaraja, namun tak tergantikan.

“Misalnya menulis kisah cinta di Pantai Penimbangan, pantai itu bisa saja diganti dengan Pantai Kuta atau Sanur. Jadi harus dicari hal-hal yang benar-benar unik, agar Penimbangan itu tidak bisa digeser. Jika orang baca akan berpikir ini hanya ada di Singaraja, tidak ada di tempat lain. Tugas ini berat, karena harus ada Singaraja-nya,” kata Gde Aryantha Soethama.

Cerpenis Made Adnyana Ole menambahkan, dalam penulisan cerpen pada program workshop Membaca Kota, Mengeja Kita ini, tempat-tempat yang menjadi plot cerita mesti diceritakan lebih rinci. Sehingga hal itulah yang menjadi penanda kota dalam cerita.

“Tanda-tanda itu yang harus diceritakan yang menunjukkan soal Singaraja. Jadi tidak sekedar sampiran saja, atau sekadar sebagai latar yang disebutkan dalam cerita,” kata  Adnyana Ole.

Plot-plot yang diceritakan secara lebih rinci itu nantinya dapat memberikan gambaran bagi pembaca yang belum pernah atau tidak mengetahui kondisi Singaraja serta hal-hal yang ada di Singaraja. Sehingga dari membaca sebuah cerpen, Kota Singaraja dapat terbayang dari berbagai sudut.

“Jadi orang akan berpikir Singaraja ternyata ada begini. Singaraja ternyata seperti itu. Jadi bisa dibayangkan Singaraja itu seperti apa bagi yang belum pernah datang ke sini. Tapi kalau yang sudah pernah, bagaimana dia membaca cerpen itu supaya tetap merasa heran meski dia sudah tahu tempatnya bagaimana. Itu yang harus dilakukan,” terangnya.

Gambaran tentang Kota Singaraja pun diperkuat Akademisi Gde Made Metera. Dosen yang sekaligus sebagai Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Buleleng ini memberikan gambaran dari sisi tradisi serta kesetaraan gender. Ulasan mengenai tatanan tradisi masyarakat Buleleng yang tidak boleh nyentana pun dapat menjadi sebuah ide cerita. Begitu pula dengan isu kesetaraan gender yang dapat digali untuk dijadikan materi penulisan cerpen.

“Nanti silahkan itu dikembangkan lagi seperti apa jadinya bila diceritakan dalam dunia fiksi,” kata Made Metera.

Dibukukan

Putu Juli Sastrawan dari Lingkar Studi Denpasar(LSD) mengatakan, tujuan program ini untuk melihat adakah sastra (dalam hal ini cerpen) menangkap transformasi kota, baik di dalamnya krisis eksistensial kewargaan, urbanisme, dan kegelisahan atas berbagai perubahan fisik dan sosial yang terjadi pada kota, khususnya kota Singaraja.

Cerpenis Gde Aryantha Soethama saat memberikan arahan dalam workshop menulis cerpen Membaca Kota Mengeja Kita di Komunitas Mahima Singaraja

20 karya yang telah diterima itu nantinya akan dicetak dalam sebuah buku kumpulan cerpen. “Tapi sebelum dibukukan, karya dari teman-tman ini harus direvisi dulu, supaya lahir produk yang bagus. Itulah alasan kami melibatkan cerpenis yang sudah mumpuni untuk membatu memberikan masukan untuk karya yang lebih baik dan jadi,” kata Juli Sastrawan.[T][DP/*]

Palus Bukit Jambul | Cerpen Gde Aryantha Soethama
Singaraja, Mahima, dan Tatkala | Dari Masa Lalu ke Masa Depan
Tags: CerpenGde Aryantha SoethamaKomunitas MahimaKota SingarajaLingkar Studi Sastra DenpasarMade Adnyana Ole
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Harakat Warna Hardiman

Next Post

Model Revitalisasi Bahasa Daerah

Dian Pratiwi

Dian Pratiwi

Penyiar, pegiat film. Sembari kuliah jurusan Komunikasi di UT, ia belajar jadi penulis di tatkala.co dan Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
0
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

Read moreDetails

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

by Nyoman Budarsana
May 4, 2026
0
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

DESA Adat Batur melaksanakan upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let (pusat permukiman Desa Adat...

Read moreDetails

Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini

by tatkala
May 1, 2026
0
Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini

Di antara program Kartini sepanjang bulan April 2026, ada yang berbeda yang dilakukan oleh salah satu komunitas perempuan di Buleleng...

Read moreDetails

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
0
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

Read moreDetails

14 Ogoh-Ogoh, Menghidupkan Bencingah Kembali, Menyemarakkan Ruang Budaya di Kesiman

by Nyoman Budarsana
March 18, 2026
0
14 Ogoh-Ogoh, Menghidupkan Bencingah Kembali, Menyemarakkan Ruang Budaya di Kesiman

SEBANYAK 14 Sekaa Teruna Teruni (STT) se-Kesiman, Denpasar, mengikuti Parade Fragmentari Ogoh-ogoh pada malam pengerupukan Nyepi, Rabu (18/3/2026) malam. Selain...

Read moreDetails

2 April, Puncak Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur Tahun 2026 —Nyejer 11 Hari

by tatkala
March 17, 2026
0
2 April, Puncak Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur Tahun 2026 —Nyejer 11 Hari

Pujawali Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur tahun Saka 1948/tahun 2026 dilaksanakan dari tanggal 20 Maret 2026 sampai dengan...

Read moreDetails

Buleleng International Rhythm Festival, Ajang Pertunjukan Seni dan Ruang Persahabatan Antar Negara

by tatkala
March 12, 2026
0
Buleleng International Rhythm Festival, Ajang Pertunjukan Seni dan Ruang Persahabatan Antar Negara

Rasa bangga dan syukur karena Buleleng kembali dipercaya menjadi tuan rumah pertemuan budaya dunia. Buleleng International Rhythm Festival (BIRF) ini...

Read moreDetails

Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh

by tatkala
March 12, 2026
0
Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas di Pura Ulun Danu Batur, Linggastana Ida Bhatari Sakti Dewi Danuh

Masyarakat Desa Adat Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, melaksanakan upacara Mlaspas dan Ngenteg Linggih Meru Tumpang Solas Pura Ulun Danu...

Read moreDetails

Anak-anak Ceria dalam Buka Puasa Bersama IHKA BPD Bali dan Yayasan Fastabhikul Khoirut

by Nyoman Budarsana
March 7, 2026
0
Anak-anak Ceria dalam Buka Puasa Bersama IHKA BPD Bali dan Yayasan Fastabhikul Khoirut

Anak-anak itu datang dengan wajah ceria. Busananya sopan, terlihat nyaman dan segar. Jika diajak bicara mereka sangat ramah, dan cepat...

Read moreDetails

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
0
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

Read moreDetails
Next Post
Model Revitalisasi Bahasa Daerah

Model Revitalisasi Bahasa Daerah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co