2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan

Helmy Khan by Helmy Khan
January 27, 2024
in Cerpen
Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan

Ilustrasi tatkala.co

PECAHNYA pertahanan Sumenep di daerah Cen-lecen membuat suasana semakin mencekam. Belum lagi masalah ketimpangan persenjataan antara pasukan Belanda dan pejuang setempat membuat pertempuran tak seimbang. Tak sedikit darah pejuang tumpah di atas tanah Sumenep.

Angin mati di pucuk siwalan. Daun-daun perdu menjadi saksi kegelisahan rakyat atas invasi penjajah yang semakin bergerak ke arah timur. Kabar terkini, desakan pasukan Belanda telah menyisir wilayah timur bagian pulau Madura melalui poros tengah. Runtuhnya pertahanan di daerah Kadur Pamekasan mendorong pasukan Belanda semakin dalam menaklukkan Pulau Garam itu, hingga ke Sumenep.

Kabar di atas rupanya bukan hanya sekadar kabar burung. Menjelang salat zuhur, Durahman kembali ke kampung halamannya setelah beberapa hari bermalam di kawasan Guluk-Guluk. Dia bertutur pada Maksan bagaimana gentingnya pertahanan Kompi Mobile Brigade (MB) Pimpinan Ajun Inspektur R. Abd. Kadir saat berusaha menghalau laju pasukan Belanda. Akan tetapi usaha itu sia-sia dan perlahan pasukan yang ditangani oleh R. Abd. Kadir terpaksa mundur untuk meminimalisir jumlah personel agar tidak gugur.

Ambisi Belanda menaklukkan Sumenep semakin besar. Di samping itu, kini beredar isu, ambisi di atas dilatarbelakangi oleh dugaan bahwa Sumenep merupakan benteng dan basis pertahanan pasukan pejuang dalam mempertahankan Pulau Madura. Atas dasar itu mereka semakin gencar melakukan aksinya agar para pejuangan secepat mungkin bisa dilumpuhkan dan Madura bisa dikuasai seutuhnya.

Setelah menaklukkan pertahanan di Pamekasan, secara perlahan Belanda mempersempit ruang gerak para pejuang dan mendesak semakin jauh hingga masuk ke perbatasan Sumenep. Poros tengah Sumenep yang meliputi Desa Cen-lecen, Bakeong, Dungdang, dan Guluk-guluk kini dalam keadaan darurat. Jika Belanda semakin membabi-buta, bukan tak mungkin apa yang dinginkan akan segera terwujud. Mendengar itu kengerian timbul dalam kepala Maksan. Apa yang disampaikan Durahman membuat bulu kuduknya berdiri, dia tak bisa membayangkan apa jadinya jika Sumenep benar-benar jatuh ke tangan penjajah.

“Kapan kau akan kembali lagi ke sana?” tanya Maksan pada kawan karibnya itu.

“Sebelum magrib. Agar perjalanan ke sana lebih aman,” jawab Durahman singkat.

“Ajaklah aku ke sana. Aku tidak bisa terus-menerus berada di sini.”

“Apa kamu yakin. Bagaimana dengan keadaanmu?” Tatapan Durahman tertuju pada mata Maksan yang berkaca-kaca.

Apa yang ditanyakan oleh Durahman membuat Maksan bergeming. Dia sadar bahwa saat ini dia berada dalam tahap pemulihan, lantaran selongsung peluru bersarang dalam betisnya pada suatu malam yang buta.

Maksan menghela napas panjang. Sepoi angin dari arah tenggara menyibak rambutnya. Tatapan maksan jauh tertuju ke angkasa, ingatannya berkeliaran pada suatu ingatan saat dia berada di medan perang satu bulan yang lalu. Kala itu, usia Maksan baru genap menginjak umur enam belas tahun dan dia terpaksa turut serta terjun melawan penjajah bersama ayahnya.

Di medan perang, dia ditugaskan membantu mengamankan atau membawa sejumlah senjata yang mampu dia bawa, saat para pejuang menyisir area pertahanan yang masih bisa diselamatkan dari tangan penjajah. Akan tetapi, malam itu dia terkena letusan peluru yang keluar dari moncong senapan Belanda yang membuntuti pergerakannya di Desa Kertagenna, perbatasan Pamekasan-Sumenep.

