25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

Jaswanto by Jaswanto
April 2, 2026
in Kuliner
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi itu ia mengenakan kerudung cokelat dan baju bergaris hitam-putih. Wajahnya lembut dengan mata yang meneduhkan. “Karena saya sering membatu ibu jualan sejak kecil.” Ia melanjutkan kalimat yang sempat tertahan tadi. Perempuan itu Suwati namanya. Usianya telah lewat setengah abad. Ia baru saja membungkus tiga porsi semanggi pesanan saya, lengkap dengan kerupuk puli-nya.

Bu Wati, begitu ia biasa dipanggil, sedari kecil tumbuh di lingkungan pedagang makanan. Ibunya penjual semanggi keliling era 70an. Dulu sekali di waktu kecil ia sering diajak ibunya ke pasar di tengah Kota Surabaya untuk membeli bahan masakan. Ia juga melihat bagaimana ibunya meramu bahan makanan itu di dapur mereka. Ia tak mengecap pendidikan yang tinggi. “Perempuan,” kata ibunya, “tak perlu sekolah tinggi-tinggi. Cukup pandai di dapur, merawat anak, sebagai pilar keluarga.” Sebuah pesan yang pada masa dulu diterima begitu saja oleh mayoritas perempuan di kampung-kampung. Sekarang, atas nama emansipasi, idiom itu menjadi lelucon bagi sebagian perempuan masa kini.

Suasana pedagang kuliner semanggi di pinggir jalan besar Bukit Palma, Surabaya, pada Minggu pagi | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tempat jualan Suwati terletak di bibir jalan besar di seberang ruko-ruko Bukit Palma Galeria di kawasan Citraland, Surabaya. Kawasan ini masih masuk wilayah Sememi, Kecamatan Benowo—tempat tanaman semanggi (tanaman paku air dari genus Marsilea) tumbuh liar maupun dibudidayakan. “Tapi saya tinggal di situ, lampu merah ke kanan,” ucap Wati sambil menunjuk ke arah Kendung, kelurahan yang berdempetan dengan Sememi. “Jualan di sini sejak 2017.”

Daerah tempat Suwati jualan sangat ramai. Jalan besar itu nyaris tak pernah sepi. Pagi itu, hanya ada dua-tiga pedagang semanggi saja yang buka di bibir jalan besar itu, berbeda dengan akhir pekan. Pada Minggu pagi, pedagang semanggi di kawasan ini bisa berderet dan berdempet sangat panjang, memenuhi trotoar. Selama tinggal di Surabaya, saya pernah sekali beli semanggi di kawasan ini pada Minggu pagi.

Sebagaimana makanan legendaris lainnya, saya kira semanggi bukan sekadar makanan. Ia adalah lanskap yang dimakan. Daun semanggi—tanaman air yang dulu tumbuh liar di rawa-rawa sekitar Surabaya—dipetik, dikukus, lalu disajikan dengan bumbu khas berbasis ketela rambat dan kerupuk puli (berbahan dasar nasi yang dihaluskan).

Dalam satu pincuk daun pisang, semanggi bertemu kerupuk puli dan siraman saus cokelat pekat yang manis-gurih, seperti pecel. Teksturnya sederhana, tetapi rasanya kompleks: tanah, air, dan keringat petani bertemu dalam satu suapan. Di Surabaya, semanggi sudah menjadi bagian dari “warisan kuliner tradisional” yang tidak hanya memiliki nilai gastronomi, tetapi juga identitas budaya kota. Ia lahir dari hubungan manusia dengan alam sekitar—sebuah praktik makan yang tidak terpisahkan dari ekologi lokal.

Potret Bu Suwati, pedagang semanggi di kawasan Citraland, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di masa lalu, semanggi adalah makanan rakyat. Ia dijajakan oleh perempuan-perempuan kampung yang berjalan kaki dari satu sudut kota ke sudut lain, setidaknya sampai awal 2000an. Tidak ada gerobak, tidak ada etalase. Hanya suara, bakul atau rinjing, dan kesabaran yang disunggi di kepala atau digendong di punggung.

Namun, modernitas kota mengubah segalanya. Pertumbuhan industri makanan cepat saji dan masuknya kuliner global perlahan menggeser posisi semanggi. Masyarakat kota—terutama generasi muda—lebih akrab dengan burger, ayam goreng tepung, makanan-makanan dari Korea dan Jepang, dan minuman boba-bobaan dibandingkan daun semanggi yang dikukus sederhana.

Semanggi kini “kalah bersaing di tengah perkembangan zaman” karena munculnya kuliner baru yang lebih menarik secara visual dan praktis. Perubahan selera ini bukan sekadar soal rasa, melainkan juga soal gaya hidup. Semanggi membutuhkan waktu, ruang, dan hubungan sosial—hal-hal yang makin langka di kota yang bergerak cepat seperti Surabaya.

