23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
in Kuliner
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

Ni Ketut Sami menyiapkan pesanan nasi bungkus │Foto: tatkala.co/Dede

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke dalam rumah mencari tempat duduk. Di belakangnya, dua temannya menyusul sambil menertawakan tingkahnya.

Hal semacam itu sudah biasa terjadi di Warung Nasi Lawar Dugong 21 – warung makan yang setiap malam selalu ramai. Tapi tak banyak yang tahu, warung ini dibangun dari perjalanan panjang yang tak mulus.

Lokasinya strategis, di pinggir jalan, tepat sebelah utara Indomaret Guwang, Sukawati. Warung itu mencolok, lampu-lampunya menyala terang, menerangi meja-meja kayu yang tertata rapi, baik di teras warung maupun di pekarangan rumah. Setiap malam, aroma soto panas, lawar segar, dan sate yang baru dipanggang menguar di teras warung. Orang datang karena lapar, rindu, atau sekadar ingin tahu.

Tangan Ni Ketut Sami mengaduk lawar │Foto: tatkala.co/Dede

Di balik meja saji, tangan Ni Ketut Sami (69) bergerak cekatan, mengaduk lawar dengan gerakan yang sudah menyatu dengan denyut malam. Tak ada resep tertulis. Semua datang dari ingatan, dari kebiasaan, dari rasa yang diwariskan. Tak jauh dari sana, sang suami, I Wayan Balik Dudug (68), masih setia menemani. Kadang membantu, kadang duduk mengawasi, sesekali menyapa pelanggan setia yang sudah seperti kawan lama.

Tiga puluh tahun lalu, ketika awal 90-an, semua bermula bukan dari bisnis kuliner, melainkan dari lapak kecil penjual kaset. Setelah menikah pada 1974, Sami dan Dudug membuka usaha itu demi menghidupi lima anak perempuan mereka. Cukup untuk hidup sederhana, asal bisa makan dan menyekolahkan anak.

Masa-masa itu tak selalu mudah. Suatu hari, anak ketiga mereka mulai jatuh sakit. Usianya masih kecil, masih duduk di bangku sekolah dasar. Tubuhnya kian melemah, Dudug dan Sami pun berkeliling, mencari pengobatan, menggantungkan harapan. Uang perlahan habis, tapi yang paling menyakitkan, sang anak tak tertolong. Ia pergi lebih dulu, meninggalkan luka mendalam, membuat mereka begitu terpukul.

“Waktu itu perasaan nggak karuan, seperti ikut mati. Semua aset dijual untuk pengobatan,” ujar Dudug lirih.

Warung Nasi Lawar Dugong 21 │Foto: tatkala.co/Dede

Lapak kaset pun ditutup. Mereka mulai lagi dari nol: jualan kopi, bensin eceran, hingga lawar penyu yang dulu masih legal. Ketika penjualan penyu dilarang, mereka beralih ke lawar ayam, lalu datang flu burung. Kemudian beralih ke lawar babi, tak lama, flu babi datang. Setiap kali seperti itu, hidup seolah menggiring mereka ke ujung, lalu mendorong, menunggu apakah mereka akan jatuh atau melompat.

Dan mereka selalu memilih untuk melompat. Seperti dugong yang terus berenang meski laut tak selalu tenang, berusaha mencari cara untuk bertahan. Itulah filosofi “Dugong”, yang mereka jadikan nama warung – lambang ketangguhan. Sementara “21”, diambil dari suku kata pertama nama mereka: Du dari Dudug, Sa dari Sami. Nama itu bukan sekadar identitas, tapi penanda perjalanan, cinta yang diuji, kesedihan yang bukan alasan untuk berhenti, dan ketekunan tanpa menuntut untuk dilihat.

Dari pagi jadi malam: titik balik di malam Siwaratri

Titik balik datang pada malam Siwaratri 2019. Warung yang awalnya hanya buka pagi, malam itu mencoba berjualan malam. Tak diduga, warung ramai. Anak-anak muda datang berbondong-bondong. Meja di teras warung tak cukup menampung, sebagian masuk dan makan di pekarangan rumah.

Sejak saat itu, Warung Dugong 21 mantap jadi kuliner malam. Kini, sedari pukul lima sore, sebelas orang: anak, cucu, dan karyawan yang sudah seperti saudara, bergerak bersama, berbagi tugas, menyiapkan segala piranti. Menu utamanya lawar merah: campuran daging cincang, darah segar, sayur kacang panjang, kelapa parut, rames (irisan kulit babi), dan basa genep (bumbu khas Bali). Pelanggan juga bisa request lawar: lebih sayur, lebih daging, tanpa darah, atau apa pun sesuai selera.

