14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

Ni Wayan Suwini by Ni Wayan Suwini
October 10, 2025
in Kuliner
“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

Warung di Kebun | Foto: Suwini

JALAN Hayam Wuruk, Denpasar, pagi itu. Deru kendaraan, suara klakson yang saling bersahutan, dan rutinitas kota yang jarang berhenti terasa berdenyut setiap saat. Namun siapa sangka, di balik padatnya aktivitas di jalan besar itu, terdapat sebuah ruang yang memberi suasana yang berbeda.

Begitu kaki melangkah masuk ke ruang itu, hiruk pikuk kota seolah tertinggal di belakang. Dari riuhnya kota, tiba-tiba muncul nuansa teduh yang jarang ditemui di pusat Denpasar. Tempat itu bernama “Warung di Kebun”.

Nama yang sederhana, namun sekaligus menjelaskan esensi dari keberadaannya. Warung makan ini memang berada di tengah kebun yang hijau. Begitu masuk, pandangan langsung disambut dengan deretan tanaman hijau di sekitar meja dan kursi. Bukan hanya tanaman hias yang berjejer, melainkan tanaman yang tumbuh alami, memberi nuansa segar seakan sedang berada jauh dari hawa panas kota.

“Warung di Kebun” | Foto: Suwini

Di sela-sela hijau itu, suara pancuran air terdengar lirih, menciptakan irama yang menenangkan. Semua itu membuat siapa saja yang singgah merasakan keteduhan dan kesejukan alami yang jarang didapat di tengah hiruk pikuk Denpasar.

Warung ini tak hanya mengandalkan suasana. Menu yang ditawarkan juga menjadi daya tarik pengunjung. Makanan khas Bali hadir dengan cita rasa yang kuat. Mulai dari lontong serapah dengan kuah kental yang kaya bumbu, plecing tlengis, blayag dan masih banyak menu makanan berat lainnya yang begitu menggoda.

Tidak berhenti di makanan berat, jajanan khas Bali pun tersedia, dari aneka jaje Bali yang legit hingga segarnya rujak, semuanya bisa menjadi teman ngemil santai di sela waktu. Minuman yang disediakan pun beragam, mulai dari yang hangat hingga yang dingin, menyesuaikan suasana hati dan cuaca Bali yang kadang terik, kadang teduh.

Soal harga, warung ini justru terasa sangat bersahabat. Makanan berat yang kaya akan rasa ditawarkan mulai dari Rp15.000,00 hingga Rp35.000,00 sedangkan jajanan mulai dari Rp10.000,00 hingga Rp17.000,00 dan untuk minuman bisa dinikmati dengan harga Rp8.000,00 sampai Rp15.000,00.

Dengan kisaran harga itu, pengunjung sudah mendapatkan porsi yang cukup banyak, belum lagi soal rasa masakan yang diolah para ibu-ibu di dapur terasa tidak pelit bumbu. Setiap suapan menghandirkan kekayaan rempah yang kental, ciri khas masakan Bali yang selalu meninggalkan kesan mendalam di lidah.

Salah satu menu makanan di “Warung di Kebun” | Foto: Suwini

Pagi itu, suasana warung masih sepi. Jam menunjukkan pukul sembilan, dimana kebanyakan orang mungkin masih sibuk dengan rutinitas awal hari. Di warung, para pekerja tengah bersiap. Di depan, terlihat tiga orang pekerja sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang berjaga di kasir, ada yang menyambut pengunjung datang, dan ada yang menyiapkan meja untuk menerima pesanan. Meski tampak sibuk suasana tetap akrab, mereka sesekali saling bercanda di sela aktivitas pagi itu.

Seorang perempuan muda di meja kasir menyambut dengan senyum ramah. Namanya Indri, usianya 21 tahun. Sudah satu tahun ia bekerja di warung ini, saat ditanya tentang awal mula warung ini berdiri, Indri menjawab, “Menurut Ibu, warung ini sudah ada dari tahun 2018.”

Ibu, begitulah para pekerja menyebut pemilik warung. Pagi itu, sang pemilik tidak hadir. Dapur pun diisi oleh para ibu-ibu yang sudah lama bekerja di sana. Mereka bukan orang baru. Hubungan yang terjalin bukan sekadar antara pekerja dan pemilik, melainkan sudah seperti keluarga.

