14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Serangga dalam Piring Makan Kita

Jaswanto by Jaswanto
April 25, 2026
in Kuliner
Serangga dalam Piring Makan Kita

Belalang yang dijajakan di Jalan Mijahan, Semanu, Gunung Kidul. Belalang yang dipercaya sebagian orang dapat mengobati asam urat itu dijual Rp 100 perekornya | Foto: Kompas/Wawan H Prabowo

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat jati, laron, serta larva tawon atau lebah, dan di wilayah timur orang menikmati ulat sagu; maka di Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali, warga setempat menjadikan kumbang air atau kumbang penyelam sebagai lauk-pauk. Fakta ini saya ketahui saat berkunjung ke desa tersebut pada 2024 silam.

Di Kedis, serangga air itu disebut klipes. Sementara di beberapa daerah di Jawa Timur, seperti Tuban, ia dikenal sebagai belibis. Dalam bahasa Indonesia, serangga ini disebut kumbang air atau kumbang penyelam (Hydrophilidae)—meski jika diperhatikan lebih saksama, bentuknya sekilas lebih menyerupai kecoa ketimbang kumbang. Di Kedis, olahan ini dikenal sebagai klipes sune cekuh, merujuk pada bumbu sederhana berupa sune (bawang putih) dan cekuh (kencur).

“Dia harus digoreng, karena kalau direbus, atau dikuah, teksturnya alot. Tubuh dan sayapnya sangat kuat,” ujar Kadek Anggara, warga Kedis sekaligus kawan saya yang sering mengolahnya. Saya kira, pernyataan itu bukan sekadar petunjuk memasak, melainkan pengetahuan ekologis. Ia tahu karakter tubuh serangga itu, tahu cara memperlakukannya, tahu bagaimana mengubah sesuatu yang liar menjadi layak santap. Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa masyarakat Kedis telah lama menjadikan kumbang air sebagai lauk-pauk. Alasannya sederhana: wilayah ini merupakan daerah pertanian, tempat kumbang air melimpah dan berkembang biak di rawa, telaga, serta persawahan.

Meski tidak selalu tersedia setiap hari, warga Kedis kerap rela menukar Rp15.000 hingga Rp20.000 untuk setengah plastik ukuran setengah kilogram demi mendapatkan serangga ini.

“Mengolahnya pun cukup simpel. Setelah dipisahkan dari sayapnya yang keras, lalu dicuci bersih, kemudian digoreng. Untuk bumbunya, cukup bawang putih, kencur, cabai rawit, garam, dan penyedap. Rasanya seperti udang,” terang Dek Anggara suatu ketika kepada saya. Perbandingan dengan udang ini menarik. Ia menunjukkan bahwa pengalaman rasa sering kali menjadi jembatan untuk memahami sesuatu yang dianggap asing. Apa yang tampak “aneh” pada awalnya, bisa menjadi akrab ketika diberi konteks.

Pengalaman itu mengingatkan saya pada masa kecil di kampung, di Karang Binangun. Nenek saya pernah menggoreng laron—rasanya gurih dan renyah, kletus-kletus. Bapak juga kerap menangkap belalang kayu (Valanga nigricornis) di pohon singkong, lalu membakar atau menggorengnya. Saya ikut menyantapnya. Rasanya pun gurih. Tidak ada yang terasa “aneh” waktu itu. Namun, menurut nenek, keluarga kami tidak pernah memakan enthung, seperti kebiasaan masyarakat Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Artinya, bahkan dalam satu wilayah, praktik makan serangga pun tidak seragam. Ternyata selera itu dibentuk, bukan diwariskan secara biologis.

Di Desa Jadi, terutama saat awal musim hujan, warga berbondong-bondong menuju hutan jati. Mereka bukan untuk menebang pohon seperti para blandong di masa lalu, melainkan mencari kepompong ulat jati (Hyblaea puera). Bagi mereka, enthung adalah berkah musiman.

“Saya cari kepompong untuk dijual dan dibuat pakan burung. Harganya 100 ribu per kilo. Biasanya nyari dari jam 7 pagi pulang jam 12 siang. Ulat ini banyak muncul saat memasuki awal musim hujan,” ujar Abdul Muis, warga Desa Jadi, kepada saya.

Menurut Muis, aktivitas ini dilakukan hampir di seluruh kawasan hutan jati di Kabupaten Tuban. Dalam sehari, para pencari dapat mengumpulkan satu hingga dua kilogram kepompong dan ulat daun jati segar. Selain dikonsumsi sendiri, hasil buruan itu juga dijual dengan harga Rp100.000 per kilogram—angka yang cukup menggiurkan.

