2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Soul Art Exhibition’: Memaknai Jejak Spiritual di Persimpangan Dialog antara Tuhan, Manusia, dan Alam

I Komang Sucita by I Komang Sucita
November 11, 2025
in Ulas Rupa
‘Soul Art Exhibition’: Memaknai Jejak Spiritual di Persimpangan Dialog antara Tuhan, Manusia, dan Alam

“Soul Art: Turn by Love into Heroe Soewarno’s Art Journey”

KETIKA berbicara tentang keselarasan harmoni kita memijaki Bali yang dikenal sangat erat dengan keterhubungan antara Tuhan, manusia, dan alam, diramu dalam filosofi hidup; “Tri Hita Karana.” Filosofi ini bukan sekedar ajaran, tetapi menjadi landasan keseharian yang menuntun umat untuk terus menjaga keharmonisan dan keseimbangan dalam tiga hubungan inti: Parhyangan, yaitu hubungan spiritual manusia dengan Tuhan; Pawongan, yakni keharmonisan sosial antar sesama manusia; dan Palemahan, menyatukan manusia dengan alam semesta sekaligus tanggung jawab menjaga kelestariannya.

Ketiga aspek ini membentuk pondasi yang kokoh bagi kehidupan yang tidak hanya lahiriah tetapi juga penuh makna batin, mengandung pesan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari keselarasan antara ketiganya. Pemahaman ini menjadi refleksi seorang Heroe Soewarno dalam kekaryaannya, dituang dalam satu pameran tunggal  bertajuk “Soul Art: Turn by Love into Heroe Soewarno’s Art Journey” .

Tampak ruang pameran Soul Art | Foto: Sucita

Sore menjelang petang usai hujan lebat yang mengguyur jalan di hari Minggu, 9 November 2025, saya hadir dalam tumpah ruah pembukaan pameran tunggal bertajuk “Soul Art” oleh Heroe Soewarno yang berlangsung di Balimoon Art Space, Kemenuh, Gianyar, Bali. Dingin usai hujan itu redup oleh suasana interaktif hangat, dengan sacangkir kopi sebagai pendamping saya memulai berbincang dengan Heroe Soewarno.

“Sebagai seorang seniman, saya melihat seni jiwa sebagai ungkapan yang harus jujur dan apa adanya. Ketika saya membuat karya, saya tidak ingin menutupi apa yang benar-benar saya rasakan atau alami. Seni jiwa adalah tentang menyalurkan perasaan dan pengalaman saya dengan ketulusan penuh tanpa ada kepura-puraan. Proses berkarya itu adalah cara saya berbicara dari hati, menggunakan seni sebagai bahasa yang tulus untuk mengungkapkan hal-hal yang sulit diungkapkan lewat kata-kata. Jadi, bagi saya, seni jiwa bukan sekadar bentuk atau teknik, melainkan kejujuran yang nyata dalam setiap karya yang saya buat,” tutur Heroe Soewarno.

Dari penuturan Heroe Soewarno saya setuju dan mengindahkan bahwa “Soul Art: Turn by Love into Heroe Soewarno’s Art Journey” merupakan wujud refleksitas perjalanan seni Heroe Soewarno yang lahir dari kekuatan cinta dan perenungan batin. Frasa “Turn by Love” menyiratkan bahwa karya-karya dalam pameran ini muncul dari transformasi emosional dan spiritual, di mana cinta menjadi dorongan utama bagi sang seniman untuk mengekspresikan hubungan mendalam antara Tuhan, manusia, dan alam. Judul ini memberi kesan perjalanan yang sangat pribadi dan penuh refleksi, sekaligus mengajak penonton untuk mengalami perkembangan seni yang tidak hanya sebatas visual, melainkan juga kaya akan resonansi jiwa dan kasih.

