2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kemakmuran yang Menyesatkan

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
September 13, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, belakangan kita melihat di mana para pejabat kita ini lidahnya suka selip. Akhirnya, tiap kali bicara soal rakyat, selalu ada saja kalimat yang bikin rakyat meriang. Baru-baru ini, setelah kursi Menteri Keuangan berpindah dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa, publik langsung disuguhi pernyataan blunder sang menteri baru. Purbaya menyebut demo jalanan hanyalah “suara sebagian kecil rakyat.” Kontan saja, dalam sekejap, mahasiswa ngamuk, BEM geram, dan warganet sibuk bikin meme. Ya memang pada akhirnya ada permintaan maaf, tapi sejarah terlanjur telah tertoreh.

Sungguh ironis, saat pejabat yang mestinya paham tata krama, justru makin sering melontarkan kata dan sikap yang merendahkan. Dari DPR sampai kementerian, sepertinya kita memang sedang hidup di era nirempati pejabat terhadap rakyat. Bagaimana bisa, orang-orang yang sudah dewasa, sekolah tinggi, mengaku pemimpin, digaji rakyat, justru gagal memahami psikologi rakyatnya sendiri.

Atau dalam hal ini khusus saya mungkin yang gagal paham pada psikologi Menkeu kita yang baru. Mungkin gaya beliau memang spontan dan jujur, ceplas-ceplos. Tentu saya yang jadi jahat bila buru-buru menilai beliau tanpa mengenal dan paham kinerjanya lebih lanjut. Lha wong, belum seminggu kerja kok sudah dinilai. Tapi jadi wajar juga kalau yang menilai memang sudah ada trauma.

Empati yang Hilang Dijilat Kemewahan

Banyak kajian sosial menyebut, pejabat yang hidup dalam gelembung privilese perlahan akan kehilangan kepekaan sosial. Mereka yang terbiasa naik mobil dinas, rapat di ruangan ber-AC, dapat tunjangan yang bikin dompet rakyat tampak receh, tentu saja, sangat jauh dari memahami rasanya antre panjang di Puskesmas atau galau mikirin harga minyak goreng dan cabai naik.

Fenomena ini oleh sosiolog Pierre Bourdieu disebut sebagai habitus kelas dominan, yaitu suatu pola pikir yang terbentuk dari posisi sosial tertentu, yang akhirnya membuat seseorang susah memahami realitas kelas lain. Dalam bahasa sederhananya, tidak mungkin pejabat yang setiap hari dijemput ajudan bisa membayangkan rasanya naik bus TransJakarta yang penuh sesak. Atau  mereka yang sibuk membahas faktor-faktor penguat rupiah di forum IMF tentu susah untuk bisa membayangkan rasa resah  ibu-ibu pasar yang bingung kenapa harga beras mendadak melonjak karena itu artinya mengurangi jatah belanja lauk buat anak. Empati mereka telah hilang dalam jilatan kemewahan.

Psikologi sosial juga punya istilah keren untuk ini yaitu empathy gap. Semakin jauh jarak pengalaman hidup, semakin sulit membayangkan apa yang dirasakan orang lain. Artinya, pejabat memang bisa tahu harga sembako naik, tapi tidak merasakan dampaknya. Mereka bisa mengutip data inflasi, tapi tidak merasakan gas yang menggeliat dalam perut keroncongan.

Mereka tahu angka kemiskinan, tapi tidak tahu betapa bingungnya cari pinjaman saat semua temen dan tetangga sudah dihutangi. Inilah kenapa ucapan mereka sering terdengar dingin, merendahkan, bahkan menyesakkan. Karena bagi mereka, penderitaan rakyat hanyalah angka dalam laporan, bukan jiwa dengan air mata.

Korupsi Rasa Kemanusiaan

Lord Acton pernah berkata, “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Banyak orang mengira maksudnya tentu adalah korupsi uang atau kekayaan lain. Padahal di sini terdapat jabaran yan lebih luas, di mana kekuasaan juga bisa menggerogoti rasa kemanusiaan.

Pejabat yang terlalu lama bergaul dengan circle-nya yang notabene para pembesar dengan berbagai intrik dan trik dalam mengelola kekuasaan,  bisa kemudian kehilangan kedekatan afektif dengan rakyat. Mereka lupa bahwa di balik setiap kebijakan ada manusia nyata yang terdampak, bukan sekadar mengolah data dalam tabel Excel. Maka, ucapan merendahkan bukan sekadar salah lidah, tapi tanda ada korupsi empati.

Tata Krama yang Luntur

Kita ini konon bangsa yang besar dengan tradisi tata krama. Anak kecil di Jawa sejak dini diajarkan unggah-ungguh. Orang Batak diajari marhormatan. Orang Minang paham adat basandi syarak. Singkatnya sopan santun adalah bagian dari DNA budaya kita. tapi sungguh ironis, justru pejabat yang mestinya jadi panutan malah abai pada tata krama ini. Mereka lebih patuh pada etika kekuasaan ketimbang tetap menjaga etika kemanusiaan. Di podium lebih sering keluar ucapan yang terdengar seenaknya daripada  kata-kata menyejukkan yang bisa menumbuhkan harapan rakyat.

