2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tukang Sulap dan Bocah Pemain Biola | Cerpen Hasan Aspahani

Hasan Aspahani by Hasan Aspahani
January 28, 2024
in Cerpen
Tukang Sulap dan Bocah Pemain Biola | Cerpen Hasan Aspahani

Ilustrasi tatkala.co

DI halaman bioskop kecil di kota kecil kami dulu ada seorang pemain sulap. Ia masih muda.  Ia mendapat uang dari pemberian sukarela penonton yang menunggu masuk menonton film, atau warga kota yang sekadar jalan main dan cari makan ke sana. Bioskop itu ada di kawasan yang menjadi pusat keramaian kota. Ada taman bermain di sana yang sewaktu-waktu jadi tempat pasar malam, warung-warung makan, dan beberapa toko.  Bahwa si pemain sulap itu sudah bertahun-tahun bertahan, itu mungkin menunjukkan bahwa penghasilannya lumayan.

Ia menyebut dirinya Balentong.  Tak ada yang tahu siapa namanya yang sebenarnya.  “Bawa kantong isinya lalap, namaku Balentong, si tukang sulap.”  Itulah pantun yang selalu kuingat. Mungkin semua penduduk kota kecil kami juga hapal pantun parikan itu.  Nama Balentong bahkan kemudian menjadi identik dengan kawasan itu.  Jika ada yang bertanya, “kau mau kemana?” maka orang yang ditanya akan menjawab “ke taman Balentong” apabila tujuan memang ke taman kota itu, apapun tujuannya. 

Atraksi sulap dan akrobat yang dipertunjukkan Balentong dari dulu itu-itu saja. Ia mahir menjugel tiga, empat, lima bahkan enam bola atau tongkat. Lalu ia mainkan atraksi itu sambil menaiki sepeda beroda satu. Ia juga mahir menebak kartu yang dipilih secara acak oleh penonton. Atau memutar mangkok di ujung sebatang tongkat panjang. Sesekali ia menyanyikan lagu pop dengan ukulele tapi liriknya nanti ia pelesetkan menjadi lucu.  Waktu itu, yang paling saya ingat adalah lirik lagu pop tentang kesendirian. Tentang seseorang yang memastikan bahwa dirinya masih seperti yang dulu, menunggu kekasihnya sampai akhir hidupnya.

Sekarang kusebutkan bahwa bersama Balentong ikut bermain seorang anak yang pandai bermain biola.  Anak itu memainkan lagu-lagu riang sebelum Balentong bermain.  Ia juga memainkan lagu melatari sepanjang pertunjukan. Semacam ilustrasi musik.  Ia terus memainkan biolanya sambil beredar melingkar  mengkuti lingkaran penonton,  dengan ujung biola mengarah ke penonton dan ada kantong derma di ujung biola itu.  Sesekali bocah itu juga bernyanyi. Nun di balik gunung, dusun terkurung sunyi, sukma merenung dengar senandung serunai….

SIAPAKAH Balentong? Aku tahu dan karena itu akan kuceritakan padamu. Aku tahu karena ia  pernah bercerita padaku.  Dulu, katanya,  di sebuah  kampung kira-kira enam jam perjalanan darat dari kota kecil itu, ada seorang penjual obat keliling. Ia menjual obat gosok yang bisa mengurangi rasa sakit karena digigit serangga, nyeri sakit gigi, atau pegalinu.  Juga obat kuat bagi laki-laki, yang konon sangat laku.  Untuk menarik perhatian penduduk kampung,  ia main sulap dan akrobat.  Ia menginap di rumah penduduk, suami istri veteran perang yang mengelola warung kopi dan berjualan gado-gado sambil mengelola agen judi buntut.  Suatu pagi, sehabis berjualan pada malam harinya, dia meninggal. Penduduk kampung memakamkannya karena tak ada yang tahu harus menghubungi siapa sebagai kerabat atau ahli warisnya.  Ada seorang anak yang menyimpan barang-barang yang ditinggalkannya, yang dibuang oleh pemilik rumah. Anak itu seorang yatim piatu. Ia penonton setia tukang obat itu. Ia kerap membantu membereskan peralatan akrobat dan berjualannya tanpa dibayar. Ia hanya minta diajari bagaimana caranya bermain sulap.

