2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
in Kuliner
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

Ni Ketut Sami menyiapkan pesanan nasi bungkus │Foto: tatkala.co/Dede

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke dalam rumah mencari tempat duduk. Di belakangnya, dua temannya menyusul sambil menertawakan tingkahnya.

Hal semacam itu sudah biasa terjadi di Warung Nasi Lawar Dugong 21 – warung makan yang setiap malam selalu ramai. Tapi tak banyak yang tahu, warung ini dibangun dari perjalanan panjang yang tak mulus.

Lokasinya strategis, di pinggir jalan, tepat sebelah utara Indomaret Guwang, Sukawati. Warung itu mencolok, lampu-lampunya menyala terang, menerangi meja-meja kayu yang tertata rapi, baik di teras warung maupun di pekarangan rumah. Setiap malam, aroma soto panas, lawar segar, dan sate yang baru dipanggang menguar di teras warung. Orang datang karena lapar, rindu, atau sekadar ingin tahu.

Tangan Ni Ketut Sami mengaduk lawar │Foto: tatkala.co/Dede

Di balik meja saji, tangan Ni Ketut Sami (69) bergerak cekatan, mengaduk lawar dengan gerakan yang sudah menyatu dengan denyut malam. Tak ada resep tertulis. Semua datang dari ingatan, dari kebiasaan, dari rasa yang diwariskan. Tak jauh dari sana, sang suami, I Wayan Balik Dudug (68), masih setia menemani. Kadang membantu, kadang duduk mengawasi, sesekali menyapa pelanggan setia yang sudah seperti kawan lama.

Tiga puluh tahun lalu, ketika awal 90-an, semua bermula bukan dari bisnis kuliner, melainkan dari lapak kecil penjual kaset. Setelah menikah pada 1974, Sami dan Dudug membuka usaha itu demi menghidupi lima anak perempuan mereka. Cukup untuk hidup sederhana, asal bisa makan dan menyekolahkan anak.

Masa-masa itu tak selalu mudah. Suatu hari, anak ketiga mereka mulai jatuh sakit. Usianya masih kecil, masih duduk di bangku sekolah dasar. Tubuhnya kian melemah, Dudug dan Sami pun berkeliling, mencari pengobatan, menggantungkan harapan. Uang perlahan habis, tapi yang paling menyakitkan, sang anak tak tertolong. Ia pergi lebih dulu, meninggalkan luka mendalam, membuat mereka begitu terpukul.

“Waktu itu perasaan nggak karuan, seperti ikut mati. Semua aset dijual untuk pengobatan,” ujar Dudug lirih.

Warung Nasi Lawar Dugong 21 │Foto: tatkala.co/Dede

Lapak kaset pun ditutup. Mereka mulai lagi dari nol: jualan kopi, bensin eceran, hingga lawar penyu yang dulu masih legal. Ketika penjualan penyu dilarang, mereka beralih ke lawar ayam, lalu datang flu burung. Kemudian beralih ke lawar babi, tak lama, flu babi datang. Setiap kali seperti itu, hidup seolah menggiring mereka ke ujung, lalu mendorong, menunggu apakah mereka akan jatuh atau melompat.

Dan mereka selalu memilih untuk melompat. Seperti dugong yang terus berenang meski laut tak selalu tenang, berusaha mencari cara untuk bertahan. Itulah filosofi “Dugong”, yang mereka jadikan nama warung – lambang ketangguhan. Sementara “21”, diambil dari suku kata pertama nama mereka: Du dari Dudug, Sa dari Sami. Nama itu bukan sekadar identitas, tapi penanda perjalanan, cinta yang diuji, kesedihan yang bukan alasan untuk berhenti, dan ketekunan tanpa menuntut untuk dilihat.

Dari pagi jadi malam: titik balik di malam Siwaratri

Titik balik datang pada malam Siwaratri 2019. Warung yang awalnya hanya buka pagi, malam itu mencoba berjualan malam. Tak diduga, warung ramai. Anak-anak muda datang berbondong-bondong. Meja di teras warung tak cukup menampung, sebagian masuk dan makan di pekarangan rumah.

Sejak saat itu, Warung Dugong 21 mantap jadi kuliner malam. Kini, sedari pukul lima sore, sebelas orang: anak, cucu, dan karyawan yang sudah seperti saudara, bergerak bersama, berbagi tugas, menyiapkan segala piranti. Menu utamanya lawar merah: campuran daging cincang, darah segar, sayur kacang panjang, kelapa parut, rames (irisan kulit babi), dan basa genep (bumbu khas Bali). Pelanggan juga bisa request lawar: lebih sayur, lebih daging, tanpa darah, atau apa pun sesuai selera.

