14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

Ni Wayan Suwini by Ni Wayan Suwini
October 10, 2025
in Kuliner
“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

Warung di Kebun | Foto: Suwini

JALAN Hayam Wuruk, Denpasar, pagi itu. Deru kendaraan, suara klakson yang saling bersahutan, dan rutinitas kota yang jarang berhenti terasa berdenyut setiap saat. Namun siapa sangka, di balik padatnya aktivitas di jalan besar itu, terdapat sebuah ruang yang memberi suasana yang berbeda.

Begitu kaki melangkah masuk ke ruang itu, hiruk pikuk kota seolah tertinggal di belakang. Dari riuhnya kota, tiba-tiba muncul nuansa teduh yang jarang ditemui di pusat Denpasar. Tempat itu bernama “Warung di Kebun”.

Nama yang sederhana, namun sekaligus menjelaskan esensi dari keberadaannya. Warung makan ini memang berada di tengah kebun yang hijau. Begitu masuk, pandangan langsung disambut dengan deretan tanaman hijau di sekitar meja dan kursi. Bukan hanya tanaman hias yang berjejer, melainkan tanaman yang tumbuh alami, memberi nuansa segar seakan sedang berada jauh dari hawa panas kota.

“Warung di Kebun” | Foto: Suwini

Di sela-sela hijau itu, suara pancuran air terdengar lirih, menciptakan irama yang menenangkan. Semua itu membuat siapa saja yang singgah merasakan keteduhan dan kesejukan alami yang jarang didapat di tengah hiruk pikuk Denpasar.

Warung ini tak hanya mengandalkan suasana. Menu yang ditawarkan juga menjadi daya tarik pengunjung. Makanan khas Bali hadir dengan cita rasa yang kuat. Mulai dari lontong serapah dengan kuah kental yang kaya bumbu, plecing tlengis, blayag dan masih banyak menu makanan berat lainnya yang begitu menggoda.

Tidak berhenti di makanan berat, jajanan khas Bali pun tersedia, dari aneka jaje Bali yang legit hingga segarnya rujak, semuanya bisa menjadi teman ngemil santai di sela waktu. Minuman yang disediakan pun beragam, mulai dari yang hangat hingga yang dingin, menyesuaikan suasana hati dan cuaca Bali yang kadang terik, kadang teduh.

Soal harga, warung ini justru terasa sangat bersahabat. Makanan berat yang kaya akan rasa ditawarkan mulai dari Rp15.000,00 hingga Rp35.000,00 sedangkan jajanan mulai dari Rp10.000,00 hingga Rp17.000,00 dan untuk minuman bisa dinikmati dengan harga Rp8.000,00 sampai Rp15.000,00.

Dengan kisaran harga itu, pengunjung sudah mendapatkan porsi yang cukup banyak, belum lagi soal rasa masakan yang diolah para ibu-ibu di dapur terasa tidak pelit bumbu. Setiap suapan menghandirkan kekayaan rempah yang kental, ciri khas masakan Bali yang selalu meninggalkan kesan mendalam di lidah.

Salah satu menu makanan di “Warung di Kebun” | Foto: Suwini

Pagi itu, suasana warung masih sepi. Jam menunjukkan pukul sembilan, dimana kebanyakan orang mungkin masih sibuk dengan rutinitas awal hari. Di warung, para pekerja tengah bersiap. Di depan, terlihat tiga orang pekerja sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang berjaga di kasir, ada yang menyambut pengunjung datang, dan ada yang menyiapkan meja untuk menerima pesanan. Meski tampak sibuk suasana tetap akrab, mereka sesekali saling bercanda di sela aktivitas pagi itu.

Seorang perempuan muda di meja kasir menyambut dengan senyum ramah. Namanya Indri, usianya 21 tahun. Sudah satu tahun ia bekerja di warung ini, saat ditanya tentang awal mula warung ini berdiri, Indri menjawab, “Menurut Ibu, warung ini sudah ada dari tahun 2018.”

Ibu, begitulah para pekerja menyebut pemilik warung. Pagi itu, sang pemilik tidak hadir. Dapur pun diisi oleh para ibu-ibu yang sudah lama bekerja di sana. Mereka bukan orang baru. Hubungan yang terjalin bukan sekadar antara pekerja dan pemilik, melainkan sudah seperti keluarga.

