12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kemakmuran yang Menyesatkan

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
September 13, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, belakangan kita melihat di mana para pejabat kita ini lidahnya suka selip. Akhirnya, tiap kali bicara soal rakyat, selalu ada saja kalimat yang bikin rakyat meriang. Baru-baru ini, setelah kursi Menteri Keuangan berpindah dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa, publik langsung disuguhi pernyataan blunder sang menteri baru. Purbaya menyebut demo jalanan hanyalah “suara sebagian kecil rakyat.” Kontan saja, dalam sekejap, mahasiswa ngamuk, BEM geram, dan warganet sibuk bikin meme. Ya memang pada akhirnya ada permintaan maaf, tapi sejarah terlanjur telah tertoreh.

Sungguh ironis, saat pejabat yang mestinya paham tata krama, justru makin sering melontarkan kata dan sikap yang merendahkan. Dari DPR sampai kementerian, sepertinya kita memang sedang hidup di era nirempati pejabat terhadap rakyat. Bagaimana bisa, orang-orang yang sudah dewasa, sekolah tinggi, mengaku pemimpin, digaji rakyat, justru gagal memahami psikologi rakyatnya sendiri.

Atau dalam hal ini khusus saya mungkin yang gagal paham pada psikologi Menkeu kita yang baru. Mungkin gaya beliau memang spontan dan jujur, ceplas-ceplos. Tentu saya yang jadi jahat bila buru-buru menilai beliau tanpa mengenal dan paham kinerjanya lebih lanjut. Lha wong, belum seminggu kerja kok sudah dinilai. Tapi jadi wajar juga kalau yang menilai memang sudah ada trauma.

Empati yang Hilang Dijilat Kemewahan

Banyak kajian sosial menyebut, pejabat yang hidup dalam gelembung privilese perlahan akan kehilangan kepekaan sosial. Mereka yang terbiasa naik mobil dinas, rapat di ruangan ber-AC, dapat tunjangan yang bikin dompet rakyat tampak receh, tentu saja, sangat jauh dari memahami rasanya antre panjang di Puskesmas atau galau mikirin harga minyak goreng dan cabai naik.

Fenomena ini oleh sosiolog Pierre Bourdieu disebut sebagai habitus kelas dominan, yaitu suatu pola pikir yang terbentuk dari posisi sosial tertentu, yang akhirnya membuat seseorang susah memahami realitas kelas lain. Dalam bahasa sederhananya, tidak mungkin pejabat yang setiap hari dijemput ajudan bisa membayangkan rasanya naik bus TransJakarta yang penuh sesak. Atau  mereka yang sibuk membahas faktor-faktor penguat rupiah di forum IMF tentu susah untuk bisa membayangkan rasa resah  ibu-ibu pasar yang bingung kenapa harga beras mendadak melonjak karena itu artinya mengurangi jatah belanja lauk buat anak. Empati mereka telah hilang dalam jilatan kemewahan.

Psikologi sosial juga punya istilah keren untuk ini yaitu empathy gap. Semakin jauh jarak pengalaman hidup, semakin sulit membayangkan apa yang dirasakan orang lain. Artinya, pejabat memang bisa tahu harga sembako naik, tapi tidak merasakan dampaknya. Mereka bisa mengutip data inflasi, tapi tidak merasakan gas yang menggeliat dalam perut keroncongan.

Mereka tahu angka kemiskinan, tapi tidak tahu betapa bingungnya cari pinjaman saat semua temen dan tetangga sudah dihutangi. Inilah kenapa ucapan mereka sering terdengar dingin, merendahkan, bahkan menyesakkan. Karena bagi mereka, penderitaan rakyat hanyalah angka dalam laporan, bukan jiwa dengan air mata.

Korupsi Rasa Kemanusiaan

Lord Acton pernah berkata, “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Banyak orang mengira maksudnya tentu adalah korupsi uang atau kekayaan lain. Padahal di sini terdapat jabaran yan lebih luas, di mana kekuasaan juga bisa menggerogoti rasa kemanusiaan.

Pejabat yang terlalu lama bergaul dengan circle-nya yang notabene para pembesar dengan berbagai intrik dan trik dalam mengelola kekuasaan,  bisa kemudian kehilangan kedekatan afektif dengan rakyat. Mereka lupa bahwa di balik setiap kebijakan ada manusia nyata yang terdampak, bukan sekadar mengolah data dalam tabel Excel. Maka, ucapan merendahkan bukan sekadar salah lidah, tapi tanda ada korupsi empati.

Tata Krama yang Luntur

Kita ini konon bangsa yang besar dengan tradisi tata krama. Anak kecil di Jawa sejak dini diajarkan unggah-ungguh. Orang Batak diajari marhormatan. Orang Minang paham adat basandi syarak. Singkatnya sopan santun adalah bagian dari DNA budaya kita. tapi sungguh ironis, justru pejabat yang mestinya jadi panutan malah abai pada tata krama ini. Mereka lebih patuh pada etika kekuasaan ketimbang tetap menjaga etika kemanusiaan. Di podium lebih sering keluar ucapan yang terdengar seenaknya daripada  kata-kata menyejukkan yang bisa menumbuhkan harapan rakyat.

