2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kemakmuran yang Menyesatkan

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
September 13, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, belakangan kita melihat di mana para pejabat kita ini lidahnya suka selip. Akhirnya, tiap kali bicara soal rakyat, selalu ada saja kalimat yang bikin rakyat meriang. Baru-baru ini, setelah kursi Menteri Keuangan berpindah dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa, publik langsung disuguhi pernyataan blunder sang menteri baru. Purbaya menyebut demo jalanan hanyalah “suara sebagian kecil rakyat.” Kontan saja, dalam sekejap, mahasiswa ngamuk, BEM geram, dan warganet sibuk bikin meme. Ya memang pada akhirnya ada permintaan maaf, tapi sejarah terlanjur telah tertoreh.

Sungguh ironis, saat pejabat yang mestinya paham tata krama, justru makin sering melontarkan kata dan sikap yang merendahkan. Dari DPR sampai kementerian, sepertinya kita memang sedang hidup di era nirempati pejabat terhadap rakyat. Bagaimana bisa, orang-orang yang sudah dewasa, sekolah tinggi, mengaku pemimpin, digaji rakyat, justru gagal memahami psikologi rakyatnya sendiri.

Atau dalam hal ini khusus saya mungkin yang gagal paham pada psikologi Menkeu kita yang baru. Mungkin gaya beliau memang spontan dan jujur, ceplas-ceplos. Tentu saya yang jadi jahat bila buru-buru menilai beliau tanpa mengenal dan paham kinerjanya lebih lanjut. Lha wong, belum seminggu kerja kok sudah dinilai. Tapi jadi wajar juga kalau yang menilai memang sudah ada trauma.

Empati yang Hilang Dijilat Kemewahan

Banyak kajian sosial menyebut, pejabat yang hidup dalam gelembung privilese perlahan akan kehilangan kepekaan sosial. Mereka yang terbiasa naik mobil dinas, rapat di ruangan ber-AC, dapat tunjangan yang bikin dompet rakyat tampak receh, tentu saja, sangat jauh dari memahami rasanya antre panjang di Puskesmas atau galau mikirin harga minyak goreng dan cabai naik.

Fenomena ini oleh sosiolog Pierre Bourdieu disebut sebagai habitus kelas dominan, yaitu suatu pola pikir yang terbentuk dari posisi sosial tertentu, yang akhirnya membuat seseorang susah memahami realitas kelas lain. Dalam bahasa sederhananya, tidak mungkin pejabat yang setiap hari dijemput ajudan bisa membayangkan rasanya naik bus TransJakarta yang penuh sesak. Atau  mereka yang sibuk membahas faktor-faktor penguat rupiah di forum IMF tentu susah untuk bisa membayangkan rasa resah  ibu-ibu pasar yang bingung kenapa harga beras mendadak melonjak karena itu artinya mengurangi jatah belanja lauk buat anak. Empati mereka telah hilang dalam jilatan kemewahan.

Psikologi sosial juga punya istilah keren untuk ini yaitu empathy gap. Semakin jauh jarak pengalaman hidup, semakin sulit membayangkan apa yang dirasakan orang lain. Artinya, pejabat memang bisa tahu harga sembako naik, tapi tidak merasakan dampaknya. Mereka bisa mengutip data inflasi, tapi tidak merasakan gas yang menggeliat dalam perut keroncongan.

Mereka tahu angka kemiskinan, tapi tidak tahu betapa bingungnya cari pinjaman saat semua temen dan tetangga sudah dihutangi. Inilah kenapa ucapan mereka sering terdengar dingin, merendahkan, bahkan menyesakkan. Karena bagi mereka, penderitaan rakyat hanyalah angka dalam laporan, bukan jiwa dengan air mata.

Korupsi Rasa Kemanusiaan

Lord Acton pernah berkata, “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Banyak orang mengira maksudnya tentu adalah korupsi uang atau kekayaan lain. Padahal di sini terdapat jabaran yan lebih luas, di mana kekuasaan juga bisa menggerogoti rasa kemanusiaan.

Pejabat yang terlalu lama bergaul dengan circle-nya yang notabene para pembesar dengan berbagai intrik dan trik dalam mengelola kekuasaan,  bisa kemudian kehilangan kedekatan afektif dengan rakyat. Mereka lupa bahwa di balik setiap kebijakan ada manusia nyata yang terdampak, bukan sekadar mengolah data dalam tabel Excel. Maka, ucapan merendahkan bukan sekadar salah lidah, tapi tanda ada korupsi empati.

Tata Krama yang Luntur

Kita ini konon bangsa yang besar dengan tradisi tata krama. Anak kecil di Jawa sejak dini diajarkan unggah-ungguh. Orang Batak diajari marhormatan. Orang Minang paham adat basandi syarak. Singkatnya sopan santun adalah bagian dari DNA budaya kita. tapi sungguh ironis, justru pejabat yang mestinya jadi panutan malah abai pada tata krama ini. Mereka lebih patuh pada etika kekuasaan ketimbang tetap menjaga etika kemanusiaan. Di podium lebih sering keluar ucapan yang terdengar seenaknya daripada  kata-kata menyejukkan yang bisa menumbuhkan harapan rakyat.

