24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kerja Kontrak dan Manusia yang Kehilangan Napas Panjang

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 10, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

KITA sekarang ini hidup di zaman,  di mana semuanya harus serba cepat. Internet cepat, makanan cepat, cinta cepat, bahkan karier juga cepat. Dulu orang bercita-cita punya pekerjaan tetap biar hidup aman sampai pensiun. Lah sekarang, justru aneh kalau ada yang kerja di satu tempat lebih dari lima tahun. “Lama banget, Bro. Kok nggak pindah-pindah?” Begitulah kira-kira komentar khas di era kerja kontrak.

Sistem kontrak adalah kerja yang berbatas waktu, entah tiga bulan, setahun, atau hanya selama proyek berlangsung, tapi kerja kontrak saat ini memang sedang naik daun. Di atas kertas, dan hitung-hitungan, sistem ini nampak efisien. Perusahaan juga senang karena hemat ongkos dan fleksibel. Pekerja muda pun senang  karena kata mereka nggak mau terikat. Tapi di balik gemerlap jargon fleksibilitas itu, ada aroma getir yang menyeruak,  yaitu ketidakpastian yang diromantisasi.

Dunia Layar ke Dunia Kerja yang Makin Pendek

Sepertinya, logika kerja kontrak ini bukan datang dari langit seperti Mr. Bean. Ia lahir dari budaya digital yang memuja kecepatan dan hasil instan. Coba kita lihat saja media sosial kita dimana orang makin jarang menonton video berdurasi panjang. Semua berlomba bikin Reels, Shorts, dan TikTok berdurasi 30 detik. Mau gimana lagi, sekarang audiens maunya cepat, otak maunya ringan, perhatian maunya berpindah. Nah, dunia kerja sekarang tak mau kalah meniru algoritma yang sama,  proyek singkat, target cepat, hasil instan.

Pekerja bukan lagi bagian dari sistem jangka panjang, tapi bagian dari feed dunia kerja, muncul sebentar, lalu diganti yang baru. Dalam bahasa yang lebih menyedihkan,  manusia kini diperlakukan seperti konten. Kalau tak perform, tinggal scroll next. Ganti sama yang lebih engage.

Budaya Instan dan Lenyapnya Kedalaman

Filsuf Korea Selatan, Byung-Chul Han, pernah menulis bahwa masyarakat modern mengalami “kelelahan akibat terlalu positif.” Kita terlalu sibuk mengejar produktivitas dan pencitraan sampai kehilangan kemampuan merenung. Setiap hari kita diguyur notifikasi dan tenggat. Dunia tak lagi memberi waktu untuk bernapas, apalagi berpikir. Kerja kontrak adalah versi ekonomi dari fenomena itu. Semua serba proyek, semua serba hasil. Padahal manusia tidak diciptakan untuk hidup dari satu deadline ke deadline. Kita sebagai manusia butuh makna, bukan sekadar target.

Tapi sayangnya, dalam ekonomi instan, makna sering dianggap tidak produktif. Ngapain mikir terlalu dalam, yang penting KPI (Key Performance Indicator ) tercapai. Begitu kira-kira logika baru dunia kerja digital.

Precariat, si Makin Cepat, tapi Tidak Makin Dalam

Sosiolog Inggris Guy Standing menyebutnya kelas precariat, gabungan dari kata precarious (tidak stabil) dan proletariat (kelas pekerja). Inilah generasi yang hidup tanpa jaminan sosial, tanpa kepastian kontrak, dan tanpa masa depan yang bisa ditebak. Mereka ini berganti pekerjaan seperti mengganti akun media sosial, bukan karena mau, tapi karena sistemnya memang dirancang begitu.

Kita bisa bilang, generasi ini sebenarnya bukan tidak setia pada pekerjaannya, tapi pekerjaanlah yang lebih dulu tidak setia pada mereka. Ironis, di era teknologi yang katanya menghubungkan semua orang,  justru hubungan antar manusia, termasuk hubungan kerja, malah jadi yang paling rapuh.

Kalau kita tarik lebih jauh, fenomena ini menunjukkan paradoks besar zaman kita,  manusia semakin cepat, tapi tidak semakin dalam. Dulu, waktu dunia masih terasa lambat, orang belajar sabar, menekuni satu bidang bertahun-tahun, lalu menua bersama keahliannya. Sekarang, orang bisa kerja di tiga perusahaan berbeda dalam setahun, tapi tidak merasa benar-benar bagian dari mana pun.