Akibatnya ya, jelas rakyat merasa diremehkan. Demonstrasi kemudian jadi pilihan. Dalam demokrasi itu sendiri pada dasarnya membutuhkan mutual recognition, di mana pejabat mengakui martabat rakyat, dan sebaliknya rakyat percaya pada niat baik pejabat. Begitu empati hilang, kepercayaan runtuh. Rakyat segera turun ke jalan, dan demokrasi berubah jadi ajang saling mecemooh dan mencerca, bukan lagi saling percaya. Alexis de Tocqueville sudah lama mengingatkan, bila kesenjangan terlalu lebar, kaum elit akan kehilangan virtue publik. Mereka sibuk dengan kekayaannya sendiri, sementara rakyat kehilangan teladan.

Di sinilah kemudian kita masuk pada istilah yang yang saya sebut, kemakmuran yang menyesatkan. Kemakmuran, seharusnya membebaskan orang untuk bisa lebih banyak berbuat baik. Tapi yang terjadi kini justru sebaliknya, mereka-mereka para pejabat yang terlalu makmur malah hidup dalam ilusi.

Mereka mengira semua orang punya standar hidup seperti mereka. Mereka sendiri malah jadi  sesat logika karena terjebak dalam balutankemewahan. Erich Fromm menyebut situasi ini sebagai having orientation, hidup yang hanya berpusat pada kepemilikan. Akibatnya, manusia lain dalam hal ini rakyat kebanyakan, tidak lagi dilihat dari martabatnya, melainkan dari manfaatnya. Rakyat bukan lagi subjek, melainkan objek dalam hitung-hitungan politik.

Ganti Orang atau Ubah Sistem?

Tentu saja harus ada solusinya.  Apakah kita harus memberi kuliah etika lagi pada para pejabat yang sudah ubanan? Ya Jujur saja sudah terlambat. Pendidikan moral memang penting, tapi bukan untuk pejabat yang sudah terlalu lama hidup dalam privilese. Mereka bukan lagi dalam masa atau periode belajar sebagai  siswa, mereka mestinya sudah menapaki peran sebagai guru dan pengayom. Maka, yang lebih relevan tentu adalah reformasi struktural.

Karena menyangkut orang-orang yang merasa punya kuasa dan bebal, maka reformasi ini sifatnya memaksa. Perlu adanya transparansi dan akuntabilitas ketat, berlakunya kebijakan redistributif agar jarak si kaya dan si miskin menyempit. Para pejabat ini juga musti wajib turun ke lapangan, bukan sekadar rapat di hotel berbintang.

Jika perlu potong privilese yang malah membuat pejabat lupa rasa. Logika ini  mungkin sama yang dipakai dalam sistem kapitalis yang terus memotong upah buruh agar mereka tetap patuh. Dengan begitu, pejabat dipaksa kembali merasakan denyut nadi rakyat, bukan sekadar membaca grafik.

Memang akhirnya selalu ada wacana untuk ganti saja pejabatnya dengan orang yang paham psikologi dan situasi rakyat. Masalahnya, kalau sistemnya masih sama, orang baik pun bisa ikut terseret dalam arus yang menyesatkan ini. Jalan tengahnya adalah pilih orang yang memang dekat dengan rakyat dan ubah sistem yang bisa menjaga agar pejabat ini tetap dekat dengan rakyat. Pemimpin sederhana tapi sistemnya ruwet, dia akan tetap terperangkap. Sistem yang adil tapi  pemimpinnya arogan, hasilnya  juga akan bobrok. Memang bagaimanapun, keduanya harus berjalan bersama, ada kesimbangan.

Empati Para Pemegang Amanat

Pada akhirnya, mungkin kita lalu bertanya, untuk apa sih, semua kemakmuran itu, kalau ujung-ujungnya kok malah membuat orang lupa jadi manusia? Kemakmuran sebenarnya tidak salah, justru itu yang memang kita semua cari. Tapi kalau kemakmuran justru membuat pejabat kehilangan rasa, menyepelekan penderitaan, dan mengucapkan kata-kata yang menohok rakyat, maka itu bukanlah kemakmuran yang sejati. Itu kemakmuran yang menyesatkan.

Negeri ini tidak butuh pejabat superkaya atau superpintar yang fasih berdebat. Negeri ini butuh pejabat yang tahu cara menunduk, menyapa, dan mengayomi. Karena sehebat-hebatnya kebijakan secara teori, rakyat hanya akan percaya pada mereka yang benar-benar menunjukkan empati.

Ke depan. mari kita jaga bersama, agar demokrasi Indonesia tidak sekadar hidup di gedung megah Senayan, tapi juga di hati rakyat kecil yang menunggu sapaan hangat dari para pemimpinnya yang mengemban amanat mereka. Selamat bertugas pak Menkeu yang baru. Kami mengamati dan menunggu. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Tags: empatinegarapejabatPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tribute to Ma Archana: Dari Gadis Rapuh Menjadi Aktivis Spiritual Tangguh

Next Post

I Wayan lan I Nyoman Sing Nawang Blabar | Satua Bawak Cutet Sugi Lanus

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
I Wayan lan I Nyoman Sing Nawang Blabar  |  Satua Bawak Cutet Sugi Lanus

I Wayan lan I Nyoman Sing Nawang Blabar | Satua Bawak Cutet Sugi Lanus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co