4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

Ni Wayan Suwini by Ni Wayan Suwini
October 10, 2025
in Kuliner
“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

Warung di Kebun | Foto: Suwini

JALAN Hayam Wuruk, Denpasar, pagi itu. Deru kendaraan, suara klakson yang saling bersahutan, dan rutinitas kota yang jarang berhenti terasa berdenyut setiap saat. Namun siapa sangka, di balik padatnya aktivitas di jalan besar itu, terdapat sebuah ruang yang memberi suasana yang berbeda.

Begitu kaki melangkah masuk ke ruang itu, hiruk pikuk kota seolah tertinggal di belakang. Dari riuhnya kota, tiba-tiba muncul nuansa teduh yang jarang ditemui di pusat Denpasar. Tempat itu bernama “Warung di Kebun”.

Nama yang sederhana, namun sekaligus menjelaskan esensi dari keberadaannya. Warung makan ini memang berada di tengah kebun yang hijau. Begitu masuk, pandangan langsung disambut dengan deretan tanaman hijau di sekitar meja dan kursi. Bukan hanya tanaman hias yang berjejer, melainkan tanaman yang tumbuh alami, memberi nuansa segar seakan sedang berada jauh dari hawa panas kota.

“Warung di Kebun” | Foto: Suwini

Di sela-sela hijau itu, suara pancuran air terdengar lirih, menciptakan irama yang menenangkan. Semua itu membuat siapa saja yang singgah merasakan keteduhan dan kesejukan alami yang jarang didapat di tengah hiruk pikuk Denpasar.

Warung ini tak hanya mengandalkan suasana. Menu yang ditawarkan juga menjadi daya tarik pengunjung. Makanan khas Bali hadir dengan cita rasa yang kuat. Mulai dari lontong serapah dengan kuah kental yang kaya bumbu, plecing tlengis, blayag dan masih banyak menu makanan berat lainnya yang begitu menggoda.

Tidak berhenti di makanan berat, jajanan khas Bali pun tersedia, dari aneka jaje Bali yang legit hingga segarnya rujak, semuanya bisa menjadi teman ngemil santai di sela waktu. Minuman yang disediakan pun beragam, mulai dari yang hangat hingga yang dingin, menyesuaikan suasana hati dan cuaca Bali yang kadang terik, kadang teduh.

Soal harga, warung ini justru terasa sangat bersahabat. Makanan berat yang kaya akan rasa ditawarkan mulai dari Rp15.000,00 hingga Rp35.000,00 sedangkan jajanan mulai dari Rp10.000,00 hingga Rp17.000,00 dan untuk minuman bisa dinikmati dengan harga Rp8.000,00 sampai Rp15.000,00.

Dengan kisaran harga itu, pengunjung sudah mendapatkan porsi yang cukup banyak, belum lagi soal rasa masakan yang diolah para ibu-ibu di dapur terasa tidak pelit bumbu. Setiap suapan menghandirkan kekayaan rempah yang kental, ciri khas masakan Bali yang selalu meninggalkan kesan mendalam di lidah.

Salah satu menu makanan di “Warung di Kebun” | Foto: Suwini

Pagi itu, suasana warung masih sepi. Jam menunjukkan pukul sembilan, dimana kebanyakan orang mungkin masih sibuk dengan rutinitas awal hari. Di warung, para pekerja tengah bersiap. Di depan, terlihat tiga orang pekerja sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang berjaga di kasir, ada yang menyambut pengunjung datang, dan ada yang menyiapkan meja untuk menerima pesanan. Meski tampak sibuk suasana tetap akrab, mereka sesekali saling bercanda di sela aktivitas pagi itu.

Seorang perempuan muda di meja kasir menyambut dengan senyum ramah. Namanya Indri, usianya 21 tahun. Sudah satu tahun ia bekerja di warung ini, saat ditanya tentang awal mula warung ini berdiri, Indri menjawab, “Menurut Ibu, warung ini sudah ada dari tahun 2018.”

Ibu, begitulah para pekerja menyebut pemilik warung. Pagi itu, sang pemilik tidak hadir. Dapur pun diisi oleh para ibu-ibu yang sudah lama bekerja di sana. Mereka bukan orang baru. Hubungan yang terjalin bukan sekadar antara pekerja dan pemilik, melainkan sudah seperti keluarga.

