12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tukang Sulap dan Bocah Pemain Biola | Cerpen Hasan Aspahani

Hasan Aspahani by Hasan Aspahani
January 28, 2024
in Cerpen
Tukang Sulap dan Bocah Pemain Biola | Cerpen Hasan Aspahani

Ilustrasi tatkala.co

DI halaman bioskop kecil di kota kecil kami dulu ada seorang pemain sulap. Ia masih muda.  Ia mendapat uang dari pemberian sukarela penonton yang menunggu masuk menonton film, atau warga kota yang sekadar jalan main dan cari makan ke sana. Bioskop itu ada di kawasan yang menjadi pusat keramaian kota. Ada taman bermain di sana yang sewaktu-waktu jadi tempat pasar malam, warung-warung makan, dan beberapa toko.  Bahwa si pemain sulap itu sudah bertahun-tahun bertahan, itu mungkin menunjukkan bahwa penghasilannya lumayan.

Ia menyebut dirinya Balentong.  Tak ada yang tahu siapa namanya yang sebenarnya.  “Bawa kantong isinya lalap, namaku Balentong, si tukang sulap.”  Itulah pantun yang selalu kuingat. Mungkin semua penduduk kota kecil kami juga hapal pantun parikan itu.  Nama Balentong bahkan kemudian menjadi identik dengan kawasan itu.  Jika ada yang bertanya, “kau mau kemana?” maka orang yang ditanya akan menjawab “ke taman Balentong” apabila tujuan memang ke taman kota itu, apapun tujuannya. 

Atraksi sulap dan akrobat yang dipertunjukkan Balentong dari dulu itu-itu saja. Ia mahir menjugel tiga, empat, lima bahkan enam bola atau tongkat. Lalu ia mainkan atraksi itu sambil menaiki sepeda beroda satu. Ia juga mahir menebak kartu yang dipilih secara acak oleh penonton. Atau memutar mangkok di ujung sebatang tongkat panjang. Sesekali ia menyanyikan lagu pop dengan ukulele tapi liriknya nanti ia pelesetkan menjadi lucu.  Waktu itu, yang paling saya ingat adalah lirik lagu pop tentang kesendirian. Tentang seseorang yang memastikan bahwa dirinya masih seperti yang dulu, menunggu kekasihnya sampai akhir hidupnya.

Sekarang kusebutkan bahwa bersama Balentong ikut bermain seorang anak yang pandai bermain biola.  Anak itu memainkan lagu-lagu riang sebelum Balentong bermain.  Ia juga memainkan lagu melatari sepanjang pertunjukan. Semacam ilustrasi musik.  Ia terus memainkan biolanya sambil beredar melingkar  mengkuti lingkaran penonton,  dengan ujung biola mengarah ke penonton dan ada kantong derma di ujung biola itu.  Sesekali bocah itu juga bernyanyi. Nun di balik gunung, dusun terkurung sunyi, sukma merenung dengar senandung serunai….

SIAPAKAH Balentong? Aku tahu dan karena itu akan kuceritakan padamu. Aku tahu karena ia  pernah bercerita padaku.  Dulu, katanya,  di sebuah  kampung kira-kira enam jam perjalanan darat dari kota kecil itu, ada seorang penjual obat keliling. Ia menjual obat gosok yang bisa mengurangi rasa sakit karena digigit serangga, nyeri sakit gigi, atau pegalinu.  Juga obat kuat bagi laki-laki, yang konon sangat laku.  Untuk menarik perhatian penduduk kampung,  ia main sulap dan akrobat.  Ia menginap di rumah penduduk, suami istri veteran perang yang mengelola warung kopi dan berjualan gado-gado sambil mengelola agen judi buntut.  Suatu pagi, sehabis berjualan pada malam harinya, dia meninggal. Penduduk kampung memakamkannya karena tak ada yang tahu harus menghubungi siapa sebagai kerabat atau ahli warisnya.  Ada seorang anak yang menyimpan barang-barang yang ditinggalkannya, yang dibuang oleh pemilik rumah. Anak itu seorang yatim piatu. Ia penonton setia tukang obat itu. Ia kerap membantu membereskan peralatan akrobat dan berjualannya tanpa dibayar. Ia hanya minta diajari bagaimana caranya bermain sulap.

