5 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Dapur Bangsa”: Eksplorasi Kekayaan Kuliner Nusantara

Jaswanto by Jaswanto
October 27, 2023
in Kuliner
“Dapur Bangsa”: Eksplorasi Kekayaan Kuliner Nusantara

Tampilan tenda Dapur Bangsa di Produksi Film Negara / Foto: Jaswan

TAHUN INI, Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023 mengusung tema “Merawat Bumi, Merawat Kebudayaan”. Benar. Upaya merawat Bumi memang ikut menentukan pelestarian kebudayaan di Tanah Air. Beragam praktik kebudayaan melebur dengan tradisi leluhur dalam menjaga alam. Pekan Kebudayaan Nasional 2023 turut menggaungkan budaya peduli Bumi agar tidak diabaikan dalam rencana pembangunan.

Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Fitra Arda mengatakan, sebagaimana disampaikan di laman Kompas.id, pengetahuan tradisional, kearifan lokal, dan pranata sosial semestinya menjadi bekal dalam merencanakan pembangunan.

Oleh sebab itu, selain menggelar pameran, lokakarya, diskusi publik, perjamuan, pergelaran, gelar wicara, instalasi, konferensi, artist talk, kongres, dan perjamuan, PKN 2023 juga mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. Di Gedung Perum PFN (Produksi Film Negara), misalnya, menampilkan kreasi “Dapur Bangsa”.

Pada tanggal 20-29 Oktober 2023, tenda besar yang didirikan tepat di belakang IMXR Studio (Black Box/Studio 1) PFN itu, nyaris setiap hari, tak pernah sepi pengunjung. Mereka, para pengunjung itu—yang terdiri dari seniman, budayawan, volunteer, dan masih banyak lagi, yang berkesempatan hadir di PKN—rela antre dan berdesak-desakan demi mencoba kekayaan kuliner Nusantara.

Selain karena penasaran dengan rasa berbagai masakan yang dihidangkan, satu hal yang penting adalah, semua masakan bisa dicoba tanpa mengeluarkan uang sepeser pun, alias gratis, sepuas-puasnya. Dan salah satu hidangan yang ramai diserbu pengunjung adalah kuliner khas dari Maluku Utara: sambal dabu-dabu beo, dabu-dabu tamate dule, baku ngelo, pisang mulu bebe, dan kerupuk tradisional khas Bacan bernama kamplang—yang terbuat dari percampuran ikan tuna segar dan sagu.

Pengunjung antre untuk mencoba kuliner khas Maluku Utara / Foto: Jaswan

Sambal dabu-dabu beo, temate dule, baku ngelo, dan kamplang, merukapan kuliner khas dari Halmahera Selatan, Maluku Utara. Menurut Lusi Susanti Bahar, Tim Ahli WBTB Maluku Utara, sambal dabu-dabu—beo dan tamate dule—merupakan sambal yang dulunya hanya dikonsumsi oleh keluarga Kesultanan Bacan, Halmahera Selatan. “Jadi, kedua sambal tersebut dulu dibuat oleh para permaisuri sultan Bacan. Di dapur Kesultanan Bacan, ada sekitar dua puluh jenis sambal,” terangnya, kepada wartawan tatkala.co di lokasi Dapur Bangsa, Rabu (25/10/2023) sore.

Lusi Susanti, sebelum diwawancarai, sibuk menjelaskan dan melayani para pengunjung yang ingin mencicipi kuliner yang dibawanya. Meski dibantu oleh timnya dan seorang volunteer, ia mengaku kewalahan melayani antrean yang tak putus-putus—antrean mengular panjang. Meja tempat memajang kuliner-kuliner tersebut, nyaris tak terlihat dari depan.

Sementara para pengunjung mengantre, dengan percaya diri dan artikulasi yang tegas dan jelas, Lusi menjelaskan satu per satu hidangan yang ditawarkannya. “Yang suka pedas silakan ambil sambal dabu-dabu beo; yang tidak pedas, silakan ambil dabu-dabu tamate dule,” ujarnya, tegas, dengan logat Maluku Utara-nya yang khas.

Dabu-dabu beo memiliki rasa yang dominan pedas, sedikit asam, dan asin. Perpaduan antara ketiga rasa itu menciptakan pengalaman rasa yang khas. Bahan-bahan dabu-dabu beo terdiri dari rica boku (cabai rawit), bawang merah, terasi Bacan, garam, dan perasan lemon.

