23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kerja Kontrak dan Manusia yang Kehilangan Napas Panjang

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 10, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

KITA sekarang ini hidup di zaman,  di mana semuanya harus serba cepat. Internet cepat, makanan cepat, cinta cepat, bahkan karier juga cepat. Dulu orang bercita-cita punya pekerjaan tetap biar hidup aman sampai pensiun. Lah sekarang, justru aneh kalau ada yang kerja di satu tempat lebih dari lima tahun. “Lama banget, Bro. Kok nggak pindah-pindah?” Begitulah kira-kira komentar khas di era kerja kontrak.

Sistem kontrak adalah kerja yang berbatas waktu, entah tiga bulan, setahun, atau hanya selama proyek berlangsung, tapi kerja kontrak saat ini memang sedang naik daun. Di atas kertas, dan hitung-hitungan, sistem ini nampak efisien. Perusahaan juga senang karena hemat ongkos dan fleksibel. Pekerja muda pun senang  karena kata mereka nggak mau terikat. Tapi di balik gemerlap jargon fleksibilitas itu, ada aroma getir yang menyeruak,  yaitu ketidakpastian yang diromantisasi.

Dunia Layar ke Dunia Kerja yang Makin Pendek

Sepertinya, logika kerja kontrak ini bukan datang dari langit seperti Mr. Bean. Ia lahir dari budaya digital yang memuja kecepatan dan hasil instan. Coba kita lihat saja media sosial kita dimana orang makin jarang menonton video berdurasi panjang. Semua berlomba bikin Reels, Shorts, dan TikTok berdurasi 30 detik. Mau gimana lagi, sekarang audiens maunya cepat, otak maunya ringan, perhatian maunya berpindah. Nah, dunia kerja sekarang tak mau kalah meniru algoritma yang sama,  proyek singkat, target cepat, hasil instan.

Pekerja bukan lagi bagian dari sistem jangka panjang, tapi bagian dari feed dunia kerja, muncul sebentar, lalu diganti yang baru. Dalam bahasa yang lebih menyedihkan,  manusia kini diperlakukan seperti konten. Kalau tak perform, tinggal scroll next. Ganti sama yang lebih engage.

Budaya Instan dan Lenyapnya Kedalaman

Filsuf Korea Selatan, Byung-Chul Han, pernah menulis bahwa masyarakat modern mengalami “kelelahan akibat terlalu positif.” Kita terlalu sibuk mengejar produktivitas dan pencitraan sampai kehilangan kemampuan merenung. Setiap hari kita diguyur notifikasi dan tenggat. Dunia tak lagi memberi waktu untuk bernapas, apalagi berpikir. Kerja kontrak adalah versi ekonomi dari fenomena itu. Semua serba proyek, semua serba hasil. Padahal manusia tidak diciptakan untuk hidup dari satu deadline ke deadline. Kita sebagai manusia butuh makna, bukan sekadar target.

Tapi sayangnya, dalam ekonomi instan, makna sering dianggap tidak produktif. Ngapain mikir terlalu dalam, yang penting KPI (Key Performance Indicator ) tercapai. Begitu kira-kira logika baru dunia kerja digital.

Precariat, si Makin Cepat, tapi Tidak Makin Dalam

Sosiolog Inggris Guy Standing menyebutnya kelas precariat, gabungan dari kata precarious (tidak stabil) dan proletariat (kelas pekerja). Inilah generasi yang hidup tanpa jaminan sosial, tanpa kepastian kontrak, dan tanpa masa depan yang bisa ditebak. Mereka ini berganti pekerjaan seperti mengganti akun media sosial, bukan karena mau, tapi karena sistemnya memang dirancang begitu.

Kita bisa bilang, generasi ini sebenarnya bukan tidak setia pada pekerjaannya, tapi pekerjaanlah yang lebih dulu tidak setia pada mereka. Ironis, di era teknologi yang katanya menghubungkan semua orang,  justru hubungan antar manusia, termasuk hubungan kerja, malah jadi yang paling rapuh.

Kalau kita tarik lebih jauh, fenomena ini menunjukkan paradoks besar zaman kita,  manusia semakin cepat, tapi tidak semakin dalam. Dulu, waktu dunia masih terasa lambat, orang belajar sabar, menekuni satu bidang bertahun-tahun, lalu menua bersama keahliannya. Sekarang, orang bisa kerja di tiga perusahaan berbeda dalam setahun, tapi tidak merasa benar-benar bagian dari mana pun.