“Tante-tante yang masak di belakang itu memang sudah lama ikut Ibu juga. Jadi kalau Ibu nggak ada, mereka yang ambil alih masak sekaligus bantu kalau ada pesanan,” ujar Indri menambahkan.

“Warung di Kebun” dijalankan dengan beberapa tenaga kerja. Pagi itu, terlihat sekitaran lima orang pekerja, tiga orang di depan dan dua orang lagi di dapur. Meski warung masih sedikit pengunjung di pagi hari, mereka tetap melakukan persiapan sejak pagi. Selain Indri, ada juga Eti, pekerja berusia 22 tahun yang sudah bekerja selama setahun di warung tersebut. Keduanya mengaku, bekerja di warung ini punya cerita suka duka tersendiri. Salah satunya adalah menghadapi momen saat pengunjung membludak.

“Kalau rame, pusing sih. Misalnya ada yang baru datang tapi maunya cepet, padahal kan di sini kita bikin sesuai antrian. Siapa yang datang duluan, berarti itu yang kita layani dulu. Tapi kalau sudah rame, pasti ada saja yang komplain karena lama,” kata Indri sambil tersenyum, mencoba mengingat kembali situasi ramai yang kadang membuat panik.

Eti dan Indri di “Warung di Kebun” | Foto: Suwini

Ketika ditanya kapan biasanya warung ramai, Eti langsung menjawab, “Biasanya pas rame tuh jam makan siang sampai sore. Itu sih yang paling rame!.

Meski demikian, baik Indri maupun Eti menikmati pengalaman kerja mereka di sana. Bahkan keduanya memiliki pandangan pribadi soal menu favorit mereka di warung ini. Indri dengan yakin menyebut blayag sebagai makanan terbaik.

 “Blayag di sini enak banget. Bumbunya pas, nggak berlebihan,” katanya.

Sementara Eti punya pilihan yang berbeda. Baginya, lontong serapah adalah juara. “Serapah itu kuahnya kental, jadi kerasa banget rasanya. Itu sih yang paling enak menurut saya,” jelasnya sambil tertawa.

Percakapan sederhana dengan kedua pekerja itu memberi gambaran bahwa warung ini bukan hanya sekadar tempat makan. Ada cerita, ada interaksi, dan ada keseharian yang terus mengalir di dalamnya. Dari persiapan pagi hingga menghadapi ramainya pengunjung siang hari, semuanya menjadi bagian dari pengalaman “Warung di Kebun”.

“Warung di Kebun” | Foto: Suwini

Lebih dari itu, warung ini juga menjadi ruang multifungsi bagi para pengunjung. Banyak orang yang datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga untuk bekerja dengan laptop, mengerjakan tugas, atau sekedar berkumpul dengan teman dan keluarga. Fasilitas colokan sudah tersedia di beberapa meja membuat warung ini terasa ramah untuk siapa saja yang membutuhkan tempat singgah dengan suasana yang tenang.

“Warung di Kebun” adalah salah satu contoh sederhana bagaimana sebuah tempat bisa menghadirkan pengalaman berbeda. Ia hadir bukan dengan kemewahan, melainkan dengan kesedarhanaan yang jujur seperti makanan khas Bali dengan cita rasa otentik, harga yang terjangkau, dan suasana kebun yang menenangkan.

Di tengah padatnya kota Denpasar, warung ini menjadi penyegaran kecil, tempat orang bisa berhenti sejenak, menikmati makanan, dan merasakan ketenangan dari hal-hal sederhana yang hampir kita lupakan. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Wayan Suwini
Editor: Adnyana Ole

Tags: denpasarkulinerwarung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kerja Kontrak dan Manusia yang Kehilangan Napas Panjang

Next Post

Era Agensi Buatan dan Paradoks Otentisitas Digital

Ni Wayan Suwini

Ni Wayan Suwini

Lahir 04 Februari 2005. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails
Next Post
Era Agensi Buatan dan Paradoks Otentisitas Digital

Era Agensi Buatan dan Paradoks Otentisitas Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co