24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
in Kuliner
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

Ni Ketut Sami menyiapkan pesanan nasi bungkus │Foto: tatkala.co/Dede

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke dalam rumah mencari tempat duduk. Di belakangnya, dua temannya menyusul sambil menertawakan tingkahnya.

Hal semacam itu sudah biasa terjadi di Warung Nasi Lawar Dugong 21 – warung makan yang setiap malam selalu ramai. Tapi tak banyak yang tahu, warung ini dibangun dari perjalanan panjang yang tak mulus.

Lokasinya strategis, di pinggir jalan, tepat sebelah utara Indomaret Guwang, Sukawati. Warung itu mencolok, lampu-lampunya menyala terang, menerangi meja-meja kayu yang tertata rapi, baik di teras warung maupun di pekarangan rumah. Setiap malam, aroma soto panas, lawar segar, dan sate yang baru dipanggang menguar di teras warung. Orang datang karena lapar, rindu, atau sekadar ingin tahu.

Tangan Ni Ketut Sami mengaduk lawar │Foto: tatkala.co/Dede

Di balik meja saji, tangan Ni Ketut Sami (69) bergerak cekatan, mengaduk lawar dengan gerakan yang sudah menyatu dengan denyut malam. Tak ada resep tertulis. Semua datang dari ingatan, dari kebiasaan, dari rasa yang diwariskan. Tak jauh dari sana, sang suami, I Wayan Balik Dudug (68), masih setia menemani. Kadang membantu, kadang duduk mengawasi, sesekali menyapa pelanggan setia yang sudah seperti kawan lama.

Tiga puluh tahun lalu, ketika awal 90-an, semua bermula bukan dari bisnis kuliner, melainkan dari lapak kecil penjual kaset. Setelah menikah pada 1974, Sami dan Dudug membuka usaha itu demi menghidupi lima anak perempuan mereka. Cukup untuk hidup sederhana, asal bisa makan dan menyekolahkan anak.

Masa-masa itu tak selalu mudah. Suatu hari, anak ketiga mereka mulai jatuh sakit. Usianya masih kecil, masih duduk di bangku sekolah dasar. Tubuhnya kian melemah, Dudug dan Sami pun berkeliling, mencari pengobatan, menggantungkan harapan. Uang perlahan habis, tapi yang paling menyakitkan, sang anak tak tertolong. Ia pergi lebih dulu, meninggalkan luka mendalam, membuat mereka begitu terpukul.

“Waktu itu perasaan nggak karuan, seperti ikut mati. Semua aset dijual untuk pengobatan,” ujar Dudug lirih.

Warung Nasi Lawar Dugong 21 │Foto: tatkala.co/Dede

Lapak kaset pun ditutup. Mereka mulai lagi dari nol: jualan kopi, bensin eceran, hingga lawar penyu yang dulu masih legal. Ketika penjualan penyu dilarang, mereka beralih ke lawar ayam, lalu datang flu burung. Kemudian beralih ke lawar babi, tak lama, flu babi datang. Setiap kali seperti itu, hidup seolah menggiring mereka ke ujung, lalu mendorong, menunggu apakah mereka akan jatuh atau melompat.

Dan mereka selalu memilih untuk melompat. Seperti dugong yang terus berenang meski laut tak selalu tenang, berusaha mencari cara untuk bertahan. Itulah filosofi “Dugong”, yang mereka jadikan nama warung – lambang ketangguhan. Sementara “21”, diambil dari suku kata pertama nama mereka: Du dari Dudug, Sa dari Sami. Nama itu bukan sekadar identitas, tapi penanda perjalanan, cinta yang diuji, kesedihan yang bukan alasan untuk berhenti, dan ketekunan tanpa menuntut untuk dilihat.

Dari pagi jadi malam: titik balik di malam Siwaratri

Titik balik datang pada malam Siwaratri 2019. Warung yang awalnya hanya buka pagi, malam itu mencoba berjualan malam. Tak diduga, warung ramai. Anak-anak muda datang berbondong-bondong. Meja di teras warung tak cukup menampung, sebagian masuk dan makan di pekarangan rumah.

Sejak saat itu, Warung Dugong 21 mantap jadi kuliner malam. Kini, sedari pukul lima sore, sebelas orang: anak, cucu, dan karyawan yang sudah seperti saudara, bergerak bersama, berbagi tugas, menyiapkan segala piranti. Menu utamanya lawar merah: campuran daging cincang, darah segar, sayur kacang panjang, kelapa parut, rames (irisan kulit babi), dan basa genep (bumbu khas Bali). Pelanggan juga bisa request lawar: lebih sayur, lebih daging, tanpa darah, atau apa pun sesuai selera.

Ayu Rai (26), cucu Dudug dan Sami, kini ikut menjaga warung. Ia tumbuh di antara uap soto dan adukan lawar. “Banyak yang bilang, makan di sini kayak di resepsi,” katanya sambil tersenyum. 