“Nanti kuajari rahasianya,” kata si penjual obat itu. Janji yang tak sempat ia tunaikan hingga ia tiba-tiba meninggal. 

 “Akulah anak kecil itu. Akhirnya aku berlatih sendiri, mengingat bagaimana Balentong bermain,” kata Balentong. “Ya, penjual obat itu namanya Balentong. Saya pakai juga namanya itu ketika saya mulai bikin pertunjukan di kota ini. Saya tak menjual obat. Saya hanya main sulap dan akrobat, menghibur hati orang. Itu juga obat, hati yang gembira adalah obat.” kata Balentong padaku.

Di kota kecil kami, Balentong tinggal di sebuah ruangan, semacam gudang, di sudut bioskop kebanggan kota kami itu. Ia membayar sewa dengan murah.  Pemutar proyektor di bioskop itu hidup bersama seorang anak lelaki yang pandai main biola.  Ibunya dulu pemain biola. Ia belajar dari ibunya.  Biola yang ia  mainkan itu dulu adalah milik ibunya.  Ibu dan ayahnya, si pemutar proyektor itu dulu anggota sebuah sandiwara keliling yang main di kampung-kampung sepanjang sungai dan pesisir, mereka berkeliling dengan kapal atau truk besar mengangkut para pemain, awak sandiwara dan peralatan pentas.   Jika tak berkeliling, mereka main di panggung teater bioskop.  Orangtua bocah pemain biola itu bercerai, ibunya lari dengan seseorang lelaki lain.  Ia tinggal bersama ayahnya yang akhirnya tinggal menetap sebagai pemutar proyektor. 

Kelompok sandiwara itu pun kabarnya bubar. Oh, ya namanya, Mamanda Kakamban Habang.  Meskipun namanya memakai kata mamanda, mereka juga memainkan sandiwara modern.

 Balentong melihat bakat besar pada anak kecil pemain biola itu, ia mengajaknya mengiringi pertunjukannya. Sejak itu, uang yang terkumpul sebagai hasil pertunjukan Balentong meningkat. Ia berbagi dengan si bocah. Si pemutar proyektor, ayah bocah itu selalu meminta semua uang si bocah untuk mabuk dan main perempuan. Bocah itu lama-lama kesal juga. Ia mengajak Balentong pergi dari kota kecil itu, pergi ke kota besar yang dalam bayangannya lebih menjanjikan untuk orang-orang seperti mereka. Itu terjadi ketika Balentong kena sakit malaria. Hampir dua minggu ia dirawat. Simpanan uang Balentong tak cukup untuk membayar biaya peratawan di rumah sakit umum.

“Apakah kamu menabung uangmu?” tanya Balentong kepada si bocah pemain biola.

“Uangku habis diminta ayahku,” kata si bocah. “Tapi tenang saja, aku akan mencari uang buat biaya perawatanmu,” kata si bocah.

 Malam itu, tanpa Balentong, si bocah, menyanyi dan memainkan biola.   Alat-alat sulap dan akrobat Balentong ia atur sedemikian rupa, menambah kesan kesedihan.  Ia menyanyi dengan sangat bagus.  Di sela-sela lagu ia bercerita bahwa Balentong sedang sakit dan tidak bisa membayar biaya perawatan.  Malam itu, penonton sedang ramai. Bioskop memutar dua film, Dalam Pelukan Dosa, dan Akibat Buah Terlarang.  Malam itu, si bocah berhasil mengumpulkan uang banyak. Ia sempat bertengkar hebat ketika ayahnya meminta sebagian dari uang itu. Ia tak mau memberi, ayahnya marah dan mengusirnya.  

Malam itu juga, ada seorang perempuan menemui bocah pemain biola itu. Perempuan itu turun dari mobil yang diparkir di depan bioskop, menghampirinya, mengaku sangat menyukai suaranya, memuji bakatnya main biola, dan meminta besok petang menemuinya di restoran Selera Samarinda, restoran paling bagus di kawasan taman kota itu.  “Dengan bakatmu itu, aku bisa menjadikanmu seniman besar,” kata si perempuan itu.

