21 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

I Gede Teddy Setiadi by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
in Kuliner
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

Ical di kedai kopinya di Jalan Dewi Sartika Singaraja | Foto-foto: Teddy Setiadi

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan Dewi Sartika, tepatnya di sebelah barat kampus FBS Undiksha Singaraja.

Di tepi jalan itu, Faisal sedang jenak untuk berjualan kopi. Ia berjualan dengan menggunakan mobil. Kok bisa berjualan di Singaraja?

Bung Ical, begitu sapaan akrabnya, sejak lama memang memutuskan hidup mengembara alias nomaden. Ical memilih berkeliling, dari kota ke kota. Ia berkeliling dengan sebuah mobil tua yang diubah menjadi kedai kopi. Ia tidur di mobil itu, berjualan juga di mobil itu.

Nama kedai kopinya, Twntytoo Coffee. Di atas mobil tuanya, ical bercerita tentang mengapa ia memilih meninggalkan kampung halamannya untuk mengembara sambari berjualan kopi dengan cara berpindah ke satu tempat ke tempat lainnya.

Twntytoo Coffee jenak di Jalan dewi Sartika Singaraja

Ia mengaku terinpirasi dari sebuah film yang bercerita tentang kehidupan nomaden. Judul filmnya Nomadland. Itu sebuah film yang mengisahkan seorang wanita paruhbaya kehilangan segalanya setelah negaranya mengalami resesi hebat. Perempuan itu memutuskan memulai perjalanan melalui Amerika Barat dan hidup sebagai pengembara modern yang tinggal di van.

Film Nomadland telah mempengaruhi hidupnya. Dan, ia membulatkan tekadnya mewujudkan cita-cita untuk memulai perjalanan. Setelah berhenti dari pekerjaannya sebagai karyawan swasta pada tahun 2019, Ical memutuskan untuk membuka usaha kedai kopi di kampung halamannya.

Keputusannya untuk membuka usaha kedai kopi ini bukanlah tujuan utamanya. Tetapi ia harus mempersiapkan usaha itu untuk adiknya, sebelum ia sendiri merealisasikan mimpinya hidup nomaden.

Setelah semua dirasa sudah siap, akhirnya Ical memulai mimpinya. Perjalanan Ical bersama Twntytoo Coffee dimulai dari Kota Pekanbaru, lalu berpindah ke Sumatera Barat, berlanjut ke Pulau Jawa sampai akhirnya ke Bali.

Di Pulau Bali Ical dan Twntytoo Coffee pertama kali singgah di Kabupaten Jembrana. Di sini Ical tidak mau terburu-buru. Ical mengaku selalu ingin merasakan bagaimana suasana di setiap tempat yang dikunjungi.

Setelah dirasa cukup, barulah ia lanjutkan perjalanan. Sebelum tiba di Kota Singaraja, Ical ternyata juga sempat singgah di Kota Denpasar, lalu ke beberapa tempat di Kabupaten Badung seperti Uluwatu, Kuta dan juga tempat wisata lainnya.

Datang menggunakan mobil Daihatsu Zebra tua berwarna putih kombinasi biru muda yang ditambah dengan printilan untuk menonjolkan kesan klasik dan retro. Kehadiran Twntycoffee di Singaraja cukup berhasil menjadi perhatian.

Twntytoo Coffee jenak di Jalan dewi Sartika Singaraja

Lampu remang di dalam mobilnya pun menambah romansa yang sangat klasik. Tidak jarang banyak di antara pelanggan tertarik naik ke dalam mobil ingin merasakann sensasinya sambari melihat proses meracik kopi yang sedang mereka pesan.

“Di Singaraja saya berjualan mulai sore sampai malam, kadang sampai jam satu pagi kalau weekend. Tempatnya pun berpindah-pindah seperti di kawasan Pantai Penimbangan, di depan SMA N 1 Singaraja dan sekarang di Dewi Sartika,” kata Ical.

Di halaman media sosial Instagram yang diberi nama @twntytoo.coffee Ical selalu melakukan interaksi dan mengabadikan perjalannya sehingga para follower Twntytoo Coffee mengetahui update lokasi perjalannya serta memberitahu menu apa saja yang tersedia saat itu.

Twntytoo Coffee menyediakan menu kopi yang cukup beragam, kita bisa memilih mulai dari kopi lokal daerah yang dikunjungi hingga pilihan kopi seperti espresso, latte, cappuccino dan lainnya.

Untuk yang tidak suka meminum kopi, Ical harus berdamai dengan fakta seperti itu. Ia pun sudah menyediakan menu non kopi serta tambahan roti bakar yang bisa dipesan.

