14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
in Kuliner
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

Ni Ketut Sami menyiapkan pesanan nasi bungkus │Foto: tatkala.co/Dede

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke dalam rumah mencari tempat duduk. Di belakangnya, dua temannya menyusul sambil menertawakan tingkahnya.

Hal semacam itu sudah biasa terjadi di Warung Nasi Lawar Dugong 21 – warung makan yang setiap malam selalu ramai. Tapi tak banyak yang tahu, warung ini dibangun dari perjalanan panjang yang tak mulus.

Lokasinya strategis, di pinggir jalan, tepat sebelah utara Indomaret Guwang, Sukawati. Warung itu mencolok, lampu-lampunya menyala terang, menerangi meja-meja kayu yang tertata rapi, baik di teras warung maupun di pekarangan rumah. Setiap malam, aroma soto panas, lawar segar, dan sate yang baru dipanggang menguar di teras warung. Orang datang karena lapar, rindu, atau sekadar ingin tahu.

Tangan Ni Ketut Sami mengaduk lawar │Foto: tatkala.co/Dede

Di balik meja saji, tangan Ni Ketut Sami (69) bergerak cekatan, mengaduk lawar dengan gerakan yang sudah menyatu dengan denyut malam. Tak ada resep tertulis. Semua datang dari ingatan, dari kebiasaan, dari rasa yang diwariskan. Tak jauh dari sana, sang suami, I Wayan Balik Dudug (68), masih setia menemani. Kadang membantu, kadang duduk mengawasi, sesekali menyapa pelanggan setia yang sudah seperti kawan lama.

Tiga puluh tahun lalu, ketika awal 90-an, semua bermula bukan dari bisnis kuliner, melainkan dari lapak kecil penjual kaset. Setelah menikah pada 1974, Sami dan Dudug membuka usaha itu demi menghidupi lima anak perempuan mereka. Cukup untuk hidup sederhana, asal bisa makan dan menyekolahkan anak.

Masa-masa itu tak selalu mudah. Suatu hari, anak ketiga mereka mulai jatuh sakit. Usianya masih kecil, masih duduk di bangku sekolah dasar. Tubuhnya kian melemah, Dudug dan Sami pun berkeliling, mencari pengobatan, menggantungkan harapan. Uang perlahan habis, tapi yang paling menyakitkan, sang anak tak tertolong. Ia pergi lebih dulu, meninggalkan luka mendalam, membuat mereka begitu terpukul.

“Waktu itu perasaan nggak karuan, seperti ikut mati. Semua aset dijual untuk pengobatan,” ujar Dudug lirih.

Warung Nasi Lawar Dugong 21 │Foto: tatkala.co/Dede

Lapak kaset pun ditutup. Mereka mulai lagi dari nol: jualan kopi, bensin eceran, hingga lawar penyu yang dulu masih legal. Ketika penjualan penyu dilarang, mereka beralih ke lawar ayam, lalu datang flu burung. Kemudian beralih ke lawar babi, tak lama, flu babi datang. Setiap kali seperti itu, hidup seolah menggiring mereka ke ujung, lalu mendorong, menunggu apakah mereka akan jatuh atau melompat.

Dan mereka selalu memilih untuk melompat. Seperti dugong yang terus berenang meski laut tak selalu tenang, berusaha mencari cara untuk bertahan. Itulah filosofi “Dugong”, yang mereka jadikan nama warung – lambang ketangguhan. Sementara “21”, diambil dari suku kata pertama nama mereka: Du dari Dudug, Sa dari Sami. Nama itu bukan sekadar identitas, tapi penanda perjalanan, cinta yang diuji, kesedihan yang bukan alasan untuk berhenti, dan ketekunan tanpa menuntut untuk dilihat.

Dari pagi jadi malam: titik balik di malam Siwaratri

Titik balik datang pada malam Siwaratri 2019. Warung yang awalnya hanya buka pagi, malam itu mencoba berjualan malam. Tak diduga, warung ramai. Anak-anak muda datang berbondong-bondong. Meja di teras warung tak cukup menampung, sebagian masuk dan makan di pekarangan rumah.

Sejak saat itu, Warung Dugong 21 mantap jadi kuliner malam. Kini, sedari pukul lima sore, sebelas orang: anak, cucu, dan karyawan yang sudah seperti saudara, bergerak bersama, berbagi tugas, menyiapkan segala piranti. Menu utamanya lawar merah: campuran daging cincang, darah segar, sayur kacang panjang, kelapa parut, rames (irisan kulit babi), dan basa genep (bumbu khas Bali). Pelanggan juga bisa request lawar: lebih sayur, lebih daging, tanpa darah, atau apa pun sesuai selera.

Ayu Rai (26), cucu Dudug dan Sami, kini ikut menjaga warung. Ia tumbuh di antara uap soto dan adukan lawar. “Banyak yang bilang, makan di sini kayak di resepsi,” katanya sambil tersenyum. 

