4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

Jaswanto by Jaswanto
April 2, 2026
in Kuliner
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi itu ia mengenakan kerudung cokelat dan baju bergaris hitam-putih. Wajahnya lembut dengan mata yang meneduhkan. “Karena saya sering membatu ibu jualan sejak kecil.” Ia melanjutkan kalimat yang sempat tertahan tadi. Perempuan itu Suwati namanya. Usianya telah lewat setengah abad. Ia baru saja membungkus tiga porsi semanggi pesanan saya, lengkap dengan kerupuk puli-nya.

Bu Wati, begitu ia biasa dipanggil, sedari kecil tumbuh di lingkungan pedagang makanan. Ibunya penjual semanggi keliling era 70an. Dulu sekali di waktu kecil ia sering diajak ibunya ke pasar di tengah Kota Surabaya untuk membeli bahan masakan. Ia juga melihat bagaimana ibunya meramu bahan makanan itu di dapur mereka. Ia tak mengecap pendidikan yang tinggi. “Perempuan,” kata ibunya, “tak perlu sekolah tinggi-tinggi. Cukup pandai di dapur, merawat anak, sebagai pilar keluarga.” Sebuah pesan yang pada masa dulu diterima begitu saja oleh mayoritas perempuan di kampung-kampung. Sekarang, atas nama emansipasi, idiom itu menjadi lelucon bagi sebagian perempuan masa kini.

Suasana pedagang kuliner semanggi di pinggir jalan besar Bukit Palma, Surabaya, pada Minggu pagi | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tempat jualan Suwati terletak di bibir jalan besar di seberang ruko-ruko Bukit Palma Galeria di kawasan Citraland, Surabaya. Kawasan ini masih masuk wilayah Sememi, Kecamatan Benowo—tempat tanaman semanggi (tanaman paku air dari genus Marsilea) tumbuh liar maupun dibudidayakan. “Tapi saya tinggal di situ, lampu merah ke kanan,” ucap Wati sambil menunjuk ke arah Kendung, kelurahan yang berdempetan dengan Sememi. “Jualan di sini sejak 2017.”

Daerah tempat Suwati jualan sangat ramai. Jalan besar itu nyaris tak pernah sepi. Pagi itu, hanya ada dua-tiga pedagang semanggi saja yang buka di bibir jalan besar itu, berbeda dengan akhir pekan. Pada Minggu pagi, pedagang semanggi di kawasan ini bisa berderet dan berdempet sangat panjang, memenuhi trotoar. Selama tinggal di Surabaya, saya pernah sekali beli semanggi di kawasan ini pada Minggu pagi.

Sebagaimana makanan legendaris lainnya, saya kira semanggi bukan sekadar makanan. Ia adalah lanskap yang dimakan. Daun semanggi—tanaman air yang dulu tumbuh liar di rawa-rawa sekitar Surabaya—dipetik, dikukus, lalu disajikan dengan bumbu khas berbasis ketela rambat dan kerupuk puli (berbahan dasar nasi yang dihaluskan).

Dalam satu pincuk daun pisang, semanggi bertemu kerupuk puli dan siraman saus cokelat pekat yang manis-gurih, seperti pecel. Teksturnya sederhana, tetapi rasanya kompleks: tanah, air, dan keringat petani bertemu dalam satu suapan. Di Surabaya, semanggi sudah menjadi bagian dari “warisan kuliner tradisional” yang tidak hanya memiliki nilai gastronomi, tetapi juga identitas budaya kota. Ia lahir dari hubungan manusia dengan alam sekitar—sebuah praktik makan yang tidak terpisahkan dari ekologi lokal.

Potret Bu Suwati, pedagang semanggi di kawasan Citraland, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di masa lalu, semanggi adalah makanan rakyat. Ia dijajakan oleh perempuan-perempuan kampung yang berjalan kaki dari satu sudut kota ke sudut lain, setidaknya sampai awal 2000an. Tidak ada gerobak, tidak ada etalase. Hanya suara, bakul atau rinjing, dan kesabaran yang disunggi di kepala atau digendong di punggung.

Namun, modernitas kota mengubah segalanya. Pertumbuhan industri makanan cepat saji dan masuknya kuliner global perlahan menggeser posisi semanggi. Masyarakat kota—terutama generasi muda—lebih akrab dengan burger, ayam goreng tepung, makanan-makanan dari Korea dan Jepang, dan minuman boba-bobaan dibandingkan daun semanggi yang dikukus sederhana.

Semanggi kini “kalah bersaing di tengah perkembangan zaman” karena munculnya kuliner baru yang lebih menarik secara visual dan praktis. Perubahan selera ini bukan sekadar soal rasa, melainkan juga soal gaya hidup. Semanggi membutuhkan waktu, ruang, dan hubungan sosial—hal-hal yang makin langka di kota yang bergerak cepat seperti Surabaya.

