13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kerja Kontrak dan Manusia yang Kehilangan Napas Panjang

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 10, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

KITA sekarang ini hidup di zaman,  di mana semuanya harus serba cepat. Internet cepat, makanan cepat, cinta cepat, bahkan karier juga cepat. Dulu orang bercita-cita punya pekerjaan tetap biar hidup aman sampai pensiun. Lah sekarang, justru aneh kalau ada yang kerja di satu tempat lebih dari lima tahun. “Lama banget, Bro. Kok nggak pindah-pindah?” Begitulah kira-kira komentar khas di era kerja kontrak.

Sistem kontrak adalah kerja yang berbatas waktu, entah tiga bulan, setahun, atau hanya selama proyek berlangsung, tapi kerja kontrak saat ini memang sedang naik daun. Di atas kertas, dan hitung-hitungan, sistem ini nampak efisien. Perusahaan juga senang karena hemat ongkos dan fleksibel. Pekerja muda pun senang  karena kata mereka nggak mau terikat. Tapi di balik gemerlap jargon fleksibilitas itu, ada aroma getir yang menyeruak,  yaitu ketidakpastian yang diromantisasi.

Dunia Layar ke Dunia Kerja yang Makin Pendek

Sepertinya, logika kerja kontrak ini bukan datang dari langit seperti Mr. Bean. Ia lahir dari budaya digital yang memuja kecepatan dan hasil instan. Coba kita lihat saja media sosial kita dimana orang makin jarang menonton video berdurasi panjang. Semua berlomba bikin Reels, Shorts, dan TikTok berdurasi 30 detik. Mau gimana lagi, sekarang audiens maunya cepat, otak maunya ringan, perhatian maunya berpindah. Nah, dunia kerja sekarang tak mau kalah meniru algoritma yang sama,  proyek singkat, target cepat, hasil instan.

Pekerja bukan lagi bagian dari sistem jangka panjang, tapi bagian dari feed dunia kerja, muncul sebentar, lalu diganti yang baru. Dalam bahasa yang lebih menyedihkan,  manusia kini diperlakukan seperti konten. Kalau tak perform, tinggal scroll next. Ganti sama yang lebih engage.

Budaya Instan dan Lenyapnya Kedalaman

Filsuf Korea Selatan, Byung-Chul Han, pernah menulis bahwa masyarakat modern mengalami “kelelahan akibat terlalu positif.” Kita terlalu sibuk mengejar produktivitas dan pencitraan sampai kehilangan kemampuan merenung. Setiap hari kita diguyur notifikasi dan tenggat. Dunia tak lagi memberi waktu untuk bernapas, apalagi berpikir. Kerja kontrak adalah versi ekonomi dari fenomena itu. Semua serba proyek, semua serba hasil. Padahal manusia tidak diciptakan untuk hidup dari satu deadline ke deadline. Kita sebagai manusia butuh makna, bukan sekadar target.

Tapi sayangnya, dalam ekonomi instan, makna sering dianggap tidak produktif. Ngapain mikir terlalu dalam, yang penting KPI (Key Performance Indicator ) tercapai. Begitu kira-kira logika baru dunia kerja digital.

Precariat, si Makin Cepat, tapi Tidak Makin Dalam

Sosiolog Inggris Guy Standing menyebutnya kelas precariat, gabungan dari kata precarious (tidak stabil) dan proletariat (kelas pekerja). Inilah generasi yang hidup tanpa jaminan sosial, tanpa kepastian kontrak, dan tanpa masa depan yang bisa ditebak. Mereka ini berganti pekerjaan seperti mengganti akun media sosial, bukan karena mau, tapi karena sistemnya memang dirancang begitu.

Kita bisa bilang, generasi ini sebenarnya bukan tidak setia pada pekerjaannya, tapi pekerjaanlah yang lebih dulu tidak setia pada mereka. Ironis, di era teknologi yang katanya menghubungkan semua orang,  justru hubungan antar manusia, termasuk hubungan kerja, malah jadi yang paling rapuh.

Kalau kita tarik lebih jauh, fenomena ini menunjukkan paradoks besar zaman kita,  manusia semakin cepat, tapi tidak semakin dalam. Dulu, waktu dunia masih terasa lambat, orang belajar sabar, menekuni satu bidang bertahun-tahun, lalu menua bersama keahliannya. Sekarang, orang bisa kerja di tiga perusahaan berbeda dalam setahun, tapi tidak merasa benar-benar bagian dari mana pun.