Akibatnya ya, jelas rakyat merasa diremehkan. Demonstrasi kemudian jadi pilihan. Dalam demokrasi itu sendiri pada dasarnya membutuhkan mutual recognition, di mana pejabat mengakui martabat rakyat, dan sebaliknya rakyat percaya pada niat baik pejabat. Begitu empati hilang, kepercayaan runtuh. Rakyat segera turun ke jalan, dan demokrasi berubah jadi ajang saling mecemooh dan mencerca, bukan lagi saling percaya. Alexis de Tocqueville sudah lama mengingatkan, bila kesenjangan terlalu lebar, kaum elit akan kehilangan virtue publik. Mereka sibuk dengan kekayaannya sendiri, sementara rakyat kehilangan teladan.

Di sinilah kemudian kita masuk pada istilah yang yang saya sebut, kemakmuran yang menyesatkan. Kemakmuran, seharusnya membebaskan orang untuk bisa lebih banyak berbuat baik. Tapi yang terjadi kini justru sebaliknya, mereka-mereka para pejabat yang terlalu makmur malah hidup dalam ilusi.

Mereka mengira semua orang punya standar hidup seperti mereka. Mereka sendiri malah jadi  sesat logika karena terjebak dalam balutankemewahan. Erich Fromm menyebut situasi ini sebagai having orientation, hidup yang hanya berpusat pada kepemilikan. Akibatnya, manusia lain dalam hal ini rakyat kebanyakan, tidak lagi dilihat dari martabatnya, melainkan dari manfaatnya. Rakyat bukan lagi subjek, melainkan objek dalam hitung-hitungan politik.

Ganti Orang atau Ubah Sistem?

Tentu saja harus ada solusinya.  Apakah kita harus memberi kuliah etika lagi pada para pejabat yang sudah ubanan? Ya Jujur saja sudah terlambat. Pendidikan moral memang penting, tapi bukan untuk pejabat yang sudah terlalu lama hidup dalam privilese. Mereka bukan lagi dalam masa atau periode belajar sebagai  siswa, mereka mestinya sudah menapaki peran sebagai guru dan pengayom. Maka, yang lebih relevan tentu adalah reformasi struktural.

Karena menyangkut orang-orang yang merasa punya kuasa dan bebal, maka reformasi ini sifatnya memaksa. Perlu adanya transparansi dan akuntabilitas ketat, berlakunya kebijakan redistributif agar jarak si kaya dan si miskin menyempit. Para pejabat ini juga musti wajib turun ke lapangan, bukan sekadar rapat di hotel berbintang.

Jika perlu potong privilese yang malah membuat pejabat lupa rasa. Logika ini  mungkin sama yang dipakai dalam sistem kapitalis yang terus memotong upah buruh agar mereka tetap patuh. Dengan begitu, pejabat dipaksa kembali merasakan denyut nadi rakyat, bukan sekadar membaca grafik.

Memang akhirnya selalu ada wacana untuk ganti saja pejabatnya dengan orang yang paham psikologi dan situasi rakyat. Masalahnya, kalau sistemnya masih sama, orang baik pun bisa ikut terseret dalam arus yang menyesatkan ini. Jalan tengahnya adalah pilih orang yang memang dekat dengan rakyat dan ubah sistem yang bisa menjaga agar pejabat ini tetap dekat dengan rakyat. Pemimpin sederhana tapi sistemnya ruwet, dia akan tetap terperangkap. Sistem yang adil tapi  pemimpinnya arogan, hasilnya  juga akan bobrok. Memang bagaimanapun, keduanya harus berjalan bersama, ada kesimbangan.

Empati Para Pemegang Amanat

Pada akhirnya, mungkin kita lalu bertanya, untuk apa sih, semua kemakmuran itu, kalau ujung-ujungnya kok malah membuat orang lupa jadi manusia? Kemakmuran sebenarnya tidak salah, justru itu yang memang kita semua cari. Tapi kalau kemakmuran justru membuat pejabat kehilangan rasa, menyepelekan penderitaan, dan mengucapkan kata-kata yang menohok rakyat, maka itu bukanlah kemakmuran yang sejati. Itu kemakmuran yang menyesatkan.

Negeri ini tidak butuh pejabat superkaya atau superpintar yang fasih berdebat. Negeri ini butuh pejabat yang tahu cara menunduk, menyapa, dan mengayomi. Karena sehebat-hebatnya kebijakan secara teori, rakyat hanya akan percaya pada mereka yang benar-benar menunjukkan empati.

Ke depan. mari kita jaga bersama, agar demokrasi Indonesia tidak sekadar hidup di gedung megah Senayan, tapi juga di hati rakyat kecil yang menunggu sapaan hangat dari para pemimpinnya yang mengemban amanat mereka. Selamat bertugas pak Menkeu yang baru. Kami mengamati dan menunggu. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Tags: empatinegarapejabatPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tribute to Ma Archana: Dari Gadis Rapuh Menjadi Aktivis Spiritual Tangguh

Next Post

I Wayan lan I Nyoman Sing Nawang Blabar | Satua Bawak Cutet Sugi Lanus

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
I Wayan lan I Nyoman Sing Nawang Blabar  |  Satua Bawak Cutet Sugi Lanus

I Wayan lan I Nyoman Sing Nawang Blabar | Satua Bawak Cutet Sugi Lanus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co