“Cabai rawit dihaluskan bersama terasi, bawang merah diiris tipis, terus dicampur, diaduk, tambahkan garam dan perasan air lemon secukupnya, baru disiram dengan minyak mendidih. Setelah itu, ditambah dengan arang yang masih menyala (bara api)—untuk menciptakan aroma yang khas dan memperkuat rasa pedas—sampai padam,” jelas Lusi.

Lusi Susanti Bahar sedang menjelaskan kepada para pengunjung / Foto: Jaswan

Sebaliknya, jika dabu-dabu beo memiliki rasa yang dominan pedas—beberapa pengunjung yang mencobanya tampak berkeringat dengan bibir memerah, dower—maka dabu-dabu tamate dule memiliki rasa yang cenderung asam, meski tak seasam cuka atau belimbing wuluh.

Tamate dule berasal dari dua kata, tamate dan dule. Tamate bearti tomat, sedangkan dule berarti bakar. Tetapi, menurut Lusi, tamate dule bukan berarti hanya berbahan tomat yang dibakar saja, tapi ada rica keribo (cabai keriting), bawang merah, kemangi, dan daun bawang Maluku Utara. Semua bahan, kecuali kemangi dan daun bawang, dibakar terlebih dahulu.

“Tomat, cabai, dan bawang merah, ditusuk seperti sate, lalu dibakar. Setelah itu dihaluskan, ditambah terasi, garam, lalu disiram dengan minyak mendidih dan ditambahkan arang yang masih menyala,” terang Lusi.

Sambal dabu-dabu beo dan tamate dule dipilih, menurut Lusi, karena kedua sambal ini memiliki latar belakang sejarah yang kuat di Maluku Utara. Selain sebagai hidangan pelengkap di atas meja mekan, kedua sambal ini juga dijadikan sebagai media untuk mempererat tali silaturahmi. “Jadi, saat ada tamu penting yang berkunjung ke Kesultanan Bacan, kedua menu ini wajib dihidangkan,” jelas Lusi, dengan mata yang berbinar.

Untuk melengkapi hidangan sambal dabu-dabu beo dan tamate dule, pihak Maluku Utara membawa serta kuliner yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), yakni baku ngelo. Baku ngelo merupakan makanan khas dari Halmahera Selatan, yang terbuat dari sari pati singkong atau sagu. Kuliner tersebut adalah makanan pokok orang Halmahera Selatan sebelum beras menggantikannya. Selain awet, bahan baku baku ngelo juga tidak terlalu rumit didapatkan dan diolah.

Suasana antre di Dapur Bangsa / Foto: Jaswan

Selain hidangan baku ngelo, Lusi Susanti dkk. juga membawa pisang mulu bebe—yang katanya hanya tumbuh di hutan Halmahera. Pisang mulu bebe bertekstur halus, enak diolah saat masih mentah, mengkal (setengah matang), mamupun matang. Dan untuk minumannya, Maluku Utara menyajikan air guraka—minuman hangat berbahan baku rebusan jahe, gula aren, dan kayu manis.

Maka, sore itu, hidangan Maluku Utara menjadi primadona dalam Kuratorial Kenduri Rasa—Dapur Bangsa Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023. Para pengunjung, sembari melepas lelah setelah seharian berkegiatan, setelah berjibaku dengan terik Jakarta yang panas, menikmati sajian baku ngelo dan pisang mulu bebe, ditambah dengan sensasi pedas dabu-dabu beo dan asam tamate dule, dilengkapi dengan renyah dan gurihnya kerupuk kamplang, dan ditutup dengan seteguk-dua teguk air guraka, bersemangat untuk kembali melanjutkan aktivitas.

Menjaga Kekayaan Kuliner Nusantara

Memasak, atau mengolah makanan, menurut Mumu Aloha, tak lagi dianggap sebagai semata kegiatan rekreasional, pengisi waktu senggang di akhir pekan, atau momen untuk menciptakan kebersamaan dalam keluarga. Memasak dan mengolah makanan kini dipandang secara antropologis sebagai bagian dari praktik kebudayaan yang harus terus-menerus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan.

