23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mors Vincit Omnia | Cerpen Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo by Kiki Sulistyo
April 6, 2024
in Cerpen
Mors Vincit Omnia | Cerpen Kiki Sulistyo

Ilustrasi tatkala.co

AKHIR-AKHIR ini hujan sering tertabur dengan serta merta. Kadang lembut seperti perawat yang sopan, kadang cepat dan mengejutkan seperti peristiwa kecelakaan. Bagiku, seperti apapun, sama saja; aku selalu lupa membeli jas hujan. Apabila hujan sudah tertabur, barulah aku ingat bahwa aku lupa membeli jas hujan; lantas aku akan mengutuk diri sendiri sambil susah payah mencari tempat berteduh yang hampir selalu sudah ditempati orang lain meskipun sebagian dari mereka mengenakan jas hujan lengkap. Mengherankan, untuk apa mereka mengenakan jas hujan kalau tak berniat menembus hujan?

Pastilah, sebetulnya, mereka malas ke tempat tujuan. Bukan tempat tujuan itu yang mereka inginkan, melainkan tempat lain, yang hangat dan tanpa beban; tempat yang bukan rumah di mana keluarga menerapkan aturan-aturan, di mana orangtua tak ada bedanya dengan majikan, atau sebaliknya: anak-anak tak ada bedanya dengan karyawan yang malas dan bengal. Sayangnya, tempat yang hangat dan tanpa beban itu bukan tujuan mereka, meski mereka sangat menginginkannya.

Beban dan tekanan memang ada di mana-mana, dan hujan, yang tertabur dengan serta merta ketika seseorang sedang berada di jalan menuju tempat yang tidak mereka inginkan, membuat beban dan tekanan itu kian berat dan menjengkelkan. Perjalanan menuju tempat yang tak diinginkan, tapi harus tetap dijalani, terhalang tanpa ada kepastian kapan halangan tersebut bakal hilang.

Malam itu hujan tertabur kembali. Aku mengutuk diri sambil berupaya mencari tempat menepi. Aku sedang berada di Jalan Pemuda, tak ada tempat menepi di jalan itu. Terpaksa aku berbelok ke sebuah areal kafe yang kelihatan sepi. Sebagian besar areal kafe itu terbuka; cuma ada kanopi berbentuk jaring yang tentu saja tak bisa menahan hujan. Hanya bagian belakang, tempat kasir dan meja racik, yang berbentuk bangunan, itu pun sempit saja. Tempias memuncrat ke seluruh bagian bangunan itu.

Aku berniat masuk ke bangunan itu tapi urung sebab aku melihat di sebelah kiri ada toko yang sudah tutup. Beranda toko itu bisa dipakai untuk berteduh sehingga aku tak perlu memesan minuman hanya untuk menunggu hujan reda. Pintu dan bagian depan toko itu terbuat dari kaca. Rupanya itu toko yang menjual buku-buku kedokteran. Dekat dari Jalan Pemuda memang ada sekolah tinggi keperawatan. Pemilik toko pasti berharap para mahasiswa di sekolah tinggi itu akan menjadi pelanggannya.

Aku mendekatkan muka ke pintu kaca. Bagian dalam toko remang-remang, sedang bagian dekat pintu cukup terang. Ada poster Tan Malaka ditempel di dinding sebelah kiri, entah apa hubungannya dengan kedokteran, juga selembar baju putih, yang bisa langsung ditandai sebagai seragam perawat atau dokter, digantung di dinding sebelah kanan.

Sebagaimana di bangunan kafe, tempias sampai juga ke teras toko buku itu. Aku nyaris menempelkan tubuh ke pintu kaca sambil memunggungi hujan dan malam; menghadapkan pandangan ke dalam toko. Pada saat itu, sekonyong-konyong, di bagian belakang toko ada yang bergerak-gerak. Seseorang muncul dari balik kegelapan, menunjukkan sosoknya. Ia menatapku, pandangan kami bertemu. Aku bisa menandainya: seorang perempuan mengenakan seragam perawat. Sosoknya semakin jelas setelah ia melangkah keluar dari areal gelap, mendekat ke arahku. Ia mengucapkan sesuatu, tapi aku tak bisa mendengar. Bukan cuma karena deras hujan, melainkan juga karena ia berada dalam ruangan; suaranya tak bisa menembus dinding kaca. Aku memberi tanda bahwa aku tak mengerti apa yang diucapkannya. Ia mendekat, menoleh dengan hati-hati seakan takut ada yang mengetahui. Sampai di dekat pintu kaca ia kembali mengucapkan sesuatu, kali ini lebih panjang dari sebelumnya. Namun, aku tetap tak bisa menangkap kata-katanya. Aku menoleh ke belakang untuk mengetahui apakah ada orang yang melihat. Tak ada. Aku merasa perempuan itu dalam masalah dan ia hendak meminta pertolongan. Timbul niatku untuk berlari ke bangunan kafe tempat kasir berada, tapi aku melihat isyarat tangan perempuan itu yang melarangku sebelum ia kembali ke bagian gelap dalam ruangan toko. Aku mengabaikan isyarat perempuan itu, dan berlari menembus hujan ke arah bangunan kafe. Aku yakin perempuan itu butuh pertolongan.

Di dalam ruangan kafe cuma ada seorang kasir; seorang perempuan muda berambut pendek. Kasir berseru memanggil seseorang, lalu seorang perempuan lain keluar. Rambutnya juga pendek dan pirang sama seperti kasir itu. Perempuan yang baru keluar menunjuk daftar menu, tapi aku bertanya: “Kalian kembar ya?” Kedua perempuan itu mengangguk bersama-sama.