Rintik hujan malam itu menjadi saksi kebiadaban pasukan Belanda terhadap para pejuang yang berhasil ditangkap setelah meninggalkan benteng pertahanan di kawasan Kadur. Peristiwa mencekam itu hanya menyisakan dirinya seorang. Sedangkan ayah dan dua pejuang lainnya hilang tanpa jejak.

Maksan cukup ingat bagaimana kekejaman Belanda saat menyeret ayahnya malam itu. Jika bukan karena ayahnya, mungkin saja dia telah tamat. Meski malam semakin pekat dengan gelapnya, dia bisa melihat ketulusan dari pengorbanan seorang ayah yang sama besarnya pada tanah airnya. Sedetik kemudian setelah peluru bersarang dalam betisnya, dia dibopong menyusuri jalan setapak dan berbatu. Maksan hampir saja menyerah dan terlihat pasrah jika harus dieksekusi. Akan tetapi ayahnya bertekad tinggi, bahwa dia harus selamat dan tak boleh gugur di usia yang terbilang cukup muda.

Derap langkah pasukan Belanda terasa semakin dekat. Getaran dari hentakan sepatu mereka menjejak tanah dengan kerasnya. Maksan terbaring dengan kaki terluka, ayahnya terkulai lemas di samping anak lelakinya. Beberapa detik kemudian, usai bibirnya mendarat di kening Maksan, anak lelakinya dilempar ke semak-semak, sedangkan dia dengan napas tersengal berlari ke lain arah untuk mengelabuhi kejaran pasukan Belanda. Dalam keadaan seperti itu Maksan hanya bisa menitikkan air mata tanpa suara.

Tak berselang lama, tiba-tiba bunyi letusan peluru membelah sunyi. Suara erangan terdengar landai bersahutan dengan suara lolongan tengah malam. Dalam posisi terbaring di atas tanah, Maksan merasakan getaran derap langkah berpasang-pasang sepatu menjejak tanah. Mereka menyeret ayahnya yang telah tak berdaya.

“Aku baik-baik saja. Tinggal rasa nyeri saja. Selebihnya sudah membaik,” ucap Maksan sambil menepis ingatan buruk itu.

Setelah bercakap-cakap cukup lama, akhirnya Durahman meninggalkan rumah Maksan. Dalam perjalanan dia dihantui rasa bimbang antara mengikutsertakan dia ke medan perang atau tidak. Durahman merasa tidak tega jika turut membawa Maksan yang kini berada dalam proses pemulihan akibat timah panas yang bersarang di kaki kirinya. Tapi di sisi lain, keadaan di medan perang semakin mencekam dan membutuhkan banyak pasukan.

***

Pertempuran sengit antara pejuang dan pasukan Belanda tak terelakkan di Desa Dungdang. Di mana, ranjau-ranjau yang ditanam di jembatan desa itu bisa diantisipasi oleh para penjajah. Kecerdikan mereka dalam membaca situasi dan kondisi di medan perang sangat peka. Ranjau yang ditanam oleh para pejuang berhasil diidentivikasi sehingga mereka meneruskan perjalanan dengan cara menaruh kendaraan lapis baja di depan regu untuk menyisir tipu daya dari ranjau yang ditanam oleh para pejuang.

Melihat keberhasilan pasukan Belanda melewati medan ranjau, membuat Maksan semakin tak mengerti bagaimana lagi cara menghentikan invasi mereka yang kian mengarah ke jantung Sumenep. Dia tiarap di balik semak belukar, menyaksikan ledakan ranjau yang disisir oleh kendaraan lapis baja.

Meski mereka berhasil melawati medan itu, nyatanya ada pasukan Belanda yang tewas terkena ledakan saat berupaya mengambil ranjau yang ditanam di sekitar lokasi. Saat itu suasana semakin mencekam, lantaran mereka membalasnya dengan hujan peluru dan bola meriam ditargetkan ke tempat di mana para pejuang berada.

