3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mors Vincit Omnia | Cerpen Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo by Kiki Sulistyo
April 6, 2024
in Cerpen
Mors Vincit Omnia | Cerpen Kiki Sulistyo

Ilustrasi tatkala.co

AKHIR-AKHIR ini hujan sering tertabur dengan serta merta. Kadang lembut seperti perawat yang sopan, kadang cepat dan mengejutkan seperti peristiwa kecelakaan. Bagiku, seperti apapun, sama saja; aku selalu lupa membeli jas hujan. Apabila hujan sudah tertabur, barulah aku ingat bahwa aku lupa membeli jas hujan; lantas aku akan mengutuk diri sendiri sambil susah payah mencari tempat berteduh yang hampir selalu sudah ditempati orang lain meskipun sebagian dari mereka mengenakan jas hujan lengkap. Mengherankan, untuk apa mereka mengenakan jas hujan kalau tak berniat menembus hujan?

Pastilah, sebetulnya, mereka malas ke tempat tujuan. Bukan tempat tujuan itu yang mereka inginkan, melainkan tempat lain, yang hangat dan tanpa beban; tempat yang bukan rumah di mana keluarga menerapkan aturan-aturan, di mana orangtua tak ada bedanya dengan majikan, atau sebaliknya: anak-anak tak ada bedanya dengan karyawan yang malas dan bengal. Sayangnya, tempat yang hangat dan tanpa beban itu bukan tujuan mereka, meski mereka sangat menginginkannya.

Beban dan tekanan memang ada di mana-mana, dan hujan, yang tertabur dengan serta merta ketika seseorang sedang berada di jalan menuju tempat yang tidak mereka inginkan, membuat beban dan tekanan itu kian berat dan menjengkelkan. Perjalanan menuju tempat yang tak diinginkan, tapi harus tetap dijalani, terhalang tanpa ada kepastian kapan halangan tersebut bakal hilang.

Malam itu hujan tertabur kembali. Aku mengutuk diri sambil berupaya mencari tempat menepi. Aku sedang berada di Jalan Pemuda, tak ada tempat menepi di jalan itu. Terpaksa aku berbelok ke sebuah areal kafe yang kelihatan sepi. Sebagian besar areal kafe itu terbuka; cuma ada kanopi berbentuk jaring yang tentu saja tak bisa menahan hujan. Hanya bagian belakang, tempat kasir dan meja racik, yang berbentuk bangunan, itu pun sempit saja. Tempias memuncrat ke seluruh bagian bangunan itu.

Aku berniat masuk ke bangunan itu tapi urung sebab aku melihat di sebelah kiri ada toko yang sudah tutup. Beranda toko itu bisa dipakai untuk berteduh sehingga aku tak perlu memesan minuman hanya untuk menunggu hujan reda. Pintu dan bagian depan toko itu terbuat dari kaca. Rupanya itu toko yang menjual buku-buku kedokteran. Dekat dari Jalan Pemuda memang ada sekolah tinggi keperawatan. Pemilik toko pasti berharap para mahasiswa di sekolah tinggi itu akan menjadi pelanggannya.

Aku mendekatkan muka ke pintu kaca. Bagian dalam toko remang-remang, sedang bagian dekat pintu cukup terang. Ada poster Tan Malaka ditempel di dinding sebelah kiri, entah apa hubungannya dengan kedokteran, juga selembar baju putih, yang bisa langsung ditandai sebagai seragam perawat atau dokter, digantung di dinding sebelah kanan.

Sebagaimana di bangunan kafe, tempias sampai juga ke teras toko buku itu. Aku nyaris menempelkan tubuh ke pintu kaca sambil memunggungi hujan dan malam; menghadapkan pandangan ke dalam toko. Pada saat itu, sekonyong-konyong, di bagian belakang toko ada yang bergerak-gerak. Seseorang muncul dari balik kegelapan, menunjukkan sosoknya. Ia menatapku, pandangan kami bertemu. Aku bisa menandainya: seorang perempuan mengenakan seragam perawat. Sosoknya semakin jelas setelah ia melangkah keluar dari areal gelap, mendekat ke arahku. Ia mengucapkan sesuatu, tapi aku tak bisa mendengar. Bukan cuma karena deras hujan, melainkan juga karena ia berada dalam ruangan; suaranya tak bisa menembus dinding kaca. Aku memberi tanda bahwa aku tak mengerti apa yang diucapkannya. Ia mendekat, menoleh dengan hati-hati seakan takut ada yang mengetahui. Sampai di dekat pintu kaca ia kembali mengucapkan sesuatu, kali ini lebih panjang dari sebelumnya. Namun, aku tetap tak bisa menangkap kata-katanya. Aku menoleh ke belakang untuk mengetahui apakah ada orang yang melihat. Tak ada. Aku merasa perempuan itu dalam masalah dan ia hendak meminta pertolongan. Timbul niatku untuk berlari ke bangunan kafe tempat kasir berada, tapi aku melihat isyarat tangan perempuan itu yang melarangku sebelum ia kembali ke bagian gelap dalam ruangan toko. Aku mengabaikan isyarat perempuan itu, dan berlari menembus hujan ke arah bangunan kafe. Aku yakin perempuan itu butuh pertolongan.

Di dalam ruangan kafe cuma ada seorang kasir; seorang perempuan muda berambut pendek. Kasir berseru memanggil seseorang, lalu seorang perempuan lain keluar. Rambutnya juga pendek dan pirang sama seperti kasir itu. Perempuan yang baru keluar menunjuk daftar menu, tapi aku bertanya: “Kalian kembar ya?” Kedua perempuan itu mengangguk bersama-sama.

