2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mors Vincit Omnia | Cerpen Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo by Kiki Sulistyo
April 6, 2024
in Cerpen
Mors Vincit Omnia | Cerpen Kiki Sulistyo

Ilustrasi tatkala.co

AKHIR-AKHIR ini hujan sering tertabur dengan serta merta. Kadang lembut seperti perawat yang sopan, kadang cepat dan mengejutkan seperti peristiwa kecelakaan. Bagiku, seperti apapun, sama saja; aku selalu lupa membeli jas hujan. Apabila hujan sudah tertabur, barulah aku ingat bahwa aku lupa membeli jas hujan; lantas aku akan mengutuk diri sendiri sambil susah payah mencari tempat berteduh yang hampir selalu sudah ditempati orang lain meskipun sebagian dari mereka mengenakan jas hujan lengkap. Mengherankan, untuk apa mereka mengenakan jas hujan kalau tak berniat menembus hujan?

Pastilah, sebetulnya, mereka malas ke tempat tujuan. Bukan tempat tujuan itu yang mereka inginkan, melainkan tempat lain, yang hangat dan tanpa beban; tempat yang bukan rumah di mana keluarga menerapkan aturan-aturan, di mana orangtua tak ada bedanya dengan majikan, atau sebaliknya: anak-anak tak ada bedanya dengan karyawan yang malas dan bengal. Sayangnya, tempat yang hangat dan tanpa beban itu bukan tujuan mereka, meski mereka sangat menginginkannya.

Beban dan tekanan memang ada di mana-mana, dan hujan, yang tertabur dengan serta merta ketika seseorang sedang berada di jalan menuju tempat yang tidak mereka inginkan, membuat beban dan tekanan itu kian berat dan menjengkelkan. Perjalanan menuju tempat yang tak diinginkan, tapi harus tetap dijalani, terhalang tanpa ada kepastian kapan halangan tersebut bakal hilang.

Malam itu hujan tertabur kembali. Aku mengutuk diri sambil berupaya mencari tempat menepi. Aku sedang berada di Jalan Pemuda, tak ada tempat menepi di jalan itu. Terpaksa aku berbelok ke sebuah areal kafe yang kelihatan sepi. Sebagian besar areal kafe itu terbuka; cuma ada kanopi berbentuk jaring yang tentu saja tak bisa menahan hujan. Hanya bagian belakang, tempat kasir dan meja racik, yang berbentuk bangunan, itu pun sempit saja. Tempias memuncrat ke seluruh bagian bangunan itu.

Aku berniat masuk ke bangunan itu tapi urung sebab aku melihat di sebelah kiri ada toko yang sudah tutup. Beranda toko itu bisa dipakai untuk berteduh sehingga aku tak perlu memesan minuman hanya untuk menunggu hujan reda. Pintu dan bagian depan toko itu terbuat dari kaca. Rupanya itu toko yang menjual buku-buku kedokteran. Dekat dari Jalan Pemuda memang ada sekolah tinggi keperawatan. Pemilik toko pasti berharap para mahasiswa di sekolah tinggi itu akan menjadi pelanggannya.

Aku mendekatkan muka ke pintu kaca. Bagian dalam toko remang-remang, sedang bagian dekat pintu cukup terang. Ada poster Tan Malaka ditempel di dinding sebelah kiri, entah apa hubungannya dengan kedokteran, juga selembar baju putih, yang bisa langsung ditandai sebagai seragam perawat atau dokter, digantung di dinding sebelah kanan.

Sebagaimana di bangunan kafe, tempias sampai juga ke teras toko buku itu. Aku nyaris menempelkan tubuh ke pintu kaca sambil memunggungi hujan dan malam; menghadapkan pandangan ke dalam toko. Pada saat itu, sekonyong-konyong, di bagian belakang toko ada yang bergerak-gerak. Seseorang muncul dari balik kegelapan, menunjukkan sosoknya. Ia menatapku, pandangan kami bertemu. Aku bisa menandainya: seorang perempuan mengenakan seragam perawat. Sosoknya semakin jelas setelah ia melangkah keluar dari areal gelap, mendekat ke arahku. Ia mengucapkan sesuatu, tapi aku tak bisa mendengar. Bukan cuma karena deras hujan, melainkan juga karena ia berada dalam ruangan; suaranya tak bisa menembus dinding kaca. Aku memberi tanda bahwa aku tak mengerti apa yang diucapkannya. Ia mendekat, menoleh dengan hati-hati seakan takut ada yang mengetahui. Sampai di dekat pintu kaca ia kembali mengucapkan sesuatu, kali ini lebih panjang dari sebelumnya. Namun, aku tetap tak bisa menangkap kata-katanya. Aku menoleh ke belakang untuk mengetahui apakah ada orang yang melihat. Tak ada. Aku merasa perempuan itu dalam masalah dan ia hendak meminta pertolongan. Timbul niatku untuk berlari ke bangunan kafe tempat kasir berada, tapi aku melihat isyarat tangan perempuan itu yang melarangku sebelum ia kembali ke bagian gelap dalam ruangan toko. Aku mengabaikan isyarat perempuan itu, dan berlari menembus hujan ke arah bangunan kafe. Aku yakin perempuan itu butuh pertolongan.

Di dalam ruangan kafe cuma ada seorang kasir; seorang perempuan muda berambut pendek. Kasir berseru memanggil seseorang, lalu seorang perempuan lain keluar. Rambutnya juga pendek dan pirang sama seperti kasir itu. Perempuan yang baru keluar menunjuk daftar menu, tapi aku bertanya: “Kalian kembar ya?” Kedua perempuan itu mengangguk bersama-sama.

