14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan

Helmy Khan by Helmy Khan
January 27, 2024
in Cerpen
Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan

Ilustrasi tatkala.co

PECAHNYA pertahanan Sumenep di daerah Cen-lecen membuat suasana semakin mencekam. Belum lagi masalah ketimpangan persenjataan antara pasukan Belanda dan pejuang setempat membuat pertempuran tak seimbang. Tak sedikit darah pejuang tumpah di atas tanah Sumenep.

Angin mati di pucuk siwalan. Daun-daun perdu menjadi saksi kegelisahan rakyat atas invasi penjajah yang semakin bergerak ke arah timur. Kabar terkini, desakan pasukan Belanda telah menyisir wilayah timur bagian pulau Madura melalui poros tengah. Runtuhnya pertahanan di daerah Kadur Pamekasan mendorong pasukan Belanda semakin dalam menaklukkan Pulau Garam itu, hingga ke Sumenep.

Kabar di atas rupanya bukan hanya sekadar kabar burung. Menjelang salat zuhur, Durahman kembali ke kampung halamannya setelah beberapa hari bermalam di kawasan Guluk-Guluk. Dia bertutur pada Maksan bagaimana gentingnya pertahanan Kompi Mobile Brigade (MB) Pimpinan Ajun Inspektur R. Abd. Kadir saat berusaha menghalau laju pasukan Belanda. Akan tetapi usaha itu sia-sia dan perlahan pasukan yang ditangani oleh R. Abd. Kadir terpaksa mundur untuk meminimalisir jumlah personel agar tidak gugur.

Ambisi Belanda menaklukkan Sumenep semakin besar. Di samping itu, kini beredar isu, ambisi di atas dilatarbelakangi oleh dugaan bahwa Sumenep merupakan benteng dan basis pertahanan pasukan pejuang dalam mempertahankan Pulau Madura. Atas dasar itu mereka semakin gencar melakukan aksinya agar para pejuangan secepat mungkin bisa dilumpuhkan dan Madura bisa dikuasai seutuhnya.

Setelah menaklukkan pertahanan di Pamekasan, secara perlahan Belanda mempersempit ruang gerak para pejuang dan mendesak semakin jauh hingga masuk ke perbatasan Sumenep. Poros tengah Sumenep yang meliputi Desa Cen-lecen, Bakeong, Dungdang, dan Guluk-guluk kini dalam keadaan darurat. Jika Belanda semakin membabi-buta, bukan tak mungkin apa yang dinginkan akan segera terwujud. Mendengar itu kengerian timbul dalam kepala Maksan. Apa yang disampaikan Durahman membuat bulu kuduknya berdiri, dia tak bisa membayangkan apa jadinya jika Sumenep benar-benar jatuh ke tangan penjajah.

“Kapan kau akan kembali lagi ke sana?” tanya Maksan pada kawan karibnya itu.

“Sebelum magrib. Agar perjalanan ke sana lebih aman,” jawab Durahman singkat.

“Ajaklah aku ke sana. Aku tidak bisa terus-menerus berada di sini.”

“Apa kamu yakin. Bagaimana dengan keadaanmu?” Tatapan Durahman tertuju pada mata Maksan yang berkaca-kaca.

Apa yang ditanyakan oleh Durahman membuat Maksan bergeming. Dia sadar bahwa saat ini dia berada dalam tahap pemulihan, lantaran selongsung peluru bersarang dalam betisnya pada suatu malam yang buta.

Maksan menghela napas panjang. Sepoi angin dari arah tenggara menyibak rambutnya. Tatapan maksan jauh tertuju ke angkasa, ingatannya berkeliaran pada suatu ingatan saat dia berada di medan perang satu bulan yang lalu. Kala itu, usia Maksan baru genap menginjak umur enam belas tahun dan dia terpaksa turut serta terjun melawan penjajah bersama ayahnya.

Di medan perang, dia ditugaskan membantu mengamankan atau membawa sejumlah senjata yang mampu dia bawa, saat para pejuang menyisir area pertahanan yang masih bisa diselamatkan dari tangan penjajah. Akan tetapi, malam itu dia terkena letusan peluru yang keluar dari moncong senapan Belanda yang membuntuti pergerakannya di Desa Kertagenna, perbatasan Pamekasan-Sumenep.

