23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kemakmuran yang Menyesatkan

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
September 13, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, belakangan kita melihat di mana para pejabat kita ini lidahnya suka selip. Akhirnya, tiap kali bicara soal rakyat, selalu ada saja kalimat yang bikin rakyat meriang. Baru-baru ini, setelah kursi Menteri Keuangan berpindah dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa, publik langsung disuguhi pernyataan blunder sang menteri baru. Purbaya menyebut demo jalanan hanyalah “suara sebagian kecil rakyat.” Kontan saja, dalam sekejap, mahasiswa ngamuk, BEM geram, dan warganet sibuk bikin meme. Ya memang pada akhirnya ada permintaan maaf, tapi sejarah terlanjur telah tertoreh.

Sungguh ironis, saat pejabat yang mestinya paham tata krama, justru makin sering melontarkan kata dan sikap yang merendahkan. Dari DPR sampai kementerian, sepertinya kita memang sedang hidup di era nirempati pejabat terhadap rakyat. Bagaimana bisa, orang-orang yang sudah dewasa, sekolah tinggi, mengaku pemimpin, digaji rakyat, justru gagal memahami psikologi rakyatnya sendiri.

Atau dalam hal ini khusus saya mungkin yang gagal paham pada psikologi Menkeu kita yang baru. Mungkin gaya beliau memang spontan dan jujur, ceplas-ceplos. Tentu saya yang jadi jahat bila buru-buru menilai beliau tanpa mengenal dan paham kinerjanya lebih lanjut. Lha wong, belum seminggu kerja kok sudah dinilai. Tapi jadi wajar juga kalau yang menilai memang sudah ada trauma.

Empati yang Hilang Dijilat Kemewahan

Banyak kajian sosial menyebut, pejabat yang hidup dalam gelembung privilese perlahan akan kehilangan kepekaan sosial. Mereka yang terbiasa naik mobil dinas, rapat di ruangan ber-AC, dapat tunjangan yang bikin dompet rakyat tampak receh, tentu saja, sangat jauh dari memahami rasanya antre panjang di Puskesmas atau galau mikirin harga minyak goreng dan cabai naik.

Fenomena ini oleh sosiolog Pierre Bourdieu disebut sebagai habitus kelas dominan, yaitu suatu pola pikir yang terbentuk dari posisi sosial tertentu, yang akhirnya membuat seseorang susah memahami realitas kelas lain. Dalam bahasa sederhananya, tidak mungkin pejabat yang setiap hari dijemput ajudan bisa membayangkan rasanya naik bus TransJakarta yang penuh sesak. Atau  mereka yang sibuk membahas faktor-faktor penguat rupiah di forum IMF tentu susah untuk bisa membayangkan rasa resah  ibu-ibu pasar yang bingung kenapa harga beras mendadak melonjak karena itu artinya mengurangi jatah belanja lauk buat anak. Empati mereka telah hilang dalam jilatan kemewahan.

Psikologi sosial juga punya istilah keren untuk ini yaitu empathy gap. Semakin jauh jarak pengalaman hidup, semakin sulit membayangkan apa yang dirasakan orang lain. Artinya, pejabat memang bisa tahu harga sembako naik, tapi tidak merasakan dampaknya. Mereka bisa mengutip data inflasi, tapi tidak merasakan gas yang menggeliat dalam perut keroncongan.

Mereka tahu angka kemiskinan, tapi tidak tahu betapa bingungnya cari pinjaman saat semua temen dan tetangga sudah dihutangi. Inilah kenapa ucapan mereka sering terdengar dingin, merendahkan, bahkan menyesakkan. Karena bagi mereka, penderitaan rakyat hanyalah angka dalam laporan, bukan jiwa dengan air mata.

Korupsi Rasa Kemanusiaan

Lord Acton pernah berkata, “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Banyak orang mengira maksudnya tentu adalah korupsi uang atau kekayaan lain. Padahal di sini terdapat jabaran yan lebih luas, di mana kekuasaan juga bisa menggerogoti rasa kemanusiaan.

Pejabat yang terlalu lama bergaul dengan circle-nya yang notabene para pembesar dengan berbagai intrik dan trik dalam mengelola kekuasaan,  bisa kemudian kehilangan kedekatan afektif dengan rakyat. Mereka lupa bahwa di balik setiap kebijakan ada manusia nyata yang terdampak, bukan sekadar mengolah data dalam tabel Excel. Maka, ucapan merendahkan bukan sekadar salah lidah, tapi tanda ada korupsi empati.

Tata Krama yang Luntur

Kita ini konon bangsa yang besar dengan tradisi tata krama. Anak kecil di Jawa sejak dini diajarkan unggah-ungguh. Orang Batak diajari marhormatan. Orang Minang paham adat basandi syarak. Singkatnya sopan santun adalah bagian dari DNA budaya kita. tapi sungguh ironis, justru pejabat yang mestinya jadi panutan malah abai pada tata krama ini. Mereka lebih patuh pada etika kekuasaan ketimbang tetap menjaga etika kemanusiaan. Di podium lebih sering keluar ucapan yang terdengar seenaknya daripada  kata-kata menyejukkan yang bisa menumbuhkan harapan rakyat.

