13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan

Helmy Khan by Helmy Khan
January 27, 2024
in Cerpen
Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan

Ilustrasi tatkala.co

PECAHNYA pertahanan Sumenep di daerah Cen-lecen membuat suasana semakin mencekam. Belum lagi masalah ketimpangan persenjataan antara pasukan Belanda dan pejuang setempat membuat pertempuran tak seimbang. Tak sedikit darah pejuang tumpah di atas tanah Sumenep.

Angin mati di pucuk siwalan. Daun-daun perdu menjadi saksi kegelisahan rakyat atas invasi penjajah yang semakin bergerak ke arah timur. Kabar terkini, desakan pasukan Belanda telah menyisir wilayah timur bagian pulau Madura melalui poros tengah. Runtuhnya pertahanan di daerah Kadur Pamekasan mendorong pasukan Belanda semakin dalam menaklukkan Pulau Garam itu, hingga ke Sumenep.

Kabar di atas rupanya bukan hanya sekadar kabar burung. Menjelang salat zuhur, Durahman kembali ke kampung halamannya setelah beberapa hari bermalam di kawasan Guluk-Guluk. Dia bertutur pada Maksan bagaimana gentingnya pertahanan Kompi Mobile Brigade (MB) Pimpinan Ajun Inspektur R. Abd. Kadir saat berusaha menghalau laju pasukan Belanda. Akan tetapi usaha itu sia-sia dan perlahan pasukan yang ditangani oleh R. Abd. Kadir terpaksa mundur untuk meminimalisir jumlah personel agar tidak gugur.

Ambisi Belanda menaklukkan Sumenep semakin besar. Di samping itu, kini beredar isu, ambisi di atas dilatarbelakangi oleh dugaan bahwa Sumenep merupakan benteng dan basis pertahanan pasukan pejuang dalam mempertahankan Pulau Madura. Atas dasar itu mereka semakin gencar melakukan aksinya agar para pejuangan secepat mungkin bisa dilumpuhkan dan Madura bisa dikuasai seutuhnya.

Setelah menaklukkan pertahanan di Pamekasan, secara perlahan Belanda mempersempit ruang gerak para pejuang dan mendesak semakin jauh hingga masuk ke perbatasan Sumenep. Poros tengah Sumenep yang meliputi Desa Cen-lecen, Bakeong, Dungdang, dan Guluk-guluk kini dalam keadaan darurat. Jika Belanda semakin membabi-buta, bukan tak mungkin apa yang dinginkan akan segera terwujud. Mendengar itu kengerian timbul dalam kepala Maksan. Apa yang disampaikan Durahman membuat bulu kuduknya berdiri, dia tak bisa membayangkan apa jadinya jika Sumenep benar-benar jatuh ke tangan penjajah.

“Kapan kau akan kembali lagi ke sana?” tanya Maksan pada kawan karibnya itu.

“Sebelum magrib. Agar perjalanan ke sana lebih aman,” jawab Durahman singkat.

“Ajaklah aku ke sana. Aku tidak bisa terus-menerus berada di sini.”

“Apa kamu yakin. Bagaimana dengan keadaanmu?” Tatapan Durahman tertuju pada mata Maksan yang berkaca-kaca.

Apa yang ditanyakan oleh Durahman membuat Maksan bergeming. Dia sadar bahwa saat ini dia berada dalam tahap pemulihan, lantaran selongsung peluru bersarang dalam betisnya pada suatu malam yang buta.

Maksan menghela napas panjang. Sepoi angin dari arah tenggara menyibak rambutnya. Tatapan maksan jauh tertuju ke angkasa, ingatannya berkeliaran pada suatu ingatan saat dia berada di medan perang satu bulan yang lalu. Kala itu, usia Maksan baru genap menginjak umur enam belas tahun dan dia terpaksa turut serta terjun melawan penjajah bersama ayahnya.

Di medan perang, dia ditugaskan membantu mengamankan atau membawa sejumlah senjata yang mampu dia bawa, saat para pejuang menyisir area pertahanan yang masih bisa diselamatkan dari tangan penjajah. Akan tetapi, malam itu dia terkena letusan peluru yang keluar dari moncong senapan Belanda yang membuntuti pergerakannya di Desa Kertagenna, perbatasan Pamekasan-Sumenep.