Di rumah sakit, Balentong justru marah kepada si bocah karena dia telah menjual kemalangannya. “Aku main sulap karena aku tak mau jadi pengemis. Aku punya harga diri. Itu yang kujaga selama ini. Kau, dengan menjual sakitku, sama saja menjual harga diriku,” kata Balentong.

“Mereka ikhlas,” kata si bocah.

“Apakah kalau kau tak ceritakan bahwa aku sedang sakit, dan kau tak bilang bahwa kau bermain untuk membayar biaya perawatanku mereka akan tetap memberi sebanyak malam tadi?”

“Maafkan aku,” kata si bocah.

“Kau terlalu muda untuk mengerti soal harga diri, Nak, soal kehormatan,” kata Balentong. 

***

PADA hari ketika si bocah hendak dibawa menyeberang laut pergi ke kota besar oleh si perempuan bermobil, bocah itu tak menemukan si pemutar proyektor. Ia hendak berpamitan. Sampai pada hari itu pun Balentong tak juga kembali bermain di halaman bioskop itu. Kepada Balentong ia hendak sekali lagi minta maaf dan juga berpamitan.  Apakah Balentong selamanya tak mau bermain lagi? Kemana Balentong?  “Mungkin ia pindah ke kota lain.  Kota apapun bagi orang-orang seperti itu sama saja, Nak,” kata si perempuan bermobil. 

Beberapa tahun berlalu, si bocah pemain biola menjadi penyanyi terkenal di negeri itu.  Penyanyi yang pandai bermain biola.  Ia pun diundang oleh perusahaan minyak negara untuk bermain di kota kecilnya dulu. Ia main di sebuah alun-alun terbuka. Sebuah panggung besar dengan tata cahaya mewah.  Ia datang bersama perempuan bermobil, yang membawa dan membesarkan namanya di kota besar. Perempuan itu telah menjadi seperti ibunya, juga manajernya, orang yang mengatur segala urusan dalam hidupnya sebagai penyanyi. 

Seusai pertunjukan malam itu, seorang lelaki datang menemuinya di hotel tempat dia menginap. Orang itu adalah lelaki pemutar proyektor. Ia tampak lekas sekali menua.  Ia datang untuk meminta maaf pada si penyanyi.  “Saya yang harus minta maaf karena pergi tak pamitan, Pak,” kata penyanyi terkenal yang dulu bocah pemain biola itu.

“Aku tak bisa menemuimu malam ketika kau pergi itu, karena sebenarnya akulah yang telah menjualmu kepada Mira,” kata si pemutar proyektor. Mira adalah nama si perempuan bermobil, yang pada malam bertahun-tahun lalu datang ke bioskop.

“Menjualku, Pak?”

“Ya, dan kau perlu tahu aku bukan ayahmu. Aku memang menikah dengan Sari, ibumu. Carilah dia, temui dia. Ibumu tentu saja tahu siapa ayahmu sebenarnya. Sari datang ke sini, menemui aku, menanyakan kamu, mungkin dua atau tiga tahun setelah kamu pergi bersama Mira. Mereka tinggal di Tarakan, atau Nunukan, saya sudah lupa persisnya, pokoknya di utara, dekat Tawau sana. Dia bercerai dengan lelaki yang dengan siapa dulu dia meninggalkan aku dan kamu. Dia menikah lagi dengan seorang juragan ikan di sana.”

***

BIOSKOP itu tak ada lagi.  Sudah beberapa tahun terakhir ini wajah kota berubah. Bioskop itu adalah bagian dari wajah lama yang tak ingin dipertahankan.  Di sana masih ada taman, yang bahkan semakin tertata. Toko-toko, warung, dan restoran juga semakin rapi penataannya.  Sehabis berjalan-jalan di sekeliling taman itu, dan membayangkan di mana dulu bangunan bioskop itu berada, si tokoh cerita kita dan Mira menikmati bubur ayam di Selera Samarinda. Konon itulah bubur ayam terenak di kota itu.