Akibatnya ya, jelas rakyat merasa diremehkan. Demonstrasi kemudian jadi pilihan. Dalam demokrasi itu sendiri pada dasarnya membutuhkan mutual recognition, di mana pejabat mengakui martabat rakyat, dan sebaliknya rakyat percaya pada niat baik pejabat. Begitu empati hilang, kepercayaan runtuh. Rakyat segera turun ke jalan, dan demokrasi berubah jadi ajang saling mecemooh dan mencerca, bukan lagi saling percaya. Alexis de Tocqueville sudah lama mengingatkan, bila kesenjangan terlalu lebar, kaum elit akan kehilangan virtue publik. Mereka sibuk dengan kekayaannya sendiri, sementara rakyat kehilangan teladan.

Di sinilah kemudian kita masuk pada istilah yang yang saya sebut, kemakmuran yang menyesatkan. Kemakmuran, seharusnya membebaskan orang untuk bisa lebih banyak berbuat baik. Tapi yang terjadi kini justru sebaliknya, mereka-mereka para pejabat yang terlalu makmur malah hidup dalam ilusi.

Mereka mengira semua orang punya standar hidup seperti mereka. Mereka sendiri malah jadi  sesat logika karena terjebak dalam balutankemewahan. Erich Fromm menyebut situasi ini sebagai having orientation, hidup yang hanya berpusat pada kepemilikan. Akibatnya, manusia lain dalam hal ini rakyat kebanyakan, tidak lagi dilihat dari martabatnya, melainkan dari manfaatnya. Rakyat bukan lagi subjek, melainkan objek dalam hitung-hitungan politik.

Ganti Orang atau Ubah Sistem?

Tentu saja harus ada solusinya.  Apakah kita harus memberi kuliah etika lagi pada para pejabat yang sudah ubanan? Ya Jujur saja sudah terlambat. Pendidikan moral memang penting, tapi bukan untuk pejabat yang sudah terlalu lama hidup dalam privilese. Mereka bukan lagi dalam masa atau periode belajar sebagai  siswa, mereka mestinya sudah menapaki peran sebagai guru dan pengayom. Maka, yang lebih relevan tentu adalah reformasi struktural.

Karena menyangkut orang-orang yang merasa punya kuasa dan bebal, maka reformasi ini sifatnya memaksa. Perlu adanya transparansi dan akuntabilitas ketat, berlakunya kebijakan redistributif agar jarak si kaya dan si miskin menyempit. Para pejabat ini juga musti wajib turun ke lapangan, bukan sekadar rapat di hotel berbintang.

Jika perlu potong privilese yang malah membuat pejabat lupa rasa. Logika ini  mungkin sama yang dipakai dalam sistem kapitalis yang terus memotong upah buruh agar mereka tetap patuh. Dengan begitu, pejabat dipaksa kembali merasakan denyut nadi rakyat, bukan sekadar membaca grafik.

Memang akhirnya selalu ada wacana untuk ganti saja pejabatnya dengan orang yang paham psikologi dan situasi rakyat. Masalahnya, kalau sistemnya masih sama, orang baik pun bisa ikut terseret dalam arus yang menyesatkan ini. Jalan tengahnya adalah pilih orang yang memang dekat dengan rakyat dan ubah sistem yang bisa menjaga agar pejabat ini tetap dekat dengan rakyat. Pemimpin sederhana tapi sistemnya ruwet, dia akan tetap terperangkap. Sistem yang adil tapi  pemimpinnya arogan, hasilnya  juga akan bobrok. Memang bagaimanapun, keduanya harus berjalan bersama, ada kesimbangan.

Empati Para Pemegang Amanat

Pada akhirnya, mungkin kita lalu bertanya, untuk apa sih, semua kemakmuran itu, kalau ujung-ujungnya kok malah membuat orang lupa jadi manusia? Kemakmuran sebenarnya tidak salah, justru itu yang memang kita semua cari. Tapi kalau kemakmuran justru membuat pejabat kehilangan rasa, menyepelekan penderitaan, dan mengucapkan kata-kata yang menohok rakyat, maka itu bukanlah kemakmuran yang sejati. Itu kemakmuran yang menyesatkan.

Negeri ini tidak butuh pejabat superkaya atau superpintar yang fasih berdebat. Negeri ini butuh pejabat yang tahu cara menunduk, menyapa, dan mengayomi. Karena sehebat-hebatnya kebijakan secara teori, rakyat hanya akan percaya pada mereka yang benar-benar menunjukkan empati.

Ke depan. mari kita jaga bersama, agar demokrasi Indonesia tidak sekadar hidup di gedung megah Senayan, tapi juga di hati rakyat kecil yang menunggu sapaan hangat dari para pemimpinnya yang mengemban amanat mereka. Selamat bertugas pak Menkeu yang baru. Kami mengamati dan menunggu. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Tags: empatinegarapejabatPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tribute to Ma Archana: Dari Gadis Rapuh Menjadi Aktivis Spiritual Tangguh

Next Post

I Wayan lan I Nyoman Sing Nawang Blabar | Satua Bawak Cutet Sugi Lanus

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
I Wayan lan I Nyoman Sing Nawang Blabar  |  Satua Bawak Cutet Sugi Lanus

I Wayan lan I Nyoman Sing Nawang Blabar | Satua Bawak Cutet Sugi Lanus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co