Ayu Rai (26), cucu Dudug dan Sami, kini ikut menjaga warung. Ia tumbuh di antara uap soto dan adukan lawar. “Banyak yang bilang, makan di sini kayak di resepsi,” katanya sambil tersenyum. 

Kadang ia ikut membantu membungkus, kadang mengantar pesanan ke meja. Gerak tubuhnya cekatan, tapi wajahnya tetap lembut, seperti orang yang tahu bahwa warung ini punya makna lebih dari sekadar jualan.

Ayu Rai saat menyiapkan soto │Foto: tatkala.co/Dede

Dua porsi nasi lawar di Warung Dugong 21 │Foto: tatkala.co/Dede

Dengan harga dua puluh ribuan, seporsi nasi lawar lengkap dengan sate, soto, dan minuman bisa dinikmati. Beberapa pelanggan bahkan datang hanya untuk membungkus sate atau soto hangat. Di meja saji, tumpukan sate selalu menggoda. Tak jarang, pembeli mengambil satu-dua sate tambahan, sembari menanti seporsi nasi lawar. Mereka tak keberatan membayar lebih.

Menjelang pukul delapan malam, warung semakin ramai. Meja-meja di pekarangan rumah nyaris penuh. Sebagian pelanggan rela menunggu agar bisa makan di tempat. Di salah satu sudut pekarangan, tiga anak muda duduk bersisian sambil menunggu pesanan mereka.

“Ini yang viral itu, kan?” tanya salah satu dari mereka.

“Iya, aku lihat di TikTok. Katanya lawar dan satenya enak,” sahut temannya.

Tak lama kemudian, Ayu datang membawa nampan berisi tiga piring: nasi lawar, minuman, dan soto panas. Uapnya langsung naik bersama aroma bumbu yang tajam dan gurih.

“Wah, baunya aja udah bikin lupa diet,” celetuk yang paling muda di antara mereka.

Di meja lain, seorang pemuda makan dengan tenang. Ia menyuap nasi, kemudian menyeruput soto pelan. “Pertama ke sini karena penasaran, sekarang malah jadi langganan. Saya paling suka sate dan sotonya,” kata Bayu Apriana (22), pelanggan muda asal Karangasem.

Tak jauh dari situ, Eka, pemuda dari Batubulan, ikut menimpali sambil menoleh ke arah temannya. “Saya ke sini pertama kali waktu patah hati. Sembuhnya bukan karena waktu, tapi karena lawar Dugong 21,” katanya sambil tertawa ringan bersama teman-temannya.

Ayu yang lewat sempat mendengar. Ia hanya geleng-geleng kecil sambil tersenyum, lalu kembali ke depan rumah, membantu di meja saji.

Suasana di dalam rumah │Foto: tatkala.co/Dede

Malam terus berjalan, tapi antrean belum juga surut. Beberapa pelanggan datang dari luar Gianyar karena melihat unggahan di media sosial, ada juga beberapa turis asing yang mampir karena diajak oleh tour guide-nya. Selain itu, banyak juga yang datang karena cerita sederhana dari saudara, teman, atau tetangga – cerita yang terus berpindah dari mulut ke mulut.

Bagi yang benar-benar mengenal tempat ini, Dugong 21 bukan sekadar warung makan. Ia adalah bukti bahwa ketekunan dan kasih sayang bisa bertahan melewati waktu dan cobaan. Warung ini tumbuh dari kehilangan, tapi justru melahirkan harapan. Di sini, keluarga bekerja bersama, bukan hanya untuk menghidupi, tapi menjaga sesuatu yang lebih penting, yaitu rasa yang lahir dari kesabaran.

Jadi, kalau suatu malam melintasi Desa Guwang, tengoklah ke pinggir jalan, tepat di sebelah utara Indomaret. Di sana, Warung Dugong 21 tetap menyala, bukan hanya karena lampunya, tapi karena cinta dan ketekunan yang tak pernah padam. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Gde Aryantha Soethama

  • Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu karya dalam buku Kumpulan Berita Kisah “Sukawati, Ya Seni” karya Dede Putra Wiguna (Prasasti, 2025).
Tags: baliDesa Guwanglawarlawar balimasakan tradisionalsukawati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Campah’ Menciptakan Sampah

Next Post

Pesan 7 Perupa Wanita Lewat Karya Lukisnya di ARTOTEL Sanur

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
Pesan 7 Perupa Wanita Lewat Karya Lukisnya di ARTOTEL Sanur

Pesan 7 Perupa Wanita Lewat Karya Lukisnya di ARTOTEL Sanur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co