Rintik hujan malam itu menjadi saksi kebiadaban pasukan Belanda terhadap para pejuang yang berhasil ditangkap setelah meninggalkan benteng pertahanan di kawasan Kadur. Peristiwa mencekam itu hanya menyisakan dirinya seorang. Sedangkan ayah dan dua pejuang lainnya hilang tanpa jejak.

Maksan cukup ingat bagaimana kekejaman Belanda saat menyeret ayahnya malam itu. Jika bukan karena ayahnya, mungkin saja dia telah tamat. Meski malam semakin pekat dengan gelapnya, dia bisa melihat ketulusan dari pengorbanan seorang ayah yang sama besarnya pada tanah airnya. Sedetik kemudian setelah peluru bersarang dalam betisnya, dia dibopong menyusuri jalan setapak dan berbatu. Maksan hampir saja menyerah dan terlihat pasrah jika harus dieksekusi. Akan tetapi ayahnya bertekad tinggi, bahwa dia harus selamat dan tak boleh gugur di usia yang terbilang cukup muda.

Derap langkah pasukan Belanda terasa semakin dekat. Getaran dari hentakan sepatu mereka menjejak tanah dengan kerasnya. Maksan terbaring dengan kaki terluka, ayahnya terkulai lemas di samping anak lelakinya. Beberapa detik kemudian, usai bibirnya mendarat di kening Maksan, anak lelakinya dilempar ke semak-semak, sedangkan dia dengan napas tersengal berlari ke lain arah untuk mengelabuhi kejaran pasukan Belanda. Dalam keadaan seperti itu Maksan hanya bisa menitikkan air mata tanpa suara.

Tak berselang lama, tiba-tiba bunyi letusan peluru membelah sunyi. Suara erangan terdengar landai bersahutan dengan suara lolongan tengah malam. Dalam posisi terbaring di atas tanah, Maksan merasakan getaran derap langkah berpasang-pasang sepatu menjejak tanah. Mereka menyeret ayahnya yang telah tak berdaya.

“Aku baik-baik saja. Tinggal rasa nyeri saja. Selebihnya sudah membaik,” ucap Maksan sambil menepis ingatan buruk itu.

Setelah bercakap-cakap cukup lama, akhirnya Durahman meninggalkan rumah Maksan. Dalam perjalanan dia dihantui rasa bimbang antara mengikutsertakan dia ke medan perang atau tidak. Durahman merasa tidak tega jika turut membawa Maksan yang kini berada dalam proses pemulihan akibat timah panas yang bersarang di kaki kirinya. Tapi di sisi lain, keadaan di medan perang semakin mencekam dan membutuhkan banyak pasukan.

***

Pertempuran sengit antara pejuang dan pasukan Belanda tak terelakkan di Desa Dungdang. Di mana, ranjau-ranjau yang ditanam di jembatan desa itu bisa diantisipasi oleh para penjajah. Kecerdikan mereka dalam membaca situasi dan kondisi di medan perang sangat peka. Ranjau yang ditanam oleh para pejuang berhasil diidentivikasi sehingga mereka meneruskan perjalanan dengan cara menaruh kendaraan lapis baja di depan regu untuk menyisir tipu daya dari ranjau yang ditanam oleh para pejuang.

Melihat keberhasilan pasukan Belanda melewati medan ranjau, membuat Maksan semakin tak mengerti bagaimana lagi cara menghentikan invasi mereka yang kian mengarah ke jantung Sumenep. Dia tiarap di balik semak belukar, menyaksikan ledakan ranjau yang disisir oleh kendaraan lapis baja.

Meski mereka berhasil melawati medan itu, nyatanya ada pasukan Belanda yang tewas terkena ledakan saat berupaya mengambil ranjau yang ditanam di sekitar lokasi. Saat itu suasana semakin mencekam, lantaran mereka membalasnya dengan hujan peluru dan bola meriam ditargetkan ke tempat di mana para pejuang berada.