Ayu Rai (26), cucu Dudug dan Sami, kini ikut menjaga warung. Ia tumbuh di antara uap soto dan adukan lawar. “Banyak yang bilang, makan di sini kayak di resepsi,” katanya sambil tersenyum. 

Kadang ia ikut membantu membungkus, kadang mengantar pesanan ke meja. Gerak tubuhnya cekatan, tapi wajahnya tetap lembut, seperti orang yang tahu bahwa warung ini punya makna lebih dari sekadar jualan.

Ayu Rai saat menyiapkan soto │Foto: tatkala.co/Dede

Dua porsi nasi lawar di Warung Dugong 21 │Foto: tatkala.co/Dede

Dengan harga dua puluh ribuan, seporsi nasi lawar lengkap dengan sate, soto, dan minuman bisa dinikmati. Beberapa pelanggan bahkan datang hanya untuk membungkus sate atau soto hangat. Di meja saji, tumpukan sate selalu menggoda. Tak jarang, pembeli mengambil satu-dua sate tambahan, sembari menanti seporsi nasi lawar. Mereka tak keberatan membayar lebih.

Menjelang pukul delapan malam, warung semakin ramai. Meja-meja di pekarangan rumah nyaris penuh. Sebagian pelanggan rela menunggu agar bisa makan di tempat. Di salah satu sudut pekarangan, tiga anak muda duduk bersisian sambil menunggu pesanan mereka.

“Ini yang viral itu, kan?” tanya salah satu dari mereka.

“Iya, aku lihat di TikTok. Katanya lawar dan satenya enak,” sahut temannya.

Tak lama kemudian, Ayu datang membawa nampan berisi tiga piring: nasi lawar, minuman, dan soto panas. Uapnya langsung naik bersama aroma bumbu yang tajam dan gurih.

“Wah, baunya aja udah bikin lupa diet,” celetuk yang paling muda di antara mereka.

Di meja lain, seorang pemuda makan dengan tenang. Ia menyuap nasi, kemudian menyeruput soto pelan. “Pertama ke sini karena penasaran, sekarang malah jadi langganan. Saya paling suka sate dan sotonya,” kata Bayu Apriana (22), pelanggan muda asal Karangasem.

Tak jauh dari situ, Eka, pemuda dari Batubulan, ikut menimpali sambil menoleh ke arah temannya. “Saya ke sini pertama kali waktu patah hati. Sembuhnya bukan karena waktu, tapi karena lawar Dugong 21,” katanya sambil tertawa ringan bersama teman-temannya.

Ayu yang lewat sempat mendengar. Ia hanya geleng-geleng kecil sambil tersenyum, lalu kembali ke depan rumah, membantu di meja saji.

Suasana di dalam rumah │Foto: tatkala.co/Dede

Malam terus berjalan, tapi antrean belum juga surut. Beberapa pelanggan datang dari luar Gianyar karena melihat unggahan di media sosial, ada juga beberapa turis asing yang mampir karena diajak oleh tour guide-nya. Selain itu, banyak juga yang datang karena cerita sederhana dari saudara, teman, atau tetangga – cerita yang terus berpindah dari mulut ke mulut.

Bagi yang benar-benar mengenal tempat ini, Dugong 21 bukan sekadar warung makan. Ia adalah bukti bahwa ketekunan dan kasih sayang bisa bertahan melewati waktu dan cobaan. Warung ini tumbuh dari kehilangan, tapi justru melahirkan harapan. Di sini, keluarga bekerja bersama, bukan hanya untuk menghidupi, tapi menjaga sesuatu yang lebih penting, yaitu rasa yang lahir dari kesabaran.

Jadi, kalau suatu malam melintasi Desa Guwang, tengoklah ke pinggir jalan, tepat di sebelah utara Indomaret. Di sana, Warung Dugong 21 tetap menyala, bukan hanya karena lampunya, tapi karena cinta dan ketekunan yang tak pernah padam. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Gde Aryantha Soethama

  • Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu karya dalam buku Kumpulan Berita Kisah “Sukawati, Ya Seni” karya Dede Putra Wiguna (Prasasti, 2025).
Tags: baliDesa Guwanglawarlawar balimasakan tradisionalsukawati
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Campah’ Menciptakan Sampah

Next Post

Pesan 7 Perupa Wanita Lewat Karya Lukisnya di ARTOTEL Sanur

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails
Next Post
Pesan 7 Perupa Wanita Lewat Karya Lukisnya di ARTOTEL Sanur

Pesan 7 Perupa Wanita Lewat Karya Lukisnya di ARTOTEL Sanur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co