2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kerja Kontrak dan Manusia yang Kehilangan Napas Panjang

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 10, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

KITA sekarang ini hidup di zaman,  di mana semuanya harus serba cepat. Internet cepat, makanan cepat, cinta cepat, bahkan karier juga cepat. Dulu orang bercita-cita punya pekerjaan tetap biar hidup aman sampai pensiun. Lah sekarang, justru aneh kalau ada yang kerja di satu tempat lebih dari lima tahun. “Lama banget, Bro. Kok nggak pindah-pindah?” Begitulah kira-kira komentar khas di era kerja kontrak.

Sistem kontrak adalah kerja yang berbatas waktu, entah tiga bulan, setahun, atau hanya selama proyek berlangsung, tapi kerja kontrak saat ini memang sedang naik daun. Di atas kertas, dan hitung-hitungan, sistem ini nampak efisien. Perusahaan juga senang karena hemat ongkos dan fleksibel. Pekerja muda pun senang  karena kata mereka nggak mau terikat. Tapi di balik gemerlap jargon fleksibilitas itu, ada aroma getir yang menyeruak,  yaitu ketidakpastian yang diromantisasi.

Dunia Layar ke Dunia Kerja yang Makin Pendek

Sepertinya, logika kerja kontrak ini bukan datang dari langit seperti Mr. Bean. Ia lahir dari budaya digital yang memuja kecepatan dan hasil instan. Coba kita lihat saja media sosial kita dimana orang makin jarang menonton video berdurasi panjang. Semua berlomba bikin Reels, Shorts, dan TikTok berdurasi 30 detik. Mau gimana lagi, sekarang audiens maunya cepat, otak maunya ringan, perhatian maunya berpindah. Nah, dunia kerja sekarang tak mau kalah meniru algoritma yang sama,  proyek singkat, target cepat, hasil instan.

Pekerja bukan lagi bagian dari sistem jangka panjang, tapi bagian dari feed dunia kerja, muncul sebentar, lalu diganti yang baru. Dalam bahasa yang lebih menyedihkan,  manusia kini diperlakukan seperti konten. Kalau tak perform, tinggal scroll next. Ganti sama yang lebih engage.

Budaya Instan dan Lenyapnya Kedalaman

Filsuf Korea Selatan, Byung-Chul Han, pernah menulis bahwa masyarakat modern mengalami “kelelahan akibat terlalu positif.” Kita terlalu sibuk mengejar produktivitas dan pencitraan sampai kehilangan kemampuan merenung. Setiap hari kita diguyur notifikasi dan tenggat. Dunia tak lagi memberi waktu untuk bernapas, apalagi berpikir. Kerja kontrak adalah versi ekonomi dari fenomena itu. Semua serba proyek, semua serba hasil. Padahal manusia tidak diciptakan untuk hidup dari satu deadline ke deadline. Kita sebagai manusia butuh makna, bukan sekadar target.

Tapi sayangnya, dalam ekonomi instan, makna sering dianggap tidak produktif. Ngapain mikir terlalu dalam, yang penting KPI (Key Performance Indicator ) tercapai. Begitu kira-kira logika baru dunia kerja digital.

Precariat, si Makin Cepat, tapi Tidak Makin Dalam

Sosiolog Inggris Guy Standing menyebutnya kelas precariat, gabungan dari kata precarious (tidak stabil) dan proletariat (kelas pekerja). Inilah generasi yang hidup tanpa jaminan sosial, tanpa kepastian kontrak, dan tanpa masa depan yang bisa ditebak. Mereka ini berganti pekerjaan seperti mengganti akun media sosial, bukan karena mau, tapi karena sistemnya memang dirancang begitu.

Kita bisa bilang, generasi ini sebenarnya bukan tidak setia pada pekerjaannya, tapi pekerjaanlah yang lebih dulu tidak setia pada mereka. Ironis, di era teknologi yang katanya menghubungkan semua orang,  justru hubungan antar manusia, termasuk hubungan kerja, malah jadi yang paling rapuh.

Kalau kita tarik lebih jauh, fenomena ini menunjukkan paradoks besar zaman kita,  manusia semakin cepat, tapi tidak semakin dalam. Dulu, waktu dunia masih terasa lambat, orang belajar sabar, menekuni satu bidang bertahun-tahun, lalu menua bersama keahliannya. Sekarang, orang bisa kerja di tiga perusahaan berbeda dalam setahun, tapi tidak merasa benar-benar bagian dari mana pun.