Rintik hujan malam itu menjadi saksi kebiadaban pasukan Belanda terhadap para pejuang yang berhasil ditangkap setelah meninggalkan benteng pertahanan di kawasan Kadur. Peristiwa mencekam itu hanya menyisakan dirinya seorang. Sedangkan ayah dan dua pejuang lainnya hilang tanpa jejak.

Maksan cukup ingat bagaimana kekejaman Belanda saat menyeret ayahnya malam itu. Jika bukan karena ayahnya, mungkin saja dia telah tamat. Meski malam semakin pekat dengan gelapnya, dia bisa melihat ketulusan dari pengorbanan seorang ayah yang sama besarnya pada tanah airnya. Sedetik kemudian setelah peluru bersarang dalam betisnya, dia dibopong menyusuri jalan setapak dan berbatu. Maksan hampir saja menyerah dan terlihat pasrah jika harus dieksekusi. Akan tetapi ayahnya bertekad tinggi, bahwa dia harus selamat dan tak boleh gugur di usia yang terbilang cukup muda.

Derap langkah pasukan Belanda terasa semakin dekat. Getaran dari hentakan sepatu mereka menjejak tanah dengan kerasnya. Maksan terbaring dengan kaki terluka, ayahnya terkulai lemas di samping anak lelakinya. Beberapa detik kemudian, usai bibirnya mendarat di kening Maksan, anak lelakinya dilempar ke semak-semak, sedangkan dia dengan napas tersengal berlari ke lain arah untuk mengelabuhi kejaran pasukan Belanda. Dalam keadaan seperti itu Maksan hanya bisa menitikkan air mata tanpa suara.

Tak berselang lama, tiba-tiba bunyi letusan peluru membelah sunyi. Suara erangan terdengar landai bersahutan dengan suara lolongan tengah malam. Dalam posisi terbaring di atas tanah, Maksan merasakan getaran derap langkah berpasang-pasang sepatu menjejak tanah. Mereka menyeret ayahnya yang telah tak berdaya.

“Aku baik-baik saja. Tinggal rasa nyeri saja. Selebihnya sudah membaik,” ucap Maksan sambil menepis ingatan buruk itu.

Setelah bercakap-cakap cukup lama, akhirnya Durahman meninggalkan rumah Maksan. Dalam perjalanan dia dihantui rasa bimbang antara mengikutsertakan dia ke medan perang atau tidak. Durahman merasa tidak tega jika turut membawa Maksan yang kini berada dalam proses pemulihan akibat timah panas yang bersarang di kaki kirinya. Tapi di sisi lain, keadaan di medan perang semakin mencekam dan membutuhkan banyak pasukan.

***

Pertempuran sengit antara pejuang dan pasukan Belanda tak terelakkan di Desa Dungdang. Di mana, ranjau-ranjau yang ditanam di jembatan desa itu bisa diantisipasi oleh para penjajah. Kecerdikan mereka dalam membaca situasi dan kondisi di medan perang sangat peka. Ranjau yang ditanam oleh para pejuang berhasil diidentivikasi sehingga mereka meneruskan perjalanan dengan cara menaruh kendaraan lapis baja di depan regu untuk menyisir tipu daya dari ranjau yang ditanam oleh para pejuang.

Melihat keberhasilan pasukan Belanda melewati medan ranjau, membuat Maksan semakin tak mengerti bagaimana lagi cara menghentikan invasi mereka yang kian mengarah ke jantung Sumenep. Dia tiarap di balik semak belukar, menyaksikan ledakan ranjau yang disisir oleh kendaraan lapis baja.

Meski mereka berhasil melawati medan itu, nyatanya ada pasukan Belanda yang tewas terkena ledakan saat berupaya mengambil ranjau yang ditanam di sekitar lokasi. Saat itu suasana semakin mencekam, lantaran mereka membalasnya dengan hujan peluru dan bola meriam ditargetkan ke tempat di mana para pejuang berada.