Tumpah ruah pembukaan pameran Soul Art | Foto: Sucita

Dalam ruang pameran pengunjung memanjakan mata karya karya | Foto: Sucita

Pameran ketiga kalinya di Ubud, juga merupakan pameran tunggal pertamanya dengan judul “Soulart: Turn by Love into Heroe Soewarno’s Art Journey,” menyajikan sekitar 45 lukisan di atas kanvas dan kertas, serta 7 karya patung yang tidak hanya memikat mata, tetapi juga sarat akan filosofi.

Pameran ini dibuka pada Minggu, 9 November 2025, oleh Ni Wayan Sri Ekayanti, S.Sos., MM., dan akan berlangsung selama sebulan hingga 9 Desember 2025. Acara pembukaan berlangsung hangat dan akrab, dengan penampilan musik live akustik dari Tobi and Friends serta pembacaan puisi oleh Ayu Mumiarti.

Melalui lukisan dan patung ini, Heroe Soewarno menampilkan perjalanan emosional dan spiritualnya, mengajak penonton bersama-sama menyelami dunia abstrak yang muncul ketika imajinasi dan introspeksi bersatu di dalam karya seni. Latar belakang Heroe yang unik sebagai seorang engineer dan advokat memberikan dimensi berbeda pada karyanya, yang lebih banyak mengeksplorasi hubungan antara manusia dengan Tuhan, serta interaksi sosial antar sesama manusia. Dia menegaskan bahwa istilah Soul Art atau seni jiwa dalam pameran ini dirangkai dari refleksi mendalam hasil pengalaman, emosi, keyakinan, dan perjalanan spiritual yang ia jalani sebagai seorang seniman.

Heroe Soewarno lahir di Bondowoso pada 20 November 1964. Ia mulai menekuni dunia seni secara serius sejak tahun 2001 setelah sebelumnya menempuh pendidikan arsitektur dan berkarier sebagai advokat. Kini, melalui “Soul Art,” ia menampilkan narasi batinnya yang tak hanya indah secara visual, tetapi juga kaya akan cerita dan makna yang mengundang penonton untuk melakukan perjalanan batin yang serupa.

Seniman Heroe Soewarno (kiri) bersama I Wayan Adi Mataram (kanan) selaku pemilik Bali Moon Art Space | Foto: Sucita

Ruang pameran Bali Moon Art Space yang berseblahan dengan ruang utama | Foto: Sucita

Pameran ini terbagi menjadi bebrapa segmen ruang yang saling melengkapi. Pada ruang utama di tengah galeri, pengunjung diajak menyaksikan karya-karya yang menampilkan visualisasi spiritual ketuhanan, tentang dosa dan pengampunan. Di ruang bersebelahan menyuguhkan tema kebatinan manusia; suatu penelusuran mendalam terhadap aura dan perasaan yang terpendam hadir sebagai perpanjangan jiwa seni, dengan beberapa patung yang sarat simbolisme. Salah satu karya menyingkap kisah seorang individu dengan masa lalu kelam yang, melalui pertobatan yang tulus dan sungguh-sungguh, berhasil meraih pengampunan. “Pengampunan hanya bisa terjadi jika pertobatan itu benar-benar nyata,” ujar Heroe dengan ketulusan.

Ruang depan yang berdampingan dengan Balimoon Resto, terlihat wujud karya “Barong Bangkal” | Foto: Sucita

Ruang depan, berdampingan Balimoon Resto, menyuguhkan karya-karya tentang seni budaya Bali. Salah satunya adalah Barong Bangkal yang berperan sebagai penjaga tradisi desa-desa di Bali. Heroe mengaku, ketertarikannya pada Barong Bangkal dan ritual Ngelawang lahir dari kegiatan observasi langsung dan riset lewat tulisan, bukan hanya dari keindahan semata, melainkan dari makna yang menyentuh batinnya.

Di ruangan tersebut, terdapat juga lukisan berjudul “Tajen”, karya yang lahir dari inspirasi tulisan, mengingatkan akan filosofi kesatria meski Heroe sendiri baru sekitar empat tahun tinggal di Bali dan belum pernah menyaksikan tajen secara langsung. Sementara itu, di ruang atas, koleksi sketsa di atas kertas menyuguhkan refleksi jiwa yang dalam, perwujudan perenungan sang seniman melalui garis dan bentuk yang sederhana namun penuh makna.