“Ada seseorang di dalam toko itu. Sepertinya ia dalam masalah. Sebaiknya kalian menengoknya,” ucapku. Dua perempuan saling pandang. Lalu perempuan yang baru keluar berkata: “Oh, itu. Saya akan menengoknya nanti. Sekarang silakan Anda memesan dulu. Tugas saya adalah melayani Anda, dan tugas dia adalah menerima bayaran dari Anda.”

“Sebetulnya saya ke sini cuma mau memberitahu soal orang itu. Saya tak berniat memesan apa-apa,” ucapku.

“Kalau begitu Anda bisa ke tempat lain,” jawab kasir.

“Tapi Anda berdua tahu bahwa ada seseorang di dalam toko buku itu, dan ia berada dalam masalah?”

“Tentu saja. Kami tahu,” ucap perempuan yang baru keluar.

“Dan kalian tak berbuat apa-apa?”

“Sudah saya katakan tadi, tugas saya adalah melayani dan tugas dia adalah menerima bayaran.”

Aku menggeleng-geleng.  

Angin menderu-deru. Sementara hujan kian deras. Kanopi jaring menimbulkan suara seperti ada gelombang besar yang datang menghantam. Kursi-kursi berjatuhan. Aku bergegas ke pintu kafe dan menengok ke arah toko buku. Baru kuperhatikan bahwa di bagian atas dinding kaca toko buku itu ada mural sosok perempuan terbelit barisan huruf yang membentuk satu kalimat: Mors Vincit Omnia.

Aku kembali berlari ke toko buku dan langsung menengok ke dalam, tapi sosok perempuan itu tak tampak. Aku mengetuk-ngetuk pintu kaca, tapi tak ada perubahan apa-apa. Aku termenung dan berpikir-pikir. Sial. Kenapa aku harus repot dengan urusan ini?

Aku menimbang-nimbang sebentar, lalu kuputuskan kembali ke kafe. Begitu aku masuk ke kafe, kasir kembali berseru memanggil dan perempuan tadi kembali muncul. Aku melihat-lihat menu. Rupanya kafe itu disusun dengan konsep tertentu sehingga nama-nama di daftar menu merujuk ke nama-nama orang terkenal. Tanpa pertimbangan berarti aku memesan Shakespeare Roses Coffee.

Di ruangan ada beberapa meja. Aku memilih meja dengan dua kursi yang terletak di pojok. Aku sandarkan punggung di dinding sambil memperhatikan suara hujan yang tampaknya kian lebat. Sekonyong-konyong seorang perempuan masuk. Air menetes-netes dari jas hujannya. Ia langsung menuju kasir. “Gila hujannya. Banyak pohon tumbang. Di jalan protokol ada mobil yang tertindih. Pengemudinya perempuan. Waktu saya lewat tadi, ia masih terjepit.”

Kasir dan pelayan menunjukkan muka prihatin. Tampaknya mereka sudah saling mengenal. Perempuan itu melihat-lihat menu sambil membuka jas hujannya. Aku dapat menandai bahwa perempuan itu mengenakan seragam perawat. Aku juga dapat mendengar bahwa ia memesan minuman yang sama denganku.

Setelah memesan minuman, perempuan itu celingak-celinguk mencari tempat duduk. Ia melihatku dan berjalan mendekat.

“Maaf, bolehkah saya duduk di tempat Anda? Saya baru saja melihat peristiwa mengerikan. Saya masih terkejut. Saya butuh bersandar. Setiap kali datang kemari saya duduk di tempat Anda sekarang, itu bisa membuat saya merasa hangat dan tanpa beban.”

Aku bangkit. Perempuan itu segera duduk di kursi yang tadi kutempati, sementara aku duduk di kursi satunya. “Saya boleh duduk di sini?” tanyaku. Pertanyaan retoris, sebab aku sudah duduk. Perempuan itu mengangguk. Kami duduk berhadap-hadapan, tapi selama beberapa saat kami tak berucap apa-apa. Aku memikirkan perempuan di dalam toko buku. Sedang perempuan itu mungkin memikirkan peristiwa yang baru saja dilaluinya: pohon tumbang menimpa sebuah mobil dan seorang perempuan terjepit di dalamnya.

Sebentar kemudian pelayan mengantar pesanan kami. “Kita memesan kopi yang sama,” ucap perempuan itu. “Iya,” jawabku.

“Siapa namamu?”

“Romeo,” jawabku.

“Seperti nama laki-laki, ya?” tanyanya. Kuperhatikan papan nama kecil di dadanya: Julia.

“Kalau begitu mari kita bersulang,” katanya lagi. Kami mengangkat dan mendekatkan cangkir ke satu sama lain.     

“Mors Vincit Omnia,” bisiknya, sebelum kami menyesap minuman masing-masing. [T]

KLIK untuk BACA cerpen lain

Tukang Sulap dan Bocah Pemain Biola | Cerpen Hasan Aspahani
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

11 Miliar Mengalir dari Badung untuk Buleleng

Next Post

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Puasa yang Berpuisi, Puisi yang Berpuasa

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisi terbarunya berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Chris Triwarseno | Puasa yang Berpuisi, Puisi yang Berpuasa

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Puasa yang Berpuisi, Puisi yang Berpuasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co