Para pejuang mendapat balasan telak usai pasukan Belanda berhasil melintasi jembatan Desa Dundang. Desingan peluru sudah tak terhitung berapa banyak yang telah dimuntahkan oleh senapan milik penjajah. Hujan peluru yang tak terkendali itu membuat para pejuang tiarap di balik pohon-pohon. Sesekali dentuman bola meriam mengguncang tanah dengan kerasnya. Maksan tiarap di samping Durahman yang tak bersuara.

Rupanya usaha pembalasan dari Belanda membuahkan hasil, muntahan pelor dari moncong senapan mereka mengenai dua agen polisi, Moh. Hosen dan Agen Polisi Panidi yang berupaya mundur. Gugurnya dua agen polisi di atas menyiratkan duka mendalam bagi para pejuang. Mereka kembali kehilangan pasukan di tengah usaha Belanda yang semakin membabi buta melancarkan serangan untuk menusuk jantung Sumenep.

***

“Marilah kita kembali bergabung dengan pasukan yang lain,” ajak Durahman pada Maksan yang tetap dalam pengintaian di balik pohon jati.

“Untuk apa kembali? Lagian pemakaman kedua agen polisi sudah dilaksanakan. Tunggulah dulu di sini, kita bertahan sebentar,” jawab Maksan. Beberapa detik kemudian dia membalikkan badan pada Durahman yang jongkok di sisinya.

“Ada yang lebih penting dari ini. Pasukan Belanda lainnya kini tengah bersiap menerjang benteng pertahanan dari sisi utara.”

“Apa?” Kening Maksan mengerut, terkejut atas terjadinya serangan besar-besaran Belanda yang hendak menyerbu Sumenep dari segala penjuru.

Kematian pasukan Belanda berpangkat perwira kemarin menyulut api semakin besar. Markas Batalyon TKR di Ambunten pada akhirnya jebol dan pergerakan Belanda semakin deras melaju ke titik pusat Sumenep. Inilah yang tak bisa dibayangkan oleh Maksan, dia tidak tahu kehancuran seperti apa yang akan terjadi jikalau Belanda memegang alih kekuasaan di Sumenep. Selama ini dia cukup merasakan penderaitaan dan pedihnya rasa kehilangan ayah tercinta di tangan penjajah.

“Pergilah kau ke sana, nanti aku akan menyusul.”

Apa yang dikatakan oleh Maksan membuat Durahman segera bangkit dan meninggalkan tempat pengintaian.

Seorang diri mengintai penjajah membuat Maksan gelap mata. Entah pikiran apa yang membuat dia melakukan aksi tak terencana, menyerang pasukan Belanda yang membawa jasad perwira ke Pamekasan. Meski maksan berhasil menancapkan sebilah keris pada pasukan Belanda, dia harus merelakan tubuhnya menjadi sasaran pelor yang keluar dari moncong senapan. Letusan peluru memekikkan telinga, erangan Maksan terdengar oleh Durahman yang masih belum jauh dari tempat pengintaian. Durahman tertegun melihat kawan karibnya tewas di tangan Belanda. [T]

BACA cerpen-cerpen tatkala.co yang lain

Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto
Tags: Cerpencerpen tentang perjuangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melali, Menganyam Kehidupan di Mai Kubu Space

Next Post

Sunyi Sebagai Sumber Penciptaan Puisi

Helmy Khan

Helmy Khan

Lahir di Sumenep. Suka menulis cerpen dan sedang belajar menulis. Saat ini aktif di Komunitas Damar Korong. Beberapa karyanya telah tayang di media baik cetak maupun online seperti Kabar Madura, Surau, Scintia Indonesia, Harian Merapi, Rakyat Sumbar, Tanjung Pinang Post, madrasahdigital.com, duniasantri.com, Negeri Kertas, jatimkini.com, semilir, dan takanta.id. Bisa disapa melalui emailnya helmykhan90@gmail.com

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Sunyi Sebagai Sumber Penciptaan Puisi

Sunyi Sebagai Sumber Penciptaan Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co