3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kerja Kontrak dan Manusia yang Kehilangan Napas Panjang

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 10, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

KITA sekarang ini hidup di zaman,  di mana semuanya harus serba cepat. Internet cepat, makanan cepat, cinta cepat, bahkan karier juga cepat. Dulu orang bercita-cita punya pekerjaan tetap biar hidup aman sampai pensiun. Lah sekarang, justru aneh kalau ada yang kerja di satu tempat lebih dari lima tahun. “Lama banget, Bro. Kok nggak pindah-pindah?” Begitulah kira-kira komentar khas di era kerja kontrak.

Sistem kontrak adalah kerja yang berbatas waktu, entah tiga bulan, setahun, atau hanya selama proyek berlangsung, tapi kerja kontrak saat ini memang sedang naik daun. Di atas kertas, dan hitung-hitungan, sistem ini nampak efisien. Perusahaan juga senang karena hemat ongkos dan fleksibel. Pekerja muda pun senang  karena kata mereka nggak mau terikat. Tapi di balik gemerlap jargon fleksibilitas itu, ada aroma getir yang menyeruak,  yaitu ketidakpastian yang diromantisasi.

Dunia Layar ke Dunia Kerja yang Makin Pendek

Sepertinya, logika kerja kontrak ini bukan datang dari langit seperti Mr. Bean. Ia lahir dari budaya digital yang memuja kecepatan dan hasil instan. Coba kita lihat saja media sosial kita dimana orang makin jarang menonton video berdurasi panjang. Semua berlomba bikin Reels, Shorts, dan TikTok berdurasi 30 detik. Mau gimana lagi, sekarang audiens maunya cepat, otak maunya ringan, perhatian maunya berpindah. Nah, dunia kerja sekarang tak mau kalah meniru algoritma yang sama,  proyek singkat, target cepat, hasil instan.

Pekerja bukan lagi bagian dari sistem jangka panjang, tapi bagian dari feed dunia kerja, muncul sebentar, lalu diganti yang baru. Dalam bahasa yang lebih menyedihkan,  manusia kini diperlakukan seperti konten. Kalau tak perform, tinggal scroll next. Ganti sama yang lebih engage.

Budaya Instan dan Lenyapnya Kedalaman

Filsuf Korea Selatan, Byung-Chul Han, pernah menulis bahwa masyarakat modern mengalami “kelelahan akibat terlalu positif.” Kita terlalu sibuk mengejar produktivitas dan pencitraan sampai kehilangan kemampuan merenung. Setiap hari kita diguyur notifikasi dan tenggat. Dunia tak lagi memberi waktu untuk bernapas, apalagi berpikir. Kerja kontrak adalah versi ekonomi dari fenomena itu. Semua serba proyek, semua serba hasil. Padahal manusia tidak diciptakan untuk hidup dari satu deadline ke deadline. Kita sebagai manusia butuh makna, bukan sekadar target.

Tapi sayangnya, dalam ekonomi instan, makna sering dianggap tidak produktif. Ngapain mikir terlalu dalam, yang penting KPI (Key Performance Indicator ) tercapai. Begitu kira-kira logika baru dunia kerja digital.

Precariat, si Makin Cepat, tapi Tidak Makin Dalam

Sosiolog Inggris Guy Standing menyebutnya kelas precariat, gabungan dari kata precarious (tidak stabil) dan proletariat (kelas pekerja). Inilah generasi yang hidup tanpa jaminan sosial, tanpa kepastian kontrak, dan tanpa masa depan yang bisa ditebak. Mereka ini berganti pekerjaan seperti mengganti akun media sosial, bukan karena mau, tapi karena sistemnya memang dirancang begitu.

Kita bisa bilang, generasi ini sebenarnya bukan tidak setia pada pekerjaannya, tapi pekerjaanlah yang lebih dulu tidak setia pada mereka. Ironis, di era teknologi yang katanya menghubungkan semua orang,  justru hubungan antar manusia, termasuk hubungan kerja, malah jadi yang paling rapuh.

Kalau kita tarik lebih jauh, fenomena ini menunjukkan paradoks besar zaman kita,  manusia semakin cepat, tapi tidak semakin dalam. Dulu, waktu dunia masih terasa lambat, orang belajar sabar, menekuni satu bidang bertahun-tahun, lalu menua bersama keahliannya. Sekarang, orang bisa kerja di tiga perusahaan berbeda dalam setahun, tapi tidak merasa benar-benar bagian dari mana pun.