Dari berbagai kisah tersebut, terlihat bahwa hubungan manusia dengan serangga telah terjalin sejak lama. Relasi ini tidak selalu merugikan (parasitisme), tetapi juga bisa saling menguntungkan (mutualisme). Salah satu bentuk paling nyata adalah pemanfaatan serangga sebagai sumber pangan, atau yang dikenal sebagai entomofagi. Jun Mitsuhashi, dalam Encyclopedia of Entomology (2008), membagi entomofagi ke dalam dua kategori: konsumsi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi (necessary nutrients) dan penggunaan sebagai bumbu atau pelengkap (condiment).

Di Indonesia, serangga yang umum dikonsumsi antara lain belalang, jangkrik, kumbang puthul, ulat sagu, pupa ulat jati, laron, serta larva lebah. Cara pengolahannya beragam—ditumis, digoreng, atau dibakar dengan bumbu pedas, gurih, hingga manis; bahkan ada yang dimakan langsung tanpa diolah.

Praktik ini bukan hanya milik orang Kedis atau Karang Binangun. Dalam sejarah peradaban manusia, banyak masyarakat memanfaatkan serangga sebagai makanan. Suku Aborigin, misalnya, mengonsumsi ngengat bogong (Agrotis infusa) dalam jumlah besar antara Desember hingga Februari. Di beberapa negara Afrika—Botswana, Afrika Selatan, Zaire, dan Zimbabwe—ulat mopane (Gonimbrasia bellina) bahkan menjadi komoditas pasar yang nilainya bisa melampaui penjualan sapi saat musimnya. Di Meksiko, gusanos de maguey (Aegiale hesperiaris) dijual segar di pasar, digoreng sebelum dimakan, bahkan dikemas dalam kaleng.

Laron goreng yang akan dibuat rempeyek di Ubud Food Festival 2018 | Foto: Kompas/Iwan Setiyawan

Secara global, lebih dari 2.000 spesies serangga diketahui dapat dimakan, dan praktik ini dijalankan oleh lebih dari dua miliar orang. Di Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika Latin, serangga menjadi sumber protein yang mudah diakses sekaligus bagian dari identitas kuliner lokal. Belalang dan jangkrik digoreng renyah di Thailand dan Yogyakarta; ulat sagu menjadi pangan penting di Papua dan Maluku; sementara di Afrika, ulat mopane diolah sebagai lauk bernutrisi tinggi. Di Gunung Kidul, serangga sejenis kepik (beser) bahkan diolah menjadi sambal. Di Peru, cochineal (Dactylopius coccus) dimanfaatkan sebagai pewarna alami (carmyne). Di Bali, tepatnya di Desa Tambakan, dikenal pula uraban nyawan atau lawar lebah.

Kekayaan hayati Indonesia menyediakan berbagai jenis serangga yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein alternatif. Bagi masyarakat perdesaan, serangga sering kali lebih mudah diperoleh dibandingkan sumber protein hewani konvensional. Pengetahuan mengenai jenis yang aman dikonsumsi diwariskan secara turun-temurun, sebagaimana terjadi di banyak budaya lain.

Lebih dari sekadar sumber protein, serangga juga memiliki keunggulan ekologis dibandingkan ternak konvensional. Pemanfaatannya dapat mendukung keberlanjutan lingkungan sekaligus menjaga keanekaragaman hayati. Hingga kini, meski bahan pangan modern semakin mudah diakses, masyarakat Kedis tetap mengonsumsi klipes dan serangga lain selama masih tersedia di alam.

“Kalau di Kedis masih ada klipes, capung, dan serangga air lainnya, berarti lingkungannya masih bagus. Banyak daerah yang kehilangan spesies karena penggunaan pestisida yang keterlaluan,” ujar Dek Anggara. Pernyataan ini mengandung lapisan makna yang lebih dalam. Serangga bukan hanya makanan, tetapi juga indikator ekologis. Kehadirannya menandakan keseimbangan lingkungan. Kehilangannya menandakan kerusakan. Dari sini, jelas bahwa serangga bukan sekadar bahan makanan, melainkan representasi hubungan manusia dengan alam.

