14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

Ni Wayan Suwini by Ni Wayan Suwini
October 10, 2025
in Kuliner
“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

Warung di Kebun | Foto: Suwini

JALAN Hayam Wuruk, Denpasar, pagi itu. Deru kendaraan, suara klakson yang saling bersahutan, dan rutinitas kota yang jarang berhenti terasa berdenyut setiap saat. Namun siapa sangka, di balik padatnya aktivitas di jalan besar itu, terdapat sebuah ruang yang memberi suasana yang berbeda.

Begitu kaki melangkah masuk ke ruang itu, hiruk pikuk kota seolah tertinggal di belakang. Dari riuhnya kota, tiba-tiba muncul nuansa teduh yang jarang ditemui di pusat Denpasar. Tempat itu bernama “Warung di Kebun”.

Nama yang sederhana, namun sekaligus menjelaskan esensi dari keberadaannya. Warung makan ini memang berada di tengah kebun yang hijau. Begitu masuk, pandangan langsung disambut dengan deretan tanaman hijau di sekitar meja dan kursi. Bukan hanya tanaman hias yang berjejer, melainkan tanaman yang tumbuh alami, memberi nuansa segar seakan sedang berada jauh dari hawa panas kota.

“Warung di Kebun” | Foto: Suwini

Di sela-sela hijau itu, suara pancuran air terdengar lirih, menciptakan irama yang menenangkan. Semua itu membuat siapa saja yang singgah merasakan keteduhan dan kesejukan alami yang jarang didapat di tengah hiruk pikuk Denpasar.

Warung ini tak hanya mengandalkan suasana. Menu yang ditawarkan juga menjadi daya tarik pengunjung. Makanan khas Bali hadir dengan cita rasa yang kuat. Mulai dari lontong serapah dengan kuah kental yang kaya bumbu, plecing tlengis, blayag dan masih banyak menu makanan berat lainnya yang begitu menggoda.

Tidak berhenti di makanan berat, jajanan khas Bali pun tersedia, dari aneka jaje Bali yang legit hingga segarnya rujak, semuanya bisa menjadi teman ngemil santai di sela waktu. Minuman yang disediakan pun beragam, mulai dari yang hangat hingga yang dingin, menyesuaikan suasana hati dan cuaca Bali yang kadang terik, kadang teduh.

Soal harga, warung ini justru terasa sangat bersahabat. Makanan berat yang kaya akan rasa ditawarkan mulai dari Rp15.000,00 hingga Rp35.000,00 sedangkan jajanan mulai dari Rp10.000,00 hingga Rp17.000,00 dan untuk minuman bisa dinikmati dengan harga Rp8.000,00 sampai Rp15.000,00.

Dengan kisaran harga itu, pengunjung sudah mendapatkan porsi yang cukup banyak, belum lagi soal rasa masakan yang diolah para ibu-ibu di dapur terasa tidak pelit bumbu. Setiap suapan menghandirkan kekayaan rempah yang kental, ciri khas masakan Bali yang selalu meninggalkan kesan mendalam di lidah.

Salah satu menu makanan di “Warung di Kebun” | Foto: Suwini

Pagi itu, suasana warung masih sepi. Jam menunjukkan pukul sembilan, dimana kebanyakan orang mungkin masih sibuk dengan rutinitas awal hari. Di warung, para pekerja tengah bersiap. Di depan, terlihat tiga orang pekerja sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang berjaga di kasir, ada yang menyambut pengunjung datang, dan ada yang menyiapkan meja untuk menerima pesanan. Meski tampak sibuk suasana tetap akrab, mereka sesekali saling bercanda di sela aktivitas pagi itu.

Seorang perempuan muda di meja kasir menyambut dengan senyum ramah. Namanya Indri, usianya 21 tahun. Sudah satu tahun ia bekerja di warung ini, saat ditanya tentang awal mula warung ini berdiri, Indri menjawab, “Menurut Ibu, warung ini sudah ada dari tahun 2018.”

Ibu, begitulah para pekerja menyebut pemilik warung. Pagi itu, sang pemilik tidak hadir. Dapur pun diisi oleh para ibu-ibu yang sudah lama bekerja di sana. Mereka bukan orang baru. Hubungan yang terjalin bukan sekadar antara pekerja dan pemilik, melainkan sudah seperti keluarga.

