KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan Dewi Sartika, tepatnya di sebelah barat kampus FBS Undiksha Singaraja.
Di tepi jalan itu, Faisal sedang jenak untuk berjualan kopi. Ia berjualan dengan menggunakan mobil. Kok bisa berjualan di Singaraja?
Bung Ical, begitu sapaan akrabnya, sejak lama memang memutuskan hidup mengembara alias nomaden. Ical memilih berkeliling, dari kota ke kota. Ia berkeliling dengan sebuah mobil tua yang diubah menjadi kedai kopi. Ia tidur di mobil itu, berjualan juga di mobil itu.
Nama kedai kopinya, Twntytoo Coffee. Di atas mobil tuanya, ical bercerita tentang mengapa ia memilih meninggalkan kampung halamannya untuk mengembara sambari berjualan kopi dengan cara berpindah ke satu tempat ke tempat lainnya.

Ia mengaku terinpirasi dari sebuah film yang bercerita tentang kehidupan nomaden. Judul filmnya Nomadland. Itu sebuah film yang mengisahkan seorang wanita paruhbaya kehilangan segalanya setelah negaranya mengalami resesi hebat. Perempuan itu memutuskan memulai perjalanan melalui Amerika Barat dan hidup sebagai pengembara modern yang tinggal di van.
Film Nomadland telah mempengaruhi hidupnya. Dan, ia membulatkan tekadnya mewujudkan cita-cita untuk memulai perjalanan. Setelah berhenti dari pekerjaannya sebagai karyawan swasta pada tahun 2019, Ical memutuskan untuk membuka usaha kedai kopi di kampung halamannya.
Keputusannya untuk membuka usaha kedai kopi ini bukanlah tujuan utamanya. Tetapi ia harus mempersiapkan usaha itu untuk adiknya, sebelum ia sendiri merealisasikan mimpinya hidup nomaden.
Setelah semua dirasa sudah siap, akhirnya Ical memulai mimpinya. Perjalanan Ical bersama Twntytoo Coffee dimulai dari Kota Pekanbaru, lalu berpindah ke Sumatera Barat, berlanjut ke Pulau Jawa sampai akhirnya ke Bali.
Di Pulau Bali Ical dan Twntytoo Coffee pertama kali singgah di Kabupaten Jembrana. Di sini Ical tidak mau terburu-buru. Ical mengaku selalu ingin merasakan bagaimana suasana di setiap tempat yang dikunjungi.
Setelah dirasa cukup, barulah ia lanjutkan perjalanan. Sebelum tiba di Kota Singaraja, Ical ternyata juga sempat singgah di Kota Denpasar, lalu ke beberapa tempat di Kabupaten Badung seperti Uluwatu, Kuta dan juga tempat wisata lainnya.
Datang menggunakan mobil Daihatsu Zebra tua berwarna putih kombinasi biru muda yang ditambah dengan printilan untuk menonjolkan kesan klasik dan retro. Kehadiran Twntycoffee di Singaraja cukup berhasil menjadi perhatian.

Lampu remang di dalam mobilnya pun menambah romansa yang sangat klasik. Tidak jarang banyak di antara pelanggan tertarik naik ke dalam mobil ingin merasakann sensasinya sambari melihat proses meracik kopi yang sedang mereka pesan.
“Di Singaraja saya berjualan mulai sore sampai malam, kadang sampai jam satu pagi kalau weekend. Tempatnya pun berpindah-pindah seperti di kawasan Pantai Penimbangan, di depan SMA N 1 Singaraja dan sekarang di Dewi Sartika,” kata Ical.
Di halaman media sosial Instagram yang diberi nama @twntytoo.coffee Ical selalu melakukan interaksi dan mengabadikan perjalannya sehingga para follower Twntytoo Coffee mengetahui update lokasi perjalannya serta memberitahu menu apa saja yang tersedia saat itu.
Twntytoo Coffee menyediakan menu kopi yang cukup beragam, kita bisa memilih mulai dari kopi lokal daerah yang dikunjungi hingga pilihan kopi seperti espresso, latte, cappuccino dan lainnya.
Untuk yang tidak suka meminum kopi, Ical harus berdamai dengan fakta seperti itu. Ia pun sudah menyediakan menu non kopi serta tambahan roti bakar yang bisa dipesan.
Untuk kopi lokal Singaraja, Ical memilih kopi robusta dari Desa Lemukih. Selain menjadi salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Buleleng, kopi Desa Lemukih ini memiliki kadar kafein yang lebih tinggi dari pada kopi arabika sehingga cocok dijadikan bahan dasar untuk membuat espresso terutama jika dicampur dengan jenis kopi lain atau susu.
Kawasan Jalan Dewi Sartika Singaraja saat malam hari biasanya sepi, lampu penerangan jalan yang jumlahnya tidak banyak membuat kawasan itu muram. Setelah Twntycoffee hadir setidaknya suasana sedikit berubah. Selepas senja kawasan sebelah barat kampus FBS Undiksha ini menjadi hidup dan bermetamorfosis menjadi episentrum baru bagi para pecinta kopi di Singaraja.
Banyak mahasiswa atau warga yang datang membeli kopi di sana. Harganya yang terjangkau, dan lokasi yang strategis juga membuat Twntytoo Coffee dijadikan pilihan karena konsumen bisa langsung grab-and-go tanpa harus berjalan jauh atau terlalu lama mengantri di coffee shop konvensional.
Konsumen juga bisa dengan akrab berinteraksi dengan Ical sebagai barista kopi. Interaksi yang tidak hanya tentang memesan, tetapi juga terciptanya suasana yang fun yang bisa menjadi jeda singkat yang menyegarkan dari padatnya rutinitas kuliah atau pekerjaan.
Ical juga sering menciptakan elemen kejutan-kejutan kecil kepada pelanggannya. Pada kunjungan saya pertama misalnya, Ical memberikan shot espresso serta dua buah stiker kecil untuk kenang-kenangan.
Hal itu jarang ditemukan di barista coffee shop konvensional. Keakraban yang dibangun secara cepat, tulus dan juga konsisten. Hubungan yang personal inilah yang membuat kita ingin datang dan datang lagi.
Tetapi sayang sekali, pencinta Twntytoo harus menyadari bahwa kalimat yang ditulis pada kaca sebelah kiri mobilnya tentang “Kopi dan Perjalanan” memang harus dilakukan. Ical harus melanjutkan perjalannya.

Ditemani mobil kesayangannya, di penghujung bulan Nopember ini ia mengaku harus melanjutkan perjalanan kembali ke Pulau Jawa. Perjalanan yang harus meninggalkan Singaraja, perjalanan yang mungkin sedikit panjang, sedikit pelan- pelan, dan tidak berujung.
Melanjutkan sebuah perjalanan tanpa batasan waktu, setiap kilometer seakan membawanya tidak hanya ke tempat yang baru, tetapi juga ke sisi lain dari tempat yang sudah pernah dikunjungi.
Perjalanan yang bukan hanya mementingkan jarak, melainkan keberanian untuk terus melaju maju, tidak takut berhenti sampai saatnya benar- benar harus kembali.
Kembali karena pedal gas tidak diinjak lagi, mesin mobil yang sudah tidak ada yang menghidupkan, sampai saat kepulangan abadi benar benar memanggilnya kembali.
Sampai bertemu lagi Bung Ical, di lain waktu, di lain kesempatan, dengan perjalanan yang masih sama, dengan rasa kopi yang tidak berubah, di kota Singaraja yang asik ini. [T]
Penulis: I Gede Teddy Setiadi
Editor: Adnyana Ole





