“Ada seseorang di dalam toko itu. Sepertinya ia dalam masalah. Sebaiknya kalian menengoknya,” ucapku. Dua perempuan saling pandang. Lalu perempuan yang baru keluar berkata: “Oh, itu. Saya akan menengoknya nanti. Sekarang silakan Anda memesan dulu. Tugas saya adalah melayani Anda, dan tugas dia adalah menerima bayaran dari Anda.”

“Sebetulnya saya ke sini cuma mau memberitahu soal orang itu. Saya tak berniat memesan apa-apa,” ucapku.

“Kalau begitu Anda bisa ke tempat lain,” jawab kasir.

“Tapi Anda berdua tahu bahwa ada seseorang di dalam toko buku itu, dan ia berada dalam masalah?”

“Tentu saja. Kami tahu,” ucap perempuan yang baru keluar.

“Dan kalian tak berbuat apa-apa?”

“Sudah saya katakan tadi, tugas saya adalah melayani dan tugas dia adalah menerima bayaran.”

Aku menggeleng-geleng.  

Angin menderu-deru. Sementara hujan kian deras. Kanopi jaring menimbulkan suara seperti ada gelombang besar yang datang menghantam. Kursi-kursi berjatuhan. Aku bergegas ke pintu kafe dan menengok ke arah toko buku. Baru kuperhatikan bahwa di bagian atas dinding kaca toko buku itu ada mural sosok perempuan terbelit barisan huruf yang membentuk satu kalimat: Mors Vincit Omnia.

Aku kembali berlari ke toko buku dan langsung menengok ke dalam, tapi sosok perempuan itu tak tampak. Aku mengetuk-ngetuk pintu kaca, tapi tak ada perubahan apa-apa. Aku termenung dan berpikir-pikir. Sial. Kenapa aku harus repot dengan urusan ini?

Aku menimbang-nimbang sebentar, lalu kuputuskan kembali ke kafe. Begitu aku masuk ke kafe, kasir kembali berseru memanggil dan perempuan tadi kembali muncul. Aku melihat-lihat menu. Rupanya kafe itu disusun dengan konsep tertentu sehingga nama-nama di daftar menu merujuk ke nama-nama orang terkenal. Tanpa pertimbangan berarti aku memesan Shakespeare Roses Coffee.

Di ruangan ada beberapa meja. Aku memilih meja dengan dua kursi yang terletak di pojok. Aku sandarkan punggung di dinding sambil memperhatikan suara hujan yang tampaknya kian lebat. Sekonyong-konyong seorang perempuan masuk. Air menetes-netes dari jas hujannya. Ia langsung menuju kasir. “Gila hujannya. Banyak pohon tumbang. Di jalan protokol ada mobil yang tertindih. Pengemudinya perempuan. Waktu saya lewat tadi, ia masih terjepit.”

Kasir dan pelayan menunjukkan muka prihatin. Tampaknya mereka sudah saling mengenal. Perempuan itu melihat-lihat menu sambil membuka jas hujannya. Aku dapat menandai bahwa perempuan itu mengenakan seragam perawat. Aku juga dapat mendengar bahwa ia memesan minuman yang sama denganku.

Setelah memesan minuman, perempuan itu celingak-celinguk mencari tempat duduk. Ia melihatku dan berjalan mendekat.

“Maaf, bolehkah saya duduk di tempat Anda? Saya baru saja melihat peristiwa mengerikan. Saya masih terkejut. Saya butuh bersandar. Setiap kali datang kemari saya duduk di tempat Anda sekarang, itu bisa membuat saya merasa hangat dan tanpa beban.”

Aku bangkit. Perempuan itu segera duduk di kursi yang tadi kutempati, sementara aku duduk di kursi satunya. “Saya boleh duduk di sini?” tanyaku. Pertanyaan retoris, sebab aku sudah duduk. Perempuan itu mengangguk. Kami duduk berhadap-hadapan, tapi selama beberapa saat kami tak berucap apa-apa. Aku memikirkan perempuan di dalam toko buku. Sedang perempuan itu mungkin memikirkan peristiwa yang baru saja dilaluinya: pohon tumbang menimpa sebuah mobil dan seorang perempuan terjepit di dalamnya.

Sebentar kemudian pelayan mengantar pesanan kami. “Kita memesan kopi yang sama,” ucap perempuan itu. “Iya,” jawabku.

“Siapa namamu?”

“Romeo,” jawabku.

“Seperti nama laki-laki, ya?” tanyanya. Kuperhatikan papan nama kecil di dadanya: Julia.

“Kalau begitu mari kita bersulang,” katanya lagi. Kami mengangkat dan mendekatkan cangkir ke satu sama lain.     

“Mors Vincit Omnia,” bisiknya, sebelum kami menyesap minuman masing-masing. [T]

KLIK untuk BACA cerpen lain

Tukang Sulap dan Bocah Pemain Biola | Cerpen Hasan Aspahani
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

11 Miliar Mengalir dari Badung untuk Buleleng

Next Post

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Puasa yang Berpuisi, Puisi yang Berpuasa

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisi terbarunya berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Chris Triwarseno | Puasa yang Berpuisi, Puisi yang Berpuasa

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Puasa yang Berpuisi, Puisi yang Berpuasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co