Kadang ia ikut membantu membungkus, kadang mengantar pesanan ke meja. Gerak tubuhnya cekatan, tapi wajahnya tetap lembut, seperti orang yang tahu bahwa warung ini punya makna lebih dari sekadar jualan.

Ayu Rai saat menyiapkan soto │Foto: tatkala.co/Dede

Dua porsi nasi lawar di Warung Dugong 21 │Foto: tatkala.co/Dede

Dengan harga dua puluh ribuan, seporsi nasi lawar lengkap dengan sate, soto, dan minuman bisa dinikmati. Beberapa pelanggan bahkan datang hanya untuk membungkus sate atau soto hangat. Di meja saji, tumpukan sate selalu menggoda. Tak jarang, pembeli mengambil satu-dua sate tambahan, sembari menanti seporsi nasi lawar. Mereka tak keberatan membayar lebih.

Menjelang pukul delapan malam, warung semakin ramai. Meja-meja di pekarangan rumah nyaris penuh. Sebagian pelanggan rela menunggu agar bisa makan di tempat. Di salah satu sudut pekarangan, tiga anak muda duduk bersisian sambil menunggu pesanan mereka.

“Ini yang viral itu, kan?” tanya salah satu dari mereka.

“Iya, aku lihat di TikTok. Katanya lawar dan satenya enak,” sahut temannya.

Tak lama kemudian, Ayu datang membawa nampan berisi tiga piring: nasi lawar, minuman, dan soto panas. Uapnya langsung naik bersama aroma bumbu yang tajam dan gurih.

“Wah, baunya aja udah bikin lupa diet,” celetuk yang paling muda di antara mereka.

Di meja lain, seorang pemuda makan dengan tenang. Ia menyuap nasi, kemudian menyeruput soto pelan. “Pertama ke sini karena penasaran, sekarang malah jadi langganan. Saya paling suka sate dan sotonya,” kata Bayu Apriana (22), pelanggan muda asal Karangasem.

Tak jauh dari situ, Eka, pemuda dari Batubulan, ikut menimpali sambil menoleh ke arah temannya. “Saya ke sini pertama kali waktu patah hati. Sembuhnya bukan karena waktu, tapi karena lawar Dugong 21,” katanya sambil tertawa ringan bersama teman-temannya.

Ayu yang lewat sempat mendengar. Ia hanya geleng-geleng kecil sambil tersenyum, lalu kembali ke depan rumah, membantu di meja saji.

Suasana di dalam rumah │Foto: tatkala.co/Dede

Malam terus berjalan, tapi antrean belum juga surut. Beberapa pelanggan datang dari luar Gianyar karena melihat unggahan di media sosial, ada juga beberapa turis asing yang mampir karena diajak oleh tour guide-nya. Selain itu, banyak juga yang datang karena cerita sederhana dari saudara, teman, atau tetangga – cerita yang terus berpindah dari mulut ke mulut.

Bagi yang benar-benar mengenal tempat ini, Dugong 21 bukan sekadar warung makan. Ia adalah bukti bahwa ketekunan dan kasih sayang bisa bertahan melewati waktu dan cobaan. Warung ini tumbuh dari kehilangan, tapi justru melahirkan harapan. Di sini, keluarga bekerja bersama, bukan hanya untuk menghidupi, tapi menjaga sesuatu yang lebih penting, yaitu rasa yang lahir dari kesabaran.

Jadi, kalau suatu malam melintasi Desa Guwang, tengoklah ke pinggir jalan, tepat di sebelah utara Indomaret. Di sana, Warung Dugong 21 tetap menyala, bukan hanya karena lampunya, tapi karena cinta dan ketekunan yang tak pernah padam. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Gde Aryantha Soethama

  • Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu karya dalam buku Kumpulan Berita Kisah “Sukawati, Ya Seni” karya Dede Putra Wiguna (Prasasti, 2025).
Tags: baliDesa Guwanglawarlawar balimasakan tradisionalsukawati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Campah’ Menciptakan Sampah

Next Post

Pesan 7 Perupa Wanita Lewat Karya Lukisnya di ARTOTEL Sanur

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails

Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

by Putu Ayu Ariani
October 16, 2025
0
Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

DINI hari di Desa Banjar, Kabupaten Buleleng, suasana masih diselimuti udara dingin. Namun di depan sebuah warung sederhana, cahaya api...

Read moreDetails

“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

by Ni Wayan Suwini
October 10, 2025
0
“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

JALAN Hayam Wuruk, Denpasar, pagi itu. Deru kendaraan, suara klakson yang saling bersahutan, dan rutinitas kota yang jarang berhenti terasa...

Read moreDetails

Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

by Dian Suryantini
October 5, 2025
0
Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

SEJAK pukul 16.00 wita, anak-anak di Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Tabanan, telah berkumpul di sawah. Mereka sedang menanti...

Read moreDetails
Next Post
Pesan 7 Perupa Wanita Lewat Karya Lukisnya di ARTOTEL Sanur

Pesan 7 Perupa Wanita Lewat Karya Lukisnya di ARTOTEL Sanur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co