“Nanti kuajari rahasianya,” kata si penjual obat itu. Janji yang tak sempat ia tunaikan hingga ia tiba-tiba meninggal. 

 “Akulah anak kecil itu. Akhirnya aku berlatih sendiri, mengingat bagaimana Balentong bermain,” kata Balentong. “Ya, penjual obat itu namanya Balentong. Saya pakai juga namanya itu ketika saya mulai bikin pertunjukan di kota ini. Saya tak menjual obat. Saya hanya main sulap dan akrobat, menghibur hati orang. Itu juga obat, hati yang gembira adalah obat.” kata Balentong padaku.

Di kota kecil kami, Balentong tinggal di sebuah ruangan, semacam gudang, di sudut bioskop kebanggan kota kami itu. Ia membayar sewa dengan murah.  Pemutar proyektor di bioskop itu hidup bersama seorang anak lelaki yang pandai main biola.  Ibunya dulu pemain biola. Ia belajar dari ibunya.  Biola yang ia  mainkan itu dulu adalah milik ibunya.  Ibu dan ayahnya, si pemutar proyektor itu dulu anggota sebuah sandiwara keliling yang main di kampung-kampung sepanjang sungai dan pesisir, mereka berkeliling dengan kapal atau truk besar mengangkut para pemain, awak sandiwara dan peralatan pentas.   Jika tak berkeliling, mereka main di panggung teater bioskop.  Orangtua bocah pemain biola itu bercerai, ibunya lari dengan seseorang lelaki lain.  Ia tinggal bersama ayahnya yang akhirnya tinggal menetap sebagai pemutar proyektor. 

Kelompok sandiwara itu pun kabarnya bubar. Oh, ya namanya, Mamanda Kakamban Habang.  Meskipun namanya memakai kata mamanda, mereka juga memainkan sandiwara modern.

 Balentong melihat bakat besar pada anak kecil pemain biola itu, ia mengajaknya mengiringi pertunjukannya. Sejak itu, uang yang terkumpul sebagai hasil pertunjukan Balentong meningkat. Ia berbagi dengan si bocah. Si pemutar proyektor, ayah bocah itu selalu meminta semua uang si bocah untuk mabuk dan main perempuan. Bocah itu lama-lama kesal juga. Ia mengajak Balentong pergi dari kota kecil itu, pergi ke kota besar yang dalam bayangannya lebih menjanjikan untuk orang-orang seperti mereka. Itu terjadi ketika Balentong kena sakit malaria. Hampir dua minggu ia dirawat. Simpanan uang Balentong tak cukup untuk membayar biaya peratawan di rumah sakit umum.

“Apakah kamu menabung uangmu?” tanya Balentong kepada si bocah pemain biola.

“Uangku habis diminta ayahku,” kata si bocah. “Tapi tenang saja, aku akan mencari uang buat biaya perawatanmu,” kata si bocah.

 Malam itu, tanpa Balentong, si bocah, menyanyi dan memainkan biola.   Alat-alat sulap dan akrobat Balentong ia atur sedemikian rupa, menambah kesan kesedihan.  Ia menyanyi dengan sangat bagus.  Di sela-sela lagu ia bercerita bahwa Balentong sedang sakit dan tidak bisa membayar biaya perawatan.  Malam itu, penonton sedang ramai. Bioskop memutar dua film, Dalam Pelukan Dosa, dan Akibat Buah Terlarang.  Malam itu, si bocah berhasil mengumpulkan uang banyak. Ia sempat bertengkar hebat ketika ayahnya meminta sebagian dari uang itu. Ia tak mau memberi, ayahnya marah dan mengusirnya.  

Malam itu juga, ada seorang perempuan menemui bocah pemain biola itu. Perempuan itu turun dari mobil yang diparkir di depan bioskop, menghampirinya, mengaku sangat menyukai suaranya, memuji bakatnya main biola, dan meminta besok petang menemuinya di restoran Selera Samarinda, restoran paling bagus di kawasan taman kota itu.  “Dengan bakatmu itu, aku bisa menjadikanmu seniman besar,” kata si perempuan itu.