Para pejuang mendapat balasan telak usai pasukan Belanda berhasil melintasi jembatan Desa Dundang. Desingan peluru sudah tak terhitung berapa banyak yang telah dimuntahkan oleh senapan milik penjajah. Hujan peluru yang tak terkendali itu membuat para pejuang tiarap di balik pohon-pohon. Sesekali dentuman bola meriam mengguncang tanah dengan kerasnya. Maksan tiarap di samping Durahman yang tak bersuara.

Rupanya usaha pembalasan dari Belanda membuahkan hasil, muntahan pelor dari moncong senapan mereka mengenai dua agen polisi, Moh. Hosen dan Agen Polisi Panidi yang berupaya mundur. Gugurnya dua agen polisi di atas menyiratkan duka mendalam bagi para pejuang. Mereka kembali kehilangan pasukan di tengah usaha Belanda yang semakin membabi buta melancarkan serangan untuk menusuk jantung Sumenep.

***

“Marilah kita kembali bergabung dengan pasukan yang lain,” ajak Durahman pada Maksan yang tetap dalam pengintaian di balik pohon jati.

“Untuk apa kembali? Lagian pemakaman kedua agen polisi sudah dilaksanakan. Tunggulah dulu di sini, kita bertahan sebentar,” jawab Maksan. Beberapa detik kemudian dia membalikkan badan pada Durahman yang jongkok di sisinya.

“Ada yang lebih penting dari ini. Pasukan Belanda lainnya kini tengah bersiap menerjang benteng pertahanan dari sisi utara.”

“Apa?” Kening Maksan mengerut, terkejut atas terjadinya serangan besar-besaran Belanda yang hendak menyerbu Sumenep dari segala penjuru.

Kematian pasukan Belanda berpangkat perwira kemarin menyulut api semakin besar. Markas Batalyon TKR di Ambunten pada akhirnya jebol dan pergerakan Belanda semakin deras melaju ke titik pusat Sumenep. Inilah yang tak bisa dibayangkan oleh Maksan, dia tidak tahu kehancuran seperti apa yang akan terjadi jikalau Belanda memegang alih kekuasaan di Sumenep. Selama ini dia cukup merasakan penderaitaan dan pedihnya rasa kehilangan ayah tercinta di tangan penjajah.

“Pergilah kau ke sana, nanti aku akan menyusul.”

Apa yang dikatakan oleh Maksan membuat Durahman segera bangkit dan meninggalkan tempat pengintaian.

Seorang diri mengintai penjajah membuat Maksan gelap mata. Entah pikiran apa yang membuat dia melakukan aksi tak terencana, menyerang pasukan Belanda yang membawa jasad perwira ke Pamekasan. Meski maksan berhasil menancapkan sebilah keris pada pasukan Belanda, dia harus merelakan tubuhnya menjadi sasaran pelor yang keluar dari moncong senapan. Letusan peluru memekikkan telinga, erangan Maksan terdengar oleh Durahman yang masih belum jauh dari tempat pengintaian. Durahman tertegun melihat kawan karibnya tewas di tangan Belanda. [T]

BACA cerpen-cerpen tatkala.co yang lain

Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto
Tags: Cerpencerpen tentang perjuangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melali, Menganyam Kehidupan di Mai Kubu Space

Next Post

Sunyi Sebagai Sumber Penciptaan Puisi

Helmy Khan

Helmy Khan

Lahir di Sumenep. Suka menulis cerpen dan sedang belajar menulis. Saat ini aktif di Komunitas Damar Korong. Beberapa karyanya telah tayang di media baik cetak maupun online seperti Kabar Madura, Surau, Scintia Indonesia, Harian Merapi, Rakyat Sumbar, Tanjung Pinang Post, madrasahdigital.com, duniasantri.com, Negeri Kertas, jatimkini.com, semilir, dan takanta.id. Bisa disapa melalui emailnya helmykhan90@gmail.com

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Sunyi Sebagai Sumber Penciptaan Puisi

Sunyi Sebagai Sumber Penciptaan Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co