“Kenapa ibu tertarik untuk membawaku dan menjadikan aku menjadi seperti sekarang ini, Bu?” tanya si pemain biola.

“Kenapa baru sekarang kau tanyakan itu?”

“Aku merasa tak punya masa lalu lagi setelah tahu bahwa orang yang kupercaya sebagai ayah ternyata bukan ayahku…  Aku juga tak tahu di mana ibu yang bisa kutanya siapa sebenarnya ayahku.”

“Aku pernah punya anak. Dulu aku pemain sandiwara keliling.”

“Seperti ibuku…”

“Aku jadi bintang panggung. Aku disayang oleh sang pemilik kelompok sandiwara itu.  Ia juga yang menulis naskah, sutradara, penulis lagu. Lalu aku hamil, mengandung anaknya.  Aku masih naik panggung  berperan sebagai perempuan hamil. Saat kami gelar pertunjukan di kampung berikutnya, di sebuah balai desa, aku melahirkan. Anakku, yang tak sempat kuberi nama itu, kutitipkan pada sepasang orang tua di sana. Mereka senang karena sudah lama mereka tak punya anak. Lalu aku tinggalkan kelompok sandiwara itu untuk mengadu nasib di Surabaya, lalu ke Jakarta. Kelompok sandiwara itu kudengar bubar.  Nyaris dua puluh tahun kemudian aku kembali ke kampung itu, anak itu sudah tak ada di sana lagi. Orang tua yang mengasuhnya meninggal kena wabah cacar ketika anak itu masih kecil. Katanya ia menjadi tukang sulap keliling. Entahlah. Sampai malam itu aku melihat kamu bernyanyi dan main biola di depan bioskop. Aku membayangkan dia adalah kamu,” kata Mira.

Mereka kembali ke hotel, setelah mengelilingi kota. Sebelum masuk kamar masing-masing di lorong hotel, Mira berkata, “tiket pulang kita undurkan. Tadi saya sudah minta ke panitia.  Ada yang minta kita tampil di Tarakan. Katanya juragan ikan atau juragan tambak siapa gitu.  Kebetulan memang kita belum ada jadwal show lain.”

“Siapa yang menghubungi, Ibu? Si Juragan itu? ”

“Bukan. Saya lupa namanya. Ada nomornya, kok. Tadi orangnya kasih kartu nama. Besok pagi mereka kasih tiketnya,” Mira mencari-cari di dalam tas sandangnya.  “Nah, ini dia,” ia mengulurkan kartu nama itu.

“Balentong Entertainment…”

“Nah, iya, itu event organizer-nya. Lucu juga namanya.”

***

BOCAH pemain biola itu bernama Digo Rigardo. Orang yang kalian kenal sebagai penyanyi terkenal itu. Dia adalah aku. Aku tak pernah menulis cerita, tapi  malam ini di kamar hotel aku tak bisa tidur, maka kutulislah cerita ini.  Tak pernah aku ingin lekas-lekas terbang seperti penerbangan yang akan membawaku ke Tarakan besok pagi.  Penerbangan yang akan mempertemukan aku dengan ibuku (dan aku akan bertanya siapa ayahku sebenarnya), dan juga mempertemukan Balentong dengan Bu Mira, yang aku yakin adalah ibunya. [T]

BACA cerpen-cerpen tatkala.co yang lain

Tukang Sulih Suara dan Presiden yang Kehilangan Suaranya | Cerpen Hasan Aspahani
Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Chris Triwarseno | Tidak Ada Keretek di Antara Kita

Next Post

Metamorfosis Imajinasi: Sebuah Catatan Kreativitas Guru

Hasan Aspahani

Hasan Aspahani

Jurnalis, penyair, penulis, lahir 1971, di Sei Raden, Kutai Kartanegara, Kaltim. Kini menetap di Jakarta, berkhidmat di DKJ.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Metamorfosis Imajinasi: Sebuah Catatan Kreativitas Guru

Metamorfosis Imajinasi: Sebuah Catatan Kreativitas Guru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co