Kita belajar banyak hal, tapi jarang menuntaskannya. Kita bisa  terkoneksi dengan semua orang, tapi sulit merasa terhubung. Kita tahu banyak hal, tapi jarang mengerti secara mendalam. Inilah yang disebut Zygmunt Bauman sebagai liquid modernity alias modernitas cair. Semua hal kini berubah begitu cepat sampai-sampai tak ada yang sempat mengendap menjadi makna. Identitas, relasi, bahkan profesi, semuanya cair, termasuk rasa percaya diri.

Antara Kebebasan dan Kelelahan

Sebagian orang menyebut kerja kontrak sebagai bentuk kebebasan baru. Kita bebas memilih proyek, bebas berpindah tempat, bebas menentukan arah. Di sisi kebebasan hal itu benar. Tapi kebebasan tanpa struktur kadang terasa seperti berenang di lautan tanpa pantai. Nampak menyenangkan di awal, tapi menakutkan saat malam tiba.

Di sisi lain, perusahaan juga menikmati situasi ini. Mereka bisa rekrut cepat, ganti cepat, dan bayar sesuai target hasil, selesai, bye-bye. Hubungan industrial kini berubah menjadi hubungan transaksional. Tidak ada lagi rasa memiliki, hanya rasa  menguntungkan.

Kembali ke Byung-Chul Han yang menyebut kondisi ini sebagai achievement society, masyarakat pencapaian. Kita semua dipacu untuk terus berprestasi, tapi tidak tahu lagi apa arti prestasi itu sendiri. Kita menjadi budak yang anehnya, merasa merdeka. Karena meskipun tidak diperintah, kita menekan diri sendiri lebih keras dari siapa pun.

Lalu Bagaimana Manusia Bisa Tetap Tumbuh?

Pertanyaan besar muncul: kalau semua serba cepat dan singkat, bagaimana manusia tetap bisa bertumbuh dan hidup dengan makna? Yang pertama, kita harus berani melambat. Dalam dunia yang mengagungkan kecepatan, melambat adalah bentuk perlawanan paling elegan. Melambat memberi ruang bagi kesadaran tentang apa yang benar-benar penting, dan mana yang hanya kebisingan.

Yang kedua, meniru pohon yang kokoh yaitu menanam akar.  Apapun itu pekerjaan bisa sementara, tapi nilai dan kompetensi tidak boleh ikut sementara. Orang yang punya akar akan tetap kokoh di tengah angin perubahan. Akar itu bisa berupa integritas, keahlian, atau visi pribadi. Tanpa akar, manusia akan mudah hanyut oleh tren.

Ketiga,  memaknai ulang kata berhasil. Kesuksesan hari ini bukan lagi soal jabatan panjang, tapi kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan menemukan makna di tiap transisi. Seseorang yang hidup dari proyek ke proyek bukan gagal, selama setiap proyek memperdalam dirinya. Dan keempat, menjaga ruang renung. Tentu bukan kolom Ruang Renung yang anda baca ini.  Maksudnya adalah bahwa kita perlu jeda dari hiruk-pikuk digital. Matikan layar, diam sejenak, dengarkan isi kepala sendiri. Dari sana biasanya lahir kebijaksanaan yang paling jujur.

Dunia Kontrak Butuh Manusia Penuh

Kita tidak sedang mencoba melawan perubahan, tapi belajar hidup di dalamnya tanpa kehilangan kemanusiaan. Kerja kontrak mungkin tidak akan hilang, bahkan ia akan makin kuat seiring dunia makin cair. Tapi yang bisa kita lakukan adalah memastikan bahwa meski kontrak kerja bisa berakhir, kontrak kita dengan makna hidup jangan sampai putus.

Seperti kata filsuf Albert Camus, “Di tengah musim dingin yang paling dalam, aku akhirnya belajar bahwa dalam diriku masih ada musim panas yang tak terkalahkan.” Begitu pula manusia hari ini, di tengah ketidakpastian, selalu ada inti diri yang tak bisa dikontrakkan yaitu ketulusan, rasa ingin tahu, dan kemampuan mencintai apa yang dikerjakan.

Pada akhirnya, mungkin yang perlu kita pertanyakan bukanlah apakah kerja kontrak itu buruk, bukan itu, tapi apakah kita masih tahu kenapa bekerja? Karena kalau bekerja hanya untuk bertahan hidup, mesin pun bisa melakukannya.  Tapi kalau bekerja untuk menumbuhkan hidup, hanya manusia yang mampu, apapun model pekerjaannya.

Sidang pembaca yang budiman, mari kita ingat kembali apa yang pernah disampaikan ulama besar kita, Buya Hamka, “Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.” Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: bekerjaDunia Kerja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suksesnya Kegiatan PA Padang GMKI Komisariat FMIPA UNIMED Tahun 2025

Next Post

“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

"Warung di Kebun": Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co