Kita belajar banyak hal, tapi jarang menuntaskannya. Kita bisa  terkoneksi dengan semua orang, tapi sulit merasa terhubung. Kita tahu banyak hal, tapi jarang mengerti secara mendalam. Inilah yang disebut Zygmunt Bauman sebagai liquid modernity alias modernitas cair. Semua hal kini berubah begitu cepat sampai-sampai tak ada yang sempat mengendap menjadi makna. Identitas, relasi, bahkan profesi, semuanya cair, termasuk rasa percaya diri.

Antara Kebebasan dan Kelelahan

Sebagian orang menyebut kerja kontrak sebagai bentuk kebebasan baru. Kita bebas memilih proyek, bebas berpindah tempat, bebas menentukan arah. Di sisi kebebasan hal itu benar. Tapi kebebasan tanpa struktur kadang terasa seperti berenang di lautan tanpa pantai. Nampak menyenangkan di awal, tapi menakutkan saat malam tiba.

Di sisi lain, perusahaan juga menikmati situasi ini. Mereka bisa rekrut cepat, ganti cepat, dan bayar sesuai target hasil, selesai, bye-bye. Hubungan industrial kini berubah menjadi hubungan transaksional. Tidak ada lagi rasa memiliki, hanya rasa  menguntungkan.

Kembali ke Byung-Chul Han yang menyebut kondisi ini sebagai achievement society, masyarakat pencapaian. Kita semua dipacu untuk terus berprestasi, tapi tidak tahu lagi apa arti prestasi itu sendiri. Kita menjadi budak yang anehnya, merasa merdeka. Karena meskipun tidak diperintah, kita menekan diri sendiri lebih keras dari siapa pun.

Lalu Bagaimana Manusia Bisa Tetap Tumbuh?

Pertanyaan besar muncul: kalau semua serba cepat dan singkat, bagaimana manusia tetap bisa bertumbuh dan hidup dengan makna? Yang pertama, kita harus berani melambat. Dalam dunia yang mengagungkan kecepatan, melambat adalah bentuk perlawanan paling elegan. Melambat memberi ruang bagi kesadaran tentang apa yang benar-benar penting, dan mana yang hanya kebisingan.

Yang kedua, meniru pohon yang kokoh yaitu menanam akar.  Apapun itu pekerjaan bisa sementara, tapi nilai dan kompetensi tidak boleh ikut sementara. Orang yang punya akar akan tetap kokoh di tengah angin perubahan. Akar itu bisa berupa integritas, keahlian, atau visi pribadi. Tanpa akar, manusia akan mudah hanyut oleh tren.

Ketiga,  memaknai ulang kata berhasil. Kesuksesan hari ini bukan lagi soal jabatan panjang, tapi kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan menemukan makna di tiap transisi. Seseorang yang hidup dari proyek ke proyek bukan gagal, selama setiap proyek memperdalam dirinya. Dan keempat, menjaga ruang renung. Tentu bukan kolom Ruang Renung yang anda baca ini.  Maksudnya adalah bahwa kita perlu jeda dari hiruk-pikuk digital. Matikan layar, diam sejenak, dengarkan isi kepala sendiri. Dari sana biasanya lahir kebijaksanaan yang paling jujur.

Dunia Kontrak Butuh Manusia Penuh

Kita tidak sedang mencoba melawan perubahan, tapi belajar hidup di dalamnya tanpa kehilangan kemanusiaan. Kerja kontrak mungkin tidak akan hilang, bahkan ia akan makin kuat seiring dunia makin cair. Tapi yang bisa kita lakukan adalah memastikan bahwa meski kontrak kerja bisa berakhir, kontrak kita dengan makna hidup jangan sampai putus.

Seperti kata filsuf Albert Camus, “Di tengah musim dingin yang paling dalam, aku akhirnya belajar bahwa dalam diriku masih ada musim panas yang tak terkalahkan.” Begitu pula manusia hari ini, di tengah ketidakpastian, selalu ada inti diri yang tak bisa dikontrakkan yaitu ketulusan, rasa ingin tahu, dan kemampuan mencintai apa yang dikerjakan.

Pada akhirnya, mungkin yang perlu kita pertanyakan bukanlah apakah kerja kontrak itu buruk, bukan itu, tapi apakah kita masih tahu kenapa bekerja? Karena kalau bekerja hanya untuk bertahan hidup, mesin pun bisa melakukannya.  Tapi kalau bekerja untuk menumbuhkan hidup, hanya manusia yang mampu, apapun model pekerjaannya.

Sidang pembaca yang budiman, mari kita ingat kembali apa yang pernah disampaikan ulama besar kita, Buya Hamka, “Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.” Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: bekerjaDunia Kerja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suksesnya Kegiatan PA Padang GMKI Komisariat FMIPA UNIMED Tahun 2025

Next Post

“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

"Warung di Kebun": Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co