Akibatnya ya, jelas rakyat merasa diremehkan. Demonstrasi kemudian jadi pilihan. Dalam demokrasi itu sendiri pada dasarnya membutuhkan mutual recognition, di mana pejabat mengakui martabat rakyat, dan sebaliknya rakyat percaya pada niat baik pejabat. Begitu empati hilang, kepercayaan runtuh. Rakyat segera turun ke jalan, dan demokrasi berubah jadi ajang saling mecemooh dan mencerca, bukan lagi saling percaya. Alexis de Tocqueville sudah lama mengingatkan, bila kesenjangan terlalu lebar, kaum elit akan kehilangan virtue publik. Mereka sibuk dengan kekayaannya sendiri, sementara rakyat kehilangan teladan.

Di sinilah kemudian kita masuk pada istilah yang yang saya sebut, kemakmuran yang menyesatkan. Kemakmuran, seharusnya membebaskan orang untuk bisa lebih banyak berbuat baik. Tapi yang terjadi kini justru sebaliknya, mereka-mereka para pejabat yang terlalu makmur malah hidup dalam ilusi.

Mereka mengira semua orang punya standar hidup seperti mereka. Mereka sendiri malah jadi  sesat logika karena terjebak dalam balutankemewahan. Erich Fromm menyebut situasi ini sebagai having orientation, hidup yang hanya berpusat pada kepemilikan. Akibatnya, manusia lain dalam hal ini rakyat kebanyakan, tidak lagi dilihat dari martabatnya, melainkan dari manfaatnya. Rakyat bukan lagi subjek, melainkan objek dalam hitung-hitungan politik.

Ganti Orang atau Ubah Sistem?

Tentu saja harus ada solusinya.  Apakah kita harus memberi kuliah etika lagi pada para pejabat yang sudah ubanan? Ya Jujur saja sudah terlambat. Pendidikan moral memang penting, tapi bukan untuk pejabat yang sudah terlalu lama hidup dalam privilese. Mereka bukan lagi dalam masa atau periode belajar sebagai  siswa, mereka mestinya sudah menapaki peran sebagai guru dan pengayom. Maka, yang lebih relevan tentu adalah reformasi struktural.

Karena menyangkut orang-orang yang merasa punya kuasa dan bebal, maka reformasi ini sifatnya memaksa. Perlu adanya transparansi dan akuntabilitas ketat, berlakunya kebijakan redistributif agar jarak si kaya dan si miskin menyempit. Para pejabat ini juga musti wajib turun ke lapangan, bukan sekadar rapat di hotel berbintang.

Jika perlu potong privilese yang malah membuat pejabat lupa rasa. Logika ini  mungkin sama yang dipakai dalam sistem kapitalis yang terus memotong upah buruh agar mereka tetap patuh. Dengan begitu, pejabat dipaksa kembali merasakan denyut nadi rakyat, bukan sekadar membaca grafik.

Memang akhirnya selalu ada wacana untuk ganti saja pejabatnya dengan orang yang paham psikologi dan situasi rakyat. Masalahnya, kalau sistemnya masih sama, orang baik pun bisa ikut terseret dalam arus yang menyesatkan ini. Jalan tengahnya adalah pilih orang yang memang dekat dengan rakyat dan ubah sistem yang bisa menjaga agar pejabat ini tetap dekat dengan rakyat. Pemimpin sederhana tapi sistemnya ruwet, dia akan tetap terperangkap. Sistem yang adil tapi  pemimpinnya arogan, hasilnya  juga akan bobrok. Memang bagaimanapun, keduanya harus berjalan bersama, ada kesimbangan.

Empati Para Pemegang Amanat

Pada akhirnya, mungkin kita lalu bertanya, untuk apa sih, semua kemakmuran itu, kalau ujung-ujungnya kok malah membuat orang lupa jadi manusia? Kemakmuran sebenarnya tidak salah, justru itu yang memang kita semua cari. Tapi kalau kemakmuran justru membuat pejabat kehilangan rasa, menyepelekan penderitaan, dan mengucapkan kata-kata yang menohok rakyat, maka itu bukanlah kemakmuran yang sejati. Itu kemakmuran yang menyesatkan.

Negeri ini tidak butuh pejabat superkaya atau superpintar yang fasih berdebat. Negeri ini butuh pejabat yang tahu cara menunduk, menyapa, dan mengayomi. Karena sehebat-hebatnya kebijakan secara teori, rakyat hanya akan percaya pada mereka yang benar-benar menunjukkan empati.

Ke depan. mari kita jaga bersama, agar demokrasi Indonesia tidak sekadar hidup di gedung megah Senayan, tapi juga di hati rakyat kecil yang menunggu sapaan hangat dari para pemimpinnya yang mengemban amanat mereka. Selamat bertugas pak Menkeu yang baru. Kami mengamati dan menunggu. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Tags: empatinegarapejabatPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tribute to Ma Archana: Dari Gadis Rapuh Menjadi Aktivis Spiritual Tangguh

Next Post

I Wayan lan I Nyoman Sing Nawang Blabar | Satua Bawak Cutet Sugi Lanus

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
I Wayan lan I Nyoman Sing Nawang Blabar  |  Satua Bawak Cutet Sugi Lanus

I Wayan lan I Nyoman Sing Nawang Blabar | Satua Bawak Cutet Sugi Lanus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co