Untuk kopi lokal Singaraja, Ical memilih kopi robusta dari Desa Lemukih. Selain menjadi salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Buleleng, kopi Desa Lemukih ini memiliki kadar kafein yang lebih tinggi dari pada kopi arabika sehingga cocok dijadikan bahan dasar untuk membuat espresso terutama jika dicampur dengan jenis kopi lain atau susu.

Kawasan Jalan Dewi Sartika Singaraja saat malam hari biasanya sepi, lampu penerangan jalan yang jumlahnya tidak banyak membuat kawasan itu muram. Setelah Twntycoffee hadir setidaknya suasana sedikit berubah. Selepas senja kawasan sebelah barat kampus FBS Undiksha ini menjadi hidup dan bermetamorfosis menjadi episentrum baru bagi para pecinta kopi di Singaraja.

Banyak mahasiswa atau warga yang datang membeli kopi di sana. Harganya yang terjangkau, dan lokasi yang strategis juga membuat Twntytoo Coffee dijadikan pilihan karena konsumen bisa langsung grab-and-go tanpa harus berjalan jauh atau terlalu lama mengantri di coffee shop konvensional.

Konsumen juga bisa dengan akrab berinteraksi dengan Ical sebagai barista kopi. Interaksi yang tidak hanya tentang memesan, tetapi juga terciptanya suasana yang fun yang bisa menjadi jeda singkat yang menyegarkan dari padatnya rutinitas kuliah atau pekerjaan.

Ical juga sering menciptakan elemen kejutan-kejutan kecil kepada pelanggannya. Pada kunjungan saya pertama misalnya, Ical memberikan shot espresso serta dua buah stiker kecil untuk kenang-kenangan. 

Hal itu jarang ditemukan di barista coffee shop konvensional. Keakraban yang dibangun secara cepat, tulus dan juga konsisten. Hubungan yang personal inilah yang membuat kita ingin datang dan datang lagi.

Tetapi sayang sekali, pencinta Twntytoo harus menyadari bahwa kalimat yang ditulis pada kaca sebelah kiri mobilnya tentang  “Kopi dan Perjalanan” memang harus dilakukan. Ical harus melanjutkan perjalannya.

Mobil yang dijadikan kedai kopi

Ditemani mobil kesayangannya, di penghujung bulan Nopember ini ia mengaku harus melanjutkan perjalanan kembali ke Pulau Jawa. Perjalanan yang harus meninggalkan Singaraja, perjalanan yang mungkin sedikit panjang, sedikit pelan- pelan, dan tidak berujung.

Melanjutkan sebuah perjalanan tanpa batasan waktu, setiap kilometer seakan membawanya tidak hanya ke tempat yang baru, tetapi juga ke sisi lain dari tempat yang sudah pernah dikunjungi.

Perjalanan yang bukan hanya mementingkan jarak, melainkan keberanian untuk terus melaju maju, tidak takut berhenti sampai saatnya benar- benar harus kembali.

Kembali karena pedal gas tidak diinjak lagi, mesin mobil yang sudah tidak ada yang menghidupkan, sampai saat kepulangan abadi benar benar memanggilnya kembali.

Sampai bertemu lagi Bung Ical, di lain waktu, di lain kesempatan, dengan perjalanan yang masih sama, dengan rasa kopi yang tidak berubah, di kota Singaraja yang asik ini. [T]

Penulis: I Gede Teddy Setiadi
Editor: Adnyana Ole

Tags: coffee shopkopiSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Soul Art Exhibition’: Memaknai Jejak Spiritual di Persimpangan Dialog antara Tuhan, Manusia, dan Alam

Next Post

‘Purusa: Wedding Sacred’, Film Berbahasa Bali Karya Sineas Bali Tayang di Korea Selatan

I Gede Teddy Setiadi

I Gede Teddy Setiadi

Lahir di Desa Pedawa. Kini tinggal di Singaraja

Related Posts

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

by Putu Ayu Ariani
October 16, 2025
0
Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

DINI hari di Desa Banjar, Kabupaten Buleleng, suasana masih diselimuti udara dingin. Namun di depan sebuah warung sederhana, cahaya api...

Read moreDetails

“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

by Ni Wayan Suwini
October 10, 2025
0
“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

JALAN Hayam Wuruk, Denpasar, pagi itu. Deru kendaraan, suara klakson yang saling bersahutan, dan rutinitas kota yang jarang berhenti terasa...

Read moreDetails
Next Post
‘Purusa: Wedding Sacred’, Film Berbahasa Bali Karya Sineas Bali Tayang di Korea Selatan

'Purusa: Wedding Sacred', Film Berbahasa Bali Karya Sineas Bali Tayang di Korea Selatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026
Gaya

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”
Panggung

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?
Khas

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital
Esai

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
Ulas Musik

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
Tualang

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

by Chusmeru
May 20, 2026
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026
Persona

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co