Tampilan tenda Dapur Bangsa di Produksi Film Negara / Foto: Jaswan

Dapur menjadi pertimbangan penting, sebab dari sinilah perjalanan dimulai, kata Mumu. Sedangkan bagi “Indonesia”, lanjutnya, di mana sebenarnya posisi masakan dalam konteks kebangsaan, atau bahkan kenegaraan, atau pemerintahan? Indonesia yang belakangan telah menjadi “atribut” yang dicomot untuk ditempelkan di sana-sini dengan berbagai kepentingan di belakangnya, di mata para juru masak dan pewaris ramuan bumbu-bumbu ternyata justru terus-menerus dipertimbangkan sebagai bagian dari memori kolektif, sumber kearifan bersama, juga titik totak dan sekaligus tempat kembali.

Dalam hal kekayaan kuliner, Nusantara atau Indonesia memiliki banyak sekali makanan dan minuman khas, yang tersebar di seluruh wilayahnya—dari Sabang sampai Merauke; dari Miangas sampai Pulau Rote. Makanan dan minuman tersebut, nyaris di semua daerah, memiliki rasa yang otentik, khas masing-masing. Tak ayal kuliner menjadi bagian penting dalam eksistensi suatu daerah. Bahkan, saking pentingnya, sejak akhir 1950-an, Presiden Soekarno menjadikan kuliner sebagai bagian dari derap politik revolusi.

Maka, atas dasar itulah, Bung Karno memulai proyek penulisan Mustika Rasa—kumpulan resep masakan dari berbagai daerah di Indonesia yang diterbitkan pertama kali tahun 1967, setahun (lebih) setelah Soekarno jatuh. Buku yang disusun cukup lama tersebut berisi kurang lebih 1.600 resep masakan, 900 resep di antaranya menggunakan penekanan asal daerah. (Buku ini lahir atas gagasan Proklamator Republik Indonesia yang pencinta makanan dan merasa bahwa makanan adalah persoalan penting.)

Sukarno, sebagai presiden, memerintahkan mengumpulkan resep masakan Indonesia selengkap-lengkapnya. Bukan saja untuk mendokumentasikan dan menyelamatkan kekayaan warisan makanan-minuman Indonesia yang beragam serta kaya pengaruh hasil silang budaya dalam sejarahnya yang panjang bertemu aneka bangsa, tetapi juga sebagai upaya memberi basis bagi politik pertahanan pangan.

Para pengunjung sedang meniknati kuliner di Dapur Bangsa / Foto: Jaswan

Dengan segala kelebihan dan kelemahannya, menurut Kuss Indarto, pemimpin redaksi Mata Jendela, buku tersebut relatif bisa menjadi tonggak penting betapa Negara telah peduli untuk mengelola makanan sebagai salah satu kosa budaya yang mampu diberdayakan sebagai bagian dari identitas dan kekuatan sumber daya Indonesia.

“Dapur Bangsa”, sebagai sebuah program nasional, merupakan program yang bagus dan harus dipertahankan. Tak hanya sebagai ruang sosialisasi, Dapur Bangsa juga dapat menjadi ruang eksplorasi lebih lanjut terkait kekayaan kuliner Nusantara.

Namun, di tengah gempuran kuliner-kuliner masa kini, entah yang datang dari luar maupun dalam, untuk menjaga keragaman dan kekayaan kuliner Nusantara, rasanya tak cukup hanya dengan menggelar program semacam pameran kuliner, lebih dari itu, program yang harus dipikirkan adalah program yang berkaitan dengan ekosistem kuliner yang menyeluruh, mulai dari melestarikan bahan baku, dan sebagainya dan sebagainya.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

BACA artikel lain terkait PEKAN KEBUDAYAAN NASIONAL 2023 atau artikel lain yang ditulis JASWANTO

“Membaca Sanghyang”: Tentang Ritual, Arsip, Posisi Perempuan, dan Pertanian
“Nge-GLITCH?”: Pertempuran antara Tubuh Digital dan Tubuh Manusia
Menjelajahi Laku Jongkok dalam Koreografi “The (Famous) Squatting Dance : Jung Jung te Jung” di Teater Salihara
Ritus Tari Seblang di Olehsari : Menari Bersama Leluhur dan Merayakan Dialog Antarbudaya Bali-Blambangan
Tags: kebudayaankulinerkuliner nusantarapekan kebudayaan nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

DPRD Buleleng Bahas Ranperda APBD 2024: Anggaran Diharapkan Menyentuh Kebutuhan Masyarakat Secara Menyeluruh

Next Post

Daun Katuk, Si Hijau Pelancar ASI

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails
Next Post
Daun Katuk, Si Hijau Pelancar ASI

Daun Katuk, Si Hijau Pelancar ASI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co