24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

Jaswanto by Jaswanto
April 2, 2026
in Kuliner
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi itu ia mengenakan kerudung cokelat dan baju bergaris hitam-putih. Wajahnya lembut dengan mata yang meneduhkan. “Karena saya sering membatu ibu jualan sejak kecil.” Ia melanjutkan kalimat yang sempat tertahan tadi. Perempuan itu Suwati namanya. Usianya telah lewat setengah abad. Ia baru saja membungkus tiga porsi semanggi pesanan saya, lengkap dengan kerupuk puli-nya.

Bu Wati, begitu ia biasa dipanggil, sedari kecil tumbuh di lingkungan pedagang makanan. Ibunya penjual semanggi keliling era 70an. Dulu sekali di waktu kecil ia sering diajak ibunya ke pasar di tengah Kota Surabaya untuk membeli bahan masakan. Ia juga melihat bagaimana ibunya meramu bahan makanan itu di dapur mereka. Ia tak mengecap pendidikan yang tinggi. “Perempuan,” kata ibunya, “tak perlu sekolah tinggi-tinggi. Cukup pandai di dapur, merawat anak, sebagai pilar keluarga.” Sebuah pesan yang pada masa dulu diterima begitu saja oleh mayoritas perempuan di kampung-kampung. Sekarang, atas nama emansipasi, idiom itu menjadi lelucon bagi sebagian perempuan masa kini.

Suasana pedagang kuliner semanggi di pinggir jalan besar Bukit Palma, Surabaya, pada Minggu pagi | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tempat jualan Suwati terletak di bibir jalan besar di seberang ruko-ruko Bukit Palma Galeria di kawasan Citraland, Surabaya. Kawasan ini masih masuk wilayah Sememi, Kecamatan Benowo—tempat tanaman semanggi (tanaman paku air dari genus Marsilea) tumbuh liar maupun dibudidayakan. “Tapi saya tinggal di situ, lampu merah ke kanan,” ucap Wati sambil menunjuk ke arah Kendung, kelurahan yang berdempetan dengan Sememi. “Jualan di sini sejak 2017.”

Daerah tempat Suwati jualan sangat ramai. Jalan besar itu nyaris tak pernah sepi. Pagi itu, hanya ada dua-tiga pedagang semanggi saja yang buka di bibir jalan besar itu, berbeda dengan akhir pekan. Pada Minggu pagi, pedagang semanggi di kawasan ini bisa berderet dan berdempet sangat panjang, memenuhi trotoar. Selama tinggal di Surabaya, saya pernah sekali beli semanggi di kawasan ini pada Minggu pagi.

Sebagaimana makanan legendaris lainnya, saya kira semanggi bukan sekadar makanan. Ia adalah lanskap yang dimakan. Daun semanggi—tanaman air yang dulu tumbuh liar di rawa-rawa sekitar Surabaya—dipetik, dikukus, lalu disajikan dengan bumbu khas berbasis ketela rambat dan kerupuk puli (berbahan dasar nasi yang dihaluskan).

Dalam satu pincuk daun pisang, semanggi bertemu kerupuk puli dan siraman saus cokelat pekat yang manis-gurih, seperti pecel. Teksturnya sederhana, tetapi rasanya kompleks: tanah, air, dan keringat petani bertemu dalam satu suapan. Di Surabaya, semanggi sudah menjadi bagian dari “warisan kuliner tradisional” yang tidak hanya memiliki nilai gastronomi, tetapi juga identitas budaya kota. Ia lahir dari hubungan manusia dengan alam sekitar—sebuah praktik makan yang tidak terpisahkan dari ekologi lokal.

Potret Bu Suwati, pedagang semanggi di kawasan Citraland, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di masa lalu, semanggi adalah makanan rakyat. Ia dijajakan oleh perempuan-perempuan kampung yang berjalan kaki dari satu sudut kota ke sudut lain, setidaknya sampai awal 2000an. Tidak ada gerobak, tidak ada etalase. Hanya suara, bakul atau rinjing, dan kesabaran yang disunggi di kepala atau digendong di punggung.

Namun, modernitas kota mengubah segalanya. Pertumbuhan industri makanan cepat saji dan masuknya kuliner global perlahan menggeser posisi semanggi. Masyarakat kota—terutama generasi muda—lebih akrab dengan burger, ayam goreng tepung, makanan-makanan dari Korea dan Jepang, dan minuman boba-bobaan dibandingkan daun semanggi yang dikukus sederhana.

Semanggi kini “kalah bersaing di tengah perkembangan zaman” karena munculnya kuliner baru yang lebih menarik secara visual dan praktis. Perubahan selera ini bukan sekadar soal rasa, melainkan juga soal gaya hidup. Semanggi membutuhkan waktu, ruang, dan hubungan sosial—hal-hal yang makin langka di kota yang bergerak cepat seperti Surabaya.