“Membedah Ilusi Seni Jiwa: Antara Romantisisme dan Realita”

Salah satu karya yang mewakilkan jejak batin Heroe Soewarno dalam kekaryaan, visual latar belakang lukisan yang abstrak dimaknai sebagai imajinasi yang tak terbatas. | Foto: Sucita

Apa sebenarnya seni jiwa? Jika dilihat dengan kacamata skeptis, seni jiwa bukanlah sesuatu yang selalu mengambang dalam keagungan dan mistisisme tanpa cela. Bisa jadi seni jiwa hanyalah sebuah konstruksi sosial, sebuah wacana yang terlalu diagungkan karena kita haus akan makna mendalam di balik segala sesuatu yang abstrak dan sangat pribadi.

 Apakah seni jiwa benar-benar melampaui estetika visual semata? Ataukah seni jiwa adalah cerminan kebutuhan manusia untuk mencari identitas dan pengakuan, yang kemudian dibungkus dalam narasi spiritual dan emosional agar terasa lebih bermakna?

Mari kita mulai dengan pertanyaan sederhana: apakah seni jiwa sebuah kebenaran yang bisa dibuktikan, atau hanya ilusi yang kita ciptakan untuk meredakan keraguan dan kekosongan makna dalam hidup? Dalam ruang refleksi ini, kita diajak untuk mengupas lepas berbagai lapisan romantisme yang seringkali menyelimuti pesan seni jiwa, dan siap menerima penerimaan batin yang jujur sekaligus kritis.

Nyatanya, seni jiwa bukan sekadar figur puitis yang terperangkap dalam kabut mistik atau wacana kosong. Secara skeptis, seni adalah medan paradoks. Di satu sisi, ia adalah getaran batin yang mampu menembus batas logika dan rasio, menggugah kalbu lewat taksu, energi spiritual yang mengalir dari tangan sang seniman ke jiwa penikmat.

Namun di sisi lain, seni jiwa adalah konstruksi sosial narasi yang kita bentuk dan percayai agar hidup punya makna, sekaligus alat pengisi kekosongan eksistensial manusia. Seni jiwa menantang kita untuk membuka diri, menanggalkan kepengecutan intelektualisme keras, dan memberi ruang bagi rasa serta intuisi yang menyentuh jiwa dengan lembut.

Antusias pengunjung dalam menilik pameran “Soul Art” | Foto: Sucita

Pameran “Soul Art” karya Heroe Soewarno hadir sebagai dialog simbolik yang kaya dimensi ini. Ia mengajak kita merasakan bukan sekadar melihat jejak-jejak spiritual yang teranyam erat antara Tuhan, manusia, dan alam. Di sini, seni bukan hanya visual untuk ditatap, tapi jiwa yang diketuk, resonansi yang menggugah kesadaran kita untuk ikut berdialog; mengagumi sekaligus skeptis, membuka sekaligus bertanya. Perjalanan ini mengangkat esensi Tri Hita Karana ke dalam pengalaman estetis yang penuh makna. Pada dasarnya, seni jiwa adalah medan perjumpaan nyata yang melampaui kata-kata, di mana kita diundang menjadi partisipan sejati dalam percakapan batin yang abadi dan mendalam. [T]

Penulis: I Komang Sucita
Editor: Adnyana Ole

Tags: Balimoon Art SpaceHeroe SoewarnoPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Comot”: Tubuh Perempuan dan Ritual Penghapusan Diri

Next Post

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

I Komang Sucita

I Komang Sucita

Akrab disapa rompis, kaula muda kelahiran 12 February 2002, Sibetan, Karangasem, Bali. Seseorang yang menuangkan kemanusiawiannya dengan melukis, serta menggugat dengan menulis dan menganyam puisi.

Related Posts

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails

Kosmologi Sulur Wayan Setem

by Hartanto
July 23, 2026
0
Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

Read moreDetails

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 23, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails
Next Post
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co