“Tante-tante yang masak di belakang itu memang sudah lama ikut Ibu juga. Jadi kalau Ibu nggak ada, mereka yang ambil alih masak sekaligus bantu kalau ada pesanan,” ujar Indri menambahkan.

“Warung di Kebun” dijalankan dengan beberapa tenaga kerja. Pagi itu, terlihat sekitaran lima orang pekerja, tiga orang di depan dan dua orang lagi di dapur. Meski warung masih sedikit pengunjung di pagi hari, mereka tetap melakukan persiapan sejak pagi. Selain Indri, ada juga Eti, pekerja berusia 22 tahun yang sudah bekerja selama setahun di warung tersebut. Keduanya mengaku, bekerja di warung ini punya cerita suka duka tersendiri. Salah satunya adalah menghadapi momen saat pengunjung membludak.

“Kalau rame, pusing sih. Misalnya ada yang baru datang tapi maunya cepet, padahal kan di sini kita bikin sesuai antrian. Siapa yang datang duluan, berarti itu yang kita layani dulu. Tapi kalau sudah rame, pasti ada saja yang komplain karena lama,” kata Indri sambil tersenyum, mencoba mengingat kembali situasi ramai yang kadang membuat panik.

Eti dan Indri di “Warung di Kebun” | Foto: Suwini

Ketika ditanya kapan biasanya warung ramai, Eti langsung menjawab, “Biasanya pas rame tuh jam makan siang sampai sore. Itu sih yang paling rame!.

Meski demikian, baik Indri maupun Eti menikmati pengalaman kerja mereka di sana. Bahkan keduanya memiliki pandangan pribadi soal menu favorit mereka di warung ini. Indri dengan yakin menyebut blayag sebagai makanan terbaik.

 “Blayag di sini enak banget. Bumbunya pas, nggak berlebihan,” katanya.

Sementara Eti punya pilihan yang berbeda. Baginya, lontong serapah adalah juara. “Serapah itu kuahnya kental, jadi kerasa banget rasanya. Itu sih yang paling enak menurut saya,” jelasnya sambil tertawa.

Percakapan sederhana dengan kedua pekerja itu memberi gambaran bahwa warung ini bukan hanya sekadar tempat makan. Ada cerita, ada interaksi, dan ada keseharian yang terus mengalir di dalamnya. Dari persiapan pagi hingga menghadapi ramainya pengunjung siang hari, semuanya menjadi bagian dari pengalaman “Warung di Kebun”.

“Warung di Kebun” | Foto: Suwini

Lebih dari itu, warung ini juga menjadi ruang multifungsi bagi para pengunjung. Banyak orang yang datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga untuk bekerja dengan laptop, mengerjakan tugas, atau sekedar berkumpul dengan teman dan keluarga. Fasilitas colokan sudah tersedia di beberapa meja membuat warung ini terasa ramah untuk siapa saja yang membutuhkan tempat singgah dengan suasana yang tenang.

“Warung di Kebun” adalah salah satu contoh sederhana bagaimana sebuah tempat bisa menghadirkan pengalaman berbeda. Ia hadir bukan dengan kemewahan, melainkan dengan kesedarhanaan yang jujur seperti makanan khas Bali dengan cita rasa otentik, harga yang terjangkau, dan suasana kebun yang menenangkan.

Di tengah padatnya kota Denpasar, warung ini menjadi penyegaran kecil, tempat orang bisa berhenti sejenak, menikmati makanan, dan merasakan ketenangan dari hal-hal sederhana yang hampir kita lupakan. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Wayan Suwini
Editor: Adnyana Ole

Tags: denpasarkulinerwarung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kerja Kontrak dan Manusia yang Kehilangan Napas Panjang

Next Post

Era Agensi Buatan dan Paradoks Otentisitas Digital

Ni Wayan Suwini

Ni Wayan Suwini

Lahir 04 Februari 2005. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
Era Agensi Buatan dan Paradoks Otentisitas Digital

Era Agensi Buatan dan Paradoks Otentisitas Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co