Kita belajar banyak hal, tapi jarang menuntaskannya. Kita bisa  terkoneksi dengan semua orang, tapi sulit merasa terhubung. Kita tahu banyak hal, tapi jarang mengerti secara mendalam. Inilah yang disebut Zygmunt Bauman sebagai liquid modernity alias modernitas cair. Semua hal kini berubah begitu cepat sampai-sampai tak ada yang sempat mengendap menjadi makna. Identitas, relasi, bahkan profesi, semuanya cair, termasuk rasa percaya diri.

Antara Kebebasan dan Kelelahan

Sebagian orang menyebut kerja kontrak sebagai bentuk kebebasan baru. Kita bebas memilih proyek, bebas berpindah tempat, bebas menentukan arah. Di sisi kebebasan hal itu benar. Tapi kebebasan tanpa struktur kadang terasa seperti berenang di lautan tanpa pantai. Nampak menyenangkan di awal, tapi menakutkan saat malam tiba.

Di sisi lain, perusahaan juga menikmati situasi ini. Mereka bisa rekrut cepat, ganti cepat, dan bayar sesuai target hasil, selesai, bye-bye. Hubungan industrial kini berubah menjadi hubungan transaksional. Tidak ada lagi rasa memiliki, hanya rasa  menguntungkan.

Kembali ke Byung-Chul Han yang menyebut kondisi ini sebagai achievement society, masyarakat pencapaian. Kita semua dipacu untuk terus berprestasi, tapi tidak tahu lagi apa arti prestasi itu sendiri. Kita menjadi budak yang anehnya, merasa merdeka. Karena meskipun tidak diperintah, kita menekan diri sendiri lebih keras dari siapa pun.

Lalu Bagaimana Manusia Bisa Tetap Tumbuh?

Pertanyaan besar muncul: kalau semua serba cepat dan singkat, bagaimana manusia tetap bisa bertumbuh dan hidup dengan makna? Yang pertama, kita harus berani melambat. Dalam dunia yang mengagungkan kecepatan, melambat adalah bentuk perlawanan paling elegan. Melambat memberi ruang bagi kesadaran tentang apa yang benar-benar penting, dan mana yang hanya kebisingan.

Yang kedua, meniru pohon yang kokoh yaitu menanam akar.  Apapun itu pekerjaan bisa sementara, tapi nilai dan kompetensi tidak boleh ikut sementara. Orang yang punya akar akan tetap kokoh di tengah angin perubahan. Akar itu bisa berupa integritas, keahlian, atau visi pribadi. Tanpa akar, manusia akan mudah hanyut oleh tren.

Ketiga,  memaknai ulang kata berhasil. Kesuksesan hari ini bukan lagi soal jabatan panjang, tapi kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan menemukan makna di tiap transisi. Seseorang yang hidup dari proyek ke proyek bukan gagal, selama setiap proyek memperdalam dirinya. Dan keempat, menjaga ruang renung. Tentu bukan kolom Ruang Renung yang anda baca ini.  Maksudnya adalah bahwa kita perlu jeda dari hiruk-pikuk digital. Matikan layar, diam sejenak, dengarkan isi kepala sendiri. Dari sana biasanya lahir kebijaksanaan yang paling jujur.

Dunia Kontrak Butuh Manusia Penuh

Kita tidak sedang mencoba melawan perubahan, tapi belajar hidup di dalamnya tanpa kehilangan kemanusiaan. Kerja kontrak mungkin tidak akan hilang, bahkan ia akan makin kuat seiring dunia makin cair. Tapi yang bisa kita lakukan adalah memastikan bahwa meski kontrak kerja bisa berakhir, kontrak kita dengan makna hidup jangan sampai putus.

Seperti kata filsuf Albert Camus, “Di tengah musim dingin yang paling dalam, aku akhirnya belajar bahwa dalam diriku masih ada musim panas yang tak terkalahkan.” Begitu pula manusia hari ini, di tengah ketidakpastian, selalu ada inti diri yang tak bisa dikontrakkan yaitu ketulusan, rasa ingin tahu, dan kemampuan mencintai apa yang dikerjakan.

Pada akhirnya, mungkin yang perlu kita pertanyakan bukanlah apakah kerja kontrak itu buruk, bukan itu, tapi apakah kita masih tahu kenapa bekerja? Karena kalau bekerja hanya untuk bertahan hidup, mesin pun bisa melakukannya.  Tapi kalau bekerja untuk menumbuhkan hidup, hanya manusia yang mampu, apapun model pekerjaannya.

Sidang pembaca yang budiman, mari kita ingat kembali apa yang pernah disampaikan ulama besar kita, Buya Hamka, “Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.” Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: bekerjaDunia Kerja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suksesnya Kegiatan PA Padang GMKI Komisariat FMIPA UNIMED Tahun 2025

Next Post

“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

"Warung di Kebun": Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co