Para pejuang mendapat balasan telak usai pasukan Belanda berhasil melintasi jembatan Desa Dundang. Desingan peluru sudah tak terhitung berapa banyak yang telah dimuntahkan oleh senapan milik penjajah. Hujan peluru yang tak terkendali itu membuat para pejuang tiarap di balik pohon-pohon. Sesekali dentuman bola meriam mengguncang tanah dengan kerasnya. Maksan tiarap di samping Durahman yang tak bersuara.

Rupanya usaha pembalasan dari Belanda membuahkan hasil, muntahan pelor dari moncong senapan mereka mengenai dua agen polisi, Moh. Hosen dan Agen Polisi Panidi yang berupaya mundur. Gugurnya dua agen polisi di atas menyiratkan duka mendalam bagi para pejuang. Mereka kembali kehilangan pasukan di tengah usaha Belanda yang semakin membabi buta melancarkan serangan untuk menusuk jantung Sumenep.

***

“Marilah kita kembali bergabung dengan pasukan yang lain,” ajak Durahman pada Maksan yang tetap dalam pengintaian di balik pohon jati.

“Untuk apa kembali? Lagian pemakaman kedua agen polisi sudah dilaksanakan. Tunggulah dulu di sini, kita bertahan sebentar,” jawab Maksan. Beberapa detik kemudian dia membalikkan badan pada Durahman yang jongkok di sisinya.

“Ada yang lebih penting dari ini. Pasukan Belanda lainnya kini tengah bersiap menerjang benteng pertahanan dari sisi utara.”

“Apa?” Kening Maksan mengerut, terkejut atas terjadinya serangan besar-besaran Belanda yang hendak menyerbu Sumenep dari segala penjuru.

Kematian pasukan Belanda berpangkat perwira kemarin menyulut api semakin besar. Markas Batalyon TKR di Ambunten pada akhirnya jebol dan pergerakan Belanda semakin deras melaju ke titik pusat Sumenep. Inilah yang tak bisa dibayangkan oleh Maksan, dia tidak tahu kehancuran seperti apa yang akan terjadi jikalau Belanda memegang alih kekuasaan di Sumenep. Selama ini dia cukup merasakan penderaitaan dan pedihnya rasa kehilangan ayah tercinta di tangan penjajah.

“Pergilah kau ke sana, nanti aku akan menyusul.”

Apa yang dikatakan oleh Maksan membuat Durahman segera bangkit dan meninggalkan tempat pengintaian.

Seorang diri mengintai penjajah membuat Maksan gelap mata. Entah pikiran apa yang membuat dia melakukan aksi tak terencana, menyerang pasukan Belanda yang membawa jasad perwira ke Pamekasan. Meski maksan berhasil menancapkan sebilah keris pada pasukan Belanda, dia harus merelakan tubuhnya menjadi sasaran pelor yang keluar dari moncong senapan. Letusan peluru memekikkan telinga, erangan Maksan terdengar oleh Durahman yang masih belum jauh dari tempat pengintaian. Durahman tertegun melihat kawan karibnya tewas di tangan Belanda. [T]

BACA cerpen-cerpen tatkala.co yang lain

Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto
Tags: Cerpencerpen tentang perjuangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melali, Menganyam Kehidupan di Mai Kubu Space

Next Post

Sunyi Sebagai Sumber Penciptaan Puisi

Helmy Khan

Helmy Khan

Lahir di Sumenep. Suka menulis cerpen dan sedang belajar menulis. Saat ini aktif di Komunitas Damar Korong. Beberapa karyanya telah tayang di media baik cetak maupun online seperti Kabar Madura, Surau, Scintia Indonesia, Harian Merapi, Rakyat Sumbar, Tanjung Pinang Post, madrasahdigital.com, duniasantri.com, Negeri Kertas, jatimkini.com, semilir, dan takanta.id. Bisa disapa melalui emailnya helmykhan90@gmail.com

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Sunyi Sebagai Sumber Penciptaan Puisi

Sunyi Sebagai Sumber Penciptaan Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co