“Ada seseorang di dalam toko itu. Sepertinya ia dalam masalah. Sebaiknya kalian menengoknya,” ucapku. Dua perempuan saling pandang. Lalu perempuan yang baru keluar berkata: “Oh, itu. Saya akan menengoknya nanti. Sekarang silakan Anda memesan dulu. Tugas saya adalah melayani Anda, dan tugas dia adalah menerima bayaran dari Anda.”

“Sebetulnya saya ke sini cuma mau memberitahu soal orang itu. Saya tak berniat memesan apa-apa,” ucapku.

“Kalau begitu Anda bisa ke tempat lain,” jawab kasir.

“Tapi Anda berdua tahu bahwa ada seseorang di dalam toko buku itu, dan ia berada dalam masalah?”

“Tentu saja. Kami tahu,” ucap perempuan yang baru keluar.

“Dan kalian tak berbuat apa-apa?”

“Sudah saya katakan tadi, tugas saya adalah melayani dan tugas dia adalah menerima bayaran.”

Aku menggeleng-geleng.  

Angin menderu-deru. Sementara hujan kian deras. Kanopi jaring menimbulkan suara seperti ada gelombang besar yang datang menghantam. Kursi-kursi berjatuhan. Aku bergegas ke pintu kafe dan menengok ke arah toko buku. Baru kuperhatikan bahwa di bagian atas dinding kaca toko buku itu ada mural sosok perempuan terbelit barisan huruf yang membentuk satu kalimat: Mors Vincit Omnia.

Aku kembali berlari ke toko buku dan langsung menengok ke dalam, tapi sosok perempuan itu tak tampak. Aku mengetuk-ngetuk pintu kaca, tapi tak ada perubahan apa-apa. Aku termenung dan berpikir-pikir. Sial. Kenapa aku harus repot dengan urusan ini?

Aku menimbang-nimbang sebentar, lalu kuputuskan kembali ke kafe. Begitu aku masuk ke kafe, kasir kembali berseru memanggil dan perempuan tadi kembali muncul. Aku melihat-lihat menu. Rupanya kafe itu disusun dengan konsep tertentu sehingga nama-nama di daftar menu merujuk ke nama-nama orang terkenal. Tanpa pertimbangan berarti aku memesan Shakespeare Roses Coffee.

Di ruangan ada beberapa meja. Aku memilih meja dengan dua kursi yang terletak di pojok. Aku sandarkan punggung di dinding sambil memperhatikan suara hujan yang tampaknya kian lebat. Sekonyong-konyong seorang perempuan masuk. Air menetes-netes dari jas hujannya. Ia langsung menuju kasir. “Gila hujannya. Banyak pohon tumbang. Di jalan protokol ada mobil yang tertindih. Pengemudinya perempuan. Waktu saya lewat tadi, ia masih terjepit.”

Kasir dan pelayan menunjukkan muka prihatin. Tampaknya mereka sudah saling mengenal. Perempuan itu melihat-lihat menu sambil membuka jas hujannya. Aku dapat menandai bahwa perempuan itu mengenakan seragam perawat. Aku juga dapat mendengar bahwa ia memesan minuman yang sama denganku.

Setelah memesan minuman, perempuan itu celingak-celinguk mencari tempat duduk. Ia melihatku dan berjalan mendekat.

“Maaf, bolehkah saya duduk di tempat Anda? Saya baru saja melihat peristiwa mengerikan. Saya masih terkejut. Saya butuh bersandar. Setiap kali datang kemari saya duduk di tempat Anda sekarang, itu bisa membuat saya merasa hangat dan tanpa beban.”

Aku bangkit. Perempuan itu segera duduk di kursi yang tadi kutempati, sementara aku duduk di kursi satunya. “Saya boleh duduk di sini?” tanyaku. Pertanyaan retoris, sebab aku sudah duduk. Perempuan itu mengangguk. Kami duduk berhadap-hadapan, tapi selama beberapa saat kami tak berucap apa-apa. Aku memikirkan perempuan di dalam toko buku. Sedang perempuan itu mungkin memikirkan peristiwa yang baru saja dilaluinya: pohon tumbang menimpa sebuah mobil dan seorang perempuan terjepit di dalamnya.

Sebentar kemudian pelayan mengantar pesanan kami. “Kita memesan kopi yang sama,” ucap perempuan itu. “Iya,” jawabku.

“Siapa namamu?”

“Romeo,” jawabku.

“Seperti nama laki-laki, ya?” tanyanya. Kuperhatikan papan nama kecil di dadanya: Julia.

“Kalau begitu mari kita bersulang,” katanya lagi. Kami mengangkat dan mendekatkan cangkir ke satu sama lain.     

“Mors Vincit Omnia,” bisiknya, sebelum kami menyesap minuman masing-masing. [T]

KLIK untuk BACA cerpen lain

Tukang Sulap dan Bocah Pemain Biola | Cerpen Hasan Aspahani
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

11 Miliar Mengalir dari Badung untuk Buleleng

Next Post

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Puasa yang Berpuisi, Puisi yang Berpuasa

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisi terbarunya berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Chris Triwarseno | Puasa yang Berpuisi, Puisi yang Berpuasa

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Puasa yang Berpuisi, Puisi yang Berpuasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co