6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

I Gede Teddy Setiadi by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
in Kuliner
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

Ical di kedai kopinya di Jalan Dewi Sartika Singaraja | Foto-foto: Teddy Setiadi

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan Dewi Sartika, tepatnya di sebelah barat kampus FBS Undiksha Singaraja.

Di tepi jalan itu, Faisal sedang jenak untuk berjualan kopi. Ia berjualan dengan menggunakan mobil. Kok bisa berjualan di Singaraja?

Bung Ical, begitu sapaan akrabnya, sejak lama memang memutuskan hidup mengembara alias nomaden. Ical memilih berkeliling, dari kota ke kota. Ia berkeliling dengan sebuah mobil tua yang diubah menjadi kedai kopi. Ia tidur di mobil itu, berjualan juga di mobil itu.

Nama kedai kopinya, Twntytoo Coffee. Di atas mobil tuanya, ical bercerita tentang mengapa ia memilih meninggalkan kampung halamannya untuk mengembara sambari berjualan kopi dengan cara berpindah ke satu tempat ke tempat lainnya.

Twntytoo Coffee jenak di Jalan dewi Sartika Singaraja

Ia mengaku terinpirasi dari sebuah film yang bercerita tentang kehidupan nomaden. Judul filmnya Nomadland. Itu sebuah film yang mengisahkan seorang wanita paruhbaya kehilangan segalanya setelah negaranya mengalami resesi hebat. Perempuan itu memutuskan memulai perjalanan melalui Amerika Barat dan hidup sebagai pengembara modern yang tinggal di van.

Film Nomadland telah mempengaruhi hidupnya. Dan, ia membulatkan tekadnya mewujudkan cita-cita untuk memulai perjalanan. Setelah berhenti dari pekerjaannya sebagai karyawan swasta pada tahun 2019, Ical memutuskan untuk membuka usaha kedai kopi di kampung halamannya.

Keputusannya untuk membuka usaha kedai kopi ini bukanlah tujuan utamanya. Tetapi ia harus mempersiapkan usaha itu untuk adiknya, sebelum ia sendiri merealisasikan mimpinya hidup nomaden.

Setelah semua dirasa sudah siap, akhirnya Ical memulai mimpinya. Perjalanan Ical bersama Twntytoo Coffee dimulai dari Kota Pekanbaru, lalu berpindah ke Sumatera Barat, berlanjut ke Pulau Jawa sampai akhirnya ke Bali.

Di Pulau Bali Ical dan Twntytoo Coffee pertama kali singgah di Kabupaten Jembrana. Di sini Ical tidak mau terburu-buru. Ical mengaku selalu ingin merasakan bagaimana suasana di setiap tempat yang dikunjungi.

Setelah dirasa cukup, barulah ia lanjutkan perjalanan. Sebelum tiba di Kota Singaraja, Ical ternyata juga sempat singgah di Kota Denpasar, lalu ke beberapa tempat di Kabupaten Badung seperti Uluwatu, Kuta dan juga tempat wisata lainnya.

Datang menggunakan mobil Daihatsu Zebra tua berwarna putih kombinasi biru muda yang ditambah dengan printilan untuk menonjolkan kesan klasik dan retro. Kehadiran Twntycoffee di Singaraja cukup berhasil menjadi perhatian.

Twntytoo Coffee jenak di Jalan dewi Sartika Singaraja

Lampu remang di dalam mobilnya pun menambah romansa yang sangat klasik. Tidak jarang banyak di antara pelanggan tertarik naik ke dalam mobil ingin merasakann sensasinya sambari melihat proses meracik kopi yang sedang mereka pesan.

“Di Singaraja saya berjualan mulai sore sampai malam, kadang sampai jam satu pagi kalau weekend. Tempatnya pun berpindah-pindah seperti di kawasan Pantai Penimbangan, di depan SMA N 1 Singaraja dan sekarang di Dewi Sartika,” kata Ical.

Di halaman media sosial Instagram yang diberi nama @twntytoo.coffee Ical selalu melakukan interaksi dan mengabadikan perjalannya sehingga para follower Twntytoo Coffee mengetahui update lokasi perjalannya serta memberitahu menu apa saja yang tersedia saat itu.

Twntytoo Coffee menyediakan menu kopi yang cukup beragam, kita bisa memilih mulai dari kopi lokal daerah yang dikunjungi hingga pilihan kopi seperti espresso, latte, cappuccino dan lainnya.