Menariknya, semanggi tidak bisa dilepaskan dari peran perempuan. Sebagian besar penjualnya adalah perempuan lanjut usia—mereka yang mewarisi resep dari generasi sebelumnya tanpa pernah menuliskannya, sebagaimana Suwati. Semanggi adalah simbol “kemandirian” perempuan. Namun, ketika para penjual itu menua, siapa yang akan melanjutkan?

Seporsi semanggi harga 10 ribuan lengkap dengan kerupuk puli-nya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kini, banyak perempuan yang tak pandai memasak. Salah satu sebabnya, mereka sibuk mengurusi tugas sekolah, kuliah, yang dibawa pulang. Mereka pun acap melupakan belajar memasak. Sembari menemani Bu Wati berdagang semanggi, saya sempat menanyakan siapa yang akan melanjutkan usaha ini nantinya. Beberapa saat ia tak menjawab pertanyaan saya. Lalu, dia berujar, “Sepertinya tak ada.”

Pemerintah kota pernah menggagas “Kampoeng Semanggi” sebagai pusat produksi dan promosi kuliner legendari sini. Letak perkampungan ini cukup jauh dari pusat keramaian kota. Berada di Kelurahan Bringin, Kecamatan Sambikerep, Benowo.

Namun, tantangan tetap ada. Pelestarian tidak cukup hanya dengan inovasi produk, apalagi sekadar jargon-jargon omong kosong. Ia membutuhkan regenerasi pelaku, perubahan persepsi, dan—yang paling sulit—kembalinya ruang bagi tradisi dalam kehidupan modern yang banal. Dan, berbicara soal pelestarian, saya kira juga menyangkut resep asli, inovasi rasa, serta strategi promosi yang sesuai dengan zamannya. Dengan kata lain, semanggi harus belajar berbicara dalam bahasa zaman, tanpa kehilangan suaranya sendiri.

Di tengah kota metropolitan yang terus tumbuh, suara “Semanggiii…” kini semakin jarang terdengar. Ia seperti fragmen masa lalu yang tersisa, berjalan pelan di antara gedung-gedung tinggi. Ada nostalgia yang melekat pada semanggi. Banyak orang mengingatnya sebagai bagian dari masa kecil—ketika penjual keliling masih sering lewat, ketika makanan belum menjadi komoditas visual di media sosial.

Gusti Ayu Permata Sari, istri saya, kelahiran Surabaya, pernah berkata kepada saya, “Dulu sering lewat depan rumah… sekarang sudah tidak ada lagi”—sebuah kesaksian sederhana tentang hilangnya kehadiran semanggi dalam kehidupan sehari-hari. Kesaksian seperti itu bukan sekadar nostalgia. Ia adalah tanda bahwa semanggi sedang bergerak dari ruang hidup ke ruang ingatan, tanpa banyak orang menyadarinya. Ya, semanggi hari ini berdiri di persimpangan antara bertahan sebagai tradisi atau menghilang sebagai kenangan. Di satu sisi, ia memiliki nilai budaya yang kuat. Di sisi lain, ia menghadapi realitas pasar yang keras.

Sampai di sini, sekali lagi, semanggi bukan sekadar soal tumbuhan yang mudah ditemukan di pinggir pematang sawah, bumbu kacang ketela, dan kerupuk puli; ia adalah cerita tentang hubungan manusia dengan tanah, tentang perempuan-perempuan yang berjalan membawa tradisi, tentang kota yang terus berubah tetapi masih menyimpan ingatan tentangnya.

Seorang pedagang sedang meracik semanggi pesanan pembeli | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Mungkin, suatu hari nanti, semanggi benar-benar hilang dari jalanan Surabaya. Atau justru berpindah ke ruang-ruang elit di pusat perbelanjaan modern, restoran, dan hotel-hotel berbintang. Jika demikian, apakah semanggi masih akan menjadi makanan rakyat? Makanan yang—meminjam lirik lagu keroncong ciptaan S. Padimin pada era 50an yang berjudul Semanggi Suroboyo— “harganya sangat murah… sepincuk hanya setali” itu.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: kulinerSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Kesadaran Autisme Sedunia 2026:Ketika Tuhan Mengirimkan Gangga, Ia Sebenarnya Mengirimkan Sekolah Kehidupan

Next Post

Lolot Band Rilis ‘Tajir Melintir’: Album ke-11 yang Ringkas dan Mengena

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails

Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

by Putu Ayu Ariani
October 16, 2025
0
Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

DINI hari di Desa Banjar, Kabupaten Buleleng, suasana masih diselimuti udara dingin. Namun di depan sebuah warung sederhana, cahaya api...

Read moreDetails

“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

by Ni Wayan Suwini
October 10, 2025
0
“Warung di Kebun”: Menemukan Teduh di Tengah Riuh Denpasar

JALAN Hayam Wuruk, Denpasar, pagi itu. Deru kendaraan, suara klakson yang saling bersahutan, dan rutinitas kota yang jarang berhenti terasa...

Read moreDetails
Next Post
Lolot Band Rilis ‘Tajir Melintir’: Album ke-11 yang Ringkas dan Mengena

Lolot Band Rilis ‘Tajir Melintir’: Album ke-11 yang Ringkas dan Mengena

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co