Di sisi lain, konsumsi serangga juga merupakan bagian dari tradisi budaya masyarakat perdesaan. Ia mencerminkan kearifan lokal yang telah berlangsung lama—barangkali sejak manusia purba, jauh sebelum mengenal teknik berburu dan bercocok tanam secara sistematis. Bukti arkeologis memperkuat hal ini. Koprolit (kotoran manusia yang telah memfosil) yang ditemukan di gua-gua di Meksiko dan Amerika Serikat—seperti disebutkan oleh Jun Mitsuhashi—mengandung sisa semut, kutu, larva kumbang, dan tungau. Gambar sarang lebah liar juga ditemukan di dinding Goa Artamila di Spanyol utara, diperkirakan berasal dari 9.000–30.000 tahun sebelum Masehi. Di China, pupa ulat sutra (Theophila religiosae) ditemukan di reruntuhan bangunan berusia 2.000–2.500 tahun sebelum Masehi, menunjukkan praktik konsumsi serangga yang telah berlangsung lama.

Kesadaran akan potensi ini juga muncul dalam forum internasional. Lokakarya di Chiang Mai, Thailand (2008), yang bertajuk “Forest insects as food: humans bite back”, menekankan peran serangga sebagai sumber pangan alami yang dapat membantu mengantisipasi krisis pangan di masa depan. Gagasan pengembangan serangga sebagai pangan dan pakan, seperti disarankan Meyer-Rochow, kini semakin dianggap relevan.

Sejumlah peneliti—Taylor dan Carter (1976), DeFoliart (1992, 1999), serta Berenbaum (1995)—telah mendorong popularitas serangga sebagai alternatif protein. Dibandingkan ternak konvensional, serangga memiliki efisiensi tinggi dalam mengonversi pakan menjadi protein bernutrisi.

Di tengah meningkatnya permintaan pangan dan menyusutnya sumber daya alam, penelitian mengenai serangga sebagai protein berkelanjutan semakin intensif. Di Singapura, misalnya, 16 spesies serangga kini telah disahkan sebagai bahan pangan. Pemerintahnya juga membuka impor serangga hidup maupun produk olahannya, seperti pasta dan snack bar. Fenomena ini mengingatkan saya pada adegan dalam film Snowpiercer, ketika protein bar ternyata terbuat dari kecoa.

Setelah dibersihkan dan dibumbui dengan garam, bawang putih, serta penyedap rasa, belalang dapat langsung di goreng | Foto: Kompas/Wawan H Prabowo

Pada akhir 2023, Tyson Foods—perusahaan daging terbesar di Amerika—mengumumkan investasi pada Protix, perusahaan peternakan serangga asal Belanda. Langkah ini memperkuat klaim bahwa serangga berpotensi menjadi bagian dari masa depan pangan global. Sedangkan dalam budaya populer, dokumenter Nine-and-a-half: Ew, Insects? juga menampilkan kemungkinan tersebut melalui menu tak lazim seperti saus cacing dan keripik jangkrik. Di tengah semua itu, praktik di tempat seperti Kedis menjadi penting. Ia menunjukkan bahwa alternatif itu sudah ada—bukan di laboratorium, melainkan di kehidupan sehari-hari masyarakat. Apa yang dulu dianggap praktik desa, kini dilirik sebagai solusi global.

Meski demikian, penerimaan terhadap serangga tidak selalu mudah. Ya, hambatan terbesar dalam kampanye “makan serangga” bukanlah teknologi, melainkan persepsi. Di masyarakat urban modern, terutama yang terpengaruh standar kuliner Barat, serangga kerap dianggap menjijikkan. Standar kuliner modern—yang banyak dipengaruhi Barat—mendorong pemisahan tajam antara “makanan” dan “bukan makanan”. Serangga, tentu saja, ditempatkan di kategori kedua. Dalam beberapa tafsir agama, persoalan ini juga muncul. Dalam Islam, misalnya, sebagian serangga dianggap haram karena dipandang menjijikkan. Hal ini menunjukkan bahwa selera makan tidak semata-mata alami, melainkan dibentuk oleh budaya, sejarah, dan konstruksi sosial. Apa yang dianggap “normal” hari ini sering kali adalah hasil dari proses panjang yang tidak selalu netral. Kolonialisme pangan, industrialisasi, dan globalisasi telah membentuk cara kita memandang makanan.

Kita mungkin tidak perlu membayangkan masa depan di mana semua orang makan serangga sebagaimana dalam film Nine-and-a-half: Ew, Insects?. Tetapi menutup kemungkinan itu sama saja dengan menutup salah satu solusi yang sudah terbukti secara historis, ekologis, dan kultural. Apa yang dulu dianggap biasa oleh komunitas tradisional, kini kembali muncul sebagai kemungkinan masa depan. Dan mungkin, yang perlu kita ubah bukanlah makanannya—melainkan cara kita memandangnya.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: kuliner nusantaraserangga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

Next Post

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails
Next Post
Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co