Menariknya, semanggi tidak bisa dilepaskan dari peran perempuan. Sebagian besar penjualnya adalah perempuan lanjut usia—mereka yang mewarisi resep dari generasi sebelumnya tanpa pernah menuliskannya, sebagaimana Suwati. Semanggi adalah simbol “kemandirian” perempuan. Namun, ketika para penjual itu menua, siapa yang akan melanjutkan?

Seporsi semanggi harga 10 ribuan lengkap dengan kerupuk puli-nya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kini, banyak perempuan yang tak pandai memasak. Salah satu sebabnya, mereka sibuk mengurusi tugas sekolah, kuliah, yang dibawa pulang. Mereka pun acap melupakan belajar memasak. Sembari menemani Bu Wati berdagang semanggi, saya sempat menanyakan siapa yang akan melanjutkan usaha ini nantinya. Beberapa saat ia tak menjawab pertanyaan saya. Lalu, dia berujar, “Sepertinya tak ada.”

Pemerintah kota pernah menggagas “Kampoeng Semanggi” sebagai pusat produksi dan promosi kuliner legendari sini. Letak perkampungan ini cukup jauh dari pusat keramaian kota. Berada di Kelurahan Bringin, Kecamatan Sambikerep, Benowo.

Namun, tantangan tetap ada. Pelestarian tidak cukup hanya dengan inovasi produk, apalagi sekadar jargon-jargon omong kosong. Ia membutuhkan regenerasi pelaku, perubahan persepsi, dan—yang paling sulit—kembalinya ruang bagi tradisi dalam kehidupan modern yang banal. Dan, berbicara soal pelestarian, saya kira juga menyangkut resep asli, inovasi rasa, serta strategi promosi yang sesuai dengan zamannya. Dengan kata lain, semanggi harus belajar berbicara dalam bahasa zaman, tanpa kehilangan suaranya sendiri.

Di tengah kota metropolitan yang terus tumbuh, suara “Semanggiii…” kini semakin jarang terdengar. Ia seperti fragmen masa lalu yang tersisa, berjalan pelan di antara gedung-gedung tinggi. Ada nostalgia yang melekat pada semanggi. Banyak orang mengingatnya sebagai bagian dari masa kecil—ketika penjual keliling masih sering lewat, ketika makanan belum menjadi komoditas visual di media sosial.

Gusti Ayu Permata Sari, istri saya, kelahiran Surabaya, pernah berkata kepada saya, “Dulu sering lewat depan rumah… sekarang sudah tidak ada lagi”—sebuah kesaksian sederhana tentang hilangnya kehadiran semanggi dalam kehidupan sehari-hari. Kesaksian seperti itu bukan sekadar nostalgia. Ia adalah tanda bahwa semanggi sedang bergerak dari ruang hidup ke ruang ingatan, tanpa banyak orang menyadarinya. Ya, semanggi hari ini berdiri di persimpangan antara bertahan sebagai tradisi atau menghilang sebagai kenangan. Di satu sisi, ia memiliki nilai budaya yang kuat. Di sisi lain, ia menghadapi realitas pasar yang keras.

Sampai di sini, sekali lagi, semanggi bukan sekadar soal tumbuhan yang mudah ditemukan di pinggir pematang sawah, bumbu kacang ketela, dan kerupuk puli; ia adalah cerita tentang hubungan manusia dengan tanah, tentang perempuan-perempuan yang berjalan membawa tradisi, tentang kota yang terus berubah tetapi masih menyimpan ingatan tentangnya.

Seorang pedagang sedang meracik semanggi pesanan pembeli | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Mungkin, suatu hari nanti, semanggi benar-benar hilang dari jalanan Surabaya. Atau justru berpindah ke ruang-ruang elit di pusat perbelanjaan modern, restoran, dan hotel-hotel berbintang. Jika demikian, apakah semanggi masih akan menjadi makanan rakyat? Makanan yang—meminjam lirik lagu keroncong ciptaan S. Padimin pada era 50an yang berjudul Semanggi Suroboyo— “harganya sangat murah… sepincuk hanya setali” itu.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: kulinerSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Kesadaran Autisme Sedunia 2026:Ketika Tuhan Mengirimkan Gangga, Ia Sebenarnya Mengirimkan Sekolah Kehidupan

Next Post

Lolot Band Rilis ‘Tajir Melintir’: Album ke-11 yang Ringkas dan Mengena

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
0
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

Read moreDetails

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

Read moreDetails

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
Lolot Band Rilis ‘Tajir Melintir’: Album ke-11 yang Ringkas dan Mengena

Lolot Band Rilis ‘Tajir Melintir’: Album ke-11 yang Ringkas dan Mengena

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co