Kita belajar banyak hal, tapi jarang menuntaskannya. Kita bisa  terkoneksi dengan semua orang, tapi sulit merasa terhubung. Kita tahu banyak hal, tapi jarang mengerti secara mendalam. Inilah yang disebut Zygmunt Bauman sebagai liquid modernity alias modernitas cair. Semua hal kini berubah begitu cepat sampai-sampai tak ada yang sempat mengendap menjadi makna. Identitas, relasi, bahkan profesi, semuanya cair, termasuk rasa percaya diri.

Antara Kebebasan dan Kelelahan

Sebagian orang menyebut kerja kontrak sebagai bentuk kebebasan baru. Kita bebas memilih proyek, bebas berpindah tempat, bebas menentukan arah. Di sisi kebebasan hal itu benar. Tapi kebebasan tanpa struktur kadang terasa seperti berenang di lautan tanpa pantai. Nampak menyenangkan di awal, tapi menakutkan saat malam tiba.

Di sisi lain, perusahaan juga menikmati situasi ini. Mereka bisa rekrut cepat, ganti cepat, dan bayar sesuai target hasil, selesai, bye-bye. Hubungan industrial kini berubah menjadi hubungan transaksional. Tidak ada lagi rasa memiliki, hanya rasa  menguntungkan.

Kembali ke Byung-Chul Han yang menyebut kondisi ini sebagai achievement society, masyarakat pencapaian. Kita semua dipacu untuk terus berprestasi, tapi tidak tahu lagi apa arti prestasi itu sendiri. Kita menjadi budak yang anehnya, merasa merdeka. Karena meskipun tidak diperintah, kita menekan diri sendiri lebih keras dari siapa pun.

Lalu Bagaimana Manusia Bisa Tetap Tumbuh?

Pertanyaan besar muncul: kalau semua serba cepat dan singkat, bagaimana manusia tetap bisa bertumbuh dan hidup dengan makna? Yang pertama, kita harus berani melambat. Dalam dunia yang mengagungkan kecepatan, melambat adalah bentuk perlawanan paling elegan. Melambat memberi ruang bagi kesadaran tentang apa yang benar-benar penting, dan mana yang hanya kebisingan.

Yang kedua, meniru pohon yang kokoh yaitu menanam akar.  Apapun itu pekerjaan bisa sementara, tapi nilai dan kompetensi tidak boleh ikut sementara. Orang yang punya akar akan tetap kokoh di tengah angin perubahan. Akar itu bisa berupa integritas, keahlian, atau visi pribadi. Tanpa akar, manusia akan mudah hanyut oleh tren.

Ketiga,  memaknai ulang kata berhasil. Kesuksesan hari ini bukan lagi soal jabatan panjang, tapi kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan menemukan makna di tiap transisi. Seseorang yang hidup dari proyek ke proyek bukan gagal, selama setiap proyek memperdalam dirinya. Dan keempat, menjaga ruang renung. Tentu bukan kolom Ruang Renung yang anda baca ini.  Maksudnya adalah bahwa kita perlu jeda dari hiruk-pikuk digital. Matikan layar, diam sejenak, dengarkan isi kepala sendiri. Dari sana biasanya lahir kebijaksanaan yang paling jujur.

Dunia Kontrak Butuh Manusia Penuh

Kita tidak sedang mencoba melawan perubahan, tapi belajar hidup di dalamnya tanpa kehilangan kemanusiaan. Kerja kontrak mungkin tidak akan hilang, bahkan ia akan makin kuat seiring dunia makin cair. Tapi yang bisa kita lakukan adalah memastikan bahwa meski kontrak kerja bisa berakhir, kontrak kita dengan makna hidup jangan sampai putus.

Seperti kata filsuf Albert Camus, “Di tengah musim dingin yang paling dalam, aku akhirnya belajar bahwa dalam diriku masih ada musim panas yang tak terkalahkan.” Begitu pula manusia hari ini, di tengah ketidakpastian, selalu ada inti diri yang tak bisa dikontrakkan yaitu ketulusan, rasa ingin tahu, dan kemampuan mencintai apa yang dikerjakan.

Pada akhirnya, mungkin yang perlu kita pertanyakan bukanlah apakah kerja kontrak itu buruk, bukan itu, tapi apakah kita masih tahu kenapa bekerja? Karena kalau bekerja hanya untuk bertahan hidup, mesin pun bisa melakukannya.  Tapi kalau bekerja untuk menumbuhkan hidup, hanya manusia yang mampu, apapun model pekerjaannya.

Sidang pembaca yang budiman, mari kita ingat kembali apa yang pernah disampaikan ulama besar kita, Buya Hamka, “Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.” Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: bekerjaDunia Kerja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suksesnya Kegiatan PA Padang GMKI Komisariat FMIPA UNIMED Tahun 2025

Next Post

“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

"Warung di Kebun": Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co