Kita belajar banyak hal, tapi jarang menuntaskannya. Kita bisa  terkoneksi dengan semua orang, tapi sulit merasa terhubung. Kita tahu banyak hal, tapi jarang mengerti secara mendalam. Inilah yang disebut Zygmunt Bauman sebagai liquid modernity alias modernitas cair. Semua hal kini berubah begitu cepat sampai-sampai tak ada yang sempat mengendap menjadi makna. Identitas, relasi, bahkan profesi, semuanya cair, termasuk rasa percaya diri.

Antara Kebebasan dan Kelelahan

Sebagian orang menyebut kerja kontrak sebagai bentuk kebebasan baru. Kita bebas memilih proyek, bebas berpindah tempat, bebas menentukan arah. Di sisi kebebasan hal itu benar. Tapi kebebasan tanpa struktur kadang terasa seperti berenang di lautan tanpa pantai. Nampak menyenangkan di awal, tapi menakutkan saat malam tiba.

Di sisi lain, perusahaan juga menikmati situasi ini. Mereka bisa rekrut cepat, ganti cepat, dan bayar sesuai target hasil, selesai, bye-bye. Hubungan industrial kini berubah menjadi hubungan transaksional. Tidak ada lagi rasa memiliki, hanya rasa  menguntungkan.

Kembali ke Byung-Chul Han yang menyebut kondisi ini sebagai achievement society, masyarakat pencapaian. Kita semua dipacu untuk terus berprestasi, tapi tidak tahu lagi apa arti prestasi itu sendiri. Kita menjadi budak yang anehnya, merasa merdeka. Karena meskipun tidak diperintah, kita menekan diri sendiri lebih keras dari siapa pun.

Lalu Bagaimana Manusia Bisa Tetap Tumbuh?

Pertanyaan besar muncul: kalau semua serba cepat dan singkat, bagaimana manusia tetap bisa bertumbuh dan hidup dengan makna? Yang pertama, kita harus berani melambat. Dalam dunia yang mengagungkan kecepatan, melambat adalah bentuk perlawanan paling elegan. Melambat memberi ruang bagi kesadaran tentang apa yang benar-benar penting, dan mana yang hanya kebisingan.

Yang kedua, meniru pohon yang kokoh yaitu menanam akar.  Apapun itu pekerjaan bisa sementara, tapi nilai dan kompetensi tidak boleh ikut sementara. Orang yang punya akar akan tetap kokoh di tengah angin perubahan. Akar itu bisa berupa integritas, keahlian, atau visi pribadi. Tanpa akar, manusia akan mudah hanyut oleh tren.

Ketiga,  memaknai ulang kata berhasil. Kesuksesan hari ini bukan lagi soal jabatan panjang, tapi kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan menemukan makna di tiap transisi. Seseorang yang hidup dari proyek ke proyek bukan gagal, selama setiap proyek memperdalam dirinya. Dan keempat, menjaga ruang renung. Tentu bukan kolom Ruang Renung yang anda baca ini.  Maksudnya adalah bahwa kita perlu jeda dari hiruk-pikuk digital. Matikan layar, diam sejenak, dengarkan isi kepala sendiri. Dari sana biasanya lahir kebijaksanaan yang paling jujur.

Dunia Kontrak Butuh Manusia Penuh

Kita tidak sedang mencoba melawan perubahan, tapi belajar hidup di dalamnya tanpa kehilangan kemanusiaan. Kerja kontrak mungkin tidak akan hilang, bahkan ia akan makin kuat seiring dunia makin cair. Tapi yang bisa kita lakukan adalah memastikan bahwa meski kontrak kerja bisa berakhir, kontrak kita dengan makna hidup jangan sampai putus.

Seperti kata filsuf Albert Camus, “Di tengah musim dingin yang paling dalam, aku akhirnya belajar bahwa dalam diriku masih ada musim panas yang tak terkalahkan.” Begitu pula manusia hari ini, di tengah ketidakpastian, selalu ada inti diri yang tak bisa dikontrakkan yaitu ketulusan, rasa ingin tahu, dan kemampuan mencintai apa yang dikerjakan.

Pada akhirnya, mungkin yang perlu kita pertanyakan bukanlah apakah kerja kontrak itu buruk, bukan itu, tapi apakah kita masih tahu kenapa bekerja? Karena kalau bekerja hanya untuk bertahan hidup, mesin pun bisa melakukannya.  Tapi kalau bekerja untuk menumbuhkan hidup, hanya manusia yang mampu, apapun model pekerjaannya.

Sidang pembaca yang budiman, mari kita ingat kembali apa yang pernah disampaikan ulama besar kita, Buya Hamka, “Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.” Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: bekerjaDunia Kerja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suksesnya Kegiatan PA Padang GMKI Komisariat FMIPA UNIMED Tahun 2025

Next Post

“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

"Warung di Kebun": Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co