“Tante-tante yang masak di belakang itu memang sudah lama ikut Ibu juga. Jadi kalau Ibu nggak ada, mereka yang ambil alih masak sekaligus bantu kalau ada pesanan,” ujar Indri menambahkan.

“Warung di Kebun” dijalankan dengan beberapa tenaga kerja. Pagi itu, terlihat sekitaran lima orang pekerja, tiga orang di depan dan dua orang lagi di dapur. Meski warung masih sedikit pengunjung di pagi hari, mereka tetap melakukan persiapan sejak pagi. Selain Indri, ada juga Eti, pekerja berusia 22 tahun yang sudah bekerja selama setahun di warung tersebut. Keduanya mengaku, bekerja di warung ini punya cerita suka duka tersendiri. Salah satunya adalah menghadapi momen saat pengunjung membludak.

“Kalau rame, pusing sih. Misalnya ada yang baru datang tapi maunya cepet, padahal kan di sini kita bikin sesuai antrian. Siapa yang datang duluan, berarti itu yang kita layani dulu. Tapi kalau sudah rame, pasti ada saja yang komplain karena lama,” kata Indri sambil tersenyum, mencoba mengingat kembali situasi ramai yang kadang membuat panik.

Eti dan Indri di “Warung di Kebun” | Foto: Suwini

Ketika ditanya kapan biasanya warung ramai, Eti langsung menjawab, “Biasanya pas rame tuh jam makan siang sampai sore. Itu sih yang paling rame!.

Meski demikian, baik Indri maupun Eti menikmati pengalaman kerja mereka di sana. Bahkan keduanya memiliki pandangan pribadi soal menu favorit mereka di warung ini. Indri dengan yakin menyebut blayag sebagai makanan terbaik.

 “Blayag di sini enak banget. Bumbunya pas, nggak berlebihan,” katanya.

Sementara Eti punya pilihan yang berbeda. Baginya, lontong serapah adalah juara. “Serapah itu kuahnya kental, jadi kerasa banget rasanya. Itu sih yang paling enak menurut saya,” jelasnya sambil tertawa.

Percakapan sederhana dengan kedua pekerja itu memberi gambaran bahwa warung ini bukan hanya sekadar tempat makan. Ada cerita, ada interaksi, dan ada keseharian yang terus mengalir di dalamnya. Dari persiapan pagi hingga menghadapi ramainya pengunjung siang hari, semuanya menjadi bagian dari pengalaman “Warung di Kebun”.

“Warung di Kebun” | Foto: Suwini

Lebih dari itu, warung ini juga menjadi ruang multifungsi bagi para pengunjung. Banyak orang yang datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga untuk bekerja dengan laptop, mengerjakan tugas, atau sekedar berkumpul dengan teman dan keluarga. Fasilitas colokan sudah tersedia di beberapa meja membuat warung ini terasa ramah untuk siapa saja yang membutuhkan tempat singgah dengan suasana yang tenang.

“Warung di Kebun” adalah salah satu contoh sederhana bagaimana sebuah tempat bisa menghadirkan pengalaman berbeda. Ia hadir bukan dengan kemewahan, melainkan dengan kesedarhanaan yang jujur seperti makanan khas Bali dengan cita rasa otentik, harga yang terjangkau, dan suasana kebun yang menenangkan.

Di tengah padatnya kota Denpasar, warung ini menjadi penyegaran kecil, tempat orang bisa berhenti sejenak, menikmati makanan, dan merasakan ketenangan dari hal-hal sederhana yang hampir kita lupakan. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Wayan Suwini
Editor: Adnyana Ole

Tags: denpasarkulinerwarung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kerja Kontrak dan Manusia yang Kehilangan Napas Panjang

Next Post

Era Agensi Buatan dan Paradoks Otentisitas Digital

Ni Wayan Suwini

Ni Wayan Suwini

Lahir 04 Februari 2005. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails

Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

by Putu Ayu Ariani
October 16, 2025
0
Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

DINI hari di Desa Banjar, Kabupaten Buleleng, suasana masih diselimuti udara dingin. Namun di depan sebuah warung sederhana, cahaya api...

Read moreDetails
Next Post
Era Agensi Buatan dan Paradoks Otentisitas Digital

Era Agensi Buatan dan Paradoks Otentisitas Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co