Di rumah sakit, Balentong justru marah kepada si bocah karena dia telah menjual kemalangannya. “Aku main sulap karena aku tak mau jadi pengemis. Aku punya harga diri. Itu yang kujaga selama ini. Kau, dengan menjual sakitku, sama saja menjual harga diriku,” kata Balentong.

“Mereka ikhlas,” kata si bocah.

“Apakah kalau kau tak ceritakan bahwa aku sedang sakit, dan kau tak bilang bahwa kau bermain untuk membayar biaya perawatanku mereka akan tetap memberi sebanyak malam tadi?”

“Maafkan aku,” kata si bocah.

“Kau terlalu muda untuk mengerti soal harga diri, Nak, soal kehormatan,” kata Balentong. 

***

PADA hari ketika si bocah hendak dibawa menyeberang laut pergi ke kota besar oleh si perempuan bermobil, bocah itu tak menemukan si pemutar proyektor. Ia hendak berpamitan. Sampai pada hari itu pun Balentong tak juga kembali bermain di halaman bioskop itu. Kepada Balentong ia hendak sekali lagi minta maaf dan juga berpamitan.  Apakah Balentong selamanya tak mau bermain lagi? Kemana Balentong?  “Mungkin ia pindah ke kota lain.  Kota apapun bagi orang-orang seperti itu sama saja, Nak,” kata si perempuan bermobil. 

Beberapa tahun berlalu, si bocah pemain biola menjadi penyanyi terkenal di negeri itu.  Penyanyi yang pandai bermain biola.  Ia pun diundang oleh perusahaan minyak negara untuk bermain di kota kecilnya dulu. Ia main di sebuah alun-alun terbuka. Sebuah panggung besar dengan tata cahaya mewah.  Ia datang bersama perempuan bermobil, yang membawa dan membesarkan namanya di kota besar. Perempuan itu telah menjadi seperti ibunya, juga manajernya, orang yang mengatur segala urusan dalam hidupnya sebagai penyanyi. 

Seusai pertunjukan malam itu, seorang lelaki datang menemuinya di hotel tempat dia menginap. Orang itu adalah lelaki pemutar proyektor. Ia tampak lekas sekali menua.  Ia datang untuk meminta maaf pada si penyanyi.  “Saya yang harus minta maaf karena pergi tak pamitan, Pak,” kata penyanyi terkenal yang dulu bocah pemain biola itu.

“Aku tak bisa menemuimu malam ketika kau pergi itu, karena sebenarnya akulah yang telah menjualmu kepada Mira,” kata si pemutar proyektor. Mira adalah nama si perempuan bermobil, yang pada malam bertahun-tahun lalu datang ke bioskop.

“Menjualku, Pak?”

“Ya, dan kau perlu tahu aku bukan ayahmu. Aku memang menikah dengan Sari, ibumu. Carilah dia, temui dia. Ibumu tentu saja tahu siapa ayahmu sebenarnya. Sari datang ke sini, menemui aku, menanyakan kamu, mungkin dua atau tiga tahun setelah kamu pergi bersama Mira. Mereka tinggal di Tarakan, atau Nunukan, saya sudah lupa persisnya, pokoknya di utara, dekat Tawau sana. Dia bercerai dengan lelaki yang dengan siapa dulu dia meninggalkan aku dan kamu. Dia menikah lagi dengan seorang juragan ikan di sana.”

***

BIOSKOP itu tak ada lagi.  Sudah beberapa tahun terakhir ini wajah kota berubah. Bioskop itu adalah bagian dari wajah lama yang tak ingin dipertahankan.  Di sana masih ada taman, yang bahkan semakin tertata. Toko-toko, warung, dan restoran juga semakin rapi penataannya.  Sehabis berjalan-jalan di sekeliling taman itu, dan membayangkan di mana dulu bangunan bioskop itu berada, si tokoh cerita kita dan Mira menikmati bubur ayam di Selera Samarinda. Konon itulah bubur ayam terenak di kota itu.