Untuk yang tidak suka meminum kopi, Ical harus berdamai dengan fakta seperti itu. Ia pun sudah menyediakan menu non kopi serta tambahan roti bakar yang bisa dipesan.

Untuk kopi lokal Singaraja, Ical memilih kopi robusta dari Desa Lemukih. Selain menjadi salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Buleleng, kopi Desa Lemukih ini memiliki kadar kafein yang lebih tinggi dari pada kopi arabika sehingga cocok dijadikan bahan dasar untuk membuat espresso terutama jika dicampur dengan jenis kopi lain atau susu.

Kawasan Jalan Dewi Sartika Singaraja saat malam hari biasanya sepi, lampu penerangan jalan yang jumlahnya tidak banyak membuat kawasan itu muram. Setelah Twntycoffee hadir setidaknya suasana sedikit berubah. Selepas senja kawasan sebelah barat kampus FBS Undiksha ini menjadi hidup dan bermetamorfosis menjadi episentrum baru bagi para pecinta kopi di Singaraja.

Banyak mahasiswa atau warga yang datang membeli kopi di sana. Harganya yang terjangkau, dan lokasi yang strategis juga membuat Twntytoo Coffee dijadikan pilihan karena konsumen bisa langsung grab-and-go tanpa harus berjalan jauh atau terlalu lama mengantri di coffee shop konvensional.

Konsumen juga bisa dengan akrab berinteraksi dengan Ical sebagai barista kopi. Interaksi yang tidak hanya tentang memesan, tetapi juga terciptanya suasana yang fun yang bisa menjadi jeda singkat yang menyegarkan dari padatnya rutinitas kuliah atau pekerjaan.

Ical juga sering menciptakan elemen kejutan-kejutan kecil kepada pelanggannya. Pada kunjungan saya pertama misalnya, Ical memberikan shot espresso serta dua buah stiker kecil untuk kenang-kenangan. 

Hal itu jarang ditemukan di barista coffee shop konvensional. Keakraban yang dibangun secara cepat, tulus dan juga konsisten. Hubungan yang personal inilah yang membuat kita ingin datang dan datang lagi.

Tetapi sayang sekali, pencinta Twntytoo harus menyadari bahwa kalimat yang ditulis pada kaca sebelah kiri mobilnya tentang  “Kopi dan Perjalanan” memang harus dilakukan. Ical harus melanjutkan perjalannya.

Mobil yang dijadikan kedai kopi

Ditemani mobil kesayangannya, di penghujung bulan Nopember ini ia mengaku harus melanjutkan perjalanan kembali ke Pulau Jawa. Perjalanan yang harus meninggalkan Singaraja, perjalanan yang mungkin sedikit panjang, sedikit pelan- pelan, dan tidak berujung.

Melanjutkan sebuah perjalanan tanpa batasan waktu, setiap kilometer seakan membawanya tidak hanya ke tempat yang baru, tetapi juga ke sisi lain dari tempat yang sudah pernah dikunjungi.

Perjalanan yang bukan hanya mementingkan jarak, melainkan keberanian untuk terus melaju maju, tidak takut berhenti sampai saatnya benar- benar harus kembali.

Kembali karena pedal gas tidak diinjak lagi, mesin mobil yang sudah tidak ada yang menghidupkan, sampai saat kepulangan abadi benar benar memanggilnya kembali.

Sampai bertemu lagi Bung Ical, di lain waktu, di lain kesempatan, dengan perjalanan yang masih sama, dengan rasa kopi yang tidak berubah, di kota Singaraja yang asik ini. [T]

Penulis: I Gede Teddy Setiadi
Editor: Adnyana Ole

Tags: coffee shopkopiSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Soul Art Exhibition’: Memaknai Jejak Spiritual di Persimpangan Dialog antara Tuhan, Manusia, dan Alam

Next Post

‘Purusa: Wedding Sacred’, Film Berbahasa Bali Karya Sineas Bali Tayang di Korea Selatan

I Gede Teddy Setiadi

I Gede Teddy Setiadi

Lahir di Desa Pedawa. Kini tinggal di Singaraja

Related Posts

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails
Next Post
‘Purusa: Wedding Sacred’, Film Berbahasa Bali Karya Sineas Bali Tayang di Korea Selatan

'Purusa: Wedding Sacred', Film Berbahasa Bali Karya Sineas Bali Tayang di Korea Selatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co