Kadang ia ikut membantu membungkus, kadang mengantar pesanan ke meja. Gerak tubuhnya cekatan, tapi wajahnya tetap lembut, seperti orang yang tahu bahwa warung ini punya makna lebih dari sekadar jualan.

Ayu Rai saat menyiapkan soto │Foto: tatkala.co/Dede

Dua porsi nasi lawar di Warung Dugong 21 │Foto: tatkala.co/Dede

Dengan harga dua puluh ribuan, seporsi nasi lawar lengkap dengan sate, soto, dan minuman bisa dinikmati. Beberapa pelanggan bahkan datang hanya untuk membungkus sate atau soto hangat. Di meja saji, tumpukan sate selalu menggoda. Tak jarang, pembeli mengambil satu-dua sate tambahan, sembari menanti seporsi nasi lawar. Mereka tak keberatan membayar lebih.

Menjelang pukul delapan malam, warung semakin ramai. Meja-meja di pekarangan rumah nyaris penuh. Sebagian pelanggan rela menunggu agar bisa makan di tempat. Di salah satu sudut pekarangan, tiga anak muda duduk bersisian sambil menunggu pesanan mereka.

“Ini yang viral itu, kan?” tanya salah satu dari mereka.

“Iya, aku lihat di TikTok. Katanya lawar dan satenya enak,” sahut temannya.

Tak lama kemudian, Ayu datang membawa nampan berisi tiga piring: nasi lawar, minuman, dan soto panas. Uapnya langsung naik bersama aroma bumbu yang tajam dan gurih.

“Wah, baunya aja udah bikin lupa diet,” celetuk yang paling muda di antara mereka.

Di meja lain, seorang pemuda makan dengan tenang. Ia menyuap nasi, kemudian menyeruput soto pelan. “Pertama ke sini karena penasaran, sekarang malah jadi langganan. Saya paling suka sate dan sotonya,” kata Bayu Apriana (22), pelanggan muda asal Karangasem.

Tak jauh dari situ, Eka, pemuda dari Batubulan, ikut menimpali sambil menoleh ke arah temannya. “Saya ke sini pertama kali waktu patah hati. Sembuhnya bukan karena waktu, tapi karena lawar Dugong 21,” katanya sambil tertawa ringan bersama teman-temannya.

Ayu yang lewat sempat mendengar. Ia hanya geleng-geleng kecil sambil tersenyum, lalu kembali ke depan rumah, membantu di meja saji.

Suasana di dalam rumah │Foto: tatkala.co/Dede

Malam terus berjalan, tapi antrean belum juga surut. Beberapa pelanggan datang dari luar Gianyar karena melihat unggahan di media sosial, ada juga beberapa turis asing yang mampir karena diajak oleh tour guide-nya. Selain itu, banyak juga yang datang karena cerita sederhana dari saudara, teman, atau tetangga – cerita yang terus berpindah dari mulut ke mulut.

Bagi yang benar-benar mengenal tempat ini, Dugong 21 bukan sekadar warung makan. Ia adalah bukti bahwa ketekunan dan kasih sayang bisa bertahan melewati waktu dan cobaan. Warung ini tumbuh dari kehilangan, tapi justru melahirkan harapan. Di sini, keluarga bekerja bersama, bukan hanya untuk menghidupi, tapi menjaga sesuatu yang lebih penting, yaitu rasa yang lahir dari kesabaran.

Jadi, kalau suatu malam melintasi Desa Guwang, tengoklah ke pinggir jalan, tepat di sebelah utara Indomaret. Di sana, Warung Dugong 21 tetap menyala, bukan hanya karena lampunya, tapi karena cinta dan ketekunan yang tak pernah padam. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Gde Aryantha Soethama

  • Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu karya dalam buku Kumpulan Berita Kisah “Sukawati, Ya Seni” karya Dede Putra Wiguna (Prasasti, 2025).
Tags: baliDesa Guwanglawarlawar balimasakan tradisionalsukawati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Campah’ Menciptakan Sampah

Next Post

Pesan 7 Perupa Wanita Lewat Karya Lukisnya di ARTOTEL Sanur

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails

Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

by Putu Ayu Ariani
October 16, 2025
0
Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

DINI hari di Desa Banjar, Kabupaten Buleleng, suasana masih diselimuti udara dingin. Namun di depan sebuah warung sederhana, cahaya api...

Read moreDetails

“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

by Ni Wayan Suwini
October 10, 2025
0
“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

JALAN Hayam Wuruk, Denpasar, pagi itu. Deru kendaraan, suara klakson yang saling bersahutan, dan rutinitas kota yang jarang berhenti terasa...

Read moreDetails
Next Post
Pesan 7 Perupa Wanita Lewat Karya Lukisnya di ARTOTEL Sanur

Pesan 7 Perupa Wanita Lewat Karya Lukisnya di ARTOTEL Sanur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co