“Kenapa ibu tertarik untuk membawaku dan menjadikan aku menjadi seperti sekarang ini, Bu?” tanya si pemain biola.

“Kenapa baru sekarang kau tanyakan itu?”

“Aku merasa tak punya masa lalu lagi setelah tahu bahwa orang yang kupercaya sebagai ayah ternyata bukan ayahku…  Aku juga tak tahu di mana ibu yang bisa kutanya siapa sebenarnya ayahku.”

“Aku pernah punya anak. Dulu aku pemain sandiwara keliling.”

“Seperti ibuku…”

“Aku jadi bintang panggung. Aku disayang oleh sang pemilik kelompok sandiwara itu.  Ia juga yang menulis naskah, sutradara, penulis lagu. Lalu aku hamil, mengandung anaknya.  Aku masih naik panggung  berperan sebagai perempuan hamil. Saat kami gelar pertunjukan di kampung berikutnya, di sebuah balai desa, aku melahirkan. Anakku, yang tak sempat kuberi nama itu, kutitipkan pada sepasang orang tua di sana. Mereka senang karena sudah lama mereka tak punya anak. Lalu aku tinggalkan kelompok sandiwara itu untuk mengadu nasib di Surabaya, lalu ke Jakarta. Kelompok sandiwara itu kudengar bubar.  Nyaris dua puluh tahun kemudian aku kembali ke kampung itu, anak itu sudah tak ada di sana lagi. Orang tua yang mengasuhnya meninggal kena wabah cacar ketika anak itu masih kecil. Katanya ia menjadi tukang sulap keliling. Entahlah. Sampai malam itu aku melihat kamu bernyanyi dan main biola di depan bioskop. Aku membayangkan dia adalah kamu,” kata Mira.

Mereka kembali ke hotel, setelah mengelilingi kota. Sebelum masuk kamar masing-masing di lorong hotel, Mira berkata, “tiket pulang kita undurkan. Tadi saya sudah minta ke panitia.  Ada yang minta kita tampil di Tarakan. Katanya juragan ikan atau juragan tambak siapa gitu.  Kebetulan memang kita belum ada jadwal show lain.”

“Siapa yang menghubungi, Ibu? Si Juragan itu? ”

“Bukan. Saya lupa namanya. Ada nomornya, kok. Tadi orangnya kasih kartu nama. Besok pagi mereka kasih tiketnya,” Mira mencari-cari di dalam tas sandangnya.  “Nah, ini dia,” ia mengulurkan kartu nama itu.

“Balentong Entertainment…”

“Nah, iya, itu event organizer-nya. Lucu juga namanya.”

***

BOCAH pemain biola itu bernama Digo Rigardo. Orang yang kalian kenal sebagai penyanyi terkenal itu. Dia adalah aku. Aku tak pernah menulis cerita, tapi  malam ini di kamar hotel aku tak bisa tidur, maka kutulislah cerita ini.  Tak pernah aku ingin lekas-lekas terbang seperti penerbangan yang akan membawaku ke Tarakan besok pagi.  Penerbangan yang akan mempertemukan aku dengan ibuku (dan aku akan bertanya siapa ayahku sebenarnya), dan juga mempertemukan Balentong dengan Bu Mira, yang aku yakin adalah ibunya. [T]

BACA cerpen-cerpen tatkala.co yang lain

Tukang Sulih Suara dan Presiden yang Kehilangan Suaranya | Cerpen Hasan Aspahani
Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Tidak Ada Keretek di Antara Kita

Next Post

Metamorfosis Imajinasi: Sebuah Catatan Kreativitas Guru

Hasan Aspahani

Hasan Aspahani

Jurnalis, penyair, penulis, lahir 1971, di Sei Raden, Kutai Kartanegara, Kaltim. Kini menetap di Jakarta, berkhidmat di DKJ.

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Metamorfosis Imajinasi: Sebuah Catatan Kreativitas Guru

Metamorfosis Imajinasi: Sebuah Catatan Kreativitas Guru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co