“Tante-tante yang masak di belakang itu memang sudah lama ikut Ibu juga. Jadi kalau Ibu nggak ada, mereka yang ambil alih masak sekaligus bantu kalau ada pesanan,” ujar Indri menambahkan.

“Warung di Kebun” dijalankan dengan beberapa tenaga kerja. Pagi itu, terlihat sekitaran lima orang pekerja, tiga orang di depan dan dua orang lagi di dapur. Meski warung masih sedikit pengunjung di pagi hari, mereka tetap melakukan persiapan sejak pagi. Selain Indri, ada juga Eti, pekerja berusia 22 tahun yang sudah bekerja selama setahun di warung tersebut. Keduanya mengaku, bekerja di warung ini punya cerita suka duka tersendiri. Salah satunya adalah menghadapi momen saat pengunjung membludak.

“Kalau rame, pusing sih. Misalnya ada yang baru datang tapi maunya cepet, padahal kan di sini kita bikin sesuai antrian. Siapa yang datang duluan, berarti itu yang kita layani dulu. Tapi kalau sudah rame, pasti ada saja yang komplain karena lama,” kata Indri sambil tersenyum, mencoba mengingat kembali situasi ramai yang kadang membuat panik.

Eti dan Indri di “Warung di Kebun” | Foto: Suwini

Ketika ditanya kapan biasanya warung ramai, Eti langsung menjawab, “Biasanya pas rame tuh jam makan siang sampai sore. Itu sih yang paling rame!.

Meski demikian, baik Indri maupun Eti menikmati pengalaman kerja mereka di sana. Bahkan keduanya memiliki pandangan pribadi soal menu favorit mereka di warung ini. Indri dengan yakin menyebut blayag sebagai makanan terbaik.

 “Blayag di sini enak banget. Bumbunya pas, nggak berlebihan,” katanya.

Sementara Eti punya pilihan yang berbeda. Baginya, lontong serapah adalah juara. “Serapah itu kuahnya kental, jadi kerasa banget rasanya. Itu sih yang paling enak menurut saya,” jelasnya sambil tertawa.

Percakapan sederhana dengan kedua pekerja itu memberi gambaran bahwa warung ini bukan hanya sekadar tempat makan. Ada cerita, ada interaksi, dan ada keseharian yang terus mengalir di dalamnya. Dari persiapan pagi hingga menghadapi ramainya pengunjung siang hari, semuanya menjadi bagian dari pengalaman “Warung di Kebun”.

“Warung di Kebun” | Foto: Suwini

Lebih dari itu, warung ini juga menjadi ruang multifungsi bagi para pengunjung. Banyak orang yang datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga untuk bekerja dengan laptop, mengerjakan tugas, atau sekedar berkumpul dengan teman dan keluarga. Fasilitas colokan sudah tersedia di beberapa meja membuat warung ini terasa ramah untuk siapa saja yang membutuhkan tempat singgah dengan suasana yang tenang.

“Warung di Kebun” adalah salah satu contoh sederhana bagaimana sebuah tempat bisa menghadirkan pengalaman berbeda. Ia hadir bukan dengan kemewahan, melainkan dengan kesedarhanaan yang jujur seperti makanan khas Bali dengan cita rasa otentik, harga yang terjangkau, dan suasana kebun yang menenangkan.

Di tengah padatnya kota Denpasar, warung ini menjadi penyegaran kecil, tempat orang bisa berhenti sejenak, menikmati makanan, dan merasakan ketenangan dari hal-hal sederhana yang hampir kita lupakan. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Wayan Suwini
Editor: Adnyana Ole

Tags: denpasarkulinerwarung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kerja Kontrak dan Manusia yang Kehilangan Napas Panjang

Next Post

Era Agensi Buatan dan Paradoks Otentisitas Digital

Ni Wayan Suwini

Ni Wayan Suwini

Lahir 04 Februari 2005. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

Read moreDetails

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails
Next Post
Era Agensi Buatan dan Paradoks Otentisitas Digital

Era Agensi Buatan dan Paradoks Otentisitas Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co