Menariknya, semanggi tidak bisa dilepaskan dari peran perempuan. Sebagian besar penjualnya adalah perempuan lanjut usia—mereka yang mewarisi resep dari generasi sebelumnya tanpa pernah menuliskannya, sebagaimana Suwati. Semanggi adalah simbol “kemandirian” perempuan. Namun, ketika para penjual itu menua, siapa yang akan melanjutkan?

Seporsi semanggi harga 10 ribuan lengkap dengan kerupuk puli-nya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kini, banyak perempuan yang tak pandai memasak. Salah satu sebabnya, mereka sibuk mengurusi tugas sekolah, kuliah, yang dibawa pulang. Mereka pun acap melupakan belajar memasak. Sembari menemani Bu Wati berdagang semanggi, saya sempat menanyakan siapa yang akan melanjutkan usaha ini nantinya. Beberapa saat ia tak menjawab pertanyaan saya. Lalu, dia berujar, “Sepertinya tak ada.”

Pemerintah kota pernah menggagas “Kampoeng Semanggi” sebagai pusat produksi dan promosi kuliner legendari sini. Letak perkampungan ini cukup jauh dari pusat keramaian kota. Berada di Kelurahan Bringin, Kecamatan Sambikerep, Benowo.

Namun, tantangan tetap ada. Pelestarian tidak cukup hanya dengan inovasi produk, apalagi sekadar jargon-jargon omong kosong. Ia membutuhkan regenerasi pelaku, perubahan persepsi, dan—yang paling sulit—kembalinya ruang bagi tradisi dalam kehidupan modern yang banal. Dan, berbicara soal pelestarian, saya kira juga menyangkut resep asli, inovasi rasa, serta strategi promosi yang sesuai dengan zamannya. Dengan kata lain, semanggi harus belajar berbicara dalam bahasa zaman, tanpa kehilangan suaranya sendiri.

Di tengah kota metropolitan yang terus tumbuh, suara “Semanggiii…” kini semakin jarang terdengar. Ia seperti fragmen masa lalu yang tersisa, berjalan pelan di antara gedung-gedung tinggi. Ada nostalgia yang melekat pada semanggi. Banyak orang mengingatnya sebagai bagian dari masa kecil—ketika penjual keliling masih sering lewat, ketika makanan belum menjadi komoditas visual di media sosial.

Gusti Ayu Permata Sari, istri saya, kelahiran Surabaya, pernah berkata kepada saya, “Dulu sering lewat depan rumah… sekarang sudah tidak ada lagi”—sebuah kesaksian sederhana tentang hilangnya kehadiran semanggi dalam kehidupan sehari-hari. Kesaksian seperti itu bukan sekadar nostalgia. Ia adalah tanda bahwa semanggi sedang bergerak dari ruang hidup ke ruang ingatan, tanpa banyak orang menyadarinya. Ya, semanggi hari ini berdiri di persimpangan antara bertahan sebagai tradisi atau menghilang sebagai kenangan. Di satu sisi, ia memiliki nilai budaya yang kuat. Di sisi lain, ia menghadapi realitas pasar yang keras.

Sampai di sini, sekali lagi, semanggi bukan sekadar soal tumbuhan yang mudah ditemukan di pinggir pematang sawah, bumbu kacang ketela, dan kerupuk puli; ia adalah cerita tentang hubungan manusia dengan tanah, tentang perempuan-perempuan yang berjalan membawa tradisi, tentang kota yang terus berubah tetapi masih menyimpan ingatan tentangnya.

Seorang pedagang sedang meracik semanggi pesanan pembeli | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Mungkin, suatu hari nanti, semanggi benar-benar hilang dari jalanan Surabaya. Atau justru berpindah ke ruang-ruang elit di pusat perbelanjaan modern, restoran, dan hotel-hotel berbintang. Jika demikian, apakah semanggi masih akan menjadi makanan rakyat? Makanan yang—meminjam lirik lagu keroncong ciptaan S. Padimin pada era 50an yang berjudul Semanggi Suroboyo— “harganya sangat murah… sepincuk hanya setali” itu.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: kulinerSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Kesadaran Autisme Sedunia 2026:Ketika Tuhan Mengirimkan Gangga, Ia Sebenarnya Mengirimkan Sekolah Kehidupan

Next Post

Lolot Band Rilis ‘Tajir Melintir’: Album ke-11 yang Ringkas dan Mengena

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

Read moreDetails

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails
Next Post
Lolot Band Rilis ‘Tajir Melintir’: Album ke-11 yang Ringkas dan Mengena

Lolot Band Rilis ‘Tajir Melintir’: Album ke-11 yang Ringkas dan Mengena

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co